"Papa!" panggil seorang anak laki-laki yang baru saja keluar dari gedung sekolahnya. Anak itu langsung menghampiri pria muda yang ia panggil sebagai papa, berlari dan memeluknya.

"Aigoo, anak papa sudah selesai belajarnya. Mau makan burger?" Ucap pria itu ramah. Tidak memedulikan tatapan orang tua lain di sekitar mereka. Tentu saja kedua manusia berjenis kelamin laki-laki itu menjadi tontonan sekitar, paras mereka benar-benar bukan seperti manusia. Si pria yang tinggi bertubuh maskulin dengan setelan jas coklat mudanya, serta si anak yang nampak seperti karakter anime yang keluar dari layar tv. Belum lagi dengan seonggok mobil tesla yang dikendarai si pria, membuat siapapun yang melihatnya tahu seberapa sejahtera keluarga itu.

Namun siapa yang menyangka bahwa kata pepatah itu terkadang benar adanya,

Don't judge a book just by it's cover.

.

.

.

"Papa aku mau double beef burger." Ucap sang anak begitu memasuki sebuah kedai yang menjual berbagai macam burger dan sandwich. Si pria hanya tersenyum, berjalan menggandeng si anak menuju tempat memesan.

"double beef dua," ucap sang ayah. Dengan cepat kasir memproses pembayarannya, meskipun dengan beberapa tatapan bermaksud menggoda sang pria. Kasir itu tidak peduli dengan keberadaan si anak yang sudah pasti adalah anak sang pria.

"Mau pakai kartu atau tunai?" lagi-lagi sang kasir mengeluarkan suara dengan gerak gerik yang berniat menggoda sang pria. Namun pria itu masih datar, dengan santai ia mengeluarkan uang tunai, memberikannya pada sang kasir tanpa mempedulikan wanita di depannya yang sangat ingin merayunya. Merasa diabaikan, sang kasir tidak diam. Ia masih terus menunjukkan berbagai pose yang sekiranya bisa menggoda sang pria.

"Tuan Seo Johnny, benar kan?" ucap sang kasir pada sang pria sambil memberikan uang kembalian dan struk. Johnny hanya mengangguk, tatapannya masih fokus anak kecil yang sedang mencari tempat duduk.

"Aku Pa-" belum selesai wanita itu berucap, Johnny sudah meninggalkan area kasir dan menyusul sang anak. Tidak peduli.

"Hei, Yongsil-a awas jatuh." Ucap Johnny pada sang anak yang sedang berlarian menuju meja. Anak itu tidak menggubris sang pria, hanya menoleh dan menunjukkan cengiran manisnya.

Kini sang anak dan sang ayah sudah duduk di meja. Menikmati makanan dan minuman yang tadi mereka pesan sambil sang ayah mendengarkan sang anak mengoceh, menceritakan semua hal yang terjadi di sekolahnya. Sang ayah mendengarkannya dengan seksama, ikut tertawa saat ada cerita lucu, marah saat ada cerita yang menjengkelkan, dan akan ikut memasang raut sedih saat sang anak menceritakan kejadian menyedihkan. Sungguh ayah dan anak ideal.

"Papa, jangan bilang mama kalau hari ini kita makan junk food lagi ya. Nanti aku dimarahin," ucap sang anak sambil meletakkan jari telunjukkan di depan bibir. Tidak lupa mengerucutkan bibir mungilnya, membuatnya semakin tampak seperti karakter kartun yang hidup. Sang ayah mengangguk, sambil mengikuti gestur yang dibuat sang anak. Kemudian diikuti tawa keduanya. Lagi-lagi, ayah dan anak itu mengundang perhatian sekitar. Hampir seluruh pengunjung ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Sangat hangat dan rukun.

.

.

.

.

Johnny duduk bersandar di kasur besarnya. Masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya meskipun Yongsil, sang anak, sudah terlelap di sebelahnya. Pria itu masih sibuk menatap layar ipadnya, meneliti kembali berkas-berkas yang harus ia beri revisi atau tanda tangani. Menjadi sebuah direktur perusahaan keluarga, melanjutkan pekerjaan sang ayah yang tidak mudah. Terutama bagi Johnny yang sama sekali tidak memiliki dasar berbisnis.

