"Sayang, lihat itu.'' Hera memanggil Naruto yang sedang melihat pajangan kerajinan yang ada pada satu toko pada jalanan kota Kyoto. Mereka— Naruto, Asia kecil dan Hera tengah menikmati waktu libur Asia dari sekolahnya dengan jalan-jalan dan menikmati suasana Kyoto sekarang ini dimana Asia kecil sendiri sedang masuk dan melihat dan menyentuh pajangan yang ada dengan riang dan senyuman pada wajah imutnya.

Naruto mengalihkan pandangannya, memandang Hera dimana dewi tersebut menunjuk ke arah suatu tempat. Naruto mengikuti arah dari Hera dan kemudian dia mengeluarkan senyuman kecil nakal.

''Oh... '' Naruto berkata demikian dan memandang Hera yang memiliki pandangan nakal juga sama sepertinya. Pada apa yang mereka berdua lihat, mereka melihat seseorang yang dikenal Naruto dan putrinya sebagai pemuda mesum dan Hera mengenalnya sebagai Sekiryutei masa kini tengah tertawa riang di ujung jalan sana.

Tapi pemuda itu tidaklah sedang sendirian karena Naruto melihat seseorang bersamanya. Lebih tepatnya seorang gadis muda yang seumuran tengah bersama Hyoudou Issei dan ikut tertawa kecil bersama Sekiryutei tersebut.

Gadis itu berambut pirang. Dia memiliki wajah yang manis dan mungkin Issei tertarik karena manisnya gadis itu atau karena hal yang lainnya, Naruto tidak tahu namun dia senang melihat Issei saat ini karena pemuda itu sekarang bisa tertawa bebas tidak seperti bulan-bulan sebelumnya setelah serangan Kokabiel dimana pemuda itu terlihat tertekan.

Bagaimana dia tidak tertekan ketika dia diincar oleh banyak pihak karena dia dicurigai terlibat dengan Kokabiel? Beruntung pemuda itu sekarang masuk kedalam mitologi Shinto dan mendapat perlindungan dari dewi Amaterasu dimana para pihak yang menekan pemuda itu tentu segan dengan dewi Amaterasu yang termasuk kedalam dewi-dewi yang memiliki kekuatan yang tidak boleh diremehkan beserta mitologi yang dipimpinnya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Naruto sendiri masih sering menemui Issei untuk mengetes sejauh mana dia berkembang karena dia dilatih oleh dewa Susano'o dan bisa Naruto katakan pemuda itu berkembang cukup pesat.

Cukup pesat untuk setidaknya bisa kabur jika dia menghadapi lawan yang lumayan kuat walau sekarang mungkin fokus Naruto bukan disana.

Namun lupakan itu sekarang karena ketika melihat Issei sekarang ini, Naruto tidak bisa merasa dia mampu menahan diri untuk menggoda pemuda itu bersama si gadis yang mungkin saja pacarnya.

Ada kata mungkin disana karena Naruto kadang ragu Issei bisa menggaet seorang gadis dengan kepribadiannya yang nyeleneh dibanding pemuda normal lainnya. Yah setidaknya dengan begitu Issei tidaklah membosankan karena normal itu terlalu biasa.

Naruto memandang Hera sekarang. Dewi yang sekarang sudah bersama dengan Naruto dan akan segera menikah dengan laki-laki itu seakan mengerti apa yang ingin dilakukan oleh orang terkasihnya ini.

''Jangan terlalu jahil.'' Hera memperingatkan kepada Naruto yang disambut dengan tawa kecil pria pirang itu.

''Memang aku sangat jahil?''

''Terkadang kau sedikit keterlaluan jahilnya pada anak itu, sayang.'' Kata Hera. ''Tidak ingat kau membuatnya harus bolak-balik kamar mandi karena makanan yang kau beri padanya?''

''Ahaha... Kau tahu bukan aku melakukan itu karena kesal dengan ucapannya yang katanya aku ini duda bajingan yang keterlaluan karena dapat calon istri cantik.'' Naruto memberikan seringaian nakalnya pada Hera yang tersipu malu dan memukul pundak Naruto ringan. ''Tapi sungguh kupikir dia harus sedikit mengerem ucapannya karena dia terlalu membenci pria tampan.''

''Nah...'' Hera terhenti sejenak disana terlihat berpikir sebelum juga tertawa kecil. ''Dengan wajahnya yang pas-pasan begitu tentu dia akan iri dengan banyak laki-laki tampan yang mudah menggaet wanita sayang.''

