Mata Naruto menajam ketika dia melihat malaikat jatuh di depannya yang memegang pedang.

Sepuluh sayap hitam pekat tanda sebuah kejatuhan malaikat dari ranah surga yang mekar di belakang punggung pria yang bisa dikatakan sebagai seorang *Androgini tersebut bisa dikatakan sebagai tanda malaikat jatuh yang tidak boleh diremehkan.

Apalagi dengan satu pedang digenggaman tangannya yang mempunyai aura suci yang luar biasa.

Itu bukanlah pedang biasa.

Naruto tahu hal tersebut. Dia harus berhati-hati akan hal tersebut.

Ketika saat dia keluar tadi bersama dengan Hera dan Asia, dia lupa tidak melakukan pengisian baterai pada malam harinya. Akibatnya di saat jam tengah hari baterai ponselnya benar-benar habis. Dia tentu mengabaikan hal tersebut. Kehabisan baterai ponsel terkadang terjadi dan di saat ini dia bersama dengan Asia. Hal buruk apa yang bisa terjadi? Paling jika ponselnya hidup pun hanya akan ada pesan pemberitahuan dari salah satu pihak asuransi yang dia ikuti.

Atau paling buruk adalah pesan dari orang yang tidak dia kenal yang mencoba sok akrab padanya.

Karena itulah dia tidak terlalu memperhatikan ponselnya hari itu. Namun karena keputusannya itulah kini dia merasakan rasa getir di lidahnya.

Issei meminta bantuan. Dan bukan bantuan sembarangan. Itu adalah bantuan darurat. Melihat jam kapan pesan itu masuk, Naruto tahu jikalau mungkin saja dia terlambat untuk membantu muridnya yang dia anggap adik kecil di dunia ini. Dan itu tidaklah salah.

Melihat Issei terkapar dengan luka tusuk di dada. Itu terlihat menembus tubuhnya. Darah keluar dengan deras di sana. Ketika Naruto menatap tubuh Issei, pandangan mata itu berubah. Rasa khawatir muncul.

Tidak! Masih belum terlambat untuk itu.

Poofft!

Tanpa sebuah segel tangan, sebuah kepulan asap menandakan sebuah penciptaan Bunshin. Dengan sangat cepat seperti sudah diperintah sebelumnya, Bunshin tersebut langsung bergerak ke tempat Issei. Membawa tubuh itu jauh dari tempat yang saat ini ada melalui sebuah kilatan Jutsu ruang dan waktu.

Bunshin Naruto lebih dari cukup untuk menyembuhkan Issei nanti. Naruto memberikan esensi chakra kehidupan di sana. Issei akan selamat. Dia akan selamat.

Lalu setelah meyakinkan dirinya sendiri, Naruto kemudian berbalik.

Mata itu menajam dengan pandangan sangat dingin kepada Malaikat jatuh disana yang memberikan pandangan penasaran dan rasa tertarik tinggi.

Bagi Kokabiel, orang asing yang dia ketahui adalah orang yang tengah didekati oleh dewi Hera ini adalah seorang manusia biasa. Tidak ada hal khusus di dalamnya. Pria pirang itu tidak lebih dari orang yang dekat dengan Sekiryutei karena Sekiryutei kerap mampir ke kedai ramen yang dimiliki oleh pria pirang tersebut. Tidak ada laporan khusus tentangnya yang menjelaskan bahwa dia punya sejenis kekuatan menghilang apalagi menggandakan diri jadi Kokabiel mengabaikan hal tersebut. Mungkin saja pria pirang itu hanyalah mainan bagi dewi Hera untuk membuat Zeus cemburu. Dewa dan dewi dari mitologi tersebut terkenal akan hal itu. Selain itu Kokabiel bahkan sudah berencana bagaimana caranya membawa mitologi Olympus ke dalam kancah perang melalui dewi Hera dengan meninggalkan pria pirang itu dan putrinya untuk tidak terlibat.

Sayang, dengan begini semua rencananya berubah. Dia bahkan tidak membawa pasukannya yang loyal ketika dia berurusan dengan Sekiryuutei karena dipikirnya itu tidak perlu. Namun walaupun berubah, dia setidaknya mengetahui ada hal yang tidak terduga sedang ada di hadapannya.

Pria pirang ini… Kokabiel bisa merasakan bahaya keluar dari tubuh pria pirang itu. Insting petarung dan mantan veteran perang besar tiga fraksi itu berteriak nyaring seakan memberitahu bahwa pria pirang itu berada di kelas yang jauh berbeda dari yang lainnya.

