"Tidak, kenapa jadi seperti ini? Doyoung tidak akan menyukainya!" Suara keras yang diucapkan salah seorang pria yang sedang duduk di sebuah ruangan bernama studio itu terdengar menggelegar. Dilemparkannya kertas-kertas yang ia pegang sejak tadi. Wajahnya tampak tegang, tidak mampu lagi membendung amarah yang selalu ia simpan. Pria itu menatap tajam beberapa orang di depannya, membuat yang ditatap enggan untuk menatap balik.

"Tapi, Jay, ini versi final yang dibuat Lee PD-nim," seorang wanita rupanya tidak memahami situasinya. Terlihat karena wanita itu satu-satunya yang berani membuka mulutnya di saat yang lainnya diam. Tentu saja, wanita itu adalah anggota baru dalam tim tersebut. Ia pasti tidak tahu apapun.

"Aku tidak akan melanjutkannya. Aku tidak mau Doyoung kecewa." Pria dengan panggilan Jay itu pergi meninggalkan studio. Menutup keras pintu hingga siapapun bisa mendengar suara gebrakan pintu yang cukup keras. Seluruh penghuni studio menghela nafas berat. Mereka tidak pernah melihat rekan mereka marah seperti ini. Karena bagaimanapun, Jay terkenal sebagai orang yang menghabiskan hidupnya untuk tersenyum selama ini.

"Kau ini kenapa menjawabnya?" ucap seorang pria dengan frustasi. Tatapannya tertuju pada wanita tadi. Yang ditatap hanya diam, ia belum bisa mengerti dengan situasinya. Ia malah sibuk memunguti kertas yang tadi dilemparkan Jay. Merapikannya kembali.

"Sebaiknya lain kali kau diam saja daripada mengacau seperti ini," ucap seorang wanita lain yang duduk di sebelah pria tadi. Tatapannya ketus, nampak tidak suka dengan apapun yang sang wanita lakukan sebelumnya.

.

.

.

2 tahun sebelumnya

Cafe malam itu nampak cukup ramai. Hanya ada beberapa meja yang tersisa, itupun hanya meja -meja tunggal tanpa kursi. Mungkin karena hari itu adalah akhir pekan, dimana hampir seluruh penduduk kota akan menikmati waktu senggang mereka. Meluangkan waktu bersama keluarga, kekasih, atau bahkan diri sendiri. Seperti seorang pria yang kini berjalan dengan setelan jas kasualnya. Berjalan menuju podium live band di cafe itu, kemudian duduk di depan piano yang terpasang manis di sana. Dengan cepat tangannya menyesuaikan tempat duduknya, mengatur mikrofon, dan melakukan testing pada setiap tuts piano di hadapannya. Bersiap untuk bernyanyi.

"A a a. Ekhem," pria itu mulai berbicara. Semua pengunjung tentu saja otomatis menoleh ke asal suara. Semuanya terkesiap melihat pria yang duduk di depan mereka. Justru ada beberapa yang menatap kagum. Mungkin karena sosok yang mereka lihat benar-benar berparas tampan dengan rambut cepaknya yang tertata agak berantakan.

"Selamat malam semuanya. Perkenalkan, saya Jay. Malam ini saya akan menyanyikan sebuah lagu, selamat menikmati." Ucap sang pria sebelum tangannya mulai menari di atas tuts dengan lihai. Jemarinya lincah, menekan tiap tuts tanpa kesalahan. Menghasilkan bunyi yang indah agar didengar seluruh pengunjung.

uriga nanun
gin shiganmankeum neureonan gidaeneun
eojjeomyeon dangyeonhaljido molla
sumaneun wechimdo
seoroye mamen dachi motan chae
geureoke heulleogagido haetjiman
So whenever you ask me again
How I feel
Please remember
My answer is you

meon gireul dashi doraganda haedo
nan yeojeonhi gateun mamil tenikka
We'll be alright
I want to try again

