Untuk segala hal yang telah terjadi didalam kehidupan yang telah dia alami, Naruto kini tersenyum geli akan keadaannya yang sekarang.

Dia tidak pernah menyangka akan tiba pada situasi yang seperti ini.

Dalam diamnya dia menikmati suasana pagi dimana dia duduk di beranda samping dari rumah bermodel rumah tradisional Jepang yang dia beli ketika dia pindah ke sini tiga bulan lalu, banyak hal yang telah terjadi. Ditemani dengan sejuknya udara yang mengisi paru-paru dan menyegarkan tubuhnya dia kemudian mengingat semuanya.

Tiga bulan lalu ketika dia mengatakan dia akan pindah dari kota Kuoh, dia memang benar-benar berniat untuk itu. Melihat situasi kota yang semakin hari semakin tidak aman dan terasa tidak nyaman lagi untuk dia tinggali bersama puterinya apalagi dengan keadaan Issei yang pelik, dia kemudian memboyong keluarga kecilnya untuk pergi dari kota Kuoh. Meninggalkan kedai ramen yang telah dia rintis, membawa Hyoudou Issei bersamanya yang memang harus pergi dari kota itu sebelum hal buruk menyangkut lagi pemuda itu yang terlihat masih belum siap untuk berhadapan dengan dada terbusung menghadapi dunia supernatural yang pelik dan rumit, menyaksikan wajah sedih puterinya yang terlihat enggan untuk berpindah tempat dan berpisah dengan teman sekelasnya di akademi.

Naruto akan berkata saat itu adalah suatu hal yang cukup berat baginya untuk membuat keputusan tersebut. Terlebih dengan segala hal yang telah dia capai di kota Kuoh dengan kedai ramen miliknya dan juga dia tidak pernah tega untuk melihat wajah sedih puterinya.

Beruntung saja saat itu ada seseorang yang bisa meredam kesedihan Asia bahkan hingga sekarang.

Suara langkah kaki kemudian terdengar pada telinganya, itu langkah kaki berjalan mendekat ke arah dirinya. Ada semerbak harum bunga dengan campuran seperti bau madu yang berasal dari belakangnya dan saat sebuah rangkulan dia terima dari belakang, suara merdu nan lembut terdengar di dekat telinganya.

"Kau selalu bangun lebih dahulu dariku Naruto."

"Itu hanyalah sebuah kebiasaan sejak kecil Hera." Naruto membalas ucapan wanita yang merupakan dewi yang merangkulnya dari belakang. Mungkin ini akan terlihat aneh ketika itu terjadi tiga bulan lalu, namun ketika dua bulan setelah kepindahannya kemari dan dewi ini menyatakan perasaannya padanya dan dia menerimanya, rangkulan hangat di pagi hari menjadi hal yang biasa dia terima.

Walau terkadang sering di dalam kepalanya terpikir bahwa apa yang dia lakukan ini salah. Menerima cinta dari seorang dewi yang merupakan mantan dewi petir dari mitologi Olympus bukanlah perkara yang mudah baginya sebenarnya.

Dengan segala perdebatan yang telah dia lakukan di dalam hatinya. Dengan segala bentuk dan tindak tanduk dewi ini kepadanya yang membuatnya luluh, dia hanya berharap pilihan yang dia pilih dalam perdebatan batinnya adalah benar.

"Walau begitu bukankah seharusnya kau juga membangunkanku ketika kau bangun?"

"Aku hanya tidak menyukai menganggu tidur seseorang."

"Kau selalu seperti itu." Hera merengutkan pipinya dan hanya dibalas senyuman kecil Naruto didepan. Pelukan dari dewi itu lalu terlepas dan dia duduk di samping Naruto dengan sangat dekat dan kepalanya bersandar di pundak pria pirang itu.

Untuk segala hal yang telah Hera lalui, ini adalah hal damai yang teramat dia begitu sukai. Dia bahkan menampakkan seulas senyuman damai disana disertai gumaman kecil nan lirih.

"Aku mencintaimu Naruto." gumam Hera yang jelas terdengar oleh pria pirang itu.

"Aku tahu itu." balas lembut Naruto yang kemudian memberikan rangkulan pelan pada dewi yang berada di sampingnya.

Dengan semuanya yang kau tunjukkan padaku, apakah aku bisa memungkirinya?

Dalam damai mereka menikmati waktu mereka berdua bersama, dalam waktu yang berlalu mereka merasakan rasa hangat di hati masing-masing.

Untukmu yang telah kucari, aku menemukan kedamaianku Naruto.

Wajah Hera melirik pada wajah pria pirang disampingnya, pria pirang yang memberikan lebih dari sekedar kebahagiaan kepadanya.

Denganmu, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Kau yang ingin melihat sisiku yang tidak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Denganmu, aku tidak lebih dari wanita biasa yang merasakan bagaimana cinta sesungguhnya.

Hera selalu begitu menghargai setiap waktu yang terlewat bersama pria pirang ini dan puteri kecilnya yang sudah dia anggap anak sendiri sekarang. Keputusan yang diambil Hera untuk menyatakan perasaan miliknya tidaklah salah dan itu juga mendapat dukungan dari Hestia yang tersenyum padanya.

Bahkan sampai Amaterasu yang mengetahuinya juga memberikan ucapan selamat padanya setelah perasaannya diterima.

