"Gadis kecil kau menunggu siapa?"

Suara lembut yang merdu menyapa seorang gadis kecil yang berdiri di depan akademinya yang terletak di Kyoto. Sebuah akademi terkenal dimana anak gadis berambut pirang dengan mata Emerald besar bersekolah disana dan kini sudah saat jam pulang dimana dia tengah menunggu didepan akademi tanpa ditemani siapapun.

Awalnya gadis kecil itu tidak sendiri. Tadi ada banyak temannya menunggu jemputan disini bersama dirinya dan mereka sudah saling dijemput duluan jadi disinilah dia sekarang sendirian menunggu jemputan sang mama.

Gadis kecil itu menoleh dan yang dilihatnya bisa gadis kecil itu katakan adalah wanita tercantik yang dia lihat ketiga setelah mendiang mamanya dan mama barunya sekarang.

Rambut pirang seperti dirinya namun ikal dengan jepit bunga-bunga kecil putih. Hidung mancung dan bibir tipis tapi merah. Kulit wajah yang begitu bersih. Baju dress one piece selutut berwarna biru dengan paduan cardigan putih.

Kakak ini cantik sekali ya. Pikir gadis kecil itu sebelum kemudian melihat sekeliling. Tou-chan dan mama Hera berkata kepadanya untuk tidak bicara kepada orang asing jika dia sendirian. Takutnya terjadi apa-apa dan gadis kecil itu menurutinya jadi dia hanya diam disana sementara wanita yang menyapanya terlihat memberikan ekspresi bingung diwajahnya sebelum kemudian wanita itu cepat sadar akan kenapa dia didiamkan begitu saja ketika dia bertanya.

"Aku bukan orang jahat kok. Aku cuma penasaran kenapa gadis kecil manis sepertimu berdiri disini sendirian sementara sekolah sudah sepi." Kata wanita itu lagi dan kemudian mengambil sesuatu dari tas yang dibawanya. Itu adalah sebuah tanda pengenal untuk seorang guru diakademi dimana gadis kecil itu belajar. "Aku baru selesai melamar pekerjaan disini gadis kecil dan aku diterima jadi besok aku akan mengajar disini." Tambahnya sambil memperlihatkan lebih dekat tanda pengenal barunya yang dibaca gadis kecil itu sebelum kemudian gadis kecil itu mengangguk pertanda mengerti dan menyimpulkan bahwa wanita ini bukanlah orang jahat.

Bisa jadi wanita cantik ini akan jadi gurunya nanti jadi gadis kecil itu kemudian baru mau bicara. "Maaf Onee-chan tadi pikir Onee-chan orang asing jadi Asia tidak menjawab. Tou-chan dan mama melarang Asia bicara dengan orang asing. Maaf ya Onee-chan." Kata Asia yang kemudian disambut dengan senyuman oleh wanita cantik tersebut yang kemudian menunduk agar terlihat sejajar dengan gadis kecil itu.

"Gak papa kok gadis kecil. Itu hal yang normal." Kata wanita itu lagi dengan ramah. "Jadi sedang menunggu siapa? Kok sendirian?"

"Sedang menunggu mama. Biasanya Asia dijemput oleh mama Onee-chan."

"Oh begitu? Lalu kenapa kok belum dijemput sekarang?"

"Mungkin masih di kedai Tou-chan membantu Tou-chan di kedai." Balas Asia sambil menoleh ke arah jalanan. "Mungkin sebentar lagi mama sampai."

"Kalau begitu mau Onee-chan temani menunggu mamamu?" Kata wanita cantik itu. "Gak baik lho nunggu sendirian."

Asia— gadis kecil itu terlihat berpikir sebentar. Itu boleh. Lagipula sendirian saja terasa tidak menyenangkan bagi Asia.