Alunan piano masih terdengar indah. Seluruh pengunjung juga terlihat sangat menikmati suara yang dihasilkan oleh pita suara sang pria. Menjadikan suasana di sana menjadi syahdu. Semuanya bersikap seolah mereka paham apa yang sang pria nyanyikan.

jajeun datume
myeot beonigo dashi muneojeodo
jungyohan geon urirago malhaetteut
muuimihaji ana
han georeum deo naaganeun georago
jinannari malhaejugo inneun geol

So whenever you ask me again
How I feel
Please remember
My answer is you

meon gireul dashi doraganda haedo
nan yeojeonhi gateun mamil tenikka
We'll be alright
I want to try again

gateun banbogieodo
You should know that
I'm always on your side
Please remember
My answer is you

meon gireul dashi doraganda haedo
nan yeojeonhi gateun mamil tenikka
We'll be alright
I want to try again

We'll be alright
Please try again

Suara tepuk tangan terdengar ricuh segera setelah Jay berhenti memainkan tuts piano. Pria itu kemudian berdiri, memberi salam sebelum akhirnya pergi meninggalkan cafe. Pria itu kini berdiri di depan pintu cafe, tidak bisa berjalan pergi karena hujan deras mengguyur kota. Letak cafe yang berada di bawah tanah membuatnya tidak menyadari bahwa para pengunjung datang dengan membawa payung di tangannya. Pria itu hanya mematung, tangannya ia tengadahkan, berusaha mewadahi tiap tetes air yang turun. Pandangannya tertuju pada setiap tetesan air. Fokus. Tidak sadar bahwa ada orang lain yang ingin lewat dan berusaha membuatnya menyingkir dari depan pintu.

"Permisi! Bisakah kau membiarkan kami lewat?!" Teriakan itu membuyarkan fokusan Jay. Pria itu kini menoleh dan langsung menyingkirkan tubuhnya dari akses keluar masuk. Matanya fokus pada wanita yang ia yakini tadi meneriakinya.

"Kenapa melihatku seperti itu? Kau mesum?" wanita itu dengan gamblang bertanya. Tidak peduli pada orang lain di sekitar mereka yang kini menatap Jay aneh. Bukannya marah, pria itu justru salah tingkah dibuatnya.

"A-ah maafkan aku." Jay membungkukkan badannya. Wanita tadi terkekeh melihat tingkah Jay. "Kenapa mendadak minta maaf?" Sang wanita masih terus tertawa kecil. Membuat Jay yang salah tingkah menjadi bingung.

"Maaf aku menghalangi jalanmu," jawabnya.

"Kau menghalangi jalan ibu-ibu tadi. Bukan jalanku. Jika itu aku, aku akan menabrakmu saja daripada harus bersusah payah menyadarkan orang yang melamun di depan pintu umum."

Jay hanya tertawa renyah. Memang itu kesalahannya yang malah melamun saat melihat hujan. Bukannya segera berlari ke minimarket terdekat untuk membeli payung.

"Sepertinya hujan akan lama. Lebih baik aku kembali ke dalam," Jay berusaha menghindari suasana canggung antara dirinya dengan wanita yang kini ikut berdiri di sebelahnya. Wanita itu sepertinya sama-sama tidak memiliki payung seperti Jay.

"Bolehkah aku ikut saja? Aneh jika harus berdiri sendirian, tapi teman-temanku juga sudah pulang." Jay meneguk ludahnya. Niatnya ingin menghindar, namun wanita itu malah dengan tidak pekanya ingin ikut bersamanya. Meskipun pada akhirnya Jay mengiyakan permintaan sang wanita.

"Kim Doyoung." Wanita tadi memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya untuk menjabat Jay yang masih menatap canggung sang wanita.

"Jung Jaehyun." Jay membalas uluran tangan wanita di hadapannya dengan canggung.

"Kau terlihat berbeda dengan saat menyanyi tadi. Kukira kau tadi menyanyi karena sedang bersedih." Doyoung memulai pembicaraan. Nampaknya wanita itu sadar dengan atmosfir canggung di antara keduanya.

"Apa maksudmu?"