Hal yang sangat terasa mustahil sama sekali mengingat Kokabiel merasakan dengan jelas– tidak! Itu terasa sangat jelas bahwa pria di depannya itu hanyalah manusia biasa.

Tapi kekuatan kloning tadi dan caranya membawa Sekiryutei pergi…

Sacred Gear-kah hal tersebut? Kokabiel sudah menghafal segala jenis Sacred Gear yang diciptakan Tuhan. Apa ini sebuah Sacred Gear langka? Kokabiel mendengar dan sudah menyaksikan suatu evolusi pada Sacred Gear di masa kini. Jika itu adalah Sacred Gear yang berevolusi, awal Sacred Gear yang bagaimanakah yang bisa membuat Sacred Gear tersebut mempunyai sebuah potensi di dalamnya?

Selama Kokabiel bertanya-tanya hal tersebut, Naruto bisa melihat bagaimana Malaikat jatuh di depannya itu mencoba menerka-nerka tentang dirinya. Hal tersebut Naruto biarkan saja karena dia juga melihat ke arah lain. Dua sumber energi hitam khas milik iblis dan manusia namun lemah datang dari atas. Naruto menegok ke atas dan dia bisa melihatnya.

Seorang iblis adik dari Maou yang berlagak menjadi pengawas kota Kuoh.

Seorang Exorcist yang sempat diceritakan oleh Issei sebagai teman lamanya bahkan sampai Issei menunjukkan foto wajahnya.

Mereka berdua terikat dengan rantai pada sebuah salib besar.

Mereka berdua dalam keadaan yang bisa dikatakan terluka hingga membuat mereka tidak sadarkan diri dan melihat keadaan mereka berdua itu tidaklah sulit bagi Naruto untuk menyatukan kepingan informasi yang ada saat ini ke dalam otaknya bersama kepingan informasi lainnya.

Tentang kemunculan para pasukan iblis kelas tinggi secara tiba-tiba di kota Kuoh. Kota yang harusnya tenang dan damai selama ini dan hal tersebut merusak suasanan damai tersebut dengan Malaikat jatuh bersayap sepuluh yang dia asumsikan adalah dalang di balik ini semua.

Menculik adik Maou. Mengambil pedang suci dari pihak Exorcist.

Oh… para Bunshin yang mencari informasi yang ada selalu menjadi yang terbaik.

Dan semua informasi yang telah menyatu itu tinggal butuh satu kepingan lagi.

"Kenapa?" Naruto bertanya dengan suara dingin, hal yang menyadarkan Kokabiel dari pikirannya tentang pria di depannya.

"Maaf?" Kokabiel bertanya ketika dia tidak paham apa yang dimaksud lawan bicaranya secara tiba-tiba.

"Kenapa melakukan ini?" Naruto bertanya sekali lagi. Dia tidak butuh kata-kata panjang untuk mencoba membuat lawan bicaranya mengerti arah dari apa yang dia tanyakan.

Mereka cukup bertukar kata-kata pendek dan Naruto yakin pasti lawan bicaranya itu mengerti akan hal yang dia maksud.

Tentang iblis, adik dari seorang Maou yang diculik.

Tentang Exorcist yang dilukai.

Dua gesekan itu sudah cukup untuk membuat sebuah kata di dalam kamus Naruto keluar yang merupakan akibat dari semua hal yang terjadi jika seandainya dua fraksi lain tahu siapa pelaku semua ini. Atau paling buruk sebuah adu domba ini dilakukan. Sebuah kata yang merupakan bagian akhir dari semua konklusi yang ada.

Perang

Kata yang paling dibenci oleh Naruto itu sendiri.

Naruto sudah pernah mengalaminya. Sudah pernah melaluinya. Itu adalah sesuatu yang sangat buruk.

Apakah jika perang terjadi antar tiga fraksi itu tidak akan berakibat pada kehidupan manusia? Tentu saja bohong jika hal demikian tidak berdampak. Dan jika itu terjadi maka tidak ada kehidupan bagus bagi putrinya.

Tapi meskipun begitu, setiap orang punya alasannya tersendiri kenapa ingin berbuat sesuatu.

Naruto ingin mengetahui hal tersebut.

