"Jadi seorang Maou menemuimu?" Naruto kembali memastikan apa yang telah diucapkan oleh Issei kepadanya saat pemuda berambut coklat itu menemuinya malam-malam dengan wajah gelisah. Issei mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan guru sadisnya itu. "Dan dua Exorcist datang juga ke kota ini?"

Issei mengangguk lagi dan Naruto langsung memijit pelipisnya.

Sial! Rasanya badai besar akan segera datang atau datang jauh lebih cepat dari yang dia perkirakan. Kemarin dia dengan dewa perang Olympus yang disuruh oleh dewa petirnya dan sekarang tiga fraksi yang saling terlibat permusuhan sudah berada di kota yang sama dan hanya perlu satu gesekan kecil untuk membuat satu konflik besar yang akan membuat semuanya menjadi semakin merepotkan.

Tempat ini sudah menjadi pusaran berbahaya dan di kota ini pula hal yang seharusnya tenang malah menjadi hal kompleks.

Nafas berat diambil Naruto sebelum dia menatap ke arah Issei. Wajah itu menunjukkan keseriusan yang sangat tinggi. Issei meneguk ludahnya ketika melihat tatapan serius tersebut.

"Dengarkan aku Issei, dengarkan baik-baik. Semua sudah menjadi tidak terkendali Issei dan semua terasa sedang akan berpusat di tempatmu." Telunjuk Naruto mengarah ke arah Issei dan itu membuat Issei terlihat bingung.

"Huh? Bagaimana semua bisa terpusat padaku, Sensei?"

"Kau mungkin tidak menyadarinya tapi semua terasa menyangkut dirimu. Ingat dengan malaikat jatuh yang mencoba membunuhmu? Lalu iblis yang menginginkanmu menjadi bagian dari budaknya yang ternyata adalah adik dari tokoh penting yaitu seorang Maou dan dua Exorcist yang salah satunya ternyata adalah teman masa kecilmu. Semua saling terkait dan berhubungan Issei. Ditambah dengan drama yang kau lihat dari adik Maou tersebut." Naruto kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Dengan perlahan pria pirang itu menghisap rokok tersebut, menikmati asap yang mendera paru-parunya lalu menghembuskannya pelan ke atas. Mereka berada di kedai setelah kedai Naruto tutup dan Asia sudah tertidur sementara Hera sudah pulang ke kediaman sementaranya. "Semua saling berhubungan tanpa pernah disadari Issei, hanya orang yang melihat dari sudut pandang lain yang bisa menilai itu berhubungan atau tidak."

"Uhm… aku tidak paham Sensei." Menggaruk pelan belakang kepalanya, Issei tersenyum kikuk. Dia tidaklah bodoh namun juga tidak pintar sekali. Ada beberapa penjelasan guru sadisnya ini yang terkadang dia langsung mengerti namun terkadang itu terdengar seperti hal rumit yang sulit diuraikan. Dia harus mendapat penjelasan paling sederhana untuk membuat otaknya bisa bekerja dengan normal bahkan cepat.

Naruto yang mendengar ucapan Issei hanya tersenyum kecil. "Beberapa hal seperti yang kau alami baru-baru ini hanya permulaan Issei. Kau tahu kekuatan Sacred Gear-mu apa bukan?"

Issei mengangguk. "Boosted Gear kan? Satu dari tiga belas Longinus yang katanya bisa membunuh dewa."

"Ya, itu benar. Kau menghafal penjelasanku dengan baik sekali." Ujar Naruto yang membuat Issei merinding ketika dia mengingat bagaimana cara pria pirang didepannya ini membuatnya harus hafal dengan baik setiap penjelasan yang dijelaskan.

Digantung terbalik dengan berada di atas magma dimana dia hanya diberi waktu dua menit untuk menghafal setiap penjelasan sebelum tali yang mengikatnya turun secara perlahan membawanya merasakan panasnya pijaran magma.

Itu saja masih belum parah jika dibandingkan dengan dia dipaksa melihat ilusi sangat bersinar dari dua orang laki-laki dengan model rambut bob berpakaian hijau spandex sangat ketat yang disertai senyuman menyilaukan saling berpelukan dengan latar belakang matahari terbenam.