"Sudah 5 tahun aku melihat berkas-berkas ini setiap hari, tapi kenapa otakku masih seperti anak TK," Johnny memijat pelipisnya. Frustasi. Ia kemudian menutup semua aplikasi di ipadnya. Memandangi layar ipad yang hanya tersisa wallpaper yang menampilkan gambarnya bersama 2 orang lain saat ketiganya lulus dari perguruan tinggi. Ten dan Taeyong.

"Yak! Kau yang benar dong! Awas saja kalau memasang wajah datar lagi!" teriak seorang perempuan yang sibuk membawa beberapa buket bunga pemberian teman-temannya. Suaranya cukup nyaring, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi malas untuk sakadar beradu mulut dengannya.

Dia adalah Ten. Seorang mahasiswi jurusan tari di Korea National University of Arts. Seorang perempuan yang sangat cerewet, dilengkapi dengan suara cemprengnya saat berbicara. Kebiasaannya untuk membicarakan orang lain juga merupakan salah satu skill yang paling ia kuasai selain menari. Tapi jangan salah, di balik suara cempreng itu Ten bisa menyanyi dengan baik bahkan ia juga bisa mencapai pitch nada tinggi.

"Kau berhentilah berteriak. Aku dan Johnny tidak tuli." Ucap laki-laki yang sibuk merapikan toganya. Bersiap untuk berfoto. Lee Taeyong.

Dia adalah seorang mahasiswa dengan jurusan yang sama dengan Ten. Julukannya adalah Lee Todoroki. Laki-laki itu sungguh mirip dengan karakter Todoroki, terutama saat dirinya mewarnai rambutnya dengan setengah putih dan merah. Laki-laki ini merupakan sosok yang hangat, meskipun terlihat seperti seorang tsundere. Ia bisa mengatur banyak orang dengan mudah berkat leadershipnya yang tinggi. Namun laki-laki ini cukup kaku untuk diajak berbicara santai.

"Aku bahkan sudah tuli, Tae," ucap laki-laki lain dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dari 2 yang lainnya. Namanya adalah Johnny. Seo Johnny.

Seorang laki-laki dengan tubuh yang sangat tinggi dan proporsi sempurnya. Berada di jurusan yang sama dengan Taeyong dan Ten pula. Bukan seseorang yang istimewa, namun jika tidak ada dirinya maka akan hambar. Seorang pencair suasana dengan bercandanya yang garing, juga tingkahnya yang sering tidak masuk di akal. Idola banyak perempuan di kampus, meskipun tidak jarang juga laki-laki yang mengidolakannya. Tidak, dia normal. Sangat normal.

"Kalian ini jadi foto, tidak?" tanya seorang lainnya yang kini sibuk berdiri di balik lensa kamera. Tangannya sudah memegang tombol shutter, namun yang akan difoto malah berdebat tidak karuan. Rupanya pertanyaannya tidak digubris.

"HEI JADI FOTO TIDAK?" ia berteriak. Membuat tiga orang lainnya menoleh. Bukannya bersiap, mereka malah tertawa.

"Doyoung-a, jangan marah nanti kau terlihat tua." Ucap Taeyong sambil tertawa. Seperti biasa, perempuan yang akrab dipanggil Doyoung itu memasang wajah masam. Sudah terbiasa dengan ketiganya karena mereka adalah teman dekat sejak awal mereka masuk kuliah. Tidak lupa dengan satu orang lagi yang bernama Jaehyun, dia adalah pacar Doyoung.

Ketiganya sudah siap. Doyoung mulai menghitung mundur, bersiap mengabadikan moment tiga manusia di depannya.

"Siap, ya! 1…2…3…"

Cekrek

Lamunan Johnny saat mengingat momen yang tersimpan dalam foto itu dibuyarkan oleh Yongsil yang tiba-tiba terbangun. Memintanya untuk mengantarkan anak itu ke kamar mandi. Seperti biasa, Johnny tanpa babibu akan langsung berdiri, mengantar sang anak ke tujuan.

.

.

.

"Mama!" teriak Yongsil.

Johnny berjalan di belakangnya, tersenyum saat sang anak terlihat bahagia saat bertemu sang ibu. Yongsil langsung berhambur memeluk ibunya. Seperti biasa, dengan ekspresi bahagia dan senyum yang merekah di wajahnya.