Kokabiel mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Ketika mendengar pertanyaan yang diulang sekali lagi yang berisi semua hal yang mengatakan bahwa pria di depannya itu tahu apa maksudnya melakukan ini, Kokabiel tahu yang diajaknya bicara bukanlah orang bodoh.

Pria itu tahu arti dari tindakannya. Yang berarti dia tahu tentang keadaan tiga fraksi. Hal yang membuat hal misteri itu semakin tergiang di pikiran Kokabiel.

Siapa sebenarnya manusia ini?

"Kau tahu tentang tiga fraksi dan sengketa mereka? Apa kau mengetahui dunia supernatural?" Kokabiel justru balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan yang di katakan Naruto.

"Siapa kau? Seorang manusia pengguna ilmu sihir? Atau Sacred Gear yang lolos dari pihak supernatural?"

Mendengar pertanyaa itu membuat Naruto mendengus. Pertanyaan bodoh!

"Jika kau dekat dengan seorang dewi apa kau masih berlagak bodoh untuk dunia rusak itu?" Jawab Naruto sambil memberikan sindiran di kalimatnya. "Jangan mengelak. Katakan saja kenapa alasannya kau berbuat seperti ini. Hal yang dengan jelas mudah terbaca dan tertebak arahnya dengan keadaan tiga fraksi kalian. Jika kau tanya siapa aku, ketahui saja aku adalah orang yang tidak menyukai kau mencoba melibatkan Sekiryuutei."

Jawaban tegas itu keluar dengan lancar dari mulut Naruto. Ada sensasi rasa tidak suka jika salah satu orang terdekatnya dilibatkan dalam masalah tiga fraksi.

Kokabiel memberikan ekspresi aneh di wajahnya ketika mendengar jawaban pria di depannya. Hal seperti nada tidak suka itu tidaklah luput darinya.

Hmph! Mencoba bertindak sombong dengan tidak memberitahukan dirinya yang sebenarnya. Kokabiel merasa amarahnya sedikit naik. Namun itu hanya sebentar sebelum dia mengatur kembali emosinya.

"Kau mencoba sesuatu yang berbahaya disini, tuan Malaikat jatuh. Kau berniat menciptakan perang dengan kemungkinan mengadu domba kedua belah pihak. Hal itu lebih mudah dilakukan." Naruto berkata dengan berdasarkan taktik politik mudah yang biasa digunakan untuk memulai sebuah pertikaian ketika dia jengah Kokabiel tidak lekas menjawab. Apa yang dilakukan Kokabiel bisa terbaca dengan mudah olehnya. Kesatuan ANBU membuatnya belajar demikian. "Apa alasannya? Apa kau seorang maniak perang?" Mata Naruto menyelidik ketika dia mengucapkan demikian. Lalu dia melanjutkan ucapannya dengan sebuah kemungkinan bodoh yang terlintas ketika dia melihat sesuatu di belakang Malaikat jatuh.

Jangan sampai dia seperti Madara— ninja tua yang dikhianati karena ilusi perdamaian yang dia inginkan.

"Atau hanya karena unsur bodoh seperti menyelamatkan manusia?"

Tersentak!

Naruto bisa melihat sentakan kecil sekali yang akan lewat dengan mudah jika seseorang tidak terbiasa dengan bahasa tubuh pada Malaikat jatuh itu. Oh Tuhan… seorang Malaikat yang berharap menjadi seorang Messiah atau penyelamat manusia.

Naruto tidak tahu haruskah dia mengutuk atau tidak akan hal ini.

"Kau bagai–" Kokabiel kehabisan kata ketika dia berpikir rencananya telah diketahui. Tidak! Hanya bawahannya saja yang tahu! Bagaimana pria di depannya itu bisa mengetahui rencananya?!

"Siapa kau! Bagaimana kau bisa tahu!" Teriak Kokabiel yang tidak dibalas Naruto.

Sayangnya Naruto pada awalnya hanya berniat menebak saja. Dia tidak mengira tebakan dirinya benar karena dia sekilas melihat wajah siluet Madara di belakang Malaikat jatuh itu.

Dia kira itu hanya ilusi mata yang bermain dengan penglihatannya. Namun ketika dia tahu bahwa tebakannya itu benar, Naruto tidak bisa lekas menjawab pertanyaan Kokabiel.

Dia justru sekarang yakin untuk mengutuknya.

Fucking Bitch!

Seseorang dengan hal seperti ini adalah seseorang yang sangat berbahaya.