Jadi gadis kecil itu kemudian mengangguk kepada wanita cantik itu yang kemudian tersenyum manis pada Asia. "Mau duduk di sana?" Wanita cantik itu menunjuk sebuah halte yang terdapat tempat duduknya dan gadis kecil itu kemudian mengangguk lagi dan disinilah mereka berdua berada kemudian.

Duduk bersebelahan dengan si gadis kecil duduk sambil mengayunkan kakinya.

"Asia kelas berapa sekarang?" Tanya wanita cantik itu lagi sambil mengambil permen lolipop dari tasnya dan menyodorkannya kepada gadis kecil tersebut. "Mau?"

Asia, gadis kecil itu menggeleng. Dia tidak suka lolipop karena itu merusak giginya. Lagipula Asia bukanlah penggemar permen. "Asia kelas dua Onee-chan." Balas Asia sambil melihat permen lolipop yang Asia tolak dibuka bungkusnya dan dimakan sendiri oleh wanita cantik itu. Wanita cantik itu sepertinya adalah seorang penyuka permen.

"Oh kelas dua. Aku akan mengajar kelas itu lho Asia." Balas Wanita cantik itu yang membuat Asia melihat wanita cantik itu dengan tatapan kaget.

"Eh benarkah?"

"Kenapa? Kaget ya?" Balas wanita cantik itu sambil kemudian tertawa kecil yang terdengar lembut ditelinga Asia persis seperti tawa mama Hera. "Kamu mungkin akan bertemu dan kuajar lho besok."

"Memang Onee-chan mengajar apa?"

"Matematika." Wanita itu menjawab yang dihadiahi tatapan mata berbinar Asia. "Asia suka matematika ya?"

"Eh Onee-chan kok tahu?"

"Tahulah. Kan kelihatan banget." Kata wanita cantik itu lagi yang membuat wanita cantik itu terlihat gemas dengan gadis kecil itu. Gadis kecil ini lucu sekali. "Besok panggil aku Sensei ya Asia."

"Iya Onee-chan. Hehehe.. siap Sensei!" Balas Asia lagi dengan gaya hormat yang membuat wanita cantik itu sukses tertawa renyah dengan tingkahnya yang menggemaskan.

Wanita cantik itu kemudian berbicara banyak kepada Asia. Mengatakan bahwa dirinya bukanlah warga asli Kyoto tapi dia berasal dari Amerika dan kemudian berpindah ke Jepang karena keluarga juga menceritakan banyak cerita petualangan wanita itu dalam menjelajahi Jepang dalam sarana rekreasi yang terkadang membuat Asia takjub karena beberapa tempat belum pernah sepertinya dikunjungi oleh Asia.

Mereka berbincang hingga tanpa sadar ada wanita lain yang mendekat dan kemudian memanggil Asia.

"Asia?"

Yang dipanggil sontak menoleh dan mendapati orang yang dia tunggu, mamanya berdiri dengan senyuman disana yang sontak membuat Asia berlari dan langsung memeluknya.

"Mama!"

Huph!

Wanita itu kemudian membalas pelukan Asia dan melihat putrinya tengah dalam keadaan gembira. Dia kemudian melihat ke arah wanita cantik yang sudah berdiri dari tempat duduknya tersebut dan tersenyum pada mama Asia— dewi Hera.

"Anda mama Asia?" Tanya wanita cantik itu yang kemudian dibalas dengan senyuman Hera sembari mengandeng Asia.

"Iya. Dan anda?" Tanya Hera. Sebenarnya Hera sedikit curiga ketika dia mendapati Asia berbicara dengan wanita asing yang terlihat bukan merupakan staf akademi terlebih itu adalah wanita yang sangat cantik sekali. Hera meyayangkan dirinya harus telat menjemput Asia tapi karena Naruto sendiri tengah sibuk dengan segel Fuin yang dia kerjakan untuk segera membantu Sekiryuutei dan Hera tadi sedang sedikit sibuk dengan persediaan kedai karena Naruto membuka kedai ramen juga di Kyoto jadi dia sedikit terlambat menjemput Asia.

