Anonim

Haechan dengan anggunnya memasuki lokasi pesta. Sebuah pesta ulang tahun yang diadakan oleh sahabatnya, Jaemin, di kediamannya yang sudah seperti mansion tersebut. Dengan cekatan Haechan memasuki rumah besar tersebut, tentu saja karena perempuan cantik dengan gaun berwarna biru ini sudah hafal betul bagaimana isi rumah sahabatnya. Ia berjalan masuk, tidak lupa mengenakan topeng sesuai dengan dress code yang sang pemilik pesta minta. Membelah lautan manusia yang sedang menikmati berbagai macam makanan, minuman, cocktail, atau hanya sekadar berbincang dengan pasangan. Haechan dengan segera mencari pemilik acara.

"Yak, kenapa aku harus kesini? Kau tahu aku tidak menyukai keramaian." Ucap Haechan segera setelah menemukan sahabatnya. Ia berbisik.

"Kau pikir aku suka? Ini ulah daddy, kau tahu? Aku tidak mau menderita sendirian makanya aku mengajakmu. Lagipula aku juga tidak tahu siapa yang daddy undang saat ini." Jawab Jaemin ikut berbisik.

"Lalu kenapa kau malah memberikan dress code dengan topeng seperti ini, huh? Membuat repot saja." dengus Haechan. Jaemin hanya meringis, tujuannya membuat dress code seperti ini adalah agar tidak ada tamu ayahnya yang mengerubunginya. Jaemin juga tidak suka keramaian.

"Ini ulang tahunmu yang ke 25 tapi daddy-mu masih saja aneh. Kenapa ia tidak buat sendiri saja pesta untuknya? Kenapa harus menjadikanmu alasan?" Haechan kini menarik Jaemin ke dalam. Setidaknya di dalam lebih sepi dan tidak mengharuskan keduanya berhimpitan dengan banyak orang. Kini mereka duduk di bar yang dilayani oleh ayah Jaemin sendiri. Pria itu mengerutkan dahi saat melihat anaknya dan sahabat anaknya malah duduk di sana.

"Kenapa malah di sini, sayang?" tanya pria bernama Jung Jaehyun yang kini membuatkan minuman untuk anaknya. Sang anak hanya cemberut, tidak menjawab pertanyaan sang ayah.

"uncle kenapa kau tidak membuat pestamu sendiri saja? uncle tahu Jaemin tidak suka keramaian," Haechan mengomel. Mereka sudah sangat dekat, makanya Haechan dengan beraninya mengomel ke ayah sahabatnya. Meskipun omelannya hanya dibalas tawa kecil oleh sang pria.

"Kau ini sedang patah hati, ya?" tanya pria itu tiba-tiba. Haechan melotot, bagaimana bisa pria itu tepat sasaran. Jaemin yang mendengarnya menoleh. "Sejak kapan kau punya pacar?" tanyanya. Haechan menggaruk tengkuknya. Jaehyun tertawa geli melihat tingkah Haechan. Merutuki ucapan ayah sahabatnya yang bisa membaca pikirannya dengan tepat.

"Bukan patah hati, aku hanya sedih. Teman kecilku, dia tiba-tiba berkata tidak mau berteman denganku lagi." Jelas Haechan. Jaemin hanya menepuk pundak sahabatnya. Merasa lega bahwa bukan laki-laki bajingan yang membuat sahabatnya sedih karena putus cinta.

"Kalian masih berhubungan selama ini?" tanya Jaehyun. Ikut masuk dalam pembicaraan dua anak muda di depannya. "Iya, kami tidak pernah putus kontak meskipun belum pernah bertemu lagi." Jawab Haechan. Raut wajahnya tidak seperti saat ia mengomel. Lebih sayu.

"Bagaimana kalian bertemu?" tanya Jaehyun lagi. Jaemin melotot, bagaimana bisa ayahnya malah menanyakan hal-hal tidak penting karena penasaran. Jaehyun hanya melirik, menanggapi pelototan Jaemin dengan tawa geli.

"A-ah, aku bertemu dengannya saat masih tinggal di Jeju. Dia sedang liburan sepertinya, yang kutahu dia berasal dari Kanada." Jaehyun manggut-manggut mendengar jawaban Haechan. Kemudian melanjutkan kegiatan membuat minumnya. Meninggalkan 2 anak muda untuk saling berbicara.

.

.

.