"Kau…" Naruto memijit pelipisnya disana. Dia benar-benar pusing sekarang. "Kau benar-benar bodoh."

Jika tiga fraksi berperang sekarang, mereka semua akan tamat. Jika sampai mitologi lain terlibat, bumi akan bergetar, bencana alam akan terjadi dan memakan korban jiwa di dunia manusia. Jutaan bahkan mungkin milyaran manusia mati. Hal tersebut adalah skenario yang sudah diperkirakan Naruto dan Naruto kemudian mengambil nafas panjang.

Jika Malaikat jatuh ini adalah penyebabnya maka dia harus membasminya. Keseimbangan yang sedang ada ini jangan sampai dirusak sekarang.

"Bicara apapun juga percuma nantinya." Gumam Naruto dengan mengeluarkan sebuah gulungan disana dari belakang.

Ini merepotkan.

Gulungan itu dibuka. Sebuah segel berada di sana. Tangan bergerak melakukan gerakan segel tangan.

Pooft!

Kepulan asap tercipta. Dengan gerakan pelan, Naruto meraih gagang senjata yang dia panggil.

Sebuah katana merah semerah warna darah.

Naruto tidak banyak berkata apapun. Malaikat jatuh ini tidak boleh dibiarkan kabur. Jika dia sampai kabur maka delusi malaikat jatuh itu untuk membuat perang untuk menyelamatkan manusia dengan dasar apapun itu sudah sangat berbahaya. Juga bahkan sangatlah salah.

Menutup mata kemudian, suara gelas pecah terdengar di udara.

Realita terdistorsi.

Dimensi berubah.

Lembut salju kemudian turun. Bangunan dimensi buatan yang menyerupai kota Kuoh telah lenyap dalam sekejap berganti padang bersalju dengan percikan salju turun lembut.

Kokabiel tidak sempat berkata apapun untuk itu. Perubahan tiba-tiba ini telah sangat mengejutkan dirinya.

Apa ini?! Pembuatan dimensi sekejap tanpa rapalan mantera sihir? Tanpa adanya fluktuasi [Mana] di daerah sekitar! Ketika Kokabiel melihat kejadian tidak masuk akal yang menimpa dirinya, dia tahu sesuatu ketika melihat mata di pria pirang itu yang berubah.

Mata ungu melingkar dengan tomoe berputar di dalamnya.

Mata terkutuk yang dimiliki seorang dewi yang memerintah dengan tirani.

Mata milik seorang pertapa yang menginginkan kesinambungan antar sesama.

Bahwa apapun itu, pria yang berada di depannya…

Bukanlah manusia.


[A Love For the Queen]


Percikan api tercipta ketika dua pedang berbenturan. Bunga-bunga api itu terlihat kontras bertentangan dengan putihnya warna dingin dari dataran salju yang ada.

Kokabiel tidak mengerti kenapa semua berakhir seperti ini. Melihat bahwa apa yang dia lawan sekarang adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara umum menambah daftar frustasi yang Kokabiel rasakan sekaran.

Katon : Goka Mekyaku!

'Sial!' Kokabiel mengutuk disana ketika saat pria pirang yang dilawannya memuntahkan api setelah melakukan sesuatu yang rumit dengan tangannya.

Api yang dimuntahkan itu berskala sangat besar. Api itu bahkan melampaui raungan api naga milik Sekiryuutei dengan mudah dan panasnya bahkan menyamai panas api naga.

Kokabiel bermanuver terbang ke atas untuk menghindari api tersebut. Malaikat jatuh itu melihat padang es yang putih dengan segera menjadi dataran hangus dengan sisa abu dan jelaga.

Namun dia tidak sempat untuk mengagumi hal tersebut. Insting berbahaya meneriakkan sesuatu datang dari atas.

Trang!

Sebuah ayunan pedang secara vertikal Kokabiel tahan dengan Excalibur yang dia pegang. Percikan bunga api terlihat seketika dan hempasan gelombang kejut menyisihkan salju yang turun di sekitar benturan.

Sang musuh memandang dengan mata yang meneriakkan kekuatan pada Kokabiel. Sepasang mata yang Kokabiel tahu jelas setelah bertarung ini bahwa mata itu bukanlah sebuah Sacred Gear.

Bahkan semua kekuatan sang musuh bukanlah Sacred Gear.

