Hera, dewi itu memandang lagi sebuah foto cukup besar yang terpasang di tembok rumah milik Uzumaki Naruto. Sebuah foto dimana Naruto mengenakan sebuah kimono dengan senyuman begitu cerah disana disertai lengannya memeluk pinggang wanita di sampingnya yang terlihat begitu bahagia. Wanita di foto tersebut terlihat begitu cantik dengan rambut yang disanggul dengan mengenakan kimono bermotif bunga sakura sembari memeluk Naruto.
Jika Hera ingin berkata, kecantikan wanita yang berada di foto tersebut terasa melebihi kecantikan Aphrodite, dewi cinta dari Olympus juga dirinya. Bukan dalam kecantikan wajah namun ada aura kecantikan lebih saat wanita tersenyum bahagia disana. Ratusan kali membuat wanita tersebut terlihat begitu cantik dalam pandangan Hera hingga dia bisa berfikir demikian.
Ini adalah foto pernikahan Naruto dengan mendiang istrinya, Leaticia Iralis yang begitu dicintai Naruto. Ibu dari Asia, si putri kecil yang telah mengisi salah satu lubang kebahagiaan pada diri Hera. Ada sebersit bayangan yang muncul di kepala Hera jika seandainya wanita yang berada di dalam foto adalah dirinya dan rasa iri untuk wanita di dalam foto tersebut yang sampai sekarang masihlah tetap dicintai oleh pria pirang yang saat ini mengisi kepala Hera.
Cinta Naruto masih terasa besar untuk wanita yang ada di foto tersebut. Hera masih bisa merasakannya.
"Laeticia suka sekali dengan bunga Sakura."
Suara dari arah samping membuat Hera menoleh. Naruto berdiri di samping Hera dengan melihat foto tersebut dalam pandangan nostalgia. "Saking sukanya dengan bunga Sakura, dia yang sendiri yang memilih kimono tersebut untuk dipakai dalam hari bahagia kami."
"Naruto…"
"Aku masih ingat dengan jelas ketika aku dibuatnya repot dengan harus mengikuti dirinya untuk masuk ke berbagai butik hanya demi mendapat gaun yang ada motif sakura. Setelah berjalan keluar masuk toko yang aku berhenti menghitung ketika mencapai hitungan ke dua puluh, dia menemukannya di sebuah butik sederhana. Sebuah gaun kimono pernikahan yang begitu indah dipandang. Aku juga mengakui kimono tersebut sangat luar biasa dan meski pada akhirnya aku harus merogoh uang besar untuk kimono pernikahan tersebut, aku tidak pernah berfikir menyesalinya." Naruto bercerita dengan dalam nada nostalgia yang bahagia. Hera mendengarkan dengan seksama.
"Aku pernah berfikir bahwa aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya waktu itu di saat aku sedang mencari inspirasi dalam menulis. Dia sering melirik diriku saat itu dan bersikap malu-malu. Itu terasa nostalgia sekali."
"Tapi sayang aku sekarang hanya bisa melihat senyumnya dari sebuah foto." Nada Naruto berubah. Terdengar berat dan seperti bercampur kesedihan. "Dia telah berada di tempat yang jauh lebih baik sekarang."
"Naruto…" Hera serasa tercekat tenggorokannya. Dewi tersebut tidak tahu harus bicara apa.
"Kenapa kau suka memandang foto ini dewi?" Tanya Naruto sambil kemudian menoleh. Pandangan mereka berdua saling bertatapan dimana Naruto menanti jawaban dari dewi di sampingnya ini.
Dalam beberapa hari ini, Hera selalu berkunjung ke rumah milik Naruto. Dewi itu berkata sekedar ingin bertemu Asia namun Naruto bisa melihat bahwa setiap kali datang ke rumahnya untuk bertamu, dewi ini selalu melihat ke arah foto pernikahannya dengan mendiang istrinya dan Naruto bisa menatap berbagai emosi milik Hera tengah bercampur aduk dan itu terlihat jelas dari wajahnya.
"Aku…" Hera mencoba mencari kata yang tepat dan ketika dia menemukan kata yang dirasanya tepat, dia mengutarakannya dengan sejujur yang dia bisa. "...mungkin saja iri."
Alis pria pirang itu terangkat sedikit dan Naruto menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Hera.
