Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[ Reunian ]

.

.

.

[Normal Pov.]

"Hey. Kenapa begitu lama? Aku sudah datang sejak tadi." Ucap seorang pria berambut blonde, namanya Uzumaki Naruto.

Pria yang terlihat paling ceria di antara orang-orang yang datang hari ini. Di sebuah restoran yang sengaja di sewa full untuk acara reunian sekolah SMA angkatan XXXX.

"Kau tidak banyak berubah Naruto." Ucap Kiba. Inuzuka Kiba. Salah satu murid yang dulunya berbeda kelas dengan Naruto, namun mereka cukup dekat.

"Aku pikir, aku sudah semakin tua, lagi pula ini sudah 15 tahun lamanya kita lulus SMA." Ucap Naruto.

"Apa semuanya hanya datang sendiri-sendiri saja?"

"Kenapa? Apa kau ingin bertemu istriku?" Ucap Naruto.

"Aku pikir kalian akan datang membawa pasangan dan membuatku iri."

"Kau kapan menikah? Aku sudah memiliki seorang putra." Jelas Naruto.

"Berhenti membuatku iri!" Protes Kiba.

"Apa? Kiba masih belum menikah? Sampai kapan kau akan terus sendirian?" Ucap Chouji. Chouji Akemichi.

"Apa kau datang ingin memperkeruh keadaan? Kau sendiri bagaimana bisa menikah dengan gadis luar negeri itu!" Kesal Kiba.

"Jangan bertengkar. Kalian sudah terlalu tua untuk melakukannya." Tegur Neji.

"Bukannya Neji juga belum menikah?" Ucap Naruto.

"Aku sibuk mengurus perusahaan keluarga."

"Sungguh? Neji belum menikah?" Ucap Kiba dan terlihat ada sedikit harapan. Setidaknya bukan dia yang sendirian menjadi bahan bullyan hari ini.

"Yang lain bagaimana? Kenapa begitu lama?" Ucap Shikamaru. Dia terlihat mulai bosan. Shikamaru Nara.

"Sakura masih di perjalanan." Ucap Ino. Yamanaka Ino.

"Kalian masih saling berhubungan? Sakura sudah jarang menghubungiku. Bukannya aku paling dekat dengannya." Ucap Kiba.

"Ya, kalian itu seperti anjing dan majikannya." Ejek Naruto.

"Aku tidak seperti itu!" Protes Kiba.

"Lagi pula Sakura sangat kuat dulunya. Dia seperti preman. Apa kalian ingat dia pernah memukul Sasuke gara-gara Ino?" Ucap Kiba.

"Berhenti membicarakan masa lalu itu." Ucap Ino, malu. "Lagi pula gara-gara itu mereka tidak pernah akur hingga lulus."

"Mungkin hari ini kita bisa membuat mereka berbaikan." Ucap Kiba.

Suasana restoran mulai semakin ramai, orang-orang dari kelas lain pun berdatangan, tidak banyak yang bisa hadir, hanya beberapa orang saja dari setiap kelas.

"Maaf, aku sedikit terlambat." Ucap seorang pria dengan longcoat yang di kenakannya.

"Sasuke! Aku merindukanmu!" Heboh Naruto, berlari dan memeluk pria itu.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?" Tegur Sasuke dan menjauhkannya dari Naruto.

"Kau tidak pernah memberi kabar lagi. Ke mana saja kau!" Protes Naruto.

"Aku sibuk bekerja."

Naruto terfokus akan cincin pernikahan yang di kenakan Sasuke.

"Kapan kau menikah?" Ucapan Naruto sontak membuat yang lainnya terfokus pada Sasuke.

"Ha? Apa ini? Tidak ada kabar kau menikah." Ucap Kiba. Menghampiri Sasuke dan sibuk menatap cincin yang di kenakan Sasuke.

"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menikah?" Ucap Sasuke.

"Ini berita yang menggemparkan. Lalu siapa wanita terpilih itu?" Ucap Chouji.

Sasuke menatap ke arah Ino, sontak saja semuanya ikut menatap Ino.

"Kalian menikah!" Heboh Naruto, menyimpulkan tatapan Sasuke pada Ino.

