No 1 | #2
"iya, aku mengingatmu dengan jelas. Terimakasih telah kembali dan menunjukkan bahwa kau baik-baik saja meskipun dengan keadaan yang berbeda."
Ucapan Jungwoo beberapa hari lalu masih terus terngiang di telinga Lucas. Sejak saat itu, Lucas yang semulanya mengalami susah tidur menjadi lebih tenang. Masih ada yang mengingat dirinya. Bukan, bukan karena itu. Tapi karena Jungwoo, orang terakhir yang dia miliki saat ia berada di titik terendah, masih mengingatnya. Meskipun ia sama sekali belum membuka pembicaraan lagi dengan si perempuan setelah malam itu. Jungwoo tengah disibukkan dengan hari demonya yang akan dilaksanakan esok hari.
.
.
.
"Jungwoo-ya, apakah bagianmu sudah selesai? Kita harus sync ulang karena milik Jeno tadi ada perubahan." Tanya Jaemin dengan tangannya yang masih sibuk menyiapkan untuk proses sinkronisasi ulang. Jungwoo mengangguk mantap, membuat Jaemin bernafas lega.
"Aku akan memulai sync. Semoga baik-baik saja." ucapnya.
Proses ini hanya memakan waktu paling lama 10 menit, masih cukup Panjang dengan sisa waktu 30 menit sebelum hari demo dilaksanakan.
"Aku ke toilet dulu," Jungwoo meminta izin pada Jaemin yang kemudian diangguki olehnya. Jaemin adalah ketua tim pengembang meskipun posisi utamanya adalah seorang UI/UX desainer. Kemampuannya di bidang lain cukup mumpuni, itulah yang membuatnya dijadikan sebagai ketua tim.
Jungwoo berjalan menuju toilet dengan menunduk, mencoba menggulung lengan kemejanya. Tanpa ia sadari, ia melewati begitu saja Lucas yang berpapasan dengannya, terlebih lagi sudah memberikan senyum bahagianya. "Kau menjauhiku atau memang aku tidak terlihat di matamu?" pertanyaan Lucas berhasil mencuri atensi Jungwoo. Perempuan itu berhenti, menoleh ke sumber suara. "Maafkan saya, saya cukup gelisah hari ini. Saya permisi," Jungwoo langsung pergi lagi.
Tidak lama perempuan itu keluar dari toilet perempuan, ia dikagetkan dengan sosok laki-laki jangkung yang dengan setia menantinya di dekat toilet. Laki-laki itu kini membawa tas kertas yang entah apa isinya. Menyodorkannya pada Jungwoo segera setelah perempuan itu berada di jangkauannya. Jungwoo tentu saja kaget, atasannya ini selalu saja melakukan hal-hal diluar dugaan, "untuk saya?" tanyanya. Lucas mengangguk. Diterimanya tas kertas itu, kemudian dilihatnya isinya. Beberapa coklat dan jus serta obat herbal. Jungwoo mengernyitkan dahi, "untuk apa ini?"
Lucas menghela nafasnya,"Makan coklat ini sebelum presentasi, katanya coklat bisa menaikkan mood dan kandungan gulanya juga bisa mengurangi rasa gugupmu. Ada Jus, aku melihatmu berhari-hari hanya meminum kopi pahit karena membutuhkan kafeinnya. Lalu ada obat herbal, minumlah sebelum istirahat. Tubuhmu bukan mesin." Jungwoo tersenyum, mengucapkan terimakasih walaupun sangat pelan.
"Sangat cantik."
Lucas tidak bisa memalingkan pandangannya dari perempuan di depannya. Ia terpana melihat senyuman gadis itu. "Permisi, saya harus bersiap-siap. Sekali lagi terimakasih," Jungwoo pergi meninggalkan Lucas yang masih berdiri seperti orang bodoh.
.
.
.
Seminggu setelah hari demo, pekerjaan Jungwoo mulai habis. Tim itu sudah bisa beristirahat, menantikan hasil dari pekerjaannya beberapa bulan ini.
"Bagaimana jika nanti malam makan bersama di rumahku?" Ajak Doyoung. Semuanya berpandangan, ini pertama kalinya Doyoung mengizinkan rekan kerjanya masuk ke rumahnya yang selalu ia ceritakan angker.