"Aku tidak pernah mempunyai lukisan pernikahanku seperti ini di kuilku. Tidak bahkan dengan senyum yang seperti ini. Senyuman di foto kalian menunjukkan begitu banyak kebahagiaan seakan kebahagiaan itu sanggup untuk memenuhi segala isi dunia." Wajah dewi itu kemudian berubah menjadi sendu ketika dia melihat kembali foto pernikahan milik pria pirang disampingnya dengan mendiang istrinya tersebut. "Aku iri dengan hal seperti ini. Manusia saja bisa seperti ini tapi kenapa aku tidak bisa? Aku bahkan merasa takdir begitu banyak mengutukku untuk hal ini."
Tanpa Hera sadari mata miliknya mulai terasa buram akibat dirinya menahan air mata yang keluar. Satu tetes air mata dari segala perasaan yang ada kemudian mengalir turun, memberitahu Naruto akan segala perasaan milik dewi ini. Hera dengan cepat menghapus air matanya dengan tangannya. Dewi itu kemudian menarik nafas teramat dalam dan menghembuskannya, mencoba mengontrol kembali emosi miliknya. "Maaf kau harus melihatnya Naruto."
"Kenapa kau meminta maaf?" Naruto mengalihkan pandangannya lagi untuk melihat foto pernikahan miliknya. "Kau tidaklah salah dewi."
"Aku tahu itu… Hanya saja…"
"Kau sekarang bebas dewi. Kau bisa mencari kebahagiaanmu sekarang. Mungkin suatu saat nanti kau akan bisa memiliki foto yang sama seperti yang kupunya." Kata Naruto berusaha memberi semangat pada dewi disampingnya ini yang menurut Naruto sendiri sudah melalui hal yang sangat berat selama milenia. "Waktumu tersakiti sudah berakhir."
Selama milenia selalu disakiti perasaannya, Naruto terkadang tidak mengerti apa yang benar-benar membuat hati Hera sendiri begitu tangguh. Terbuat dari besi bajakah hati dewi itu?
Hal itu tidak mungkin terjadi mengingat berbagai emosi selalu mengalir di dalam hati mereka yang bernyawa.
Hera kemudian melihat lagi ke arah pria pirang disampingnya ini. Kata-kata yang Naruto keluarkan barusan seakan mengangkat segala kesedihan Hera. Dewi itu kemudian tersenyum kecil.
Pria ini… Dasar! Tidak tahukah bahwa kata-kata miliknya terkadang membuat perasaan Hera jauh lebih terasa ringan?
Suatu hari nanti… jika suatu hari nanti dia bisa memiliki foto seperti ini maka dia ingin…
"Hey, Naruto…" Hera memanggil pria pirang itu dan yang dipanggil kemudian menoleh.
"Hmmm?" Mereka bertatapan sekali lagi.
"Kau tahu? Kurasa aku telah bahagia sekarang ini." Kata Hera. Dengan cepat dewi itu bergerak dalam kecepatan yang Naruto tidak tahu dan sebuah kecupan hangat mendarat di pipi pria pirang itu.
Naruto tertegun kemudian. Pria pirang itu kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membuat pertanda bahwa hal yang sekarang terjadi adalah nyata.
Sebuah bisikan kemudian terdengar di telinga Naruto. Membuat pria pirang itu merasa hal ini adalah nyata disertai sensasi rasa merinding di belakang leher.
"Terima kasih."
Setelah Hera mengucapkan hal tersebut, dewi pernikahan itu berbalik dan terburu-buru pergi ke kamar Asia. Jika ada yang melihat lebih dekat, semburat merah muda tercetak jelas di pipi dewi tersebut.
Sedangkan Naruto masih terdiam disana sebelum tangan miliknya bergerak menyentuh pipi yang diberikan kecupan tersebut dan kemudian tertawa kecil.
Astaga dewi pernikahan itu…
Naruto hanya bisa geleng-geleng kepala karena keberaniannya.
[A Love for the Queen]
Mereka indah dengan segala hal yang mereka miliki. Kenaifan mereka, keberanian mereka, tawa kasih mereka, cinta murni mereka.
Kokabiel menyukai hal itu sejak dulu. Sejak dia pertama kali paham akan mereka serta kemudian terus melihat mereka dari atas sana.
Pada awalnya dia tidaklah seperti ini. Pada awalnya dia benci dengan mereka. Mereka membuat banyak kerusakan, mereka membuat banyak tangisan dan penderitaan, mereka membuat hal-hal yang seharusnya bukan tercipta untuk disembah. Mereka hanyalah makhluk cacat, rusak, tidak berharga. Mereka gelap dan hitam tiada terkira.