Fuck! Itu adalah hal terburuk yang pernah Issei lihat seumur hidupnya belum termasuk juga Ddraig yang menangis jiwanya ketika dia tanpa sengaja melihat ilusi tersebut. Issei sampai sekarang masih trauma dengan ilusi tersebut dan guru sadisnya ini berkata dia masih punya banyak ilusi yang bisa membuat mental Issei rusak. Issei berfikir dia tidak mau melihat ilusi lain yang juga mengerikan. Dia sudah kapok akan trauma mental yang dia alami setelah melihat ilusi berpelukan biadab itu!

"Kekuatan besar selalu menarik kekuatan lainnya Issei." Naruto berkata lagi disertai dia melihat ke arah pemuda dengan rambut coklat jabrik yang sudah dia anggap bagian dari keluarganya ini. Naruto mencoba memberikan sudut pandang lain kepada Issei dengan nada tenangnya. "Itu adalah aturan tidak tertulis yang entah berasal dari mana namun selalu terjadi dalam perputaran dunia. Kau adalah salah satu pemegang Longinus yang akan menarik kekuatan lainnya. Entah kekuatan yang kau tarik itu membawa keuntungan atau keburukan bagimu yang harus kau perhatikan adalah cara bagaimana kau menghadapinya."

Issei mendengarkan dengan seksama penjelasan Naruto. Pemuda berambut coklat itu mulai sedikit mengerti apa yang dijelaskan oleh pria pirang di sampingnya. "Lalu… jika semua mencoba terpusat kepadaku, bagaimana aku menghadapinya?"

"Kau harus menganalisa dengan pelan. Jangan terburu-buru dan jangan gegabah. Anggap saja kau sedang bermain permainan RPG bergenre turn-based, kau harus menganalisa bagaimana langkah lawanmu menyerang sebelum menyerang dengan serangan pas, Issei." Naruto memberikan penjelasan sembari menghisap lagi rokoknya. "Ada tiga fraksi yang bergerak dengan masih samar. Kita tidak tahu tujuan dari Maou menemuimu jadi anggap itu sebagai sesuatu yang perlu diwaspadai dengan tinggi mengingat yang langsung turun adalah bos utama. Temanmu yang Exorcist itu tidak menunjukkan misinya kepadamu, anggap itu sebagai hal yang sedikit kau waspadai, atau bahkan anggap itu sebagai bahan dimana kau bisa mengorek secara pelan informasi yang kau butuhkan dengan mencoba menolong mereka sedikit saja. Lalu soal malaikat jatuh yang masih berkeliaran di kota Kuoh, anggap itu sebagai faktor kejutan yang mungkin saja kau akan hadapi. Jangan lupakan juga faktor-faktor lain yang harus kau analisa secara perlahan lainnya, Issei. Sejauh ini kau paham kan apa yang kuucapkan dengan penjelasan sederhana ini di otakmu yang termasuk sistem komputer lama dan sudah tercemar virus?" Naruto mengejek sedikit di akhir kalimatnya yang langsung mendapat protes dari pemuda berambut coklat di hadapannya.

"Oy kalau ingin mengatakan aku itu lemot bilang saja, Sensei!" Issei menjadi sedikit kesal dengan ejekan gurunya.

Tertawa kecil yang lepas, Naruto mengetukkan rokoknya ke asbak di meja yang memisahkan duduknya mereka berdua, membuang abu rokok di ujung ke dalam asbak. "Jika saja otakmu itu tidak tercemar video porno maka kau bisa berpikir sedikit lebih cepat." Issei merengut disana. "Lupakan masalah otak Pentium dua-mu Issei, jika kau paham apa maksudmu maka kau bisa menerka bukan apa yang harus kau lakukan selanjutnya?"

Issei terdiam sejenak berpikir. Ada jeda cukup lama sebelum kemudian pemilik Boosted Gear itu menjawab. "Aku harus menjauhi sekolah dulu?"

"Dan kenapa kau berpikir demikian Issei?" Tanya Naruto mencoba melihat alasan dari jawaban Issei.