"Kau butuh tumbal, ya?" tanya Jeno menyelidik. Sang pemilik rumah langsung memasang ekspresi masamnya. Rasanya seperti benar-benar ingin menjadikan Jeno tumbal di kendang buaya. "Ayo, aku akan mengajak Mr. Wong karena proyek ini berhasil atas bantuannya. Mau ya?" Doyoung bersikeras mengajak timnya. Semuanya akhirnya mengangguk, menyetujui ajakan Doyoung. Siapa juga yang akan menolak makan gratis bukan?
Malam harinya, Jungwoo sudah berada di dapur Doyoung. Membantu sang pemilik rumah menyiapkan hidangan utama dan beberapa camilan. Menu makan mala mini steak daging sapi korea, karena tidak akan ada yang menolak hidangan tersebut. Jungwoo juga datang membawa cake, karena ini juga ia anggap sebagai perayaan atas proyek mereka tentu saja. Untung saja ia tidak membeli cake strawberry karena Jaemin tidak menyukainya. Ia ingin semuanya makan dengan baik.
Seperti perkataan Doyoung, Lucas datang. Ia membawa sebotol wine sebagai hadiah. Tentu saja akan langsung disajikan. "Hai, kau datang?" sapa Lucas pada Jungwoo yang tengah sibuk menata meja makan. Jungwoo kaget, atasannya ini tiba-tiba berbicara santai padahal di situ sudah ada Jeno dan Jaemin yang sibuk dengan game mereka. Jungwoo hanya tersenyum, mengangguk.
"Astaga. Serangan dopamine lewat."
Doyoung sebagai tuan rumah kini telah rapi. Ia memakai celana kain berwarna gelap dan kaos berkerah berwarna krem, padahal tadinya ia seperti gelandangan yang menggunakan boxer dan kaos dalam kebesaran. "Ini dia bintang utama pesugihan kita," celetuk Haechan saat Doyoung turun dari kamarnya di lantai atas. Dengan cepat wajah tampan itu berubah masam, seperti ingin menelan habis Haechan hingga ke jiwa-jiwanya. Jungwoo, sebagai anggota paling baru dalam tim ini hanya bisa tertawa kecil. Ia mengagumi semuanya, selain karena aplikasi buatan mereka, namun juga kerja sama tim mereka. Sangat seperti keluarga. Jungwoo tidak menyesal, ia tidak menyesal karena telah menolak perusahaan-perusahaan lain.
"Karena proyek ini sudah terlaksana dengan baik, sekarang kita harus bersenang-senang!" Doyoung memimpin meja makan. Tangannya dinaikkan, membawa segelas wine yang tadi dibawakan oleh Lucas. Begitu pula yang lainnya, ikut mengangkat gelasnya masing-masing.
"Terimakasih, Lucas, sudah membantu kami meneken kontrak itu. Terimakasih sudah mempertahankan Blindmouth hingga sekarang." Lanjut Doyoung. Lucas hanya tersenyum, seperti biasa. Mereka bersulang, merayakan kebahagiaan atas pencapaian yang mereka dapatkan. Hasil kerja keras tanpa henti mereka. Mereka mulai memakan hidangan utama. Makan dengan khidmat, meskipun dengan diselingi beberapa obrolan ringan.
Makan malam selesai, kini giliran Jaemin dan Jeno yang membantu membersihkan meja makan. Sedangkan yang lain, mereka sibuk menjelajah rumah Doyoung yang sebelumnya tidak pernah pemiliknya perbolehkan untuk dikunjungi. Semuanya selalu berpikir bahwa pria itu ternyata memiliki istri atau ternyata pria itu adalah gadun-ini pikiran Haechan saja-
"Hyung jadi kau ini bukan gadun?" pertanyaan nan tidak sopan mencelos begitu saja dari organ tak bertulang yang bersemayam di mulut Haechan. Jisung, Chenle, Lucas, dan tentu saja Doyoung yang sedang duduk santai menonton film di ruang tengah tentu saja langsung melotot. Terutama Doyoung, oknum yang disebutkan. Wajahnya sudah seperti hendak membuang Haechan ke planet lain. Anak satu itu memang mulutnya tidak pernah pergi ke sekolah. Jangan-jangan saat ibunya mengantri jatah mulut untuk Haechan dalam kandungan, ibunya mendapatkan mulut yang damage. Belum sempat Doyoung mengekspresikan kekesalannya, ternyata rasa kesal itu sudah diwakilkan oleh Renjun yang baru saja keluar dari arah dapur. Perempuan itu menoyor kepala Haechan keras hingga sang pemilik hampir tersungkur jika tidak menjaga keseimbangannya. Lagi-lagi Doyoung dibuat kaget dengan tingkah sebenarnya anggota timnya. Sangat berbeda dengan saat di kantor.