"Kau terlihat sangat meresapi lagumu. Makanya aku berpikir kau sedang bersedih," jawab Doyoung segera.

"A-ah, aku hanya ingin mengetes lagu buatanku. Aku tidak menyangka akan seperti itu reaksinya." Jay menggaruk tengkuknya. Sudut bibirnya terangkat, memperlihatkan lesung pipinya. Wajahnya memerah. Ia malu.

"Wow! Kau seorang komposer?" Reaksi Doyoung malah membuat Jay gugup. Ia menggeleng cepat untuk menanggapi pertanyaan Doyoung. "Hanya hobi. Aku punya pekerjaan lain," jawabnya pelan. Doyoung hanya mengangguk saat itu.

.

.

.

Hubungan antara Jay dan Doyoung nampaknya tidak berhenti begitu saja saat mereka berpisah di pintu cafe malam itu. Siapa sangka hujan deras yang mengguyur Seoul malam itu malah mempertemukan keduanya. Meskipun hubungan mereka masih berstatus tidak jelas hingga saat ini, sudah banyak hal yang mereka lalui bersama. Lebih tepatnya Jay banyak melakukan hal-hal yamg ingin Doyoung lakukan.

"Ayo ikut audisi ini!" Doyoung muncul tiba-tiba di dapur apartemen Jay. Mengagetkan pria yang sedang memasak untuk dirinya sarapan. Jay hanya mengeenyitkan dahi. Tidak paham dengan ucapan tiba-tiba wanita di hadapannya.

"Kita? Kau dan aku?" Doyoung menggeleng mendengar pertanyaan Jay.

"Kau," ucapnya.

Jay menghela nafasnya, " sudah kuduga."

Doyoung hanya terkekeh geli. "Tapi sepertinya aku tahu siapa yang bisa menemanimu," ucap wanita yang kini mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah.

"Taeil. Aku akan mengenalkanmu padanya dan membuat kalian mengikuti audisi itu bersama." Lanjutnya.

.

.

.

Jay salah jika menganggap ucapan Doyoung mengenai Taeil dan audisi hanya sebuah candaan belaka. Nyatanya wanita itu kini tengah berjalan memasuki restoran dengan pria di sebelahnya. Pria yang nampak rapi meskipun tubuhnya tidak setinggi Jay. Pria itu mengenakan jaket jeans dengan kaos putih di dalamnya serta celana hitam.

"Ini Moon Taeil. Sahabatku dari bayi." Wanita itu langsung mengenalkan sosok di sebelahnya pada Jay yang masih mematung. Pria itu memberi salam ramah, tidak lupa senyum canggungnya.

"Dia ini 2 tahun lebih tua dari aku, jadi dia 3 tahun lebih tua darimu." Lanjut sang wanita.

Jay semakin tersenyum canggung, begitu pula Taeil. Suasana masih hening himgga makanan yang mereka pesan disajikan di meja.

"Mengenai audisi itu, kenapa kau tidak ikut saja Doyoung-ah? Bukankah akan lebih baik jika kita bertiga? Lagipula suaramu juga tidak main-main." Taeil membuka topik langsung pada intinya. Membuat Jay membulatkan matanya karena ia tidak pernah mendengar Doyoung menyanyi selama mereka dekat.

"Aku tidak tahu kau pandai bernyanyi," ucap Jay. Taeil menoleh, "kau harus mendengarnya paling tidak sekali seumur hidup. Suaranya tidak diragukan." Pria itu mengacungkan jempolnya. Kedua jempolnya.

Nampaknya yang dibicarakan malah memasang muka masam. Tidak menyangka bahwa sahabatnya malah memintanya untuk ikut serta padahal ia hanya ingin 2 pria di hadapannya yang ikut.

"Ayolah, kau tahu aku sudah berhenti mengikuti audisi. Kalian saja," Doyoung terus berusaha mengelak.

"Terakhir. Lagipula kali ini tidak hanya kau dan aku, ada Jay." Bujuk Taeil. Jay hanya diam meskipun matanya dengan jelas menyiratkan harapan agar Doyoung menyetujui ide Taeil.

