"Sekiryuutei."
Panggilan nama untuk para pemegang Boosted Gear itu terdengar dari belakang ketika Issei berjalan membawa sebuah ransel di punggungnya. Langkah kaki pemuda berambut coklat itu terhenti di sana dan berbalik.
Seseorang berdiri di sana, membuat nafas Issei tertahan.
Berpakaian kemeja putih simpel dengan satu kancing atas yang tidak di pasang. Sebuah kalung dengan salib yang terbuat dari material mahal terpasang di leher dan wajah orang tersebut...
Tuhan… orang yang memanggilnya dengan panggilan Sekiryutei memiliki wajah yang indah. Wajah tersebut bisa membuat orang lain mengira bahwa dia adalah seorang perempuan. Apalagi dengan rambut hitam sebahu yang dikuncir pendek di belakang leher, orang bisa saja mudah tertipu dengan gender orang ini yang ternyata adalah seorang pria.
Namun kesampingkan hal tersebut, sekarang bukan saatnya untuk kagum dengan wajah tersebut. Dengan gelengan kepala, Issei menjernihkan kembali pikirannya dan menatap pria yang lebih tinggi darinya tersebut.
Walau pria didepannya memiliki tubuh langsing, Issei bisa merasakan bahwa pria yang ada di depannya ini bukanlah manusia. Tidak! Aura yang terpancar dari pria itu adalah aura Malaikat jatuh— Da-Tenshin, malaikat yang telah jatuh dari keberadaan penciptaannya di surga dengan aura cahaya yang berselimut kegelapan dosa.
Bahkan sepertinya bukan Malaikat jatuh biasa dengan kuatnya aura miliknya. Setidaknya Issei tahu dan mengerti bahwa yang dihadapannya itu adalah pria yang berbahaya karena pria tersebut bisa lolos dari indranya yang terasah untuk mendeteksi makhluk supernatural. Untuk bisa tiba-tiba ada dibelakangnya dan memanggilnya tanpa Issei rasakan keberadaannya, Malaikat jatuh ini patut diwaspadai sekali.
Tubuh Issei bahkan sampai tegang sekarang. Meski matanya terfokus ke depan, sesekali dia juga melihat sekeliling, memastikan bahwa jika seandainya ada konfrontasi atau percikan yang mengarah pada pertarungan yang Issei sendiri tidak yakin dia bisa menangkan, dia bisa kabur.
Tapi sayangnya keadaan sekitar sepertinya tidak mendukung. Berada di sebuah gang sepi yang cukup gelap karena jarang dilalui orang terlebih ini adalah gang rahasia di kota ini yang tidak diketahui para Iblis, Issei rasanya ingin menangis sekarang.
Tidak cukupkah dia dikejar-kejar iblis di kota kelahiran dan tempat tinggalnya karena hal yang dia tidak ketahui soal hilangnya Rias Gremory dan sekarang bertemu dengan Malaikat jatuh yang masih tidak diketahui apa maksudnya untuk datang pada Issei saat ini.
Membunuh Issei? Itu mungkin saja mengingat Issei pernah hampir dibunuh oleh Malaikat jatuh yang menyamar untuk menjadi pacarnya.
Kenapa situasinya menjadi sangat rumit seperti ini?!
"Siapa?" Issei bertanya dalam keadaan yang berusaha tenang namun tubuhnya berada dalam kewaspadaan penuh. Sinar hijau terpancar pada salah satu tangan Issei dan Boosted Gear muncul di sana.
Malaikat jatuh yang berada di depannya seperti mengerti keadaan Issei. Tawa merdu dan renyah keluar dari mulut pria tersebut. Sebuah suara yang Issei rasa tidak bisa dihasilkan oleh seorang manusia. "Tenang anak muda, aku datang untuk menemuimu bukan untuk membuat permusuhan. Aku hanya ingin bicara?"
"Hanya bicara?" Alis Issei terangkat satu ke atas. "Maaf, tapi aku sedikit kurang yakin akan hal itu. Apa yang ingin dibicarakan oleh seorang Malaikat jatuh sekaliber anda? Anda bukan Malaikat jatuh biasa kan?" Tanya Issei dengan pandangan curiga.
Tidak mungkin hanya untuk sekadar bicara. Tidak mungkin! Pasti ada maksud tersembunyi yang tersimpan.
Pria yang ada dihadapannya justru tersenyum tipis sekali disana. "Bahkan sampai bisa mengetahui bahwa aku bukan Malaikat jatuh biasa. Sungguh hebat sekali anak muda." Puji pria tersebut. "Namaku Kokabiel, salah satu pemegang gelar Lord Cadre dari Grigori."
"...!"
Bukan nama yang membuat Issei langsung membeku dalam sekejap namun gelar yang ikut di dalamnya itulah yang membuat Issei tersentak.
