[that film]

"Ada apa dengan kantung mata itu?" tanya Narita sesaat setelah mereka berlima mendudukkan diri di meja kantin.

Nishinoya spontan mengalihkan perhatian penuh pada Tanaka. Gari gari-kun terlepas dari cengkeramannya dan berpindah aman kini di hadapan Ennoshita. Ennoshita hanya menggerutu pelan dan mendorong ice-cream biru itu kembali.

"Woah, Ryū. Kau sekarang panda!" katanya kelewat antusias.

Tanaka melotot.

Kinoshita meredam tawa di balik punggung tangan. Menyuapkan sesendok kuah kari meski jelas terdengar dia baru saja tersedak. Ennoshita menyenggol bahunya.

"Aku yakin ada yang lebih mirip dibanding panda." Narita menggoda.

Tanaka mengusap wajahnya kasar. Dia duduk lebih tegak dan menenggak minum, es membantu menghilangkan sedikit kabut kantuk. "Jadi aku menonton film ini." Dia membuka cerita.

"Kisah seorang pria yang menculik anak-anak kecil di desa dan menjadikan mereka seperti hewan ternak."

"Bagaimana itu?" Kinoshita tampak tertarik. Dia mencondongkan tubuh.

Narita di sisi lain tampak memberi sedikit perhatian. Alisnya menukik tajam. Ennoshita harus menerima nasib malang menjauhkan satu-satunya yang bertubuh paling mini di antara mereka yang beringas menusuk kentang gorengnya dengan sumpit. Beruntung, Ennoshita berhasil menangkis dengan bekas tangkai ice-cream pria itu sendiri.

"Yah, agaknya ini film bertema psikopat. Dan jujur melihat itu membuatku mual."

"Mengerikan kalau gitu," komentar Kinoshita.

"Aku bahkan tidak bisa menutup mataku karena terus terbayang."

Tanaka mengingat waktu terakhir ia menyelam ke alam mimpi. Ia praktis dibuat sadar-sesadarnya karena rasa kantuk enggan menghampiri hingga pukul dua. Dia tersiksa. Mengucapkan sumpah untuk tidak pernah menonton film itu lagi. Percaya atau tidak, ia mengambil rute terjauh menuju sekolah, menghindari peternakan sapi yang dia tahu sering lewati. Jujur, itu konyol.

"Tidak heran kau seperti baru kembali dari perang dunia."

"Aku takut menutup mata. Rasanya setiap kali berkedip, bayangan bocah yang dijahit dengan kulit kambing dan kuda menghantuiku," kesah Tanaka.

"Jangan berkedip kalau begitu."

Mereka menoleh ke Libero bernomor punggung empat mereka, Tanaka mengambil inisiatif cerdas mengikuti sarannya.

.

.

.

Suara tamparan keras menggema diikuti, "Hentikan tampang menjijikkanmu itu!"