"Hraaaagh!" Kokabiel berteriak disana. Mencoba memberikan dorongan pada pedang yang teradu agar pedangnya mengungguli pedang merah milik lawannya. Aura suci dalam skala besar menguar dari pedang dan dengan hempasan lengan miliknya Kokabiel berputar dan menghempaskan lawannya ke bawah.

Sambil berharap lawannya yang meluncur cepat ke bawah itu menghantam daratan.

Namun pria pirang itu dengan mudah memutar tubuhnya disaat terakhir dan dengan menumpu pada satu tangan saat menyentuh daratan, putaran tubuh ke belakang beberapa kali dilakukan pria itu untuk mendarat dengan selamat.

"Kau kuat." Kokabiel memuji di atas sana sambil melayang. Sepuluh sayap hitam sepekat malam kelabu itu mengembang mencoba menunjukkan kedigdayaannya.

Kokabiel tidak berkata secara sembarangan. Pria pirang ini yang merupakan pria yang sedang dekat dengan dewi Hera ternyata mampu mengimbangi dirinya yang sudah memakai Excalibur. Hal itu bahkan dilakukan dengan kekuatan yang tidak pernah Kokabiel ketahui sebelumnya.

Bagaimana mungkin pemilik kekuatan seperti ini tidak diketahui sama sekali di dunia supernatural? Bagaimana cara pria ini bersembunyi selama ini?

"Kau terlalu memuji." Naruto membalas dengan mengayunkan katana miliknya ke samping.

Sepercik darah terciprat dari sana dan Kokabiel merasakan rasa perih di pipinya. Tangan itu menyentuh pipi miliknya sendiri.

Darah mengucur dari sebuah luka sabetan kecil.

Kapan?!

Kokabiel tidak tahu pasti.

"Kau tahu? Aku tidak perlu membunuhmu jika kau melupakan tujuanmu tuan malaikat jatuh." Naruto berkata santai disana. Katana merah miliknya disandarkan pada pundak.

"Maaf saja. Aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah bertindak sejauh ini. Mustahil untuk kembali." Balas Kokabiel disana. "Tidak kusangka bahwa ada manusia sekuat dirimu ternyata bersembunyi selama ini."

"Oh… aku hanya tidak ingin berurusan dengan dunia buruk itu." Naruto menjawab jujur. "Dunia ini terlalu rusak."

"Dan karena rusak itulah aku berniat membuat perang! Tidak mengertikah kau bahwa kaummu hanya dimanfaatkan? Diperah seperti hewan. Ketika kalian punya keistimewaan, kalian di cari untuk diajak ke dalam para fraksi atau mitologi! Bahkan itu dengan ancaman ataupun perbudakan secara paksa! Dengan perang ini maka semua mitologi dan makhluk supernatural akan lenyap dan kalian bisa bebas dari kami!" Kokabiel berkata dengan mengebu-gebu disana. Semua emosi terpancar di wajah malaikat jatuh itu.

Rasa lelah.

Rasa benci.

Rasa cinta yang salah tempat.

Hal itu terlihat semua di mata Naruto.

"Bahkan jika mengorbankan nyawa-nyawa manusia lain yang tidak berdosa?" Tanya Naruto. "Entah bagaimana tapi itu adalah pemikiran salah. Mengorbankan banyak untuk hasil yang tidak pasti. Apa kau yakin akibat ulahmu ini manusia tidak akan punah?"

"Mereka akan bertahan. Aku telah ribuan kali melihat hal tersebut."

Saat banjir besar turun menenggelamkan seluruh dunia.

Saat peperangan besar antar tiga fraksi.

Kokabiel menyebutkan dua dari secuil peristiwa yang mengatakan manusia akan selamat. Mereka adalah kaum dengan keyakinan tertinggi yang pernah ada.

Mereka menakjubkan.

Dan Naruto juga tidak menyangkal hal tersebut. Karena Naruto sendiri juga telah mengalaminya.

Saat dia melihat ratusan ribu Shinobi berusaha untuk menahan sang ekor sepuluh.

Juubi— sang perwujudan kehancuran.

"Tapi caramu salah, tuan malaikat." Kata Naruto. "Kau bisa melakukannya dengan justru membantu manusia memahami siapa mereka makhluk supernatural. Siapa yang berhak dilawan dan siapa yang berhak untuk dilindungi. Kau bisa memulainya dengan menyadarkan beberapa manusia bahwa mereka tidak sendirian di dunia ini."