Namun hal tersebut tidaklah sama dengan yang dilihat oleh Tuhan. Kokabiel melihat Ayah mereka begitu senang dengan mereka, begitu cinta kepada makhluk hina itu.
Hal yang tidak pernah Kokabiel mengerti pada awalnya. Namun dengan kesabaran tiada batas, Tuhan memperlihatkan sesuatu pada Kokabiel itu sendiri sisi lain dari yang selama ini dia tidak pernah lihat.
Tuhan memperlihatkan bagaimaa keberanian mereka, bagaimana hal yang mustahil yang bisa mereka capai, bagaimana cinta dan kasih mereka kepada sesama yang begitu menakjubkan untuk ukuran makhluk yang Kokabiel anggap awalnya cacat.
Tanpa Kokabiel sadari, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mereka kemudian.
Mereka, manusia yang semula Kokabiel anggap cacat ternyata ada beberapa yang berbeda. Hal gelap tiada terkira itu ibarat langit di malam hari namun diantara kegelapan tersebut beberapa bersinar memberi harapan kepada yang lain.
Kokabiel menyukai sinar tersebut, Kokabiel mencintai sinar-sinar kecil yang memberi harapan kepada yang lain.
Kokabiel telah lama mengamati mereka, telah lama melihat mereka, telah lama kemudian menyadari hal inilah yang dicintai oleh Tuhan.
Namun ketika zaman terus melaju maju, sinar-sinar kecil itu berguguran satu sama lain. Sinar-sinar itu tidak lagi sama seperti dulu bahkan ketika baru saja ada satu yang terlihat Kokabiel pantas untuk dia amati, sinar itu meredup dan menghilang karena suatu hal.
Dan suatu hal tersebut adalah ulah para makhluk supernatural lain yang membuat mereka jatuh dan menghilang, terlebih akibat dari benda laknat ciptaan Maou iblis, Evil piece yang semakin membuat banyak sinar-sinar itu berguguran.
Kokabiel marah akan hal itu, Kokabiel benci akan hal itu.
Mereka harusnya bersinar, berjaya dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Bukan malah mengabdi dan menjadi bawahan dari makhluk lainnya. Mereka adalah ras yang begitu berisi banyak potensial bahkan sampai Tuhan menyuruh para malaikat bersujud di hadapan mereka yang paling bersinar.
Berbagai campuran akan rasa tidak senang dengan keadaan manusia, mereka yang dicintai Tuhan dan mereka yang membuat Kokabiel sampai rela terjatuh dari surga telah mencapai puncaknya.
Jika mereka tidak bisa bersinar karena makhluk-makhluk supernatural yang menghalangi, maka Kokabiel tinggal menghilangkan makhluk-makhluk tersebut, membinasakan makhluk-makhluk tersebut lewat perang.
Dia tidak peduli ketiga fraksi musnah, dia tidak peduli jika mitologi lain lenyap. Yang dia pedulikan hanyalah manusia akan kembali selamat dan memulai kehidupan baru mereka. Lalu dari kehidupan baru mereka, masa dimana makhluk supernatural sudah tiada, Kokabiel bisa membayangkan berbagai sinar-sinar lain bermunculan.
Maka dari itu rencana ini tercipta. Mencuri Excalibur milik pihak Gereja yang beraliansi dengan Surga lalu menyatukannya untuk membunuh dua adik Maou. Ketika fraksi iblis menemukan hal tersebut maka perang akan pecah antara dua fraksi dan Kokabiel tinggal ikut serta yang tentunya akan menyeret fraksi Malaikat jatuh. Hal itu adalah rencana terbaik miliknya sekarang. Tidak peduli dengan gangguan apapun, Kokabiel akan mewujudkan hal tersebut.
Dia sudah mendapatkan enam potongan excalibur. Dia tinggal menyatukannya melalui alkimia dan akan dia gunakan untuk memenggal kepala Rias Gremory. Tentu saja hal tersebut akan dia lakukan di kota Kuoh ini dalam siaran langsung. Kokabiel akan mencuci pikiran salah seorang Exorcist yang terlalu terobsesi dengan jalannya. Anak tiri dari Griselda Quarta, Xenovia Quarta sendirilah yang akan membuat kehebohan terjadi.
