GREY RAINBOW

Bunyi music klasik mengalun indah ke seluruh penjuru ruang, nada-nada rendah terkesan mendalam menelusup di indera pendengaran sama sekali tak membuat siluet bayangan itu bergerak ataupun pergi dari posisinya. Melihat keatas meninggalkan bayangan_ terlihat sesosok tegap dari tubuh pria remaja hendak menjejaki usia matang menatap keluar dari jendela, menatap indahnya pemandangan di kota bangkok. Arah tatapannya tetap sama dari sejak ia menatap kota. Kosong dan hampa. Entah apa yang di pikirkan pemuda yang mungkin saja tampan karna sejak tadi tidak berencana berpaling dari arah jendela itu hingga_ sebuah suara mengintrupsinya.

"kau masih ingin terus seperti itu?" Tanya pria bertubuh hampir sama dengan pemuda yang masih setia menatap lalu Lalang aktivitas orang di bawah Gedung

"entahlah" jawab pemuda itu ringan

"kau tahu?" Tanya pemuda dengan surai di kucir seraya masuk keruangan kamar milik pemuda yang belum hendak menampakan wajahnya "keajaiban tidak akan datang dengan sendirinya_ melainkan kau sendiri yang membuatnya" sambung pria berkucir dengan wajah cukup tampan itu

"berkata itu mudah bukan?" tukas pemuda itu lagi "tapi menjalaninya tak semudah seperti bayanganmu" tak urung membuat membuat pria berkucir itu mendesah lelah

"setidaknya kau sudah berusaha untuk mencobanya!" cukup_ saat in ia sudah terpancing emosi "daripada kau tetap tegak berdiri seperti saat ini layaknya orang bodoh yang tak bisa melupakan masa lalu! Sadarlah Mario!" raung pemuda tampan itu tidak lupa dengan gesture tubuh marah

"aku cukup lelah untuk mencoba_" ujar pemuda yang akhirnya memutarkan arah pandangannya kearah sang sahabat "yang pada akhirnya aku tahu jawabannya" sambungnya sembari tersenyum tipis, memoles wajah tampannya untuk menutupi luka yang ia rasakan.

"bodoh" dengus pemuda berkucir

"anggap begitu Nuth_"

"terserah kau saja" acuh pria yang kita ketahui bernama Nuth

Lama kepergian Nuth berlalu menjauh, iapun kembali ke pekerjaannya semula. Menatap pemandangan kota. Mengenang semua hal yang sudah terjadi, sesekali ia menarik napas panjang lelah_ tak di sangka bukan dia yang kau cintai sepenuh hati kini dia yang menghancurkanmu menjadi berkeping-keping, hingga membuatmu berpikir apa yang istimewa darinya? sampai kau berpikir lebih baik mati tanpanya. Sungguh menjijikan. Tapi kenapa perasaan itu ia rasakan batin pria bernama Mario, dulu dengan mudahnya ia akan menjawab bahwa hanya orang bodoh yang lebih baik mati karena di tinggal cinta, akan tetapi kenapa saat ini ia serasa harus mempertimbangkan jawabannya kembali di masa lampau bila mengingat melompat dari jendela dan jatuh kebawah dari gedung ini tidaklah sesakit saat dia melukai perasaanmu. Sungguh miris_ironis? Atau menyedihkan? Ia pun tak tahu kata apa yang mampu mengambarkan kehidupannya sejak ditinggal dia.

"kau membuat Nuth marah lagi Mario?" Tanya seseorang bersedekap dada di depan kamar Mario sembari tersenyum miring

"kau rupanya Nick?" Tanya Mario membalikan badan

"yah seperti yang kau lihat" jawab Nick dengan nada sing a song sembari merentangkan tangan "seharusnya kau tak membuat Nuth jengkel Mario" sambungnya

"dia masih tetap sama_ mudah marah" jawab Mario

"dan kau juga masih sama_ masih belum bisa bangun dari mimpi burukmu" santai Nick membuat Mario menatap sendu kearah jendela

"aku sudah bangun_" tenang Mario "kalian saja yang menganggapku belum bisa bangkit"

"siapa sekarang kekasihmu?" Tanya pria bersurai hitam pekat dengan gaya rambut spiky itu

"itu_" bingung pria yang kita ketahui bernama Mario

"aku menunggu…"lanjut nick dengan menaikkan sebelah alisnya

"belum ada"

"see… bahkan kau belum memiliki kekasih sama sekali" tutur Nick seraya memainkan miniature di tangannya.

"tidak memiliki kekasih bukan berarti aku belum bangkit bukan?!" tegas Mario

"yah_ tergantung…" ucap Nick meletakkan kembali mainan miniature ketempat semula "asal kau tidak membohongi dirimu sendiri itu sudah sebuah kemajuan" sambung Nick santai tak urung membuat Mario bungkam dengan kalimat Nick tepat sasaran

"dan" satu kata penghubung sukses membuat Mario menatap Nick yang sedang berjalan hendak keluar dari kamarnya "kalau kau ingin menghibur fikiranmu_ikutlah denganku" sambung ujarnya dan mulai pergi berlalu

.

Grey

.

"hey… hey… lihatlah siapa yang datang!" seru pria dengan sebuah tahi lalat di atas bibirnya tersenyum sumringah

"kau tahu Kla! Mungkin suatu saat akan ku jahit mulut berisikmu!" ujar pria dengan surai hitam kelam "hah_ ayolah Song! Kau kira ini acara pemakaman apa?! Semuanya harus tenang!" balas Kla mengabaikan tatapan membunuh dari pria yang sedang di rangkulnya, sedikit banyak membuat Mario tersenyum tipis melihat pertengkaran kecil antara kedua sahabat dekatnya.

"di mana Nuth dan Alan?aku tidak melihat mereka?" Tanya Nick membuka suara

"erm…." Pikir Kla sangat keras "entahlah" jawabnya setelah Lelah berpikir seraya mengelengkan kepalanya

"dia pergi tadi_ katanya ingin membeli cemilan atau semacamnya gitu" jelas song melirik pedas kearah Kla yang saat ini cengar-cengir gak jelas kearahnya.

"o… gitu, baiklah" ucap Nick seraya mengambil tempat nyaman untuk duduk di ikuti dengan Mario.

Semua terdiam sibuk dengan pemikiran masing-masing, bahkan si berisik Kla juga terdiam menghayati entah apa yang harus di hayati sedari tadi. Waktu berlalu dengan sangat lambat, apalagi mengingat seorang tokoh dalam cerita ini yang tak pernah menampakan batang hidungnya cukup lama tiba-tiba saja muncul membuat suasana sedikit canggung, bukan berarti seluruh teman dari pemuda tampan yang di canggungkan bernama Mario ini tak menyukai kebaradaannya, hanya saja hal itu terasa aneh dan sensasi cangung tak bisa terelakan diantara mereka saat ini. Cukup lama menunggu tanpa ada obrolan ringan serta canda tawa layaknya teman-teman sedang berkumpul pada umumnya , membuat pemuda beriris kan gelapnya malam yang sedang dipermasalahkan saat ini mulai beranjak berdiri dari duduknya.

"aku harus pergi" ujarnya

Hanya itu yang di katakan Mario yang selanjutnya meninggalkan ketiga sahabatnya dengan tampang menyesal karna tak tahu harus bersikap seperti apa kecuali Nick.

"jaga dirimu" ujar Nick tersenyum yang pada akhirnya di ikuti Kla dan Song " takutnya kau akan di perkosa banci di jalan mengingat wajahmu sedikit lebih tampan dariku" sambung Nick diringi anggukan bodoh dari Kla tanpa tahu ataupun menyaring perkataan dari Nick terlebih dahulu sukses menuai plototan sadis dari Song

"che…" decih Mario "terserah kau saja"

..

Grey

..

Jalan dan jalan itulah yang saat ini di lakukan Mario seraya menatap keindahan kota, sesekali ia tersenyum kearah gadis-gadis kelebihan hormone karena menatapnya, lihat yang satu di pojok sana_ bahkan orang akan berpikir dia sedang kesurupan mengingat saat ia sedang teriak-teriak gaje tentang dia tak habis menuai senyum miliknya. Lama melangkahkan kaki hingga tak di sangka langkahnya membawa ia ke sebuah café sederhana di pingiran kota, dari pada sudah datang tapi tak masuk_lebih baik ia masuk dan memesan sesuatu. Mengambil duduk paling pojok, Mario pun segera memanggil waiters

"coffee latte please?" pesan Mario, baiklah saat ini perutnya sedang tak ingin di isi sesuatu begitu juga otaknya yang setuju dengan sang perut hingga ia hanya memesan minuman.

"ok, ditunggu sebentar ya tuan" jawab waiters setelah menulis pesanan

Tak lama setelah pesanan di minta, akhirnya segelas kopi latte panas di sajikan beserta sebuah cupcake cantik di piring

"sorry , saya tidak merasa memesan kue ini" ujar Mario menjelaskan bahwa ia merasa tidak memesan cupcake kearah gadis waiters itu "mungkin kau salah meja" imbuhnya

"tidak tuan, itu memang benar untuk anda" jawab sang waiter café seraya tersenyum ramah "karena hari ini adalah hari cupcake gratis dari kami, silahkan dinikmati tuan" sambungnya sembari berlalu pergi

"ok, thanks" ujar Mario mulai menyesap sedikit coffee latte panas miliknya, sedikit ia melirik kearah cupcake cantik yang terlihat menggoda. Memotongnya sedikit menggunakan sendok kecil yang disediakan, iapun mencicipi cupcake gratis itu hingga kedua belah alisnya tertekuk runcing setelah melahap sesendok kecil free cupcake itu.

'rasa ini_aku pernah merasakannya' batin Mario. Tegak dan langsung meninggalkan tempatnya duduk, iapun berlalu pergi setelah menaruh sejumlah uang yang cukup banyak tak perduli bahwa uang yang ia tinggalkan terlalulah banyak untuk hanya sekedar membayar segelas coffe late. Pelayan yang melihat uang di tinggalkan sangat banyak segera memanggil bahkan berteriak agar pria itu kembali untuk mengambil sisa uang pembayaran, sayangnya pria itu sedikitpun tak menghiraukan teriakannya atau mungkin jarak antara dia dan pria itu sudah terpaut jauh sehingga teriakan lantang tak terdengar lagi oleh pria itu, tak habis akal wanita itu segera kebelakang meminta tolong dengan temannya.

..

Grey

..

'bagaimana mungkin rasa makanan itu bisa sangat mirip sekali?' hanya pertanyaan itu yang bergelantung manja di fikiran pemuda tampan berusia dua pulahan itu ,membuatnya terlihat sangat kusut sekali seraya berjalan membuat charisma-nya kehilangan sinar bahkan saat ini suram adalah kata yang cocok untuk mengambarkan Mario, sampai ia memilih untuk duduk sejenak di bawah pohon yang telah disediakan bangku untuk duduk dan menenangkan diri sejenak.

'tak mungkin itu dirinya! Benar itu tak mungkin' batin tegas Mario kedirinya sendiri menyadarkan bahwa ia saat ini sedang halusinasi saja, bisa saja resep cupcke itu mirip dengan wanita itu.Itu bisa saja bukan?.

"bukankah akan lebih baik kalau kau berdo'a kepada tuhan saat sedang gelisah seperti ini tuan?"

"aku tak percaya akan hal-hal sepert itu" jawab dingin Mario tak perduli dengan teman ngobrol barunya ,tetap mempertahankan menundukkan kepalanya

"benarkah?" tanyanya "tapi aku lihat kau saat ini terlihat sangatlah menderita dan membutuhkan bantuan tuhan" sambungnya

"itu bukan urusanmu," jawab sang pemuda dingin "berdoapun tidak akan manyelesaikan apapun" tukasnya kasar

"hahaha…kau lucu_ baiklah kalau kau tak percaya kepada tuhan setidaknya kau bisa percaya padaku bukan?" tawa seseorang yang ternyata bergender wanita itu sama sekali tak mendapat respon apapun dari Mario

"ayolah ceritakan apa masalahmu? Apa cupcake di toko ku sangatlah buruk rasanya hingga membuatmu muram seperti ini? aku bersumpah tidak mencampurkan apapun di dalam makanan itu"

"cukup!" bentak pemuda itu "Apa kau tidak bisa meninggalkanku_sendiri" nada suara Mario menurun, sadar salah telah melakukan tindakan tidak terpuji dengan membentak orang lain.

"baiklah aku Akan meninggalkanmu sendiri, mungkin kau butuh waktu sejenak bukan?" Tanya gadis itu yang ia sendiri tahu jawabannya "tapi kalau kau masih sedih tetaplah ingat bahwa tuhan tak pernah meninggalkanmu tuan pemarah" lanjut tutur polos gadis itu sembari tersenyum lembut kearah Mario "ada ada saja… Seperti anak kecil " timpalnya lagi mulai berlalu

..

Grey

..

Malam ini hujannya cukup deras membuat pemuda tampan ini hampir mengigil saat menginjakan kakinya kedalam apartemen akibat terguyur hujan saat perjalanan pulang, sungguh ia menyesal meliburkan sang sopir bila ia tahu hal ini akan terjadi. Lihat saja akan ia potong gaji sang supir karena tak menolak tawarannya tadi, batin Mario tanpa tendeng aling-aling berniat mempangkas gaji sang supir disinyalir sama sekali tak bersalah dalam kesialan yang menimpanya. Cukup_ daripada berpikir sinting akan nasib si supir dengan gesit Mario menuju ke kamar mandi untuk menganti baju atau mandi air hangat _mungkin_

.

Skip

.

Tak lama hanya membutuhkan waktu sekitar lima belasan menit saat ini Mario telah menggenakan handuk putih melingkar cantik ah_ maksudnya tampan di pinggangnya, semua sudah di planning pemuda berparas tampan dengan surai hitam pekat itu saat di kamar mandi tadi, ia sudah berencana untuk membeli makanan,minuman, mungkin juga kaset karena saat ini pemuda tampan bernama lengkap rolland Mario sudah bertekat untuk begadang mengingat waktu liburannya hampir habis, hanya tersisa satu minggu lebih dan ia tak melakukan apapun selama dua minggu terakhir selain mengerjakan urusan kantor di hari libur. great. membuatnya merasa bodoh beberapa saat, coba kalian pikir_untuk apa mengambil libur kalau hanya di hari libur juga bekerja! Hampir membuat staff karyawannya menahan tawa akan hal itu, untung saja mereka semua masih takut akan mendadak di pecat bila melakukan sesuatu yang nekat seperti mentertawakannya secara terang-terangan.

"hah_ membosankan" desah Mario dengan wajah tertekuk sambil menonton film dengan seonggok pizza tak tersentuh, hanya minuman yang bersoda serta kripik yang ia minum dan makan sejak tadi menemaninya menonton film. Tapi hal itu sontak berubah setelah Negara api menyerang ah_maksudnya bunyi bel ,menandakan bahwa ia mendapatkan seorang tamu yang tentu saja tak diundang.

"siapa?" Tanya Mario Ke diri sendiri

Melangkah santai seperti biasa setelah sampai di pintu iapun segera membukanya, akan tetapi hal selanjutnya lah yang membuatnya terkejut , tak lain ialah seorang gadis yang sebagian tubuhnya basah kuyup dan jujur saja pemuda tampan pemilik rumah ini tak tahu siapa orang ini? sama sekeli tak tahu?ia bahkan berpikir tak memesan wanita penghibur sebelumnya.

"erm.. anu ini" gadis itu terlihat canggung di depan Mario seraya menyodorkan uang, sedangkan Mario sendiri hanya menaikkan sebelah alisnya seakan dari gesture itu ia mengatakan 'maksudnya?'.

"ia ini uang kembalianmu, tadi karna kau mengusirku aku jadi lupa memberikan ini" serahnya

"jadi kau kesini hanya ingin mengantarkan itu?" tak habis pikir Mario, come on dude apalagi yang kau harapkan huh? Apa kau berharap dia mencarimu? Of course NO! batin pemuda itu berdialog. Sedikit berdehem "kaukan bisa saja mengambil uang ini" lanjut Mario enteng menatap uang di tangannya dan beralih kearah wajah basah gadis itu

"itu bukan hakku jadi aku berkewajiban untuk memulangkan kepemiliknya"

"benarkah, apakah aku harus bangga dengan tindakkanmu ini? Nona pemberani" sinis Mario dengan penekanan intonasi di akhir kalimat

"riana, namaku riana "

"terserah_ kau tahu nona riana? sangatlah berbahaya seorang gadis keluar sendiri di malam seperti ini apalagi badai sedang mengamuk di luar"ujar Mario "aku tak tahu tindakkan yang kau lakukan ini benar atau salah_apakah orang tuamu tidak mengajarimu akan bahayanya seorang gadis keluar sendiri di malam hari?apalagi hujan seperti ini?!"

"baiklah_ baiklah tuan pemarah pertama aku tak mau mengambil yang bukan hak ku, kedua aku sudah tak memiliki orang tua lagi" jelas gadis bernama riana sontak sukses menuai ketercengangan Mario mendengar hal itu " ketiga aku tinggal sendiri_ dan terakhir aku bisa menjaga diriku sendiri" tambahnya lagi penuh itonasi penekanan di setiap kalimat, membuat pemuda tampan dihadapannya tak mampu berkata apalagi.

"aku menyesal akan hal_" belumlah selesai segera ucapan Mario di pangkasnya

"tak perlu_ aku tak suka di kasihani oleh orang lain" tukasnya tenang "seolah-olah hidupku sangat menyedihkan sekali" lantas ia melanjutkan perkataannya dengan mata memicing tajam kearah Mario

"kau bisa_" sekali lagi di pangkas membuat alis pemuda tampan itu berkedut jengkel

"aku pergi" potong gadis itu

Mengendikkan bahu, Mario pun menutup pintu dan berlalu masuk kedalam sembari melempar uang recehan yang di berikan gadis itu ke sisi meja tamu ,ia kembali berlalu menuju kearah televisi yang sejak tadi memutar gambar dengan penontonnya hanyalah pizza, kripik, dan minuman soda 'great ' itulah kata yang akan diucapkan bila tv itu bisa berbicara layaknya manusia,syukurlah itu tidak terjadi di dalam fiksi ini.

..

Grey

..

Mungkin hari ini tak akan semenyebalkan ini kalau saja ia tidak berjumpa dengan seseorang yang benar-benar menjengkelkan seperti semalam, oh god ini sudah ke seratus sepuluh kalinya ia menghela nafas_ ok_ mungkin itu terdengar berlebihan tetapi tetap saja. Masih segar di ingatannya pria itu mengatakan bahwa orang tuanya tak pernah mengajarinya dan setelah dia mengetahui fakta dari orang tua yang ia miliki telah tiada ,segera pria brengsek itu memasang wajah menyesalnya oh bulshit for them, bahkan bunglon butuh waktu untuk berubah warna , tapi dia tidak_ dia hanya membutuhkan waktu kurang dari sedetik untuk menganti wajah brengseknya itu dari iblis menjadi malaikat. ya memang dia akui ia sudah tak memiliki orang tua lagi. Dia adalah riana _ yatim piatu sejak kecil dan berusaha bertahan hidup, setelah orang tuanya wafat karna kecelakaan tunggal. akan tetapi ia tak semenyedihkan itu hingga semua orang harus menatapnya dengan kasihan bukan? ia hanya ingin semua orang menatapnya sama seperti yang lain walau apapun yang terjadi, riana ingin membuktikan bahwa ia mampu berdiri dan membuat kedua orang tuanya bangga di surga sana.

"hey hey!" sergah pemuda dengan sebagian rambutnya di kucir " kalau kau membuat kue seperti itu mungkin nanti sore aku akan memecatmu" tukasnya jengkel menuai tawa halus gadis manis bernama riana itu masih tetap sibuk dengan adonannya

"maafkan aku boss_" sesalnya " aku berjanji aku akan melakukan lebih buruk lagi"

"bagus itu baru anak buah ku.." ujar pria itu tersenyum bangga hingga kedua matanya melengkung "antarkan surat pengunduran dirimu nanti sore " lanjutnya sukses membuat gadis yang namanya memiliki makna hujan itu merengek seraya memeluk bagian tubuh paling vital sang boss. Kakinya.

"hentikan air mata buaya mu riana!" sinis sang boss melirik nyalang melihat tingkah laku anak buahnya yang terlewat lebay untuk takaran manusia normal "kau pasti memiliki niat terselubung bukan?" dengan nada curiga ia mulai menatap riana skeptic

"kau selalu tahu ya kak thom" akhirnya gadis drama queen menyudahi acting opera sabun murahnya batin thom bosan, tak lepas dengan manic hitamnya memberikan deathglare ampuh yang ia miliki

"jadi apa mau mu heh?" ucap thom to the point ke inti masalah "kau tahukan aku juga punya pekerjaan?"

"uhm begini,.."

"ayo katakan ada apa? Jangan buat ini layaknya mistery case karna demi kepala botak kasir baruku kau sangatlah tak cocok untuk itu" okey sekarang dia yang mulai OOC

"Sebenarnya aku… aku ingin minta libur besok_"
"APA?!... tapi kau kan_"

"tunggu dulu! dengarkan aku dahulu" potong riana menyudahi protesan yang hendak di lontarkan thom kearahnya "begini, besok adalah hari ulang tahun pernikahan orang tuaku"

"jadi?" sebalah alis thom naik keatas mendengar ucapan riana meminta penjelasan

"aku ingin minta izin agar bisa merayakan ulang tahun pernikahan mereka" usai sudah cicitan riana layaknya pengemis sedang menghiba agar di beri uang

"di izinkan"

"hah?!_benarkah? Kau mengizinkanku?" respon gadis cantik bersurai indah itu sumringah mendengar jawaban thom

"tentu saja_ kau sudah seperti adikku jadi orang tuamu adalah orang tuaku juga bukan?" ujar thom melunak

"aku sayang padamu kak thom" jerit riana mengelegar seraya memeluk pemuda di hadapannya erat sukses membuat pemuda itu meronta- ronta menyalamatkan diri dari pelukan maut gadis abal-abal bersindikat pembuat kue di tokonya

"me too" balas thom " sekarang lepaskan AKU" tegasnya

..