"Kenapa mereka sangat menakutkan?" Doyoung berbisik pada Chenle. Laki-laki itu hanya tertawa geli. Menatap kembali kea rah Haechan dan Renjun yang berujung adu mulut setelah adegan toyor menoyor. "Mereka berdua yang paling menakutkan," ucap Chenle.
"Aku mau merokok," Lucas tiba-tiba berdiri. Doyoung hanya mengiyakan, kepalanya mengisyaratkan kepada Lucas untuk menuju halaman belakang. Laki-laki itu menurut, langsung menuju ke arah yang ditunjuk oleh Doyoung. Ia menuju halaman belakang yang memiliki kolam renang kecil, dengan 2 tempat duduk santai disekitarnya. Lucas memutuskan untuk duduk di sana, namun matanya menangkap bahwa ia tidak sendirian di sana. Ada Jungwoo.
"Kau di sini, rupanya." Lucas menyapa Jungwoo yang menghilang sejak makan malam selesai. Perempuan itu tersenyum mendengar ucapan Lucas, mengangguk pelan. "Masih merokok?" tanyanya. Lucas mengangguk, mendudukkan dirinya di kursi lain yang masih kosong. Suasana hening. Lagi. Hanya ada suara kertas terbakar dari rokok milik Lucas yang sudah hampir habis.
"Aa-" mereka berucap bersamaan.
Situasi kembali canggung.
"Kau duluan saja," ucap Lucas.
Jungwoo hanya mengangguk, kemudian kembali menatap ke arah Lucas sebelum berbicara, "Kau sejak kapan mulai bekerja di situ?"
Lucas mematikan rokoknya, ia tahu pembicaraan ini akan serius.
"Cukup lama, sekitar 3 tahun, maybe." Jawabnya. Jungwoo menoleh, menautkan alisnya. "Tapi dulu aku hanya karyawan biasa, belum seperti sekarang." Lanjut laki-laki itu.
"Bagaimana bisa secepat itu?" tanya Jungwoo penasaran.
Lucas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ah, ini perusahaan kakekku. Tapi waktu itu aku bilang ingin mulai dari awal, makanya aku masuk sebagai karyawan biasa. Tapi, setahun lalu kakekku akan kembali ke Hongkong dan ingin aku yang menggantikannya."
"Bagaimana dengan ayahmu?" Jungwoo bertanya lagi.
"Ayahku mengurus cabang lain di Shanghai." Lucas menjawabnya santai.
"Saat kau mulai bekerja, bukankah itu sulit?" Jungwoo kembali bertanya, namun kini tatapannya tidak lagi ditujukan pada laki-laki di sebelahnya. Ia kembali menatap kolam renang di depannya.
Lucas mengangguk, mengiyakan. Ia tersenyum. Mengingat kembali beberapa tahun lalu, saat dirinya berani menampilkan diri di depan umum lagi setelah 3 tahun mengurung diri. Tidak mampu berbicara dengan orang lain, apalagi keluar rumah.
"Semuanya pasti kaget melihatmu saat itu." Lucas tersenyum mendengarnya. Memang benar, saat itu hampir seantero perusahaan kaget melihat kemunculannya. Seorang mantan idola boygroup tiba-tiba bekerja sebagai karyawan kantoran setelah 3 tahun hilang dari hadapan masyarakat. 3 tahun setelah nama seorang Lucas, Huang Xuxi, tercoreng akibat ulang segerombolan manusia yang menyebut dirinya fans. Sebuah kejadian yang cukup merubah kehidupan Lucas.
"Apa kau pernah dirundung di kantor saat itu?" kini Lucas tertawa.
"Tentu tidak, apakah wajahku menunjukkan seperti orang yang mudah dirundung?" Jungwoo menatap Lucas. Lekat. Meneliti setiap inci wajah tampan Lucas, membuat sang pemilik wajah cukup berdebar ditatap lekat oleh gadis di hadapannya. "Tentu tidak. Wajahmu seperti predator liar." Ucap Jungwoo.
