Pernahkah mendengar istilah untuk jangan sering bermain api yang mungkin saja api yang kau mainkan bisa saja nanti justru membakar dirimu sendiri?

Hal tersebut mungkin tidaklah disadari oleh dewa perang dari mitologi Olympus, Ares yang kini tengah menyeringai sembari berjalan dengan tenang ke arah seorang gadis kecil berambut pirang dengan wajah manis yang diperlihatkan Zeus tengah dekat dengan Hera. Ares telah melihat kedekatan mereka terasa terlalu dekat bahkan menyerupai kedekatan seorang ibu kepada anaknya. Apalagi ketika Hera yang sudah dua minggu ini bekerja di kedai dari pria pirang bernama Naruto yang merupakan ayah dari gadis pirang itu semakin mendekatkan dirinya dengan gadis kecil manis yang berada di depan sekolahnya sendirian menunggu jemputan si ayah.

Perintah Zeus adalah untuk menghabisi gadis kecil ini dan ayahnya serta menyeret Hera ke hadapan Zeus. Hal itu adalah hal yang mudah bagi Ares karena bagi dewa perang itu, hal seperti ini sudah berulang kali dia lakukan kepada Aphrodite, namun dia punya rencana untuk tidak membunuh gadis kecil ini karena setelah melihat rupa gadis kecil tersebut Ares telah memutuskan mungkin lebih baik menyimpan gadis kecil tersebut menjadi budak untuk Ares yang nantinya jika gadis kecil itu sudah dewasa, dia bisa menjadi pemuas nafsu Ares.

Ya, ya… itu sangat bagus sekali. Hal yang sama seperti yang Ares biasa perbuat di masa lalu bahkan sampai masa sekarang. Masalah menyeret Hera adalah hal yang mudah karena Ares sudah diberi artifak oleh Zeus untuk mengalahkan Hera.

Untuk sang ayah dari gadis kecil tersebut, Ares akan membunuhnya. Namun bukan hanya sekadar membunuh. Jika langsung membunuhnya maka itu tidak akan menyenangkan hati dari Ares itu sendiri. Ares akan membunuh ayah dari gadis kecil manis ini setelah melihat keputusasaan yang tercetak di wajah si ayah.

Ayah yang sangat menyayangi putrinya ini akan melihat Ares melukai putri kecilnya ini. Gadis kecil ini akan merasakan sakit ketika mungkin tangannya dipatahkan dihadapan si ayah yang akan memohon untuk apapun agar si gadis kecilnya dilepaskan. Dan saat gadis kecil ini dilepaskan Ares akan membunuh si ayah gadis kecil ini dan membiarkan mental gadis kecil ini rusak karena melihat ayahnya sendiri terbunuh di depannya sebelum kemudian Ares mengurung gadis kecil ini dan melatihnya menjadi budak pemuas nafsunya.

Sekarang fase pertama adalah menculik gadis kecil ini terlebih dahulu.

Dan ketika tubuh besar dari dewa perang ini berada di hadapan si gadis kecil itu, Ares melihat dengan seringaian jahat bagaimana gadis kecil itu mendongak sebelum kemudian raut wajah takut tercetak di wajah si gadis kecil tersebut.

Si gadis kecil menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya adalah orang jahat dari seringaian yang diberikan kepadanya.

Dan dia harus lari- pergi menjauh dari sana secepat mungkin!

Hal seperti itulah yang ada di hadapan Ares dan itu menambah seringaian jelek di wajah dewa perang mitologi Olympus tersebut. Ares tidak akan membiarkan gadis kecil tersebut kabur dengan mudah.

Karena dengan sekejap Ares dengan mudahnya membuat gadis kecil tersebut pingsan dan membawanya pergi dari sana. Fase kedua dari kesenangan Ares dimulai.

[A Love for the Queen]

Hari itu harusnya menjadi hari yang sama seperti hari lainnya bagi seorang pria pirang pemilik kedai ramen sederhana. Setelah menaruh semua bahan-bahan pembuatan ramen ini di kulkas dan tempat penyimpanan di kedai sederhana miliknya pria pirang ini baru akan menjemput putri kecilnya yang teramat manis tersebut.

"Naruto-san, ini ditaruh di kulkas juga?"