Grey

..

Tempat ini sama seperti tahun-tahun yang lalu, tetap tenang bahkan sangat tenang malah membuat semua yang beristirahat disini sangatlah damai tentunya dan itu juga mungkin dirasakan oleh orang yang sangat di kasihi dari gadis yang sebagian rambutnya di kuncir ini. Dengan lembut tangan ramping itu mengelus halus kearah batu dingin bercetakkan nama di sana dengan nama masing-masing mrs and mr arian, setetes cairan bening mengalir begitu saja tanpa bisa dikontrol lagi dan seluruh rencananya agar terlihat tegar di depan orang tuanya telah sirna sudah

"hey… kalian apa kabar?" Tanya gadis itu kearah kedua batu pusara itu mengusapnya lembut seakan-akan itu adalah wajah kedua orang tuannya "kalian pasti sehat bukan?, begitu pula denganku aku juga sehat_ jadi jangan khawatirkan aku disini ok?" lanjutnya lagi dengan air mata menggenang tak terbendung.

"kalian tahu kenapa aku datang hari ini bukan?" Tanya gadis itu lagi yang hanya mengambang hampa di sambut angin lembut "pasti ibu tahu dan tentu saja ayah yang lupa hari ini hari apa_ seperti biasa ibu akan memarahi ayah" tukas gadis itu lagi sambil tertawa halus

"ibu tahu? riana membawakan bunga kesukaan ibu" ujarnya "lily dan ini kado untukmu" seraya meletakkan di dekat pusara sang ibu ,selanjutnya ia menatap pusara sang ayah

"ayolah aku takkan melupakan ayah kau tahu itu-kan?_" lanjut gadis itu seakan-akan ia bisa melihat sang ayah cemburu dengan sang ibu yang telah mendapat hadiahnya " aku membawakan ayah dasi baru… warna biru_ warna favorit ayah bukan? Ini jangan lupa untuk di coba ya?" sambungnya dengan air mata semakin menjadi jatuh dari mata indahnya tak mampu berhenti untuk terus menganak sungai

"maafkan aku ibu_ ayah" sesal gadis cantik ini"putri kalian ini belum bisa membuktikan apapun_ bahkan aku belum bisa secantik ibu atau setanguh ayah" ucap gadis bernama riana itu sambil cengengesan dengan air mata yang terus ia usap dengan kasar

"ayah tahu_kalau ibu ada di sini ia pasti menjitak kepalaku sembari berkata bodoh dan ayah akan membelaku seperti biasa, selalu seperti biasanya" terus riana_ terus membuka tabir kelam di masa lalu mengoyak perasaan hingga akhirnya ia mengatakan kalimat yang tak henti setiap saat mengunjungi makam kedua orang tuanya

"riana kangen sama ayah dan ibu"

Dengan tulus ia mengelus lagi kedua pusara di hadapannya yang masing-masing sudah di letaki kado beserta bunga untuk sang ibu dan sang ayah

" riana ingin kita kumpul seperti dulu lagi"

.

Grey

.

Pagi ini rutinitas bergulir seperti biasa di kota yang terkenal itu_ lalu lalang orang berkendara silih berganti pergi kekantor atau ketempat kerja sesuai dengan profesi masing-masing agar menghasilkan sesuatu yang biasa kita sebut uang, tapi berbeda dengan beberapa pemuda di dalam café ini, seakan mereka tak memiliki pekerjaan selain duduk mengobrol walaupun uang yang datang dari antah berantah terus mengalir ke dompet mereka.

"semalam aku melihat seseorang_" ucapan kla belumlah usai sudah di potong tajam alan

"kau yakin itu orang kla?" potongnya skeptic menuai plototan lucu dari pemuda yang mudah emosi itu

"apa kau kira mataku sudah tak bisa membedakan lagi heh?!" dengusnya kasar mendengar nada mencemooh yang di lontarkan alan

"terakhir kali nenek-nenek kau sebut cantik bukan?" skakmat_ saat ini song membuka suara sontak membuat kla glagapan sendiri mendengar nada lelahnya, bukanlah nada lelah song yang membuat pria berambut spiky itu memucat, melainkan perkataannya terlalu jujur dan yeah_ memang benar jujur itu menyakitkan.

"fffhh_huahahahah" tak bisa lagi saat ini nuth sudah tertawa terbahak-bahak mendengar fakta hingga membuat pemuda terduga berubah memucat seperti itu "kau_ nenek… hahahahaha"

"oh_ ayolah…" keluh kla menahan malu "salahkan dia menggunakan baju yang seksi dan memiliki tubuh munggil jadi membuat aku berpikiran dia itu masih gadis ABG.." jelas kla malu di tertawakan semua temannya minus song dan Mario

"mungkin kau harus memeriksakan matamu teman" tegur nick halus "aku memiliki kenalan dokter yang cukup bagus untuk matamu _ itupun kalau kau berminat sih" lanjutnya lagi membuat wajah kla semakin memerah durja

"sudahlah! aku saat ini serius"

"benarkah? Apa itu" respon nuth tersenyum hampir menyeringai kearah sang korban pembully-an sejak tadi

"semalam aku melihat gadis cantik di dekat pemakaman pinggir kota" tukasnya halus awas-awas ucapan baru saja ia lontarkan ini akan menuai hinaan lagi " kalian tahu?_" sambung kla menatap seluruh wajah teman-temannya ,belumlah selesai

"tentu saja tidak"respon song terkesan cuek bebek membuat alis kla berkedut jengkel

"kau yakin dia manusia? Atau mungkin dia arwah yang tak tenang? Bisa sajakan?" skeptic alan membuat alis kla semakin berkedut jengkel oh god! saat ini ia hampir kehilangan kewarasan sejak tadi di bully tanpa henti, bahkan tadi ia belum selesai bercerita sudah potong di pangkas dicincang dengan mereka

"terserah kalian sajalah" bentak pemuda tampan itu nyaring dan mulai berlalu pergi meninggalkan semua temannya di meja, cukup lama kla pergi berlalu akhirnya nick membuka suara

"kurasa kita terlalu berlebihan membully-nya" ujar nick setelah melihat kla telah berlalu melaju menggunakan motor kesayangannya

"hahahha_ kapan lagi kita bisa menjahilinya seperti tadi bukan?" respon cepat tanpa rasa bersalah sedikitpun dari pemuda yang bisa diduga. nuth dan alan pastinya.

"baiklah aku pergi dulu" sekarang giliran Mario membuka suara setelah sejak tadi ialah yang menjadi pendengar yang baik

"kemana?" pertanyaan reflek di berikan alan

"aku ada pekerjaan" jawab Mario singkat dan padat " sampai jumpa"

..

Grey

..

Malam ini adalah malam yang paling dinantikan setiap pasangan,baik yang normal, abnormal, ghaib, maupun non-ghaib, muda, hingga tua-tua keladi tak sadar diri, semua menantikan malam dimana mereka bisa bercengkrama dan menghabiskan waktu hanya berdua_ ya hanya berdua_ indahnya malam minggu bukan? lihatlah kekiri dan kekanan lalu lalang pejalan kaki mayoritas mereka adalah sepasang kekasih, tampak dari tangan mereka yang saling bergandengan layaknya sebuah prangko tak terpisahkan dari surat. Tarik napas dan hembus itu yang dilakukan gadis bersurai coklat seakan berusaha menikmati waktunya, yah_ hanya satu cup eskrim inilah yang menaminya sejak tadi di malam jomblo eh_ maksudnya minggu ini. Bosan yang dilakukan hanya duduk dan lirik kekanan dan kekiri iapun mulai beranjak mulai melangkah pergi, pulang ke rumah dan bergulung di kasur bukanlah ide yang buruk juga dibandingkan baper-baperan disini batinnya, hingga sorot mata gadis itu jatuh kearah tubuh tegap pria yang sangat familiar baginya ketika ia hendak melangkah pergi. Penasaran? tentu saja_gadis sebut saja namanya riana itu sudah terlihat mulai melangkah menuruni anak tangga menuju bangku pria bertempat tak jauh dari danau buatan, di lihat dari sudut manapun terlihat pria itu sedang termenung menatap danau di depannya. Endap- mengendap itulah yang dilakukan riana ,seakan ia sudah seperti anggota intel professional yang hendak menangkap sindikat yakuza terbesar tak urung membuat gadis bersurai coklat selaras manic dimatanya itu cengar cengir tak tentu arah. Tapi tunggu dulu!. Apa yang dilakukan pemuda itu sendirian? Menurutnya pemuda itu tidaklah terlalu jelek sehingga tak memiliki kekasih sama sekali_ loh_darimana datangnya keyakinan riana seolah-olah ia memang mengenali sosok pemuda itu? Jawabannya ya tentu sajalah, ia sangat hapal sekali dengan cowok menyebalkan ini tapi bukan berarti dia nge-fans tolong di catat baik-baik. Daripada mati dalam keadaan kepo lebih baik ia mati dalam keadaan kenyang batin riana super duper ngawur, dengan berpegangan dengan prinsip pantang pulang sebelum dapet gossip hot segera ia mempercepat langkahnya

"hey tuan pemarah? Apa yang kau lakukan sendirian disini?" tegur gadis coklat itu mengagetkan pemuda yang sedang termenung itu.

"bahkan kau lupa bercermin_ kalau kau juga sendirian" jawab Mario sarkas bahkan terkesan tak bersahabat sama sekali.

"ah itu_ aku baru saja pulang dari kerja" kilah riana salah tingkah karena tatapan pemuda itu

"dimalam minggu seperti ini? Dimana kau belajar kata-kata bodoh itu heh?" terlihat sekali kilatan ketidak percayaan dimata Mario mendengar ucapan riana semakin membuat gadis cantik itu mengaruk kepalanya yang bisa di pastikan tidaklah gatal sama sekali "baiklah anggap aku percaya denganmu_" santai Mario sukses membuat gadis dengan rambut di urai begitu saja bernafas lega " lantas kenapa kau pulang dari kerja secepat ini? atau kau ini jomblo yang sedang membuat alasan hm?" tuding Mario tajam kearah riana sontak membuat gadis di depannya menunjukkan deathglare yang super duper serem tak terima.

"hey..hey… Aku ingat sebuah pepatah mengatakan bahwa menyisir dengan menyindir itu sama saja" ujar riana seraya mengamit tempat duduk di sebelah mario

"maksudmu?" bingung Mario

"sama-sama butuh cermin" tandas riana menciptakan beberapa sudut persimpangan imajinatif di dahi pemuda berwajah tampan tersebut

"sudahlah" desah Mario meredam emosinya, meladeni gadis di sebelahnya inikan akan menimbulkan sebuah pertikaian dan itu tak bagus untuk imej -nya"kau sudah makan jomblo?" lanjutnya

"belum_ dan tolong aku tidak jomblo" ujar riana sewot " melainkan single" sambungnya berseri-seri bangga

"apa single memiliki pacar?" Tanya Mario mulai berdiri dan berjalan disusul gadis yang agak pendek darinya itu ,menjauh meninggalkan tempat mereka duduki tadi.

"tentu saja tidak" jawab riana setelah berhasil menyamakan langkah

"artinya tetap sama saja kalau kau itu jomblo"

"HEY!" jerit riana marah tak terima di katai jomblo sejak tadi sembari mencubit pinggang pemuda di sebelahnya dengan bringas, tanpa sedikitpun rasa bersalah ia mulai memintal cubitannya di pinggang tak berdosa pemuda itu.

..

Grey

..

Ruangan yang tak terlalu ramai hanya saja berdesak-desakan sontak berhasil membuat alis pemuda tampan bernama Mario ini menukik tajam berbanding terbalik dengan ekspresi gadis di sebelahnya yang terlihat sangat antusias berada di tempat laknat seperti ini_ oh god! Mimpi apa dia tadi malam bisa bersama gadis yang tingkat kewarasannya di pertanyakan dan lebih buruknya lagi ia akan makan di tempat yang super duper bobrok dengan membutuhkan perbaikan di semua sisinya, lihatlah lagi wanita gila di hadapannya memesan makanan junk food begitu banyak setelah mereka berhasil mendapatkan tempat duduk_ apa dia berencana memberikan makanan untuk babi-nya dirumah? Apa ada lagi yang lebih buruk? Tentu saja ada! Setelah ia tadi mendengar bahwa seluruh pesanan itu special untuknya_ astaga! bagai di sambar petir rasanya. Menyesal ia mengajak gadis ini untuk makan bersama. Tapi apalah daya Mario sekarang, nasi sudah kadung jadi bubur_ mau tak mau suka tak suka ia malam ini harus memamah makanan yang selalu jadi musuhnya.

"bagaimana makanannya? Kau menyukainya bukan?" Tanya penuh semangat gadis cantik di hadapan Mario

"ya_ aku sangat menyukainya" balas Mario dengan nada dari segi manapun kita mendengarnya sangat tidak sesuai dengan kosakata yang keluar dari belahan bibirnya "saking enaknya aku bahkan tak ingin memakannya" tandas Mario jengkel dengan makanan nista di depannya

"ayolah_ berhenti seperti seorang gadis yang sedang menjalani diet! Kau ini laki-laki kan? kau harus banyak makanan seperti ini agar kau kuat!" jelas riana entah itu memberi nasehat atau hendak mencibir Mario secara tak langsung.

"whatever"

Tak lama, waktu bermain dengan semestinya hingga saat ini Mario bersama riana telah keluar dari warung makan itu_sebenarnya tak buruk juga makan bersama seperti ini walaupun yang di makan tadi tidaklah layak makan batin Mario, tapi setidaknya ia memiliki teman makan malam ini hingga untuk saat ini pemuda bertahtakan batu permata onix di matanya ini mampu melupakan sedikit penderitaan di hatinya.

"kapan-kapan kalau kau ada waktu makanlah bersamaku lagi?" sukses ucapan itu membuat wajah Mario menoleh kearah gadis yang sedikit pendek tepat di sampingnya, takut-takut jikala ia salah dengar

"makan bersama lagi?" beo Mario masih tak percaya yang tadi diucapkan riana, rasanya sangat aneh sekali dan entah kenapa juga hatinya terasa hangat karena perkataan gadis itu

"iya.. makan bersama lagi" ulangnya "aku yang traktir" timpalnya lagi

"uhm_ baiklah" setuju Mario " aku menunggunya" untuk pertama kalinya riana melihat Mario tersenyum yah walaupun itu tipis bahkan hampir tak kelihatan, tapi ia bisa melihat pemuda di hadapannya sudah menunjukkan respon yang baik sebagai calon teman barunya.

"sampai jumpa besok ya" ujar gadis cantik itu mulai pergi berlalu meninggalkan Mario berlari kecil menuju ke halte bus.

.

Grey

.

"makanan berat huh?" Tanya nick tenang "sejak kapan kau menyukai makanan seperti ini?"

"tidak ada_ aku hanya ingin makan makanan ini saja" jawab Mario menatap kearah makanan yang biasanya ia benci

"baiklah_ asal kau tak membeli barang yang mengingatkan ia kembali" mengantung, nick memberikan jeda dari perkataannya "itu tidak masalah bagiku"

"aku tak akan mengingatnya kembali" dingin Mario "orang yang telah meninggalkanku sudah tak pantas lagi untuk di ingat" tandasnya

Senyap_ ruang itu mendadak sunyi setelah Mario menjawab ucapan nick bahkan makanan di hadapannya pun tak tersentuh sama sekali, semuanya terdiam hanyut dalam pemikiran masing-masing. Cukup lama suasana hening ini berlangsung sebelum bunyi kursi bergeser memecah keheningan, terlihat pemuda bernama nick berjalan keluar meninggalkan Mario sendiri yang sejak tadi hanya menatap makanan di depannya tanpa hendak menyentuh ataupun memakannya.

Tes…

Sesuatu menetes kearah meja sebelum pemuda itu juga berlalu meninggalkan makanan yang di belinya tadi tersaji tanpa ada penikmatnya sama sekali.

..

Grey

..

Di center game terlihat enam pemuda dengan ketampanan di atas rata rata itu terlihat tertawa lepas bersama termasuk song dan Mario yang biasanya irit senyum saat ini tertawa lepas di kala memainkan berbagai game yang menyenangkan, sungguh saat ini adalah momen yang menyenangkan bagi pria tampan yang satu ini. ia bisa melupakan masalahnya, serasa beban di bahunya yang selalu ber gelayut saat ini entah pergi kemana_ seolah-olah telah hilang begitu saja.

"hey teman kau terlihat bahagia sekali hari ini?" Tanya kla sembari nyengir kearah Mario

"hahaha_ biasa saja" respon Mario marasa aneh melihat teman-temannya menatap seperti itu

"tetaplah seperti ini sobat_ aku senang melihat kau seperti ini" ujar alan sukses menuai anggukkan setuju dari seluruh temannya " kau seperti Mario yang ku kenal dulu_ Mario saat sekolah menengah" timpalnya merangkul hangat bahu pemuda bersurai hitam itu.

"baiklah" ujar song " bagaimana kalau kita rayakan ke bar milikku uhm?"

"SETUJU!" semua reflek menjerit semangat setuju dengan tawaran song "kita akan minum-minum hingga lupa waktu" sambung kla dengan jeritan semangat dan balasi jeritan lain tak kalah antusias dari kelima pemuda yang mendengarnya ,tak urung membuat beberapa orang yang melihatnya mengelengkan kepala mereka.

.

.

Lihatlah, sudah berapa botol telah ludes hingga tetes terakhir di buat ke enam pemuda itu bahkan jumlahnya cukup mahal untuk di bayar sekalipun untuk orang kaya sendiri. Sesekali salah satu dari ke enam pemuda itu yang tak lain tak bukan adalah kla cegukkan cukup nyaring membuat seluruh teman-temannya tertawa lucu hingga tak tentu arah apa yang harus di tertawakan dari cegukkan sesederhana itu.

"menyenangkan sekali hari ini bukan song? Hik!" Tanya kla

"uhm" guman song seraya menganggukan kepalanya

"bagaimana kalau kita besok berlibur ke puncak hn?" Tanya nick seratus persen mabuk " aku memiliki villa di sana_jadi kita bisa menghabiskan waktu beberapa saat di vila-ku itu" sambungnya dengan sisa sedikit kesadaran yang ia miliki.

"boleh juga" tanggap kla "akan aku siapkan mobilku besok bagaimana?"

"sudah di putuskan brengsek_ kita akan pergi besok" tukas nuth "aku mau tidur dulu..hoam.."

"dasar bajingan kau tidur di pahaku!" jerit song

"hey singkirkan kakimu!"

"kenapa kau menindihku brengsek!"

"kau menyingkirlah dari pundakku gajah!"

Dan banyak lagi jeritan jeritan histeris tak jelas keluar dari mulut kelima pemuda itu saat nuth tidur menindihi mereka, yeah_ kalian tahu bukan? Malam ini tak akan berjalan bagus bagi masing-masing pemuda dalam pengaruh alcohol ini ,apalagi menilik nuth sedang mabuk dan di lain sisi tampak kelima pemuda itu sudah mulai naik pitam dalam keadaan mabuk. Ok_ kita doakan mereka semua masih hidup untuk menjalankan rencana-nya esok hari.

..

Grey

..

Pagi ini sangatlah cerah setelah hujan cukup deras menguyur seluruh permukaan bumi termasuk kota Bangkok ini, lihatlah sang surya dengan gagahnya menyinari kota itu memberikan sinar untuk harapan-harapan baru sekaligus memeluk hangat setiap insan yang ada_bahkan burung-burung berkicau se enak jidatnya ,seolah-olah ia sedang bernyanyi bersenandung menyambut pagi ini membuat suasana sangat terasa semarak dan_

CUKUP!

Di luar sangatlah indah tapi lihatlah ke enam pemuda ini! Mereka masih tetap berpelukan satu sama lain untuk saling menghangatkan tubuh mereka tak perduli apapun yang terjadi di luar sana ,walaupun di luar tsunami mengamuk bisa di pastikan mereka tetap tak perduli_nampaknya bergelung saat ini adalah pilihan terbaik setelah tadi malam pemuda itu bermabuk mabuk ria and great!, sebuah keajaiban terjadi disini_ salah satu dari mereka melepaskan gas yang tak perlu di sebutkan itu adalah gas apa? Pokoknya setelah gas itu muncul jeritan histeris mengaung keseluruh sendi ruangan sontak sukses membuat burung yang sedang berkicau dengan suara cempreng ketakutan mendengarnya dan berterbangan tungang langgang menjauhi area TKP.

"HEY KAU SUDAH GILA!" raung ganas muncul dari seseorang yang tak di duga dan hal itupun terjadi serempak dari bibir pemuda yang selalu irit berbicara tak lain tak bukan ialah Mario Feat song_ tersangka tersinyalir bersalah hanya bisa berpura-pura bodoh dengan keringat dingin menetes dari pelipisnya 'celaka aku' batin histeris kla sedangkan nuth serta alan yang sudah tau reflek menolong kla dengan berpura-pura tidak tahu.

"siapa yang berani membuang gas laknat seperti ini! Mengaku!" ucap song dengan mata memicing tajam menatap seluruh temannya minus Mario.

.

Diam

.

Diam

.

Tak ada yang mengaku ataupun membuka suara memberitahukan siapa yang bersalah dalam kasus di pagi ini, lama terdiam hingga salah satu dari mereka mulai membuka suara mencairkan suasana kaku di ruangan itu.

"sudahlah" nick mengambil alih keadaan "tak perlu berlebihan seperti itu! Toh kau belum matikan karna bau itu song?" timpalnya dengan nada tegas tak luput matanya menatap kla sekilas,tentu saja nick juga jengkel mengingat baunya lebih buruk daripada kaos kakinya_tapi_ kalau di biarkan song mencari tahu lebih lanjut siapa pelakunya, bisa di pastikan kla akan menderita di rumah sakit sebentar lagi.