Salahkan Gereja yang sudah begitu bodoh dengan mengirim Exorcist kacangan dengan ego setinggi langit. Mereka berpikir mereka kuat namun nyatanya mereka itu lemah. Mereka tidak melewati peperangan sama seperti pasukan dari Kokabiel itu sendiri. Sekarang ini hanya tinggal dibutuhkan sebuah sihir dimensi untuk mengunci akademi dan melepaskan Exorcist yang telah Kokabiel cuci otaknya dengan sihir ke dalam akademi tersebut dibekali dengan pedang Excalibur tempaan baru. Oh ya jangan lupakan sihir yang akan digunakan untuk menyiarkan hal tersebut ke seluruh Underworld atau dunia bawah.
Tangan Kokabiel akan tetap bersih untuk fase pertama sebelum perang.
Oh… Kokabiel bisa merasakan dirinya tersenyum saat ini ketika dia duduk di taman kota ini sambil memberi makan merpati. Senyuman miliknya jika tidak diperhatikan dengan sangat baik maka tidak ada yang bisa mengetahui bahwa itu adalah senyuman kecil yang jahat.
Mata Kokabiel masihlah menatap kerumunan merpati yang memakan remah-remah roti di hadapannya. Senyuman kecil jahat tadi menghilanh bergantikan wajah teduh kemudian. Hal yang ada di sekitar kemudian adalah apa yang menjadi fokus Kokabiel.
Banyak orang yang berada di sini. Wajah-wajah mereka para manusia terlihat senang meski mereka tidak tahu apa yang akan menimpa mereka saat berada di kota ini saat hari-hari ke depan. Ada segeliat rasa bersalah di diri Kokabiel merayap pelan menuju ke hatinya. Wajah-wajah mereka yang bahagia akan berubah menjadi wajah-wajah teror jika seandainya perang pecah di kota ini.
Tapi Kokabiel telah menjadi kebal dengan perasaan seperti ini. Ini adalah apa yang harus dilakukan. Hal terakhir yang bisa dia kerjakan.
Mata hitam itu kemudian melihat ke sudut lain di jalanan trotoar sana. Seorang pemuda berambut coklat dengan wajah sedikit panik berjalan dengan sangat cepat disana membawa aura yang sangat dikenali oleh Kokabiel.
Aura dari Ddraig, naga merah surga yang telah mengacau dengan muncul secara tiba-tiba di saat peperangan antara tiga fraksi dahulu. Naga itu bersama dengan si putih saling bertarung di tengah medan perang tiga fraksi yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari tiga fraksi itu sendiri.
Sekiryuutei…
Jadi diakah pemegang Boosted Gear di zaman sekarang? Meski wajah itu terlihat sedikit panik, dari jauh Kokabiel bisa melihat wajah seorang petarung di sana. Wajah yang sudah langka di masa ini.
Hooo… ini menarik. Mungkin sebaiknya dirinya mencoba untuk mengikuti Sekiryutei tersebut dan mengamati dari jauh.
Perlahan malaikat jatuh itu berdiri dari duduknya dan mulai berjalan keluar.
Setidaknya dia perlu tahu seperti apakah Sekiryutei generasi masa kini dalam menghadapi apa yang membuatnya panik.
[2]
Issei berjalan dengan terburu-buru disertai wajah panik. Dia diikuti oleh iblis-iblis kelas tinggi dalam jumlah banyak.
Apa-apaan ini? Kenapa sekarang ini banyak sekali iblis-iblis kelas tinggi berada di kota ini? Setahunya bukankah hanya ada dua iblis kelas tinggi di kota ini dan itu adalah Rias Gremory dan Sona Sitri?
Apa ini ada hubungannya dengan gesekan antara Exorcist dan pihak iblis? Sial! Kenapa juga harus di kota tempatnya tinggal?
Untung saja kedua orang tuanya berada di belahan bumi lain. Sensei-nya sudah mengatur demikian dengan teknik rahasianya yang menurut Issei sendiri tekni tersebut adalah cheat curang dalam kekuatan. Kedua orang tua Issei sekarang tengah berlibur di Hawai sementara Issei meningkatkan kekuatannya di dimensi milik Sensei-nya.
Dia baru saja keluat dari dimensi tempat latihan sadisnya untuk kemudian pergi ke rumah mengambil sesuatu namun di perjalanan dia bertemu salah satu iblis kelas tinggi dengan pakaian hitam. Dia sebenarnya tidak takut, tapi dia menghindari kontak dengan mereka tapi ternyata kehadirannya di daerah ini sudah diketahui dan hasilnya dia diikuti oleh sekitar dua puluh iblis. Entah apa motif mereka mengikutinya Issei akan menanyakan hal tersebut saat sudah berada di tempat sepi.