Suara dari wanita membuat si pria pirang menoleh dan dia melihat wanita yang merupakan pegawai barunya tengah berada di depan kulkas yang terbuka dan sedang memegang satu kotak bumbu khusus yang pria pirang itu buat hari ini dan memberikan anggukan kepala kecil sebagai jawaban atas pertanyaan si wanita yang merupakan pegawai barunya selama dua minggu ini.

Jika ada yang bertanya kenapa Naruto atau si pria pirang tersebut sekarang ini baru memiliki pegawai wanita maka salahkan putri kecilnya yang baik hati yang memberikan pekerjaan itu kepada si wanita ini. Wanita yang merupakan dewi dari mitologi Olympus ini adalah pegawai baru Naruto setelah Asia meminta kepada Naruto untuk memperkerjakan dewi Hera di kedai ramen sederhananya ini.

Awalnya Naruto menolak keras namun dia hanya bisa mengalah di kemudian ketika melihat kekerasan kepala putri kecilnya itu yang menurun dari dirinya.

Entah apa alasan Asia ingin agar dewi Hera bekerja disini. Karena kedekatan yang mereka jalinkah atau karena Asia kini merasa mempunyai sosok yang mana dia bisa bagi cerita dengan begitu luas karena mereka sama-sama merupakan wanita? Naruto masih kurang mengerti akan hal tersebut.

Meskipun demikian, Naruto sebenarnya cukup terbantu dengan kehadiran dewi Hera. Dewi tersebut cukup cekatan untuk melayani pelanggan dan membawa pesanan mereka. Selain itu dewi tersebut juga bersikap baik dan sopan kepada dirinya.

Mereka sering berbincang hal ringan setelah selesai bekerja, sekadar membicarakan suatu hal seperti hobi apa yang disukai atau tentang pandangan pada suatu hal. Dan disaat mereka berbincang, Asia juga sering ikut dan memberikan komentar yang terkadang membuat suasana tawa bergema.

Sebuah komentar sederhana yang Asia lontarkan terkadang berisi kebingungan akan pembicaraan Naruto dan Hera yang disertai dengan mimik wajah kebingungan tidak tahu yang begitu menggemaskan. Bahkan saking menggemaskannya wajah itu, dewi Hera sering memeluk Asia, putri kecilnya dengan gemas sekali. Ketika melihat Asia dipeluk sepertu itu entah kenapa dia seperti melihat seorang ibu memeluk anaknya sendiri.

Terpancar raut kasih sayang pada wajah dewi Hera ketika itu.

Dan itu sedikit membuat rasa tidak nyaman pada diri Naruto. Entah mengapa Naruto merasa bahwa ikatan yang terjalin antara dewi dan putrinya tersebut bisa membuat suatu permasalahan di kemudian hari. Mau menolak agar dewi Hera tidak mendekat kepada mereka rasanya tidak mungkin. Dia tidak punya alasan yang tepat untuk itu. Apalagi ketika dia bertindak sebagai manusia biasa. Satu-satunya cara untuk memisahkan mereka adalah dengan membawa Asia pindah ke tempat lain dan menghapus ingatan putri kecilnya tentang dewi ini. Jika cara tersebut dia lakukan maka dia harus membawa Issei Hyoudou yang dia latih dan itu menambah daftar hal yang harus dia urus.

Keadaan ini membuatnya serba terdesak. Belum lagi jika dia mengungkap kemampuannya, betapa nanti hal tentang dirinya akan tersebar dan itu bisa saja membahayakan putri kecilnya meski Naruto tahu dia bisa sepenuh hati menjaga buah hatinya dengan mendiang ibu Asia.

Jika pada akhirnya satu keputusan memang dia harus ambil maka setidaknya dia harus mengambilnya dengan segera rasanya. Perasaan miliknya merasa dalam beberapa hari ini dia akan menghadapi hal-hal merepotkan.

Setelah Naruto selesai menghitung berapa jumlah belanjaan hari ini, dia bersiap untuk menjemput Asia. Baru saja dia akan mengambil kunci mobilnya yang terletak di samping catatan yang baru saja selesai dia hitung, ponsel miliknya berdering pertanda panggilan masuk dengan sebuah nomer yang tidak dia kenali.

Siapa ini? Kenalan yang tahu nomer ponselnya?

Mungkin saja iya dan dengan dugaan tersebut, Naruto tidak ragu mengangkat panggilan masuk dari nomer yang tidak dia kenali tersebut.

"Halo?"

Terdapat keheningan sesaat.