"Baiklah. Terakhir." Doyoung pasrah.

.

.

.

Ikut sertanya Doyoung ternyata menjadi nilai lebih bagi ketiganya. Dengan mudahnya mereka berhasil masuk ke babak kedua. Semakin dekat dengan kesempatan untuk mengeluarkan lagu mereka sendiri. Kini tantangannya mereka harus membuat sebuah lagu lengkap dengan aransemen serta rekamannya. Tentu saja fasilitas semuanya disediakan oleh pihak penyelenggara, namun bukan Doyoung namanya jika tidak menuntut segala sesuatunya harus sempurna.

"Kita rekaman di tempatku saja. Studio di sini buruk. Aku tidak mau mengecewakan penampilan terakhirku." Ucap Doyoung ketus setelah beradu argumen dengan panitia penyelenggara karena permintaannya untuk meningkatkan peredam suara di studio ditolak.

"Kita ikut apa katamu saja," ucap Taeil. Berbeda dengan Jay yang kini menatap aneh pada Doyoung. Nampak tidak suka karena wanita itu terlalu membesarkan masalah menurutnya.

Memang sejak mereka mengikuti saringan pertama, hubungan Jay dan Doyoung agak merenggang. Semuanya dimulai saat mereka berlatih untuk pertama kalinya di rumah Doyoung yang ternyata memiliki studio musik lengkap. Bahkan lengkap dengan fasilitas rekamannya. Jay tidak minder. Ia tidak miskin jika hanya untuk memiliki fasilitas seperti itu. Ia hanya menyayangkan sikap Doyoung yang melarangnya untuk membawa alat musiknya sendiri.

Takut membawa virus, katanya.

Jay hanya berpikir apakah penampilannya tampak seperti orang yang kotor? Wanita itu terus bersikap menyebalkan. Membuat Jay jengah, namun ia juga tidak ingin mundur karena sudah sejauh ini.

"Aku akan pulang. Mandi." Ucap Jay sebelum pergi. Sikap dinginnya rupanya berhasil ditangkap oleh Taeil. Pria itu hanya menatap dalam punggung Jay yang perlahan menjauh. Berbeda dengan Doyoung yang tampak santai merapikan barang-barangnya.

"Sepertinya kau terlalu keras padanya yang tidak tahu apa-apa, Doyoung-ah. Kau tidak lihat tadi? Ia terus bersikap semakin dingin padamu." Ucapan Taeil membuat tangan Doyoung terhenti sejenak dari kegiatannya. Dapat terlihat wanita itu menghembuskan nafasnya berat.

"Biarkan saja. Itu lebih baik," wanita itu kembali menata barangnya dan bergegas pulang.

.

.

.

Ting tong

Suara bel terdengar di rumah Doyoung. Itu adalah Jay yang baru saja tiba. Seperti biasa, ia akan disemprot dengan berbagai macam desinfektan sebelum memasuki rumah besar itu.

"Masuklah," sambut Doyoung pada Jay yang memasang wajah datar. Pria itu langsung masuk, tidak basa basi seperti sebelum-sebelumnya.

"Aku tidak mau mengganti bajuku seperti biasanya." Ucap Jay dingin.

"Tapi kau tahu aturannya, Jay." Sergah Doyoung.

"Baiklah aku akan pergi saja." Jay melangkahkan kakinya menuju pintu lagi. Namun kini wanita itu menahan tangannya. Tentu saja itu juga menjadi pertama kalinya bagi mereka melakukan kontak fisik. Doyoung selalu menolak untuk disentuh.

"Baiklah. Kali ini saja." Jay melengos. Menuju studio yang sudah terlebih dahulu diisi oleh Taeil.

"Maafkan sikap Doyoung. Dia memang menyebalkan." Taeil tertawa mengucapkannya. Namun sepertinya Jay tidak menganggap sikap Doyoung padanya itu lucu. Pria itu mendengus kasar, sudut bibirnya terangkat. Tersenyum sinis.

