7 Days

2031, Brooklyn

Seorang pria muda berumur 32 tahun tengah duduk menyesap kopinya di sebuah kafe di tepi jalanan Brooklyn. Tidak lengkap pula tanpa kacamatanya yang senantiasa bertengger di hidung mancungnya dengan pandangan yang masih tertuju pada laptop di depannya. Jarinya sibuk menuliskan ucapan yang bersumber dari otaknya, sedangkan bibirnya sibuk merapalkan kalimat-kalimat yang sudah ditulis oleh jarinya. Sesekali pria itu diam, bersandar pada kursi. Tampak berpikir. Kemudian menggumam, lalu menulis kembali. Hari demi hari dilewati pria itu di tempat yang sama, dengan sikap yang sama. Masih setia menulis tentu saja. Bertingkah seperti ia merupakan penunggu tetap yang bersemayam di kafe itu, di kursi pojok yang menghadap ke arah jalanan. Seakan menantikan kehadiran seseorang, meskipun tidak pernah ada yang datang menemuinya. Pria itu akan datang pukul 11 siang dan baru akan pulang pukul 7 malam. Entah berapa gelas minuman dan piring makanan yang ia habiskan di tempat itu. Ia tidak peduli.

.

.

.

2021, Korea

Minggu ujian telah usai. Hampir sebagian besar mahasiswa di Yonsei sudah meninggalkan ruang ujiannya masing-masing, berhamburan menuju tempat mereka akan melepaskan penat setelah bertempur selama 7 hari lamanya. Begitu pula 2 orang sahabat, Renjun dan Jaemin, mahasiswa sastra asing yang kini beriringan menuju tempat mereka nongkrong. Kafe depan kampus. Mereka segera memesan setelah keduanya berdiri di hadapan kasir yang menunggu pesanan mereka.

"Aku satu americano dengan ekstra 4 shot espresso, tanpa gula, es normal." Sang kasir mencatat pesanan si perempuan yang memesannya tanpa ragu. Meskipun sang kasir sendiri malah meneguk ludah saat mendengar pesanan ekstrim dari perempuan muda di hadapannya.

"Satu choco frappe dengan ekstra whipped cream, less sugar, es normal," kini giliran si laki-laki yang memesan. Kali ini sang kasir lebih bersikap biasa, meskipun wajahnya masih bingung karena 2 pelanggan di depannya seperti memiliki jiwa yang tertukar.

"Semuanya 45000 won," ucap sang kasir segera setelah menghitung pesanan keduanya. Si laki-laki langsung mengeluarkan kartunya, bermaksud membayar pesanannya. Namun tangannya dicegah oleh si perempuan, "kamu nanti yang bayar makan." Si laki-laki mengangguk, membiarkan si perempuan membayar. Setelah selesai dengan kegiatan bayar membayar, keduanya langsung duduk. Seperti biasa si perempuan akan memilih bangku yang dekat dengan jendela.

"Liburan mau kemana?" tanya Renjun pada Jaemin yang sibuk memainkan ponselnya. Jaemin yang kelewat fokus mengabaikan pertanyaan sahabatnya, setidaknya hingga laki-laki itu menjentikkan jarinya di kepala Jaemin.

"Ah! Sakit! Apa sih?" Jaemin marah.

"Liburan. Mau kemana kali ini?" tanya Renjun dengan kesabaran yang menipis. Jaemin tampak berpikir. Bingung menentukan tujuan liburan semester mereka kali ini. Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya untuk berlibur bersama di liburan semester ganjil seperti saat ini. Tentu saja karena saat libur akhir tahun mereka harus menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing. Terlebih lagi Renjun harus pulang ke China pada saat itu.

"Kamu maunya kemana? Kok aku terus sih yang nentuin kan kamu juga ikut liburan." Ucap Jaemin. Kini Renjun ikut berpikir. Benar kata Jaemin, selama ini perempuan itu yang selalu menentukan kemana mereka akan berlibur. "Brooklyn?" jawabnya asal.

"New York?" Renjun mengangguk.

