[chibihiko]
"Aku dalam masalah."
Ennoshita mengintipnya sedikit dari atas buku yang tengah dibaca, menampilkan Tanaka dalam keadaan kurang layak. "Ya?"
Suara hempasan tubuh yang tidak bisa dibilang pelan–pustakawan menatap tajam dari balik meja–menciptakan kerutan tajam di dahi Ennoshita. Dia mencoba bergeser menjauh dari tekanan yang diberi Tanaka pada siku kirinya. Masih terfokus pada bacaan di tangan.
"Kau ingat Chibihiko?"
"Tidak," jawabnya spontan. Masih enggan membagi perhatian bahkan jika itu Tanaka yang menggelepar di bangku sebelahnya. Ennoshita mendengar erangan di sampingnya.
"Pendek. Rambutnya seperti rumput laut dan– ah! Yang giginya lebih maju dari hidungnya!"
Penggambarannya mengerikan.
Ennoshita memutar ingatan untuk mencari sosok yang sesuai dengan yang dideskripsikan Tanaka. "Maksudmu Sagoui Mahiko?" Bayang-bayang pemuda pendek dengan rambut ikal hijau dan berkaca mata menyelinap. Ennoshita paling ingat dengan bintik-bintik di wajahnya, seperti salah satu junior mereka tapi dalam jumlah yang lebih banyak.
"Dia!"
Ennoshita terlonjak. Pustakawan membisikkan ssst-an panjang dan melotot. Lagi.
"Ada apa dengannya?" tanyanya dengan malas.
Tanaka mencondongkan tubuh sampai dadanya menyentuh lengan Ennoshita. Ekspresinya tampak serius.
"Pagi ini aku tidak sengaja lewat di depan kelasnya–
Ennoshita mencibir di kata 'tidak sengaja'.
"Dan berpapasan dengannya saat dia hendak keluar dari kelas. Dia mengacungkan jari tengahnya padaku, jadi aku menarik kerah bajunya karena kesal. Dan..."
Dia berhenti.
"Dan?" pancing Ennoshita.
"Dan dia entah bagaimana terdorong."
Ennoshita menaikkan alis.
"Wajahnya menghantam dinding."
.
.
.
"Giginya copot kau tahu."
