Disclaimer : Bleach - Tite Kubo
A Hundred Night
Hirako Shinji x Aika (OC)
.
.
.
Aika's POV
Aku tertidur dalam seratus malamku. Aku tak ingin terbangun walau hanya sejenak menatap cahaya matahari yang masuk ke sela-sela ruangan ini. Aku hanya ingin tertidur dalam seratus tahunku tanpamu. Aku ingin selalu memimpikanmu di dalamnya. Di sini, selau dan akan selamanya terkurung dalam kenangan seratus tahun yang lalu.
Aku bersumpah untuk ini, sumpah yang kuberikan pada diriku seratus tahun yang lalu.
Sumpahku, bahwa aku selalu mencintamu walau seratus tahun napasku di sini terasa dingin.
Aku tahu seratus tahun ini sungguh ironi.
Seratus tahunku yang lagi-lagi tanpamu.
Malam ini pula aku ingin memejamkan mataku dan memimpikanmu di dalamnya. Untuk detik berikutnya, apakah aku sudah dapat meraihmu lagi dalam mimpiku? Apakah aku tak akan pernah kehilangan dirimu dalam mimpiku? Bagaiman jika aku kehilangan dirimu lagi? Walau hanya mimpi, apakah rasanya akan serupa dengan seratus tahun yang lalu?
Aku—
—Lagi-lagi terjatuh.
"Hirako Shinji."
"Aku mengakuinya, jika kau adalah lelaki yang menyebalkan."
Aku,
Semakin dalam menjatuhkan diriku.
"Hei, bagaimana caranya aku mengatakan suka padamu?"
Malam itu terasa hangat kala telapak tanganmu tiba-tiba menyentuh lembut helaian rambutku. Aku menyukainya. Aku sangat menyukai tatapan itu, hangat. Wajah yang dihiasi sedikit semburat merah itu juga nampak manis. Apakah kau benar-benar orang yang sama di siang hariku tadi?
"Apa kau perlu mengatakannya lagi?"
"Apa maksdumu, Aika?"
Aku menjatuhkan diriku ke dalam pelukan lelaki berambut pirang di hadapanku. Haori kaptennya pun nampak sedikit tertiup angin malam di sini. Siapa sangka aku akan memberikan hatiku pada sosoknya, orang yang seolah-olah tak memberikan sedikit pun rasa cintanya kepada lawan jenisnya. Siapa sangka sosok itu membalas lembut pelukanku. Mendekapnya lebih dalam lagi.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana raut wajahku saat ini. Pasti aneh jika anggota lainnya melihatku." Ucap dirinya di tengah-tengah kehangatan ini.
"Aku pun tak peduli lagi bagaimana raut wajahku saat ini dan bagaimana alasanku dapat terjatuh sedalam ini, Shinji."
Aku mencintamu.
Aku terkejut dan terbangun dari mimpiku. Ah, kali ini bukan mimpi tetapi kejadian di masa lalu yang menjerumuskanku ke dalam perasaan yang menusuk tiap detiknya. Malam ini pun tanpa sadar aku menangis seorang diri. Di sini selalu dan akan selamanya sendiri bukan? Aku sudah membiasakan diriku sejak seratus tahun yang lalu. Benar, aku sudah terbiasa.
"Harusnya aku terbiasa, tetapi kenapa aku selalu saja menangis seperti ini?"
Aku melangkahkan kakiku untuk menelusuri lorong yang sepi di sini. Aku tak pernah bermalam di sini sebelumnya dan aku terpaksa melakukannya karena beberapa eksistensi lain menyuruhku demikian. Rasanya sulit untuk menolak jika argumenku kalah suara.
Malam ini—di sinilah aku berpijak, menatap langit malam dari atap toko permen Urahara.
Angin malam di sini bukankah terasa lebih dingin? Ah, mungkin aku juga yang salah karena hanya memakai pakaian berlapis satu. Aku tak memikirkan akan sedingin ini rasanya karena sudah terlalu percaya diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Benar, semuanya akan baik-baik saja dan berjalan seperti detik sebelumnya. Aku ingin meyakini hal tersebut. Bolehkah?