"benar!benar!" sekarang alan giliran berbicara"sebaiknya kita mandi"

"bukankah hari ini kita akan kepuncak kan?" tambah maksud perintah mandi tadi dari alan

"ya! Benar itu! Lagipula kepalaku masih sakit" sahut nuth mulai ikut berbicara

"ayo kita mandi" ajak nick ke semua temannya mengabaikan kla yang biasanya banyak bicara saat ini hanya terdiam seribu bahasa karna suatu alasan yang kalian tahu itu apa

"apa kau bodoh?" Tanya Mario sarkas " kau tahu bukan kamar mandi hanya ada satu di ruangan ini? Dan kau mengajak kita semua untuk mandi bersamamu?" timpalnya

"hehehe aku lupa" tukas nick cengar-cengir malu ,sedangkan di lain pihak song masih terlihat mengerutu entah apa seakan-akan ia sedang membaca mantra kutukan agar siapa saja yang kentut tadi semoga tumbuh bisul di bokongnya hingga bisa terlihat_sontak bibir tipis pemuda manis itu menyeringai nista sekaligus horror untuk kla yang tak sengaja melihatnya.

..

Grey

..

Akhirnya seluruh barang sudah di packing kedalam tas, pakaian cek!keperluan cek!jaket cek!_ok perfect semuanya sudah selesai. Sibuk bergelut dengan dunia sendiri itulah yang terjadi pada masing-masing pemuda sebut saja mereka Mario,nuth,alan,song dan nick untuk mempersiapkan hal-hal yang harus di bawa dan di tinggal karna tak terlalu penting hingga pukul telah menunjukkan pukul dua belas lebih berhasil membuat kla menguap malas melihat ke lima temannya yang hampir mirip ingin pindahan ketimbang jalan-jalan, 'ya tuhan lihatlah tingkah mereka' batin pemuda berambut spike yang terlihat kesal sekali.

"yah_ semua sudah selesai sekarang waktunya berangkat!" semangat alan di setujui keempat teman berberesnya

"oh_ aku kira kita akan berangkat besok" sindir kla dengan mata menatap kesal "dan hari ini adalah preparation-nya" lanjut pemuda itu

"hahaha_ apa kami terlalu lama?" Tanya cangung nuth melihat kla sudah tampak bosan, tidak! Sangat bosan malahan bahkan ia tak bisa menahan untuk memutar bola matanya jengah sebelum menangapi pertanyaan dari nuth

"tidak terlalu_kau bisa menghitungnya dari jam delapan tadi dan sekarang sudah jam berapa? Mungkin aku bisa mandi,makan,tidur dahulu tadi atau bahkan hibernasi mungkin" ujar kla panjang lebar

"apakah kita akan berkelahi dulu disini baru akan pergi?" Tanya nick santai menatap kearah temannya yang terlihat sedang dongkol itu

"sudahlah_ ayo kita berangkat sekarang" ujar Mario menyeret teman-temannya masuk kedalam mobil ya_ walaupun di dalam mobil di pastikan akan terjadi perang dingin antara pakta kla dan beberapa temanya yang lain, but abaikan mereka yang ada di belakang _karna saat ini dia yang menyupir mobil so ia aman sekarang dari panasnya ruangan di belakang.

..

Grey

..

Entah sudah berapa jam mereka semua di dalam mobil menempuh perjalanan menuju ke puncak, bahkan perang dingin satu jam tadi sudah berlalu seakan-akan tak pernah terjadi, ke enam pemuda itu juga hampir bosan saat ini. Mario yang sejak tadi mengemudikan mobil hampir mati jengkel mendengar intruksi nick sedari tadi mengatakan 'kita hampir sampai' bahkan orang bodoh pun akan tahu bahwa perjalanan masih panjang batin Mario uring-uringan histeris tak mampu diungkapkan. Jam semakin bertambah angkanya melukiskan waktu berputar mengejar asa hingga terlihat matahari sudah hendak kembali ke peraduannya menandakan saat ini sudahlah sangat senja dan barulah_ barulah Mario melambatkan mobilnya setelah pria yang di sebelahnya mengatakan untuk melambatkan kendaraan. Pandang kanan dan kiri sebuah gerbang cantik telah menyapa mata di ujung jalan sontak sukses membuat seluruh penghuni di dalam mobil tersenyum sumringah, dengan cepat Mario membanting setir kearah gerbang itu apalagi nick mengatakan bahwa itu benar vila-nya semakin menambah semangat Mario.

.

.

Memang benar! Setiap usaha yang di lakukan dengan tekun pasti akan berbuah manis, saat ini pemuda dengan surai hitam itu mulai memasuki vila mewah milik nick bersama teman-temannya. Jujur saja biasanya Mario tak akan sekampung ini bila saja perjalanannya tak sejauh tadi sehingga sekarang ia sangat heboh menyongsong nick agar menunjukkan di mana ruangan kamarnya, nick yang kaget dengan tingkah Mario hanya menunjukkan sembarangan kamar pada Mario.

"dia sangat senang sekali" tukas nick gagal paham

"aku senang di mulai seperti dulu_" timbrung alan dengan senyum tipis terpoles apik di wajahnya "setidaknya ia bisa melupakan masalahnya untuk saat ini" tambahnya

"ya untuk saat ini" sendu song "hanya untuk saat ini" ulangnya lagi menegaskan Ke diri sendiri bahwa ini hanya sementara dan akan bisa hilang kapan saja.

"ah sudahlah_" potong nuth kesal dengan tingkah teman-temannya terlalu melankolis "untuk apa kalian bersedih karna hal yang belum terjadi? Seperti bukan kalian saja!"

"uhm_ benar! Ayo sekarang kita berkemas-kemas" ujar pemuda tampan bernama nick sependapat mulai berlalu di iringi kla dibelakangnya "sudah cukup dramanya_" timpal kla dengan mempercepat langkah meninggalkan ketiga teman-temannya.

Setelah berlalu semua pemuda mencari ruang masing-masing, suasana menjadi sepi_mungkin mereka juga akan mengabaikan makan malam dan memilih tidur mengistirahatkan tubuh yang terlalu lelah akibat perjalanan panjang tadi ,menilik sehabis berlalunya tak ada satupun dari pemuda tampan itu hendak keluar ruangan barang duduk-duduk di ruang tamu.

..

Grey

..

'hoam..' sebutir cairan bening menetes dari mata pemuda berambut coklat . ya tuhan ini masih pagi sekali untuk bangun akan tetapi pemuda brengsek bernama nick itu sudah menyeret dirinya dan yang lain agar jogging bersamanya, dia memang benar-benar sinting batin kla meraung histeris menatap tajam punggung belakang nick _andai saja tatapan bisa melubangi tubuhnya maka tatapan kla saat ini sudah menghabisinya sejak tadi.

"hey kau ingin berlari pulang huh?" sindir alan jengkel ke nick, mengingat ia tadi di lempar dari kasur layaknya hama membuat pemuda berambut di cat maroon itu mendengus jengkel.

Berbeda dengan kedua pemuda pemilik darah tinggi itu sunguh sangat berbanding terbalik dengan Mario dan song yang saat ini mengunakan t-shirt hitam terlihat kontras dengan kulit putih, mereka tampak menikmati acara jogging dadakan ini dan ya_ jangan lupakan wajah mereka yang stay calm itu oh mi gad! Mereka bukan manusia! Batin nuth drop setelah melihat kedua temannya itu.

"mungkin dia ingin kita tewas" gerutu pemuda lain tak luput air wajahnya yang masih sangat mengantuk bila di lihat dari sudut manapun tetap saja mengantuk terpeta jelas di wajahnya.

"aku melakukan ini untuk kebaikkan kalian" fine simple sekali jawaban tersangka bagi teman-temannya minus Mario dan song menuai geraman jengkel "jadi berhentilah mengeluh atau tak ada sarapan pagi ini" wow timpal nick yang ini berhasil membungkam mulut ke tiga temannya. Song dan Mario hanya saling menukar senyum sinis mendengar ujar nick dan mulai melajukan larinya menyusul nick di depan, meninggalkan ke tiga pemuda malang yang terlihat suram beraura kelam.

"kau terlalu sadis nick" tukas Mario

"benar! Seharusnya kau tak segitunya dengan mereka" timpal song setuju dengan pendapat Mario sembari menatap raut tegas sahabatnya itu

"biarkan saja" jawab nick "biar mereka sehat"

"aku tak yakin mereka akan berakhir sehat" obrolan di akhiri oleh pendapat song dengan nada skeptic

.

Skip

.

Hebat! Larinya serasa ribuan kilometer dan mereka hanya makan dedaunan, nick memang benar-benar sudah tidak waras! apa ia ingin membuat rumah ini menjadi amityville ?dengan pemuja valak-nya kita semua?! Terkutuklah kau nick! batin kla meracau ngawur tak tentu arah dengan mulut masih penuh sayuran salad. Jujur saja bila saat ini ada yang bertanya apa saja sayuran yang ia makan? maka dengan senang hati kla akan menjawab; rumput jalanan sebelumnyalah yang di ambil nick saat jogging. Satu ruangan beda persepsi bila tadi adalah pendapat kla sekarang yang lain, contohnya Mario terlihat sangat menikmati saladnya, song dengan antusias melahap saladnya, nick melahap dengan tenang, dan nuth beserta alan bercucuran air mata darah untuk menelan sampah nista di piring mereka. Terkutuklah kau nick _kau adalah valak vegetarian! Aku mengutukmu untuk kembali keneraka! kembalilah kau ke alammu!kembalilah! batin tiga serangkai pembenci sayuran itu menyumpah serapah ke seorang yang kau tahu siapa dia.

"setelah ini kita kemana?" Tanya mario tenang setelah makan ,membuka suara

"keneraka!" mulus jawaban dari kla mengalun indah tanpa di saring terlebih dahulu "ah_ maksudnya kemana saja" ralat kla menyadari jawaban ngawurnya, tidak lupa matanya menatap seluruh teman di meja makan dengan cengiran gaje seraya mengaruk surainya yang bisa di pastikan tak gatal sama sekali itu.

"bagaimana kalau ke kebun teh milik pamanku?" tawar nick

"boleh juga" jawab alan "kapan? Aku akan membawa kamera untuk mengabadikan momen kita nanti"

"uhm_ bagaimana mana kalau sekarang saja?" saran nuth "besok sore kita sudah bisa pulang kan?"

"benar_ kita tak bisa lama disini" ujar Mario

"baiklah_ aku akan sediakan sepeda" tukas nick

"kau memiliki sepeda?" reflek kla mendengar ujar nick sukses mendapat anggukan polos 'kenapa harus jogging tadi kalau ada sepeda! Sialan kau nick'

"kenapa?" Tanya nick

"tidak_ bukan apa-apa" jawab kla dengan nada patah-patah berusaha tak peduli "abaikan saja pertanyaanku tadi_"

..

Grey

..

Udara puncak memanglah sangat segar, tanaman yang masih hijau asri membuat ke enam pasang mata milik pemuda tampan itu terasa sejuk. Andai saja tadi tidak jogging melainkan drive bike seperti ini mungkin hari ini akan lebih baik batin kla ceria, banyaknya turunanan beserta tanjakkan sontak membuat para pengendara sepeda itu mengadakan balapan sepeda dadakan. Riuh tawa mewarnai perjalanan akibat song terjatuh dari sepeda, tak luput alan menangkap semua moment tentunya_dari yang lucu, menyebalkan bahkan menakjubkan semua tertangkap melalui bidikan lensa cameranya. Tersenyum tipis adalah hal yang terjadi dikala alan berhasil menangkap sejumlah ekspresi teman temannya_ ia tak menyangka seluruh temannya memiliki kelucuan masing-masing tak terkecuali Mario sekalipun. Sejenak mereka berhenti di pingiran bukit untuk berpotret ria dari angel nature, kekinian,kekonyolan, dan lainnya sebelum mereka melanjutkan perjalanan yang sedikit memakan waktu.

"apa kita hampir sampai?" Tanya nuth

"uhm hampir_kita hampir" ucapan nick mengantung " nah kita sampai di kebun teh pamanku,dan itu rumahnya" lanjutnya sembari menunjuk sebuah rumah indah di apit tanaman teh,sungguh menyejukkan mata batin ke lima teman nick serempak.

"indah sekali" puji alan tak membuang waktu segera memotret alam sekitarnya.

"pasti pamanmu sangat menyukai udara saat pagi hari disini" komentar Mario tenang mengurai sebuah senyum tipis terpana dengan pemandangan yang di suguhkan alam untuknya.

"bukan hanya menyukai_ melainkan sangat menyukai itu"

"benarkah?" Tanya kla tanpa tahu siapa tadi yang berbicara "ah paman! Kau mengagetkan ku" ujar kla saat menyadari di sebelahnya ada seorang pria paruh baya tersenyum lembut kearah mereka semua.

"kau tak mengatakan akan datang kemari nick!" marah paman nick sembari mengelus surai keponakannya meninggalkan kla yang sebelumnya terkaget karena dia.

"ah itu_ maaf paman aku lupa hehe" baru kali ini nick tampak jelek, ternyata nick sangat jelek kalau nyengir kuda seperti itu batin ke lima teman nick drop.

"selamat pagi paman" serempak Mario dengan yang lain mengucapkan salam

"pagi_" jawab halus dari pria paruh baya itu sembari tersenyum.

"kau ini" tukas halus pria bertubuh sedikit gemuk itu kearah nick seraya menjewer pelan telinganya "ayo semuanya masuk kedalam_ akan ku buatkan teh spesial untuk kalian semua" imbuhnya

.

Skip

.

Rumah ini tak terlalu mewah, terkesan sederhana tapi sangat rapi_ semua tertata dan tersusun. Pasti paman nick tak jauh beda dengan dirinya_perfectionist_batin teman-teman nick bersamaan, bahkan sejak tadi tak satupun barang terletak bukan pada tempatnya. Menatap sekeliling hingga tak sadar mereka telah sampai di dekat ruang perjamuan dengan sudut pandang langsung kearah kebun teh sukses membuat seluruh teman-teman nick terperangah dengan pemandangannya.

"bagaimana kalau kita disini minum tehnya" tawar paman nick yang hanya di balasi anggukan dungu dari kelima pemuda itu minus nick "ini adalah tempat favorit-ku untuk minum teh" tambah paman nick kearah pemuda yang sedang mengambang membuat sedikit banyak paman nick tersenyum tipis

"sering-seringlah kau mengajak mereka kemari nick" bisik halus sang paman pada keponakannya

"iya paman_ ini pertama kalinya mereka liburan ke daerah seperti ini"

"pantas saja" tukas halus sang paman "kau ajak saja mereka melihat-lihat, nanti paman panggil kalau tehnya sudah siap"

"baiklah" angguk nick patuh

"anak-anak?" tegur paman nick memecahkan lamunan ke lima pemuda tampan itu

"ah iya paman?!" sontak kelima pemuda itu menjawab bersamaan. kaget

"kalian nikmatilah pemandangannya_aku akan membuat teh" ujarnya halus dan mulai berdiri berlalu pergi menjauh meninggalkan ke enam pemuda itu di ruang perjamuan.

"menakjubkan nick! Kita harus sering-sering kesini_ paru-paruku terasa sejuk disini" ujar kla dengan ekspresi hiperbola menuai cibiran pedas dari sahabat-sahabatnya bergenre haters

"tapi sayang besok kita sudah harus kembali" ujar alan halus

"kalau begitu kita tambah saja hari liburnya" tukas song santai "itu saja repot"

"iya_ dan shop-ku akan terbakar hangus di buat karyawanku yang terlalu kreatif" sinis nuth "saatku ada saja mereka hendak membakar dapur"

"oh ayolah_ sehari lagi tak akan menghanguskan seluruh shop -mu bukan?" bujuk song dengan biadapnya "mungkin sebagian kalau kau beruntung"

"mendengar ucapanmu song mungkin aku akan mempertimbangkan untuk meracunmu nanti" celutuk kla jengkel dengan perkataan song "kau tahu kan kalau shop -nya terbakar maka aku juga dalam bahaya" tambahnya

"ahahaha aku lupa" dusta song terlihat sama sekali tak merasa bersalah

"aku bangga dengan daya imajinasi kalian bertiga" ujar Mario dengan nada skeptic "bahkan kalian bisa mengkhayalkan hal yang belum terjadi_ perlukah kalian ku daftarkan di lomba menulis? Mungkin salah satu dari kalian akan menjuarainya" lanjutnya lagi

"kita disini bukan untuk berimajinasi tetapi menikmati liburan ok?" tegas Mario lagi

"benar_ dan ayo kita abadikan moment disini" tukas nick membuka suara "akan kutunjukkan tempat-tempat cantik disini" lanjutnya mengambil alih suasana

..

Grey

..

Hari sudah sangat senja setelah mereka memutuskan membantu paman nick bersih-bersih sehabis minum teh, tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Hah_ waktu memang berlalu dengan cepat saat kita menikmati setiap hal kecil yang terjadi, tertawa riang di saat tabir senja menyapa di kaki langit tidaklah buruk batin ke enam pemuda itu. Semua terasa ringan, bahkan paman nick adalah orang asik untuk di ajak bersenda gurau_ tak di sangka bukan? paman nick ialah seorang pria yang sangat humoris sungguh di luar dugaan.

"nanti malam datanglah kesini" ujar paman nick yang sebelumnya mengatakan namanya adalah joan "aku akan menyuruh pelayanku memasak banyak untuk kalian" tambahnya

"benarkah paman?!" tanya kla semangat mendapat anggukan halus dari pria di hadapannya "tapi semuanya bukan sayuran kan?" bisik halusnya menuai pijakkan sadis dari nick sukses membuat pemuda itu meraung sakit.

"hahaha tentu saja tidak" jawab sang paman sembari tertawa "aku juga tidak terlalu suka dedaunan seperti itu"

"kau yang terbaik paman!" jerit bahagia dari alan dan nuth meninggalkan kla di pojokan meratapi jari-jari kakinya yang di injak tanpa berperi kekakian, sedangkan sang pelaku terlihat sama sekali tak perduli

.

Grey

.

"aku sangat merindukan tempat ini nick" ujar pemuda tampan menatap sendu kearah kebun teh tertutup gelapnya malam

"kau saja yang jarang kemari Mario" tanggap nick santai sembari menaruh secangkir teh di meja

"mungkin kau benar" tukas pemuda bernama Mario itu "terakhir kali kita sangat bersenang-senang disini" timpalnya lagi

"dan aku masih ingat kau sangat bahagia saat itu"

"sekarangpun aku bahagia"

"mungkin sedang berusaha bahagia maksudnya"

.

hening

.

Hanya keheningan yang berlalu setelah ucapan nick, semuanya terdiam seakan enggan untuk berkata. Mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing, tanpa ada kata tapi kalau boleh jujur mereka berusaha saling memahami dan saling mengerti perasaan satu sama lain walaupun tak saling mengatakan isi perasaan mereka_mengingat persahabatan mereka taklah muda layaknya seumur jagung. Mereka berdua adalah sahabat sejak kecil dan perlu di garis bawahi itu sudahlah cukup untuk tahu seperti apa perasaan mereka maupun sifat masing-masing.

"sebaiknya kau tak terlalu memaksakan dirimu" ujar halus nick membuka suara

"kenapa semuanya terasa rumit nick?" Tanya ambigu Mario dengan sebutir cairan mulai mengalir dari matanya mengabaikan ucapan nick sebelumnya"semuanya menjadi berantakkan?! Semuanya_ semuanya rusak! Dan aku tak tahu bagaimana mengembalikan ketempatnya semula!" sambungnya dengan air wajah sangatlah tertekan saat ini ,apalagi di tambah wajahnya semakin kusut dengan air matanya yang mulai menetes. Cukup saat ini Mario sudah tak bisa menutupinya lagi. Saat ini Mario ingin jujur dengan dirinya sendiri_ ia ingin jujur bahwa ia sangat rapuh, bahkan ia tak yakin mampu menopang hidupnya lagi dengan penuh keyakinan sekarang "dan disini terasa sesak nick!sangat sesak!"tambahnya menunjukkan kearah dadanya hingga ia terduduk bersandar di dinding sembari menanggis sesunggukan.

"tenangkan dirimu mario_ masa lalu tak akan bisa kau ubah sedikitpun, akan tetapi kau masih bisa membuat perubahan di masa depan, tetaplah menatap kedepan" jelas nick tenang seraya membungkuk mengelus bahu Mario "berhentilah untuk memandang kebelakang, aku paham perasaanmu! aku sangat paham"

"tapi aku..aku"

"berhentilah sibuk memungut kenangan yang sudah berserakan Mario!" bentak nick "kau takkan sadar bahwa kau akan kehilangan sesuatu yang ada di genggaman mu sekarang" lanjut nick sukses membuat Mario menghentikan tanggisannya sembari mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk terisak tanggis

"kau dan aku takkan tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang bahkan kita takkan tahu apa yang akan terjadi sejam,semenit ,atau sedetik yang akan datang, tapi kau dan aku tahu pasti bahwa kita masih saling memiliki sebagai sahabat dan kau masih memiliki kla,song,nuth,alan_kita semua akan berdiri saling membahu untuk bersama-sama menatap masa depan"ucap nick tegas " dan akan selalu seperti itu" tekannya lagi_dan hanya anggukan di berikan Mario menjawab ucapan nick yang terus terang saja sangat panjang untuk malam ini.

"hapus air matamu itu_kau terlihat jelek saat menanggis" ejek nick seraya tersenyum lembut kearah sang sahabat dan mulai merangkulnya

..

Grey

..