"Karena sekolah ada yang mendapat dukungan bos utama dan ada kemungkinan bisa dipanggil sesuka mereka yang sudah muncul duluan ketimbang dua fraksi lainnya dan berada di sana bisa membahayakan jika levelku masih belum cukup." Issei menjelaskan alasannya dengan disertai gaya ala bermain permainan RPG.

"Kau cukup pintar." Puji Naruto. "Lalu?"

"Aku harus meningkatkan levelku sekalian mencari informasi melalui Irina karena Irina yang masih terlihat bersahabat hingga saat ini?"

Naruto tersenyum kecil di sana dan Issei melihat sebuah pengakuan dari sang guru sadisnya yang terasa membuatnya bangga. Naruto hanya akan memberikan senyum jika Issei dianggap melakukan hal yang benar.

"Ingat Issei, kau tidak terikat dengan kekuatan supernatural yang bergerak di dunia ini. Kau ingin menempa jalanmu sendiri dan mati dengan bangga sebagai jati dirimu ketika kau dilahirkan walau sekarang masih tersisa setengahnya saja. Apa yang aku ajarkan kepadamu adalah cara bertahan hidup di dunia buruk yang tidak beraturan ini."

Naruto mematikan rokoknya di asbak yang terletak di meja. "Jangan sampai kita menjadi orang yang dikendalikan oleh orang lain dalam permainan besar mereka. Ada banyak kemungkinan yang terpikir olehku ketika seorang Maou muncul dan menemui dirimu. Pertama mungkin interogasi, kedua untuk melihat sampai dimana kekuatanmu yang mungkin akan digunakan Maou tersebut sebagai tolak ukur dimana tempatmu berada dan ketiga untuk menentukan apakah kau ancaman atau bukan dengan mata kepalanya sendiri serta melihat apakah kau bisa dirangkul ke sisi mereka."

"Dan misi Exorcist temanmu itu nanti pasti akan bergesekan dengan kedua fraksi yang lain. Ada kemungkinan jelas kau akan coba direkrut mereka jika mereka melihat Sacred Gear milikmu dan jelas malaikat jatuh akan mewaspadai Sacred Gear apa yang kau miliki yang akan menghalangi jalan mereka semisal kau berhadapan dengan mereka."

"Ugh… Ini menjadi rumit saja Sensei." Issei menggaruk kepalanya kemudian. "Dan seakan aku harus menjadi orang yang paranoid."

"Bukan paranoid namun hanya kau harus teliti. Jangan takut dengan masalah yang akan kau hadapi. Kau harus melihat, merencanakan baru menyerang." Kata Naruto. "Kau harus tenang dan tingkatkan saja kekuatan penggunaan Balance Breakermu sembari kita melihat bagaimana jalannya konflik yang akan terjadi di kota Kuoh ini."

"Baiklah Sensei." Kata Issei mengerti akan ucapan Naruto.

"Baiklah sekarang ayo masuk." Naruto berdiri dari duduknya. Pria pirang itu kemudian berjalan ke dalam rumahnya. "Kau akan menginap di rumahku malam ini sembari menemaniku membuat resep baru untuk kedaiku." Kata Naruto yang langsung membuat mata Issei terbinar. "Tapi hubungi dulu orang tuamu agar mereka tidak khawatir kemana anak perjaka mereka pergi." Canda Naruto.

Menemani Naruto membuat resep baru artinya dia ikut mencicipi masakan lezat apa yang akan dikreasikan dengan ramen! Oh, Issei mulai meneteskan air liurnya karena ini.

"Siap Sensei!" Issei menjawab dengan sangat semangat. Pemuda berambut coklat itu kemudian mengekor di belakang Naruto untuk masuk ke rumah.


[A Love for The Queen]


Hera, dewi pernikahan Olympus itu tengah berdiri di balkon kamar hotelnya sembari mencerna apa yang terdengar olehnya ketika dia pulang bekerja dari kedai ramen milik Uzumaki Naruto.