"Ka-kapan kami menikah! Aku juga punya suami! Tapi bukan Sasuke!" Bantah Ino. "Apa-apaan tatapanmu itu Sasuke! Jangan bikin mereka salah paham!" Tambahnya. Dulu, Ino menaruh perasaan terhadap Sasuke.

"Aku hanya ingin minta maaf dengan baik padamu." Ucap Sasuke.

"Hey, itu sudah 15 tahun lamanya. Kenapa masih meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf, siapa yang memukulmu hingga pingsan? Jika aku tidak cerita dan merengek pada Sakura. Dia tidak mungkin melakukannya padamu." Ucap Ino.

"Hahahah, itu menjadi kejadian yang paling sulit di lupakan. Sasuke tumbang hanya karena pukulan Sakura." Ucap Naruto, heboh.

"Kejadian itu juga menjadi pembicaraan heboh di kelas lain." Ucap Shikamaru.

"Apa kalian lupa. Sakura itu yang menjadi pelatih di ekskul karate sejak masuk sekolah. Apa dia berlatih karate sejak masih dalam perut ibunya? Aku saja tidak kuat menghadapinya." Ucap Kiba.

"Kenapa kalian membicarakan Sakura terus? Saat dia datang, dia akan memukulmu karena sudah menceritakannya." Ucap Ino.

"Sasuke duduklah. Kau sungguh dari bandara dan datang ke sini?" Ucap Naruto.

"Uhm. Aku menaruh barang-barangku di hotel dan datang ke sini. Aku pulang lebih awal karena undangan reunian ini."

"Kau pasti sangat lelah, beristirahatlah." Ucap Ino.

"Kau masih perhatian padanya yaa Ino. Suamimu akan cemburu." Goda Kiba.

"Jangan membuatku memukulmu." Kesal Ino.

"Lalu istrimu di mana? Kami bahkan tidak tahu dia seperti apa." Tanya Naruto, penasaran.

"Mungkin artis terkenal, Sasuke tidak ingin ada yang tahu." Ucap Kiba.

"Apa mungkin orang luar negeri seperti Chouji?" Tebak Shikamaru.

"Tidak mungkin, selera Sasuke seperti sulit di tebak. Mungkin wanita dewasa." Ucap Ino

"Mungkin saja gadis pintar dan banyak diam seperti Sasuke." Tebak Kiba.

"Berhenti membahas pasangan orang." Tegur Neji.

"Kenapa hanya aku yang kau tegur!" Protes Kiba.

"Tidak ada yang benar-benar menjadi pasangan setelah kelulusan." Ucap Ino.

Semuanya kompak saling bertatapan, menatap ke arah orang-orang dari kelas lain, mereka pun datang sendiri, tanpa ada yang terlihat sebagai pasangan.

"Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan." Ucap Shikamaru.

"Shikamaru yang terlihat malas dengan seorang wanita saja mendapat wanita yang begitu hebat." Ucap Chouji.

"Aku iri padamu Shikamaru! Bagaimana bisa kau mendapat istri cantik bak model itu!" Ucap Kiba.

"Aku tidak mau membahasnya." Ucap Shikamaru dan terlihat menghela napas.

"Dia itu sangat galak sebenarnya." Ucap seorang pria.

"Aku sampai lupa jika kita ini satu angkatan." Ucap Shikamaru, menatap ke arah seorang pria.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Kiba. Dia cukup tahu murid dari kelas lain ini.

"Kalian tidak tahu. Aku ini kakak ipar Shikamaru." Ucap Kankuro.

"Apa!" Teriak mereka kompak dan mengundang perhatian yang lainnya.

"Itu benar. Aku tidak tahu jika Kankuro dari kelas 3.4 adalah saudara istriku. Aku baru tahu saat bertemu keluarganya." Ucap Shikamaru.

"Hahaha. Tidak perlu seformal itu Shika. Kita sama-sama tahu bagaimana sikap adikku itu." Ucap Kankuro.

"Bagaimana dia bisa menceritakan keburukan adiknya di depan orang-orang banyak?" Gumam Ino.