"Wanita itu memperlakukanku seperti aku sangat kotor. Bagaimana aku tidak kesal? Aku bahkan selalu membersihkan tubuhku lebih dari biasanya. Memang dia apa? Ratu?" ucap Jay keras.

"Tolong mengertilah. Aku tahu sikapnya berlebihan." Taeil menghentikan tawanya. Kini ia lebih serius.

"Jika tahu begini aku tidak akan terlibat dengannya. Bahkan dengan bodohnya aku memiliki perasaan padanya. Lebih bodohnya lagi aku sudah berencana akan berhubungan serius dengannya jika kita berhasil." Ucapan Jay membuat Taeil terkejut. Pria itu membulatkan matanya. Benar-benar kaget.

Di sisi lain pintu, nampaknya yang sedang dibicarakan dapat mendengar pembicaraan di dalam. Meskipun hanya beberapa hal karena ruangan itu hampir 100% kedap suara. Tidak beruntungnya, apa yang wanita itu dengarkan bukan bagian terbaiknya.

.

.

.

"Siapa tim selanjutnya?" ucap seorang staff pada staff lain.

"Mereka," staff yang ditanya menunjuk Doyoung, Jay, dan Taeil yang tengah mempersiapkan diri. Merapikan pakaian mereka dan melakukan test mikrofon.

Staff tadi langsung mendekat, mengucapkan beberapa hal pada Taeil sebelum akhirnya pergi.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu setelah pengumuman hari ini." Doyoung berbisik pada Jay. Sang pria hanya mengangguk pelan. Rupanya ia juga hendak mengatakan hal yang sama pada sang wanita.

"SELANJUTNYA, PESERTA TERAKHIR!" Terdengar suara MC memanggil ketiganya. Merekapun bersiap dan naik ke panggung.

Penonton malam itu sangat ramai. Cahaya kali ini juga hanya fokus pada mereka bertiga, karena memang itu yang Taeil arahkan pada penata cahaya. Ia ingin hanya mereka bertiga yang menjadi fokus di panggung itu. Doyoung berdiri di tengah, diapit oleh kedua pria lainnya. Musik diputar. Musik hasil aransemen mereka sendiri akhirnya diputarkan ke publik hari itu.

keobeorin aicheoreom
honjadoen namucheoreom
oerowo jichin
nugungaui sesangeul bwa

barago baraessdeongeol
gyeolgugeun chajji moshae
millyeonassdeon jaui
gamchuryeodeon sangcheoreul bwa

urin oetoriro taeeona
jom neurin nawa gati georeojul
nugungareul gidaryeo

nae soneul jaba woneul geuryeo
i mankeum nanwo gajin geojanha
nae on maeumi ne gyeote
ne kkumi nae gyeote

sandaneun geo gyeondineun geo
hamkkeramyeon jogeum deo haengbokhaejyeo
kkeuteopsi yeongyeoldwae dasi
can't live without you

nun gamado nan ongiro neukkyeo
hangeoreum yeope naranhi
georeojun donghaengingeol
wianeul juneun neo
I'm with you

naega dasi saragal
yonggineun neonikka
eokkaereul naejumyeo
gonggamhal neonikka mideulge,
seulpeumeul majuhal ttaemyeon hanbeon deo

nae soneul jaba woneul geuryeo
i mankeum nanwo gajin geojanha
nae on maeumi ne gyeote
ne kkumi nae gyeote

sandaneun geo gyeondineun geo
hamkkeramyeon jogeum deo haengbokhaejyeo
kkeuteopsi yeongyeoldwae dasi
can't live without you

Suara tepuk tangan terdengar bergemuruh begitu musik berhenti. Tentu saja hal ini membuat ketiganya senang karena lagu mereka mendapatkan respon positif dari pendengarnya. Setelah mengucap salam, mereka turun. Kini hatinya menjadi tegang menanti pengumuman.

"Aku tidak berharap menang, tapi sepertinya menjadi runner up akan bagus." Ucap Taeil. Dua yang lainnya hanya tersenyum kecil. Bukan itu yang membuat mereka berdua tegang, melainkan hal setelahnya.