Dia hanya berjalan cepat menuju ke tempat pembangunan yang sudah terbengkalai. Bangunan disini tidak dilanjutkan pekerjaannya dalam kurun waktu sekitar dua tahunan dan dia masuk dengan melompat melewati pagar setinggi dua meter yang mengelilingi bangunan tersebut. Ketika dia sudah sampai berada di dalam bangunan tersebut, Issei bisa merasakan sebuah pembatas sihir dipasang memerangkap bangunan tempatnya berada.
Dia dikepung dalam satu tempat.
Issei lalu menatap ke dua puluh iblis yang muncul di hadapannya setelah pembatas sihir tercipta dalam bentuk setengah kubah, memisahkan tempat ini dengan dunia manusia. Pemimpin mereka berbadan besar setinggi dua meter. Otot-ototnya terlihat sangat besar seakan ingin keluar dari pakaian hitam ketat yang dikenakannya.
"Sekiryuutei-san?" Pria besar itu berbicara lebih dahulu dengan suara cukup berat. Siapapun manusia biasa yang mendengarnya pasti akan gemetar takut karena suara tersebut sedikit berisi intimidasi. Iblis-iblis kelas tinggi lainnya terlihat tegang di belakang pemimpin mereka.
"Ya?" Issei membalas kemudian dengan tenang. Dia harus tetap tenang dalam keadaan apapun. "Kenapa banyak iblis kelas tinggi berada di sini? Dan kenapa mengikutiku?"
"Ada sesuatu hal yang mengharuskan kami berada disini. Terjadi sesuatu dengan Rias Gremory-sama dan kami mendapat perintah jika melihatmu berada di kota ini kami harus membawamu untuk diinterogasi."
Issei menaikkan alis setelah dia mendengar jawaban dari pemimpin kelompok iblis tersebut. "Interogasi? Kenapa aku harus melakukannya? Aku tidak merasa aku melakukan suatu hal yang bersalah."
"Kau dicurigai sebagai salah satu kandidat yang berkaitan dengan hilangnya Rias Gremory-sama, Sekiryutei-san."
"Kandidat yang berkaitan dengan hilangnya Rias Gremory? Tunggu sebentar! Apa maksudmu dengan Rias menghilang?" Issei berkata dengan cukup terkejut.
"Rias Gremory-sama diduga diculik oleh seseorang dan kami disuruh untuk membawa yang kemungkinan berkaitan dengan Rias Gremory-sama dalam beberapa waktu ini." Balas iblis besar tersebut. "Kemungkinan terbesar adalah kau mengetahuinya karena kau terlibat dengannya baik dalam pertemuan pertama ataupun dengan masalah iblis Phoenix."
"Tunggu sebentar! Kalian kira aku tahu? Asumsi dari mana itu? Aku bahkan tidak terlibat kontak dengannya selama ini!" Bantah Issei.
"Hal itu tidak penting. Sekarang anda bisa ikut kami. Silahkan anda jelaskan hal tersebut nanti." Kata iblis besar tersebut. "Tolong bekerjasama atau kami harus menggunakan kekerasan."
Issei yang mendengar ucapan iblis besar tersebut wajahnya mengeras kemudian. "Kekerasan? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak terlibat kontak dengan iblis merah itu selama ini?"
"Hal itu bisa saja alibi. Dengar Sekiryuutei-san, kau harus ikut dengan kami atau kami benar-benar akan menggunakan kekerasan jika kau menolak. Lagipula jika seandainya kau tidak bersalah dalam hal Rias Gremory-sama, kau masih bersalah karena menyerang iblis dari pilar Phoenix."
"Huh?" Issei menatap iblis besar itu kemudian. "Bersalah? Dia menyerangku duluan. Apa itu tidak dijelaskan?"
"Siapa yang menyerang duluan tidak masalah, yang penting anda bersalah karena hal tersebut dan sekarang kami akan membawa anda." Kata iblis besar itu. Issei kemudian bisa melihat senyum sombong disana. Iblis-iblis kelas tinggi di belakang iblis besar pimpinan mereka juga terlihat meremehkan. "Jadi jangan melawan, manusia."
Ucapan mereka lantas membuat Issei kesal. Bersalah? Dia bersalah? Mereka pikir siapa yang salah duluan? Iblis pirang itu yang menyerangnya duluan dan apa ini? Dia dikait-kaitkan dengan seenaknya untuk hal yang tidak Issei ketahui? Selain itu apa-apaan dengan senyum sombong dan merendahkan tersebut. Hal itu membuat Issei muak. Mereka berpikir hanya karena dia manusia dan mereka berada di atas mereka bisa seenaknya berbuat di kota ini?