''Seperti aku?'' Canda Naruto yang kali ini mendapat pukulan lebih keras dan tatapan tajam dari dewi tersebut.

''Awas kalau kau nakal!'' Hera menunjukkan tinjunya ke arah wajah Naruto yang ditanggapi dengan kegelian oleh Naruto akan sikap calon istrinya ini.

''Memang aku terlihat seperti pria nakal?'' Naruto memberikan rangkulan pada Hera dan mencium pipi dewi tersebut. ''Kupikir aku adalah pria yang setia dengan pasangannya.''

Hera yang mendengar itu tersenyum kecil.

Kau adalah pria yang setia dengan cinta yang begitu besar bahkan untuk mendiang istrimu yang telah tiada yang terkadang membuatku iri.

Hera hanya bisa membalas dengan mencium balik pipi Naruto dengan begitu hangatnya. ''Aku tahu itu.''

''Kalau begitu...'' Naruto melepas rangkulannya dari Hera. ''Aku pergi dulu sayang.''

Hera hanya mengangguk dan menyaksikan pria pirang tersebut berjalan pelan dengan santai dan berbaur di kerumunan orang-orang. Menyamarkan dirinya agar tidak diketahui oleh Sekiryutei yang masih bersama disana. Sementara itu ketika Hera telah melihat Naruto pergi menjauh, Asia keluar dengan wajah cerianya namun berubah menjadi bingung ketika melihat ayahnya tidak ada bersama Hera.

''Mama, Tou-chan dimana?'' Asia bertanya dengan mendekat dan menggaet tangan Hera. Sementara dewi yang melihat puteri angkat kecilnya ini menanyakan ayahnya dan memanggilnya dengan kata yang ingin Hera dengar merasakan hatinya menghangat.

Mama adalah panggilan yang selalu membuat hati Hera begitu bahagia ketika itu terucap dari bibir mungil Asia untuknya. Itu adalah pertanda bahwa Asia telah menerimanya sebagai ibu baru untuknya dan dia akan membalasnya dengan luapan kasih sayang yang luar biasa. Dengan mengenggam lembut balik tangan Asia, Hera kemudia sedikit membungkuk dan tersenyum hangat seraya menunjuk ke arah Naruto yang berjalan ke arah sana dimana Sekiryutei yang juga dikenal oleh Asia tengah berada. Melihat ayahnya menuju ke arah Onii-chan yang dikenalnya, Asia ingin berteriak namun gadis kecil itu melihat Hera tertawa kecil sembari memberikan isyarat dengan telunjuknya yang berada pada depan bibirnya.

Tou-chan-mu ingin mengagetkan Onii-chan. Jangan dipanggil ya.

Asia kecil yang seolah mengerti dan menafsirkan demikian hanya mengangguk riang dan ikut tertawa kecil lalu mereka berdua melihat Naruto yang semakin dekat pemuda berambut coklat yang mereka kenali.

Sementara itu pada sisi lainnya, Hyoudou Issei tengah merasakan bahagia kali ini.

Bagaimana tidak? Dia bisa berkencan dengan seseorang yang mana perhatian padanya sejak dia bergabung dengan mitologi Shinto yang mana mitologi ini juga menaungi kaum Youkai. Gadis pirang yang berada disisinya ini adalah puteri dari pimpinan Youkai dimana kaum Youkai dipimpin oleh Youkai rubah berekor sembilan. Namanya adalah Kunou dan Issei sendiri bertemu pertama kali dengan Kunou setelah minggu pertama dimana dia dibawa oleh dewa Susano'o— Sensei yang lain yang dimilikinya, ketika mereka bertandang ke kediaman pimpinan Youkai yang bernama Yasaka. Awalnya saat itu hanya perkenalan canggung yang terjadi dimana kemudian dewa Susano'o ingin berbicara serius dengan Yasaka-sama hingga meminta dirinya dan Kunou keluar ruangan untuk berbincang sekaligus mengakrabkan diri. Issei sendiri saat itu hanya diam karena dia sendiri juga bingung mau bicara apa ketika mereka berdua duduk pada beranda rumah tradisional Jepang yang ditempati oleh Yasaka-sama dan Kunou. Issei ingat bagaimana Kunou adalah yang membuka lebih dulu percakapan ketika itu dan Issei masih ingat betapa canggungnya dia dalam membalas setiap pertanyaan Kunou dimana dia sendiri takut salah ucap yang bisa membawa citra buruk pada dirinya sendiri. Dia itu mesum dan Issei sadar betapa gadis tidak menyukai orang mesum. Issei hanya tidak menyukai bagaimana dia mengacaukan dirinya sendiri kala itu.