"Temui aku di luar gedung setelah pengumuman. Aku menunggu di sana." Doyoumg kemudian pergi. Meninggalkan Jay dan Taeil yang masih sibuk menunggu pengumuman diumumkan.

"Pergilah. Aku yang akan menunggu di sini. Nanti kuhubungi." Dengan cepat Jay menyusul Doyoung keluar gedung. Meskipun lagi-lagi hujan membuat keduanya harus berdiri di depan pintu keluar di belakang gedung.

"Looks familiar, right?" Doyoung tersenyum. Tatapannya fokus pada rintik hujan yang tangannya tampung. Jay yang berdiri di sebelahnya hanya menatap rintik air itu kosong.

"Aku tahu apa yang akan kau katakan, jadi aku akan mengatakannya lebih dulu." Jay menoleh. Menatap wanita di sebelahnya bingung.

"Memangnya apa yang akan kukatakan?" tanya Jay.

Doyoung tertawa kecil.

"Apapun hasilnya hari ini, aku berterima kasih padamu." Ucap Doyoung.

Jay semakin tidak mengerti. Wanita itu hanya ingin mengucapkan terimakasih?

"Aku tidak akan melibatkan diri lagi denganmu. I swear. Maaf atas tingkah menyebalkanku, aku tahu kau jengah. Tapi aku tahu kau juga menjaga sikap karena ini Taeil berada di tengah ini semua. Aku tahu kau orang yang baik, aku saja yang bodoh karena memperlakukanmu dengan buruk. Maafkan aku sekali lagi," wanita itu membungkukkan badannya. Meminta maaf. Jay tentu saja mematung. Hal ini tidak seperti yang ada di pikirannya.

"Sepertinya aku akan pergi lebih dulu. Sampaikan pada Taeil aku sudah pulang. Dan untuk apapun hasilnya, kita sudah melakukan yang terbaik Jay. Jangan kecewa jika hasilnya buruk. Kau hanya harus mencobanya berulang kali." Wanita itu mengulurkan tangannya. Dengan mudah Jay menerima salaman itu. Terdiam seperti orang bodoh. Lebih bodohnya lagi karena pria itu hanya menatap kepergian sang wanita. Tidak berniat mengejarnya.

Drrrt drrrrt

Getaran ponsel membuar pria itu sadar.

"Halo, hyung?"

"..."

Jay langsung berlari masuk. Menemui Taeil yang meneleponnya dengan cepat. Mereka berhasil. Entah bagaimana, mereka berhasil menjadi pemenang.

.

.

.

2 tahun kemudian

Suara bel pintu terdengar dari dalam sebuah penthouse yang megah. Pria yang tinggal di sana dengan gontai berjalan menuju pintu. Tidak biasanya ia akan mendapatkan tamu, karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengunjunginya. Dan ia tidak merasa memiliki janji temu dengan siapapun.

"Nuguseyo?" ucapnya melalui interkom. Bukannya jawaban, hanya wajah yang ia lihat. Dengan cepat ia membuka pintunya.

"Hyung!" mulutnya menyapa orang yang ada di depan pintu, namun pandangannya seperti mencari hal lain.

"Mana Doyoung?" tanya sang pria.

Taeil hanya mengisyaratkan agar dirinya dipersilahkan masuk. Tentu saja dengan cepat pemilik penthouse itu mempersilahkan tamunya.

Mereka duduk di ruang tengah yang bernuansa hitam. Dengan bar besar di dekatnya, yang dapat terlihat bahwa segala jenis minuman tersedia di sana.

"Mau minum apa?" tanya sang tuan rumah.

"Air putih saja. Suaraku agak kurang sehat." Jawab Taeil. Jay segera menuju dapur, mengambil segelas air putih untuk Taeil dan minuman kaleng untuk dirinya.

"Itu apa?" pandangan Jay tertuju pada kotak besar yang dibawa oleh Taeil. Taeil menoleh, mengingat kembali tujuannya datang ke rumah itu.