Hestia tadi tiba-tiba datang menemuinya, mengabarkan keadaan Olympus yang kacau akibat Ares, dewa perang Olympus yang pada saat pertemuan rutinan dewa-dewi Olympus membuat kehebohan dengan menyerang dan melukai Zeus lalu bunuh diri setelahnya. Menurut Hestia, Ares saat di pertemuan memang sedikit berbeda, dia lebih banyak diam dan saat dia mendekat ke arah Zeus dengan katanya berniat membisikkan sesuatu, dewa perang tersebut malah melukai Zeus di bagian perut dengan pedang artifak penting buatan Dwarf yang mengandung racun.

Zeus yang marah saat dilukai langsung saja kalap. Dewa-dewi yang lain juga tidak menyangka hal ini akan terjadi dan saat mereka menerka apa yang terjadi, Ares justru semakin mengejutkan dengan menarik lidahnya sendiri lalu memotongnya dengan senjata yang dia bawa untuk melukai Zeus. Belum cukup sampai disana, dewa perang Olympus yang sudah menjabat jabatan dewa perang selama beberapa milenia itu justru menusukkan pedang itu tepat dijantungnya sendiri.

Hal itu jelas membuat Ares langsung mati seketika dan mayatnya berubah menjadi debu dan menghilang menuju ketiadaan. Tahta Ares di Olympus juga langsung menghilang.

Banyak dewa-dewi tidak percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Mereka syok dengan Ares mati bunuh diri setelah membuat Zeus terluka cukup parah. Racun Dwarf dari senjata artifak Ares cukup ampuh untuk membuat Zeus berada di ambang kematian karena kecepatan racun itu menyebar di dalam Ichor atau darah dewa miliknya. Jika saja dewa Apollo tidak lekas bertindak dan mencoba menyembuhkan Zeus, entah apa yang akan terjadi.

Hera sendiri yang mendengar itu juga kaget luar biasa. Hubungan Zeus dan Ares termasuk cukup dekat jika dibandingkan dewa-dewi lain. Apalagi dengan Ares yang kerap melakukan pekerjaan kotor suruhan Zeus. Mendengar Ares menyerang Zeus adalah hal yang sedikit aneh. Namun meski begitu dewi pernikahan itu di dalam hatinya merasa ini adalah karma yang pantas bagi Zeus itu sendiri.

Selain itu, Hera sebenarnya sedikit berpendapat itu ada hubungannya dengan Naruto yang sudah mengalahkan Ares ketika pria pirang itu menyelamatkan Asia. Dia bisa saja bicara hal itu kepada Hestia namun lebih baik Hera untuk saat ini dia pendam saja seorang diri. Dia masih belum ingin memberitahu Hestia tentang kebenaran bahwa Naruto bukalah manusia biasa. Meskipun Hera sedikit ragu apakah Hestia sudah mengetahui itu atau belum, Hera tidak ingin bicara hal itu dahulu jadi dia masihlah diam.

Alasan lain Hera belum memberitahu Hestia karena dia masih sedikit ada keraguan dengan perasaan aneh yang menderanya. Hera tahu perasaan aneh yang dia rasakan sekarang ini adalah sebuah cinta kecil yang sudah mulai tumbuh. Dia telah melihat bagaimana manusia-manusia memiliki perasaan ini. Jadi dia ingin lebih yakin lagi dengan perasaannya ini. Bukannya Hera meragukan perasaan yang baru dia dapatkan ini, namun karena ini adalah kali pertamanya dia merasakan cintanya sendiri yang tumbuh dari sebuah bibit kecil yang murni, Hera ingin menjaga hal tersebut agar terus tumbuh dan semakin tumbuh. Tidak seperti keloyalan yang dia berikan kepada Zeus, kali ini Hera akan memberikan segalanya untuk pria pirang ayah dari Asia tersebut.

Hera tahu cinta yang dia miliki mungkin akan mendapat sedikit halangan dari perasaan Naruto kepada mendiang istrinya. Cinta pria pirang itu kepada mendiang istrinya bisa Hera rasakan begitu besar. Namun Hera sendiri yakin jika dia nanti bisa membuat Naruto mempunyai perasaan yang sama besarnya dengan mendiang istrinya kepada Hera.