Namun Kunou adalah gadis yang hebat. Dia mampu membawa Issei larut dalam obrolan yang mereka lakukan meski obrolan itu lebih banyak Kunou yang bicara. Selepas itu frekuensi bertemu akhirnya jauh lebih banyak lagi ketika dewa Susano'o mengatakan dia akan tinggal di rumah Yasaka-sama untuk satu tahun ke depan.

Banyak hal yang terjadi setelahnya dan dengan frekuensi mereka yang sering bertemu dan ngobrol bersama, bagaimana benih-benih cinta tidak perlahan tumbuh pada dua pasang remaja ini?

Bukankah cinta ada karena terbiasa?

Issei menyadari itu dan dengan berbekal keberanian pas-pasan yang dia miliki, Issei kemudian menyatakan perasaannya pada Kunou dan mengajaknya kencan untuk pertama kali dimana karena itulah dia dan Kunou berada disini sekarang ini. Merayakan kencan dengan menyusuri jalanan Kyoto dan melihat keramaian toko yang ada terasa menyenangkan juga.

''Kupikir ini lucu Issei-kun.'' Kunou, gadis berambut pirang yang dikuncir dengan ikatan ekor kuda berkata kepada Issei sambil menunjukkan patung Neko berwarna emas. Pakaian gadis itu adalah Yukata hitam dengan ukiran awan emas dan kelopak Sakura.

''Mau membelinya?'' Tanya Issei.

''Memang kau bawa uang lebih?'' Tanya balik Kunou padanya.

''Bawa kok. Lebih dari cukup untuk kencan yang luar biasa hari ini.'' Kata Issei dengan semangat yang disambut gelakan tawa kecil Kunou.

''Kau semangat sekali Issei-kun.''

''Yah...'' Issei terlihat menggaruk belakang kepalanya yang terasa tidak gatal. ''Aku setidaknya ingin memberikan kencan yang berkesan untukmu Kunou-chan.'' Issei memberikan senyuman tulusnya kemudian yang membuat jantung Kunou berdesir. ''Kau pantas mendapatkannya karena ini bukti kecil betapa aku mencintaimu.'' Issei tanpa sadar berkata demikian dan mendapat reaksi dimana Kunou kini bersemu merah.

Sebuah pemandangan remaja yang jatuh cinta yang luar biasa hingga suara lain mengacaukannya.

''Nah... Aku tidak tahu sejak kapan kau jadi jago membual seperti ini Issei-kun.''

Suara pria dewasa yang terdengar pada belakang Issei membuat Issei berjingkat dan menoleh ke belakang. Dia tidak merasakan ada seseorang di belakangnya tadi hingga surai pirang dan wajah yang dia sangat kenali menyapanya dengan senyuman jahilnya disana.

Oh Kami-sama...

Issei mengutuk ini karena dia merasa kencannya kali ini akan benar-benar berubah parah.

''Konnichiwa Issei-kun. Hari yang cerah huh?''

''O- Oyaji?!''


[2]


Zeus menatap nyalang pada pantulan cermin dimana cermin itu memperlihatkan lagi Hera tengah berbahagia dengan keadaannya sekarang.

Arrrggghhh! Zeus tidak menyukai ini! Tidak satupun!

Dengan kemarahan yang semakin menjadi nanti Zeus kemudian melempar gelas emasnya dan mengenai cermin yang menampilkan sumber kemarahannya hingga cermin itu pecah.

Hera tidak seharusnya bisa bahagia seperti itu. Tidak ketika bahkan dia bersama dirinya, dewi itu belum sekalipun memeperlihatkan sisi dirinya yang begitu hangat dan manis dimata Zeus.

Tidak. Hera sebenarnya sudah pernah memperlihatkan sisi itu namun tidak pernah sampai terlihat bersinar seperti itu. Hal itu karena kelakuan Zeus sendiri yang selalu mencari gara-gara dan Hera sendiri sudah berulangkali memaafkan Zeus namun hal tersebut tidak ada gunanya. Ketika semua yang dilakukan Hera kemudian tidak ada artinya, apakah dia tidak berhak bersikap egois dan mencoba mencari sumber kebahagiaan lain untuknya dimana dia sekarang menemukannnya dan Zeus tidak terima dengan itu?