"Dan butuh berapa lama hal tersebut?" Kokabiel bertanya dengan nada marah. "Tidak peduli apapun yang kau katakan aku akan tetap menciptakan perang. Dengan membunuhmu lebih dahulu lalu keluar dari dimensi ini yang sama sekali tidak mengijinkan sihir teleportasi dilakukan! Semua itu kulakukan karena aku mencintai manusia!" Sayap Kokabiel mengembang dan dua sayap lagi muncul menjadikannya malaikat jatuh bersayap dua belas dan aura kekuatan luar biasa keluar begitu hebatnya.

"Aku menciptakan perang karena aku mencintai kalian para manusia!" Tambah Kokabiel dalam kekuatan luar biasanya yang mungkin tidak akan pernah disangka-sangka sebelumnya.

Aura suci tercemar yang berputar di sekitar Kokabiel memberitahukan kekuatan malaikat itu.

"..."

"..."

"..."

Sementara deklarasi Kokabiel dan pertunjukkan kekuatan itu tidak membuat Naruto bergeming melainkan membuat Naruto pandangan Naruto menajam.

Malaikat ini… Dia sudah jauh dari kata diselamatkan.

Wajah itu menunjukkan sebuah obsesi yang berbahaya. Wajah yang mengingatkan Naruto pada Madara.

Dan karena hal tersebut.

"Perang? Jangan bercanda malaikat bodoh"

Sringg!

Kilatan itu terjadi dalam sekejap dan yang yang terjadi selanjutnya adalah Kokabiel harus merasakan satu buah sayapnya putus dan sebuah tendangan super keras mementalkannya ke bawah hingga dentuman keras terdengar.

Tidak peduli berapa naiknya kekuatanmu. Aku akan menghadapimu dengan kekuatanku juga.

Kekuatan Senjutsu tertarik dan aura layaknya api berwarna biru keluar dari seluruh tubuh Naruto.

"Kau tidak berhak mengatakan hal tersebut untuk seseorang yang mengatakan dirinya mencintai manusia."

Karena cinta yang Kokabiel alami sudah bukan cinta kepada manusia.

Itu adalah sebuah obsesi yang membawa kehancuran.

Dan itu harus diakhiri.

Dengan berpegang pada hal tersebut, Naruto meluncur turun. Dia menendang udara untuk mempercepat dirinya.

Kokabiel yang masih terbaring di kawah yang tercipta akibat benturan dirinya melihat musuhnya datang kepadanya dengan cepat segera bangkit. Kekuatan Excalibur Rapidly menambah kecepatannya yang dimiliknya untuk lolos dari terkaman maut dimana Naruto datang dengan Katana merahnya terhunus ke bawah.

Katana Naruto mengenai tanah. Dentuman asap dan debu kerikil tercipta dan Kokabiel mengambil jarak menjauh.

Manusia yang menjadi musuhnya itu tidak mengerti apapun bahkan setelah Kokabiel mengatakan alasannya membuat perang. Jika dia tidak mengerti maka Kokabiel tinggal membunuhnya.

Ratusan tombak cahaya tercipta di belakang Kokabiel. Melesat mengarah dengan cepat ke arah debu dan asap yang belum menghilang.

Hanya untuk tombak cahayanya dihancuran dengan katana merah yang nampak disana dipegang oleh Naruto. Sapuan lembut saat Naruto mengayunkan Katananya mengincar titik lemah dari tombak-tombak cahaya yang datang.

Namun hal itu adalah sebuah pengalihan dari Kokabiel. Malaikat jatuh itu tahu hal seperti itu tidak cukup untuk membuat musuhnya kali ini jatuh. Dengan terbang ke atas, Kokabiel menyiapkan sebuah sihir besar.

Satu lingkaran sihir putih di atas mengeluarkan kristal begitu besar berwarna biru melayang diatas. Kekuatan yang terpancar dari kristal itu bukan main-main. Apalagi dengan kekuatan Kokabiel yang naik meskipun rasanya masih kurang.

Lalu sebuah simfoni nyanyian terdengar entah dari mana, seperti sebuah nyanyian pengantar tidur membuat kristal biru besar milik Kokabiel berdetak.

Satu detakan. Dua detakan. Tiga detakan.

Naruto yang melihat ke atas setelah membersihkan semua tombak cahaya yang datang kepadanya mendecih.

Fluktuasi sihir di kristal biru itu begitu besar. Serangan ini setara serangan untuk membunuh para iblis kelas Ultimate.