Makanan dan minuman yang telah hidangkan, beberapa mereka sibuk membaur dengan kelas masing-masing, tak jarang yang cukup kenal dengan kelas berbeda akan saling membaur, keadaan semakin ramai dan heboh, tentu saja hal ini di karenakan minuman yang mereka minum.

"Apa Sakura belum juga tiba?" Tanya Kiba. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Sakura sebagai orang yang cukup dekat dengannya.

"Dia hanya mengirim pesan sejak setengah jam yang lalu. Mungkin terjebak macet. Dia mungkin yang berkendara sendirian. Aku pikir kalian itu sangat cocok." Ucap Ino.

"Aku ikut dengannya hanya karena Sakura gadis yang sangat berbeda." Ucap Kiba.

"Aku pikir kau tertarik dengannya." Goda Ino.

"Dia hanya menganggapku teman. Lagi pula siapa yang bisa menjadi pasangan gadis bar-bar itu? Dia seperti tidak akan membukakan hatinya pada pria mana pun."

"Aku jamin sekarang dia sudah berubah. Lalu-" Ino menatap ke arah Sasuke. "Sasuke, bagaimana jika kami membantumu berbaikan dengan Sakura? Kalian sempat punya hubungan yang buruk sebelum lulus." Ucap Ino.

"Aku juga akan membantumu." Ucap Kiba.

"Uhm, terima kasih. Aku tahu kalian sangat dekat dengannya, aku harap kalian bisa membuatnya tidak menaruh dendam padaku lagi." Ucap Sasuke.

"Sakura itu yang aneh, pria sepertimu kenapa menjadi masalah? Dia itu tidak melihatmu sebagai orang, dia hanya melihatmu sebagai samsak yang harus di tinjunya." Ucap Naruto. Dia mulai sedikit mabuk.

"Apa maksudmu aku hanya menjadikan seseorang sebagai samsak?"

Naruto merasakan aurah yang mencekam dari balik punggungnya. Menoleh dan mendapat tatapan horor itu.

"Sa-Sakura! Kau sudah datang!" Ucap heboh Naruto.

Wanita itu sontak menjadi pusat perhatian dan bisik-bisik orang-orang di dalam restoran ini.

Gadis bar-bar.

Mereka memberi julukan itu pada Sakura.

"Baru saja datang sudah membuat orang malu. Seharusnya yang meminta maaf itu Naruto. Bukanya Naruto juga suka mencari masalah dengan Sakura?" Ucap Shikamaru.

"Itu benar. Naruto dan Sasuke cukup dekat. Lalu Naruto suka mengomel tidak jelas pada Sakura." Ucap Chouji.

"Kalian memang sering menjadi bahan tontonan murid lain jika sedang bertengkar." Ucap Neji.

Sasuke tiba-tiba berdiri, menatap Sakura dan sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Maaf jika dulunya aku membuat masalah padamu." Ucap Sasuke. Dia benar-benar tulus akan permintaan maafnya.

Semuanya jadi tenang dan menatap Sasuke yang meminta maaf secara jantan setelah melihat Sakura datang.

"I-itu sudah berlalu, kenapa di bahas lagi? Ini pasti karena Naruto yang menyinggung masalah itu." Ucap Sakura. Mengepalkan tangannya ke arah Naruto.

Sakura ingin sedikit menghibur diri dengan bertemu teman-teman sekolahnya, namun sudah ada yang lebih dulu membuatnya malu.

"A-aku hanya tidak sengaja, maaf. Tunggu! Apa ini?" Ucap Naruto. Segera menahan tangan Sakura dan sibuk memamerkan cincin pernikahan Sakura pada yang lainnya.

Plaak!

Satu jitakan mendarat ke kepala Naruto. Wajah Sakura terlihat sangat malu.

"Kau memang tidak berubah Naruto." Ucap Sakura.

Hahahaha.

Suasana menjadi riuh dengan suara tawa dari mereka, semacam bernostalgia dengan tindakan Naruto pada Sakura.

"Kau sudah tidak muda lagi Naruto, hentikan itu." Tegur Neji.

"Aku hanya syok mengetahui hal ini."