Hah_ cuaca yang panas, lihatlah ketiak baju milik kla sudahlah sangat kebanjiran saat ini dan sekarang ia dengan bangganya menggoda beberapa gadis yang di temui_ sudah pasti gadis-gadis abg itu lari terbirit-birit mencium bau neraka milik kla, sedangkan disudut pandang lain terlihat Mario dan yang lainnya hanya berduduk bermalas-malasan di bangku taman. Tiga puluh menit serasa tiga puluh jam_mungkin karena factor panas ,tapi hal itu berbeda dengan pemuda bersurai hitam di kucir tak lain nuth yang saat ini ia sedang cengar-cengir antusias melihat kelakuan sang sahabat sangatlah terlihat bodoh, bahkan jujur saja tak perlu mencari seorang juara umum ataupun ilmuwan untuk mengatakan temannya yang satu itu adalah seorang yang kelewat dungu,tapi mau gimana lagi? kalau tidak begitu bukan kla namanya?.

"hah_ panas sekali hari ini! Terkutuklah kau hujan!" ujar alan

"hey bodoh kau memiliki masalah dengan panas tapi mengutuk hujan? Kurasa radiasi panas memengaruhi otakmu yang minim itu" ucap nuth setajam silet menanggapi ucapan alan

"great_sebentar lagi dua orang tak memiliki akal akan segera berkelahi secara live" sinis song dengan nada berpura-pura antusias

"apa kau bilang?!" sergah alan "tak memiliki akal?!" timpal nuth

"apa sekarang peserta perkelahian akan menjadi tiga?" Tanya nick setelah menghadiahi jitakkan kejam ke kepala ketiga pemuda yang di sinyalir akan segera mengadakan tawuran se team.

"aku pergi dulu" ujar Mario sembari tersenyum tipis kearah ketiga temannya yang sedang menderita lahir dan batin itu mulai menegakkan tubuhnya hendak berlalu sebelum di hentikan

"kemana?" Tanya kla tiba-tiba saja sudah nimbrung dengan wajah terlihat tampan dengan tato bergambar lima jari di pipinya

"kk…kau kenapa itu?" Tanya balik Mario mengabaikan pertanyaan yang diarahkan tadi kearahnya dan memegangi pipinya seakan memberi isyarat dipipi temannya itu kenapa?

"oh ini_ itu_itu tadi" bingung kla untuk menjawab tanda yang tiba-tiba saja ia dapat hingga terbata-bata seperti ini

"dasar bajingan?! Awas saja kau! Baru Kenal sudah berani pegang-pegang!" sela tiba-tiba dari gadis yang datang dari antah berantah membawa sisa kembalian untuk kla yang tak lain tak bukan gamparan maut di pipi sebelahnya lagi

"aku paham sekarang dari mana tanda itu, kau tak perlu menjelaskannya" tukas nick dengan air wajah miris melihat nasib wajah kla

"ah_sudah-sudah aku mau pergi dulu" pamit Mario lagi

"mau kemana?" sekarang song yang berkata di balasi anggukkan alan beserta nuth, mengulangi pertanyaan pemuda yang sedang meratapi wajah tampannya

"ke suatu tempat_" jawab ambigu Mario "pergi dulu" tambahnya lagi sembari berlari berlalu pergi

"dasar bajingan tengik itu" tukas nick

..

Grey

..

Jalan dan jalan saat ini pemuda tampan bertahtakan permata onyx di matanya terlihat sangat antusias di setiap langkah yang ia tapaki ,sesekali ia tersenyum tipis mengabaikan cuaca panas yang terik membakar kulit porselennya. Lama melangkah akhirnya ia telah sampai tujuannya, sebuah café mini telah terpampang di hadapannya. Cukup lama ia berdiri memandangi café tersebut itu hingga ia memutuskan untuk masuk kedalam ruangan itu.

"mau pesan apa tuan?" Tanya seorang pelayan wanita itu ramah kearah Mario

"uhm…" gumam Mario seraya mendonggak kearah dalam café seakan-akan bukan palayan ini yang di harapkan dan mengabaikannya

"maaf_ anda sedang mencari seseorang tuan?" Tanya sang pelayan lagi "atau sudah membuat janji dengan seseorang?"

"uhm_" tetap_ ia masih tetap focus dengan acara cari mencarinya, mengabaikan wanita di hadapannya yang sudah berkedut jengkel sejak tadi menjadi pihak yang diabaikan_untung saja bukan pihak yang mencintai bisa hancur hidupnya kalo sempat kejadian.

"tuan anda sedang mencari seseorang?" Tanya lagi si pelayan wanita dengan setiap kalimat penuh penekanan

"ah_ iya..iya maafkan saya" kaget Mario saat menyadari ucapan pelayan yang saat ini sudah terlihat sangat mengerikan dengan senyuman sadisnya, andai saja sebuah senyuman mampu mencincang seseorang mungkin saja saat ini ia pasti jadi korban mutilasi who knows? Some one else can take step crime when he got time doing that right?

"uhm.. aku pesan orange juice saja"

"baiklah, ada lagi tuan?" Tanya gadis pelayan itu setelah mencatat pesanan sebelumnya

"uhm…tidak ada" jawab Mario tak focus kearah pelayan masih terfokus kearah dalam

"apa yang anda cari sejak tadi tuan?anda mencari toilet tuan?atau yang lain?" tanya gadis bersurai ikal seraya mengikuti arah pandangan pria di hadapannya , jujur saja pria tampan di hadapan dia saat ini aneh_sangat aneh malahan, untung saja dia tampan! Kalau tidak mungkin sejak tadi ia akan menendang pria ini jauh-jauh, lupakan etika pelangan adalah raja lupakan itu semua karena penjual adalah dewa.

"ah_ iya toilet! Benar!"ujar Mario dengan gesture wajah mendadak kebelet ,dari mana saja kita melihat tampak sekali actingnya "Toiletnya dimana?" lanjutnya lagi

"ternyata anda mencari toilet sejak tadi ya" ujar ramah pelayan wanita itu setelah tau alasan pria tampan ini sejak tadi dongak-dongak seperti jerapah_mau ketoilet toh! Ngapa gak ngomong dari tadi? Kan enak njawabnya dasar cowok ganteng-ganteng pemalu rupanya jadi bikin gemes batin pelayan wanita itu mulai ngelantur absurd

"nona? Nona?dimana toiletnya?" Tanya Mario seraya melambaikan tangan kearah wajah wanita yang lumayan cantik itu sontak saja membuatnya kaget

"ah! Itu!_ Anda lurus saja lalu belok ,disana ada toilet" ujarnya tetap masih diambang khayalan dengan menanamkan niat suci untuk mengintip pria itu saat di toilet. Doakan saja niat sucinya semoga saja tak terlaksana.

Taklama Mario pun selesai dari toilet dengan harapan saat berjalan tadi dapat bertemu dengan dia tapi, bukanlah dia melainkan pelayan cabul itu yang muncul_ bagaimana ia tidak mengatakan cabul kalau wanita itu mengendap-endap masuk kebilik toilet pria hendak mengintip, untung saja nasib sial menimpanya membuat dia jatuh terjerembab kelantai. Abaikan nasib pelayan wanita itu, sesegera mungkin Mario kembali kemejanya lagi.

.

.

Jujur saja menunggu adalah suatu hal yang sangat menjengkelkan, ini sudah setengah jam ia minum dan minum bahkan ini sudah gelas kelima tapi ia sama sekali belum melihat batang hidung seseorang yang ia cari, terkutuklah nasib sial pelayan itu yang tertular kepadanya_ya tuhan kenapa ini terjadi padaku batin Mario histeris tak jelas. Waktu semakin bertambah dan ini sudah bertambah lima belas menit lagi dan masih tetap juga ia belum melihatnya hingga berinisiatif bertanya kepada salah satu pelayan yang tak lain tak bukan pelayannya dia lagi

"maaf? Apa gadis bernama riana tidak bekerja hari ini?" Tanya Mario halus kearah pelayan wanita itu berpura-pura tak terjadi apapun tadi di toilet

"ah_riana hari ini izin" jawab wanita itu "dia sedang sakit_demam ya demam" jelasnya lagi

"apa sudahlah lama ia sakit?" Tanya-nya lagi

"baru hari ini" jawab gadis pelayan itu "kenapa tuan?kau ada perlu dengannya?" Tanya balik dari gadis itu

"ah_ aku ada janji dengannya" jelas Mario tenang berusaha menyembunyikan nada khawatirnya

"aku tahu alamat rumahnya kalau kau memiliki janji yang sangat penting" tawar gadis itu halus

"benarkah? Kau tau alamatnya?"

"tentu saja" jawab gadis itu lagi "rumahku bersebelahan dengannya"

"ah terimakasih_e.."

"rita_ panggil saja rita" kenal gadis pelayan itu yang ternyata bernama rita

"namaku Mario" balas kenal Mario "terima kasih rita"

..

Grey

..

Tadi cerah dan sekarang mendung? Membingungkan sekali cuaca hari ini? bahkan di luar perkiraan pemuda tampan yang sedang mempercepat langkahnya itu, dimana matahari yang terik menyengat sebelumnya. lupakan _saat ini prioritas utamanya adalah rumah wanita itu! membuat pemuda bernama Mario ini semakin memacu langkahnya menapaki trotoar jalan raya, bagaimana keadaannya?apa yang dia lakukan? Sudah makan atau belum? Adalah pertanyaan yang sedang bermain di kepala pemuda itu sejak tadi. Tapi tampaknya cuaca sangat tak bersahabat terhadap Mario dengan jatuhnya butiran air dari langit menandakan hujan telah turun, sesegera mungkin pria bertubuh tegap itu berlari kesisi trotoar jalan di mana terdapat bangunan-bangunan kokoh toko di pingir jalan untuk berteduh. Hah_ desah lelah Mario saat niatnya terhalang cuaca yang sedang buruk seraya mulai menatap langit yang kian kelam menurunkan hujan semakin deras, semua berjalan apa adanya hingga seorang gadis yang tak di sangka sedang berlari dikejar hujan dan mengambil tempat berteduh di sebelahnya.

"hah_nasibku sial hari ini" gerutu Mario mendengus jengkel mulai mengedarkan arah pandangannya meninggalkan hujan yang ia pandang sebelumnya untuk menatap sekitar

"tidak ada yang namanya sial tuan" ucap gadis yang baru saja berdiri di sebelahnya seraya berusaha menyeka air hujan di bajunya tanpa berniat menatap kearah ke pemuda itu, dia tampak sibuk sekali dengan dirinya sendiri

"apa maksudmu?" Tanya Mario datar dengan arah pandang mulai focus kearah gadis yang entah seperti apa wajahnya, sedangkan objek pandangan sendiri masih terlihat tetap sibuk dengan dunianya yaitu acara elap mengelap pakaian basahnya, yang bagi siapapun melihatnya merasa hai itu sia-sia

"hah_ bahkan kau sudah melupakanku tuan pemarah?! Dan berhentilah memandangku seperti pria mesum seperti itu!" sindir gadis cantik itu mulai memandang teman bicaranya di sebelah sontak di balasi kernyitan bingung "kau memiliki masalah ingatan tuan Mario? Ingatanmu sangat buruk sekali" cibirnya

"oh_ternyata kau" jawab Mario pura-pura tak perduli setelah menyadari siapa yang berbicara "tadi aku hanya berpura-pura saja" kilahnya menyembunyikan rasa malu

"benarkah? Tak ku sangka kau itu selain pemarah ,pengerutu kau juga seorang pembohong rupanya" ejek gadis sebut saja namanya riana sembari menghitung kelakuan buruk Mario dengan jarinya, tidak lupa menyipitkan matanya menatap pemuda tepat di sebelahnya setelah berhenti menghitung.

"siapa yang kau sebut seperti itu heh? Aku hanya_hanya" baik, Mario bingung ingin berkata apa untuk membela diri _dia buntu sekarang

"hanya sedikit lupa" ujar riana "biar aku bantu membuat alasan untukmu" tambahnya

"abaikan. Apa yang kau lakukan disini?"

"ah itu_aku tadi habis pergi ke mini market untuk berbelanja dan yeah kau tau selanjutnya kan?" jawab riana sembari menunjuk dua pelastik besar penuh belanjaan di kedua tangannya

"yah_kau dirampok lalu di gebuki hingga tewas" tukas Mario ngelantur "mana ku tahu selanjutnya kisahmu! Kau kira aku apa? peramal?" tambah Mario sarkas

"dasar pria dungu_tentu saja tertimpa hujan seperti yang kau lihat saat ini" erangnya jengkel terlihat sekali dari raut wajahnya tertekuk masam "dan apa yang kau lakukan disini?" Tanya balik riana

"aku tadi ingin berkunjung kerumah temanku, tapi sebelum hujan pembawa sial ini menganggu rencanaku" jelasnya, jujur bukan? ia memang ingin kerumah temannya bukan? So ia tidak bohong

"kau tak seharusnya mengatakan hujan itu pembawa sial tuan pemarah" tukas riana santai, setelah berhasil mengontrol emosinya seraya mengalihkan pandangannya melihat kearah hujan yang sedang turun dengan deras "itu semua takdir dari tuhan kau tahu? Kalau hujan saat ini tak turun mungkin kita takkan bertemu sekarang bukan? Dan bila hujan hanya berlalu tidak sederas ini kau dan aku hanya berpapasan tapi takkan saling berbicara seperti ini? Jadi syukuri semua yang terjadi jangan terlalu sering mengeluh" lanjut riana

"tapi tetap saja hujan ini mengangguku" ujar Mario keukeh dengan pendapatnya

"sudahlah_bagaimana kalau kita minum coklat hangat disana? Aku berhutang traktiran denganmu bukan?" tawar riana ramah

"tentu"

..

Grey

..

Mario bersama riana mengambil tempat duduk tepat di dekat pintu café setelah memesan coffe latte dan coklat panas, sesekali Mario mencuri pandang kearah riana yang sedang sibuk hendak memesan makanan ringan apa yang enak hingga memutuskan memesan cake chocolate.

"bagaimana keadaanmu?" Tanya Mario membuka suara setelah gadis hyperactive itu mulai duduk di depannya

"aku baik" jawab riana santai "bagaimana dengan keadaanmu?"

"seperti yang kau lihat? Aku baik_sangat baik" terang Mario dengan merentangkan tangannya memamerkan tubuh proposionalnya yang terlihat segar bugar "-tapi kata temanmu kau sedang sakit?"

"ah_itu hanya sedikit tak enak badan saja tapi sekarang sudah baikkan kok" jawab gadis dengan surai di kucir itu "apa kau tadi ke café huh? Bagaimana kau tahu kalau aku sakit?"

"ya begitulah"

"sudah di pastikan kau pasti menguntitku dan mencari tahu tentang ku bukan?aku tahu itu?" tuduh riana dengan nada serius kearah Mario hampir membuat pemuda di depannya tersedak dengan ludahnya sendiri, karena wanita cantik tapi gila didepannya tanpa tendeng aling-aling menuduhnya penguntit! Mimpi apa dia semalam? Mungkin jadi dektektif, soalnya mereka sama bukan? Sama-sama penguntit.

"sudahlah_kau tidak perlu sekaget itu kan? santai saja, aku tau kok gadis secantik diriku memang sulit untuk di abaikan" tukas sombong gadis cantik itu dengan raut jumawanya

"dalam mimpimu itu tetap takkan terjadi" sinis Mario jengkel "bahkan aku akan berpikir seribu kali untuk mendekati gadis jelek sepertimu" tambahnya lagi tidak lupa memoles seringai mengejek di gurat wajahnya

"hey kau kodok buruk rupa" dan yeah riana sudah terbawa suasana " bahkan kalau kau datang dengan seribu bonus untukku_aku juga akan tetap memilih untuk menjadi jomblo seumur hidupku"

"semoga do'a-mu segera terkabul" tanggap Mario lugas dan pasti sontak menuai plototan jengkel riana

"hey kau!"

Banyak yang mereka obrolkan berdua di dalam café selama hujan turun _, sesekali Mario tersenyum tipis milihat riana tertawa lepas di depannya_ ternyata riana sangatlah cantik bila tertawa seperti itu batin pemuda itu. Lama obrolan mereka berjalan hingga tak terasa bahwa hujan diluar telah lama berhenti_

"hah_ hujan di luar sudah berhenti rupanya" ujar riana senang "kalau begitu, aku pergi sekarang tuan pemarah"

"panggil saja Mario" ujar Mario "dan berhenti memanggilku tuan pemarah" timpalnya ketus

"dan lagi… thanks minumannya"

"hahaha bukan masalah" jawab riana ringan sembari mengibas-ngibaskan tangannya mengisyaratkan agar tidak usah sungkan "tuan_ah maksudku Mario" tambahnya lagi seraya tersenyum lebar

"selamat tinggal" ucap Mario hendak berlalu sebelum

"tidak ada yang Namanya selamat tinggal" ucap riana memegang ujung lengan baju Mario "te_terasa menyakitkan mendengar kalimat itu, seolah kita tidak akan bertemu lagi" jelas gadis itu sembari tersenyum

"sampai jumpa lagi"

"ah_iya sampai jumpa lagi" balas lambat Mario terkesan kaku dan mereka pun berpisah jalan saat itu mengakhiri pertemuan.

.

Grey

.

Hujan cukup deras menguyur jalanan kota_ lalu Lalang orang berlari menghindari hujan mengundang antensi pemuda di dalam café itu untuk menatap keluar dinding kaca, menyaksikan ribuan tetesan air dari langit itu seakan sedang menangis. Sangat jauh sekali arah pandangan pemuda berambut hitam ini seakan mengenang sesuatu hingga suara seseorang menyadarkan dari lamunannya.

"kak? kau terlihat sangat menikmati hujan? apa kau menyukai cuaca seperti ini?" Tanya anak kecil itu menatap pemuda tinggi di sampingnya yang sedang menatap hujan turun

"begitulah adik kecil_seperti yang kau lihat aku sangat menyukainya" jawab pemuda itu seraya menoleh memberi senyuman kearah anak lelaki kecil di sebelahnya

"kenapa? Kau memiliki kenangan indah dengan tuan hujan?" Tanya-nya lagi dari anak lelaki yang ternyata memiliki rasa penasaran cukup besar, tak urung menuai senyuman dari pria itu

"aku memiliki banyak kenangan dengan tuan hujan ini_sangat banyak ,dan aku yakin kelak kau akan memiliki juga kenangan dengan suatu hal yang tak pernah kau duga sebelumnya" jawab pamuda itu lagi seraya mengacak acak surai anak lelaki didekatnya yang menatap bingung dengan maksud perkataannya "karena kau masih kecil tentu saja dirimu belum mengerti hal itu"

"aku harap aku bisa memilikinya sama sepertimu kak" ujar anak lelaki itu sumringah "pasti akan menakjubkan sekali _dan jangan panggil aku anak kecil! Beberapa hari lagi usiaku akan masuk lima tahun" timpalnya dengan nada bangga

"semoga saja jagoan" ucap pemuda itu tersenyum lembut "cepatlah besar dan tulis kisah hidupmu_kejar apa yang kau inginkan jangan biarkan lepas" tambahnya lagi

"ok!" sebuah nice guy teracung kearah pemuda bertubuh tegap itu "akan kutulis kisahku _aku berjanji denganmu kak"

"hay nak? kau tampak akrab sekali dengan teman barumu?" Tanya wanita angun yang bisa di pastikan adalah ibu dari anak lekaki pintar itu "dia tidak merepotkanmu kan tuan?" Tanya wanita itu ramah kearah pemuda yang sejak tadi terlihat berbincang dengan putranya

"tidak sama sekali_bahkan anak anda adalah anak yang sangat cerdas,anda pasti membesarkannya dengan sangat baik" jawab pemuda itu ramah sekaligus memuji wanita di depannya

"baiklah kalau kau tidak nakal_ sekarang ayo ucapkan selamat tinggal dengan teman barumu" perintah sang ibu kepada sang putranya

"ibu_kau selalu mengatakan tak baik mengatakan selamat tinggal bukan?" tukas sang anak mendengar ucapan sang ibu "sampai jumpa lagi kakak_aku harap kita bertemu lagi"

Degh

"ayo bu_ kita pergi"

..

Grey

..

Sore ini keenam pemuda memiliki paras wajah diatas rata-rata ini sedang berkumpul di apartemen mewah milik Mario, terlihat banyak bungkus makanan ringan berserakan di lantai. Sesekali mereka bercanda dengan saling melempari satu sama lain dengan keripik yang ada, Mario yang melihat adegan itu hanya bisa mendengus kesal karena apartemen bersihnya hampir berubah menjadi kandang kambing_bahkan nick yang biasanya rajin, lihatlah sekarang dia tak lebih baik dari alan ataupun nuth. Pandang kekanan dan kekiri mungkin besok ia akan memanggil tukang bersih-bersih untuk membereskan kekacauan ini, hah_dari pada setress di buat teman-temannya lebih baik ia mencari udara segar di balkon ,mungkin saja ia mendapat ketenangan di sana.

"bagaimana kalau nanti malam kita jalan-jalan?" ajak nuth masih tetap bergelung manja di sofa mewah apartemen Mario

"jalan? Kemana?" Tanya alan bingung ingin jalan kemana

"kemana saja gitu? Yang penting kita bersenang-senang" jelas nuth ke seluruh teman-temannya

"aku tak ikut" jawab cepat song menuai tanda tanya teman-temannya "aku ada kelas tambahan nanti malam"

"oh ayolah kelas tambahan di malam minggu? Apa dosenmu tak waras huh?" erang kla membuka suara dengan nada mencibir kearah song "atau kau punya janji dengan s eseorang? Kekasihmu misalnya?" timpalnya dengan nada curiga

"terserah kau saja" jawab song memutar bola matanya malas "yang jelas aku tak ikut malam ini"

"ada lagi yang tak bisa pergi disini selain song?" Tanya nick menatap wajah masing-masing sahabatnya di ruangan

"aku juga tak bisa" kini sang tuan rumah yang berbicara kembali mengundang tanda tanya seluruh tamu

"aku ada janji dengan seseorang sebelumnya" terangnya

"baiklah aku rasa hanya kita berempat yang akan pergi bersama" putus nick dengan tenang "tampaknya dua sahabat kita ada urusan di dunia nya masing-masing" lanjutnya sembari menatap wajah song dan Mario bergantian dengan raut kecewa membuat kedua orang yang di tatap menjadi merasa tak enak hati.