Hal yang tidak mengejutkan datang dari malaikat penyandang gelar Lord Cadre dari Grigori.

Setelah tiga detakan, dentuman besar tercipta. Ribuan hujan peluru cahaya dengan kecepatan yang mustahil dihindari oleh bahkan pemegang bidak Knight turun.

Namun yang lebih berbahaya adalah setiap peluru cahaya itu adalah sebuah bom semakin menambah kesan mengerikan yang dipunyai serangan itu. Bombardir peluru itu yang mencapai tanah menimbulkan ledakan-ledakan besar.

Padang bersalju berubah menjadi kawah api.

Hal ini terjadi dalam sekejap. Namun dengan serangan itu Kokabiel masih kurang yakin. Hal itu bahkan semakin yakin ketika ayunan katana datang dari samping yang terlihat dari pucuk matanya. Pedang Excalibur terayun untuk menahan serangan datang.

Bunga api tercipta. Kokabiel dengan kekuatannya mementalkan dua pedang yang bertemu dan memberikan ayunan serangannya sendiri pada sosok musuhnya. Serangan pedang Excalibur Destruction yang dipegang Kokabiel ditambah dengan kekuatan sucinya.

Tebasan itu mengeluarkan aura suci yang menggelegar di langit. Bentuk panjang tebasan itu Naruto hindari dengan menendang udara dan memutar tubuhnya. Dia menyarangkan serangan balik untuk memenggal kepala Kokabiel.

Hanya untuk gagal dengan Kokabiel menekuk tubuhnya ke belakang lalu bermanuver jatuh. Ratusan tombak cahaya tercipta sekali lagi dari atas dan bawah untuk menghujam tubuh Naruto.

Hal yang disadari Naruto dengan mengobarkan chakranya pada Katana miliknya yang bersinar merah terang. Ayunan dari pedangnya menghapuskan setiap tombak cahaya yang datang baik dari atas ataupun bawah.

Bertarung dengan musuh yang bisa terbang selalu merepotkan.

Naruto melihat ke arah Kokabiel yang melayang disana. Tomoe miliknya berputar pada Rinne–Sharingan yang dia miliki

Api hitam yang tidak bisa dipadamkan selama tujuh hari tujuh malam.

Simbol dan legenda kekuatan dewi matahari di Elemental Nation.

Api yang dinamai sama seperti nama sang dewi.

—Amaterasu.

Api hitam itu muncul secara tiba-tiba di tangan Kokabiel. Menimbulkan keterkejutan luar biasa di wajah Malaikat jatuh tersebut.

Sebuah teriakan memilukan terdengar setelahnya.

"Aaaaaaarrrrrggghhhhhhhhh!"

Kokabiel berteriak ketika api itu membakar tangannya. Rasa sakit tiada terkira dia rasakan bahkan api itu seakan hidup dan berniat menjalar ke lengan atasnya.

Api hitam apa ini! Bahkan dengan upaya Kokabiel memanggil kekuatan sucinya untuk memadamkan api itu, api itu tidak mau padam! Api ini bahkan menyerupai api milik dewi penguasa tanah Jepang! Namun api milik sang dewi tidaklah mungkin sekuat ini.

Takut dengan menyebarnya api ini. Excalibur Kokabiel bergerak dengan memotong lengannya. Darah mengucur seketika dan Kokabiel menggunakan energi sucinya untuk menghentikan pendarahannya. Jika dia kehilangan banyak darah itu bisa membuat peforma bertarungnya menurun.

Namun karena terlalu terfokus pada api itu Kokabiel menjadi lengah.

Sesuatu menusuknya dari belakang. Dengan cara yang sama seperti dia menusuk Sekiryutei dari belakang, Kokabiel melihat Katana merah menusuknya dari belakang tanpa ada aura musuh menyerang dia rasakan.

" Enton: Amaterasu "

Suara itu seperti bisikan dewa kematian yang datang.

Flush!

Api hitam menyelimuti Katana merah Naruto, sebuah Katana yang dia dapatkan di wilayah reruntuhan Mizu no Kuni. Katana yang ditempa dari bongkahan meteor yang jatuh.

Kokabiel tidak percaya ini. Dia lengah. Api hitam yang menyelimuti Katana merah yang menusuknya itu mulai membakar dirinya dari dalam.