"Titipan dari Doyoung." Jay menatap Taeil bingung.

"Kenapa tidak ia berikan sendiri?" tanyanya.

"Ia tidak bisa." Jawab Taeil singkat. Jay yang mendengarnya otomatis menepuk dahinya keras, ia melupakan sebuah hal penting, "ah, aku lupa dia tidak ingin melibatkan diri denganku lagi." Jay berucap dengan senyuman sedih.

"Waktu itu kau tidak jadi mengucapkannya?" Tanya Taeil. Jay hanya menggeleng, meminum minumannya.

"Lagi-lagi aku hanya dengan bodohnya diam. Sudahlah, salahku karena melepaskannya."

Taeil menghela nafasnya, "bagaimana pekerjaanmu? Kudengar kau akan mengeluarkan lagu baru?"

Jay mendengus. Ia masih kesal dengan timnya waktu itu. "Ah, sungguh buruk. Aku diminta untuk menulis laguku sendiri, tapi si produser sialan itu malah mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Ingin rasanya aku mendirikan studio musikku sendiri."

Taeil tertawa. Merasa lega karena ia tidak jadi ikut bergabung bersama Jay saat itu.

"Jangan-jangan kau menjebakku agar aku bisa merasakan kehidupan terkutuk di agensi itu? Sialan kau, hyung." Jay semakin dibuat kesal.

"Hei. Aku sudah mengingatkanmu. Bergabung dengan agensi itu penuh resiko. Aku juga sudah bilang dari awal kalau aku tidak akan mengambil kontrak apapun kan? Aku mengikutinya karena permintaan Doyoung." Jay mendecih.

"Jay sepertinya aku harus pulang. Lain kali saja aku bermain lama di sini." Taeil pamit. Kemudian pergi meninggalkan Jay dan kotak yang ia bawa tadi.

Pria itu segera membuka kotak coklat besar yang Taeil letakkan di meja tengahnya. Namun alisnya berkerut saat ia hanya mendapati tumpukan kertas dan beberapa foto di dalamnya. Foto-foto yang ia tidak tahu kapan diambil. Fotonya saat bernyanyi di café.

Ia kembali memeriksa isi box. Kertas-kertas itu rupanya beberapa draft lagu yang mereka buat saat mereka menjadi dekat. Sebelum ia mengenal taeil. Dan ada juga botol kecil berisi gulungan-gulungan kertas. Satu persatu ia membuka gulungan itu. Membaca setiap isinya.

Berkenalan dengan orang lain selain Taeil

Bermain dengan orang lain selain Taeil

Bertemu dengan orang yang berbeda dengan Taeil

Bernyanyi bersama orang selain Taeil

Naik biang lala bersama orang selain Taeil

Makan malam bersama orang selain Taeil

Stay cation bersama orang selain Taeil

Mewujudkan keinginan orang selain Taeil

Membuat lagu bersama orang selain Taeil

Jay membukanya satu persatu. Ia yakin itu adalah sebuah bucket list yang Doyoung tinggalkan. Dari sekian banyak kertas, kini tersisa satu gulungan.

Membuat orang selain Taeil melepaskanku

Jay mengernyit melihat gulungan kertas terakhir. Semua gulungan itu disilang dengan spidol merah. Sepertinya itu tanda bahwa keinginan itu telah terlaksana. Di dekat botol, ada amplop kecil dengan cap lilin yang menyegel pembukanya. Di bagian depan amplop tertulis Namanya, Jung Jaehyun. Dengan segera ia membukanya. Membaca surat kecil dari Doyoung.

Hai. Sudah lama ya sejak aku berkata aku tidak akan melibatkan diriku lagi denganmu.

Bukankah aku sudah menepati janjiku?

Jaehyun-a, kita bertemu pertama kalinya saat hujan. Tapi dengan bodohnya aku menjadikan hujan sebagai hal paling menyedihkan yang bisa kuingat.

Harusnya aku menunggu pagi saja, karena tiap aku melihat hujan setelah itu, aku hanya mengingat saat aku mengucapkan hal-hal buruk padamu.