"tak masalah" ucap nick lagi "kami akan bersenang-senang tanpa kalian dan aku harap kalian juga akan bersenag-senang tanpa kami"

"nick" panggil Mario

"ayolah mengerti nick" sekarang song yang berucap

"dan ayolah aku hanya bercanda" ujar nick membuat seisi ruangan meledak tawa melihat ekspresi menyesal milik Mario dan song yang sangat konyol dengan air wajah seperti itu, setelah perbincangan itu mereka semua kembali bercanda dan berbincang ringan tentang apapun mulai sport, gadis bahkan ibuk-ibuk yang sering belanja di sebelah menjadi bahan obrolan sebagai ejekkan untuk kla yang selalu menjadi korbannya. Semua berlalu dengan cepat, senda gurau telah berakhir dengan pamitnya teman-teman Mario satu persatu untuk pulang kerumah hendak bersiap-siap untuk nanti malam dan itu juga berlaku untuk Mario karna dia sudah memiliki janji dengan seseorang yang bisa di katakan special_yaitu teman barunya.

..

Grey

..

Ini malam yang sangat berbeda bagi pemuda tampan dengan permata onyx tersemat apik di matanya, malam ini ia akan bertemu dengan gadis yang baru saja menjadi teman atau bisa di sebut calon pasangannya. Semua sudah di persiapkan oleh Mario bahkan pakaiannya ia sudah memilih yang terbaik, sesekali ia mamatut diri di depan cermin melihat pantulan dirinya adakah sesuatu yang kurang dari penampilannya ataupun yang aneh. Berputar untuk melihat bagian belakang, lihat kekiri dan kekanan membuat Mario yakin bahwa penampilannya sudah sangat perfect untuk saat ini, setelah menentukan semuanya sudah terlihat sempurna segera saja pemuda tampan ini mengambil kunci mobil yang telah terletak apik di meja kamarnya. Tak butuh waktu lama untuk menempuh tempat yang telah di janjikannya bersama gadis itu, hanya membutuhkan waktu beberapa menit ia telah sampai di taman dekat kota_ bahkan dunia terlihat sedang mendukungnya dengan langsung menunjukkan gadis yang ingin di temuinya malam ini sedang duduk kursi taman

"hay kau sudah lama menunggu hm?" sapa Mario ramah setelah memarkirkan mobil sebelumnya, dan berjalan kearah gadis itu seraya tersenyum

"tidak juga_aku baru sampai dan kau tiba selanjutnya" jawab gadis itu

"baiklah…uhm… ayo kita jalan_" tawar Mario mengulurkan tangannya

"Erika_"

"kau selalu manis seperti biasanya"tukas gadis cantik bersurai hitam tergerai apik itu, sembari mengumbar senyum manis ia miliki kearah pemuda tampan yang sedang memegang tangannya saat ini.

Tampaknya malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Mario, apalagi saat ini ia sedang bersama gadis yang sangat di sukainya dan semua ini takkan terjadi bila tanpa bantuan sahabat barunya itu. Untung saja riana mau membantu saat ia mendatangi café sebelumnya dan berkata bahwa ucapan riana benar kalau hujan memang membawa berkah baginya, karena hujan selanjutnya mempertemukan dia dengan gadis idaman hati seperti Erika. Riana yang mendengar hal itu tentu saja mengucapkan selamat kepadanya dan bersedia ia mintai tolong agar membantu mengajarinya cara-cara mendekati Erika dan yeah saat ini ia telah berhasil memenangkan hati sang pujaan, mungkin nanti Mario akan mentraktir gadis hyperactive itu_ tapi yang jelas saat ini ia akan menikmati setiap detik berlalu bersama Erika. Pertama Mario ingin mengajak Erika makan di restoran favorit-nya dan menyatakan perasaannya di sana, setelah itu ia akan memberikan kejutan selanjutnya kepada Erika_ membayangkan semua rencananya saja hampir membuat Mario gila saking bahagianya apa lagi bila semua berjalan mulus_bukankah hal itu semua menakjubkan bukan?

"kita mau kemana sekarang?" Tanya gadis itu setelah melewati dinner romantic bersama mario_apalagi tadi pria itu membuatnya terharu dengan menyatakan perasaan di depan semua orang

"rahasia" jawab Mario dengan nada mencurigakan tersampul apik oleh senyum lembut, membuat gadis lulusan fakultas sastra itu tak mampu menolak pesonanya

"awas saja kalau kau macam-macam" ancam Erika dengan wajah di buat serius tak urung membuat Mario tak bisa menahan senyumnya lagi seraya mengacak surai kekasih barunya ini

"aku janji takkan macam-macam denganmu" tukas Mario tidak lupa menunjukkan jari kelingking tanda ia berjanji membuat gadis di sebelahnya tak dapat menahan untuk tidak tertawa geli melihat ulahnya.

Tak banyak yang mereka bincangkan selama perjalanan hanya sesekali saling tatap menatap dan menukar senyum lembut hingga mereka berdua sampai di tempat yang telah di rencanakan oleh Mario bersama Riana untuk membuat kejutan susulan untuk Erika. Baru saja mereka berdua turun dari mobil tiba-tiba saja seluruh pohon di taman menyala dengan lampu berkerlap kerlip indah memanjakan mata membuat Erika yang terkejut semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Mario, mulai berjalan lagi kearah pelataran taman tiba-tiba saja di tengah tengah taman telah ada banyak mawar yang bertabur berbentuk hati di hiasi puluhan lilin di sekitarnya semakin membuat Erika terperangah akan kejutan yang terjadi dan bisa di pastikan bahwa ini semua benar-benar untuknya. Belum selesai dari itu, riana muncul membawa sebuket mawar merah dengan menggenakan pakaian ala maid dan memberikannya kepada Erika dan mengatakan 'kau sangat beruntung teman' semakin membuat Erika terharu apalagi setelah mengetahui bahwa riana adalah sahabat Mario yang turut ikut ambil andil dalam kejutan ini.

"bagaimana? Kau suka?" Tanya Mario seraya memegang tangan sang kekasih dengan lembut

"tentu saja! Aku sangat menyukainya" jawab Erika tersenyum sumringah di perlakukan layaknya seorang putri malam ini, bahkan saat ini ia sudah hampir menanggis

"aku senang kalau kau menyukainya" ujar Mario menatap intens kepada Erika

Semua berjalan sesuai sekali dengan planning riana bahkan tak ada satupun yang meleset dari rencananya, riana memang hebat batin Mario. Sejak sekarang dan mulai detik ini ia percaya bahwa hujan memang membawa berkah, ia sangat percaya sekarang karna ia bisa di pertemukan dengan sahabat yang luar biasa seperti riana dan pujaan hati secantik Erika ia serasa seperti pria paling beruntung saat ini.

..

Grey

..

Hari-hari pemuda tampan bernama Mario ini di isi dengan kebahagian hingga ia saat ini sudah bisa bangkit dari keterpurukkan sebelumnya semenjak di tinggal sang ibu, wanita yang memilih meninggalkannya untuk pergi jauh dan memutuskan semua hubungan dengannya tanpa ia tahu apa salahnya? jujur saja itu masa tersulit baginya _namun tidak sekarang! Ia sudah memiliki semuanya_ memang benar pepatah mengatakan bahwa kita tak bisa mengubah masa lalu tapi ia yakin kita bisa mengubah sesuatu yang akan terjadi di masa depan dengan tindakkan kita sekarang. Sesekali ia melirik ponselnya untuk melihat ada pesan atau tidak dan ternyata ada_pesan dari sahabat barunya riana. Sesegera mungkin ia menganti pakaian setelah membuat janji dengan riana untuk mentraktirnya makan, dengan sangat antusias ia segera berangkat ke café sahabatnya itu.

Sesampainya di sana terlihat riana bersama teman wanitanya telah menunggu di depan café

"kalian sudah lama menunggu?" Tanya Mario

"tidak juga_tapi cukup membuat kakiku dan temanku sakit jika lebih dari sekarang" sindir riana tanpa di suruh atau permisi sudah nyelonong seenak jidatnya membuka pintu mobil dan segera masuk mengajak temannya.

"maaf_di jalan tadi macet" jelas Mario menyesal membuat temannya menunggu mengabaikan tindakkan gadis kuciran itu

"bukan masalah_ ayo aku sudah lapar"tuntutnya dengan wajah serius "bahkan aku tadi sengaja tidak makan apapun di café karena ingin makan kenyang dari traktiranmu" timpal riana semangat setelah menyamankan duduknya di bangku belakang mobil tak urung menuai tawa geli dari Mario

"kenapa?ada yang lucu?" Tanya riana polos " apanya yang lucu? Kau bisa menjelaskannya Dian?" Tanya-nya lagi kini kepada sang teman

"tidak riana_tak ada yang lucu percayalah" jawab sang sahabat bernama Dian itu tak meyakinkan dengan ekspresinya

"sudahlah ayo kita pergi" ajak Mario menengahi riana yang hendak mulai bertanya lagi "atau kau akan mati kelaparan nanti" timpalnya menahan gelak tawa

..

Grey

..

Sudah tiga bulan ia telah menjalin hubungan kasih sayang dengan gadis bernama Erika dan sudah tiga bulan pula ia juga telah menjalin hubungan yang disebut persahabatan dengan riana, Mario ya namanya adalah Mario_hari-harinya sekarang di penuhi warna-warni kehidupan, bahkan semuanya terasa seperti mimpi bagi pemuda tampan tersebut. Sekarang ia sedang ada di balkon kantornya, sesekali ia menarik napas panjang mengenang segala hal akhir-akhir ini yang terasa sangat manis sekali layaknya gulali kapas terkemas apik kedalam hidupnya_ namun semua terjadi bagitu indah hingga batin Mario tertohok takut akan suatu hal yang belum terjadi, dengan sebuah bayangan bahwa semua akan hancur dan musnah suatu saat. Seperti pada realita ketika kita terlalu tinggi melambung pasti akan turun kebawah juga pada akhirnya, dan kembali lagi entahlah semua yang akan terjadi pasti memiliki alasan kuat untuk terjadi dan Mario berusaha yakin akan hal itu.

Derap langkah halus terhentak teratur menuju kearah Mario di balkon"kau memikirkan sesuatu pak presdir?" Tanya seseorang di belakangnya dengan nada halus

"ternyata kau nick" ujar Mario sembari berbalik menatap sahabatnya "aku kira siapa tadi"dengusnya

Pemuda yang sebelumnya di belakang Mario itupun mengamit berdiri di sebelahnya seraya memegang bahunya "kau belum menjawab pertanyaanku tadi teman"tuntutnya "jadi jangan coba-coba untuk merubah topic pembicaraan ok?"

"baiklah,baiklah" jawab Mario dengan kekehan halusnya sangat paham kelakuan pemaksa sahabatnya yang satu ini "begini nick_aku takut akan sesuatu hal" ujarnya setelah memberi jeda cukup panjang seraya mengarahkan pandangan kearah kota berlatarkan langit sore

"aku mulai mendengarkan" santai nick mengikuti arah pandang Mario "jadi mulailah bercerita" sambungnya dengan kedua tangannya mulai beralih dari bahu Mario dan mulai terlipat diatas pembatas balkon terbuat dari kaca tersebut

"aku takut kebahagian yang datang kepadaku saat ini hanyalah sebuah hal yang semu dan takkan abadi" ujar Mario "kau tahu? Aku tak dapat membayangkan bila semua yang kumiliki sekarang akan hilang pada akhirnya suatu saat dan aku kembali tak bisa mempertahankannya seperti dia dulu_ibuku_ aku sangat takut, sangat sangat takut" cerita Mario tentang seluruh uneg-uneg di hatinya dengan gesture wajah mulai mengeruh

"kau seperti anak kecil saja Mario_masih tetap penakut" ejek nick setelah mendengar perkataan pria di sebalahnya itu tidak lupa terkekeh halus khasnya"kenapa kau mulai membuat cerita bila kau takut membuat endingnya huh?kalau kau ingin semuanya terlihat sempurna mungkin kau harus menjadi tuhan terlebih dahulu sobat dan itu takkan mungkin_maka dari itu mulailah membuat segala yang kau miliki untuk sekarang ini menjadi lebih berharga ,agar kau tak menyesal suatu saat dan kalau semua itu berakhir tak mengenakan untukmu maka anggap saja itu adalah salah satu pelajaran hidup_sebab berguru paling baik bukankah dari kehidupan-kan?" sambung nick bijak

"kau tahu? Kau adalah orang yang paling tepat untuk berbagi keluh kesahku nick" puji Mario tersenyum teduh "dan_" belum selesai Mario menuntaskan kalimatnya nick telah memotongnya terlebih dahulu

"dan aku selalu ada saat kau butuh teman berbagi bukan?" exactly ,sela nick tepat sasaran dibalasi anggukan dari teman ngobrolnya "aku selalu paham denganmu teman_dan akan selalu seperti itu" tandasnya dengan mata menyipit akibat tersenyum terlalu lebar hingga Mario sanksi bahwa bibir sahabatnya itu akan robek bila lebih dari itu karena terlalu lebar tersenyum.

"aku harap begitu nick" respons Mario pendek mulai mengikuti gaya nick untuk melipatkan tangannya di pembatas balkon.

..

Grey

..

Tampaknya urusan kantor kian menumpuk tiap harinya hingga pemuda bertahtakan surai gelap ini sedikit kewalahan di buatnya, bahkan saking sibuknya sudah hampir sepekan lebih dia tak memiliki contak hubungan dengan sang kekasih hati lagi _yah walaupun niat agar bisa meluangkan waktu itu ada tapi selalu saja terhalang dengan hal yang di namakan pekerjaan. Jujur saja setiap saat Mario hendak menyisihkan waktu untuk dapat bercengkrama bersama Erika kekasihnya selalu gagal, semua hal itu disebabkan ia selalu melupakan jejak waktunya saat bekerja_ia selalu di tuntut professional dan mengkesampingkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dan benar! Bahwa pekerjaankembali menang dari segalanya. Hah_ desah lelah untuk kesekian kalinya di lakukan Mario seraya menatap beberapa dokumen harus di tanda tanganinya sekarang, sesekali ia melirik e-mail dalam handphone di sisi-nya dan ia menemukan banyak sekali pesan di sana, bahkan riana sahabatnya itupun meninggalkan pesan untuknya tak urung membuat Mario menyungingkan senyum senang

"sedikit lagi dan semua akan beres" desah Mario sembari menghela nafas lega mengingat semuanya akan beres dalam waktu hitungan detik lagi

Namun kebahagiannya seakan terengut setelah seorang yang sangat ia kenali masuk keruangan "belum_" ucap pemuda itu dengan intonasi datar "sebentar lagi akan ada meeting mendadak dengan para kolega" jelasnya memberitahukan agenda mendadak untuk Mario "dan malamnya kau akan makam malam bersama tuan smith membahas tentang kerjasama kalian" lanjutnya lagi

"kau pasti bercandakan song?" Tanya Mario mengerang lelah menatap sahabatnya itu, semoga ia hanya bercanda dan akan mengatakan aprilmop chicken! Tapi ditunggu-tunggupun pemuda itupun tak mengatakannya ataupun merubah ekspresinya

"aku harap bisa mengatakan itu" desahnya lelah menanggapi pertanyaan Mario "sayang, kenyataannya dalam sepuluh menit lagi kau harus sudah ada di ruang meeting bersama para kolegamu" hancur sudah khayalan Mario setelah mendengar ultimatum selanjutnya yang diucapkan song_kiamat sudah hidupnya, bahkan ia mulai melirik kejendela untuk melihat langit, akankah ada turun hujan meteor yang menandakan dunia akan hancur seperti hidupnya sebentar lagi. Ok fix itu terlalu hiperbola.

"ah_baiklah kau pergilah dulu song" perintah Mario pasrah dengan keadaan yang tak mendukung "aku akan menyusulmu sebentar lagi" imbuhnya seraya mengambil handphone yang sebelumnya terletak di sembarang tempat

"baiklah aku menunggumu disana" ucap song sekaligus mengangguk paham dan mulai berlalu pergi meninggalkan Mario yang mulai focus dengan benda imut berbentu persegi panjang itu,

Tak lama setelah song keluar ruangannya Mario segera membalas satu persatu e-mail yang masuk termasuk pesan yang di kirimkan riana. Sesekali ia tersenyum melihat e-mail yang dikirimkan sang kekasih dan membuat janji dengannya untuk pergi bersama di hari libur besok, menilik hanya hari itu jadwalnya terlihat kosong _well itupun bila tidak ada perubahan. Sekitar satu menit kurang kekasihnya yang di sebrang line sudah membalas pesannya dengan menyetujui tawarannya, sontak saja sukses membuat Mario sorak sorai bahagia setelah membaca pesan tersebut. Sesegera mungkin Mario keluar ruangannya berjalan penuh arogan menuju tempat meeting yang telah di persiapkan sebelumnya dengan para kolega yang sudah di pastikan menunggunya.

..

Grey

...

"kau sibuk sekali bekerjanya Mario?" Tanya kla mulai berjalan menuju balkon kantor Mario untuk melihat pemandangan di luar yang terasa lebih menarik daripada menatap tampang sang sahabat yang tampak kolot dan membosankan itu _yah satu lagi jangan lupa 'judes' hampir ketingalan

"biasa saja" jawab Mario datar masih tetap sibuk dengan puluhan kertas di mejanya, jujur saja hal itu sangat menyakitkan mata bagi kla bahkan saat ini pemuda berwajah tampan itu mengernyitkan keningnya ngeri membayangkan bila ia di posisi Mario saat ini "tumben kau kesini kla? Ada perlu?" Tanya Mario masih tetap belum beralih dari menatap tumpukan kertas tersebut

"uhm_tidak ada"respons kla cepat "aku hanya ingin mengunjungi mu apa tidak boleh?" balas Tanya kla yang hanya di balasi gelengan dari Mario bahwa ia tak mempermasalahkan kunjungan dari sang sahabat

"ngomong-ngomong bagaimana usahamu? Aku dengar kau sekarang menjadi terkenal dengan pameran lukisanmu bukan?" Tanya Mario mulai berhenti bermain dengan dunianya sendiri dan mulai mendonggak menatap sang sahabat yang telah sejak tadi tiba dari arah meja kerjanya

Terdiam sejanak dan mengambil napas itulah yang di lakukan kla " semua berjalan normal teman" tukasnya " dan mungkin kapan-kapan aku akan membuatkanmu sebuah lukisan agar kau bisa memajangnya di suatu tempat" lanjutnya nyengir kearah Mario

"tentu saja,_"

"mungkin aku akan memajangnya di kamar mandi" celutuk Mario ringan mengabaikan temannya hampir tersedak dengan ludahnya sendiri mendengar perkataannya itu

"itu bukan ide yang buruk" ujar kla dengan nada sinis "letakkan tepat di depan closet-mu dan aku akan selalu berdo'a kau akan selalu menderita saat buang air" sambung kla seraya mendengus jengkel

"kau selalu seperti itu" kekeh Mario melihat tingkah kla yang tak pernah berubah sama sekali masih tetap pemarah. Setelah itu cukup lama Mario maupun kla terdiam ,mereka berdua terdiam tak bisa berkata apa dan membiarkan kesunyian mulai menjebak kedua pemuda itu_ cukup lama terdiam hingga kla akhirnya berdehem pelan mencairkan suasana hampir kaku bila di biarkan lebih lanjut

"apa kau ada waktu nanti malam?" Tanya kla menatap sang sahabat yang mulai sibuk kembali dengan kertasnya

Terhenti. Mario sontak berhenti lagi dari kegiatannya dan mulai menatap pria di sampingnya "kenapa?" Tanya-nya dengan nada datar menyembunyikan rasa penasaran di hati

"aku ingin mengajak mu kencan" kelekar kla ngawur sukses membuat wajah Mario menjadi putih pucat akibat shock berlebihan "ahaha aku bersumpah aku hanya bercanda sobat! Lihatlah wajahmu itu! Kau sangat terlihat lucu sekali" ujar kla sembari tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Mario ,sedangkan sang korban sendiri hanya bisa memutar bola matanya jengkel dengan candaan pemuda berambut spiky yang menurutnya tak lucu sama sekali, ingin sekali ia berdiri dari duduknya dan melempar pria itu dari balkon. Untung itu hanya niatnya saja. Beruntunglah kau kla

"katakan apa yang ingin kau katakan dan pergi dari sini" tegas Mario menatap tajam kearah kla tapi namanya kla deathglare sehebat apapun yang di berikan tetap tidak akan mempan untuknya bahkan ia saat ini semakin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Mario yang terlihat semakin lucu saat marah seperti sekarang

"baiklah_baiklah" kla menyerah karena perutnya sangat sakit akibat tertawa berlebihan "aku mengajakmu karena nanti malam nick dan yang lain akan berkumpul di café biasa kita kumpul dan disini sebagai teman aku mengajakmu untuk bergabung juga" terang kla panjang lebar "itupun kalau kau mau" timpalnya lagi sembari mengendikkan bahu seakan mengetakan terserah secara tak langsung

"akan aku pertimbangkan" jawab Mario datar setelah mendengar perkataan kla

Derap langkah terdengar halus dari sepatu kla mulai berlalu dari balkon melewati Mario berjalan menuju pintu keluar "kalau kau berminat untuk datang" ucap kla mengantung seraya menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat Mario "maka datanglah_kami ada disana jam Sembilan" lanjutnya mulai melangkah menjauh seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku celana

..

Grey

..