Kau tidak akan pernah merasakan betapa berharganya suatu hal hingga kau benar-benar kehilangannya.

Hera telah menemukan kebahagiaannya, tapi Zeus tidak. Pikiran dewa petir itu kini selalu dirundung dengan amarah terlebih hal itu juga disebabkan dengan dia tidak lagi duduk pada tahta tertinggi Olympus.

Amarah Zeus kini sudah mencapai ubun-ubun!

Namun Zeus tidak bisa berbuat terlalu banyak hal sekarang. Dia tahu dengan mengirim Ares kemarin- yang sekarang dewa perang itu sudah mati dan digantikan oleh puterinya, dia kini diawasi lebih ketat oleh Hestia. Seperti Hestia tahu kenapa Ares bisa seperti itu dan keterlibatan Zeus didalamnya. Belum lagi dengan Hera yang sekarang berada pada wilayah Amaterasu yang merupakan sahabat karib dari Hestia.

Hah! Jika dia diawasi dan Hera berada pada tempat yang mana Zeus kesulitan menjangkaunya karena Zeus pernah menyulut kemarahan Amaterasu, Zeus harus berpikir cara lain. Menenggak Wine yang ada pada botol di meja disampingnya duduk, Zeus menghela nafasnya pelan.

Amarah ini tidak akan membawanya pada apapun. Dia melihat refleksi wajahnya dari kaca botol Wine yang dia pegang. Terdiam disana beberapa saat hingga senyuman penuh kelicikan terlihat pada wajahnya.

Dia gagal sekali tapi ini setidaknya akan berhasil.

Jika Hera bermain seperti itu dengan manusia biasa, bagaimana jika dia tahu rasanya jika prianya itu juga ternyata adalah seorang pengkhianat? Jika prianya itu ketahuan bercumbu dengan wanita lain- bukan! Lebih tepatnya dewi lain maka bukankah Hera akan menangis nanti dan dia bisa datang lagi pada Hera dengan membawa sejuta kebohongan yang membuat Hera jatuh lagi pada dekapannya?

Hohohoho... Bukankah itu rencana yang teramat bagus? Yang dia butuhkan sekarang adalah dewi yang bisa memikat pria Hera sekarang dan Zeus tahu siapa dewi itu. Lagipula dewi itu tentu saja akan menyukai ini terlebih dewi itu terkadang suka merusak hubungan orang lain. Lagipula dengan fisik dari pria milik Hera yang sekarang yang rasanya Zeus ingin mencekiknya dan menorehkan darah dari tubuhnya, Zeus yakin dewi itu akan sangat tertarik karena Zeus tahu pria milik Hera itu adalah selera dari dewi itu.

Dalam senyuman liciknya yang berubah menjadi tawa, Zeus melempar botol Wine miliknya ke belakang dan dia bersiul kemudian.

Dia akan menemui Aphrodite selekasnya.


[3]


''Kau merusak kencanku Oyaji.'' Issei mendesah kecewa dengan wajah tertekuk ketika dia dan Naruto duduk pada bangku taman. Di depan mereka terlihat Hera dan Kunou tengah bermain dengan Asia kecil yang tertawa riang.

''Onee-chan! Mama! Ayo kejar Asia!''

Naruto tersenyum ketika mendengar teriakan riang puterinya. ''Oh ayolah. Kebetulan saja kita bertemu lagi setelah dua minggu tidak bertemu Issei-kun.'' Naruto mengacak rambut Issei. ''Apa kau tidak rindu padaku?''

''Sama sekali tidak Oyaji!'' Kata Issei dengan wajah kesal. Bagaimana tidak kesal ketika Naruto-Sensei ini terlihat seperti menjelekkan dirinya di depan Kunou dengan membeberkan hal yang ingin dirinya pendam dari Kunou setelah Kunou berkenalan dengan Naruto dan Asia kecil? Untuk dewi Hera rasanya Kunou sudah kenal karena Issei tadi melihat Kunou menunduk hormat pada dewi Hera. ''Kau mengacaukan citraku di depan Kunou.'' Pundung Issei.

''Astaga, kalau kau kesal karena hal seperti itu maka itu konyol kau tahu?''

''Konyol?! Aku mungkin sekarang akan dicap pemuda mesum setelah Kunou mendengar celotehanmu itu Oyaji! Padahal aku sudah berubah daripada aku yang mesum dulu!''

