Ten menghela nafasnya berat. Pekerjaannya hari ini cukup banyak menguras pikiran dan tenaganya. Tidak seperti biasanya, kali ini Ten mendapatkan kasus yang cukup berat, dimana ia ditugaskan untuk menangani sebuah pembunuhan yang dialami oleh seorang siswi SMA. Yang membuatnya sulit adalah karena tidak banyak bukti langsung yang menuju pada sang pembunuh dugaan Ten, meskipun intuisinya berkata bahwa orang dalam pikirannya adalah pembunuuh siswi itu.

Dengan langkah gontai, Ten memasuki rumahnya. Ia tinggal sendirian, hanya bersama dengan 2 ekor kucing yang ia panggil Bonnie dan Clyde. Dua kesayangan Ten selain pekerjaannya. Ia memasuki rumah yang kini telah sunyi karena kedua kucingnya telah tidur, melepas sepatunya dan membuangnya asal. Berjalan menuju sofa di ruang tv, sambil memijat pelipisnya yang terasa berat. Kunciran rambutnya sudah tidak berbentuk, membuat anak rambut beracakan di kepalanya. Polesan make upnya juga sudah sangat lengket, meminta untuk dibersihkan. Namun sang pemilik tubuh masih setia duduk bersandar di sofa. Memejamkan matanya.

"Ayolah, pasti ada satu saja petunjuk yang mengarah padanya," racau Ten.

Wanita itu berdiri dengan gusar, segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

.

.

.

"Ten, kau harus melihat ini." Jungwoo menarik lengan Ten yang baru saja meletakkan tasnya di meja. Mau tidak mau ia mengikuti langkah kaki wanita yang menariknya menuju ruangan penyelidikan. Ruangan itu penuh dengan foto-foto dan berkas-berkas kasus milik Ten.

"Lihat ini," Jungwoo meminta Ten untuk melihat layar monitor di depannya. Sebuah layar yang sedang mencari data sidik jari.

"Semua sidik jari yang ada pada senjata hanya memuat sidik jari korban, kecuali pada satu titik ini," Jungwoo menunjukkan titik yang ia maksud. Memang di sana sistem tidak mendeteksi sidik jari tersebut. Namun siapapun bisa tahu sidik jari itu milik orang yang berbeda.

"Tidak bisa dilacak?" Ten menggigiti kuku jempolnya.

Jungwoo menggeleng, "itu terlalu kecil untuk dideteksi oleh sistem."

Ten menghela nafas berat. Lagi. Kasusnya kali ini hanya mengarah pada kasus buntu yang pada akhirnya akan divonis sebagai kasus bunuh diri. Ten tidak ingin itu terjadi. Ia yakin tidak akan ada orang bodoh yang membunuh dirinya dengan melayangkan 11 tusukan pada tubuhnya.

.

.

.

Hiruk pikuk musik khas klub malam terdengar memenuhi seluruh ruangan. Membuat siapa saja yang berada di sana tidak berhenti bergoyang, mengikuti aliran musik yang disuguhkan sang DJ. Kecuali seorang pria yang kini tengah duduk sendirian di sebuah sofa. Pria itu diam, menatap ke satu arah, dengan segala pikirannya. Pria yang memiliki wajah seperti karakter dari komik, dengan hidung mancung dan mata bulat yang tajam. Rahangnya yang tajam ikut menyempurnakan tampilan visual sang pria. Belum lagi dengan balutan setelan jas hitamnya yang tidak murah, hanya dibuat untuknya. Ia sesekali meneguk minuman di depannya, menuangkan sendiri minumannya untuk dirinya sendiri. Tidak peduli dengan mata-mata lapar yang terlihat mendamba sang pria.

"Mau kutemani, tuan?" tanya seorang wanita dengan gaun hitam kurang bahan yang mendekati pria tersebut. Ia hanya menggeleng membuat sang wanita cemberut. Meninggalkan sang pria.

"Kau ini kenapa? Biasanya kau sangat aktif di klub sialan milikmu ini," ucap seorang pria yang baru saja menghampiri pria yang duduk. Ia masih diam, mengacuhkan ucapan sang teman.

"Taeyong-a? Kau kenapa?" tanyanya lagi. Membuatnya ikut menatap ke arah tatapan pria yang ia panggil Taeyong. Matanya mengernyit, berusaha mengenali objek pandangannya dengan benar. "Kenapa kau melihat Yuta seperti itu?" tanyanya lagi.

Taeyong menoleh, menatap pria di depannya heran. "Hyung mengenalnya?" tanyanya. Yang ditanya hanya mengangguk mantap. Kali ini ia yakin tidak salah mengenali orang.