"Oh. Aku Alexia. Diophra Alexia." Wanita cantik itu memperkenalkan dirinya kepada Hera dan kemudian menunjukkan lagi kartu staf pengajar akademi yang baru dia terima yang kemudian dipandang oleh Hera dan paham bahwa wanita ini adalah salah satu staf di akademi dan kemungkinan Hera adalah staf baru karena Hera belum pernah melihatnya sebelumnya. "Aku baru melamar dan diterima diakademi ini jadi aku akan mengajar disini." Kata Alexia— wanita cantik itu kemudian yang membenarkan tebakan Hera sendiri. "Tadi aku melihat Asia sendirian. Aku tidak tega takutnya dia kenapa-kenapa jadi aku mau menemaninya sekalian menyapanya karena besok aku sudah akan mengajar kelasnya. Hitung-hitung perkenalan dulu."

"Oh..." Hera mengangguk dan tersenyum. Wanita ini akan jadi guru baru di akademi Asia dan dia mau menemani Asia karena melihat Asia sendirian. Dia adalah wanita yang baik sepertinya. "Terima kasih untuk perhatian anda pada putri saya." Kata Hera "aku Venusa Hera. Mama Asia. Senang berkenalan dengan anda Diophra-san."

"Oh jangan panggil aku dengan nama depanku. Aku sedikit malu mendengarnya. Panggil saja Alexia." Tawa kecil keluar dari Alexia lagi. Itu terdengar merdu.

"Kalau begitu anda bisa panggil aku Hera, nona Alexia."

"Tentu nona Hera." Balas Alexia lagi. "Sepertinya karena mamamu sudah menjemputmu maka aku pamit dulu ya Asia." Kata Alexia kepada gadis kecil yang melihat dia berinteraksi dengan mamanya.

"Eh Xia Onee-chan mau pamit pulang? Padahal Asia mau nawarin makan ramen di kedai Tou-chan sama mama." Balas Asia yang membuat Alexia tersenyum.

"Lain kali saja ya kalau begitu Asia."

"Yah…" Nada kecewa keluar dari Asia. "Padahal Asia masih mau dengar cerita Xia Onee-chan."

"Besok ya lanjutannya sekalian biar teman Asia yang lain juga dengar." Alexia membalas demikian yang kemudian disambut anggukan kecil Asia sebelum Alexia berpaling kepada Hera. " Putri anda menawariku ramen dikedai anda dan suami anda tadi."

"Iya. Dan aku akan senang juga anda menerimanya sebagai ucapan terima kasih karena perhatian anda kepada Asia dan mau menemaninya hingga aku menjemputnya tapi sepertinya anda sedang terburu-buru."

"Ah iya. Aku ada keperluan lain."

"Bagaimana jika lain kali nona Alexia?" Tawar Hera yang disambut dengan anggukan Alexia.

"Mungkin aku bisa meluangkan waktu untuk itu. Sekalian dekat dengan gadis manis ini yang penasaran dengan lanjutan ceritaku." Tawa kecil Alexia terdengar yang disambut dengan balasan tawa kecil juga dari Hera.

"Dia memang selalu penasaran kok. Mungkin anda akan dipaksa untuk selalu bercerita hal baru nanti." Kata Hera sambil kemudian mengelus rambut puterinya dengan lembut sekali.

"Mungkin." Balas Alexia lagi sambil kemudian melirik jam "Aku harus pergi nona Hera. Senang berkenalan dengan anda." Kata Alexia yang lalu kemudian bergerak menoel hidung kecil Asia. "Kamu juga gadis manis." Yang disambut dengan cekikikan geli Asia.

"Silahkan nona Alexia." Hera mengiyakan.

"Bye-bye Xia Onee-chan." Kata Asia yang membuat Alexia tersenyum dan membungkukkan sedikit badanya sebelum beranjak pergi dari sana meninggalkan Asia dan Hera yang melihat kepergian wanita cantik hingga dia hilang dari pandangan ketika berbelok pada suatu jalan.