Haechan berjalan gontai memasuki apartemennya. Harinya sungguh lelah. Bukan lelah karena banyak yang harus ia kerjakan, tapi ia lelah menganggur. Tidak banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan hari ini di butik tempat kerjanya. Hanya mengurus beberapa laporan pembayaran yang harus segera ia laporkan pada sang pemilik. Haechan duduk di kursi meja makan, meraih gelas dan air yang selalu tersedia di mejanya. Menuangkan air, berusaha membilas tenggorokannya yang kering. Ia mengeluarkan ponselnya, bermaksud memeriksa apakah ada pesan atau panggilan yang masuk karena ia menonaktifkan ponselnya sejak siang. Karena tidak menunjukkan adanya pesan, Haechan mulai membuka sosial medianya dan menemukan sebuah iklan aplikasi chatting. Haechan penasaran, dengan cepat ia unduh dan mendaftarkan akun untuknya.

Silahkan masukkan username anda

Begitu perintah awal saat Haechan hendak membuat akunnya. Dari yang ia baca, aplikasi ini adalah aplikasi pesan anonim. Akhirnya Haechan memutuskan untuk menggunakan panggilan Fullsun, seperti nama panggilan yang Jaemin berikan padanya. Tentu saja hanya Jaemin yang mengetahuinya.

Setelah memasukkan username, aplikasi itu meminta Haechan untuk memasukkan umurnya. "Mungkin untuk mencocokkan preferensi lawan bicara," pikir Haechan. Dengan cepat jarinya mengetikkan angka 25 ke dalam kolom formulir. Akun berhasil dibuat, kini ia hanya menantikan siapa tahu akan ada pesan yang masuk ke ponselnya.

Hingga malam, tidak ada satupun pesan masuk. Jarinya sibuk merefresh aplikasi, namun nihil. Tidak ada satupun pesan yang masuk. Ia memutuskan untuk segera tidur, berharap minggu paginya akan lebih segar.

Ting

Suara notifikasi membangunkan Haechan yang tengah terlelap dalam dunia mimpinya. Perempuan itu mengernyitkan dahi, berusaha memfokuskan pandangannya ke arah jam dinding.

"Siapa yang menghubungiku jam 4 pagi begini? Apakah Ten eonni?" gumamnya.

Ia segera membuka ponselnya. Matanya mencelos saat melihat notifikasi yang ada merupakan pesan dari aplikasi anonim yang baru ia pasang kemarin sore. Seorang dengan nama pengguna getsetreadymengirimkan pesan padanya.

getsetready

Hello, fullsun

Haechan bimbang. Pesan yang masuk ke ponselnya berbahasa asing, dimana ia tidak begitu mahir bahasa tersebut. Namun di sisi lain ia menganggap aplikasi itu keren karena bisa menjangkau orang dari belahan dunia lain. Di sisi lainnya ia sangat ingin membalas pesan itu. Namun ini masih jam 4 pagi, ia masih mengantuk. Akhirnya niatnya untuk membalas pesan ia urungkan dan melanjutkan tidurnya.

Ting

Lagi-lagi suara notifikasi masuk ke ponselnya. Membangunkan Haechan yang masih tertidur dengan posisi tengkurap dan rambutnya yang acak-acakan. Ia merogoh ponsel yang ia letakkan di dekat bantalnya, membuka ponsel tersebut. Lagi-lagi ia dibuat kaget karena orang yang sama kembali menghubunginya.

getsetready

knock, knock? R u sleeping?

Hari sudah cukup cerah untuk membuat Haechan yang masih kaget untuk kembali tidur. Kali ini ia tidak akan mengabaikan pesan itu. Ia membalasnya dengan bekal pengetahuan bahasa Inggrisnya yang minim.

Fullsun

Hi! I'm sorry. I'm just wake up.

Ia membalasnya. Entah mengapa ia merasa harus menjelaskan pada orang di seberang sana bahwa ia baru saja bangun.

Getsetready

Why did you get to sleep so early?

Early? Sepertinya orang di seberang sana mengira bahwa ia sedang bertukar pesan dengan orang lain di negara yang sama. Haechan bingung, haruskah dirinya mengatakan bahwa dia berasal dari Korea? Haechan menggeleng sendiri. Ia harus tetap menjaga ke anonimannya.

Getsetready

Where r u from, btw?