Salah! Ini adalah kota manusia! Kota dimana Issei lahir dan tinggal jauh sebelum iblis datang kemari.
"Jangan melawan? Heeh… Kenapa juga aku harus menuruti kalian?" Issei berguman dengan menundukan kepalanya. Wajahnya tertutupi oleh rambut depannya. "Seenaknya menuduh orang, kalian pikir kalian berada dimana…
...Iblis?"
Badum!
Aura berat langsung menguar seketika dari tubuh Issei disertai dengan munculnya Boosted Gear. Wajah itu mendongak dan terlihat di mana kedua mata Issei bersinar kehijauan disana.
Dua puluh iblis kelas tinggi yang berhadapan dengan Issei wajahnya berubah dengan cepat. Keringat dingin langsung mengucur dari dahi mereka semua.
Ini buruk! Mereka tidak menyangka bahwa laporan tentang Sekiryutei yang tidak normal tersebut adalah benar. Di laporan disebutkan bahwa Sekiryutei saat ini mengacau pertemuan antara Rias Gremory dan Riser Phenex bahkan sampai melukai Riser Phenex yang dikenal sebagai salah satu iblis muda berbakat di Underworld. Hal itu tentu saja terdengar berlebihan dan para iblis ini yang melihat laporan tersebut berpikir bahwa itu mengada-ada terlebih Sekiryutei saat ini masihlah pemuda dengan aura manusia.
Manusia itu lemah dan walaupun dengan Sacred Gear, mereka bisa dikalahkan jika para iblis yang kekuatannya setara dengan pengguna Sacred Gear yang dimaksud berkelompok lalu menyerang bersamaan. Jika dari laporan yang ada, para atasan mengkategorikan Sekiryutei masihlah setara iblis kelas tinggi.
Jadi saat mereka bertemu dengan Issei, mereka berpikir langsung meremehkannya dan menganggap pemuda di hadapan mereka itu juga lemah. Mereka berpikir tugas mereka untuk membawa Sekiryutei jika bertemu dengannya di kota ini akan mudah. Apalagi mereka adalah iblis kelas tinggi yang juga merupakan prajurit terlatih.
Tapi mereka tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
Aura naga yang dikeluarkan Issei membuat mereka sangsi bahwa Issei masihlah manusia. Aura ini ganas, berputar di udara dan menyesakkan pernafasan. Seperti rasanya ditimpa oleh tekanan dari segala sisi dan meminta untuk bersujud. Ini adalah tekanan aura dari naga sekelas surga! Tekanan seorang predator kelas tinggi.
Sial! Jika dari aura tekanan saja sudah seperti ini maka Sekiryuutei ini sudah masuk kategori berbahaya! Apalagi jika dia tidak termasuk ke dalam fraksi iblis dan terlihat mempunyai pandangan buruk kepada fraksi iblis.
Dia harus dimusnahkan! Itu adalah perintah tetua para iblis yang diterima secara rahasia oleh para prajurit iblis kelas tinggi tersebut, mengabaikan perintah Maou mereka yang menginginkan jalur damai dengan jika Sekiryutei tidak mau ikut maka mereka diminta mundur dan biarkan saja.
Melihat iblis yang berdiri di depannya menyiapkan lingkaran-lingkaran sihir mereka dan mengeluarkan aura membunuh mereka, Issei tahu kini mereka sudah menjadi musuh.
Dan jika menjadi musuh maka menurut gurunya, apa yang menjadi lawan haruslah dihabisi.
Ddraig? Batin Issei mencoba berkomunikasi dengan jiwa naga Sacred Gearnya.
[Kau yakin menggunakan itu? Aura dari penggunaan itu sungguh besar. Itu akan menarik perhatian di kota ini.]
Tapi jika itu bisa digunakan untuk menyelesaikan ini dengan cepat kenapa tidak? Dengan begitu aku masih punya kesempatan untuk kabur.
[Hm… Baiklah kalau begitu]
Sinar kehijauan muncul dari permata sarung tangan Boosted Gear dengan diikuti deklarasi Ddraig menyilaukan para prajurit iblis yang mengelilingi Issei.
[Balance Breaker : Armoria Mail!]
Badum! Badum!