"Boleh deh. Kita belum pernah ke sana, kan?" Jaemin mengiyakan.

Keputusan dibuat. Sebuah keputusan asal yang dibuat tanpa tahu bahwa keputusan itu akan merubah hidup mereka selanjutnya.

.

.

.

Minggu sore, Jaemin dan Renjun sudah berada di bandara. Pesawat mereka akan terbang jam 8 malam dan akan tiba Senin jam 9 pagi di Brooklyn. Mereka telah menyiapkan segala akomodasi untuk tinggal selama 7 hari di sana. Mereka juga telah menyiapkan segala kebutuhan yang mungkin akan mereka butuhkan nantinya. Seperti biasa, si perempuan hanya akan mendandani dirinya dengan celana olahraga panjang berwarna hitam, hoodie berwarna mint, dan tas punggung putihnya. Baginya itu sangat cukup untuk bepergian 7 hari. Berbeda dengan Renjun yang berpakaian rapi, dengan celana jeans hitam, kaos garis-garis dan jaket denim berwarna ungu. Tidak lupa tas jinjing besarnya serta koper yang selalu ia bawa saat bepergian.

"Ih, ini biar nggak ribet. Nanti baju lain bisa beli di sana, kan?" begitu ucap Jaemin setiap bepergian.

Kini mereka telah di pesawat, seperti biasa Jaemin sudah memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela untuk tiketnya. Mereka akan berada di atas awan selama 14 jam. Waktu yang cukup lama. Renjun sudah mengeluarkan laptopnya, seperti biasa laki-laki itu akan menulis untuk membunuh waktunya. Benar-benar jelmaan mahasiswa sastra yang sebenarnya. Jaemin memilih untuk memotret awan. Meskipun wujudnya selalu sama meskipun kini mereka tengah bergerak. Perempuan itu tidak pernah bosan mengabadikan setiap awan yang ia lewati.

.

.

.

.

Brooklyn, day 1

Jaemin dan Renjun tiba di hotel. Keduanya langsung masuk ke kamar masing-masing, membersihkan diri dan melepaskan penat mereka selepas perjalanan. Meskipun keduanya sama-sama tidak sabar akan menjelajah kota padat penduduk itu, sepertinya rasa Lelah sudah menguasai keduanya. Keduanya tertidur hingga jam makan malam, itupun tidak akan bangun jika bukan karena telepon mereka yang berdering karena panggilan dari rumah. Mereka lupa mengabari bahwa keduanya telah sampai.

Ting nong

Suara bel kamar Jaemin dibunyikan. Ia yakin itu Renjun yang akan mengajaknya makan malam. Ia segera mengenakan kembali hoodienya karena malam itu sangatlah dingin dan keluar kamar. Bukannya makan di hotel, mereka kini berjalan menuju tempat ramai yang tadi mereka lihat saat sampai. Benar saja, tempat itu jauh lebih ramai saat malam hari. Street food, pengamen, kue-kue manis, banyak hal berjajar di sana.

"Aku mau membeli itu, tunggu di sini." Jaemin menunjuk sebuah toko roti yang ada di sekitar sana. Renjun mengangguk, kemudian ditinggalkan oleh Jaemin. Cukup lama, membuat Renjun memutuskan untuk duduk di bangku terdekat. Sudah hampir 15 menit Jaemin tidak segera memunculkan kembali batang hidungnya.

"Ini." Tiba-tiba Jaemin muncul dari belakang Renjun. Membawa 2 roti isi berukuran besar dan 2 gelas minuman. "Aku ingat kau belum makan sejak pagi, jadi aku membeli ini saja." ucapnya. Renjun hanya tersenyum, menerima roti pemberian sahabatnya.

'Terimakasih sudah mengingat detail kecil itu.'

Brooklyn, Day 2

Hari itu keduanya memutuskan mengelilingi daerah sekitar dengan berjalan kaki saja. Niat mereka mencoba mencicipi setiap kafe yang berjajar di sana. Awalnya Renjun menolak, namun apadaya ia selalu kalah beradu mulut dengan Jaemin.