Oh tidak, dia bertanya. Haechan dibuat kelabakan. Tanpa ia sadari di luar kamarnya sudah ada orang lain yang sibuk di dapurnya. Hingga hidungnya mencium bau masakan yang membuat perutnya berdendang. Memaksa sang pemilik untuk segera mengikuti asal aroma tersebut. Haechan keluar kamar, masih dengan ponsel di genggamannya. Ia turun ke lantai bawah dan meluncur ke dapur. Melihat siapa yang memasak. Benar saja, itu Jaemin yang sedang memasak sarapan untuk mereka berdua pastinya.

"Kau baru bangun? Katanya mau hangout?" tanya Jaemin. Haechan meringis, ia lupa bahwa hari ini ia meminta Jaemin untuk menemaninya melepas penat. Ia ingin belanja, atau sekadar mencuci mata dengan jalan-jalan santai.

Jaemin sudah selesai memasak, ia menyajikan makanannya di meja makan, tepat dimana Haechan sedang duduk. "Ada apa? Pagi-pagi kau tampak aneh." Tanya Jaemin lagi.

Haechan pun menceritakan apa yang ingin ia ceritakan sejak semalam. Tidak lupa ia menunjukkan pesan di ponselnya. "Jawab saja. Tidak ada ruginya, toh kalian tidak tahu nama masing-masing." Jawaban perempuan itu sungguh tidak diharapkan Haechan. Namun bukan Haechan namanya jika tidak menuruti Jaemin. Ia membalas pesan itu.

Fullsun

Korea. How about u?

Getsetready

I'm not korean, but I can speak korean. So do I have to speak korean w/ u? it's ok if u don't mind.

Fullsun

Ok. It'll help me. I'm not good at english.

Getsetready

Hahaha so funny

Fullsun

I'm sorry heheh

Tidak ada jawaban lagi dari seberang. Membuat Haechan agak bersedih. Namun ia teralihkan dengan kehadiran Jaemin. Dua perempuan itu langsung bersiap dan segera pergi keluar.

.

.

.

Seorang laki-laki tengah gusar. Berulang kali ia keluar masuk kamarnya, naik turun ke dapur rumahnya untuk meminum segelas air. Laki-laki itu tengah gelisah, merutuki kecerobohannya. Dia merasa bodoh. Baru saja laki-laki dengan mata bulat dan rahang tajam ini sadar setelah uring-uringan beberapa minggu bahwa ia telah melakukan hal yang paling membuatnya menyesal. Karena emosi, ia lagi-lagi melampiaskan emosinya bukan pada tempatnya, membuatnya kehilangan seseorang yang menurutnya berharga. Ia yakin orang itu saat ini sedang mengumpati tingkah lakunya daripada merasa sedih atas perilakunya.

"Kamu ini kenapa?" tanya seorang wanita paruh baya yang mulai merasa risih saat anak keduanya sibuk naik turun. Terlihat di wajah sang anak bahwa dirinya sedang gelisah. Anak itu tidak menjawab pertanyaan sang ibu.

"Kamu putus cinta?" lagi-lagi pertanyaan itu tidak digubris. Sang ibu pun menyeringai, di otaknya terbersit sebuah ide jail. "Ya ampun semangka di kulkas habis semua dimakan daddy," sang ibu sengaja berucap agak keras agar anaknya mendengar. Benar saja, tidak perlu waktu lama anak laki-laki itu sudah meluncur dengan cepat menuju dapur. Menuju kulkas lebih tepatnya.

"Ah, daddy nakal," gerutunya sambil berjalan. Namun ekspresinya mendadak datar setelah melihat potongan semangkanya masih utuh di tempatnya. Ia menatap sang ibu datar. Sang ibu hanya tertawa geli. "Kamu ini ditanya diam, giliran semangka langsung gas." Sang ibu masih terkekeh. Sang anak akhirnya memutuskan kembali ke kamarnya. Mengunci pintu.

Ia memainkan ponselnya, membuka aplikasi yang sudah ia unduh sejak lama, namun belum pernah ia gunakan. Sebuah aplikasi berkirim pesan anonim. Ia mulai mendaftarkan diri, menggunakan nama anonim andalannya, getsetready, plesetan dari username sosial medianya, onyour_mark.

Laki-laki itu terus menggulirkan layar ponselnya, meneliti akun-akun lain yang mungkin bisa menjadi teman ceritanya. Tidak ada yang menarik awalnya, hingga ia menemukan sebuah akun dengan nama panggilan fullsun. Ia menekan akun tersebut, namun sepertinya akun itu juga akun baru karena belum ada history apa-apa mengenai keaktifannya dan lokasinya. Dengan rasa penasaran, laki-laki bernama Mark itu memulai percakapan.