"Ayo pulang Asia." Ajak Hera kepada putrinya ini.

"Hu.um!"

Ibu dan putri angkatnya itu kemudian terlihat pergi beranjak dari halte tempat mereka kemudian.


[2]


Hyoudou Issei— Sekiryuutei masa kini itu tengah berjalan pada lorong rumah tradisional Jepang menuju ke tempat tujuannya.

Tuan Susano'o dan dewi Amaterasu memintanya untuk datang ke tempat ini dan meminta bertemu dengannya secara pribadi.

Dia sampai pada ruangan yang dimaksud. Ada Youkai lain yang berdiri di depan pintu ruangan dan memberinya salam hormat sebelum kemudian mengatakan untuk dirinya masuk karena sudah ditunggu.

Issei kemudian mendapati tuan Susano'o dan dewi Amaterasu tengah duduk pada sebuah tatami dengan meja kecil yang ada teh tersaji disana. Ketika mereka melihat Issei masuk pandangan mereka beralih pada Sekiryuutei masa kini tersebut.

"Issei."

"Issei-kun"

Dua dewa dan dewi dari mitologi Shinto itu menyapanya dan Issei kemudian menundukkan tubuhnya memberi hormat kepada dewa dan dewi yang dia hormati. "Dewi Amaterasu. Sensei."

"Duduklah Issei." Susano'o menunjuk tempat untuk Issei duduk dimana itu berhadapan dengan kedua dewa dan dewi tadi. Issei menuruti apa yang dikatakan Susano'o dan duduk dengan sopan.

"Bagaimana kabarmu belakangan ini Issei-kun?" Tanya Amaterasu pada Issei. Yah dibanding Susano'o, Amaterasu sendiri jarang sekali bertemu dengan Issei jadi dewi itu wajar menanyakan kabar pemuda Sekiryuutei tersebut.

"Kabarku baik dewi Amaterasu." Balas Issei pada dewi cantik dengan rambut hitam yang berpakaian kimono awan emas yang duduk pada hadapannya ini. "Dewi sendiri bagaimana?"

"Baik juga hanya sayang kepalaku cukup pening karena ada hal yang cukup mengangguku." Kata Amaterasu yang kemudian memandang Susano'o dan dewa itu mengangguk dan berbalik memandang Issei lagi. Pandangan yang menyiratkan bahwa dewi itu akan bicara hal yang serius sekali dengan Sekiryuutei kali ini. "Issei-kun, apakah kau tahu bahwa kota Kuoh sebenarnya adalah milik mitologi Shinto beserta semua daerah Jepang?"

"Tentu dewi. Itu sudah pernah dikatakan oleh Sensei." Issei merujuk pada Susano'o. "Dan dewi Hera padaku."

"Lalu apakah kau tahu bahwa kami hanya meminjamkan daerah kota Kuoh kepada pihak iblis?"

Kali ini Issei mengangguk dan kemudian Amaterasu yang melihat itu mengambil cangkir teh yang ada pada hadapannya, menyesapnya sebentar sebelum meneruskan lagi ucapannya.

"Mereka kupikir bertindak kurang ajar lagi kali ini Issei-kun." Kata Amaterasu yang memancing rasa penasaran Issei. "Setelah kasus mereka di kota Kuoh yang membuatku murka karena pihak iblis mengijinkan pihak malaikat datang kesana tanpa pemberitahuan dari mereka dan kemudian pihak malaikat jatuh akan melakukan hal yang berbahaya, tindakan mereka dimana itu bisa menimbulkan gesekan yang bisa berakibat pada pertikaian mereka sebenarnya tidak bisa kumaafkan." Apa yang dikatakan dewi Amaterasu merujuk pada kisah Issei di kota Kuoh selama ini dimana malaikat jatuh bebas berkeliaran, Exorcist yang datang tanpa pemberitahuan kepada mitologi Shinto dan juga tentang pertikaian mereka yang berakhir dengan matinya salah satu Exorcist gereja dan terlukanya adik dari Maou yang membuat tiga pihak dari pihak Bible kini memanas. Untung saja setelah menghabisi Kokabiel, Naruto sempat mengembalikan Irina Shidou dan Rias Gremory ke akademi Kuoh. Ketika mereka berdua— Irina Shidou dan Rias Gremory sadar, mereka mengatakan bahwa yang menculik mereka bukanlah Sekiryuutei jadi itu mematahkan tuduhan akan Issei yang katanya terlibat dalam penculikan Rias Gremory dahulu.