Dia hanya harus bersabar. Hera hanya harus bersabar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Oh jangan salah, Hera adalah seorang dewi yang ambisius. Jika dia ingin sesuatu maka dia akan berusaha dengan keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Juga sekalian dia tidak ingin berbagi dengan siapapun. Naruto adalah pria yang baik kepada yang lain, dia perhatian, ayah yang baik juga bahkan punya kekuatan yang besar. Semua hal yang ada pada diri Naruto adalah apa yang selama ini Hera delusikan bisa berada pada diri Zeus. Naruto adalah pria yang telah memikat hatinya dan jika seandainya perasaan yang Hera miliki semakin tumbuh maka dia tidak akan membiarkan yang lain untuk mendapatkan Naruto. Tidak bahkan dengan Seraph Gabriel yang merupakan guru Asia yang terkadang datang ke kedai ramen atau bahkan dewi cinta Olympus yang sering merebut milik orang lain. Tidak satupun.

Hera akan memastikan itu dan dia adalah dewi yang sangat posesif akan hal yang dia miliki.

Lagipula Hestia tadi berkata bahwa dengan keadaan Olympus yang kacau, dia bisa berada lebih lama lagi di kota Kuoh ini. Hestia berkata dia ingin agar Hera tidak baik berada di Olympus sekarang, tidak dengan temperamental Zeus yang sedang naik. Hera justru dengan senang hati akan menuruti hal tersebut. Lagipula dia juga enggan berhadapan dengan sikap temperamen Zeus saat ini yang justru menurut Hera sendiri bisa saja dia yang akan marah nanti.

Daripada itu, Hera sekarang mungkin akan lebih berfikir bagaimana caranya agar dia semakin dekat dengan pria pirang yang telah memikat hatinya tersebut.


[2]


"Hera nee-chan! Lihat! Lihat! Kukis yang kupanggang mengembang!"

Suara Asia terdengar senang ketika gadis pirang itu melihat ke arah oven dimana didalamnya terdapat kue yang dia buat bersama dengan Hera. Gadis itu mengetuk beberapa kali kaca yang oven sambil melihat dengan tatapan riang.

Hari itu hari libur kedai dan juga hari libur untuk Asia ke sekolah. Gadis kecil itu terbangun dari tidurnya tanpa mengalami trauma dan kembali seperti biasa. Ini semua berkat Naruto yang menghapus ingatan Asia yang berkaitan dengan penculikan yang dia alami.

Hari ini Asia mengajak Hera untuk datang kerumahnya. Bersama dengan Naruto yang hanya menuruti apa permintaan putri kecilnya itu. Sang dewi pernikahan itu dengan putrinya semakin dekat saja setelah kejadian dengan Ares dan jika Naruto melihat, dewi tersebut menjadi sedikit overprotektif kepada putrinya. Hal yang sedikit lucu mengingat hubungan mereka berdua tidaklah ada hubungan darah namun Naruto tidak mempersalahkan hal tersebut. Agenda putrinya adalah untuk membuat kue dengan sangat memohon kepada Naruto untuk mengajari cara membuat kukis miliknya.

Hera yang memakai celemek dengan rambutnya diikat kuncir kuda hanya tertawa geli melihat tingkah Asia. Tangan lembut Hera mengelus kepala Asia.

"Kita masih harus menunggu lima menit lagi sampai itu matang Asia. Benar begitu bukan Naruto?" Hera melihat ke arah pria pirang yang memegang mangkuk besar dengan pengaduk telur disana, mengaduk telur untuk campuran adonan kue selanjutnya.

"Ah, iya." Jawab Naruto tanpa menoleh. Dia masih terlihat sibuk dengan adonannya. Hera yang melihat itu kemudian bergerak ke arah Naruto, berniat untuk membantu pria pirang itu.

Cheese cake adalah apa yang ingin dibuat Naruto buat selanjutnya. Hera tahu bagaimana cara membuat kue itu karena Hestia yang mengajarinya dahulu. Dia tahu susunan bahan dan cara membuat cake tersebut dengan baik.

Namun sebaiknya dia membuat, dia merasa bahwa rasa kue yang dia buat masihlah kalah dengan rasa buatan Naruto. Padahal cara membuatnya sama namun bagaimana Naruto mencampur semua bahan-bahan cake tersebut sempat membuat Hera kagum. Begitu luwes dan presisi sekali.

Seperti layaknya seorang ahli saja.