Hera mungkin kali ini harus berterima kasih pada takdirnya yang mempertemukannya dengan pria pirang ini. Pria pirang yang bahkan akan dengan sepenuh hatinya akan selalu dia cintai, pria pirang akan selalu tersenyum untuknya saja, tertawa untuknya saja dan akan selalu mengiringi langkahnya sekarang.

Mungkin mereka belum secara resmi mempererat jalinan mereka dalam sebuah pernikahan, namun itu hanya masalah waktu semata bagi Hera dan dia bisa menunggu untuk itu.

Apalah arti menunggu beberapa tahun lagi ketika sudah selama milenia aku menantikanmu?

Jika itu harga yang harus kubayar untukku selalu bersamamu, maka aku akan menerimanya.

Hera kemudian mengeratkan dirinya pada tubuh Narutp yang bersanding disampingnya.

Suasana pagi di Kyoto selalu tenang untuk mereka berdua. Tempat ini adalah tempat yang baik dimana mereka bisa setidaknya melepas tangan mereka dari kegiatan supernatural yang terjadi di sekitar mereka. Sebenarnya meski pada awalnya ini bukanlah tempat yang diinginkan Naruto untuk pindah, pada akhirnya pria pirang itu harus mengalah ketika Hera berkata bahwa di Kyoto adalah tempat yang aman untuk mereka. Dengan dukungan dari mitologi Shinto yang juga membelakangi Hera dan segala kegiatannya apalagi dengan hubungan Hestia dengan Amaterasu, Kyoto akan menjadi pilihan yang baik dimana Hera menjalin negosiasi dengan mitologi Shinto untuk bisa menetap disana. Negosiasi yang dilakukan Hera adalah dengan selain memberikan tempat tinggal dan perlindungan kepada Naruto meski pria pirang itu tidak membutuhkannya karena Hera tahu kadar kekuatan pria pirang itu, Hera juga meminta untuk menyembunyikan Sekiryutei di mitologi Shinto tersebut atas permintaan Naruto. Pihak mitologi Shinto tentu menyetujui hal tersebut dengan Amaterasu meminta agar Sekiryutei masuk ke mitologi mereka. Setidaknya dengan Sekiryutei yang masuk ke mitologi Shinto maka itu bisa menambah kekuatan mereka.

Hera menyampaikan keinginan Amaterasu kepada Naruto yang juga menyetujui hal tersebut. Setidaknya dengan Issei masuk ke mitologi yang tidaklah terlalu bermasalah, itu akan sedikit baik dimana nanti menurut Hera bahwa Issei akan dilatih juga oleh dewa Susano'o. Sedangkan untuk Naruto sendiri, Hera cukuplah mengatakan bahwa Naruto adalah manusia biasa.

Sebaiknya tidak ada yang tahu kekuatannya. Biarkan dia bergerak di dalam bayangan semata untuk melindungi apa yang dia anggap berharga.

Lagipula bukankah begitu seharusnya baginya yang merupakan seorang Shinobi meski dia berada di dunia lain yang jauh dari rumahnya?

Dalam pelan Naruto tertawa kecil kemudian. Hal itu tentu menarik perhatian Hera yang berada di sampingnya yang memberikan tatapan penasaran.

"Kenapa kau tertawa Naruto?"

Mata itu kemudian menatap jauh disana dalam perasan yang rumit.

"Tidak Hera…" Naruto mejawab dalam ketenangan yang dia miliki. "Hanya saja semoga kisah ini berakhir dengan baik."

...Meski itu harus dipaksakan."


Dalam waktu yang berjalan seorang dewa melihat dengan rasa iri membara di dalam dada.

Dalam waktu yang berjalan dewi-dewi yang berlainan tempat memberikan senyuman nakal pada apa yang mereka lihat .

Dalam waktu yang berjalan pandangan teduh diberikan oleh dewi yang duduk di depan sebuah perapian.

Dalam waktu yang berjalan, pemegang jiwa naga melihat ujung horizon yang tiada terbatas dengan seorang dewa berada di belakangnya.

Kisah kecil ini yang terceritakan telah bermula. Saat tirai yang terbuka telah memulai untuk suatu pertunjukkan, narator cerita kemudian berkata akan kisah ini. Ini bukanlah kisah besar, bukan pula kisah yang akan membuatmu duduk mendengarkannya.

Ini hanyalah kisah dari manusia yang berada jauh dari rumahnya yang mempunyai seorang puteri yang terkait takdirnya dengan seorang dewi. Jalan mereka yang bertautan telah memulai hambatannya.

Dalam segala hal yang masih menjadi misteri ke depannya tawa, tangis dan tragedi akan melampaui apa yang harus diceritakan untuk menguji bagaimana perasaan mereka berdua.

Inilah sebuah kisah tentang cinta kepada seorang Ratu.


[…'Dalam sebuah awalan baru' selesai…]


A/N

Kisah kecil ini sudah memasuki babak barunya. Babak yang sesungguhnya yang terlahir dari imajinasi kecil. Terima kasih untuk yang sudah mendukung kisah ini untuk terus berlanjut.

Untuk segalanya yang telah diberikan padaku atas sebuah tulisan kecil ini, aku berterima kasih banyak kepada kalian semua. Kita akan berjumpa di chapter depan dalam jadwal update yang demikian setelah ini di update.