Cukup lama mereka berjalan, sudah banyak kafe yang mereka lewati namun selalu dilewatkan oleh Jaemin karena berbagai alasan. Yang tempatnya tidak aesthetic lah, tidak ini lah, tidak itu lah. Namun akhirnya perempuan itu tertarik dengan satu kafe yang berdinding kaca besar. Mereka berdua memasukinya. Langsung menuju kasir dan memesan.

"Good morning, may I help you?" ucap ramah dari sang kasir yang sepertinya merangkap sebagai seorang barista.

"Yes, please. I want a cup of iced americano with 4 shots extra espresso, no sugar with normal ice, please." Ucap Jaemin seperti biasanya. Menu wajib Jaemin saat pagi hari.

Sang kasir mencatatnya, masih dengan senyuman di wajahnya.

"Na, jangan it uterus deh. Nggak baik buat lambung." Protes Renjun saat mendengar pesanan sahabatnya yang ia panggil Nana itu. Jaemin hanya melengos, tidak mengindahkan ucapan sahabatnya.

"I want a smoothies, two vegie salads, and large chicken mashed potatoes, please." Ucap Renjun.

Sang kasir mencatatnya. Menekan nekan tombol di komputer, menghitung pesanan kedua pelanggannya.

"All 150$," ucap sang kasir. Kali ini Renjun langsung membayarnya, tidak peduli dengan Jaemin yang berusaha membayarnya agar tidak terkena omelan dari Renjun. Perempuan itu langsung menuju tempat duduk, lagi-lagi ia memilih bangku dekat jendela yang tersisa di sana. Di pojok.

"Kamu ini, kita lagi liburan, ya. Aku malas jika harus mengurus perutmu itu." Ucap Renjun sinis, namun malah dibalas sinis oleh tatapan Jaemin. Keduanya tidak peduli.

"Eh tapi lumayan ramai, ya. Sepertinya di sini tidak mengecewakan." Jaemin mengedarkan pandangannya ke seluruh kafe. Tempat ini hampir penuh jika setiap orang membawa temannya ke sini.

Klinting

Suara pintu kafe dibuka terdengar. Meskipun suara itu tidak mengganggu pendengaran Jaemin dan Renjun yang sedang sibuk dengan obrolan mereka. Setidaknya hingga beberapa saat sebelum suara laki-laki terdengar di telinga mereka,

"Permisi, boleh saya duduk di sini?" ucap Laki-laki ras Asia yang kini tengah berdiri di sebelah meja. Jaemin dan Renjun masih saling menatap, tidak menyangka akan bertemu orang yang paham dengan setiap ucapan mereka.

"Semua tempat di sini penuh dan saya rasa sepertinya duduk di sini akan lebih nyaman." Laki-laki itu masih berucap dengan senyumannya yang membuat matanya menghilang. Ia menoleh ke penjuru ruangan, mengisyaratkan bahwa Renjun dan Jaemin satu-satunya pengunjung yang tidak menjadikan Bahasa inggris sebagai Bahasa ibunya.

"Ah, iya silahkan." Jaemin menggeser kursi di sebelahnya. Mempersilahkan laki-laki itu duduk. Tidak seperti Jaemin yang baik-baik saja dengan kehadiran orang asing, Renjun nampak tidak nyaman. "Sudahlah, siapa tau besok kita yang akan sepertinya." Ucap Jaemin dengan isyarat yang hanya dimengerti oleh Renjun. Renjun mendengus kasar, akhirnya ia mulai menghilangkan ekspresi tidak nyamannya.

"Saya Jeno. Lee Jeno." Laki-laki itu memperkenalkan diri.

"Renjun. Huang Renjun. Yang di sebelahmu Jaemin. Na Jaemin." Renjun memperkenalkan dirinya dan Jaemin. Jaemin hanya tersenyum, dibalas senyuman lain oleh laki-laki tadi.

"Jadi kau di sini berlibur juga?" tanya Jaemin. Laki-laki itu menggeleng,"aku tinggal di sini sejak kecil."

Renjun mendengus, "lalu kenapa kau masih canggung dengan orang sekitar sini hingga harus duduk di hadapanku?"