"Kau tidak memberiku kabar!" Protes Kiba.

"Aku juga tidak tahu akan menikah." Ucap Sakura. Mengalihkan tatapannya. Dia tidak memberi kabar apapun pada teman-temannya.

"Apa Ino tahu?" Ucap Kiba dan menatap Ino.

"Apa? Aku juga baru tahu!" Ucap Ino. Tidak ingin di salahkan.

"Sakura sudah menikah. Bagaimana denganmu Kiba?" Ucap Chouji.

"Aku akan menikah nantinya!" Ucap Kiba.

"Kami pikir kalian pasangan. Sakura dan Kiba rajin terlihat bersama. Padahal kalian bersahabat dengan Ino 'kan?" Ucap Shikamaru.

"Kami beda kelas. Aku saja yang sial berpisah dari mereka." Ucap Ino. Saat kelas tiga, kelas mereka berbeda. Ino jadi harus terpisah dari Sakura dan Kiba.

"Kami bukan pasangan." Tegas Kiba.

"Kami hanya berteman." Tambah Sakura.

"Aku berniat menjodohkan mereka, tapi Sakura dan Kiba tidak punya perasaan yang sama." Jelas Ino.

Kiba terdiam, begitu juga dengan Sakura.

"Sakura ayo makan. Kau pasti lapar." Ucap Naruto. Segera mencairkan suasana yang sedikit aneh ini.

Sakura mulai mengambil tempat duduk dekat Ino.

"Kapan kau menikah? Kau tidak memberitahukanku. Aku pikir kau akan menceritakannya juga pada Kiba." Ucap Ino.

"Setelah aku lulus kuliah. Maaf, aku tidak memberi kabar, acara pun hanya di hadiri keluarga saja." Ucap Sakura.

"Aku ingin tahu seperti apa suamimu. Apa ada pria yang tahan dengan gadis yang paling di takuti di sekolah dulunya?"

"Kau mengejekku? Aku tidak seburuk itu."

"Aku akan salut pada pria itu."

"Sudahlah. Kenapa membahas suamiku saja? Bagaimana denganmu yang memiliki suami terkenal itu? Dia bahkan punya galeri seni sendiri."

"Aku pikir kau tidak tahu suamiku. Mereka hampir salah paham berpikir aku dan Sasuke yang menikah."

"Apa Sasuke mengganggumu lagi?"

"Kau jadi sama seperti Naruto saja. Tidak berubah."

"Aku hanya memastikan."

"Sasuke sangat baik. Hanya aku yang keterlaluan membuatmu marah dan malah menonjoknya."

"Aku rasa itu pantas."

"Apa yang kalian bicarakan? Sebagai sahabat terdekat, kalian harus bicara padaku juga." Ucap Kiba dan ikut membaur dengan mereka.

"Apa kau tidak berniat untuk menikah?" Ucap Sakura.

"Aku akan menikah! Tenang saja! Kalian yang akan menjadi tamu khusus." Tegas Kiba.

"Aku yakin dia hanya akan menikahi pekerjaannya." Sindir Ino.

"Jangan seperti itu. Hanya kalian berdua yang memandangku sebagai seorang laki-laki." Ucap Kiba. Setidaknya dia dekat dengan kedua wanita yang cukup cantik ini.

Restoran akan tutup sedikit terlambat. Beberapa orang mulai pamit untuk pulang, mereka tidak bisa terlalu lama akibat kesibukan lainnya.

"Sekarang apa yang kau lakukan?" Tanya Sakura pada kiba.

"Hanya bekerja sebagai kepala proyek saja." Ucap Kiba. Sesekali meminum minumannya.

"Kau sudah lebih mapan, para wanita akan mudah mendekatimu." Ucap Ino.

"Aku penasaran akan pria yang bersamamu." Ucap Kiba dan menatap Sakura, penasaran.

"Dia pria yang baik. Aku hanya tidak memikirkan menikah saat itu. Walaupun mau memutar ulang waktu kembali. Aku berharap melakukan sesuatu yang baik sebelum lulus." Ucap Sakura.