"Aku dibelikan papa es krim, tapi rasanya aneh. Seperti pasta gigi," laki-laki berusia 4 tahun itu bercerita pada sang ibu. Johnny yang mendengarnya hanya tertawa, menaruh bekal yang akan mereka makan sebagai sarapan.

"Yongsil, ayo makan dulu," panggil Johnny. Sang anak langsung berhambur berlarian ke arah sang ayah. Memang sangat aktif anak ini. Suaranya juga sangat memekakkan telinga begitu bocah 4 tahun ini membuka mulutnya.

"Mama juga makan?" tanya Yongsil. Johnny menggeleng, "mama sudah makan."

Keduanya memakan lahap masakan yang Johnny bawa. Pria itu selalu memasak untuk mereka. Terutama untuk sarapan Yongsil. Ia tidak ingin anaknya diberikan gizi yang setengah-setengah, maka dari itu pria berusia pertengahan 30 an dengan segudang pekerjaan tetap bersikukuh memasak.

"Pa, sayur ini aneh. Rasanya licin," ucap Yongsil saat memakan brokoli. Johnny hanya tertawa mendengarnya. Ia mengingat bahwa sang ibu juga pernah berkata hal yang sama. Setelah selesai makan, Johnny mengeluarkan sebuah botol yang penuh dengan jus buah. Menuangkan isinya ke gelas, kemudian memberikannya pada sang anak.

"Kok ini lagi, pa? Aku maunya nanas," ucap sang anak.

"Halah kamu juga kalau dikasih buahnya langsung nggak bakal dimakan," Johnny tidak mau dibodohi. Anaknya itu sangat tidak menyukai buah, makanya ia mau repot-repot membuat jus buah hanya agar asupan vitamin dari buah masuk ke tubuh anaknya. Memang pria itu bisa memberikan vitamin dengan cara lain seperti tablet hisap anak, tapi pria itu tidak ingin anaknya banyak mengonsumsi hal-hal kimiawi terlalu dini.

"Ih, kan buat mama," Yongsil mengelak. Merasa rencananya diketahui sang ayah.

"Papa tahu mama kamu membenci buah, sayang," Johnny tersenyum ke arah sang anak yang cemberut karena rencananya tidak meminum jus buah gagal. Papanya tidak bisa dibodohi. Johnny tertawa menang, senang melihat anaknya tidak berhasil membodohinya. Pria itu kemudian berdiri, mendekati ibu dari sang anak.

"Ten-a, cepat bangun, mulut anakmu sama liarnya denganmu. Kalian pasti cocok."

.

.

.

"Aku sepertinya tidak bisa mengantarmu, sayang. Apa kau baik-baik saja?" ucap seorang laki-laki pada sang istri yang tengah hamil besar. Sang istri hanya tersenyum geli, tidak biasa dengan panggilan 'sayang' dari sang suami.

"Aku baik-baik saja. Ini hanya check up bulanan. Aku akan langsung membawa beberapa perlengkapan melahirkan juga siapa tahu nanti disuruh langsung rawat jalan." Ucap sang istri. Masih dengan raut wajah gelinya.

Sang suami yang saat itu sudah rapi dengan pakaian mengajarnya hanya bisa tersenyum memandang sang istri. Berulang kali laki-laki itu mengecupi dahi sang istri meskipun dadanya mendapat banyak pukulan pelan. Entahlah, pria itu seperti tidak ingin meninggalkan istrinya saat ini.

"Atau aku harus mengantarmu ke halte?" tawar sang suami. Sang istri menggeleng, "tidak usah. Pergilah, aku akan langsung berangkat setelah ini."

Sang suami menurut, ia melangkahkan kakinya dari rumah itu. Setelah kepergian sang suami, sang istri langsung menelepon seseorang yang akan menemaninya check up pagi itu.

"Oppa, tunggu di rumah sakit saja. Tidak perlu kemari, macet sekali nanti." Ucapnya setelah telepon tersambung dengan orang di seberang sana.

"Tidak apa-apa, aku hanya membawa tas ringan." Ucapnya lagi.

"…"

"Dwaesseo. Na gwaenchana." Ucapnya. Sambungan telepon kemudian terputus.