Malam ini Mario sudah mempersiapkan semua kejutan untuk sang kekasih, bahkan sebelumnya ia sudah membatalkan semua janji dengan sahabat-sahabatnya. Dengan telaten ia mengancingkan kemeja kotak-kotaknya, tak butuh waktu lama untuk mempersiapkan diri_ setelah meresa semuanya selesai iapun segera berlalu pergi hendak menjemput sang kekasih yang tadi sempat ia bohongi bahwa ia tak jadi pergi bersamanya dengan maksud hendak memberi kejutan untuknya. Sesekali ia bersiul riang menuruni anak tangga apartemen mewahnya menuju pintu keluar, jujur saja Mario malam ini merasa sangat bahagia sekaligus awkward secara bersamaan karena akhirnya ia bisa juga menghabiskan waktu bersama Erika.

Dengan penuh keyakinan di hati Mario segera membuka pintu mobilnya "akan ku buat kau melupakan penantianmu selama ini sayang" lirihnya dengan rasa percaya diri yang sangat-sangat tinggi dan segera memacu mobilnya meninggalkan parkiran mobil menuju ke kediaman gadis idaman hatinya.

Tiga puluh menit. Hanya tiga puluh menit akhirnya ia tiba di tempat tujuan_Niatnya Mario hendak membuat sebuah kejutan untuk sang kekasih, tapi sekarang lihat! ialah yang terkejut sendiri melihat sang kekasih. Ternganga adalah hal pertama terjadi pada Mario saat di depan matanya sang kekasih sedang berpeluk mesra dengan pria lain. Sungguh ia serasa di tampar dengan telak diwajahnya , bahkan saking terkejutnya sebuket mawar merah di genggaman tangannya-pun tak terasa sudah jatuh tak berdaya. Kecewa? Tentu saja ia kecewa melihat hal barusan, tapi apa yang mau dia katakan? Bahkan ia tak tahu ingin menyalahkan siapa saat ini? Menyalahkan kekasihnya karena berselingkuh di belakangnya? Atau dirinya sendiri karena tak memberikan kabar sepekan lebih? Ia tak tahu_ sebutir air matanya menetes mengasihani dirinya sendiri, ingin berteriakpun terus terang saja ia tak mampu menyuarakan ,tengorokkannya seakan kehilangan suaranya. Rasanya baru tadi ia memiliki firasat buruk tentang hal seperti ini dan semua itu terjadi dalam sekejap mata, Mario memejamkan mata berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi buruk dan segera ia akan bangun dari mimpi_namun sayang itu semua bukan mimpi, saat ini fakta sedang berbicara tanpa mau di sela dengan apapun termasuk harapan rapuh pemuda malang tersebut. Sedikit gontai Mario memutarkan tubuhnya hendak berbalik pergi tanpa sedikitpun berniat untuk mengutip mawarnya ataupun memandang kebelakang lagi, ia mengabaikan semua bahkan ia menulikan pendengarannya saat wanita yang beberapa detik lalu telah berubah predikat dari kekasih menjadi mantan itu sedang berlari seraya memanggil namanya. Semua sudah berakhir batin Mario miris, langit pun tampak gelap tiada bintang seperti hatinya sekarang. Suram. Tak lama melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Erika berhasil memegang tangannya

Wanita itu memegang erat tangan Mario "aku bisa menjelaskan semuanya" bujuknya dengan wajah tersirat ketakutan sekaligus terkejut dengan kehadiran Mario di luar perkiraannya.

Sedangkan dimata Mario hanya memantulkan bayangan wanita di depannya dengan sudut pandangan kosong, bukan lagi dengan tatapan penuh cinta seperti sebelumnya " apalagi yang bisa kau jelaskan hm Erika?" Tanya Mario berusaha mengukir senyum yang terlihat pedih"semua sudah jelas" tandasnya lagi dengan menekan kata jelas untuk dirinya dan untuk Erika di akhir kalimat.

"TIDAK!" raung gadis itu dengan air mata mulai menetes "itu semua tidak seperti yang kau pikirkan Mario! Dia hanya_dia hanya" kalimatnya tercekat sebelum selesai

"dia hanya sahabatmu?" Tanya Mario menaikkan sebelah alisnya "sudahlah Erika kau tak perlu bersusah-susah berhong seperti itu_ untuk apa kau berbohong untuk kebohongan yang lain? Itu akan semakin menyakitiku?" ujarnya seraya membelai lembut pipi sang kekasih atau sekarang bisa di sebut mantan, berusaha menghapus air mata di wajah gadis itu "aku harap kau berbahagia dengannya Erika" timpalnya semakin menambah deras air mata wanita itu

Sedangkan Erika hanya mengelengkan kepalanya dan merengut tangan Mario satunya lagi dengan cepat "kau tak bisa melakukan itu padaku Mario! Beri aku kesempatan sekali lagi" tegasnya menatap sayu kearah pemuda di depannya mengabaikan seseorang yang sedang menonton dari jauh dengan pandangan jengah, Erika menghiba kepada pria di hadapannya. bahkan saat ini gadis itu rela melepaskan harga dirinya "kau tak bisa melakukan itu, aku mohon berikan aku kesempatan mario" ulangnya lagi

"sudahlah" sentak Mario menarik tangannya dari pegangan Erika sedikit kasar "ayo kita akhiri drama ini dan biarkan aku pergi" tegas Mario mulai melangkah mantap meninggalkan Erika menanggis sesungukkan hingga ia terduduk lemas di aspal dingin, ditemani mawar merah yang sebelumnya sudah jatuh tak berdaya terlebih dahulu. hanya itu bukan yang bisa gadis itu lakukan sekarang? Hanya mampu berkubang dalam penyesalan sembari berusaha mengutip kenangan-kenangan yang masih tersisa untuknya, mau menyesal dan menyalahkan keadaan? Bahkan dia tak berhak atas itu.

..

Grey

..

Ingin menanggis? Untuk apa menanggis? Menanggispun takkan merubah keadaan sekarang, saat ini ia hanya bisa duduk termenung di kursi café berdesain mewah yang sebelumnya sudah ia sewa untuk satu malam ini. Dia terasa bodoh dengan duduk layaknya orang dungu yang sedang menanti seseorang, apa yang dia lakukan disini sebenarnya? Ingin mengejek dirinya sendiri? Atau apa? Hubungannya dengan wanita itu barulah tiga bulan lebih dan dia sudah sangat mencintainya seperti ini? Hah_ ternyata cinta itu memang benar-benar merepotkan, siapa sangka mengejek bangkit dari cinta itu tidaklah rumit ternyata sebuah kesalahan fatal. Mario hanya termenung mengenang semua yang terjadi hari ini begitu cepat ,hingga dering pesan dari handphone sontak membuyarkan lamunannya dan segara membaca isi pesan tersebut. Kau sedang apa sekarang? Isi pesan dari wanita yang sangat ia hafal betul siapa orangnya. Riana. Dengan cepat ia membalas pesan dari sahabatnya itu untuk mengatakan segara datang ketempatnya, setidaknya sekarang ia memiliki teman bukan? So riana juga bukan pilihan buruk untuk menemaninya di malam yang penuh drama seperti sekarang.

Tak lama riana-pun tiba,mungkin dia mempunyai pintu kemana saja batin Mario curiga"wah aku tak menyangka kau menyewa café semewah ini hanya untuk kita berdua Mario" kelekar riana menatap berbinar keseluruh sudut ruangan seakan-akan ia barulah pertama kali ketempat mewah seperti ini

Sedikit mendengus geli Mario mendengar candaan riana. "anggap saja malam ini kau menjadi seorang tuan putri_ jelek" ejek Mario dengan sudut mata menghinanya sudah cukup membuat wanita yang sedang berdiri di depannya merengut masam "apa kau akan tetap berdiri di situ huh?" Tanya Mario

"tentu saja aku akan duduk" reflek riana menanggapi pertanyaan Mario "dan akan aku ingatkan bila kau lupa bahwa aku ini banyak sekali pria yang ingin menjadikan aku pacarnya" pongah riana mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi "tapi aku saja_" belum selesai ia mempromosikan diri

"_yang menolaknya" sela cepat Mario dianguki riana melewatkan seringai lebar pemuda di hadapannya "karna kau sadar ia akan meninggalkanmu saat ia telah menyadari kesalahannya"

Segera riana melepaskan sepatu kets dari kakinya dan meletakannya keatas meja membuat Mario meneguk ludah, jujur saja ia merasa gentar apalagi gadis di depannya bukanlah gadis feminim melainkan gadis barbar yang takkan segan menamparnya dengan sepatu

"kau lihat ini bukan?" Tanya riana seraya menunjuk kearah sepatu kets diatas meja yang hanya di balas angukkan takut Mario "sudah koyak" what! Dia hanya mengatakan sudah koyak batin Mario, menyesal ia sudah takut sebelumnya "ayo temankan aku membeli yang baru" ajaknya

"ah_kau tidak makan dulu?" tawar Mario berusaha ramah sembari mengantisipasi perasaannya yang ketar-ketir dengan sepatu tadi

"tidak perlu_aku sudah kenyang tadi" jawab riana santai seraya mulai berdiri dari kursinya dan merapikan kemaja bagian belakang yang ia kenakan saat ini

"baiklah, a_ayo kita pergi"

..

Grey

..

Riana bukanlah gadis pemilih seperti layaknya gadis pada umumnya, ia hanya sekali mencoba satu sepatu dan bila ia sudah merasa cocok gadis itu akan membelinya ,itulah yang Mario ketahui sekarang. Akan tetapi lucunya ia sangat terkejut dengan sepatu converse pilihannya memiliki harga yang mampu membuat mulut kecil-nya menganga lebar, hingga Mario sanksi lalat akan masuk kedalam mulutnya. Tampang riana terlihat jengkel setelah berulang kali ia menawar tetapi harga tak turun juga, bahkan satu rupiahpun tak berkurang dari harga awal. Jujur saja gadis itu lucu menawar dengan harga yang sudah di tetapkan toko ini ,tentu saja itu takkan turun walaupun ia menawar hingga lebaran monyet sekalipun mengingat barang yang ia pilih itu salah satu barang limited edition milik toko ini dan tentu saja tidak bisa ditawar. Dengan halus Mario menyela pembicaraan seraya menyerahkan kartu kreditnya, dengan penuh charisma ia tersenyum ramah kearah pelayan sukses membuat wanita jelek itu merona batin riana mangkel.

Melirik riana dengan sudut mata "kau tak perlu menganti uangku" ucap Mario pelan "aku tahu kau takkan mampu mengantinya" remehnya dengan wajah datar

"kurang ajar kau" geram riana dengan gigi bergemelutuk jengkel "awas saja kau! Akan aku hajar kau nanti" desis riana penuh aura kematian "dan terimakasih"

"tidak semudah itu. begini ,aku punya penawaran menarik untuk melunasi hutang sepatumu" tawar Mario dengan wajah penuh rencana licik di mata riana "bagaimana kalau kau mengabulkan satu permintaan dariku" sudah kuduga batin riana tak terkejut dengan perkataan Mario selanjutnya membuang wajah kesamping jengah

Mendengus jengkel "apa?!" Tanya riana ketus tampak sekali malas berbasa-basi "awas saja kalau aneh-aneh kau" ancamnya dengan jari telunjuk teracung tepat di wajah mario

"begini ,aku ingin kau menjadi seorang wanita" terang Mario to the point seraya mengalihkan jari telunjuk yang tepat berada di pangkal hidungnya_merasa risih, sontak saja menuai delikan ganas riana "bukan itu maksudku" jelas Mario mengangkat kedua tangannya diatas udara sadar atas apa yang dipikirkan sahabat barbarnya "maksudku menjadi seorang wanita seutuhnya tidak seperti ini_feminim maksudku dan aku har-"

"jangan bermimpi" sela riana dingin "aku takkan sudi menjadi seperti khayalanmu itu" sinis riana masih dengan mata melotot dan semakin nyalang kearah Mario seakan-akan ia hendak mencabik-cabik pria di dekatnya itu hingga tak tersisa sedikitpun

"baiklah_kalau begitu aku batalkan membelikanmu sepatu itu" tukas Mario ringan menunjuk sepatu dengan ujung dagunya

"eh kok gitu?" raungnya tak terima "kau tak bisa melakukan itu" marah riana ke Mario sedangkan yang di marahi hanya menatap sekeliling tak peduli

Mengendikkan bahu seraya mengangkat kedua tangannya. "kenapa aku tak bisa?" tanyanya santai "tentu saja aku bisa melakukan apapun yang aku mau kan?" sombongnya dengan seringai terpoles apik di bibir tipis itu.

Lama berpikir dan bergelut dengan harga dirinya, pada akhirnya riana memutuskan untuk menyetujui perimintaan Mario dengan anggukkan iya-iya ogah miliknya. Dasar pria brengsek batin riana menjerit murka, tapi mau bagaimana lagi? Mario memang harus selalu mendapat apa yang ia inginkan walau apapun caranya tak perduli apapun yang terjadi.

"baiklah kalau kau sudah setuju kita akan pergi ke toko baju wanita" ajak Mario setelah pelayan wanita memberikan bungkusan sebatu yang sudah di susun apik "malam ini kau pasti akan tampak berbeda" sumringahnya melirik kearah gadis yang sedang berkomat-kamit merapalkan mantra kutukan yang pasti untuknya

"whatever" dengus riana memutar bola matanya dan mulai berjalan menyusul dengan langkah malas-malasan.

..

Grey

..

Jujur saja riana terlihat sangat cantik di mata Mario mengenakan dress biru malam, walaupun tadi sempat berkelahi dengan penata rias namun pada akhirnya ia mau juga di rias wajahnya. Tampak sekali riana sangat risih dengan pakaiannya yang mengekspos betisnya itu dan dikala dia merasa risih saat di tatap pria dengan pandangan mesum maka matanya akan selalu tertuju kearah Mario. Cukup lama mereka berjalan-jalan di area taman kota sebelum menuju kerestoran mewah yang syukurnya berlokasi tak jauh dari taman ini. Tak butuh waktu panjang akhirnya Mario dan riana pun sampai juga di restoran seraya berjalan masuk dan mengambil tempat duduk.

"kau ingin makan apa?" Tanya Mario menatap kearah riana setelah menyamankan duduknya

Sedangkan lawan bicara setelah mendengar pertanyaan itu langsung menarik buku menu dengan cepat di meja ,di sisi lain terlihat Mario mulai memanggil pelayan

"aku ingin nasi goreng dengan telurnya setengah matang ya" ucap riana kearah pelayan yang baru tiba menuai kernyitan bingung "dan minumannya es te_"

"kami berdua memesan dua steak" sela Mario cepat memotong perkataan riana "dan wine_hapus pesanannya tadi" perintah Mario tegas dengan sorot mata menatap riana jengkel

"baiklah tuan, pesanan anda akan segera sampai" angguk pelayan patuh dengan ucapan Mario

Hendak menyilangkan kaki itu takkan mungkin, jadi hanya meremas ujung rok bajunyalah yang sekarang riana lakukan "untuk apa kau menanyaiku ingin makan apa kalau pada akhirnya kau yang menentukan semua" desis riana jengkel dengan prilaku pria didepannya, ingin sekali ia mencakar-cakar wajahnya dan lihat apa dia masih bisa memamerkan wajah sombongnya itu nanti

"kau pikir ini restoran seperti tempat makan pingir jalan apa?" sinis Mario "setidaknya beradaptasilah dengan lingkungan, bahkan pesananmu itu tak terdaftar di buku menu" sambungnya masih dengan nada datar

"terserah" jengah riana dengan sikap Mario "tapi ngomong-ngomong dimana kekasihmu? Aku berpikir kau akan bersamanya malam ini, dan menyiksanya sama sepertiku" Tanya riana berbasa-basi sambil menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka berdua.

Sedikit membuang wajah kesamping seolah menghindar. Mario bingung ingin menjawab apa, bahkan ia juga bingung harus berekspresi seperti apa? Pertanyaan temannya ini hanya memgungkit masalah yang berusaha ia lupakan sejak tadi

"aku sudah putus dengannya"

Jawaban Mario sontak saja sukses membuat riana terkaget dan hendak menanyakan apa alasannya? seakan paham dengan apa yang di fikirkan gadis didepannya segara Mario berujar sebelum sempat temannya itu bertanya lagi "dia bersama pria lain _aku melihatnya berpelukkan dengan pria yang tak ku kenal dan well kau tahukan?" jelas Mario tersirat gurat kekecewaan di wajahnya tertutup rapi dengan ekspresi datarnya

Masih belum mampu menerima apa yang baru saja ia dengar "kapan?" Tanya riana

"tadi" jawab Mario "sebelum aku membalas pesanmu"

"kau harus kembali berbicara dengannya dan membicarakan semua dengan kepala dingin"

"untuk apalagi berbicara dengannya? Bukankah semua sudah terlihat jelas riana? Dia berpelukkan dengan pria itu tepat di depan mataku"

Tersenyum tipis. "kadang apa yang kita lihat belum tentu seperti itu" petuah riana seraya berdiri dari duduknya berusaha untuk mengelus bahu Mario sekedar memberi semangat "semua pasti ada alasannya_dan aku yakin pasti kau tidak mendengarkan penjelasan Erika tadi bukan?" tuduh riana tepat sasaran "temui dia lagi dan Tanya apa alasannya ia melakukan itu? Agar tidak ada penyesalan di hatimu nantinya" timpalnya bijak menatap Mario sedangkan yang ditatap hanya bergerak gelisah

"akan aku lakukan" jawab Mario menyetujui perkataan riana "tapi nanti"

.

'tidak sekarang'

.

.

Grey

.

Bunyi music teralun lembut menyapa indra pendengaran para pengunjung café bergayakan gothic itu, malam ini pengunjung café itu taklah seramai biasanya hanya beberapa pasangan pemuda-pemudi yang di pertanyakan apa kejelasan hubungan mereka miliki. Namun mengabaikan jumlah pengunjung melihat keseluruhan ruangan café ,tempat ini tidaklah buruk sebagai spot hangout bersama teman-teman. Lirik kekanan kekiri, bukannya mau maling ataupun merampok. Sekarang pemuda tampan itu sedang mencari seseorang sembari sesekali melihat jam tangannya, menurutnya ia tak terlambat ataupun kecepatan untuk datang, tapi dimana teman-temannya sekarang? Jujur saja Mario masih ingat saat kla mengatakan bahwa pukul Sembilan tepat mereka semua ada di café ini dan sekarang sudah pukul Sembilan lewat dua belas menit.

Jengah menunggu Mario hendak keluar "mungkin mereka tak jadi" ujar Mario Ke diri sendiri sebelum sebuah suara mengagetkannya dari belakang

"mau kemana huh?" Tanya alan cepat setelah benar-benar yakin bahwa itu adalah sahabatnya Mario "buru-buru sekali ingin pergi?"

"aku pikir kalian batal berkumpul malam ini" sanksi Mario seraya berjalan semakin masuk kedalam café mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan mengobrol

"tentu saja jadi" sergah alan cepat dan mulai mendudukkan diri tepat di depan Mario setalah mendapat tempat yang nyaman "aku pikir kau takkan datang malam ini, well mendengar kau tak memberikan kepastian kepada kla sebelumnya" ujarnya mengutarakan keraguan yang ia rasa tadi sebelum datang

"aku berubah pikiran" terang Mario melempar senyum tipisnya kearah alan "apa kabarmu? Aku lama sekali tak melihatmu"

"aku sehat dan kau benar, kita tak bertemu lebih tiga tahun kurasa. Setelah aku memilih pindah keluar negeri"

"begitulah_ aku harap karirmu berjalan sempurna mengingat kau sudah berjalan sejauh ini"

"doakan saja begitu" ringan alan tersenyum "kau ingin minum?" tawar alan seraya memanggil pelayan

"orange juice" pesan Mario "dan aku sama dengannya" timpal alan

"bagaimana hubunganmu dengannya?"

"berantakkan" jawab Mario dengan nada lemah "bahkan semua terjadi begitu saja dan aku seperti orang dungu yang kembali lagi tak bisa melakukan apapun"

Bernafas berat seraya menepuk bahu pria di hadapannya "aku turut prihatin" ujar alan "apalagi aku dengar kau sempat terpuruk"

"bukan masalah"

"tuhan pasti memiliki rencananya sendiri Mario" tukas alan

"terima kasih, kau memang sahabat terbaikku_"

..

Grey

..

"bukan masalah" jawab riana riang menatap Mario dengan tatapan seperti biasanya penuh keantusiasan "aku tahu aku adalah sahabat terbaikmu" lanjutnya lagi

Melihat perilaku riana menyesal Mario mengatakan kalimat sacral itu "sudahlah" tukas Mario "kau terlalu hiperbola menanggapi ucapanku"

Ini adalah seminggu lebih dari perceraian ah maksudnya putusnya Mario dengan Erika, akan tetapi semua membaik kembali setelah mendengar nasehat riana saat di restoran kemarin. Semuanya menjadi jelas setelah mendengar keseluruhan penjelasan dari Erika, yang membuktikan ia hanya salah paham kepada gadis itu. So, ia kembali berhubung dengan Erika walaupun tak yakin akan berjalan seperti dulu. Lupakan tentang hubungan rumitnya dengan Erika, siang ini dirinya bersama riana sedang berkemas barang hendak pindahan. Ya bukan dirinya yang hendak pindahan melainkan riana yang akan pindah ,setelah gadis itu menyetujui tawarannya untuk tinggal di rumah minimalis yang jujur saja sudah lama tidak di tinggali, daripada tidak terawat lebih baik di tinggali gadis berisik ini dan pastinya akan dibersihkan bersama temannya itu bukan?. Sesekali ia menyeka keringatnya yang menetes cukup deras, salahkan gadis yang tak tahu berterima kasih itu_bukannya menggunakan jasa pindahan malah ia yang disuruh ikut berpartisipasi mengepak barang-barang bertopengkan alasan untuk menghemat biaya sukses membuat darah Mario mendidih, ah darah tinggi-nya kumat lagi karena sikap riana.