Jaemin menendang kaki Renjun. Tentu saja hal itu tidak diketahui oleh Jeno yang masih sibuk tersenyum.

"Maaf jika kehadiranku mengganggu waktu kencan kalian," Jeno menunduk malu.

"A-aah, kami bukan pasangan tenang saja." Jaemin berucap, menghindari salah paham.

"Bagus kalau kau sadar." Ucap Renjun pelan. Menghindari tendangan Jaemin yang lainnya yang mungkin akan mendarat di lututnya.

'Ya, memang seharusnya kau pergi dari sini.'

Brooklyn, day 3

Dengan bertemunya Jaemin dan Renjun dengan Jeno kemarin, kini mereka merencanakan untuk jalan-jalan bertiga. Meskipun Renjun masih sedikit tidak nyaman, namun laki-laki itu mengalah karena Jaemin terus memaksanya agar membiarkan Jeno menjadi pemandu mereka selama di sana.

"Ayolah, Njun. Daripada kita harus tersesat, kan? Bukankah bagus dengan adanya Jeno kita bisa menghemat ongkos untuk uber?"

Begitulah Jaemin merengek semalaman di kamar Renjun.

Kini mereka tengah berada di sebuah taman, di bawah jembatan Brooklyn. Tidak besar, namun taman itu menyajikan pemandangan kota New York yang cukup indah. Jeno benar-benar mempersiapkan segalanya dengan baik. Ia membawa tikar untuk mereka duduk dan tidak lupa ia membawa makanan yang telah mamanya siapkan untuk dibawa. Jaemin sibuk dengan kameranya, meninggalkan Renjun dan Jeno dengan suasana canggung duduk berdua.

"Makanlah, mamaku membuatnya." Jeno membuka keranjang makanan mereka. Mengeluarkan satu persatu makanan yang ia bawa. Renjun hanya melirik, ingin memakannya namun gengsi. Jeno sendiri sadar dengan suasana canggung mereka, namun ia tidak berani protes. Ia hanya berusaha melakukan hal baik untuk kedua teman barunya.

"Jangan sungkan, makan saja." kini Jeno menggoda Renjun dengan berusaha menyuapkan salah satu makanan yang ada. Namun tanpa Jeno duga, Renjun membuka mulutnya dan melahap makanan di tangannya. Lagi-lagi Jeno tersenyum.

"Aku pikir kita hanya akan bertemu hingga 4 hari ke depan. Akan terlalu jahat jika aku terus mengabaikanmu." Ucap Renjun sambil terus memperhatikan gerak gerik Jaemin dari kejauhan. Jeno tentu tahu ke mana arah pandang laki-laki di sebelahnya. Ia tersenyum geli.

"Melihatnya hingga ribuan tahun tidak akan membuatnya menjadi milikmu." Ucap Jeno asal.

'Ya, aku tahu itu.'

Brooklyn, day 4

"Jeno-ya, sudah kau bilang pada mamamu makanan kemarin sangat enak?" tanya Jaemin di dalam mobil yang membawa mereka ke sebuah bumi perkemahan. Niat mereka bukan akan berkemah, melainkan memainkan beberapa permainan di sana.

"Sudah, terimakasih katanya." Jawab Jeno sambil terus fokus menyetir.

"Hari ini mau kemana?" tanya Jaemin.

"Bermain flying fox," jawab Renjun cepat. "Kau ini bukannya kemarin aku sudah bilang?" lanjutnya. Jaemin hanya meringis, kemudian menyadarkan kembali punggungnya di jok mobil.

Mereka telah sampai. Ketiganya turun dari mobil. Jeno langsung mencari seseorang yang sepertinya sudah ia kenal baik ke dalam sebuah kantor yang ada di tempat itu. Tidak lama, keluarlah Jeno bersama seorang laki-laki lain dengan tubuh tinggi.