Wanita itu langsung meraih tasnya, tidak lupa ia menggendong tas punggung yang berisi perlengkapan persiapannya untuk melahirkan. Dengan santai ia melangkah keluar dari rumah, menuju halte terdekat apartemennya. Ia bersenandung senang sambil terus mengusap perut besarnya. Ia bahagia karena akan segera memiliki keturunan bersama suami tercintanya.

Hari itu cukup ramai, dengan cuaca yang cerah dan pohon-pohon sakura yang bermekaran di tepi jalan. Sangat indah. Menaikkan mood siapapun yang beraktifitas hari itu. Langit juga biru, tanpa awan hitam. Menandakan hari itu tidak akan turun hujan. Si wanita duduk di halte, menanti bus yang akan ia naiki datang. Di sana ada beberapa orang lain yang sama menunggunya seperti sang wanita. Tak jarang juga ada beberapa orang yang berbincang sebentar dengan sang wanita, tertarik dengan kehamilannya.

"Sudah berapa bulan?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja selesai berolahraga. Sang wanita yang ditanya tersenyum, tangannya masih setia mengusap perut besarnya, "hampir sembilan bulan, ahjumma." Ucapnya bangga. Wanita paruh baya tadi tersenyum sumringah, ikut mengusap perut besar di depannya. Berbisik ke arah perut besar wanita hamil itu, "jika nanti kau sudah lahir, jangan membuat ibumu bersedih,ya. Lihat, sekarang dia sangat bahagia akan memilikimu."

Bus tiba, semua langsung menaiki bus tersebut. Tidak terlalu ramai, namun semua kursi terpenuhi. Sang wanita hamil tentu saja mendapatkan prioritas, ia bisa duduk dengan nyaman. Wanita itu kembali menyalakan musik di telinganya. Ia juga bersenandung pelan, mengingat kembali masa-masanya masih bisa bernyanyi dan menari dengan bebas. Jauh sebelum ia hamil dan menikah. Wanita itu mengamati sekitar, merenungkan apa yang kira-kira sedang ia lakukan jika ia tidak menikahi suaminya dan malah pergi ke Amerika saat itu.

"Pasti aku masih akan bertengkar dengan mama jika aku memaksa berangkat hari itu," gumamnya. Ia kembali melamun.

Jarak untuk menuju rumah sakit memerlukan waktu 45 menit. Bus yang ia naiki harus melewati 3 halte untuk sampai ke tujuan. Kini bus bertambah ramai. Beberapa penumpang naik di halte pertama setelah sang wanita naik.

Kring

Teleponnya berbunyi, "halo oppa. Aku sudah di bus. Kau dimana?"

"Aku sudah di rumah sakit. Aku tunggu di lobby." Suara orang di seberang.

"Ne, aku akan segera sampai." Sang wanita menutup sambungan telepon saat bus berhenti di halte kedua. 2 orang lagi naik ke dalam bus, membuat bus semakin penuh. Sang wanita memutuskan membuka jendela, mencari pasokan udara untuknya yang mulai merasa pengap.

Tidak lama, halte ketiga mulai terlihat. Sang wanita kembali tersenyum, karena beberapa orang akhirnya turun dan memberikan pasokan udara untuk paru-parunya. Ia kembali bersenandung sambil mengusap perutnya. Ia menatap ke luar jendela, menikmati semilir angin dari celah yang tadi ia buka, menikmati pemandangan bunga sakura yang bermekaran di mana-mana. Sungguh damai. Setidaknya sebelum bunyi dentuman keras terdengar memenuhi telinga sang wanita.

Bruk

Bus menabrak sebuah mobil yang melintas dengan kencang. Membuat mobil itu terpental, sebelum akhirnya berguling bebas. Tidak hanya itu, bus juga ikut goyah. Bus dengan muatan penuh nyawa itu mulai berjalan tidak beraturan. Berputar, berputar, sebelum akhirnya keseimbangannya terganggu dan berguling. Sang wanita hanya bisa diam. Ia tidak mampu merasakan tubuhnya. Ia hanya bisa mendengar teriakan dan lenguhan penumpang lain yang juga sama sakitnya. Ia memikirkan bagaimana bayinya. Itu yang utama.