''Kau yakin berubah?'' Naruto menatap mata Issei dengan serius dan Issei menghindar dari tatapan Naruto setelah ditatap beberapa lama. Itu tidak nyaman rasanya karena tatapan Naruto seperti menguliti dirinya.

''Uhm... Sedikit kurasa.'' Gumam lirih Issei yang disambut gelak tawa Naruto.

''Ahahaha... Sudah kuduga kalau kau itu sulit berubah Issei. Kau hanya malu saja kan dengan sikapmu yang terlihat jelek dimata wanita ini.'' Kata Naruto. ''Yah, setidaknya kau sudah sedikit sadar.''

''Oy! Apa-apaan sedikit sadar itu?! Aku sadar sepenuhnya ya!'' Tegas Issei.

''Kau sadar tapi tetap sableng Issei-kun.'' Ejek Naruto yang membuat Issei merengut. ''Tapi itu adalah hal yang membuatmu istimewa Issei.''

''Istimewa bagaimana? Justru aku ini jadi jelek kan?''

''Tidak Issei.'' Naruto tersenyum dan mengacak rambutnya sekali lagi. Senyum yang diberikan oleh Naruto layaknya seorang kakak pada adiknya. ''Justru menjadi normal terkadang membuat bosan. Kau harus berbeda. Lagipula Ojou-chan rubah itu tidak terlihat risih setelah aku membeberkan hal burukmu padanya.'' Tambah Naruto yang juga mengetahui siapakah Kunou sebenarnya.

''Kenapa kau yakin sekali akan hal itu Oyaji?'' Issei bertanya ragu.

''Karena aku melihat senyum dan tawa tulusnya untukmu Issei. Itu bukanlah senyuman risih dan canggung dan itu tidak dapat dipalsukan.'' Kata Naruto yang membuat Issei tertegun. ''Jaga dia Issei-kun meski kau harus mempertaruhkan segalanya karena aku tahu dia juga akan melakukan hal yang sama untukmu.''

''Kau seperti peramal saja Oyaji.''

''Kau akan mengerti nanti Issei.'' Kata Naruto dan dia terdiam. Issei juga ikut terdiam dan terlihat mengeluarkan senyuman kecil disana ketika dia memandang Kunou yang merangkai rumput liar untuk dibuat gelang bagi Asia kecil sementara Asia kecil dipeluk oleh Hera dari belakang dan didudukkan pada pangkuan dewi tersebut.

Hal itu terlihat begitu indah dimata Issei dan Issei membayangkan jika seandainya Hera tergantikan oleh dirinya dan Asia tergantikan oleh anaknya dengan Kunou.

Apakah hal itu bisa tercapai untuknya?

''Nee Issei.'' Naruto kemudian memanggil Issei yang membuat pemuda itu tersadar dari khayalannya dan menoleh pada Naruto.

''Apa Oyaji?'' Issei terlihat bingung ketika Naruto melihatnya dengan tatapan serius dan menanyakan hal yang mengubah hari Issei ketika itu.

Hari yang bahagia itu kemudian berubah menjadi kelam ketika Issei kemudian mengingat hal yang tidak ingin dia ingat.

Karena dia ingin hidup dengan penuh arti tanpa penyesalan sebelum tiba saatnya nanti.

''...Bagaimana dengan kutukan yang kau terima pada satu bulan lalu Issei? ''


[...To be Continue?...]


Aku menyebalkan ya? Sudah sangat jarang update, begitu update malah nambah misteri aja! Sialan kau Author! Plaak! T.T

Yup melanjutkan kembali kisah kecil ini tidaklah mudah. Aku harus mencari waktu yang benar-benar tepat untuk menulis kelanjutan kisah ini karena kisah ini adalah kisah yang ingin aku ceritakan bahwa ini adalah kisah yang berbeda. Aku bosan dengan hal pasaran karena itulah aku mencoba mencari hal baru! Harap maklum ya!

Terima kasih untuk para pembaca yang sudah sabar menunggu selama ini. Dengan terbitnya chapter ini kuharap aku bisa melanjutkan lagi apa yang tertunda dari kisah kecil lainku untuk kalian. Terima kasih untuk semua dukungan kalian selama ini dan tetaplah ramaikan fanfiksi Indonesi dengan karya-karya kalian untuk para Author baik pemula ataupun yang sudah berada sangat jauh diatas pemula sepertiku. Aku menyayangi kalian.

Terima kasih juga reviewnya ya...

Riesa Afiela Out~