"aku lelah" dengus Mario mengambil tempat duduk menyamankan diri

Memutar bola matanya jengkel "ayolah bantu aku Mario!" paksa riana menarik lengan Mario "kau sebagai lelaki kenapa selemah ini sih" jengkelnya menatap pria yang sedang duduk malas-malasan

"aku lelah riana" ulang Mario "kau saja yang terlalu pelit_ bersyukurlah kau tak perlu ngekost lagi disini, tapi hanya menyewa jasa pindahan saja kau begitu perhitungan" keluhnya dengan nada tampak sekali jengkel

"ayolah, kalau kita bisa melakukannya kenapa harus membuang uang? Dan menyewa jasa pindahan itu terlalu mahal di dompetku. Dan aku tak ingin mengambil resiko dengan membuat dompetku menanggis."

"kalau begitu kau saja yang mengerjakan semua ini bersama kekikiranmu" desis Mario sadis " aku lelah dan aku butuh istirahat" putus Mario mutlak tak ingin diganggu gugat

Sibuk berdebat keras dengan asumsi masing-masing membuat dian mendesah letih melihat prilaku kekanakan Mario dan riana, mengambil langkah besar segera ia berlalu untuk mencari sesuatu di dalam rumah. Hanya dua menitan dian kembali keluar dengan tiga gelas jus jeruk di nampan, mungkin dengan ini mereka berdua bisa akur batin nya penuh keyakinan

"kau ini dasar pemalas" sinis riana kesal dengan sikap Mario "benar-benar pria pemalas"

"kau itu yang cerewet" balas Mario tak mau kalah "benar-benar wanita cerew-"

"sebaiknya kalian berdua minum terlebih dahulu" sela dian cepat menengahi peperangan mulut diantara teman-temannya yang terlihat mulai memanas di kedua belah kubu dan ia tak berminat untuk memihak di salah satunya " setelah itu baru kita bekerja lagi" bujuknya halus di balasi anggukkan kedua orang itu

Dengan decihan "bahkan dian lebih halus" hina Mario tak langsung telak menyingung riana membuat dian drop karena pria di dekatnya tak berhenti menyulut emosi riana sedangkan sahabatnya itu bukanlah sosok gadis penyabar yang baik. Oh god ini akan menjadi acara pindahan yang panjang batin dian miris sekaligus ironis membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

..

Grey

..

Banyak dedaunan berguguran menjatuhi jalanan kota, dedaunan di dahan pohon-pun tampak menguning semua menandakan masuknya musim gugur. Tampaknya juga suhu udara menjadi dingin di sore hari seperti ini, bahkan udara terasa sejuk walau pukul masih menyatakan empat sore. Namun udara yang tak bersahabat tak mengurung niat kedua orang pejalan kaki ini untuk menikmati pemandangan di pingir sungai kota, sesekali mereka saling menukar tawa layaknya pasangan kekasih yang sangat romantic bagi orang lain yang tak tahu seperti apa hubungan mereka sebenarnya, mereka hanya teman dan perlu di pertegas mereka hanyalah_TEMAN_ tak lebih sama sekali. Yah walaupun itu keputusan sepihak dari seorang pemuda tampan bertahtakan permata onyx yang menghiasi kedua irisnya, mengabaikan perasaan dari sang wanita yang entah menerima persahabatan itu atau tidak.

Dengan halus Mario menepis daun yang melekat di rambut riana "ini daun" terang Mario menunjukkan daun di tangannya saat riana mencoba menghindar seraya memplototi ganas "kau tak perlu seperti itu"

"aku hanya waspada dengan pria seperti mu" sindir riana membuat wajah pria itu merengut jengkel "kau tahukan wajahmu seperti criminal"

Sedangkan sang pria hanya memutar bola matanya jengah "whatever, I don't cares about you things" balas Mario dengan nada bosan "aku membela diripun akan tetap sama di matamu kan"pasrahnya

"pintar"

Drrrt…drrrt…

Segera Mario mengambil ponsel di saku jasnya "hallo?" sambutnya mendapat jawaban halus dari sebrang line "ada apa?" Tanya-nya tenang mengangkatkan tangannya sebelah kearah riana seolah memberi kode untuk tidak menganggu walaupun itu hanya hendak sekedar berntanya siapa yang menghubunginya dengan bahasa isyarat tubuh.

.

"kau ada waktu makan malam bersamaku Mario, aku sangat merindukanmu"

.

Seakan berpikir berpikir "akan kuatur jadwalku" jawab Mario masih tetap dengan nada datarnya

.

"aku harap kau datang" ujarnya lembut memberi jeda sejenak "karena aku sudah memasak banyak makanan kesukaanmu"

.

"baiklah" hanya satu kata itu dan segera Mario mematikan ponsel-nya segera menyimpannya lagi di saku jas sedangkan riana yang sudah sangat penasaran segera membuat gesture bertanya dari tubuhnya "hanya tugas kantor, dan nanti malam ada dinner bersama para kolega-ku" dusta Mario tanpa hendak mau menatap wajah riana.

'dia sedang berbohong' batin riana sangat tahu pria di sampingnya sedang berbohong "kau yakin hanya itu?" Tanya riana menuntut kejujuran secera halus

Melirik sedikit kearah wanita di sebelahnya segera ia tersenyum "tentu saja" jawabnya yakin paham akan kecurigaan _sahabatnya_ "apalagi yang kau harapkan hm?" balas Tanya Mario menaikkan alisnya sembari menyeringai

Baiklah kalau Mario ingin aku percaya maka aku akan percaya "apalagi yang bisa aku harapkan dari sahabatku ini?" sindir riana mulai menatap kearah langit sore menyamankan dirinya "tidak ada bukan" sambungnya sekian lama terdiam dengan kalimat mempunyai seribu arti di perkataanya

"kau ini" ujar Mario tertawa halus seraya mengacak surai coklat riana dengan gemas. Sadar akan sesuatu yang sedang menetes dari hidungnya sesegera mungkin riana menepis tangan Mario dan berpaling kesambing berpura-pura marah, dengan cekatan riana segera mengelap hidungnya dengan lengan jaket hitamnya sebelum Mario sadar "kau ini selalu saja garang" kernyit Mario melihat prilaku riana yang tak pernah berubah sedikitpun

"biarin" cebik riana berbalik untuk menatap Mario "karena kau itu memang benar-benar harus di curigai"menutup perbincangan mereka sore itu dengan tertawa lepas bersama

..

Grey

..

Setahun sudah, tak terasa ini telah setahun hubungan Mario bersama Erika. Banyak hal yang telah terjadi dalam hubungan mereka berdua, sesekali perselisihan layaknya pasangan pada umumnya sering terjadi akan tetapi riana selalu datang membantu untuk mengembalikan semuanya seperti semula. bercerita tentang riana, gadis itu sudah memiliki tempat tersendiri diantara sahabat-sahabatnya karena pembawaannya yang selalu ceria dan dengan mudah dia bisa berteman. Namun akhir-akhir ini Mario jarang sekali melihat gadis itu, sesekali ia datang ke rumahnya tapi yang ada hanya dian dan saat ia bertanya selalu saja dian mengatakan entah itu bekerja, jalan dan semacamnya seakan sedang membuat alasan. Ini sudah tiga minggu lebih sejak hilangnya riana secara total, kemana dia sebenarnya? Menghilang begitu saja.

Drrrt..

Ponsel Mario bergetar di saku jasnya, sedikit mendengus palingan Erika yang menghubunginya batin Mario malas, jujur saja ia sebenarnya sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu. Jika saja riana tidak selalu memarahinya untuk berbaikan, mungkin dia takkan memiliki hubungan sejauh ini. Tak perduli sudah berapa kali seseorang di seberang sana menghubunginya pemuda tampan itu tetap keukeh tak ingin mengangkatnya, mungkin saja pihak di sebrang sana menyerah setelah beberapa saat tak ada lagi getaran di ponsel. Lama tak bergetar beberapa saat hingga bergetar lagi namun bukan telpon ,melainkan pesan singkat yang masuk. Sedikit malas Mario membuka pesan di handphone-nya

.

'Kau sibuk rupanya Mario, maaf ya menganggumu. Tapi aku ingin bertanya apa kau punya waktu hari ini? Kalau bisa datanglah di pulau kecil yang pernah aku tunjukkan fotonya padamu, aku menunggumu disana jam empat sore'

.

Degh. Riana mengiriminya pesan! Segera pemuda itu melihat daftar panggilan dan terpampang enam belas kali panggilan dari riana, jujur ia sangat menyesal tak mengangkat telepon tadi. Dengan cekatan ia melihat jam tangannya. God! Ini sudah pukul tiga sore! Dan janjinya pukul empat!, sesegera mungkin Mario berlari menghambur kemobil dan memacu gas maksimum membelah jalan raya menuju tempat penyebrangan. Semoga saja ia tidak terlambat.

..

Grey

..

Ck, decak kesal gadis itu setelah menyadari seseorang yang di tunggunya telah tiba "kau terlambat dua puluh menit" dengus gadis itu kesal terhadap sang pria yang baru lah tiba

Sedikit tersenyum menanggapi ucapan temannya_maybe "kau pikir aku memiliki GPS special yang di ciptakan khusus untuk mencarimu apa?" tanggap pemuda itu bernada cibiran. Kenapa? Kenapa ia sangat merindukan sosok di depannya? Bukankah mereka hanya sekedar teman? Batin Mario tak paham dengan perasaannya sendiri, seharusnya dia sadar bahwa ia tak mungkin memiliki hubungan lebih terhadap gadis di depannya. Namun jujur di sudut hatinya ingin sekali ia memeluk gadis itu berbanding terbalik dengan akal pikirannya, tapi_ siapa dia? Bahkan saat ini ia sudah bertunangan dengan seorang wanita anggun bernama Erika, sontak saja kenyataan itu membuat hatinya menceles pedih seakan tak terima

"bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku menunggumu di tepi laut?" kesal gadis bernama riana itu seraya mendelik galak kearah Mario, tentu saja sang pemuda kaget dan segera memeriksa pesan tadi di handphone-nya. Hingga beberapa saat ia mulai senyam-senyum malu karena akibat kurang telitinya dia saat membaca pesan.

"maaf" sesal Mario "tadi aku terburu-buru sekali setelah melihat pesanmu dan aku segera berlari ah_maksudnya mengendarai mobil dan aku_"

"cukup! Sudah cukup!" sela riana cepat dengan tegas, sadar akan semua omongan yang akan di muntahkan dari bibir pemuda di sebelahnya tidaklah penting untuk di dengar sekarang "aku tidak ingin mendengar kisah tragismu maupun kisah sedihmu saat menuju kesini ok?" sukses membungkam kicauan panjang yang akan keluar dari mulut sahabat-nya itu "sekarang dengarkan aku" lanjutnya

Sedikit bingung, itu yang di rasakan Mario "apa?" Tanya Mario lugu "ada hal yang penting?"

Berpikir sejenak berusaha menyusun kata apa yang bagus untuk dikatakan kepada pemuda di depannya "aku_" ia ragu ingin berkata, bahkan saat ini dengan gelisah riana mengigit bibirnya sangking terlalu grogi "aku.._"

Tentu saja Mario semakin kebingungan dibuatnya "aku apa? Kau kenapa?" ujar Mario tersirat sekali gurat kekhawatiran di wajahnya "kau ada masalah huh?"

"aku akan pergi cukup jauh sebentar lagi" jawab riana mantap sukses membuat dunia Mario terhenti seketika akibat ucapannya "ya! Aku akan pergi jauh bersama dian sekitar dua hari lagi" jelasnya

"kapan kau akan_"

"dan mungkin aku takkan kembali lagi" jelas riana tahu pertanyaan apa yang akan terlontar dari sahabatnya itu

Tersenyum getir "pasti kau sedang bercandakan?" tuduh Mario lebih seperti permintaan "bercandamu tidak lucu riana" timpalnya berusaha, tampak sekali berusaha tertawa walaupun terlihat kering.

Dengan helaan napas panjang riana segera menjawab " aku serius Mario" jelasnya berintonasi lembut menegaskan bahwa ia sedang tidak berbohong saat ini "senang bisa mengenal bahkan bisa bersahabat dengan mu selama ini Mario" ujarnya semakin membuat hati Mario terenyuh pedih "aku akan dengan bangga mengatakan dengan semua orang bahwa aku pernah memiliki seorang sahabat sepertimu"

Masih tetap tertawa kering bahkan semakin nyaring dengan mata tak bisa berbohong bahwa saat ini ia sedang terpukul sekaligus sedih mendengar pernyataan riana "sudahlah riana!" tukas Mario meninju pelan bahu sahabatnya "hentikan candaan mengerikanmu itu" lanjutnya membuat riana tak bisa untuk tidak meneteskan air matanya "kau tahu bukan aku sangat tidak menyukai perpisahan dan kau sendiri yang mengajari ku bukan?"

"terkadang ada kalanya kau harus melepaskan sahabatmu untuk pergi Mario,"lirihnya "akupun baru menyadari hal itu" ujar riana tersenyum getir sekaligus menyentuh pipi pria di hadapannya "dan membiarkannya untuk melihat dunia" tandasnya melepaskan sentuhan di pipi sembari menepuk halus pundak Mario mencoba untuk memberi pengertian.

"tapi kenapa?" Tanya Mario masih belum bisa menerima keadaan "saat aku sadar bahwa aku_"

"kau akan bahagia bersama Erika" teduh riana menatap pria di depannya sadar hal yang tak baik akan keluar dari mulut sahabatnya "dan aku akan hanya menjadi bagian kisah dari masa lalu-mu, sebagai seorang wanita yang menyatukan cintamu dengan cinta seorang wanita yang sangat cantik" lirihnya

Tergeleng tak terima "tidak! aku ingin mengatakan bahwa aku_"

"Ssst…" riana bergesture menutup bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya memberi isyarat untuk diam "perkataanmu takkan merubah apapun Mario"

"melainkan hanya menghancurkan semuanya, jadi aku mohon berbahagialah Mario" timpalnya dengan nada getir, jujur saja saat ini perkataannya bertolak belakang dengan hati nuraninya yang menjerit. Saat mengetahui pria di hadapannya setelah menunggu dengan penantian lama telah membalas perasaannya juga pada akhirnya "percayalah dimanapun aku berada, aku akan berbagia mendengar kabar pernikahanmu" tukas riana setelah menatap lama wajah pria yang diam-diam dia cintainya itu. Benar dia mencintai Mario, cinta yang tersembunyi apik di balik tabir persahabatan semu miliknya.

Setetes air matanya jatuh "kenapa kau pergi saat kau tahu perasaanku?" Tanya Mario tak habis pikir seraya mencoba mempertahankan harga dirinya untuk tidak menanggis sekarang"aku akan membatalkan pertunanganku, aku berjanji padamu. jika itu yang menjadi alasan kau tak ingin bersamaku" memegang lembut pipi riana

"tidak…" tepis riana halus

.

Satu jawaban tegas riana membuat pemuda tampan itu terdiam dengan bibir terkatup rapat kaget akan sikap dinginnya

.

Tak terima dengan jawaban riana "kenapa? Apa kau tidak mencintaiku?" terdiam membisu itulah jawaban dari gadis di hadapan Mario, wanita mengabaikannya saat dia sangatlah membutuhkan kejelasan "jawab! Kenapa kau terdiam!" Tanya Mario mencengkram lengan riana dengan erat dan menguncangnya "kalau kau tidak mencintaiku setidaknya kau menyayangiku bukan?! Itu saja sudah cukup bagiku riana! Sudah cukup"

"tidak"

.

" karena aku_" perkataan riana membuat Mario berhenti menguncang tubuhnya

.

"sama sekali_" jangan! Jangan katakan itu riana! Aku mohon!

.

"tidak mencintaimu ataupun menyayangimu" terhenti. Waktu kembali terhenti, semuanya terhenti. Bahkan Mario tak mampu berbicara lagi setelah pernyataan itu, ia hanya terdiam membeku bahkan saat riana mulai pergi menjauh.

Dengan suara parau Mario berucap "apa kau yakin?" Tanya Mario terasa bodoh bertanya tak berbobot mengingat keadaan seperti ini, sedangkan riana dengan tangan kanan sedikit bergetar mengangkatnya dan memberi gesture okay membohongi tubuhnya yang bergetar menahan isakan tangis agar tak terdengar, setelah itu riana berlari menjauh meninggalkan Mario yang mulai terduduk lemah bersandar di pohon pinus yang menjadi saksi bisu beberapa saat tadi, menyaksikan hatinya patah untuk kedua kalinya sekaligus patah hati yang lebih menyakitkan dari sebelumnya.

.

aku sangat mencintaimu Mario! Sangat! Tapi_

.

Di waktu yang salah…

.

Grey

.

Sedikit mengerutkan alisnya " ini apa nick?" Tanya Mario bingung melihat surat-surat pendaftaran kuliah yang telah selesai, bahkan saat ini bola matanya hampir melompat dari lubangnya melihat bahwa namanyalah yang tertera sebagai mahasiswa baru di bagian jurusan hukum "APA KAU SUDAH GILA!" raung ganas Mario menatap nyalang sahabatnya tanpa basa-basi terlebih dahulu

"uhm, hampir" jawab nick santai seraya mengorek kupingnya dengan jari kelingking berusaha menghilangkan desingan yang menyakitkan dari teriakkan maut Mario sebelumnya "kalau kau berteriak sekali lagi mungkin aku akan menjadi orang gila sekaligus tuli saat ini" sinis nick menuai decihan jengkel dari teman ngobrolnya

Sedikit menolehkan pandangan kearah berkas-berkas kuliahnya dan segera memandang nick kembali "jadi bagaimana dengan perusahaanku?" Tanya Mario datar mulai menguasai emosinya"kau mengirimku kuliah dan membuat perusahaanku akan jatuh bangkrut dalam hitungan waktu tanpa pemimpin eh?" tukas Mario mangkel dengan tindakan semena-mena dari nick, bahkan kalau saat ini Mario sedang diruang kerjanya sendirian mungkin ia sudah menjabaki rambutnya hingga botak dan berteriak layaknya orang sakit jiwa akibat ulah pria laknat di sebelahnya, siapa yang akan mengurus perusahaan ini batin Mario semakin histeris tak tersampaikan ataupun tersuarakan dari bibirnya

"tenanglah, kau masih memiliki aku dan kla itupun kalau kau masih menganggap kami ada" jawab nick terkesan seakan-akan bencana yang sedang ia buat hanyalah seperti anak kecil yang sedang kehilangan ompengnya "sekali-kali kau harus merasakan menjadi orang muda man yah _walaupun kau sudah tua dan berpredikat sarjana tiga ,tapi ber-ackting-lah menjadi mahasiswa baru, karena aku sudah menyogok dosen gemuk itu untuk memalsukan semua datamu" seraya mempertegas dengan membentuk tanda dua petik menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya ,hebat! Pria dihadapan Mario ini sudah seperti kepala agen FBI sedang mengirim anak buah terpacayanya untuk menyelidiki suatu case besar, great! Tindakan pria bernama nick itu hampir berhasil membuat Mario ingin menghantamkan kepalanya kedinding terdekat "jadi menyamarlah dengan baik! Karena aku tak ingin membuang uangku sia-sia kau tahu!"

"whatever" desah Mario memutar bola matanya jengah, merasa sadar bahwa berdebat argument dengan nick sama saja dengan mempertanyakan apakah tomat itu termasuk buah atau sayur "awas saja kalau kau membuat perusahaanku bangkrut"

"maka aku akan mencincang mu hidup-hidup" ujar pemuda tampan yang baru masuk membawa bingkai lukisan "tenang itu bukan masalah, aku akan senang hati membantumu mencincang nick" tawar kla tersenyum miring kearah Mario seraya meletak bingkai lukisan di tangannya dekat meja tamu.

Menoleh cepat melihat siapa lagi tamunya di pagi ini, mungkin saja tak kalah gila dari nick "ah_kau kla" sapa Mario sadar siapa tamunya, dan bisa dipastikan beberapa saat kedepan akan ikut mengobrol gila bersamanya "selamat datang," sambut Mario tersenyum miring

"terimakasih sambutannya" balas kla melirik galak kearah Mario "matamu sama sekali tak menyukai kehadiranku" tuduh kla

Sedikit terkekeh nick menanggapi tuduhan kla "itu hanya perasaanmu saja kla"

"anggap begitu" balas kla tak kalah galak sembari melirik sengit kearah nick, lihatlah pria bajingan tengik itu batin kla emosi. Karena dialah sekarang dirinya harus terjebak dengan pemuda berkepribadian ganda gagal move on seperti Mario dan tentunya dengan pemuda tak kalah aneh seperti dia_nick_ ah god! Apakah ada lagi yang lebih buruk? Tentu saja ada! Sekarang yang pergi ke Italy adalah nuth Bersama alan dan bukanlah dirinya god! Astaga sudah dua kali ia menyebut god ,ketiga kalinya mungkin ia akan menggunduli rambutnya dan menjadi biksu di suatu kuil nanti"hentikan seringai menyebalkanmu itu nick, jangan buat dirimu terlihat seperti malaikat berbanding dengan akal bulusmu yang seperti iblis iitu" sinis kla

Waw nick merasa tersanjung dengan sebuah senyum kemenangan tercetak apik di bibirnya "aku bangga dengan pujianmu" respons nick penuh rasa percaya diri "pujianmu semakin membuatku semangat untuk semakin menyiksamu disini"

"so I must worries fucking Sherlock?"