Tekanan jauh lebih mengerikan keluar setelah deklarasi teknik terlarang itu terdengar. Sinar hijau yang menyilaukan itu perlahan meredup disertai dengan lesatan merah mengincar salah satu iblis.
Gerakan itu sangat cepat, tahu-tahu sebuah kepala telah terlepas dari tempatnya dengan wajah menampakkan kebingungan.
Pluk!
Suara kepala yang jatuh menghantam tanah itu membuat prajurit iblis kelas tinggi yang lain langsung menoleh. Mereka melihat sebuah armor badan penuh sama seperti sisik naga namun dalam bentuk sangat ramping berdiri membelakangi mereka dengan satu tangan terangkat ke samping. Darah masih menetes dari tangan tersebut.
"Satu."
Suara yang terdengar dari balik armor itu begitu berat dan mengerikan. Membawa aura kematian. Para iblis yang merasakan itu langsung berusaha menyadarkan diri mereka. Semua langsung membuat jarak jauh dan membuat lingkaran sihir mereka masing-masing. Blok-blok energi sihir ditembakkan kepada Issei yang terbalut armor dalam kecepatan tinggi.
Sayang, dalam kedipan mata, lesatan merah kembali terlihat di mata mereka dengan diikuti hitungan angka yang terdengar mengerikan.
"Dua."
"Tiga."
"Empat."
"Lima."
Setiap hitungan itu terdengar, maka satu iblis pasti tumbang. Serangan tidak semata hanya memutus kepala namun juga melubangi dada, menusuk hati, jantung, bahkan membelah tubuh menjadi dua bagian.
Pemimpin iblis yang melihat rekannya tumbang satu persatu mulai panik. Tangan iblis besar itu mengarah ke atas dimana lingkaran sihir bermunculan berjumlah cukup banyak dan menembakkan blok-blok energi sihir ke bawah. Sayang hal tersebut sama sekali tidak mengenai Issei yang menggunakan Balance Breaker-nya yang dengan lincah menghindar.
Balance Breaker ini adalah sub species langka, mengorbankan bentuk besar armor dari Balance Breaker yang biasa digunakan para pendahulu dengan memadatkannya menjadi sangat padat untuk mendapatkan komposisi armor ramping yang melekat di badan, meningkatkan efektivitas kecepatan tanpa mengorbankan kekokohan konstruksi armor itu sendiri.
Ddraig sendiri saja tidak percaya pemuda berambut coklat yang menjadi host-nya di masa kini bisa membentuk armor menjadi seperti demikian. Bahkan warna armor ini tidaklah berwarna merah saja namun terdapat garis hijau seperti aliran nadi yang menggantikan bagian permata.
Ddraig merasa dia bisa menyombong dengan kekuatan Host-nya di masa sekarang yang dia prediksi akan menjadi Sekiryutei terkuat apalagi di bawah bimbingan dari Sensei Issei itu sendiri yang menurut Ddraig dia tidak tahu dimana batas kekuatannnya karena disetiap pertarungan latihan, Sensei Issei selalu mengeluarkan teknik asing yang menurut Ddraig membawa potensi mengerikan.
Dalam waktu yang sangat singkat, Issei sudah membunuh lebih dari tujuh belas iblis. Tinggal tiga yang berada di depan. Kedua tangan berarmor Issei yang jari-jarinya begitu tajam seperti cakar naga meneteskan darah para musuhnya.
Tiga iblis di depan terlihat takut. Apalagi pemimpin mereka yang tentu tidak menyangka sama sekali hal seperti ini bisa terjadi. Sekiryutei yang mereka temui membunuh para iblis dengan begitu efisien sekali.
Issei kembali melesat ke depan. Dia tidak berniat menyisakan satupun untuk hidup. Tiga iblis yang masih tersisa hanya bisa membuat lingkaran sihir di sana. Satu untuk perlindungan dan dua untuk menyerang yang memuntahkan blok-blok energi sihir sangat cepat sekali seperti senapan mesin.
Issei menghindari itu semua dan mengambil jarak kemudian. Dia menghirup nafas begitu dalam. Lingkaran kecil sihir naga kuno muncul di depannya terpecah menjadi tiga bagian.
Sama seperti naga yang terkenal dengan nafas mereka. Issei akan memperlihatkan nafas naga serangannya.
[Boostx10]
"Dragon Fire : Rooooaaaarrrrrr!"
Api dihembuskan Issei dari celah helm armornya, mengenai bagian pertama lingkaran sihir, kedua dan ketika mengenai bagian ketiga, yang keluar dari lingkaran sihir tersebut adalah sebuah api yang sangat besar!