"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Kau seperti tengah membuat masalah besar, tapi keadaanmu memang lebih berubah." Ucap Ino.

"Apa kau masih memukul pria seenaknya?" Tanya Kiba.

"Hentikan. Aku tidak memukul orang sembarangan." Ucap Sakura.

"Sasuke misalnya, dia sudah menjadi korban." Singgung Kiba.

"Hey, jangan membahasnya lagi. Aku sudah mengatakannya." Tegur Ino.

"Apa benar Sasuke sudah memaafkanmu?" Ucap Kiba, sengaja mengecilkan suaranya hanya agar di dengar oleh mereka.

"Bukannya aku yang salah? Aku yang seharusnya meminta maaf." Ucap Sakura, wanita ini menatap ke arah Sasuke.

"Sejak awal aku yang salah. Kiba hentikan! Aku yang membuat Sakura seperti itu." Ucap Ino.

"Baiklah. Ayo bahas hal lain lagi. Misalnya suami Ino." Ucap Kiba.

"Kenapa membahas suamiku? Aku pikir kalian masih curiga jika aku dan Sasuke yang menikah. Lagi pula Sakura tahu siapa suamiku." Ucap Ino.

"Hanya menebak saja. Kau sempat menyukainya. Sampai curhat pada Sakura dan berakhir dengan tragis."

"Aku akan pulang jika tetap membahasnya." Kesal Ino.

"Sudah-sudah. Kenapa kalian bertengkar?"

Mereka menatap ke arah Shikamaru yang mulai beranjak dari kursinya.

"Aku permisi untuk merokok sebentar." Ucap Shikamaru.

"Oh. Aku ikut." Ucap Kiba.

"Sejak kapan kau merokok?" Tanya Sakura.

"Sejak berat menjalani hidup." Ucap Kiba, asal.

"Dasar, pria itu sangat sulit di tebak. Bukannya dia tidak ingin menyentuh hal semacam itu?" Ucap Ino.

Shikamaru dan Kiba keluar untuk merokok. Beberapa orang tetap tinggal dan saling berbagai cerita.

"Sakura, apa kau masih rajin berlatih karate?" Tanya Naruto. Tiba-tiba datang dan membawa gelasnya yang sedang penuh.

"Tidak lagi. Aku kesulitan. Aku harus mengurus rumah, suamiku dan bekerja." Ucap Sakura.

"Kau bekerja sebagai dokter 'kan?" Tanya Ino.

"Uhm. Iya."

"Apa kau tidak memukul pasienmu saat mereka mengamuk atau tidak patuh padamu?" Tanya Naruto. Dia hanya iseng bertanya hal semacam itu.

"Aku tidak akan melakukannya. Itu akan menjatuhkan reputasiku." Ucap Sakura.

"Kau sungguh berubah."

"Aku tidak akan berubah jika memukulmu hari ini juga." Ancam Sakura.

"Ma-maaf." Panik Naruto.

"Ayo cerikan bagaimana istrimu, Naruto? Kau sudah punya anak ya? Cepat juga." Ucap Ino.

"Dia masih berumur 2 tahun dan sangat menggemaskan." Ucap Naruto, dia mulai sibuk memuji-muji anaknya.

"Bagaimana ada wanita yang betah dengan Naruto?" Sindir Sakura.

"Apa itu? Apa kau sedang membalik ucapanku? Aku juga tidak percaya dengan pria yang tahan terhadapmu."

"Jangan memicuh pertengkaran lagi, Naruto." Tegur Sasuke. Dia mendengar pembicaraan mereka.

"Aku tidak bertengkar. Sakura saja yang tidak berubah."

"Kalian yang tidak berubah."

"Naruto yang lebih dulu mencari masalah. Selalu saja, tidak pernah tenang untuk mengganggu orang." Gerutu Sakura.

"Apa? Apa ini? Akan ada pertengkaran antara Naruto dan Sakura? Hahaha ini akan jadi tontonan menarik di reunian kita." Ucap Chouji. Siap dengan makanan di piringnya.

"Kenapa masih ada bersikap kekanak-kanakan? Lebih baik kalian pulang." Tegur Neji. Sejak tadi dia hanya ingin kedamaian saat reunian ini berjalan.