"Hei! Aku pernah mencari makan hanya dengan wajahku ini!" Lucas tidak terima. Jungwoo terkekeh geli.
"Oh tidak, sikap itu, aku melihatnya lagi setelah 6 tahun." Jungwoo tersenyum.
"Aku juga sudah lama tidak mengeluarkan kalimat-kalimat seperti ini. Ternyata lidahku masih lihai mengucapkannya." Lucas tertawa.
"Jungwoo-ya. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Lucas kini ikut menatap kolam renang di depannya. Jungwoo menoleh, memperhatikan Lucas yang kini menatap dalam pada kolam renang diam itu.
"Boleh, baru saja aku sudah mencecarmu dengan banyak pertanyaan," jawab perempuan itu.
"Kenapa waktu itu kau masih bisa membalas pesan-pesanku?" tanyanya. Jungwo mengernyitkan dahinya, mengisyaratkan kalimat -pesan apa?- pada pelontar pertanyaan.
"Dollchatku. Bagaimana kau membalasnya?" Jungwoo kini paham.
"Yak arena masa berlanggananku belum habis, tentu saja. Bukankah kau tahu cara pakainya?" jawab Jungwoo heran.
"Maksudku, waktu itu aku sudah kehilangan banyak. Aku tidak menyangka masih ada yang membalas pesanku." Lucas lagi-lagi menggaruk tengkuknya.
"Karena kau membahasnya, aku ingin tau bagaimana kau tahu kalau saat itu aku yang membalasmu? Bukankah harusnya di ponselmu hanya akan tertera sebagai 'my fans'? bagaimana kau tahu namaku?" Jungwoo heran.
"Hanya kau yang bertahan denganku, aku juga tidak tahu kalau tampilannya akan berubah seperti pesan pribadi saat yang berlangganan akunku hanya satu orang…"
Jungwoo masih diam.
"… jadi aku mengetahuinya karena display name mu muncul di ponselku. Sungguh aku kaget saat kau membalas pesanku saat itu. Aku tidak mengharapkan balasan apapun, karena bagiku menulis dollchat adalah bagian dari pekerjaanku dan bentuk rasa perhatianku pada kalian semua. Tapi…"
Jungwoo masih mendengarkan.
"… waktu itu aku yakin kalian semua sudah pergi. Jadi aku menulisnya seperti sebuah kebiasaan daripada sebuah keharusan. Lalu tidak lama setelah mengirimnya muncul namamu. Aku bingung awalnya karena namamu yang muncul. Aku membukanya dan ternyata tampilan dollchat milikku berubah. Seperti screen capture yang kau lihat waktu itu di kedai mie."
Jungwoo menatap Lucas, "saat itu aku baru saja membayar biaya langganannya saat tiba-tiba kasus itu menimpamu."
"Kau bisa saja menggantinya ke anggota lain, kan? Bukankah itu bisa dilakukan?" sergah Lucas.
"Ya, memang. Tapi aku tidak mau." Jungwoo tersenyum ke arah laki-laki yang kini menatapnya. Laki-laki itu memasang wajah heran, "kenapa?"
"Waktu itu aku berharap kau akan mengirimkan kami semua pesan tentang keadaanmu dan dengan begitu aku bisa bertanya padamu apakah semua yang disebutkan di media itu benar atau tidak. Meskipun aku tahu kemungkinan kau membalasnya kecil, tapi jika kami semua menanyakan hal yang sama kau pasti akan membalasnya." Jawab Jungwoo panjang.
"Terimakasih sudah bertahan, Jungwoo-ssi." ucap laki-laki itu. Hanya sebuah ucapan terimakasih, namun cukup membuat Jungwoo berdebar saat itu. Meskipun ia hanya menganggap hal itu karena ia sedang duduk di sebelah idolanya selama belasan tahun.
"Kau juga," Jungwoo berucap pelan, namun masih dapat ditangkap oleh telinga Lucas.
"Boleh aku bertanya satu pertanyaan lain?" tanya Lucas.
Jungwoo mengangguk.
"Apa kau kecewa? Marah? Jijik? Apa yang kau rasakan saat itu?" tanyanya.
"Kau bilang hanya satu," Jungwoo tertawa mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu. Lucas hanya tertawa, canggung.
"Kecewa? Sejujurnya aku juga tidak pernah menaruh harapan apapun karena itu kehidupan pribadimu. Aku juga tahu aku hanya penggemarmu yang sangat kecil kemungkinan aku bisa benar-benar mengenalmu. Jadi intinya aku sudah menyiapkan hati jika suatu saat akan terjadi hal seperti itu…"
Kini giliran Lucas yang diam.