Getsetready

Hello, fullsun.

Mark meletakkan ponselnya. Ia tidak berharap mendapatkan balasan cepat, namun ia merasa sedih karena pesan yang ia kirim sudah di baca di seberang sana, namun belum mendapatkan balasan apapun.

3 jam, belum ada balasan. Ia memberanikan diri untuk kembali mengirimkan pesan pada si fullsun.

Getsetready

Knock, knock? R u sleeping?

Kali ini tidak perlu lama hingga akhirnya seseorang di seberang membalasnya.

Fullsun

Hi! I'm sorry. I'm just wake up.

Mark mengernyitkan dahinya, melihat jam yang berada di atas nakas. Ini masih jam 8 malam, tapi lawan bicaranya berkata bahwa ia baru saja bangun tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali membalasnya.

Getsetready

Why did you get to sleep so early?

Lagi-lagi ia tak kunjung mendapatkan balasan. Otaknya berpikir, apa mungkin lawan bicaranya saat ini bukan berasal dari negara yang sama dengannya. Atau bisa saja lawan bicaranya sengaja mengacuhkannya karena tidak tertarik. Mark tidak tahu.

Getsetready

Where r u from, btw?

Mark tidak tahan, setidaknya ia harus tahu posisi lawan bicaranya. Kali ini pesan kembali dibalas dalam waktu singkat. Sepertinya lawan bicaranya sudah benar-benar bangun sepenuhnya.

Fullsun

Korea. How about u?

Mark terkesiap. Pantas saja lawan bicaranya membalasnya lama. Tadi saat ia memulai percakapan, di Korea masih menunjukkan jam 4 pagi. Mark merasa sungkan. Ia mengganggu jam tidur orang yang tidak ia kenal. Pertanyaan sang lawan bicara membuat Mark merasa ia harus menjawabnya. Dengan segera jari-jarinya kembali menari di keyboard ponselnya.

Getsetready

I'm not korean, but I can speak korean. So do I have to speak korean w/ u? it's ok if u don't mind.

Fullsun

Ok. It'll help me. I'm not good at english.

Getsetready

Hahaha so funny

Fullsun

I'm sorry heheh

"Mark!" panggilan sang ayah di lantai bawah memberikan distraksi pada otak Mark yang sedang memikirkan topik pembicaraan. Dengan cepat pemuda itu berlari ke lantai bawah, menemui sang ayah yang sudah memanggilnya berulang kali. Saat ia turun, kakaknya, ibunya, dan ayahnya sudah berkumpul di sofa ruang tengah. Seperti tengah rapat keluarga. Mark langsung duduk di sebelah sang kakak, ikut menyimak baik-baik ucapan sang ayah.

"Mulai minggu depan daddy ditugaskan di Korea. Karena Seokmin pekerjaannya tidak bisa ditinggal saat ini, Minhyung yang akan menemani ayah di sana. Pekerjaanmu bisa dikerjakan di rumah, kan?" tanya Lee Hyukjae, ayah Mark. Mark hanya mengangguk, tidak memberikan ekspresi apapun.

.

.

Haechan bangun terlalu awal. Itupun karena dirinya yang merasa sangat panas karena suhu tubuhnya yang cukup tinggi sejak semalam. Sepulang jalan-jalan bersama Jaemin yang berujung kehujanan itu, membuat Haechan harus mengalami demam malam harinya.

Ting

Terdengar notifikasi dari ponsel Haechan. Dengan mengerahkan segala tenaganya yang masih tersisa, ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakasnya. Ia membuka notifikasi tersebut. Tersenyum tipis.

Getsetready

R u sleeping?

Dengan cepat dan penuh usaha, Haechan membalasnya. Ia takut orang diseberang akan meninggalkannya seperti semalam.

Fullsun

Nope. Aku tidak enak badan dan terus terbangun daritadi.

Getsetready

R u okay? Sudah ke dokter?

Senyuman terukir dari bibir Haechan. Ia merasa diperhatikan oleh lawan bicaranya yang baru ia kenal 24 jam terakhir.

Fullsun

Belum. Aku baru saja mengalaminya saat pulang sehabis hangout dengan teman.

Hope I' m okay.

Getsetready

Kau sedang apa?

Fullsun

Berusaha tidur lagi, maybe. Aku sangat pusing.