Gelar Lord Cadre dalam Grigori bisa disamakan dengan gelar Maou dari fraksi iblis.
Dan untuk mengetahui bahwa salah satunya datang menemuinya, Issei bisa memilih satu kata yang tepat untuk diteriakkan di dalam dirinya sendiri saat ini.
'Fucking shit!!!!' Issei mengutuk keras di dalam pikirannya.
[Benar-benar kau punya peruntungan buruk Issei] Ddraig ikut bicara dengan nada terdengar prihatin lewat telepati.
'Itu tidak membantu apapun dengan pernyataanmu soal kesialanku Ddraig!'
[Memang benar, tapi setidaknya aku mencoba membuatmu kembali fokus] Issei kemudian bisa menangkap maksud dari balik perkataan Ddraig barusan. [Kokabiel… Malaikat yang mengajarkan Astronomi dan merupakan salah satu ahli Strategi peperangan milik Grigori. Sampai berada di kota ini. Kau harus kabur segera dari sini Issei! Gunakan segala cara!]
'Aku tahu! Tapi keadaan sekitar…'
"Jika kau sudah selesai bicara dengan Ddraig, maka ketahuilah bahwa aku akan mencegahmu untuk kabur, Sekiryuutei." Ucapan Kokabiel itu malah membuat Issei semakin mengutuk keadaannya. "Tidak ketika aku belum selesai menyampaikan maksudku."
"Sial!"
"Hmm… pujian yang cukup ringan untuk situasimu sekarang tapi kesampingkan hal tersebut sekarang." Tangan langsing milik Kokabiel itu berkibas di depan beberapa kali. "Jika aku bilang aku ingin bicara maka aku hanya akan bicara Sekiryuutei."
Terdiam sejenak Issei mengamati Kokabiel. Mencari gerakan tubuh jika seandainya Da-Tenshin tersebut berbohong. Setelah yakin bahwa Da-Tenshin di depannya bisa untuk dipercayai sedikit lebih baik daripada iblis, Issei menjawab, "Baik, katakan apa maumu tuan?"
Dengan seringai kecil jemari Kokabiel berjentik. Di atas Kokabiel sebuah hologram muncul memperlihatkan seseorang yang Issei kenal dalam keadaan tubuh terantai dengan wajah yang memar.
"Irina!" Seru Issei ketika dia melihat bagaimana keadaan teman kecilnya yang katanya dalam misi untuk mencari sesuatu yang hilang saat mereka bertukar pesan. Mata Irina terpejam tapi dari wajahnya yang terlihat di hologram di atas Kokabiel, dia bisa yakin bahwa Irina tengah menderita rasa sakit. "Kau! Apa yang terjadi dengan Irina dan dimana dia sekarang?!" Issei berseru keras. Wajah miliknya mengeras ketika melihat bagaimana keadaan teman kecilnya itu.
Apa yang sebenarnya terjadi ketika Issei berlatih selama ini dan jauh dari kota Kuoh?! Tangan Issei mengepal dengan erat. Apakah ini adalah ulah dari para iblis?! Tanpa sadar aura Ddraig yang tersimpan dalam tubuh Issei meledak dengan begitu tiba-tiba. Tekanan berat langsung menghantam udara sekitar.
"Ckckckck… jangan terburu-buru, Sekiryutei. Coba tenanglah sedikit, kau tidak mau kan seluruh iblis di kota ini datang kemari ketika merasakan auramu ini." Kata Kokabiel sambil mengeluarkan tekanan kekuatannya untuk menetralisir aura milik Issei meskipun terlihat di dahi Kokabiel sedikit peluh mulai keluar.
Hooo… Memang Sekiryutei yang berbeda. Setidaknya itulah yang terpikir oleh Kokabiel.
Sementara Issei sendiri seperti mengabaikan ucapan Kokabiel. "Katakan! Apa kau yang melakukan itu pada Irina?! Atau justru para iblis?!" Suara Issei menekan seolah meminta jawaban yang mana dia meminta jawaban yang asli.
Dalam hati sendiri Kokabiel hanya tertawa licik. Memang benar menggunakan teman kecilnya yang menjadi Exorcist sudah lebih dari cukup untuk memancing emosi milik Sekiryutei dan dengan begini akan lebih mudah mempermainkannya. Sungguh dia beruntung bisa menggali informasi tentang Sekiryutei hingga ke akar-akarnya.
"Dia berada di tempat lain Sekiryutei, tempat dimana aku akan memberitahumu. Datanglah ke tempat ini jika kau ingin bergabung dalam sebuah pesta besar!"
"Pesta? Jangan bercanda, apa maksud dari ucapanmu!"
"Ah, tidak sabaran sama sekali. Namun hal itu bisa diubah nanti." Kokabiel malah berbicara hal lain yang menyimpang dari pertanyaan yang diajukan Issei, hal tersebut membuat rasa marah mencuat dari dalam diri Issei. Dengan gerakan cepat, Issei mendorong tubuh Kokabiel menabrak tembok dengan tumpuan lengannya. Retakan besar langsung terlihat ketika tubuh bagian belakang Kokabiel menyentuh tembok.