Mereka dulu baru berbuat ulah sekarang berbuat ulah lagi?

"Mereka meminta maaf dan meminta agar kota Kuoh masih bisa dipinjamkan. Negosiasi berjalan dengan alot tapi aku memberi satu kesempatan lagi kepada mereka dengan meminta mereka berjanji untuk lebih menjaga apa yang sudah dipinjamkan kepada mereka tapi mereka sepertinya senang sekali mencari gara-gara." Mata dewi Amaterasu berkilat. Dewi itu marah. "Aku meminta agar mereka memberikan iblis yang kompeten daripada remaja labil mereka tapi mereka malah mengirim iblis remaja lagi dan bahkan membuat salah satu Youkai berubah menjadi iblis. Aku tidak membiarkan Youkai menjadi iblis setelah insiden dengan ras Nekomata yang membuatku terus menyesali keputusanku dahulu tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya."

Issei yang mendengar cerita Amaterasu kemudian menegakkan dirinya lebih tegak lagi. "Dewi?"

"Issei-kun aku akan mengirim Kunou untuk mengatakan bahwa mereka telah berbuat jauh kali ini dan membawa ucapanku bahwa kota Kuoh akan ditarik dari pihak iblis juga akan meminta Kunou untuk membawa Youkai yang sudah menjadi iblis itu kembali ke Kyoto. Aku ingin mengirim Youkai yang lebih berkompeten tapi aku sedang ada perombakan besar di wilayah Kyoto saat ini jadi aku hanya bisa mengirim Kunou dan beberapa Youkai lainnya. Aku memintamu Issei-kun. Maukah kau juga ikut menemani Kunou karena kupikir kalian dekat? Lagipula ini saatnya untuk mengenalkan iblis bahwa Sekiryuutei saat ini berada di bawah mitologi Shinto." Jelas Amaterasu. "Kau menerimanya bukan?"

Menerima? Jelas dia terima setelah mendengar ucapan dewi Amaterasu bahwa Kunou juga akan pergi. Dia tidak bisa membiarkan Kunou berada diwilayah iblis apalagi di kota dimana dia memiliki kenangan buruk dengan para iblis tersebut. Issei tentu akan tenang jika dia juga menemani kekasihnya dan benar juga ucapan dewi Amaterasu bahwa ini saatnya dia untuk muncul lagi dengan dukungan dari pihak mitologi tanah airnya. Dia kini punya dukungan dibelakang dimana dia tidak perlu lari lagi jika dia dituduh tidak2 oleh pihak iblis.

Issei yang telah mendengar ucapan Amaterasu kemudian tersenyum. Inilah saatnya. Dengan mantap dia kemudian menjawab.

"Dengan senang hati dewi."


[3]


Diophra Alexia— wanita cantik yang tadi bicara dengan Asia dan Hera menurunkan senyumnya ketika dia sudah berjalan cukup jauh dari tempat bertemu dengan pasangan ibu dan anak tersebut. Hal itu dilakukannya tepat setelah dia berbelok di gang yang membuatnya menghilang dari pandangan Asia dan Hera.

Tidak adil!

Tidak adil!

Tidak adil!