Tidak lama untuk ambulance datang, sang wanita yang masih terus berusaha sadar mendengar seseorang berteriak bahwa bus itu memuat seorang wanita hamil dan itu adalah dirinya. Karena posisinya, ia tidak tidak bisa melihat apapun. Tapi ia bisa merasakan bahwa kini ada seorang petugas yang berusaha mengangkat tubuhnya yang agak terjepit kursi penumpang. Membawa dirinya yang berlumuran darah keluar, menuju ambulance.

.

.

.

Seorang laki-laki tengah duduk di lobby rumah sakit, memainkan ponselnya sambil menunggu seseorang.

Ninuninuninu

Suara ambulance terdengar di telinga sang lelaki. "Ah, apa baru saja terjadi kecelakaan?" gumamnya.

Seluruh dokter dan perawat dengan tanggap membawa satu per satu korban yang dibawa oleh ambulance-ambulance yang berdatangan. Tidak peduli dengan darah dari korban yang masih mengucur dan mengotori jas putih sang dokter.

Sang laki-laki terus menatap kejadian di depannya, hingga matanya menangkap wajah yang ia kenal tergeletak di atas ranjang yang sedang dibawa lari. Terlihat kondisinya jauh lebih parah daripada korban lainnya, dengan wajah dan baju yang penuh darah. Sang laki-laki langsung berlari, mengikuti wajah yang ia kenal itu hingga berhenti di sebuah ruang operasi.

"Maaf, anda tidak boleh masuk." Cegah seorang perawat saat sang laki-laki hendak ikut masuk ke ruang operasi.

"Tapi…"ucapnya dengan tersengal.

"Apa anda keluarga pasien?" sang laki-laki mengangguk. Namun ia terdistraksi oleh panggilan yang baru saja masuk ke ponselnya. Menghiraukan perawat yang masih di sebelahnya. Sang laki-laki mengatur nafasnya, barulah mengangkat panggilan yang terus membuat ponselnya berbunyi.

"Dengan Seo Johnny-ssi?" ucap seseorang dari seberang telepon.

"Ya, saya Seo Johnny."

"Ibu Young Heum-ssi mengalami kecelakaan bus dan kini dirawat di Rumah Sakit Nasional Seoul, dimohon untuk segera menuju kemari." Seketika itu dunia Johnny runtuh.

Pepatahnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

"Baiklah, saya akan ke sana." Ucapnya kemudian panggilan ditutup.

Perawat tadi ternyata masih menanti panggilan Johnny berakhir. Seakan menunggu untuk berbicara.

"Oh, apalagi ini tuhan?" batin Johnny.

"Apakah anda keluarga Lee Taeyong-ssi?" tanya sang perawat.

Johnny mengangguk, "iya, dia adik saya."

"Pasien akan melakukan operasi, saya akan menyiapkan berkasnya. Bapak mohon tunggu di sini setelah mengurus administrasi di depan. Saya permisi," sang perawat berlari. Sepertinya hendak menyiapkan apa yang tadi ia katakan.

Entahlah, Johnny sudah tidak fokus.

Johnny berlari, menuju bagian administrasi. "Saya ingin mengurus administrasi untuk pasien bernama Lee Taeyong," ucapnya.

"… dan Lee Young Heum."

Selesai dengan urusan administrasi, Johnny sibuk menanti di depan ruang operasi yang tengah mengoperasi kedua orang terpenting dalam hidupnya. Kakinya tidak bisa diam, ia hanya bisa mondar mandir di depan pintu, mengharapkan hasil yang terbaik.

Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar.

"Siapa kali ini?" batinnya.

"Anda keluarga Lee Taeyong-ssi?" tanya sang dokter. Johnny mengangguk. Mempersiapkan diri dengan apapun yang akan dokter itu katakan karena wajahnya sama sekali tidak enak untuk dilihat.

"Maaf, pasien Lee Taeyong tidak bisa diselamatkan. Terlalu banyak pendarahan di otak dan kepalanya akibat benturan yang terjadi. Saya mohon maaf," dokter itu membungkuk, kemudian pergi meninggalkan Johnny bersama seorang perawat.

"Maaf, apakah istrinya di sini?" tanya perawat itu.