Mata Issei bersinar, dengan pandangan keras, Issei menekan lengannya ke tubuh langsing itu. "Ka takan, di mana Irina!"
Suara berat keluar dari mulut Issei. Bagi Issei, Irina saat ini adalah teman yang bisa dia dapatkan, dia adalah teman masa kecil Issei yang dahulu sangat dekat dengan Issei itu sendiri. Meskipun mereka terpisah dan bahkan Irina mengingkari janjinya mengirim surat kepadanya, hubungan mereka masihlah ada. Apalagi dengan beberapa kali dia berbalas pesan dengan Irina, Hubungan yang mulai memudar itu kini mulai menjadi bertambah lagi.
Sayang, mendengar suara Issei yang demikian tidaklah membuat nyali Kokabiel ciut. Mata Kokabiel sendiri bersinar dan pandangan dingin khas seorang veteran perang yang melihat musuhnya muncul di sana. "Singkirkan tanganmu dari tubuhku…
Krak...
...Bocah."
Badum!
Tekanan kekuatan yang jauh lebih berat dari tekanan milik Issei keluar dari tubuh Kokabiel, kali ini Kokabiel mengeluarkan penuh tekanan kekuatannya dan itu langsung merubah keadaan dan membuat kaki Issei gemetar lalu jatuh berlutut disana. Issei merasakan seluruh tubuhnya gemetar bahkan ketika dia mendongak ke atas, sebuah sensasi yang hampir terasa sama seperti tekanan kekuatan yang dikeluarkan oleh Sensei-nya mulai menggeliat masuk ke dalam dirinya.
Ketakutan juga mulai merayap dalam diri Issei.
"Terkadang inilah hal yang paling aku tidak sukai dari pemegang Sacred Gear dengan jiwa naga. Mudah emosi tanpa mau mendengar secara penuh." Kokabiel memandang ke bawah dengan tatapan mata bersinar. "Temanmu itu aku sandera. Datanglah ke alamat yang tertera di sini." Kokabiel mengambil sepucuk kertas kecil yang terlipat dan menjatuhkannya ke bawah hingga kertas itu jatuh tepat di hadapan Issei. "Aku ingin melihat apakah kau akan datang atau tidak untuk menyelamatkan teman masa kecilmu itu meski nantinya kau tahu aku akan menyiapkan kejutan yang bisa saja membunuhmu. Aku juga ingin mendengar nantinya dimanakah keberpihakanmu itu Sekiryutei."
Brattttsssss!
Sepuluh sayap hitam pekat keluar dari punggung Kokabiel. Bulu-bulu hitam berjatuhan ketika sayap tersebut keluar.
Ada satu kata yang yang membuat rasa gemetar di diri Issei menguat. Kalimat yang menuntut di sisi manakah yang akan dia pilih.
"...Karena jika pilihanmu tidak sesuai dengan yang kuharapkan, aku akan membunuhmu."
Kata-kata itu terucap dengan lancar disertai dengan Kokabiel secara tiba-tiba menghilang dari sana. Entah itu karena kecepatannya atau apapun, Issei hanya melihat sosok itu lenyap dengan hanya meninggalkan jejak bulu-bulu hitamnya.
[A Love for the Queen]
Apakah ini keberanian? Atau hanya sebuah bentuk perasaan yang didorong rasa ingin menyelamatkan?
Issei tidak mengerti akan hal itu tapi dia memantapkan lagi tekadnya.
Pertemuannya dengan satu pemegang gelar Lord Cadre dari Grigori sempat membuat nyalinya ciut. Issei masih mengingat dengan jelas bagaimana tekanan kekuatan itu menimpa tubuhnya, membuatnya merasa seperti sesak nafas. Hal tersebut bahkan melampaui aura Ddraig yang biasa dia gunakan. Harusnya Issei mengerti kenapa aura Ddraig bisa terlampaui. Aura kekuatan Ddraig sendiri masihlah belum penuh. Itu wajar saja mengingat tubuh Issei sendiri masih belum cukup kuat untuk menampung segala kekuatan Ddraig. Kekuatan dari naga sekelas naga surgawi yang bisa bertarung imbang melawan para dewa kuat lainnya bukanlah sesuatu yang bisa ditampung begitu saja oleh sebuah tubuh rapuh seperti tubuh Issei meski dia sudah menjadi separuh naga.
Tapi persetan dengan itu semua! Lupakan semua rasa takut! Lampaui rasa takut itu dengan perasaan ingin menyelamatkan Irina, teman masa kecilnya.
Dengan berbekal hal itu, Issei dengan mantap melangkah maju menuju ke tempat yang tertulis di secarik kertas kecil yang dia pegang.