"Dia Yuta. Nakamoto Yuta. Tidak kusangka orang sepertinya akan masuk tempat ini." Ucapnya melanjutkan. Taeyong menatapnya berharap, ingin meminta informasi lebih.

"Kau ingin aku menyelidikinya? Tiba-tiba?" pria itu kaget dengan tatapan Taeyong. Pasalnya pria di depannya ini sama sekali tidak mengenal Yuta, namun secara tiba-tiba ia memintanya untuk menyelidiki orang seperti Yuta.

"Taeil-hyung, kumohon. Atau aku akan menyelidikinya sendiri dengan caraku sendiri." Ucapnya menekankan kata-kata terakhirnya.

"Apa yang kau harapkan dari orang sebersih Yuta?" tanya Taeil.

Taeyong mengernyitkan dahi. Mana mungkin ia bersih saat matanya melihat warna lain menguar dari tubuh Yuta. Tidak seperti saat matanya melihat pria di sebelahnya yang ia panggil Taeil. Seorang pria dari kepolisian yang banyak ia bantu dengan kemampuannya. Seorang pria yang ia lihat hanya menguarkan warna putih dari tubuhnya.

.

.

.

"You have to see this," ucap Taeyong segera setelah memasuki ruang penyelidikan yang sudah terlebih dahulu oleh Ten, Jungwoo, dan Taeil. Seperti biasa, Ten menunjukkan ekspresi jengahnya saat melihat Taeyong yang sudah beberapa bulan ini diberikan akses keluar masuk ke kepolisian. Siapa lagi kalau bukan ulah Taeil, si kepala kepolisian.

"Kenapa dia ada di sini?" gerak bibir Ten memberikan protesnya pada Taeil. Pasalnya laki-laki Bernama Taeyong itu tidak pernah mau mengikuti prosedur resmi kepolisian saat menyelesaikan kasus. Dengan lantang biasanya ia akan yakin dengan pelakunya tanpa menunjukkan bukti-bukti konkrit yang diperlukan untuk penahanan. Itulah yang membuat Ten jengah, sikap pria itu sangat bertolak belakang dengan Ten yang sangat mematuhi prosedur.

"Apalagi yang kau bawa?" tanya Ten to the point. Taeyong hanya nyengir lebar, menunjukkan sebuah foto dimana siswi korban tengah berjalan bersama seorang pria yang mengenakan setelan rapi. Nampak seperti pria baik-baik.

"Kau masih mencurigai Yuta?" Taeil tercengang saat Taeyong tiba-tiba menyodorkan foto yang tidak ia ketahui sebelumnya. Padahal biasanya pria itu akan menunjukkan dulu apa yang ia dapat sesuai dengan kesepakatannya saat bergabung.

"Yuta? Nakamoto Yuta maksudmu?" Jungwoo membelalak kaget. Sudah berita umum bahwa Yuta adalah seseorang yang sangat bersih. Bahkan untuk melakukan pencurian saja Yuta tidak pernah melakukannya. Tapi kali ini membunuh? Ayolah, siapa yang akan percaya?

"Jangan bilang kau menggunakan lagi intuisi warna warnimu itu, Taeyong-ssi," Ten berucap dengan pandangan tajam ke arah Taeyong. Pria itu justru santai, menyunggingkan senyumnya ke arah wanita di hadapannya. "Kau tahu intuisiku ini tidak pernah salah, detektif," ucapnya. Ten memutar bola matanya. Kalah. Memang benar, intuisi pria ini tidak pernah salah dan selalu membantu mempercepat penangkapan. Ten hanya tidak suka bagaimana cara pria ini membanggakan kemampuan anehnya itu.

"Berikan aku bukti, selain foto ini." Ucap Ten dengan wajah yang masih tidak bersahabat. Taeyong hanya tersenyum, tangannya mengeluarkan lembaran kertas lain dan menunjukkannya di meja.

"Ini," sebuah foto yang dengan jelas menampakkan bahwa Yuta tengah meletakkan senjata pembunuhan di balik jasnya. Apakah pria itu bodoh? Kenapa membawa senjata tajam di balik jasnya?

"Tapi tidak ada sidik jari miliknya di senjata itu," Jungwoo menyangkal bukti yang Taeyong berikan.

"Bagaimana jika itu memang milik Yuta dan orang lain yang memakainya?" lanjut Jungwoo.

Taeyong mengacak rambutnya. Ia tidak suka diragukan. Terlebih lagi, ia tahu senjata itu bukan milik siapapun, melainkan milik saudaranya, Jeno. Itu adalah belati milik Jeno yang hilang dan menjadi alasan Taeyong tetap berkeliaran di sekitar kepolisian. Sebuah belati yang tidak seharusnya dipegang oleh manusia biasa.