"Ini Johnny. Dia yang akan membantu kita hari ini." Jeno mengenalkan keduanya pada laki-laki tinggi itu. Tanpa lama, mereka segera menuju tempat mereka akan bermain. Tentu saja setelah ketiganya dipasangkan alat keselamatan karena tempat mereka bermain kali ini cukup ekstrim. Hari ini mereka memiliki 3 permainan dimana salah satunya adalah flyin fox.

"Hati-hati," ucap Jeno saat kini giliran Jaemin yang bermain. Renjun hanya mendengus mendengarnya sedangkan Jaemin sudah pergi tanpa mendengarkan. Kebiasaan buruk Jaemin memang. Awalnya berjalan dengan lancar, sebelum suara dentuman keras terdengar oleh telinga Jeno dan Renjun.

Bruk

Jeno langsung berlari, disusul Renjun di belakangnya. Benar saja, Jaemin terjatuh dari pos jaga pertama ke tanah. Jeno langsung mendekap Jaemin yang justru malah cengengesan setelah adegan jatuhnya membuat semua orang di sana panik. Bagaimana tidak, perempuan itu jatuh dari ketinggian hampir 2 meter tapi malah tersenyum tidak jelas.

"Hey, are you okay?" tanya Johnny mendekat ke arah Jeno yang masih mendekap tubuh Jaemin. Perempuan itu dengan cepat mengangguk, berusaha berdiri meskipun masih ditahan oleh Jeno.

'Hei, itu seharusnya aku yang di sana.'

Brooklyn, day 5

Setelah kejadian Jaemin jatuh, mereka memutuskan untuk pulang kemarin. Membuat Jaemin dan Renjun bisa beristirahat lebih awal dan Jeno pulang lebih awal. Hari ini Jeno akan membawa mereka ke tempat yang menjual banyak pernak Pernik untuk oleh-oleh. Tempat itu juga berada di tepian sungai yang telah dirancang sedemikian rupa untuk siapapun yang datang ke sana menuliskan harapan mereka. Sebuah tempat klasik.

Jaemin sibuk memilih barang apa yang akan ia beli, begitu pula Renjun. Sedangkan Jeno hanya mengekori siapapun yang terlihat oleh matanya di sepanjang track berjalannya.

Hingga ia melihat Jaemin sibuk berdiri di rak yang memajang banyak macam gantungan. Pandangannya bingung sambil tangannya memegang sebuah benda yang tidak bisa Jeno lihat dengan jelas. Ia mendekat, bermaksud menanyakan alasan perempuan itu mematung di sana.

"Ada apa?" tanya Jeno.

Jaemin menoleh, tangannya menunjukkan sebuah gantungan batu yang bisa ditulisi. Persis dengan gantungan-gantungan yang digantung di dekat toko.

"Aku ingin membeli ini dan menulisnya dengan Renjun. Tetapi laki-laki itu tidak pernah mau dan berkata ini bukan gayanya. Tapi aku masih ingin membelinya. Apakah aku harus menuliskan keduanya dengan harapanku? Bukankah itu terlalu serakah?"

Jeno tertawa.

"Mana yang satunya biar untukku saja." ucapnya.

Jaemin membulatkan matanya, kaget sekaligus Bahagia. Dengan cepat ia menarik Jeno menuju kasir, membayar semua belanjaannya dan segera menuju luar toko. Renjun dari kejauhan melihat Jaemin yang tergesa-gesa kini ikut menuju kasir, membayar semua belanjaannya. Saat hendak keluar, ia merogoh kantong plastiknya. Tangannya mencari sesuatu sambil matanya mencari Jaemin. Tepat setelah barangnya berada di tangannya, matanya juga menemukan Jaemin yang kini dengan senyum mengembang bersama Jeno menggantungkan harapan mereka.

'Hei, barang itu seharusnya milikku.'

Brooklyn, day 6

Sehari sebelum hari terakhir bagi Jaemin dan Renjun kembali ke Korea. Pagi ini mereka menghabiskan waktu di kamar masing-masing, karena Jeno akan membawa mereka ke festival pada malam hari. Katanya akan ada festival kembang api malam ini dan ia akan membawa keduanya untuk melihat.