Tempat itu berada di sebuah bangunan tua. Ada selubung setengah kubah yang menyelimuti bangunan tua itu dan sebuah bagian yang terbuka sebesar pintu masuk terlihat di sana.
Sebenarnya Issei sudah mencoba berulang kali menelepon Sensei-nya untuk meminta bantuan. Jika ada Sensei-nya, setidaknya dengan kekuatan sang Sensei yaitu telepotasi cepat, Issei yakin dia bisa menyelamatkan Irina. Sayang panggilan telepon miliknya sama sekali tidak diangkat dan ketika dia ingin pergi ke tempat sang Sensei, patroli iblis kelas tinggi sedang terlihat banyak di sekitar jalanan kota Kuoh.
Sedangkan waktu yang ada semakin terbatas. Kokabiel hanya memberikan kertas dan waktu dimana dia harus datang. Saat senja dimana waktu yang ada sudah tidak memungkinkan lagi untuknya meminta bantuan dari Sensei-nya dimana dia bertemu dengan Kokabiel di saat sore hari.
Hanya satu harapan kecil yang dia pegang. Semoga Sensei-nya melihat isi pesan yang dia kirimkan.
Ketika dia memasuki lubang kubah selubung tersebut, mata milik Issei harus mengerjap beberapa kali ketika cahaya kuat tiba-tiba menerpa matanya. Dengan menggosok matanya lagi, dia kemudian melihat seseorang yang dia kenali terantai di sebuah salib besar dengan seseorang iblis yang sedang dicari-cari.
Shidou Irina dan Rias Gremory dalam keadaan pingsan dengan sekujur tubuh penuh luka memar. Untuk Rias Gremory sendiri ada beberapa luka bakar di bagian kulitnya.
Kokabiel juga berada di sana, duduk di sebuah tempat yang bisa Issei katakan adalah sebuah tahta berkilauan. Mungkin terbuat dari emas namun yang paling menyita perhatian Issei adalah seorang gadis yang membawa dua pedang di sana.
Xenovia Quarta. Itu adalah gadis yang berdiri di depan teman masa kecilnya menghadap ke arah Issei sambil membawa dua pedang yang semuanya memancarkan aura suci begitu besar. Mata milik Xenovia sendiri Issei lihat tampak begitu kosong seolah tanpa jiwa mendiami tubuh.
Sialan! Apa yang sebenarnya sedang terjadi!
"Kau datang Sekiryutei?" Kokabiel menyapa duluan disana.
"Aku harus datang untuk menyelamatkan Irina." Issei menjawab dengan mantap disana. Mata miliknya tidak lepas dari melihat Irina yang terpasung di salib besar yang merantai tubuhnya.
"Kenapa? Dia adalah pihak Gereja. Kenapa datang untuk menyelamatkan Exorcist dimana kau tidak bergabung dengan mereka?" Tanya Kokabiel kemudian. "Apa dengan menyelamatkan Irina akhirnya kau berkata bahwa kau memihak Gere-"
"Aku menyelamatkan seorang teman." Issei menyela ucapan Kokabiel. "Persetan dengan gereja atau segala hal tentang itu. Aku menyelamatkan Irina karena aku ingin menyelamatkan temanku. Teman masa kecilku. Aku tidak tahu kenapa kau juga menculik Rias Gremory dan aku tidak tahu apa yang terjadi di kota dengan banyak iblis sekarang atau bahkan dengan mereka memburuku. Tapi aku datang untuk menyelamatkan temanku dan hanya itu!" Issei berkata dengan keyakinan di dalamnya. Membuat Kokabiel melihat dengan pandangan berbeda.
"Sangat berani sekali. Bahkan jika itu sampai melawanku untuk menyelamatkan Irina ini? Kau tidak takut?" Kokabiel berkata demikian dan Issei meneguk ludah setelahnya.
Dia mengakui sebenarnya dia takut tapi harusnya dia menyerah pada ketakutan? Segala hal setidaknya harus dia coba dahulu meski sekalipun resikonya besar.
"Tidak." Issei menjawab mantap.
"Ah… jawaban yang bagus sekali Sekiryutei" Kata Kokabiel dengan berdiri dari duduknya. "Hmmm… melihat kau seperti ini aku punya tawaran yang menarik. Bagaimana jika kau bergabung denganku dan Exorcist ini akan kulepaskan."
"Huh? Bergabung denganmu? Maksudmu Grigori?"
"Bukan. Tapi bergabung denganku. Aku punya sebuah rencana besar dan jika kau mau bergabung maka aku punya tugas untukmu. Tugas dimana kau sangat diperlukan di dalamnya." Kata Kokabiel disana.
Namun Issei yang mendengar hal tersebut justru menanggapinya dengan sesuatu yang lain.