"Itu tugas kalian untuk bertanya padanya, kan?" ucap Taeyong.

Ten mendelik kesal. Dengan cepat ia berlari, berniat mencari seseorang Bernama Nakamoto Yuta itu. Taeyong menyeringai, ia senang karena apapun reaksi jengah Ten padanya, wanita itu pada akhirnya akan selalu memeriksa pernyataannya.

.

.

.

"Bukankah kau Ten Lee? Detektif kebanggaan kepolisian timur, kan? Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Ucap seorang pria Bernama Yuta yang tengah berdiri di hadapan Ten dan Taeyong sambil menyesap minumannya.

Ten mengernyitkan dahinya. Ekspresinya seakan menunjukkan dia tidak tahu apapun. Entah karena memang tidak tahu apapun atau memang sengaja bertingkah seperti tidak mengetahui apapun.

"Kau mengenal gadis ini?" tanya Ten sambil menunjukkan foto korban pada ponselnya. Taeyong masih diam, mengamati.

"Ya, aku mengenalnya. Dia sungguh gadis yang baik hati, detektif. Aku berniat akan memberikan donasi padanya untuk Pendidikan lanjutnya. Meskipun awalnya dia menolakku dan berkata aku adalah pria tidak benar dan akan menjualnya." Yuta bercerita dengan gamblang. Sedikit tertawa di bagian akhir. Mendengarnya, Ten menjadi ragu.

"Bagaimana kabar gadis ini?" tanya Ten sedikit menelisik.

"Entahlah, aku belum menghubunginya sejak terakhir kami bertemu. Tapi sepertinya aku kehilangan salah satu barangku saat bertemu dengannya malam itu." Taeyong tersenyum tipis, sedangkan Ten mengernyitkan dahinya.

Ten menarik lengan Taeyong, mengajaknya menjauh dari Yuta. "Kau ingin bertanya tentang belati itu, kan?" Ten mengangguk. Kini Taeyong yang menariknya. Pria itu membawa Ten menuju rooftop.

"Apa yang kau lakukan?" protes Ten sambil memegangi pergelangan tangannya yang sakit akibat cengkeraman Taeyong.

"Kau ingin tahu,kan? Tunggu." Taeyong membuka atasannya. Menyisakan celana kainnya dan menampakkan jajaran otot perut miliknya yang terbentuk dengan sempurna. Belum lagi urat-urat tangannya yang menonjol yang biasanya selalu tertutup lengan atasannya.

"Hei, kau mesum!" Taeyong hanya tersenyum tipis. Ia memejamkan matanya, seakan sedang berkonsentrasi atas sesuatu. Tiba-tiba lampu di sekitar mereka padam. Ten hanya bisa diam menyaksikan semuanya. Kini semua gelap, hanya menyisakan lampu-lampu yang berasal dari Gedung lain di sekitar mereka. Taeyong berdiri ditengah. Masih dengan tubuhnya yang bertelanjang dada, namun bedanya kini sedikit demi sedikit tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang semakin lama semakin terang lalu hilang dalam sekejap.

Taeyong hilang

Bukan

Dia tidak hilang, melainkan terbang.

Sepasang sayap besar bertengger di punggungnya. Sayap yang membawanya terbang dan kini menatap dalam kea rah mata Ten. Ia turun. Perlahan. Pelan tapi pasti, ten mendekati pria yang baru beberapa menit lalu ia Yakini tidak memiliki sepasang sayap itu.

"Apa maksudmu? Siapa kau?" tanya Ten.

Taeyong tersenyum, tangannya membelai wajah Ten lembut. "Ini aku, Taeyong."

Ten mengernyitkan dahi. Bingung. Bukan ini tujuannya kemari. "Apa yang mau kau tunjukkan?"

Taeyong tertawa. Senang karena wanita di depannya tidak takut dengan wujudnya. Taeyong mengulurkan tangannya. Sesaat, sebuah belati yang sama dengan senjata pembunuhan yang sedang Ten kerjakan muncul di tangannya.

"Kenapa itu bisa di sini?"

Taeyong lagi-lagi tertawa. Wanita di depannya ini lebih peduli pada kasusnya daripada memedulikan makhluk bukan manusia di depannya.

"Ini milikku dan yang sekarang sedang kalian cari itu adalah milik saudaraku." Jelas Taeyong.

Ten nampak tidak percaya. Berulangkali wanita itu mengalihkan pandangannya pada Taeyong dan belati itu. Memang ada sedikit perbedaan jika dilihat dengan seksama. Milik Taeyong sedikit lebih panjang dan mata pisaunya lebih pipih. Tapi semua ukiran yang ada pada pegangannya, sama. Seakan memang dibuat oleh pembuat yang sama.

