A/N : Atas permintaan lewat sebuah PM dari seorang penggemar karena rasa penasarannya akan siapa ibu dari Asia dalam fanfiksi ini, maka inilah sebuah jawaban kecil untuk rasa penasaran tersebut.
Interlude 1 - How They Meet Each Other
Wanita berumur dua puluh tahunan itu terlihat lusut sekali wajahnya. Hari ini adalah hari buruk bagi wanita tersebut karena kesialan yang dia alami secara beruntun.
Mata kuliah dengan tugas yang belum kelar, kena semprotan pedas dari dosen yang killer. Kue kukis bekalnya yang terjatuh ke selokan kampus secara tidak sengaja karena pegangan wanita tersebut terlepas dari wadahnya akibat tersandung ditambah dengan beban dari organisasi musik yang dia ikuti.
Astaga, rasanya wanita itu ingin berteriak sekencang-kencangnya saja sekarang. Tapi sayang, dia malu jika harus berteriak di tengah jalan begini dimana banyak orang lalu lalang. Nanti saja jika dia sampai di apartemen kecilnya yang dia sewa, dia akan berteriak sesukanya tanpa ada yang menganggu dari balkon.
Huh, bagaimana caranya agar moodnya yang buruk ini bisa kembali lagi ceria? Wanita itu kini berpikir cukup keras di otaknya. Gir-gir otaknya melaju memikirkan apa saja hal yang bisa menaikkan mood yang dia miliki.
Bermain ke taman permainan dan bermain game sepuasnya di tempat Arcade? Bah, itu sudah dia lakukan kemarin. Pergi ke kafe dan melihat video dari sambungan wifi gratis? Bosaaaaannnn!
Apa sih yang bisa membuatnya kembali ceria?
Angin berhembus kemudian. Menerpa dirinya, memberikan rasa sejuk diantara panas matahari yang telah mulai turun dari saat puncak-puncaknya.
Sekarang jam dua siang. Mungkin lebih baik dia mencari makan saja dahulu sekarang. Cari saja makanan cepat saji di restoran makanan dengan lambang badutnya yang berada di dekat daerah ini lalu pergi sebentar ke taman kota. Disana pasti sedikit lebih sejuk lagi karena banyak pohon rindangnya dan ada air mancurnya. Mungkin itu bisa membuat mood miliknya membaik selain nanti dia juga bisa memberi makan kawanan burung merpati di sana.
Satu paket makanan cepat saji yaitu Hamburger lengkap dengan soda dan kentang gorengnya dengan cepat sudah berada di tangan. Jarak dimana tadi saat dia menggerutu dengan restoran cepat saji memang tidak jauh. Hanya berjarak tiga ratus meter saja. Dia juga sudah membeli sebuah roti tawar yang nantinya dia akan remas untuk memberi makan kawanan burung merpati.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mencapai taman kota. Saat turun, wanita itu sudah dihadapkan dengan pohon-pohon besar yang berbaris rapi dan diatur sedemikian rupa juga pepohonan dengan bunga kertasnya yan berwarna warni tengah bermekaran. Ada banyak orang di taman ini dari mulai yang sedang pacaran hingga yang membawa istri dan anak mereka. Padahal ini bukanlah hari libur kerja tapi pengunjung taman ini lumayan padat.
Air mancur di tengah taman mengucur deras ke atas, menantang langit kelihatannya dan cipratan dari air yang turun memberikan sensasi dingin yang menyegarkan di kulit. Sebenarnya dia ingin duduk di dekat air mancur tersebut namun sayang, disana terlihat banyak anak kecil yang bermain dan bersenda gurau.
Matanya melihat ke beberapa sudut taman, bangku-bangku terlihat semua sudah terisi oleh pasangan-pasangan muda ataupun pasangan yang terlihat sudah menikah. Ahhh…. Kenapa sudah penuh juga disaat seperti ini!
Apa sebaiknya dia ke tempat lain saja? Tapi sayang bukan sudah berada di sini. Mending dia duduk di bawah pohon sajalah.
Hal itu setidaknya ingin dia putuskan jika saja matanya tidak melihat sebuah bangku yang hanya diduduki oleh satu orang pemuda. Berambut pirang dengan memakai pakaian yang sedikit casual tengah memegang sebuah buku catatan kecil dan terlihat menulis beberapa hal disana.
Dari wajahnya terlihat seperti anak yang masih berada di sekolah tinggi. Tapi biasanya anak yang berada di sekolah tinggi bukannya jarang yang ada sendirian di jam segini? Mata wanita itu bisa melihat beberapa gadis yang berada di sekeliling pemuda itu melirik dan saling berbisik. Tapi entah kenapa mereka tidak mendekat dan memulai bicara. Ah, masa bodoh sajalah. Ada bangku yang kosong di sebelahnya kenapa tidak dipakai?