"Kau menggunakan Irina untuk mengancamku bergabung denganmu?" Kata Issei disana menahan marah. "Kau tidak ada bedanya dengan iblis yang menggunakan cara liciknya untuk merekrutku! Kalian semua hanya memanfaatkan manusia yang punya kekuatan!"
"Oh benarkah?" Kokabiel mendengus. "Jangan samakan aku dengan iblis bocah, aku merekrutmu sebenarnya untuk memberimu tugas agar menjaga manusia-manusia yang ada."
"Apa maksudmu dengan menjaga manusia-manusia yang ada hah?!"
"Kuberitahu satu hal, aku akan membuat perang antara tiga fraksi terjadi sekali lagi."
…!
Wajah Issei langsung terkejut mendengar hal tersebut. Perang antar tiga fraksi? Ddraig pernah menceritakan akan perang itu. Perang yang merajalela dan membuat dunia bergetar hingga sampai membunuh separuh manusia di bumi.
"Untuk tujuan apa hal tersebut, aku tidak akan memberitahu sekarang. Yang jelas itu untuk kebaikan manusia. Nah bagaimana?" Tanya Kokabiel lagi. "Jika kau mau bergabung maka Exorcist ini akan selamat. Jika tidak… Maaf saja, aku akan membunuhmu dan mengestrak Sacred Gearmu untuk kuberikan pada manusia lain."
"Kau gila… kau bahkan sampai melibatkan Irina…"
"Eh… aku tidak gila. Aku hanya memanfaatkan keadaan. Ketika aku tahu bahwa Exorcist ini ada gunanya aku memakainya. Lagipula jika Exorcist ini tidak mempunyai hubungan denganmu maka aku sudah membunuhnya." Kata Kokabiel lagi. "Nah… bagaimana?"
Issei terdiam… dia berpikir dengan apa yang Kokabiel tawarkan— tidak! Lebih kepada apa yang Kokabiel ancamkan padanya.
Jika dia bergabung maka Irina akan selamat. Namun jika Irina selamat maka itu masih belum kemungkinan pasti karena Issei sekarang tidak bisa mempercayai ucapan makhluk supernatural. Lagipula harga dirinya yang tercampur dengan harga diri milik jiwa Ddraig menolak keras untuk bergabung.
Tidak! Dia harus mencari jalan tengah untuk saat ini. Tapi sayang segalanya berakhir dengan buntu! Sial! Bagaimana ini?!
Setelah menimang baik-baik, Issei akhirnya memutuskan.
"Tidak. Aku tidak akan bergabung denganmu dan aku akan mencoba menyelamatkan Irina." Kuda-kuda bertarung dipasang Issei disana. "Maaf, tapi jiwa Ddraig di dalam Sacred Gearku menolak bekerja untukmu."
"Hmmm.. Sayang sekali." Kokabiel terlihat kecewa disana. Dengan perlahan dia duduk kembali di tahtanya dan tahta tersebut melayang ke atas. Jari Kokabiel terjentik kemudian, memberi perintah pada Exorcist anak angkat dari Griselda Quarta yang telah dicuci otaknya untuk mengurus Sekiryutei sekalian melihat bagaimana Exorcist yang dibekali pedang Durandal dan pedang penyatuan enam Excalibur ditambah obat dopping penguat manusia yang Kokabiel dikembangkan bisa membunuh Sekiryutei yan menolak bekerja sama tersebut sembari dia melihat dari atas.
Jika Exorcist itu gagal maka mau tidak mau Kokabiel sendiri yang harus turun tangan.
[2]
Slasssh! Slasssh! Slashhh!
Tebasan demi tebasan dihindari oleh Issei saat Exorcist yang merupakan teman Irina itu menyerang menggunakan dua pedang yang beraura suci sangat besar.
Dia menghindar dengan lincah tapi Xenovia, teman Irina itu sangat lincah juga. Bahkan dengan Issei yang sudah menggunakan Balance Breaker-pun Exorcist itu masih bisa bertarung melawannya tanpa luka yang berarti.
"Dragon Fire: Roooaaaaar!"
Api naga yang dihembuskan Issei untuk Xenovia dipotong dengan serangan dari pedang suci yang ditebaskan ke depan. Aura tebasan dari pedang Durandal bahkan tidak memudar setelah membelah api naga milik Issei dimana aura suci itu terus melaju ke arah Issei tanpa ada penghalang apapun.
Issei yang melihat itu menghindar dengan berguling ke samping. Dua bola energi Dragon Shot dilepaskan Issei untuk Xenovia.
Tapi tetap saja hal itu masih belum cukup untuk membuat Xenovia terluka. Dua Dragon Shot milik Issei bahkan di belah lagi dengan mudah.