Belum lama setelah belati milik Taeyong muncul, cahaya lain ikut muncul di hadapan Ten. Menampakkan sesosok pria lainnya yang nampak lebih muda. Tidak lupa dengan sayap yang sama. Taeyong menoleh, "hei kau di sini?"

Pria itu mendecih. Mendekati keduanya.

"Bagaimana milikku?" tanya pria itu.

Ten sudah menodongkan pistolnya. Wanita itu mulai was-was.

"Dia Lee Jeno. Saudara yang kumaksudkan. Miliknya itu, memang pembunuh." Nyatanya penjelasan Taeyong tidak membuat Ten berhenti menodongkan pistolnya kea rah Jeno.

"Aku Jeno. Tolong temukan barang milikku sebelum korbanmu semakin banyak. Barang itu tidak untuk dipegang manusia seperti kalian." Ucap Jeno datar.

Ten menoleh pada Taeyong. Meminta penjelasan. Taeyong sendiri daritadi malah asik menonton sang adik yang ditodong oleh pistol siap dor milik Ten.

"Senjata pembunuhmu, aku yakin sekarang belati itu sudah berada di tangan orang lain. Percayalah padaku, akan ada kasus serupa yang akan kau hadapi dan itu karena belati itu."

Ten masih menatap keduanya dengan tatapan penuh selidik. Banyak hal tidak masuk akal yang harus otak rasionalnya cerna sekaligus kali ini.

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" ucap wanita dengan badge polisi di pinggangnya. Wanita itu tidak mau dengan cepat percaya rupanya.

"Kau tahu aku tidak pernah salah, kan? Ingat kembali kasus-kasus yang aku bantu sebelumnya." Taeyong berucap dengan percaya diri. Memang benar ucapannya, sudah banyak kasus yang ia bantu selama ia berada di kepolisian. Meskipun bukan itu tujuan utamanya bergabung ke dalam organisasi penuh aturan tersebut.

.

.

.

"Ten-ssi, ini berkas kasus baru yang harus kau tangani." Taeil memberikan sebuah map cokelat ke hadapan Ten yang kini sibuk berkutat dengan komputernya. Membuat laporan mengenai perkembangan kasus sebelumnya. Ten mengambil map itu, membacanya. Hingga alisnya kembali berkerut.

"Ya, senjata yang sama dan sama-sama hilang," ucap Taeil segera setelah pria itu melihat ekspresi detektif di hadapannya.

"Selamat pagi Ten-ssi!" sambutan pagi hari dari seorang pria yang Ten kenal memenuhi ruangan. Pria yang beberapa lama ini selalu mengikuti kemanapun Ten pergi. Pria yang sama yang selalu membantu Ten menyelesaikan segala kasus yang diberikan atasannya padanya.

"Bisakah kau tidak berteriak, Taeyong-ssi?" ucap Ten. Taeyong hanya meringis. Meletakkan bungkusan roti isi dan segelas kopi di meja kerja Ten.

"Untukmu, aku tahu kau belum sarapan," ucapnya.

Ten hanya membalikkan bola matanya. Malas meladeni makhluk bukan manusia di hadapannya. Andai saja mulutnya bisa meneriakkan bahwa pria super tampan blasteran surga ini bukan manusia -walaupun memang benar ia keturunan surga- ia sudah membeberkannya pada semua yang ada di kesatuan ini. Agar pria itu tidak lagi memenuhi hari-harinya dengan sapaan-sapaan konyol. Paling tidak tidak membuatnya ditatap dengan aneh saat Ten berjalan di pusat perbelanjaan.

"Apa kubilang, kasus ini pasti akan terulang. 11 tusukan dan menghilang, bukan begitu?" Taeyong menatap Ten. Taeil tidak tampak terkejut. Ia segera meninggalkan keduanya dan kembali ke ruangannya.

"Kenapa kau tidak meminta saudaramu itu yang mencarinya? Itu benda miliknya dan sangat meresahkan di sini."

"Ya, sama sepertimu yang membuatku gelisah karena tidak kunjung menerima ajakan makan malamku," Taeyong tertawa kecil. Lagi-lagi Ten memutar bola matanya. Pria itu belum berhenti menggodanya.

"Baiklah," Ten menghela nafasnya. Jemarinya yang sedaritadi berkutat dengan keyboard dan komputernya berhenti sejenak. Wanita itu kini menatap pria di hadapannya yang sedang terdiam.

"Ayo kita makan malam setelah kasus ini selesai." Ucap Ten.

.

.

.

TBC