"Tou-chan! Arrrgghhh sakit! Tou-chan! Tolong Asia!"

Suara menjerit kesakitan milik putri kecilnya membuat Naruto langsung seketika membeku dan langsung membangkitkan rasa khawatir Naruto.

"Asia! Asia! Kau dimana sayang? Katakan pada ayah!" Naruto menjawab dengan terburu-buru dan panik. Apa yang terjadi dengan putri kecilnya hingga berteriak kesakitan seperti itu?

"Arrrggghhh sa-kit! *hiks *hiks Tou-chan! Tou-chan!"

"Asia! Asia!"

Naruto menjadi panik tidak terkendali ketika mendengar suara kesakitan Asia yang tambah menjadi. Baru ketika pria pirang itu akan memanggil Asia lagi sebuah suara berat menimpali suara Naruto.

"Ah- bukankah teriakannya sangat indah?"

Suara berat dari suara laki-laki itu langsung membuat emosi Naruto menjadi naik. Tidak dipungkiri lagi suara pria ini adalah sumber dari kesakitan putri kecilnya.

"Siapa kau? Dan apa yang kau mau? Cepat lepaskan putriku atau kau akan mati!"

Naruto menjawab dengan nada begitu dingin. Sangat dingin hingga membuat dewi Hera yang berada dekat dengan Naruto dan mendengar teriakan pria pirang itu memanggil nama putri kecilnya tadi begitu kaget karena tidak menyangka pria pirang yang baik dan sopan yang dikenalnya bisa bersuara dingin seperti itu. Belum lagi dengan hasrat membunuh yang keluar dari perkataan barusan yang dewi Hera dengar begitu menakutkan.

"Hahhhaaaa… membunuhku? Coba saja nanti… oh jika kau mau menemui putrimu mungkin kau bisa menjemputnya di tempat berikut atau aku patahkan jari ketiga putri manismu ini."

Naruto menahan kemarahan yang dia rasakan saat ini saat mendengar hal tersebut. Dia mendengar tempat dimana dia harus datang lalu si pemilik suara berat itu langsung memutus panggilannya setelah menyebutkan nama tempat dimana dia harus datang sendirian.

Genggaman tangan Naruto pada ponsel mengerat begitu keras sampai meretakkan ponsel miliknya. Pandangan mata itu menyiratkan kemarahan tidak terhingga.

Naruto kemudian lekas mengambil kunci mobilnya dan menghadap ke arah dewi Hera yang melihatnya juga dengan pandangan kekhawatiran.

"Naruto-san, apa yang terjadi? Ada apa dengan Asia?"

Naruto tidak menjawab apapun melainkan hanya memberi perintah kepada sang dewi.

"Tolong jaga kedai ini sebentar. Ada sesuatu yang aku harus bereskan."

"Tapi Naruto-san, apa yang terjadi?"

"Lakukan saja apa yang sudah aku perintahkan Venusa-san." Suara dingin itu kembali menerpa dewi pernikahan tersebut dan membuat sang dewi terdiam secara langsung.

Naruto yang tidak memperdulikan tanggapan apa yang dia terima nantinya dari dewi itu langsung berjalan keluar dan lekas naik ke mobilnya. Suara mesin menyala terdengar dan suara mesin yang dipacu dalam keadaan tinggi terdengar mengikuti kemudian. Dalam keadaan menyetir kemarahan Naruto terlihat begitu jelas mengubah wajah tampan itu menjadi merah karena amarah.

Siapapun yang menyakiti putri kecilnya harus mati dan kematian yang diterima harus kematian yang menyakitkan. Tidak boleh dia yang menculik juga menyakiti putrinya menerima kematian yang mudah. Harus ada siksaan begitu hebat apapun itu sebelum kematian.


[2]


Itu adalah tempat yang sepi dan sunyi. Bekas kompleks pergudangan yang tidak terpakai di sudut kota Kuoh dengan pagar depannya yang sudah rusak dan berkarat begitu parah hingga tempat ini merupakan tempat bagi tunawisma untuk tinggal atau bahkan mungkin tempat bagi iblis liar berada di sini untuk menjebak dan membunuh korbannya. Bangunan yang berada di dalamnya terlihat sudah rapuh disana-sini bahkan terlihat atapnya sudah hancur sebagian.