Ini jadi pertarungan sulit bagi Issei. Harusnya dengan Balance Breaker miliknya, Issei bisa dengan mudah mengalahkan Xenovia apalagi Xenovia hanyalah Exorcist kelas menengah di jajarannya. Tapi setelah Xenovia mendapatkan dopping dari Kokabiel, kekuatan Xenovia meningkat dengan drastis hingga Exorcist itu bisa bertarung satu lawan satu melawan iblis berperingkat atas. Belum lagi dengan tambahan Durandal dan pedang Excalibur yang telah disatukan.
Issei benar-benar kewalahan.
Mengalahkan dengan modal kecepatan? Kecepatan Xenovia yang ditambah kemampuan dari pecahan Excalibur Rapidly mampu mengimbangi Issei, dengan kekuatan? Pecahan Excalibur Destruction bisa menangani itu.
Xenovia hanya memandang kosong di depan. Dia sudah layaknya seperti robot yang jika diberikan perintah harus dilakukan sesuai apa yang diperintahkan. Dengan mengibaskan pedang Excalibur yang berada di tangan kirinya, kabut hitam keluar dan memenuhi tempat dirinya dan Sekiryutei bertarung.
Ini adalah kemampuan pecahan Excalibur Nightmare, dengan kemampuan ini Xenovia berniat menghilang di dalam kabut hitam ini dan menyerang Sekiryutei dalam kabut ini yang nantinya akan kebingungan menemukannya.
Tapi Issei tidak membiarkan hal tersebut, dia tidak membiarkan kabut hitam itu nantinya menguar di medan pertarungan. Dengan menarik nafasnya lagi semburan api naga dalam raungan kembali dimuntahkan.
Kabut hitam itu langsung lenyap ketika api naga Issei mengenainya. Xenovia menghindar dengan menggunakan kecepatanya yamg ditambah dengan kecepatan dari pecahan Excalibur Rapidly untuk tiba-tiba berada di belakang Issei dan menebaskan Durandal miliknya secara horizontal.
Pedang Durandal adalah pedang suci milik Saint Roland. Itu dikatakan memiliki ketajaman yang tidak pernah akan tumpul dan mampu memotong material ataupun sihir apapun di dunia ini. Perkara armor Sekiryutei? Itu tidak lepas dari apa yang bisa dipotong oleh Durandal.
Issei memutar tubuhnya dengan cepat, dia menghindar dengan menekuk tubuhnya ke belakang sedangkan satu kakinya mencoba menendang Durandal dari tangan Xenovia.
Tapi hal itu tidak bisa dilakukan ketika tebasan lain dari pedang Excalibur datang dari arah atas. Issei yang mengutuk hal demikian dengan tumpuan kedua tangannya memaksa tubuhnya untuk berputar menghindar dan kemudian melakukan gerakan salto ke belakang untuk memberikan jarak.
Dengan dua kombinasi pedang itu, Issei harus memikirkan serangan lain. Awalnya dia tidak ingin membunuh Xenovia tapi keadaan memaksa lain.
'Maaf Xenovia...'
Issei kemudian melesat lagi ke depan. Lesatannya meninggalkan retakan di lantai bangunan replika tempat dimana Issei berada. Dimensi ini adalah replika kota Kuoh dan Issei serta Xenovia bertarung di atas lantai sebuah bangunan tinggi.
Cakar tajam di kedua tangan Issei yang berasal dari armor memanjang. Jika Xenovia memiliki pedang, maka inilah yang dimiliki Issei. Percikan bunga api timbul ketika pedang dan cakar armor Issei bergesekan. Dengan menyarangkan sebuah tendangan ke samping, Issei merasakan tendangannya mengenai rusuk Xenovia. Bunyi suara retak terdengar disana dan Xenovia terpental sebelum berguling kemudian hingga menabrak pembatas lantai atas bangunan berupa pagar berkawat.
Tapi sepertinya tendangan Issei lebih kuat lagi karena pagar berkawat itu justru tidak mampu menahan Xenovia dan Exorcist yang dicuci otaknya tersebut meluncur menabrak sisi dinding bangunan lain.
Blar!
Dentuman itu terdengar keras ketika Xenovia bertabrakan. Asap debu terlihat membumbung. Issei yang melihat hasil tendangannya tidak berhenti begitu saja. Dua Dragon Shoot ditembakkan lagi ke arah bangunan dimana Xenovia menabrak. Ledakan besar terlihat.
Tapi itu masih belum cukup sepertinya untuk menghentikan Xenovia, lesatan tebasan pedang datang dari arah belakang Issei dan Issei harus menundukkan tubuhnya dan memberikan pukulan lagi ke belakang yang ditahan dengan pedang oleh Xenovia.
Hal ini semakin menjadi serasa lama dan jika seperti ini terus maka stamina dan energi Issei akan habis. Belum lagi dengan melawan Kokabiel nantinya.
Issei mengeratkan giginya dari balik helm armornya.
Tidak. Ini harus diselesaikan dengan cepat.
[Boost x10]
Menambah kekuatan sebanyak sepuluh kali yang Issei fokuskan di kecepatan. Issei melesat maju ke depan.