Tangan Naruto bergerak untuk mengambil bahan selanjutnya, tapi itu terlihat terlalu jauh untuk dia gapai. Hera yang melihat itu langsung mengambil bahan yang Naruto ingin ambil dan menyerahkannya dengan senyuman. Dewi itu bahkan menawarkan untuj membantunya dan Naruto memintanya untuk melakukan apa yang dia suruh.

Proses membuat roti itu berlangsung cukup lama. Di antara proses itu, tawa Asia tidaklah berhenti. Gadis kecil itu kerap tertawa senang meski di wajahnya ada belepotan adonan. Tangan kecilnya itu bergerak jahil kemudian, masuk ke dalam adonan dan mencolek sedikit adonan itu lalu bergerak ke arah wajah Hera dan mengoles colekan adonan yang dia ambil ke pipi sang dewi yang lengah sambil tertawa senang kemudian akibat kejahilan yang dia lakukan.

"Asia! Kamu nakal!" Hera merengut disana dengan pipi menggembung. Hal itu justru semakin ditanggapi dengan cengiran lebar gadis kecil manis tersebut. Hera tidaklah marah dengan Asia namun tangan dewi itu justru bergerak menangkap gadis kecil itu yang berusaha mengelak namun gagal. Hera kemudian membawa gadis kecil tersebut ke pelukannya.

Erat dan hangat.

Itulah yang Hera rasakan saat ini. Disamping kebahagiaan yang begitu mendera dirinya. Dia telah menemukan kebahagiaan yang terasa begitu nyata.

Sesuatu kebahagiaan yang sama sekali tidak dia dapatkan dari Zeus namun dia dapatkan dari manusia. Dua orang manusia yang membawa perubahan banyak bagi Hera itu sendiri.

Asia yang dipeluk oleh Hera hanya tersenyum sangat manis dan terasa sangat menikmatinya. Gadis kecil itu merasakan sebuah pelukan dari sesuatu yang selama ini dia inginkan. Sebuah pelukan yang mengisi lubang kosong di hati gadis kecil tersebut dari sosok yang tiada. Sementara Naruto yang melihat mereka berdua hanya tersenyum.

Dan pikiran milik Naruto mulai menerawang.

Jika seandainya mawar kecil itu masih hidup, mereka akan menjadi keluarga yang begitu bahagia.

Naruto hanya berpikir demikian dengan senyum yang mulai turun. Jika seandainya mawar kecil itu berada di sini sekarang, dia pasti akan membalas Asia dengan juga mengoleskan adonan di pipi manis Asia. Atau mungkin akan berebut kukis dengan Asia ketika kukis yang mereka masak matang.

Perubahan Naruto itu tentu saja disadari oleh Asia dan Hera yang melihat pria pirang itu tenggelam dalam lamunannya lagi. Asia memandang ke arah Hera dan dewi itu seakan mengerti apa maksud dari gadis kecil tersebut.

Tidak perlu ada ucapan. Sebuah ikatan antara mereka berdua yang mulai terjalin membuat mereka mulai mengerti satu sama lain.

Disaat seperti ini tidaklah ada yang boleh bersedih.

Dengan pelan keduanya melepas pelukan mereka lalu mengambil adonan yang ada. Hera pun demikian.

Bergerak perlahan menuju ke arah Naruto, Hera kemudian menggendong Asia dan keduanya mengoleskan adonan di masing-masing telunjuk tangan mereka ke arah Naruto, menyadarkan pria pirang itu dari lamunannya dengan anaknya dan dewi tersebut tertawa di sana.

"Asiaaaa… Venusa-san…." Naruto memberikan delikan tajam kepada mereka. Yang diberikan delikan tidaklah takut namun justru memberikan cengiran di sana.

Cengiran khas Asia yan menyerupai cengiran khas Naruto. Dan cengiran dari dewi Hera yang menyerupai…

Naruto tertegun di sana. Siluet seseorang nampak dibelakang dewi Hera lengkap dengan cengiran yang sama.

Oh Kami-sama….

Cengiran itu...

Sebuah cengiran yang Naruto rindukan dan wajah yang Naruto sangat sayangi. Hal itu muncul dan terlihat sama dengan wajah dewi Hera yang terlihat bahagia. Hal itu terlihat sama persis!