Menit berikutnya aku menyembunyikan wajahku di dalam lututku yang menekuk. Aku masih menahannya di sini, untuk tidak menangis lagi seperti menit yang lalu. Nyatanya aku selalu tak sanggup menahannya dan berujung dengan tangisanku seperti seratus tahun yang lalu. Rasanya menyakitkan dan berputar-putar di dalam kisah yang menyedihkan.
"Aku memiliki firasat itu! Kau selalu tidak mendengar apa yang aku katakan bukan?!"
"Selalu dan selalu kau hanya menduga-duga! Apa kau tidak percaya padaku?"
"Apakah aku harus percaya dengan sikap keras kepalamu, Shinji?"
"Tsk! Terserah lah!"
"Shinji!"
"Berisik! Aku tidak akan mati dan aku akan kembali fajar nanti."
Malam itu kau mengenakan haori kaptenmu dan berbalik pergi meninggalkanku di sini. Apa kau tahu aku hanya merasa khawatir akan firasat buruk ini? Apa kau tahu jika aku selalu sadar bahwa aku tak dapat menyampaikan perasaanku ini dengan baik?
Aku hanya takut untuk kehilanganmu.
Kemudian malam itu aku benar-benar kehilangamu bukan?
Tak ada lagi fajar di esok hari, waktuku berhenti di malam ini.
Lagi. Hari-hari berikutnya selalu sama dengan langkah kakiku sebelumnya. Dingin dan sepi. Selalu sendiri dengan menatap langit malam tanpa fajar esok hari. Menangisi hal yang telah terjadi dan mengharapkan apa yang mustahil kuraih.
Jika kemustahilan itu bisa dilawan, apakah akan ada keajaiban setelahnya?
Di saat yang nyata aku masih di sini, menahan rasa dingin yang menembus sampai tulang rusukku. Aku memang tak memiliki lagi kehangatan itu dan malam benar-benar membagi rasa dinginnya padaku. Aku berterima kasih untuk rasa simpatinya, yang selalu saja ada kala aku ingin menangisi hal yang telah menghilang.
"Hanya di malam seperti ini aku dapat menangis lepas. Aku tidak akan sudi menangis di depan orang-orang yang sedang terlelap di dalam sana."
"Lalu, apakah kau sudi menangis di hadapanku malam ini?"
Aku memalingkan wajahku dan menatap tak percaya ke arah objek yang baru saja terlihat oleh kedua bola mataku. Aku menyakini jika diriku masih terjaga di sini, bukan sebuah ilusi dalam mimpi.
"Aku bertanya padamu sekali lagi," suaranya kembali terngiang di telingaku. "Apa kau sudi menangis di hadapanku, Aika?"
Aku tak menanggapinya dan memutuskan untuk berbalik pergi sebelum aku tersadar jika semua hanya ilusi yang kubuat sendiri. Aku mungkin cukup gila jika seseorang ingin mengirimku ke rumah sakit jiwa. Sungguh aku tak keberatan.
"Apa kau menjadi tuli sekarang?"
Langkahku terhenti seolah-olah terhipnotis oleh kalimat itu. Tidak, aku tak merasa kesal ataupun marah. Apakah sang malam menyadarinya jika aku masih ingin tetap menangis?
Jemari lentik itu perlahan menyentuh helaian rambutku di sini. Satu detik dan dua detik, hingga berlanjut ke detik berikutnya ketika sosok itu membelai lembut wajahku. Di sini aku pun dapat menatapnya dengan jelas. Sosok yang selalu saja menjadi fatamorganaku selama seratus tahun.
"Shinji..."
Tidak ada jawaban di sana, yang ada hanya rasa hangat ketika sosokmu membawaku ke dalam dekapanmu. Aku selalu tak tahu bagaimana raut wajahmu ketika kau melakukan hal ini padaku. Aku ingin melihatnya lagi, wajah lama yang selalu aku rindukan. Dirimu yang masih menjadi tokoh utama dalam ilusi yang berkepanjangan.