Hal itu terpikir setelah dia melihat bagaimana Hera bisa mendapatkan putri kecil yang begitu menggemaskan dan bagaimana raut wajah bahagia Hera ketika bertemu dengan puteri angkatnya itu. Bagaimana rasa kasih sayang dari Hera— dewi pernikahan Olympus itu menyeruak memenuhi udara seakan membuatnya merasa sesak sekali.

Tidak adil!

Hera tidak pantas bahagia seperti itu. Dia rasa itu tidak adil untuk dewi tersebut. Alexia sebenarnya ingin langsung merebut lelaki Hera namun dia ingin juga melihat dahulu hubungan Hera dan pria pirang yang saat ini bersama Hera dan juga putri kecilnya tersebut lebih dekat dan dia menyesal melihatnya karena itu justru menimbulkan keirian kepada dirinya.

Tapi sebenarnya pertemuannya tadi juga memberinya sedikit informasi bahwa puteri kecil itu tadilah yang akan menjadi kunci dari Alexia dalam merebut pujaan hati Hera. Tidak salah jika dia melamar pekerjaan pada akademi untuk lebih dekat Asia. Sekarang hanya tinggal dia bermain sabar dahulu sebelum bertindak.

Alexia kemudian memasuki gang sepi dan kemudian tubuhnya bercahaya.

Dia akan mencoba dekat dengan Asia dan juga Hera untuk lebih mengenal pria pirang bernama Naruto tersebut. Jika sudah dalam keadaan Hera lengah maka dia tahu kapan dia akan bertindak untuk memanfaatkan kelengahan Hera untuk tidur bersama Naruto dan nantinya akan merusak hubungan Naruto dengan Hera dalam wujud Alexia. Ya… itu akan menjadi rencana yang sempurna karena dalam wujud ini pula dia tidak akan diketahui Hera karena artifak gelang yang dipakainya mengubah aura dewinya menjadi manusia secara seutuhnya. Tidak seperti dia menggunakan wujud manusianya yang masih menyisakan aura seorang dewi sama seperti yang digunakan Hera. Dia tidak sabar melihat ekspresi Hera nantinya saat hubungannya telah rusak.

Cahaya yang menyelimuti tubuh Alexia kemudian meredup dan menampakkan wanita yang berbeda. Dia jauh lebih cantik lagi dengan rambut lurus kehitaman dan aura dewi yang menyeruak.

Tawa kecil kemudian terdengar dan mata Hazel bening itu kemudian menatap langit.

Alexia— dia tidak lain adalah sejatinya nama samaran dari seorang dewi.

Dewi Olympus yang memegang kuasa atas cinta dan nafsu.

Dia tidak lain adalah Aphrodite.

Dan dia akan begitu bangga ketika rencananya untuk membuat hidup Hera menjadi berantakan berhasil nantinya.


[Dewi licik yang mulai bergerak selesai.]


Ah…. Maaf untuk lama tidak update… Aku habis menderita sakit dimana aku tidak bisa merasakan penciumanku bekerja secara normal juga. Lalu dengan banyaknya aktifitas aku sedikit merasa lelah kemarin hingga mengakibatkan diriku untuk menjalani istirahat sepenuhnya.

Maafkan aku untuk itu ya.

Dengan chapter ini aku ingin memberitahukan bahwa aku melanjutkan lagi kisah dari Hera dan Naruto. Hal ini kulakukan karena kupikir kalian akan menyukainya karena aku ingin membuat drama yang menarik nantinya.

Terima kasih untuk setiap review yang kalian berikan kepada setiap tulisanku. Aku sangat menghargai itu semua dan mengucapkan banyak terima kasih. Dukungan kalian akan selalu jadi penyemangatku.

Dan aku ingin mengatakan ini walau sepertinya lupa kutulis pada kisah Re ; Last Adventure.

Untuk nama pena kita dahulu Sora dan Shiro. Teman… aku merindukanmu. Semoga kau tersenyum disana dan semoga kisah kita akan menjadi kenangan dalam dunia imajinasi yang menakjubkan.

This time… I will make it to the end for you.