"Ayo lakukan! Kami ingin melihat Naruto di jatuhkan lagi." Suara dari beberapa orang mulai terdengar. Mereka lebih bersemangat akan hal ini.

"Sial. Mereka pasti semuanya mabuk." Ucap Naruto.

"Apa benar Sakura masih bisa menjatuhkan seseorang?" Tanya Ino, penasaran.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Kiba kembali bersama Shikamaru.

"Naruto dan Sakura akan kembali bergulat." Ucap Chouji.

"He? Su-sungguh? Sakura kau ingin menjatuhkan Naruto lagi?" Ucap tidak percaya Kiba.

"Aku tidak akan melakukannya." Ucap Sakura. Lebih tepatnya malas meladeni ucapan mereka.

"Aku tidak takut. Sekarang berbeda, aku sudah menjadi pria yang kuat." Ucap Naruto, lebih bersemangat dari sebelumnya, dia merasa sangat di jatuhkan sebagai seorang pria.

"Aku bertaruh jika Naruto akan kalah." Ucap Shikamaru.

"Memalukan, kenapa masih membuat masalah di acara reunian?" Ucap Neji. Tidak ada yang peduli pada ucapannya.

Area tengah mulai di kosongkan, pemilik restoran hanya menatap bingung akan tindakan orang-orang yang tengah reunian hari ini. Sedikit berbeda dari orang lain.

"Aku benci melakukannya." Kesal Sakura. Dia baru saja duduk nyaman dan sudah mendapatkan tantangan. "Kau yakin ini Naruto?" Tanyanya, sebelum pria itu menyesal dan membuatnya malu sendiri.

"Kau akan kalah hari ini." Ucap percaya diri Naruto.

Keduanya saling berhadapan, Kiba menjadi wasit. Semuanya heboh memilih salah satu di antara mereka.

"Mulai!"

Bught!

Tendangan Sakura di perut Naruto tidak main-main. Pria yang lebih tinggi dari Sakura akhirnya tumbang hanya sekali serangan.

"Sakura pemenangnya." Ucap Kiba, mengangkat tinggi-tinggi tangan wanita ini, sementara pemenangnya, menutupi wajah malunya.

"Naruto, kau baik-baik saja?" Tanya Chouji. Menghampiri Naruto, berusaha membuat pria itu sadar.

Setelah sadar.

Semuanya menjauh, Naruto memuntahkan isi perutnya.

Tawa meledak di dalam restoran ini. Semuanya seakan kembali ke masa-masa SMA mereka. Sedikit hiburan dan menjadikan reunian ini tidak akan di lupakan mereka.

.

.

.

.

[by: sasukefans_ama ]

.

.

.

.

.

Kegiatan reunian yang telah berakhir, semua pamit pulang dalam keadaan mabuk, setengah sadar, dan ada yang masih sadar, mereka membatasi gelas minum mereka sebelum pulang.

"Biar aku membawa pulang Naruto." Ucap Neji.

"Apa kau tahu rumahnya?" Tanya Ino.

"Aku tahu. Naruto menikah dengan adik sepupuku." Jelas Neji.

Satu fakta yang baru saja di ketahui mereka sebelum pulang. Semuanya sungguh tidak percaya. Neji dan Naruto telah menjadi keluarga.

"Aku akan di jemput, suamiku." Ucap Ino, malu.

"Baiklah. Kami duluan." Ucapnya yang lainnya, Shikamaru yang tidak minum banyak akan menyetir dan mengantar yang lainnya.

"Bagaimana denganmu Sakura?" Tanya Ino. Dia masih menunggu suaminya.

"Aku akan langsung pulang. Sampai jumpa lagi." Ucap Sakura.

"Sasuke? Kau tidak pulang?" Ucap Ino. Pria itu belum juga beranjak dari tempatnya.

"Apa kau tidak apa-apa sendirian menunggu?"

"Tidak masalah. Lagi pula dia sudah dekat. Kau akan kembali ke hotel?"

"Ya, aku akan kembali mengambil barang-barangku."

"Ino." Seseorang memanggilnya.