Dengan penggunaan mata Rinne–Sharingan miliknya Naruto menggunakan Katana merah itu sebagai perantara api Amaterasu miliknya. Setelah api itu mulai membakar tubuh Kokabiel secara perlahan, kaki Naruto kemudian menendang tubuh Kokabiel ke bawah.

Teriakan kesakitan itu memilukan untuk didengar. Suara itu seperti suara nyanyian orang sekarat yang tidak dibiarkan mati dengan cepat.

Dan Naruto tidak ingin mendengar lagi itu. Segel tangan untuk sebuah jutsu rumit dilakukan dengan sekejap.

Jutsu ini digunakan untuk menghancurkan benteng pertahanan musuh. Jutsu kelas S yang diciptakan secara tidak sengaja.

Percikan biru listrik saling bersahutan di udara, bergerak membentuk sebuah tombak petir dengan tiga trisula di pucuk.

Penghakiman sang raja langit.

" Raiton : Kaminoyari (Tombak sang dewa) "


[2]


Hera menanti dengan cemas ketika dia melihat Naruto menghilang dengan cepat lewat satu kilatan di depan matanya setelah dia membaca pesan dari ponselnya yang baru di hidupkan.

Hari ini dia dan Asia serta Naruto keluar untuk sebuah piknik. Hari ini berakhir dengan bahagia hingga Naruto dengan kekuatan yang dia miliki. Kekuatan yang tidak pernah mau diceritakan Naruto kepadanya saat ini.

Pandangan mata saat sebelum Naruto menghilang itu juga membuat Hera cemas. Pandangan itu hampir sama ketika kejadian Asia dengan Ares.

Oh tidak! Apa lagi yang terjadi kali ini? Hera bertanya-tanya dalam benaknya. Dia mau menyusul Naruto namun dia tidak bisa meninggalkan Asia begitu saja. Rasa ketakutan akan Asia yang ditinggal sendirian terlalu menakutkan bagi Hera setelah kejadian dengan Ares.

Maka dari itu hal yang bisa Hera lakukan sekarang hanya menunggu dan mengawasi Asia yang lelah tertidur di sana.

Hingga sebuah kilatan terdengar di belakangnya dan Hera menoleh.

Naruto menggendong seorang pemuda di sana. Seorang pemuda yang Hera ketahui adalah Sekiryutei masa kini dan Hera melihat pandangan prihatin ada di mata Naruto pada sosok pemuda dalam gendongan kedua tangannya itu yang pingsan.

"Naruto… apa yang–"

Hera akan bertanya apa yang terjadi namun hal tersebut disela oleh Naruto. Mata biru itu memandang sang dewi yang telah menjadi akrab dengan dirinya maupun Asia sekarang.

"Dewi… Aku harus pindah dari kota ini sesegera mungkin."

"Eh?!" Hera terkejut saat mendengar ucapan Naruto. Wajah itu memperlihatkan keterkejutan yang berganti dengan rasa ingin tahu.

Naruto mendesah lelah saat melihatnya. Dia akan menceritakan hal panjang kali ini.


[...Kematian Kokabiel selesai…]


A/N : Androgini merujuk pada sesuatu yang bisa dikatakan pria yang menyerupai wanita.

Yup! Chapter baru dan akhir dari Kokabiel. Setelah ini barulah akan dimulai kisah Naruto dan Hera.

Kuharap chapter ini sedikit memuaskan para senpai yang menunggu kisah ini untuk update. Mungkin ada yang mengeluh Kokabiel kok lemah. Dia memang kubuat sedikit lemah mengingat sayapnya yang hanya berjumlah sepuluh saja. Jika mau kuat seperti Maou maka itu tidak mungkin. Dan soal Kubilang Naruto Overpower mungkin itu benar. Di tingkatan mana dia maka itu adalah rahasia. Kalian bisa mengira-ngira hal tersebut. Mungkin ini kurang epic tapi aku sudah berusaha semaksimal yang aku punya. Kuharap dihargai ya senpai...

Terima kasih atas segala dukungan para senpai yang mendukungku dengan luar biasa. Aku tidak bisa berkata banyak lagi untuk kalian. Kalian luar biasa.

Berikan review dan komentar baik kalian. Dukungan kalian sangat berarti untukku. Atas segalanya aku ucapkan terima kasih banyak senpai.

Berkomentarlah dengan baik karena itu menunjukkan kepribadian anda.

Sampai jumpa chapter depan Senpai~

RiesA Afiela Out~