Getsetready

Aku ingin menyanyikanmu lagu tidur andai aplikasi ini bisa dipakai untuk telepon

Tanpa sadar Haechan semakin merasa panas. Ia senang. Kelewat senang. Lawan bicaranya sangat membuatnya nyaman, meskipun hal itu membuatnya teringat lagi pada teman kecilnya yang membuangnya begitu saja. memintanya menjauh tanpa alasan yang jelas. Berkata bahwa dirinya tidak bisa dipercaya.

Fullsun

Hahaha, nice try. Tapi aku tidak mengharapkan itu

Getsetready

Kenapa? Apa kau tidak ingin berteman denganku?

Fullsun

Hahaha, bukan. Kau ini cukup sensitif, ya.

Getsetready

Aku hanya bertanya tentang kemungkinan, hehe

Tapi aplikasi ini punya fitur voice note. Kau mau mendengarnya?

Haechan ragu. Ia terdiam, memandangi layar ponselnya. Ia tidak ingin identitasnya terbongkar lebih cepat. Ia lebih nyaman jika mereka tidak saling tahu satu sama lain.

Fullsun

Jangan. aku tidak mau rumahku runtuh karena memutar voice note mu.

Getsetready

Dasar. Memang suaraku tidak bagus, sih.

Fullsun

Sepertinya aku hanya akan menunggu hingga pagi

Getsetready

Hei! Kau bilang kepalamu pusing

Fullsun

Ini akan membaik sebentar lagi. Aku hanya butuh obat penurun panas.

Getsetready

Kau tinggal sendiri?

Fullsun

Iya. Biasanya sahabatku akan ke rumah setiap hari hahaha

Getsetready

Bolehkah aku bertanya sesuatu? Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawab, tapi setidaknya aku ingin mencoba bertanya.

Fullsun

Apa?

Getsetready

Apakah kau perempuan… atau laki-laki? Aku hanya tidak tahu bagaimana harus menyikapimu.

Haechan berpikir sejenak. Lagi-lagi ia ragu. Dalam hatinya ia ingin berkata jujur, tapi ia juga takut jika sekali saja ia jujur maka akan menjadi kebiasaan baginya untuk terlalu jujur pada orang yang baru saja ia kenal. Namun hatinya juga percaya kalau lawan bicaranya ini adalah orang baik-baik dilihat dari caranya berbicara.

Fullsun

Ah, aku perempuan. Jangan dipikirkan terlalu dalam, kita bahkan tidak akan bertemu

Getsetready

Apakah kau baik-baik saja dengan laki-laki? Aku takut kau tidak akan membalasku lagi saat tahu aku laki-laki T_T

Fullsun

Hei! Aku bukan anak kecil! Hahahahha

Percakapan berlanjut hingga matahari mulai menyapa Haechan. Ia terlalu sibuk berbalas pesan dengan teman barunya hingga lupa bahwa dirinya tengah sakit. Orang baru itu seakan obat bagi Haechan.

Fullsun

Aku harus pergi bekerja, terima kasih sudah membantuku meredakan sakitku

Getsetready

My pleasure, fullsun.

Haechan tidak membalas lagi. Sengaja memang. Ia tidak ingin berakhir sebagai orang yang pesannya bernasib read only oleh sang lawan bicara. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, membersihkan tubuhnya dengan air hangat, bersiap untuk bekerja.

.

.

.

Sudah beberapa hari Mark dan Haechan saling berhubungan. Mereka sudah banyak bertukar cerita mengenai kehidupan pribadi mereka meskipun keduanya tidak pernah bertemu. Ingin rasanya dalam hati Mark memberitahu bahwa ia akan segera ke Korea. Tapi ia takut. Ia takut lawan bicaranya yang selalu ia panggil fullsun ini menjauh.

Ting

Tidak biasanya ponsel mark akan berbunyi di jam segini bila bukan karena fullsun. Dengan cepat ia meraih ponselnya di saku celana, berharap jika itu memang benar fullsun yang menghubunginya. Sesaat setelah membaca notifikasi, ujung bibir Mark tidak mampu menahan untuk tidak bergerak naik. Fullsun menghubunginya lebih dahulu.

Fullsun

Hei. Pernahkah kau memiliki seorang teman yang…

Sangat dekat?

Mark mengernyitkan dahinya, "apa dia sedang ada masalah?" gumamnya heran.