"Na, sudah siap belum? Jangan lupa jaket." Ucap Renjun sambil terus menekan bel kamar. Jaemin kemudian membukakan pintu, menyuruhnya masuk karena perempuan itu masih sibuk mengeringkan rambutnya.

"Lama sekali?" Renjun duduk di tepi ranjang, melihat ke arah Jaemin yang masih sibuk dengan rambutnya.

"Sini biar aku saja." Renjun berdiri, merebut pengering itu dari tangan Jaemin. Membantu si perempuan mengeringkan rambutnya yang masih basah. Laki-laki itu mengeringkan rambut sahabatnya dengan telaten. Tidak membiarkan sehelai pun rambut basah tersisa di kepala sahabatnya.

"Pakailah jaket, di luar dingin." Ucapnya sambil meletakkan pengering rambut di tempatnya. Perempuan itu hanya mengangguk, mengambil celana jeans biru tua dan kaos turtle neck berwarna coklat tua lalu menuju kamar mandi. Mengganti bajunya.

Festival itu cukup ramai dengan para turis. Banyak makanan dijual di sana. Makanan dari segala penjuru dunia di jual di sana. "Aku mau beli gurita dulu. Kalian beli minum, ya." Jaemin melesat pergi. Lagi-lagi meninggalkan dua laki-laki dalam posisi canggung.

"Ayo cari minum." Ajak Renjun yang diangguki oleh Jeno.

Mereka berdiri di depan stan penjual minuman. Masih memilih menu.

"Jangan pesan yang strawberry, Nana tidak suka." Ucap Renjun. Jeno bingung, tapi mengiyakan ucapan laki-laki di sebelahnya.

"Three cups matcha, please." Ucapnya. Sang penjual langsung membuatkan minuman pesanannya. Tidak lama, minuman itu telah siap bersamaan dengan Jaemin yang datang membawa beberapa kantong makanan.

"Kamu beli apa saja? Banyak sekali," tanya Renjun. Jeno hanya tertawa melihat perempuan di depannya. Beberapa hari ini ia menyadari perempuan itu makan dengan sangat banyak.

"Aku akan menghabiskannya bersama Jeno jika kamu terus mengomel," Jaemin mendengus. Mengalihkan pandangannya dari Renjun. Jeno lagi-lagi tertawa melihat interaksi keduanya. Terlihat sangat dekat.

Pertunjukan kembang api dimulai. Mereka bertiga sudah duduk beralaskan tikar yang sudah disiapkan oleh Jeno. Laki-laki itu benar-benar pemandu yang baik untuk sebuah tur singkat. Mereka duduk bersebelahan, dengan Jaemin di posisi tengah. Diapit oleh dua laki-laki yang merupakan sahabatnya dan teman barunya. Perempuan itu fokus dengan kembang api yang terus menerus meluncur ke langit. Begitu pula Jeno yang terus tersenyum saat kembang api mulai mekar. Berbeda dengan Renjun, ia malah fokus dengan perempuan di sebelahnya.

"Renjun-a, bukankah ini sangat cantik?" Tanya Jaemin masih sambil terus menatap ke langit.

'Ya, memang kau sangat cantik, Nana-ya.'

Brooklyn, day 7

Hari terakhir keduanya di Brooklyn sebelum pesawat mereka terbang nanti malam. Hari ini mereka hanya akan makan bersama di sebuah restoran yang sudah disiapkan oleh Jeno. Laki-laki itu akan menjemput mereka di hotel, seperti biasa. Karena kali ini mereka akan makan di tempat formal, Jeno meminta kedua temannya untuk berpakaian rapi.

Renjun mengenakan celana jeans hitam dengan atasan turtle neck putih, sedangkan Jaemin mengenakan gaun selutut berwarna putih berbahan brokat. Rambutnya ia biarkan tergerai rapi seperti biasanya.

Mereka sudah berada di sebuah restoran fine dining pilihan Jeno. Mereka bertiga duduk di sebuah meja yang ditata melingkar agar ketiganya bisa saling berbincang dengan nyaman.

"Jeno-ya, terimakasih atas bantuanmu. Kami pasti menjadi gelandangan tanpamu." Ucap Jaemin. Jeno hanya tersenyum dengan matanya.