"Maafkan aku yang selalu keras kepala, Aika."
Hei, malamku, mengapa rasanya semakin gelap namun terlalu hangat di sini? Apa mimpi buruk dan mimpi indahku tengah bertabrakan?
Di sini aku kembali menatap matanya, memperhatikan setiap ukiran wajah dan helaian pirang rambutnya. Aku ingin menyentuhnya lagi, membelai lembut apa yang pernah menjadi milikku seratus tahun yang lalu. Aku ingin mengulang kembali hari dimana aku dapat selalu menatap wajahmu.
"Kau memotong rambutmu ya?" suaranya terdengar begitu jelas di telingaku. Debaran jantung ini pun mungkin telah sampai ke dalam pendengaranmu.
"Sebagai bentuk depresi dari orang yang ditinggalkan, sepertinya."
Aku mencengkeram erat kemeja mustard miliknya, seolah-olah berkata 'Jangan pergi.' untuk ribuan kali. Aku tak ingin lagi ditinggalkan walaupun aku masih setengah dalam khayalanku kala kau berdiri di sini.
Apakah sudah saatnya aku membangunkan diriku sendiri dari hal-hal fana?
"Aku juga," sosokmu berucap lagi di sana, kali ini dengan suara yang hampir berbisik. "Aku merasakan hal yang sama denganmu sejak seratus tahun itu."
Angin malam berhembus lagi, kau pun tertunduk—seolah menyembunyikan wajahmu di bahuku ini. Aku pun selalu ingat saat dimana kau melakukan hal seperti ini. Aku tak akan pernah melupakannya walaupun akan datang seribu tahunku nanti. Diriku di sini juga merasakan hal yang sama denganmu. Takut dan gelisah.
"Bagaimana jika aku pergi lagi? Bagaimana jika kesalahanku terus terulang? Bagaimana—"
Telapak tanganku terulur untuk membawanya kembali ke dalam dekapanku. Aku tak ingin lagi mengulang seratus tahunku tanpamu, namun jika harus terjadi maka aku bukanlah Tuhan yang dapat mencegahnya bukan?
"Aku akan selalu menunggumu, Shinji."
Untuk seratus tahunku, bahkan seribu tahun nanti akan tetap sama apa adanya. Aku ingin selalu memposisikan dirimu di tempat yang tak tergantikan. Aku ingin selalu membawamu ke dalam alam mimpiku. Aku pun pasti akan selalu merindukanmu di setiap detik napasku. Aku meyakininya, sungguh.
Aku sangat mencintamu. Bolehkah aku tak mengubahnya?
"Aika,"
Kedua telapak tangan itu terulur, meraih wajahku dengan lembut sebelum kau mendekatkan wajahmu padaku. Semakin dekat dan hangat. Aku dapat merasakan hembusan napasmu di sini, sesaat sebelum kau menghapuskan jarak di antara aku dan dirimu.
Ah, aku sangat merindukannya, bagaimana caramu menciumku dan betapa lembutnya sentuhanmu itu.
"Aku mencintaimu."
Kau berkata lembut setelah menyudahi ciuman singkat kita. Aku pun kembali menjatuhkan diriku ke dalam dekapanmu. Maaf jika aku menangis saat ini. Maafkan aku jika aku selalu menangisimu dalam seratus tahunku yang lalu.
"Menangislah. Kau boleh menangis di hadapanku, di dalam dekapanku."
Aku tahu itu. Kau pun juga mengetahuinya bahwa aku tak akan pernah bisa menahan tangisanku di hadapanmu. Aku pun tak jarang melakukannya, menangis di dalam dekapanmu dengan dirimu yang semakin dalam menjatuhkan diriku ke dalam kehangatanmu. Aku sangat menyukainya. Aku merindukanmu. Aku bisa mengulang kata-kata ini untuk jutaan kali di sini.
"Nee.. Okaeri, Shinji."
"Tadaima."
Aku mencintaimu. Hanya dirimu, dalam ratusan tahunku. Sungguh.