"Siapa yang ada masalah?" tanya Seokmin. Kakaknya itu berdiri di ambang pintu, melihat Mark yang sedang berdiri memunggunginya dengan hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan karena dirinya baru saja selesai mandi. Suara itu membuat Mark menoleh, dengan fokus pandangannya yang masih tertuju pada layar ponselnya.

"Serius amat. Siapa?" Mark menatap kakaknya.

"Hyung bolehkah aku menjawab ini dengan jujur?" tanya Mark. Seokmin mendekat, meraih ponsel Mark dan membaca percakapan keduanya mulai awal. Berniat mengerti situasinya. Ia menghela nafas pelan, "jujur saja jika kau tidak keberatan ia tahu dengan masalahmu." Ucapnya sebelum pergi keluar dari kamar sang adik. Meninggalkan Mark bingung lagi.

Getsetready

Ada. Tapi, ini sudah hampir sebulan aku tidak bisa menghubunginya.

Fullsun

Kenapa?

Getsetready

Hanya ada sedikit masalah. Kau kenapa? Apakah ada masalah?

Fullsun

Aku merindukan seorang teman.

Getsetready

Kenapa tidak menghubunginya dan bertemu?

Fullsun

Entahlah, aku takut. Ia sempat berkata sesuatu yang menyakitkan. Aku masih…

Tidak bisa memahaminya

Getsetready

Sepertinya dia sangat dekat denganmu…

Fullsun

Iya, sangat sangat sangat dekat. Dia sosok teman yang baik

Kau sendiri kenapa dengan temanmu?

Getsetready

Apakah baik-baik saja jika kini kita membahasnya?

Fullsun

Ceritakan saja. bukannya biasanya selalu begini?

Kenapa sekarang harus meminta izin?

Getsetready

Hahaha kau benar juga. Kita sudah berbagi banyak hal

Aku melakukan kesalahan pada temanku juga.

Cukup besar

Kini ia tidak menghubungiku sama sekali

Fullsun

Kau tidak berniat menghubunginya?

Getsetready

Aku merasa tidak pantas menghubunginya. Aku benar-benar menyakitinya saat itu

Fullsun

Kau pasti punya alasan untuk itu…

Sudah kau jelaskan padanya?

Getsetready

Aku tidak tahu bagaimana memulainya…

Tapi aku juga sadar, terlalu lama takut akan membuatku kehilangannya

Aku takut dia tidak menerima alasanku

Fullsun

Coba saja dulu. Siapa tahu alasannya tidak menghubungimu adalah karena ia menantimu memberikan alasan padanya.

Getsetready

Haruskah?

Fullsun

Ya. Harus. Hahahah

Getsetready

Kau sendiri, kenapa tidak berusaha menghubungi temanmu itu?

Fullsun

Ah,…

Aku sama takutnya.

Getsetready

Memang benar kata orang-orang

Menasehati orang lain lebih mudah daripada melakukannya untuk diri sendiri.

Fullsun

Baiklah-baiklah. Aku akan menghubunginya. Nanti.

Getsetready

Itu baru fullsunku. Aku juga akan melakukan yang kau saranku haha

Fullsun

Semoga berhasil!

Have a nice dream! Aku akan pergi bekerja ^_^

.

.

.

Hari ini Mark akan berangkat ke Korea bersama ayahnya. Entah apa yang akan ia lakukan di sana nanti, tapi hal pertama yang ia nantikan adalah bertemu dengan fullsun-nya. Mereka sudah sepakat untuk bertemu sehari setelah Mark tiba di Korea. Mereka juga telah menentukan dimana mereka akan bertemu.

"Kau kenapa senyum senyum begitu? Daddy takut melihatmu." Ucap Hyukjae saat melihat anaknya duduk memandang keluar jendela dengan senyum sumringah yang tidak luntur sejak pesawat mulai terbang. Anaknya hanya menoleh, menggeleng.

"Kau akan bertemu Haechan? Sudah lama kalian tidak bertemu," imbuh sang ayah.

"Daddy masih ingat dengan Haechan?" tanya Mark.

"Tentu daddy masih ingat. Bahkan saat kau sakit waktu itu hanya dia yang kau hubungi," jawab Hyukjae.

Mark tersenyum tipis, mengingat kembali masa yang ayahnya sebutkan. Masa terpuruknya, dimana Haechanlah yang menjadi mataharinya saat itu. Meskipun kini ia juga menemukan matahari lain yang menemaninya saat ia sedang bersedih, Haechan tetaplah mataharinya yang harus ia selamatkan.

"Aku akan menemuinya segera, dad."

.

.

.

TBC.