Suara mesin mobil yang menderu dalam kecepatan tinggi datang begitu saja menabrak pagar depan yang sudah rusak dari kompleks pergudangan tersebut. Suara benturan terdengar begitu keras dan akibat dari benturan tersebut pagar yang sudah rusak itu bahkan terpental begitu jauh. Mobil yang datang itu berhenti kemudian dan suara pintunya yang terbuka dengan paksa terdengar.

Naruto, si pengendara mobil keluar pandangan mata begitu marah dan langsung menatap mata daripada sumber kesakitan putri kecilnya sewaktu di panggilan ponsel tadi. Seorang pria berbadan besar dengan pakaian seorang Punk yang memperlihatkan senyuman jahat berdiri di depan putrinya yang terbaring pingsan di belakangnya.

Keadaan memar dari putri kecilnya yang terlihat di mata Naruto membuat darah pria pirang itu begitu mendidih.

"Ahahahaha… kau datang juga… aku bosan menunggu apalagi putrimu pingsan setelah jemari keduanya kupatahkan. Tapi tenang, aku akan mematahkan jemari ketiga setelah melihatmu mengemis. Ngomong-ngomong itu pedang yang bagus. Bisa kupakai untuk trofi nanti."

Ucapan mengejek dan merendahkan dilontarkan dari mulut jeleknya pria besar itu. Naruto yang mendengarnya melihat dengan pandangan sangat dingin tanpa menjawab apapun.

"Kau bisu? Bisakah kau bicara atau aku harus menyiksamu dulu sebelum nanti kau kubunuh?"

"Siapa kau?" Naruto bertanya kali ini dengan menggunakan nada dingin. Dia ingin tahu siapa pria besar ini karena dari energi yang terpancar oleh pria besar itu menandakan energinya sama seperti energi dari dewi Hera.

Energi Divine atau artinya energi seorang dewa yang mana menurut Naruto pria besar ini pastilah dewa namun dewa dari mana maka Naruto harus memastikannya lebih dahulu melalui namanya.

"Aku? Hahahaha… aku Ares. Dan biar kuberitahu dirimu sesuatu sebelum kau mati. Jangan pernah membuat seorang dewa marah, manusia."

Grep!

Jawaban pria besar itu membuat Naruto mengeratkan pegangan pada katananya.

Ares? Hanya ada satu nama yang terpaut di pikiran Naruto dan itu hanya mitologi Yunani yang mempunyai nama dewa demikian. Ares si dewa perang mitologi Yunani menculik anaknya dan berniat membunuhnya? Apa ini ada sangkut pautnya dengan dewi Hera? Ya… itu pasti ada sangkut pautnya tapi apa?!

Apa itu?!

Naruto berpikir sejenak sebelum pikirannya terhantam oleh sebuah fakta.

Zeus.

Dewa Petir yang pencemburu. Dia pastilah yang menyuruh Ares untuk melakukan hal ini. Sama seperti apa yang tertulis di sejarah tentang mereka. Zeus pasti melihat kedekatan dewi Hera dengan Asia dan juga sedikit dengannya dan berasumsi yang tidak-tidak yang berakibat pada Asia yang terkena dampaknya.

Membiarkan sang dewi masuk ke dalam kehidupan mereka ternyata membawa petaka bagi putri kecilnya. Putri kecilnya yang dia jaga dan bahkan tidak pernah merasakan sakit selama ini ketika bersama dengan dirinya kini harus merasakan sakitnya jemari saat dipatahkan dengan sengaja! Naruto bisa bayangkan wajah menderita putri kecilnya itu menangis memohon memanggil ayahnya untuk datang sementara dia datang terlambat.

Hal itu membuat Naruto murka! Sangat murka. Dan disaat dia murka maka kehancuran adalah apa yang tercipta.

"Dewa marah? Jadi kau mau mengaku dirimu adalah dewa? Tambah baguslah kalau begitu."

Suara kemarahan itu terdengar jelas. Begitu berat. Dengan menggertakkan jemarinya, tangan itu mencabut katana dari sarungnya.

"Karena aku akan menikmati lagi untuk membunuh dewa yang sudah menculik anakku."

Mata Naruto menatap marah ke arah Ares sambil berjalan pelan ke arah dewa perang tersebut. Sedangkan Ares si dewa perang Olympus melihat tatapan marah yang diarahkan padanya mendengus disertai pandangan geli.