Delikan tajam itu mengendur, terganti dengan wajah tenang biasa yang terdapat di pria pirang tersebut. Bibir pria tersebut kemudian naik di kedua sisi ujungnya, membuat senyuman hangat disana.

Takdir…

Apakah dia kembali memainkan dadunya dan mempertemukannya lagi dengan seseorang yang sangat mirip dengan wanita itu.

Atau takdir kembali mencoba membuatnya bahagia kembali.

Naruto tidak tahu.


[3]


"Dua exorcist gereja itu sudah datang rupanya. Baguslah kalau begitu."

Nada bosan itu terdengar dari mulut seorang Malaikat jatuh yang duduk di sebuah kursi mewah di ruangan gelap. Hanya seberkas cahaya bulan yang masuk lewat jendela dan langit-langit yang rusak.

Yang duduk disana bukanlah malaikat jatuh biasa. Dia adalah salah satu Cadre, peringkat tinggi yang berada di Grigori atau merupakan bagian pemerintahan malaikat jatuh.

Dia sudah bosan menunggu. Dua Excalibur yang dia incar sudah datang tanpa ada kawalan dari Exorcist kelas atas. Entah apa maksud Gereja mengirim dua Exorcist rendahan tersebut, tapi bagi malaikat jatuh yang duduk di tahta sana kali ini menurutnya Gereja sudah bertindak sangat bodoh sekali.

Dia sudah mendapatkan empat Excalibur lainnya dari pencuriannya di Vatikan yang membuat Vatikan teramat sangat gempar akan hal tersebut. Dia membawa Excalibur ini kemari untuk memancing Vatikan mengirim dua Excalibur yang tersisa ke tangannya dengan mengirim sinyal lewat aura Excalibur yang mengarah ke kota ini.

Awalnya dia mengira Vatikan akan mengirim anggota-anggota kuat mereka untuk mendapatkan Excalibur yang tercuri seperti Griselda Quarta atau bahkan Vasco Strada. Dia juga sudah membuat dan memperkirakan bagaimana jika anggota itu yang dikirim dan cara apa yang akan mereka gunakan untuk mengalahkan mereka. Tapi sepertinya semua sia-sia jika yang mereka hadapi hanyalah kelas rendahan.

Dia, malaikat jatuh yang mengajarkan Astronomi untuk pertama kali kepada manusia kemudian mengeluarkan tawa kecilnya. Dunia ini sudah bergerak sangat tidak beraturan hanya perlu hal kecil untuk membuat kekacauan dan dia akan memastikan siapa yang akan bertahan hidup terakhir kalinya di dunia ini. Meski nantinya hal yang dia rencanakan akan memadamkan cahaya dan mengisi dunia dengan abu kematian, hal itu harus dia lakukan untuk mengakhiri masa dari hal supernatural yang ada.

"Bagaimana dengan adik dari Maou Lucifer itu yang sudah berhasil diculik? Apa dia sudah mendapat siksaan yang tepat?"

"Tuanku Kokabiel, iblis kecil itu sudah menderita luka bakar di kedua tangannya. Juga kakinya telah dilukai sedemikian rupa dan sekarang dia sedang mengalami gangguan mental akan siksaan yang dia alami."

"Huh, secepat itukah? Dahulu di jaman perang ketiga fraksi setidaknya butuh dua hari untuk mengalami gangguan mental. Iblis jaman sekarang terlalu dimanja dan semakin bertindak arogan. Bagaimana dengan iblis api yang merupakan tunangan adik dari Maou Lucifer itu? Kita berhasil mendapatkannya ketika dia muncul di lokalisasi kota ini dengan pancingan umpan kita?"

"Sudah berhasil kita dapatkan pula tuan Kokabiel. Dia saat ini sedang diperas air matanya untuk keperluan air mata Phoenix tentara kita."

"Bagus sekali." Malaikat jatuh bernama Kokabiel itu memuji apa yang sudah dia dengar. "Lalu reaksi Lucifer sendiri bagaimana?"