Dia berjalan dengan mantap ke bangku yang diduduki pemuda itu lalu dengan sedikit elegan duduk di sebelahnya. Pemuda itu sepertinya merasa bahwa ada yang duduk di sebelahnya menoleh dan wanita itu bisa melihat dengan jelas sekali dari jarak dekat.
Pemuda itu tampan sekali. Ketika mata mereka berdua bertatap sejenak, wanita itu bisa melihat ada begitu banyak kesedihan yang tersimpan secara dalam.
Bagaimana? Bagaimana mata biru indah milik pemuda itu yang harusnya cerah bisa terlihat begitu hampa tiada berwarna?
Pemuda itu menganggukkan kepalanya, memberikan senyuman kecil yang kemudian wanita itu balas dengan anggukan senyuman canggung.
Tidak ada interaksi apapun lagi. Namun wanita itu kerap melirik ke arah pemuda tersebut.
Entah kenapa ada sebuah rasa penasaran yang timbul di dalam diri wanita tersebut ketika dia telah melihat pemuda itu.
Tangan pemuda itu masih menulis di buku catatan kecil berwarna biru muda. Suara dari goresan bolpoin sayup-sayup terdengar sesekali dan rasa sejuk dari angin mengiringi duduk mereka berdua yang saling diam tanpa ada kata sapa terucap. Wanita tersebut sebenarnya ingin menyapa untuk sekedar mengajak basa-basi bicara atau ngobrol sejenak tapi dia malu. Haruskah perempuan dulu yang mulai bicara? Laki-laki dulu harusnya!
Tapi… jika seperti ini lama-lama kenapa terasa tidak nyaman? Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana?
Wanita itu melirik sekali lagi. Naas, lirikannya tersebut bertepatan dengan pemuda di sampingnya itu juga ikut melihat ke arahnya. Wajah wanita itu seakan mulai bersemu merah muda di pipi.
...Malu.
Wanita tersebut tidak menyangka akan pas berbarengan begini. Dia ketahuan!
Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba mengambil roti tawar yang dia bawa dan dia taruh di sampingnya, meremasnya dengan cepat dan menaburkannya ke depan. Hal yang dia lakukan lekas menarik kawanan merpati yang ada dan turun untuk menyambut makanan gratis bagi mereka.
Saat itu wanita itu masih mengontrol rasa malunya, suara kekehan merdu terdengar di telinga. Asalnya dari samping wanita tersebut.
Wanita itu bertambah malu. Dia ditertawakan. Rona merah muda itu semakin terlihat di pipi manisnya.
Lalu pundak wanita itu disentuh lembut. Wanita itu melonjak kaget dan menoleh. Pandangan mereka berdua kembali bertemu.
Buku catatan biru muda yang ditulis pemuda itu sudah tergeletak di samping dengan pemuda itu melihat ke arahnya sambil tersenyum lembut.
Tangan terulur pelan, mencoba mengajak bersalaman.
"Uzumaki Naruto."
Suara itu terdengar tenang seperti angin yang mendesir diantara mereka berdua. Daun-daun bergoyang dan rambut mereka masing-masing dibelai lembut oleh angin yang mendesir tersebut.
Dengan sedikit malu-malu, wanita tersebut menjawab dengan menerima salaman tersebut dengan tangannya. Pemuda itu sudah mengenalkan namanya. Nama yang dia tidak tahu bahwa nama tersebut akan membawa begitu banyak kebahagiaan untuknya.
Suara wanita tersebut keluar kemudian beberapa saat setelah kedua tangan mereka menyatu dalam perkenalan.
"Laeticia Iralis"
Dan seperti itulah mereka berdua saling berkenalan.
[Selesai…?]
A/N: Karakter Laeticia terambil dari vessel Jeanne D'Arc dalam seri Fate/Apocryha. Nama Iralis hanya tambahan dari Author saja. Ibu Asia memang kubuat lebih tua dari Naruto.
Sangat menyenangkan menulis interlude ini. Seolah mengingat lagi kepingan kenangan lama dari sebuah novel yang pernah terbaca.
Ini hanya selingan ringan bukan chapter sebenarnya. Ada beberapa interlude yang nanti ada yang aku gunakan untuk menggambarkan penggambaran tokoh atau kejadian lalu yang saling berkaitan dengan tokoh utama. Aku ingin menyampaikan cerita yang memberikan rasa mendalam bagi yang membaca fanfiksi ini pelan-pelan. Tidak usah terburu-buru dalam membaca dan rasakan bagaimana sensasi damainya. Bukan sekedar panjangnya cerita namun bagaimana feel yang ingin kusampaikan bisa dirasakan.
Untuk Chapter selanjutnya masih diriset untuk menghasilkan alur Chaos yang menarik. Kokabiel ingin dibuat cerdik dan tidak sembarangan agar semakin menarik. Terima kasih dukungan banyak senpai kepada penulis sederhana ini. Arigatou senpai...