Membunuh dewa? Manusia membunuh dewa adalah hal yang mustahil bahkan untuk pengguna Sacred Gear sekalipun. Dan manusia didepannya ini berkata akan membunuh dewa? Lagi? Ucapan yang menggelikan. Ares akan dengan senang hati melihat keputus-asaan pria pirang itu berusaha semampunya apalagi dia adalah manusia biasa tanpa Sacred Gear.

Namun pandangan Ares terbuka lebar ketika melihat mata pria pirang yang maju dengan katana terhunus ke arahnya berubah menjadi sesuatu yang tidak dia kenali.

Sesuatu yang asing. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

Mata ungu spiral dengan magatama yang berputar pelan.

Apa itu? Apa itu Sacred Gear? Ares telah menerka itu adalah Sacred Gear tapi kenapa tidak ada aura Sacred Gear ciptaan Biblical God dari pria pirang itu?

Dan Ares terkejut bukan main ketika mendengar suara pecah seperti pecahan dari kaca yang dihantam. Dunia sekitar mereka pecah seperti kaca gelas yang di pukul dan berganti menjadi padang gurun luas.

Padang gurun luas yang akan menjadi tempat siksaan bagi Ares. Ares berkedip untuk itu memastikan bahwa ini nyata.

Hal ini memang adalah nyata.

Kemampuan untuk memindahkan dimensi secara instan? Bahkan tidak ada Sacred Gear yang seperti ini sebelumnya. Ares sudah mengetahui semua senjata ciptaan Biblical God tersebut karena Ares cukup mengagumi apa itu Sacred Gear. Satu-satunya penjelasan adalah ini merupakan dimensi buatan yang terlihat sangat asli dan begitu kokoh struktur penciptaannya. Kemampuan yang melampaui penciptaan dimensi buatan dari para makhluk supernatural dengan aslinya sensasi menyengat dari matahari dan debu pasir yang berterbangan tertiup angin.

"Apa ini?" Ares berkata cukup keras, berniat ingin tahu namun instingnya meneriakkan bahaya. Sayang teriakan instingnya sudah terlambat ketika sebuah tendangan keras mengenai rusuk kirinya membuat dewa perang tersebut terlempar jauh.

Sakit sekali. Tendangan itu setidaknya merusak rusuk kiri Ares yang kini wajahnya bangun dan melihat dengan tatapan kemarahan yang menjadi. Dewa perang itu berniat menyumpah serapah akan hal ini! Tendangan itu bahkan sekeras tendangan Titan di masa lampau.

"Bangs-!"

Namun sumpah serapahnya terhenti ketika menatap kembali mata spiral ungu itu. Rasa ketakutan mulai menjalar dari tulang belakang Ares.

Mata itu membawa kekuatan besar yang mengandung kemarahan luar biasa bagi yang menerimanya. Saat satu kata terucap dari mulut pria yang membawa kemarahan besar keluar, itu menandakan pertarungan baru saja dimulai.

"Amaterasu..."


[3]


Hera merasa ada yang aneh ketika dia melihat wajah Naruto terdiam membeku di saat pria pirang itu menerima panggilan di ponsel pintarnya di saat berada di kedai. Hera tidak tahu pasti apa yang terjadi namun dia berubah cemas ketika dia mendengar Naruto meneriakkan nama Asia.

Naruto terlihat begitu panik di saat itu dan itu membuat perasaan Hera diliputi hal yang ditakutkan.

Apa terjadi sesuatu kepada Asia?

Hal itu berputar terus menerus di kepala Hera dan ketika dia mendengar ucapan dingin dari pria pirang yang biasanya ramah itu, Hera terkejut bukan main.

Nada itu adalah nada yang digunakan untuk membunuh. Hera tahu itu begitu jelas karena dia telah lama memakai nada itu di masa lalu untuk membunuh anak hasil selingkuhan dari Zeus.

Lalu selain itu, Hera melihat kemarahan yang meluap begitu besar dari Naruto. Kemarahan itu melepaskan tekanan yang mengerikan di udara. Rasa haus darah yang pekat dan tidak terbayangkan masih dapat Hera rasakan hingga kini yang membuat bulu kuduk Hera sendiri terbangun ketika mengingatnya.

Untuk seorang dewi bisa sampai seperti ini menunjukkan bahwa tekanan rasa haus darah itu bukan milik manusia. Tidak! Tidak ada manusia yang bisa punya tekanan membunuh seperti itu. Itu seperti melihat siluet energi hitam pekat yang menyesakkan pernafasan dan meminta untuk tunduk dihadapannya.