Dan Xenovia yang melihat itu tanpa bicara apapun melakukan gerakan tebasan silang, menghasilkan energi suci kuat dalam bentuk silang besar yang mengarah kepada Issei.
Issei yang melihat serangan datang itu tidaklah berhenti. Dalam lesatan berwarna merah, Issei menembus bentuk energi serangan Xenovia. Xenovia menebaskan Durandalnya dari atas namun dengan cepat Issei menahannya tepat di pergelangan dan cakar armor tajam milik Issei langsung mengarah ke jantung Xenovia, menusuk bagian tersebut hingga tembus ke belakang.
Ada jeda waktu beberapa saat sebelum Issei menarik tangannya dari tubuh Xenovia dan Exorcist yang telah dijadikan boneka oleh Kokabiel itu ambruk.
Mati...
Darah masih membasahi bagian armor tangan Issei. Tetesan darah turun dengan pelan kebawah.
Issei berbalik dan melihat ke atas. Pandangan mata kecewa akan kekalahan boneka miliknya diperlihatkan oleh Kokabiel.
"Sayang dia mati dengan cepat." Kokabiel berkata demikian dengan mengibaskan tangannya ke samping. Pedang Excalibur yang masih ada di genggaman Xenovia yang telah menjadi mayat terbang dengan cepat ke tangan Kokabiel.
Mereka berpandangan sejenak beberapa detik. Saling berkedip satu sama lain. Bagi Kokabiel, Sekiryutei ini yang menolak tawarannya harus dibunuh dan Sacred Gearnya harus diambil untuk diberikan pada manusia yang bisa menerima perintah Kokabiel. Dengan tidak adanya dukungan dari pihak manapun, Kokabiel yang mengambil Boosted Gear dari tangan bocah ini tidak akan takut dengan adanya serangan di belakang ketika perang nanti pecah.
Dalam kedipan mata berikutnya mereka masih saling memandang.
Kokabiel mengeluarkan dengusan kecil disana.
Dan kemudian menyerang.
Issei yang melihat serangan pedang dari atas hanya bisa memblok dengan menyilangkan kedua tangannya. Disaat satu moment yang lalu dengusan itu keluar dari mulut Kokabiel, di detik berikutnya dia sudah berada di depan Issei.
Ketika pedang Excalibur itu bertemu kedua tangan berarmor Issei, itu berhasil ditahan sedikit namun bukan berarti tanpa luka. Bagian tajam pedang itu sampai di kulit terluar Issei yang terbungkus armor.
Satu kaki Kokabiel terangkat, kekuatan diberikan disana dan diarahkan mengincar bagian perut Issei.
Besarnya kekuatan itu sampai membuat Issei terpental dan menabrak bangunan-bangunan yang ada dan masih melayang menuju ke tanah lapang. Dengan memutar tubuhnya, Issei berusaha mendapatkan keseimbangan dan mendarat disana meski masih harus terdorong beberapa meter.
Perbedaan kekuatan yang sangat jauh sekali. Bahkan dengan satu tendangan saja bisa mengirim Issei sampai sejauh ini.
Namun serangan Kokabiel belumlah berhenti. Issei melihat dari jauh jemari telunjuk Kokabiel mengarah padanya. Hal yang membuat insting Issei berteriak bahaya kemudan datang dari atas dan Issei membulatkan matanya ketika melihat serangan macam apa yang disiapkan oleh Kokabiel ketika dia mendongak.
Puluh–, Tidak! Ratusan lingkaran sihir berwarna putih dengan bentuk kecil berputar di atasnya. Putaran pelan itu kemudian berputar cepat dan Issei tahu serangan ini adalah serangan yang berbahaya ketika dia melihat ratusan tombak-tombak cahaya dengan energi cahaya besar yang sanggup digunakan untuk membunuh iblis kelas atas dengan mudah di setiap tombaknya turun ke bawah dalam kecepatan sangat tinggi.
Rasanya seperti diserang oleh hujan tapi kali ini hujan tombak cahaya. Issei memusatkan kekuatannya pada kaki untuk memperoleh kecepatan yang digunakan untuk menghindari serangan ini.
Cakupan serangan ini cukup luas. Issei sendiri harus meliuk sampai cukup sulit dihitung untuk menghindari setiap tombak cahaya yang ingin menusuk tubuhnya. Beberapa mengenai bagian sedikit armornya dan armornya sedikit retak disana.
Saat dia sudah keluar dari zona serangan hujan tombak tersebut, Issei terengah-engah disana. Hal tersebut membuat pertahanan Issei sedikit terbuka.
Dan keterbukaan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Kokabiel.
Jleb!
Guakh!
Pedang Excalibur menusuk Issei tepat di atas titik vital hingga tembus. Kokabiel berada di belakang Issei dengan pandangan remeh dan menendang bagian punggung Sekiryutei masa kini tersebut.