Sasuke bisa melihat seorang pria yang bergegas menghampiri mereka.

"Apa aku terlambat?" Tanya pria ini.

"Tidak. Terima kasih sudah jemputku." Ucap Ino. Tatapan suaminya mengarah pada Sasuke. "Dia adalah teman SMAku, Uchiha Sasuke." Jelas Ino.

"Shimura Sai. Aku suaminya, Ino."

"Senang berkenalan denganmu." Ucap Sasuke.

Keduanya pergi setelah perkenalan singkat itu.

Tiiin…tiiinn!

"Butuh tumpangan?"

Sasuke menolah ke arah sebuah mobil. Kaca yang di turunkan. Sebuah senyum terukir di wajahnya.

"Aku sangat butuh tumpangan." Ucap Sasuke. Bergegas masuk ke dalam mobil. Menarik wanita itu dan memeluknya erat. "Kau tidak merindukanku?" Tanyanya.

"Aku sangat merindukanmu. Kau pulang dan malah datang ke reunian tanpa kabar." Ucap Sakura.

"Aku hanya ingin bertemu mereka lebih dahulu."

"Kau lebih rindu pada mereka?"

"Iya. Tapi aku lebih merindukan istriku. Sampai kapan kau ingin menutupinya?"

"Ka-kau lihat sendiri tanggapan mereka. Aku tidak punya muka untuk mengatakan kebenarannya. Aku yakin mereka akan mengolokku. Mereka bahkan menceritakan masa laluku yang buruk itu."

"Aku sudah minta maaf."

"Seharusnya aku yang minta maaf."

"Itu sudah berlalu."

"Ya semua sudah berlalu, tuan keras kepala."

Sasuke melepaskan pelukannya, menatap wanita yang di cintainya. Sangat sulit untuk menyakikan seseorang yang membenci dulu, jika dia sangat mencintainya dan semua yang terjadi pada mereka adalah kesalahpahaman.

"Kau memukul Naruto dengan 100% kekuatanmu?"

"Aku kesal padanya."

"Itu tonton yang menarik."

"Dia bahkan menyindirku. Pria mana yang betah terhadap sikapku? Apa dia pikir aku akan menjadi istri yang menganiaya suaminya?"

"Aku tidak masalah."

"Ka-kau jadi aneh. Kita pulang sekarang."

"Tidak. Malam ini tidurlah bersamaku di hotel. Aku menaruh barang-barangku di sana. Besok kita akan pulang bersama." Ucap Sasuke.

Mengecup pelan bibir istrinya. Rona memerah menghiasi wajah Sakura.

"Ba-baiklah."

"Tunggu. Kau belum membalas ciumanku."

"Jangan di sini." Panik Sakura.

.

.

TAMAT

.

.


Ayo reunian!

halo. Apa kabar?

semoga kalian baik-baik saja, author juga baik-baik saja walaupun sempat menjadi salah satu korban pandemic ini, pandemic ini pun belum berakhir. tetap jaga kesehata kalian wahai para reader. ok cukup.

tak terasa udah beberapa lama author tak menulis lagi.

apa masih ada orang di sini? apa lapak ini masih tetap ramai? apa masih ada yang nunggu author. heheheh.

author sangat merindukan untuk menulis dan berimajinasi. ada banyak cerita yang belum sempat author selesaikan dan publis. masih mode malas. cerita di Wattpad saja terhenti. benar-benar fokus pada dunia nyata selama ini.

cerita kali ini simpel dan sederhana saja, sejujurnya author kangen teman-teman sekolah, tapi sekarang, tak begitu akrab lagi. selain di sekitar punah karena seleksi alam, teman pun begitu, mereka akan menjadi orang asing secara perlahan di akibatkan seleksi keadaan. hehehehe. walaupun tidak semua, beberapa pasti masih akrab dengan teman sekolahnya.

jika kalian punya ide, boleh jadi masukan, author sedang mencari-cari hal yang bisa di jadikan sebuah cerita XD.

oke cukup.

silahkan tinggal kritik yang membangun dan saran kalian. seperti biasa, komentar jahat akan di hapus.