Johnny menggeleng, "tidak, istrinya juga sedang di operasi di ruangan lain." Suara Johnny bergetar. Ia berusaha menahan air matanya. Meskipun gagal. Sudut matanya secara kontinu mengeluarkan cairan bening. Terus mengalir, meluapkan rasa sedih Johnny yang masih harap-harap cemas menunggu hasil dari operasi lainnya.

"Keluarga ibu Lee Young Heum?" tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi.

"Iya. Saya kakaknya." Jawabnya.

"Apakah suaminya tidak di sini?" Tubuh Johnny bergetar. Kakinya seakan tidak mampu menahan beban tubuhnya, ia terjatuh ke lantai. Mengagetkan sang perawat yang akhirnya membantunya duduk di kursi. "Suaminya baru saja meninggal…" jawab Johnny dengan suara bergetar. Sang perawat ikut kaget.

"… di ruang operasi lainnya." Kini perawat itu tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya. Sebuah kebetulan yang tidak pernah diharapkan siapapun terjadi pada laki-laki di hadapannya.

"Anak ibu Lee Young Heum selamat, bayinya sudah dibawa ke ruang perawatan bayi. Anda hanya perlu berdoa untuk kesadaran ibunya." Sang perawat berucap saat kini sang dokter telah berdiri di hadapannya. Menatap ke arah Johnny. Sedih.

"Jo, Ten baik-baik saja. Aku yakin. Ia perempuan yang kuat." Ucap sang dokter.

Johnny mendongak, masih menangis.

"Jae, apa dia akan sadar dan bisa melihat bayinya?" ucap Johnny lirih. Sang perawat yang tadi duduk kini berdiri di sebelah sang dokter, membisikkan sesuatu yang membuat sang dokter ikut melotot. Dokter itu meminta sang perawat pergi, membiarkannya bersama Johnny.

"Taeyong, benar-benar sudah-" Johnny lebih dulu mengangguk. Dokter itu dengan segera merangkul laki-laki di hadapannya.

"Jae, anaknya, bagaimana?" tanya Johnny.

Jaehyun tersenyum tipis, "sehat. Sangat sehat. Dia laki-laki."

"Ibunya?"

Senyum yang tadi menghias wajah Jaehyun memudar, "dia koma. Aku tidak bisa memastikan berapa lama, kau berdoa saja."

Today was the darkest day ever in their live.

.

.

.

Johnny mengusap wajah Ten yang masih dengan betahnya menutup matanya. Dengan selang-selang penyokong hidupnya dan alat-alat lain yang ditempelkan ke tubuhnya. Bahkan dirinya tidak akan sadar bahwa sang anak kini telah berusia 4 tahun dan tumbuh tanpa membuang sifat sang ayah dan sang ibu. Bahkan anak itu kini sudah naik ke ranjang sang ibu, bermain-main di sana.

"Yongsil-a, mama sakit kalau kamu naik-naik gitu," ucap Johnny.

"Nggak apa-apa biar mama bangun." Anak laki-laki itu meringis, meneruskan aksinya memainkan perut sang ibu.

Johnny membiarkan, ia sibuk dengan mengelap wajah adiknya. Tidak sadar bahwa detak jantung sang wanita mulai meningkat. Memberikan gejala kesadaran.

"Papa, jari mama gerak-gerak." Johnny yang mendengarnya langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Ia mengangkat sang anak untuk turun agar berdiri di sisi ranjang.

Beberapa dokter segera datang, termasuk Jaehyun. Dokter yang selama ini memberikan perawatan untuk Ten. Dokter itu melihat kondisi Ten, memastikan apakah Ten benar-benar sadar setelah 4 tahun lamanya mengalami koma. Sebuah mukjizat yang hari ini akhirnya keluarga itu terima, Ten akhirnya sadar.

"Ten-a, apakah kau bisa mendengarku?" ucap Jaehyun segera setelah Ten mulai mengerjapkan matanya perlahan. Wanita itu dengan sangat pelan mengangguk. Merespon ucapan Jaehyun. Jaehyun tersenyum, sahabatnya telah sadar.

Sang anak diajak mendekat, membiarkan sang ibu melihat anaknya yang 4 tahun tidak pernah dirinya lihat sejak setelah dilahirkan. Sang ibu tersenyum melihat kehadiran anak kecil di sebelahnya. Ia senang, membuat setitik air mati mengalir ke pipinya.

"Taeyong-a…."

END.