Tapi aku juga Bahagia, hujan itu membawamu padaku.

Mungkin terdengar jahat, tapi kau adalah orang yang membantuku menyelesaikan semua hal yang ada di daftar keinginanku.

Dalam 25 tahun hidupku, aku tidak pernah bisa menyelesaikannya satupun, tapi dalam sekejap aku menyelesaikan banyak hal karenamu.

Bagaimana caramu mengingat hujan? Pasti yang kau ingat hanya saat aku meninggalkanmu, kan?

Maafkan aku, Jaehyun-a. Aku sangat tidak ingin meninggalkanmu jika aku bisa.

Tapi aku sudah baik-baik saja sekarang.

Kau tidak perlu lagi mengunjungi rumahku dengan segudang aturan. Kau juga tidak perlu mandi terlalu sering. Aku tahu kau tidak menyukainya.

Jaehyun-a, aku tahu ini terdengar egois. Tapi bisakah kau mengingatku dengan hal-hal baik saja? ya, aku tahu tidak ada satupun hal yang kulakukan adalah hal baik.

Jaehyun-a, hiduplah dengan baik.

Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja sekarang.

Jangan lupa mengunjungiku, kau bisa bertanya pada Taeil dimana kau bisa bertemu denganku.

Jangan lupa bawakan aku hadiah, ya! Aku suka bunga! Peony, bawakan aku itu!

Jjalgayo, Jaehyun-a. Bogoshippeoso, saranghae!

.

.

.

Malam hari itu hujan mengguyur Seoul cukup deras. Jay duduk di sebuah café yang menjadi tempatnya pertama kali tampil di hadapan banyak orang. Bedanya, kini Jay adalah pemilik café itu setelah membelinya dari pemilik sebelumnya yang ternyata adalah kenalannya sewaktu sekolah. Jay juga menjadi pengisi lagu di sana, di samping karirnya sebagai penyanyi. Membuat café itu selalu ramai pengunjung.

"Malam ini saya akan menyanyikan sebuah lagu baru yang baru saja akan di rilis besok. Lagu ini saya buat untuk seseorang, meskipun orang itu tidak akan bisa mendengarnya. Saya harap kalian akan senang dengan karya saya kali ini." Jay mengucapkan kalimat pembukanya. Segera setelah kalimat pembuka itu, kemari Jay bermain di atas tuts. Mengalunkan nada indah yang akan menemaninya bernyanyi malam itu.

kkumil geoya gieok sok moseup geudaero
nae nunape nega meomchwo isseo
isanghaji geu oraen sigan dwiedo
nae simjangeun geunareul banbokhae

du nuneul gameumyeon gieogeun eoneusae
uril dasi geugoseuro deryeoga

oneureun kkok malhaeya hal tende soril nael suga eopseo
soneul ppeodeo neol jabeuryeo haedo mamdaero andwae
sueopsi yeonseuphan ajik neol saranghae
kkeutkkeutnae hajil mothae neol bonaemyeon an doel tende

i hyeonsil gateun kkumeseo kkae
akmong gateun harureul tto samkyeo
But which is real? nega eomneun nae sesange
naege jueojin geon neol kkumkkuneun geotppun

du nuneul gameumyeon gieogeun eoneusae
uril dasi geugoseuro deryeoga yeah~

oneureun kkok magaya hal tende nuneul pihal su eopseo
bareul dollyeo domangchiryeo haedo mamdaero andwae
sueopsi doesaegin ije geumanhaja
kkeutkkeutnae makjil mothae neol bonaemyeon an doel tende

i akmongi (oh no no no)
i gieogi nal goerophin daedo
myeot beoni banbokdoeeodo
neol dasi mannal su itneun
i kkumeuro deureoga~

oneulmankeumeun geunyang nagal su eopseo
siganeul meomchwo gieogeul dollyeo
sueopsi kkumkkwotdeon dasi sijakhaja
kkeutkkeutnae haejundamyeon i kkumeseo nan sal tende

Oh~ yeah~
kkaeji anheul tende