"…tapi aku benar-benar kecewa dengan kalangan penggemar. Bagaimana bisa mereka dengan mudahnya meninggalkanmu segera setelah rumor itu beredar? Sungguh tidak manusiawi. Apa yang sebenarnya mereka harapkan darimu? Menjadi istrimu? Atau apa? Kenapa mereka bereaksi berlebihan hanya karena kau dirumorkan pernah memiliki kekasih?"
Lucas tertawa melihat perempuan di sebelahnya emosi.
"Giliran rumor yang tersebar adalah kau sebagai penyuka sesama jenis, aku yakin mereka juga akan bereaksi sama. Lalu apa yang harus kau lakukan? Apa mereka akan memintamu terus menyanyi dan menari hingga tua? Gila."
Lucas tertawa, "apa pernah ada rumor aku gay?" Jungwoo menggeleng.
"Aku-pun tidak akan marah atau jijik jika memang rumor itu benar. Aku tidak berhak, karena itu kehidupan pribadimu. Kau melakukannya sebelum kau menjadi terkenal dan itu juga bukan keharusan bagi agensi untuk menutupinya. Memangnya kau sendiri tahu akan menjadi seterkenal itu? Aku yakin tidak. Mereka yang berkata kau menjijikkan, seperti mereka manusia paling suci di dunia ini. Hanya karena kau seorang idol, apakah hidupmu harus sempurna? Kau ini manusia, bukan tuhan."
Lucas hanya tersenyum mendengarkan.
"Satu hal yang membuatku marah. Saat kau meninggalkan karirmu saat itu. Aku benar-benar marah. Bukan kepadamu, tapi pada mereka yang pernah menyebut diri mereka penggemarmu. Bagaimana bisa halusinasi mereka malah merusakmu yang bahkan tidak tahu apapun? Saat itu ingin sekali rasanya aku membunuh mereka satu per satu."
Lucas menghela nafasnya lega, "terimakasih sudah menjawabnya dengan jujur, Jungwoo-ya." Jungwoo mengangguk, tersenyum lepas. Akhirnya keinginannya untuk menceritakan keluh kesahnya pada idolanya terwujud meskipun idolanya sudah bukan seorang bintang idola lagi.
"Tapi, Lucas-a. Siapa pencetus Blindmouth? Apakah itu Doyoung?" tanya Jungwoo. Lucas menggeleng, "itu aku karena saat itu tiba-tiba aku mengingat ceritamu." Jawaban Lucas membuat Jungwoo sedikit kaget. Lucas benar-benar mengingatnya selama itu. Ia merasa sangat beruntung.
"Kau ingat kan kau pernah cerita tentang nenekmu yang mulai kesulitan berbicara saat itu? Aku mengingatnya dan mengusulkan pada Jaemin saat itu. Aku tidak menyangka mereka menyetujuinya dan berhasil membuatnya." Lucas menjelaskan.
"Terimakasih, aplikasi itu sangat membantu nenekku. Ia bahkan masih menggunakannya hingga sekarang." Jungwoo menceritakannya dengan senang. Senyuman terus terukir di wajahnya.
Mereka banyak bercerita malam itu. Dari membahas beberapa salah paham yang terjadi saat mereka saling bertukar pesan melalui dollchat, membahas Lucas yang hilang selama 3 tahun, membahas sekolah Jungwoo, dan lainnya. Mereka kembali mengakrabkan diri, bukan sebagai idola dan penggemarnya, melainkan sebagai teman -atau mungkin lebih-
Hubungan keduanya semakin dekat, meskipun masih sebatas teman. Setidaknya hingga malam ini, dimana seorang Lucas, dengan setelan jas biru tuanya, berlutut di hadapan seorang wanita yang nampak cantik dengan gaun selutut berwana merah tua dengan cincin di tangannya. Siap memakaikan cincin itu kapanpun pada jari manis si perempuan. Menatap si perempuan dalam, masih dengan senyumannya yang tidak pernah berubah sejak si perempuan mengenalnya. Senyuman lebar yang menunjukkan deretan gigi rapinya. Dengan percaya diri laki-laki itu berucap,
"Jungwoo-ssi will you be my friend till the rest of my life?"