Apa yan sebenarnya terjadi?

Ketika panggilan itu berakhir, Hera bertanya tentang Asia namun yang didapatnya hanya sebuah perintah. Perintah dalam nada tegas dan mutlak dan Hera harus mendengarnya dua kali untuk membuatnya benar-benar diam.

Melihat ekspresi dari dan kekhawatiran Naruto tentang Asia, Hera bisa menduga sesuatu yang besar telah terjadi pada putri manis dari Naruto. Putri manis yang Hera mulai lihat seperti anaknya sendiri. Dan melihat keburu-buruan Naruto pergi, Hera bisa menyimpulkan Naruto akan pergi ke tempat Asia yang mungkin saja dalam bahaya.

Ya! Dalam bahaya! Hera mengerti sekarang! Asia mungkin sedang dalam bahaya!

Hera mulai panik ketika memikirkan hal tersebut dan dia ingat jika dia sudah menandai Asia dan dia bisa mengikuti tanda yang dia berikan kepada Asia untuk pergi ke sana.

Hera dengan segera menutup kedai ramen dimana dia diminta oleh Naruto untuk dia jaga. Hera tidak bisa ikut diam saja karena Hera merasa ini sepertinya berhubungan dengannya. Katakanlah itu adalah intuisi yang menuntunnya demikian.

Langsung berteportasi ke sana akan mengagetkan Naruto sebagai manusia biasa. Lebih baik dia naik mobilnya dan harus cepat.

Buru-buru Hera mengeluarkan kunci mobilnya dari tas kecil yang dia bawa dan berlari ke dalam mobilnya sebelum kemudian dewi tersebut memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi setelah merasakan dengan energi dewinya dimana Naruto sekarang berada.

Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Asia...dan juga Naruto.


[4]


Slassshhhh!

Sangat lemah.

Tebasan pedang itu menebas kembali tanpa ampun, mengarah untuk memutus lengan kiri si dewa perang. Namun karena sudah mengantisipasi tebasan tersebut, dewa perang mitologi Yunani tersebut berguling ke samping untuk menghindari tebasan pedang disertai api hitam yang menyelimuti katana yang digunakan untuk menebas itu.

Api hitam yang menyelimuti pedang itu sangat berbahaya. Sangat-sangat berbahaya. Ares masih ingat ketika api itu tiba-tiba muncul di jemari tangannya, merambat membakar tangan miliknya dengan suhu yang begitu menyakitkan dan membuatnya merasa rasa sakit akibat terbakar itu sebagai siksaan berat.

Padahal sudah dia coba untuk memadamkan api tersebut dengan sihir air tingkat tinggi yang Ares tahu atau bahkan dengan kekuatan dewanya yang dia lepaskan namun tetap saja api tersebut tidak akan padam. Malah semakin tambah menyakitkan hingga Ares yang sudah tidak tahan kemudian memutus tangannya sendiri dengan pedang.

Api hitam itu menyelimuti padang gurun di sekitar mereka terutama di sekitar pria pirang yang menjadi lawan Ares tersebut yang ternyata bukanlah manusia.

Ya! Ares menolak fakta bahwa pria pirang itu manusia apalagi makhluk pemilik Sacred Gear. Kemampuan pria pirang itu terlalu aneh dan banyak untuk dikategorikan sebagai pemilik Sacred Gear yang dikhususkan merupakan senjata dengan fokus satu kemampuan dasar.

Api hitam yang membakar ini hanyalah salah satunya karena kini di hadapan Ares sendiri pria tersebut secara entah bagaimana bisa membuat dirinya menjadi tertembus ketika diserang. Baik dengan serangan fisik atau serangan sihir.

Dan itu sangat-sangat membuat Ares kesulitan mengalahkan pria pirang ini bahkan ketika Ares sudah mengeluarkan kekuatan dewanya.

Kemampuan berperang Ares, armor dan pedang juga senjata-senjata lain yang dimilikinya serasa hanya tidak berguna!

"Bangsat! Fuck!"

Dengan teriakan amarah, Ares kembali menebas sosok pirang di depannya yang masih memberikan tatapan marah pada dewa perang ini. Lagi-lagi hal yang sama terjadi dengan pedang yang ditebaskan Ares hanya menembus tubuh pria pirang itu.