Panasnya tidak terkira. Blok-blok energi sihir yang mengenai api tersebut tertelan serangan Issei dengan mudah.
Ddraig adalah naga surga yang awalnya adalah naga api. Naga api terkenal dengan apinya yang merusak hingga mampu melelehkan besi baja.
Teknik api ini diciptakan Issei untuk menyaingi teknik api gurunya yang juga begitu besar. Gurunya adalah pengguna teknik api terbaik yang pernah ada.
Api besar itu menghancurkan apapun yang menghalangi jalannya. Bahkan ketika tiga iblis yang berlindung dalam pelindung sihir mereka tidak terlewat oleh serangan api ini. Sihir mereka hancur, dan teriakan kematian mereka terdengar bersamaan dengan dentuman suara besar yang menghempaskan gelombang angin ke sekitar.
Sial! Issei kurang menahan dirinya! Dia mengutuk hal ini kemudian tapi itu masalah lain karena dia harus segera pergi dari sini.
Pembatas sihir yang melingkupi daerah ini kemudian pecah. Issei kemudian melesat dalam lesatan merah keluar dari lokasi tersebut.
Segera pergi adalah jalan terbaik untuk saat ini.
[3]
Mata milik malaikat jatuh mengikuti ke arah mana lesatan Sekiryutei dalam balutan armor barunya sebelum lesatan merah itu menghilang di bagian blok bangunan lain dengan begitu cepatnya.
Senyuman lebar tercipta di wajah malaikat jatuh itu yang telah mengamati sejak awal bagaimana Sekiryutei itu menangani masalahnya. Brutal, efisien dan tidak memakan waktu banyak. Pembatas sihir yang menghalangi tidaklah menjadi masalah bagi malaikat jatuh tersebut.
Dan aura yang keluar dari Sekiryutei tadi adalah aura naga bercampur manusia. Iblis mencurigai Sekiryutei tersebut dan mereka sudah membuat langkah yang salah kali ini. Dengan begini Sekiryutei mempunyai pandangan buruk kepada iblis dan tidak akan pernah mau bergabung bersama mereka.
Malaikat jatuh itu yakin akan hal tersebut. Oh… rencananya ternyata mempunyai efek yang baik. Mungkin sekarang Kokabiel akan menemui Sekiryutei tersebut untuk melihat bagaimana kepribadian Sekiryutei tersebut. Jika dia seperti yang diharapkan Kokabiel maka itu akan sangat menarik.
Tapi sebelum itu, Kokabiel mengibaskan tangannya. Fluktuasi sihir tercipta dan bangunan yang hancur kembali pulih bersamaan dengan hilangnya mayat para iblis yang masih ada. Dasar… Untuk para iblis agar tidak mengetahui apa yang terjadi di sini, Kokabiel sampai memasang pembatas sihir khusus yang dia ciptakan sendiri.
Sepuluh sayap hitam Kokabiel mengembang lagi. Dengan santai setelah melihat semua telah beres, Malaikat jatuh itu kemudian melesat ke atas.
Sepertinya akan ada perubahan rencana sedikit kali ini. Membawa Sekiryutei ke dalam kancah papan permainan ini tentu akan menguntungkan.
[...Semua telah dimulai selesai…]
A/N : Armoria Armor milik Issei mengacu pada armor Purge setelah Issei mendapatkan mode Triana dalam Canon. Namun jika Armor Purge mengorbankan kekuatan untuk memperoleh kecepatan, Armoria armor milik Issei tidak menghilangkan hal kekuatan tersebut. Armor ini mendapatkan kekutan dan kecepatannya. Anggap saja model Triana yang sempurna. Untuk Juggernaut Drive akan dibuat sebaik mungkin bagi pemuda berambut coklat mesum tersebut agar tampil Badass mewakili Naruto di Arc Chaos nantinya.
Aku ingin mengenalkan Kokabiel di chapter ini dengan pemikiran cemerlangnya. Dia adalah salah satu pemimpin yang telah bertarung di kancah perang Great War. Melihatnya lemah sekali daripada Hakuryukou sedikit membuatku geregetan.
Dan ya, aku mengkonfirmasi adanya Fem. Vali untuk para pembaca.
Terima kasih dukungan para senpai yang telah berbaik hati membaca cerita biasa ini. Berikan komentar dalam bahasa baik agar semua bisa senang dan author menjadi semangat dalam menulis maupun meng-update cerita. Arigatou.
RiesA Afiela out~.