"Telah terjadi kepanikan pada Maou tersebut setelah Maou tersebut mengetahui adiknya telah hilang. Ratusan iblis khususnya iblis kelas tinggi sudah dikerahkan di kota Kuoh ini untuk mencari keberadaan adiknya yang kita culik."

"Pantas saja aku merasakan banyak energi iblis di kota ini. Dewi Amaterasu pasti tidak suka dengan ini jika mendengar kota yang dia pinjamkan untuk beberapa iblis malah menjadi sarang para iblis itu sendiri." Awan bergerak di atas tertiup angin, menghindar membuat sinar bulan masuk ke dalam celah langit-langit rusak dan menerpa sebagian wajah dari malaikat jatuh bernama Kokabiel tersebut.

"Bagaimana dengan Sekiryutei yang cukup mengejutkan itu?" Kokabiel bertanya pelan.

"Untuk itu…" Bawahan Kokabiel, malaikat jatuh bersayap empat yang berlutut di hadapan tuannya tersebut mencoba mencari kata yang pas untuk memberitahu bagaimana Sekiryutei. "Dia hilang tanpa jejak, tuan Kokabiel."

Wajah milik Kokabiel berubah, satu alisnya naik untuk menunjukkan ketertarikan akan hal yang dikatakan bawahannya.

"Dia hilang tanpa jejak beserta kedua orang tuanya. Kami yang berusaha mendeteksinya sama sekali tidak bisa menemuinya, tidak bahkan dengan alat pendeteksi Sacred Gear yang diciptakan oleh Azazel yang berhasil kita curi."

"Hoh… sepertinya ada sesuatu yang menarik dari Sekiryutei tersebut." Kokabiel mengeluarkan kekehan kecilnya. "Biarkan dia. Selama dia masih menjadi manusia aku tidak peduli akan hal itu. Aku tidak akan membiarkan Sacred Geat sekuat itu jatuh ke tangan tiga fraksi lainnya. Tidak ketika rivalnya sudah menjadi tangan kanan Azazel. Vilaria sudah berbahaya dengan Divine Dividing miliknya dan gadis itu loyal kepada Azazel." Mendengus tidak senang, Kokabiel melihat ke arah lain.

"Biarkan adik Maou Lucifer itu tetap kita simpan sebagai tawanan. Kita akan mencoba menghilang selama dua minggu untuk menurunkan kewaspadaan iblis di kota ini dan menunggu kelengahan dari mereka. Adapun untuk Excalibur, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Ambil itu sesuai rencana. Setidaknya kali ini pastikan semua berjalan sesuai rencana."

"...Era para makhluk seperti kita sudah mendekati akhirnya." Tambah Kokabiel yang melihat bawahannya kemudian. Raut wajah yang sebagian terkena sinar bulan itu menampakkan raut wajah serius.

"Mari kita lakukan satu lagi misi untuk membuat hal yang paling kita cintai berjaya, saudaraku."


[...Pihak ketiga yang sudah bergerak selesai…]


A/N : Sudah kubilang kemungkinan Chaos atau kekacauan yang besar akan kuambil. Sebuah drama betapa buruknya dunia fantasi DxD sudah mulai terlihat. Jika kekacauan dari rencana Kokabiel sudah seperti ini bagaimana kekacauan cerita ini nantinya yang akan kubuat?

Bagian menculik adik Maou yang berada jauh dari pengawasan kakaknya adalah hal yang mungkin. Segala hal mungkin terjadi. Bagian awal yang manis hingga ke tengah di akhiri dengan rencana buruk rupa yang memuaskan.

Apa ini berlebihan? Tidak juga. Aku memberikan kejutan kepada penunggu fic ini yang sudah bosan dengan alur mainstream.

Juga soal Issei dan Naruto. Naruto adalah pria dewasa yang sudah menyesap perang dan tidak asing dengan pembunuhan. Membuat Issei menjadi seperti Naruto yang kalkulatif adalah hal yang lumrah.

Katakan Banzai jika chapter ini membuka rasa penasaran kalian para senpai. Senang bisa mengetahui tanggapan positif yang selalu kalian berikan padaku. Juga dukungan kalian sangatlah berarti untuk penulis amatiran ini. Terima kasih dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Riesa Afiela out!...