Pria pirang itu, Naruto hanya menebaskan kembali katana miliknya yang terlapisi dengan api Amaterasu yang dikendalikan dengan kemampuan Enton. Mata spiral ungu dengan magatama itu memandang dengan tatapan dingin.

Ares sebagai dewa perang tidaklah lemah. Dia termasuk kuat dengan kekuatan dewanya. Namun sayang, kekuatan tersebut tidak berguna di hadapan kekuatan Kamui yang dimiliki oleh Naruto. Kekuatan yang pada dasarnya terikat dengan dimensi lain yang tidak mungkin dijangkau oleh mereka yang bukan pengguna Mangekyou Sharingan khusus seperti milik ninja penguasa seribu jutsu ataupun Uchiha yang terperdaya terlihat begitu overpower di dimensi ini. Hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Naruto karena dia tidak harus mengeluarkan kemampuan lainnya seperti arsenal jutsu miliknya yang beragam.

Ares kembali menghindari tebasan katana Naruto. Dewa perang itu tahu bukan tebasan pedangnya yang berbahaya melainkan api Amaterasu-lah yang berbahaya yang menyelimuti pedangnya. Bukti dari itu adalah tangan kiri Ares yang terpotong hingga hampir mencapai lengan atas untuk mencegah api Amaterasu memakan tubuh dewa perang yang sok tersebut.

Ares yang menghindar kembali cukup jauh lalu memanggil senjata busur panah dewa dengan corak hitam pekat yang melayang di belakangnya. Senar busur tertarik dan panah hitam muncul memancarkan aura kegelapan dan kehancuran.

Meskipun Ares bukanlah pemanah seperti dewi perburuan Olympus setidaknya Ares berharap salah satu serangan terkuatnya saat ini yang tercipta untuk menyaingi serangan terkuat dewi perburuan Olympus akan memberikan dampak pada Naruto. Tapi seperti yang sudah-sudah, serangan fisik ataupun sihir tembakan tidaklah berpengaruh banyak.

Panah Ares hanya menembus lagi tubuh pria pirang itu dan melesat jauh sebelum kemudian meledak dalam ledakan super besar yang membentuk kubah raksasa penghancur sebuah kota besar.

Naruto tidak terpengaruh dengan ledakan super besar di belakangnya. Tidak juga dengan hempasan angin kuat yang terjadi setelah ledakan tersebut.

Dia hanya terus maju perlahan dengan langkah kakinya ke depan.

Api hitam menari di katananya menjadi pertanda ketakutan yang semakin menjadi pada mata Ares. Semua telah dicoba tapi semua sudah gagal. Serangan yang mampu melukai seorang Maou sekalipun juga gagal karena kemampuan aneh pria pirang itu pada tubuhnya.

"Sudah selesai?"

Suara dingin mengandung kemarahan itu kembali terdengar di telinga Ares. Suara yang terdengar seperti pertanda datangnya kematian dengan langkah kakinya yang mendekat.

Sial! Sial! Sial! Kenapa jadi seperti ini?! Kenapa yang harusnya menjadi makhluk rendahan yang bisa dia mainkan ternyata adalah monster yang tidak boleh diusik sama sekali?

"Dasar kau monster!"

Ares berteriak putus asa setelah semua serangannya tidaklah berguna. Tubuh besar dewa perang itu tertunduk jatuh karena kehabisan energi setelah melepaskan anak panah tadi. Serangan tadi menguras banyak sekali energinya dan energinya yang tersisa hanyalah tinggal sedikit.

Kabur dari dimensi ini tidaklah bisa. Jika bisa Ares tentu saja sudah kabur dari tadi tapi dimensi ini berbeda dengan yang diciptakan dengan basis sihir. Dimensi ini adalah dimensi asli yang mana hanya sang pembuat dimensilah yang berhak memutuskan siapa yang pergi dan datang.

Ini bukanlah kemampuan manusia. Ini kemampuan diatas dewa sekalipun.

Ares tertunduk pasrah. Mentalnya telah jatuh. Dia telah kalah- dia akan berakhir di sini. Dia tidak punya lagi kemampuan untuk bertarung setelah melihat semua serangannya tidaklah berguna.

Namun apakah Naruto akan mengakhiri Ares? Tidak! Menerima kekalahan saja tidaklah cukup.

Setelah mentalnya kalah, Naruto tidaklah berhenti.

Rasa sakit yang diderita putrinya haruslah dibayar berkali kali lipat.