Tendangan tersebut tidak kuat seperti yang tadi membuatnya terlempar jauh namun hal tersebut tetap saja membuatnya berguling dan menabrak dinding bangunan lain hingga sebuah retakan langsung tercipta begitu bagian punggung menabrak dinding tersebut. Armor Issei langsung pecah dan Issei langsung jatuh bersandar pada bagian dinding.
Darah keluar dengan cukup deras dari bagian yang tertusuk. Darah juga keluar dari sisi mulut Issei.
Issei bisa melihat Kokabiel mendekati dirinya.
Nyatanya bahwa Kokabiel menggunakan serangan hujan tombak tadi hanya sebagai pengalihan. Ketika Sekiryutei sudah kelelahan, dengan kecepatan miliknya yang ditambah kecepatan dari pecahan Excalibur Rapidly, hal seperti tiba-tiba menyarangkan kejutan di belakang Sekiryutei adala perkara mudah.
Sekarang… hal yang Kokabiel lakukan hanya tinggal mengambil Sacred Gear milik Issei. Dengan pedang yang masih meneteskan darah milik Issei, Kokabiel berjalan mendekat.
Sedangkan Issei yang melihat Kokabiel mendekat hanya merasa putus asa.
'Maaf Irina… aku tidak bisa menyelamatkanmu.'
Hal tersebut adalah apa yang dipikirkan oleh Issei. Pemuda berambut coklat itu bahkan sudah menutup matanya perlahan ketika melihat tangan Kokabiel hendak menyentuhnya.
Disaat Issei berpikir ini adalah akhirnya, pemuda berambut coklat itu mendengar suara benturan keras. Dia langsung membuka matanya.
Kokabiel sudah berada jauh darinya dan di depan pandangan Issei sekarang, Issei bisa melihat…
Rambut pirang itu… bahkan ketika hanya melihat punggungnya saja, Issei bisa tetap mengenali siapa yang berdiri di depannya dari suara dan rambut pirang itu.
"Saat aku membuka pesan yang berisi permintaan tolongmu yang darurat, aku tidak menyangka kau akan berada di dalam keadaan seperti ini Issei. Maaf tadi baterai ponselku habis."
Suara itu terdengar hangat dan berkeluarga. Ada rasa khawatir yang tersirat dari sana.
'Haha… kau lambat Sensei'
Issei berniat berkata demikian namun mulutnya tidak mampu bicara. Walau demikian dia memaksakan senyum kecil disana.
Harapan kecilnya terkabul disaat keputusasaan dan kepasrahan akan menerima kematian telah Issei akan terima.
Bantuan…
...telah datang.
[...Antara Sekiryutei dan Kokabiel selesai…]
A/N : Ahahaha setelah berusaha memikirkan bagian terbaik dari beberapa hari ini bahkan disaat sakit, inilah hal yang telah tertuang di chapter sekarang. Kokabiel yang mengancam Issei bergabung dengan taruhan Irina ditolak dan berakibat pada pertarungan Issei dengan Xenovia hingga akhirnya Xenovia Quarta yang dicuci otaknya untuk menjadi boneka Kokabiel dibunuh oleh Issei.
Dan sang pahlawan selalu datang belakangan. Pffft! Sesuatu sekali.
Setidaknya dengan ini chapter depan bisa ditulis dengan baik dan setelah itu masalah Naruto dengan Hera akan masuk ranah baru. Dan juga Juggernaut Issei belumlah tampil. Dia masih cepat untuk itu. Dan untuk yang mengira dia dengan mudah dikalahkan Kokabiel. Well Kokabiel ada tambahan kekuatan dari Excalibur disana.
Astaga ini menyenangkan.
Untuk para pembaca yang senantiasa menantikan fanfiksi update aku ucapkan terimakasih banyak. Juga dukungan untuk kalian semua.
Untuk para flamer sekali lagi ayolah… daripada menghujat dengan kata-kata kasar lebih baik buat saran agar cerita menjadi baik. Anda manusia kan? Bertingkah lakulah seperti manusia beradab, bukan seperti manusia barbar tidak tahu aturan.
Berikan review yang baik untuk chapter ini karena review yang baik menjadi penyemangat untuk penulis semakin memberikan yang terbaik. Terima kasih sekali lagi dan sampai jumpa di chapter depan senpai~...
Riesa Afiela out~
Preview
"Perang? Jangan bercanda malaikat bodoh."
Sringggg!
Kilatan itu terlihat dalam sekejap dan hal yang terjadi selanjutnya adalah Kokabiel harus merasakan satu buah sayapnya terputus dari punggung dan sebuah tendangan super keras yang mementalkannya ke bawah hingga sebuah dentuman keras terdengar.
"Kau tak berhak mengatakan hal tersebut untuk seseorang yang mengatakan dirinya mencintai manusia."