Sesi makan-makan itu membuat ketiganya berbincang banyak. Dari asal Jaemin dan Renjun bersahabat, masa kecil Jeno, dan semua detail mengenai ketiganya. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk mengerti satu sama lain. Meskipun dalam beberapa hari ini mereka selalu melewatkan satu hal penting untuk berkomunikasi. Bertukar nomor telepon. Hal itulah yang tidak mereka lakukan hingga sekarang. Hingga ketiganya telah berada di bandara dengan koper dan tas jinjing besar Renjun di tangan. Jaemin juga sudah menggendong ranselnya yang ternyata tidak bertambah isinya.

2 jam lagi mereka akan kembali ke Korea.

"Aku akan ke toilet." Izin Jaemin pada dua laki-laki di dekatnya. Perempuan itu pergi, membuat kesempatan untuk 2 laki-laki itu berbincang sebelum berpisah.

"Titip ini untuk Nana." Jeno menyodorkan tas kertas coklat yang bersegel. Ia hanya menerimanya sambil mengangguk. Tidak berusaha bertanya apa isinya.

"Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti." Ucap Jeno saat kedua temannya akan mulai masuk. Keduanya hanya tersenyum, melambai ke arahnya. Begitupun Jeno, ia hanya melambaikan tangannya dengan senyum yang tidak pudar dari wajahnya.

7 harinya yang berharga, merubah kehidupannya.

.

.

.

10 tahun kemudian

Seorang wanita yang tengah hamil besar tengah berjalan ditemani sang suami menuju sebuah kafe yang selalu ia suka. Dengan cepat sang suami membukakan pintu, menggandeng sang istri untuk memesan minuman mereka.

"a cup of orange juice for this woman and a cup of chamomile tea for me, please." Sang suami langsung memesan sebelum istrinya yang lebih dulu memesan.

Sang barista tertawa kecil, pasangan di depannya ini selalu aneh. "You two looks perfect together. But how about the other one?" sepasang suami istri itu bingung. Apa maksud barista itu?

"I' m sorry, I think that you three come together." Ucap barista itu lagi.

Suami istri di hadapannya masih bingung. "Never mind. I think he's not someone I told you about." Barista itu tersenyum. Ia menyodorkan kertas struk dan pesanan milik keduanya. Si perempuan, seperti biasa langsung menuju tempat favoritnya. Namun hari itu sudah ada orang lain di sana. Sang istri terdiam melihat bangku yang sudah terisi itu. Sang suami masih dibelakangnya, sibuk membawa nampan berisi minuman mereka.

"Sayang ada apa?" tanya sang suami.

Sang istri diam, kembali berjalan menuju meja yang sudah lebih dahulu diisi oleh seorang pria.

"Permisi, bolehkah saya duduk di sini? Seluruh meja sudah penuh." Ucapnya. Membuat sang pria menoleh, menatap sang perempuan dengan kaget.

"Renjun-a, long time no see." Perempuan itu tersenyum.

.

.

.

Renjun menatap tas kertas pemberian Jeno yang masih ia bawa di tasnya. Ia tahu apa isinya, tadi ia sempat melihat Jeno merapikannya di mobil sebelum mereka menuju restoran untuk makan bersama. Renjun juga yakin, apapun hadiah yang Jeno berikan, di dalamnya akan ada apapun yang membuat Jaemin bisa menghubungi Jeno dan membuat mereka bertemu kembali. Alasannya tidak meminta kontak personal apapun selama 7 hari terus bersama Jeno adalah ketakutannya. Ia tahu laki-laki itu tertarik pada sahabatnya sejak awal mereka bertemu. Renjun tahu itu, karena itulah yang Renjun rasakan. Kini Renjun bimbang, ia merasa harus menyerahkan benda itu, tetapi hatinya menolak kejadian yang akan terjadi selanjutnya.

'Aku yang mengusulkan untuk berlibur ke Brooklyn. Pertemuan ini, semuanya karena keputusanku sendiri. Jangan hidup sebagai orang egois.'