"Kau sudah membuat putriku merasa kesakitan. Maka bagaimana jika kau merasakan kesakitan yang sama?..." Hal itu dikatakan ketika Naruto sudah berada di depan dewa perang Olympus yang sudah terduduk tak berdaya dengan nada penuh hasrat kemarahan yang dingin. "...atau bahkan lebih parah?"

Ares tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa terdiam. Mentalnya benar-benar sudah drop dan kalah.

Menyedihkan.

Itulah apa yang ada di pikiran Naruto setelah melihat semangat dewa ini jatuh. Harga diri karena serangan-serangan kuatnya sudah terputus dan gagal semua juga dia sudah kehabisan energi.

Dewa perang dengan semangat juang pengecut juga hanya bicara omong besar saja. Mengurusi orang seperti ini tidaklah menyenangkan lagi. Emosi Naruto yang sedang mendidih mengakibatkan Naruto menendang wajah dari dewa perang ini begitu keras.

Krak!

Arrggghhh!

Ada suara patahan di sana, kemungkinan adalah sebuah hidung.

Ares memegang hidungnya yang patah dengan rasa sakit yang luar biasa sambil tersungkur ke belakang.

Menyiksa dewa perang ini tidaklah menyenangkan untuknya. Tapi bagaimana jika si penyuruh dewa perang ini menerima kesusahan awal akibat menyuruh hal yang sudah membawa petaka bagi keluarga kecilnya?

Mungkin itu menyenangkan untuk diketahui nanti.

Dengan rencana spontan itu, senyuman sadis yang tidak pernah Naruto tunjukkan lagi semenjak dia datang ke dunia ini mengembang. Katana tersarung kembali di sarung pedangnya dan menghilang dalam kepulan asap lalu kedua tangan tersebut melakukan gerakan cepat membentuk suatu segel untuk sebuah jutsu.

Jutsu mengerikan itu selesai setelah berbagai rangkaian rumit tercipta. Jutsu yang mengubah isi otak lawannya sesuai dengan apa yang Naruto sukai.

Zeus akan menyukai serangan dari orang yang dia suruh untuk melukai sebuah keluarga yang harusnya tidak boleh terusik.

"Kau membuatku sangat marah tuan dewa." Kata Naruto yang mendekat. "Dan aku tahu siapa yang menyuruhmu jadi berbanggalah karena kebodohanmu itu akan membawamu kepada kematian setelah kau melukai orang yang menyuruhmu."

Ares yang mendengar ucapan Naruto melebarkan matanya ketika satu tangannya yang tersisa masih menutupi bagian hidungnya yang berdarah karena patah. Dewa itu bahkan sudah beramsumsi bahwa apa yang akan Naruto lakukan akan membawa kematian untuknya sendiri dan hal itu tak ayal membuatnya begitu merasa takut.

Tidak! Dia tidak boleh berakhir seperti ini.

Tapi apakah itu mungkin?

Untukmu yang telah mengusik orang yang seharusnya tidak kau usik, kau yang menjalankan perintah dari orang lain dan merasa bangga karena berpikir kau lebih kuat ternyata tidak lebih hanya seorang serangga kecil semata.

Ares mencoba untuk lari. Dia mencoba untuk bergerak menjauh namun semua itu percuma ketika tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan dan dia mendengar kata yang terakhir dia dengar untuk hidupnya.

"Sayonara… dewa bodoh." Terucap disertai mata kematian yang memenggal dirinya dan tangan yang mengarah kepada kepalanya.


[...Amarah selesai…]


A/N : Akhirnya selesai juga dalam sehari chapter ini. Mungkin terasa kurang greget tapi yah… aku berusaha semampuku. Beberapa menanyakan update cerita lama dimana aku masih meng-edit beberapa chapter terbaru yan masih dalam bentuk mentah. Kali ini ditampilkan perseteruan Naruto yang kubuat benar-benar overpower melawan Ares yang tidak berdaya sama sekali hingga mentalnya kalah jauh karena semua serangan Ares tidaklah berguna. Chapter depan akan menyuguhkan drama antara Hera dan Naruto juga Issei yang kedatangan teman masa kecilnya juga pertemuannya dengan Maou.

Terima kasih dukungan para senpai selama ini. Terus dukung agar aku bisa memberikan cerita yang menarik dengan ide-ide segar lainnya. Jaa nee senpai...