"cukup! Hentikan debat tak penting kalian ini" sela Mario yang sejak beberapa saat tadi menonton tanpa popcorn antara kubu kla dengan nick saling melempari kalimat yang cukup retoris untuk di dengar di pagi hari "dan mulai pikirkan apa kalian yakin bisa mengurus perusahaanku ini? Kalian paham bukan ini bukanlah perkara mudah, apalagi setiap saat banyak perusahaan asing ingin berinvestasi disini dan kalian harus membuat keputusan besar setiap saatnya dalam mengadakan kerjasama atau perusahaan akan mengalami kebangkrutan besar-besaran" terang Mario panjang dan pastinya lebar dengan nada serius layaknya seorang guru sejarah yang sedang menceritakan betapa mengerikannya perang rumah tangga ah tidak maksudnya dunia kedua "sedangkan kalian berdua_" lirik kenan dan kekiri menghentikan perkataannya

"apa?" Tanya nick dan kla serentak curiga dengan nada Mario yang seakan mencemooh mereka berdua secara tak langsung

"sama sekali tak memiliki pengetahuan apapun tentang bisnis" desah Mario lelah "nick kau adalah artis terkenal dengan segudang fans wanita yang cukup idiot karena memujamu" diangguki setuju kla "sedangkan kla kau seorang pelukis handal ,tapi apa gunanya bakatmu di perusahaan? Bahkan kau akan masuk ICU saat mendengar total kerugian maupun keuntungan yang terjadi" astaga perkataannya sangat pedas, begini juga aku paham tahu dengan uang batin kla sewot

Mendengus jengkel "hey_begini-begini juga aku sudah sarjana kedokteran kau paham?" reflek nick tak terima di remehkan, bukannya takjub tapi membuat kla bersama Mario semakin drop menyadari dokter seperti apakah nick itu.

"dokter hewan" respon cepat Mario bersama kla dengan nada bosan

Lirik kanan kiri "setidaknya aku seorang dokter dan cukup laku di pasaran" cicit nick tetap keukuh bangga dengan predikatnya, membuat Mario harus memijat keningnya sakit.

"sudahlah! Pokoknya kau harus percaya padaku bersama kla!" tegas nick tak mau memperpanjang mukadimah yang dipastikan akan semakin melukai harga dirinya maupun kla akibat kicauan pedas milik Mario "sekarang pergilah! Namamu tetap Mario itu saja yang perlu kau ingat dan berbahagialah disana! Jangan nakal dan dengarkan perkataan dosen" tegasnya mengusir Mario dari ruangannya sendiri dengan mendorong halus(baca: kasar) keluar pintu, tentu saja sang korban berusaha meronta menolak "dan ingat usiamu bukan duapuluh delapan tahun, melainkan dua puluh satu" ingatnya dan blampintu ruangan di tutup melempar keluar sang presdir menjadi mahasiswa lagi

"sekarang apa?" Tanya kla menatap sahabatnya dengan pandangan sulit di artikan

"entahlah," jawab nick tak kalah bingung "mulailah dengan menelpon song sekarang" ujar nick santai dan membaca-baca berkas perusahaan yang sangat menyakitkan matanya

"terserah kau saja"

.

Grey

.

Sedikit mengerutu, tidak ia bahkan sejak tadi mengerutu menyumpah serapahi pria bernama nick itu bila mengingat makhluk biadap itu membuatnya kembali mengenakan seragam putih hitam itu lagi, for god sake! Come on man ,Yang benar saja?! Masa ia harus mengenakan kembali pakaian ini lagi?, great Mario kau sangat tampan menggunakan pakaian ini puji sinis Mario Ke diri sendiri. Dengan bermalas-malasan ia menaiki sepedanya menuju universitas ternama di Bangkok, lumayan juga nick memilih tempat kuliahnya_lumayan jauh. Kayuh-kayuh terus mengayuh membelah jalan akhirnya iapun telah sampai di depan gerbang universitas, not bad batin Mario santai dan mulai masuk kedalam pelataran kampus hingga sebuah teriakan mengerikan mengagetkan. Dan sekarang lihatlah dirinya_

Lihat dari bawah keatas kembali lagi dari atas kebawah "kau cocok mengenakan pakaian piama anjing itu teman" sindir seorang gadis cantik di sebelahnya membuat wajah Mario mengerut jengkel "kau terlihat semakin tampan" ejeknya terkekeh pelan

Mendengus kesal "terimakasih ejekannya" tanggap Mario datar malas berdebat tak penting dengan wanita di sebelahnya ,dan mulai mendengarkan para senior bercuap-cuap layaknya kodok meminta hujan di depan untuk memperkenalkan kampus kepada seluruh mahasiswa baru termasuk dirinya.

Sedikit menempel kebahu Mario berusaha mengajak mengobrol mengingat mereka berdua duduk bersebelahan "hey_namamu siapa? Aku june" kenalnya berbisik pelan agar tidak kedengaran senior di depan.

Melirik sebentar kesamping "aku Mario" jawab Mario terkesan datar membuat gadis di sebelahnya cemberut jengkel dan memeganggi ekor miliknya, maksudnya ekor kostum anjing yang ia kenakan sekarang "kau berharap aku beteriak layaknya anjing huh?" sindir Mario melihat gadis di sebelahnya semakin asik meremas ekornya

"aku harap itu bisa terjadi" respon gadis bernama june itu cepat "dan aku ingin lihat seperti apa wajahmu" gencar meremas ekor di tangannya menuai plototan jengkel pria yang baru bebarapa saat tadi di kenalnya

"takkan pernah berubah"

Sebenarnya june ingin membalas perkataan pemuda dingin di sebelahnya sebelum suaranya di intrupsi para senior yang entah sejak kapan mulai mengajak seluruh mahasiswa untuk bermain game bersama, astaga! Permainan yang akan di lakukan adalah kucing anjing dengan anjingnya tak lain tak bukan adalah pemuda di sebelahnya. Lama mereka melakukan permainan pindah dadu dengan pemegang dadu terakhir saat music berhenti adalah yang kalah, sudah tidak perlu kaget lagi_ bahkan june tidak terkejut saat dirinya yang harus menjadi kitty mengingat ia selalulah bernasib buruk bila bermain permainan seperti ini. Permainan berlalu seru dengan dirinya dikejar-kejar anjing tampan seperti Mario ah_ lebih membahagiakan lagi bila dalam kenyataan ia juga tetap di kejar-kejar pemuda tampan itu, namun segera jiwanya di tarik dari dunia khayal mimpi dengan di temani para malaikat tampan, akibat kesenangannya harus berakhir saat hari sudah mulai sore dan seluruh mahasiswa baru di bubarkan untuk pulang sekaligus menandakan masa ospek mereka sudah berakhir untuk hari ini.

Menyenggol pemuda yang sedang berkostum anjing dengan sikunya "hari ini menyenangkan" ujar june santai "kau bermain dengan hebat sebagai anjing" puji june entah itu benar-benar pujian atau hinaan batin Mario skeptic "aku pergi dulu ya" ujarnya lagi meletakkan pakaian kucing yang entah sejak kapan sudah terlepas dari tubuh wanita itu.

"uhm_" angguk Mario paham membiarkan gadis itu mulai berlalu menuju sepedanya meninggalkan dia "hati-hati di jalan" ucap Mario pelan kearah gadis itu yang sudah menaiki sepedanya, bahkan iapun tak yakin wanita itu bisa mendengar ucapannya yang hampir mirip seperti bisikan

"terima kasih atas perhatianmu" lalu gadis itu tersenyum cerah membuat Mario melongo bahwa wanita itu mendengar perkataannya dan dia mulai menjauh untuk pergi

"dia memiliki pendengaran yang bagus"

.

Grey

.

"tentu saja aku memiliki pendengaran yang bagus"

.

"ayolah, bagaimana dengan kulaih mu hm?" Tanya seseorang di seberang sana layaknya orang tua penuh perhatian

.

Sedikit melirik kekiri-kenan hendak menyebrang dengan sudut matanya yang tajam "not bad, tadi kami bersenang-senang" jawab Mario setelah berhasil menyebrangi jalan dengan selamat bersama sepedanya

.

Terdengar suara kekehan bangga di sana "benarkan? Kau itu memang harus menghibur dirimu" bangga pemuda di telpon "karena aku benar-benar tahu apa yang terbaik untuk mu Mario" sombongnya

.

Mendengus bosan mendengar kesombongan sahabatnya "anggap dirimu benar nick" jawab Mario seraya mengayuh santai sepedanya menikmati langit sore "bagaimana keadaanmu disana dengan perusahaanku? Semuanya berjalan lancar?" Tanya-nya sedikit khawatir dengan keadaan sahabatnya yang mendadak jadi presdir itu.

.

"sedikit kerepotan tap-_hey cepat sedikit!ada rapat!_sebentar! Aku ada telpon!" tampak sekali disana sangat ricuh layaknya pasar ikan batin Mario "nanti aku telp..tut..tut.." menuai desahan pelan membayangkan seperti apa keadaan nick bersama kla di kantornya saat ini. Mengendikkan bahunya. Mario-pun mulai mengayuh sepada sedikit cepat hendak pulang, sebelum matanya bersibobrok dengan sosok seorang wanita yang sangat di kenal hendak menuju kestasiun kereta dengan masih mengenakan pakaian tadi dan masih dengan sepeda tadi juga, sedikit cepat Mario segera membanting setir sepedanya berbelok untuk mengejar gadis itu sebelum tertinggal jauh.

"hey tunggu!" teriak Mario meminta seseorang didepannya untuk mengurangi kecepatannya sambil mengayuh sepadanya semakin cepat untuk menyusul

Kaget tentu saja, segera june memandang kebelakang " kau?" bingungnya melihat anjing,tidak maksudnya Mario sedang mengejarnya "kenapa disini?" Tanya june setelah pemuda itu berhasil menyamakan sepedanya dengan dirinya

Terengah-engah "kau hah_mau kemana sesore ini ke hah_stasiun kereta huh?" Tanya Mario masih dengan napas putus-putus

Paham akan pertanyaan Mario sedikit menekuk bibirnya kebawah dan menganggukkan kepalanya "oh..aku ingin pulang, kenapa? Kau mau ikut pulang bersamaku?"

"pulang?"

"iya pulang_" ulang june yakin dengan jawabannya "pulang kerumah" jelasnya lagi di balasi anggukkan bodoh dari pria di dekatnya

"jadi rumahmu tidak di sini" ujar Mario paham seraya memandang teman bicaranya "jadi kau tinggal dimana?" Tanya Mario turun dari sepeda dan mulai menuntunnya mengikuti yang di lakukan june

"ehm,_ naik kereta ini beberapa saat dan kita bersepada sebentar menuju dermaga" jelas june sembari menyungingkan senyum pepsodent-nya "lalu kita akan naik kapal, dan tara! Kau akan sampai di sweet my home-ku" timpalnya sumringah

Sungguh tak di percaya batin Mario "apa kau melakukan itu setiap harinya?" Tanya Mario penasaran, kalau gadis didekatnya akan mengatakan 'iya' maka dengan senang hati akan memberi nobel penghargaan sebagai wanita tahan banting. Memang sih kedengarannya kurang pantas bahkan terkesan kurang ajar but who cares?that was true, he need appreciated her power like horse, cause she could ride bike until home and that home very fucking far way man.

"tentu saja tidak!" dengus june tak percaya apa yang habis ia dengar, pulang balik katanya? Apa aku sudah gila melakukan itu setiap hari? "kadang-kadang saja, seperti ini_ aku harus membagi pengalamanku dengan kakakku jadinya aku harus pulang" menerangkan kesalah pahaman yang akan terjadi bila di biarkan menuai anggukkan paham dari pemuda di sebelahnya seraya masih tetap tersenyum berusaha tabah dengan pertanyaan gila sebelumnya.

"baiklah aku harus pergi sekarang kalau tidak mau ketinggalan kapal" ujar june cepat segera menuntun sepedanya agak cepat ,meninggalkan Mario yang sudah berhenti tepat di depan stasiun kereta "sampai ketemu lagi" lambai june semangat semakin menjauh dibalasi lambaian _ya! lambaian tangan dari Mario, astaga! Ini ajaib!

.

Grey

.

Pagi ini seperti biasanya, melihat mahasiswa maupun mahasiswi silih berganti memanjat, yah memanjat kalian memang tidak salah baca. Salahkan kuliah ini memiliki peraturan dengan system terlalu ketat ,melebihi rok mini yang selalu di kenakan dosen kimia tanpa sadar diri bahwa ia sebentar lagi akan habis tanggal expired-nya, membuat gadis cantik bernama june drop sendiri dengan perumpamaannya.

"hah_" desah june lelah menyesal dia pergi dengan sang kakak untuk membeli barang hingga larut tadi malam, bila tahu hal seperti ini akan terjadi "mere_"

"-merepotkan" siapa yang mencuri perkataanku? Lirak-lirik layaknya maling kelas teri hendak mencuri kaos kaki bekas, itulah yang di lakukan june saat ini hendak mencari asal suara hingga ia bisa menangkap sosok yang tadi bersuara

Sedikit tersenyum entah itu senang atau apa karena memiliki teman sepenangungan "kau juga terlambat di hari pertama ya?" Tanya june dengan nada terdengar sangat riang membuat alis pemuda yang diajak ngobrol berkedut kesal "santai saja," ujarnya seakan terlambat seperti saat ini bukanlah masalah besar, semakin membuat alis pemuda di sebelahnya berkedut-kedut ganas "dulu saat aku di senior school aku juga sering seperti ini" bangganya membuat pria bernama Mario yang sejak tadi mendengarkan mendesah lelah, lelah sendiri emosi menghadapi wanita di sampingnya

"itu bukan hal yang bisa di banggakan" dengus Mario sarkas mulai mengambil ancang-ancang hendak memanjat pagar sama seperti yang di lakukan gadis yang tadi mengoceh betapa membanggakannya dirinya di senior school dikala memanjat pagar.

"aku tahu_" tanggap june "tapi itu adalah hal paling hebat bukan" see_ "seorang wanita setiap harinya memanjat pagar sekolah" perkataanya hampir membuat Mario kehilangan keseimbangan akibat kaget akan kelakuan yang membanggakanjune.

"anggap itu keren" balas Mario singkat dan melompat turun pagar hendak segera berlari keruangannya.

Memandang teman bicaranya berlari mendahului "hey dimana sopan santunmu dengan perempuan!" jerit june nyaring berhasil menghentikan lari pemuda tampan tersebut "tunggu aku!" jeritnya di ikuti seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang berhasil memanjat dan turun dengan selamat tanpa cidera, mungkin?

"apa tindakan yang kalian lakukan benar?" Tanya dosen pria berwajah super duper kecut dari jeruk nipis manapun menusuk relung, sukses membuat june keringat panas dingin " Mr. Mario dan Mrs. June?" tegasnya

"tit_tidak pak" jawab june gagap dengan suara hampir seperti cicitan korban psikobat, sedangkan Mario hanya diam dan datar. Jujur saja sikap Mario sangat menakjubkan berbanding terbalik dengan june yang terlihat ketakutan, mungkin bila saat ini jika usia june barulah empat atau lima tahun bisa di pastikan ia sudah ngompol di celana mendengar suara sang dosen sejak tadi.

Melirik kedua pemuda-pemudi itu sebentar "kalian ku persilahkan duduk hari ini" ujar sang dosen menuai desahan lega june yang malang tersebut "tapi_" hufh_tampaknya belum_ "tidak ada yang terlepas dari hukumanku, walaupun kalian adalah mahasiswa baru" tegas sang dosen sontak meruntuhkan semangat yang baru terbangun di jiwa june sebelumnya,

Saling melirik satu sama lain menunggu ultimatum sang dosen "kalian saya hukum untuk membersihkan lapangan olahraga" putusnya hampir mencabut arwah june detik itu juga, sadar akan seberapa besarnya lapangan olahraga minus Mario yang tak tahu sama sekali tentang hal itu "atau nilai kalian aku jamin D di akhir semester" bagai di sambar petir, akan tetapi Mario masih tenang datar adem ayem mendengar ocehan sang dosen layaknya anak durhaka yang tak terpengaruh sumpah serapah sang ibu ,seolah-olah ia terlahir kebal akan hal itu.

"baiklah pak" jawab Mario singkat berhasil mengontrol rasa takutnya dan di lain pihak june memplototinya hendak memprotes jawabannya, namun segera Mario mengandeng lengan gadis itu segera duduk tak memberi kesempatan menyuarakan protesannya.

.

Melihat semuanya terlihat aman "kau sudah gila! menyetujui hukuman dosen sialan itu?" jerit halus june tak habis pikir "kau pasti akan menyesal setelah melihat seberapa luasnya lapangan itu" bisiknya lagi mendengus kesal kearah pemuda di sampingnya

"maaf, aku tak tertarik menyiram bensin di api yang menyala" ujar Mario menanggapi perkataan june tenang mendapat tanggapan plototan galak secara gratis "kalau kau memprotesnya sekarang maka tak akan merubah apapun, melainkan dia hanya akan semakin mempersulit keadaan kita saja" jelas Mario

"jadi tenanglah"

"great, bagaimana mungkin aku bisa tenang" balas june ketar-ketir membayangkan ia romusha mencabuti rumput di lapangan olahraga, apalagi hanya berdua! Ya hanya berdua god! Safe me!. Akan tetapi lihat pria di sebelahnya begitu terlihat tenang seakan hukuman dosen layaknya angin lalu baginya batin june, setidaknya takut atau khawatirlah sedikit! Astaga jeritnya histeris.

And then itu adalah segelintir kisah nista pro dan kontra yang dialami june secara hiperbola bertolak belakang dengan Mario, terlepas dari itu semua pelajaran tetap berlanjut dengan khidmat saat sang dosen berkicau tentang apapun itu didepan sama sekali tak di perhatikan. Sesekali dari mereka mengadakan sesi Tanya jawab dan pihak yang bertanya hanya Mario dan Mario ,tidak adalagi yang bertanya selain Mario ,bahkan sang dosen mengalami sedikit kendala menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis yang di lemparkan pemuda itu. June menatap kagum kearah pria tampan yang luar biasa pintarnya, yeah_ bila sekarang ada sesi puji memuji maka tak segan-segan ia akan mengatakan perfecto y're awesome man! Sayangnya sesi seperti itu takkan pernah ada. Waktu berlalu terasa lambat, bahkan acara Tanya bertanya semakin sengit menambah panas ruangan dengan penonton terpaksanya sekitar duapuluhan mahasiswa termasuk dirinya yang malang harus mengenyam kosakata terlalu berat, terus terang saja di yakini june sama sekali takkan masuk kedalam otak mereka semua. God! Ternyata sang dosen sangat menyayangi kelas ini akibat kecerdasan Mario keluh june tak berhenti mengeluh sejak tadi seraya sesekali melirik jam di tangannya dan mulai menghela napas panjang kembali. Kapan siksaan ini akan berakhir?

"baiklah kelas kita hari ini berakhir" ujar sang dosen dengan keringat sedikit membasahi keningnya, sontak mengundang desahan ber-euphoria kebahagian dari seluruh penjuru dan sendi-sendi kelas "dan saya suka dengan pemikiranmu Mr. Mario" senyumnya sekaligus memuji, tak menyangka ada mahasiswa yang memiliki wawasan seluas itu hanya di balasi anggukkan ramah dari Mario sendiri sembari tersenyum bisnis kearah sang dosen.

Menatap sang dosen sudah tampak pergi menjauh "bravo! kenapa kau tidak mengobrol dengannya seharian" sindir june kesal dua jam lebih mendengar hal yang jujur saja ia tak tahu apa isinya, setiap kosa katanya terlalu berat untuk di pahami "mungkin saja aku akan mendadak gila di hari pertamaku belajar" di balasi senyum datar Mario

.

Grey

.

Sore itu terlihat dua insan berbeda gender berjalan menuju lapangan olahraga kampus, ternyata tidak hanya mereka saja yang mencabut rumput disini, seluruh mahasiswa yang telat tadi pagi semuanya di lapangan olahraga mencabut rumput tanpa terkecuali saat ini,walaupun sakit mereka semua tetap dikumpulkan disini dengan kondisi cukup mengenaskan 'terkapar tidak manusiawi'. Sedikit bernafas lega karena tidak hanya dirinya yang mencabut rumput ,segera june mengulung lengan bajunya dan mulai mencabuti bulu bumi itu dengan semangat empat lima berlatarkan kobaran api neraka jahanam di belakangnya. Cabut sana- cabut sini_ june sudah terlihat seperti buruh romusha dengan wajah kotor disana-sini, hendak melirik berapa banyak temannya yang tersisa mencabut rumput dan bloody hell pria di sebelahnya masih terlihat bersih,rapi dan tentunya tampan tanpa sedikit-pun terlihat noda kotor di bajunya maupun di wajahnya sontak membuat june naik pitam dengan perilaku Mario yang terlalu biadap untuk takaran teman, come on! Fifteen minute he just still saw other side like major!.

"hey! Kau juga di hukum!" sergah june meraung ganas kearah Mario yang masih tetap mempertahankan gaya angkuhnya dengan memasukkan kedua tangan di saku celana tak perduli "jadi berhentilah bergaya karena tidak akan ada yang ingin memotretmu!" tegasnya tidak bisa dikatakan benar karena banyaknya mahasiswi yang tertawa cekikikan di pojok sana setelah memotret Mario diam-diam, memberi jawaban jelas untuk perkataan june yang salah besar "me_mereka itu sedang memotret pemandangan, bukan dirimu" cicit june tetap keras dan di balasi tatapan 'kau yakin?' dari Mario.

Mendesah pelan "aku asisten dosen, dan aku di beri tahu bahwa aku bebas dari hukuman" jawaban enteng Mario hampir menghilangkan arwah june beberapa saat "dan sekarang aku di beri tugas saat ini untuk mengawasimu dan yang lainnya agar membersihkan lapangan sekaligus memastikan tidak ada yang kabur" god! Aku ingin bunuh diri, apa ada rumput beracun disini? Batin june tidak percaya apa yang barusan dia dengar. Dalam sehari pemuda di depannya sudah menjadi asisten dosen! Astaga! Ini pasti ada kesalahan teriak batin june dramatis.

"tidak ada yang salah" jawab Mario seakan tahu apa yang di pikirkan gadis disampingnya

"bagaimana bisa kau tahu isi pikiranku?kau seorang peramal atau_"

"semua terbaca di wajah bodohmu itu" potong Mario cepat menuai desahan jengkel dari gadis bernama june

Setelah membicarakan hal yang sangat memedihkan perasaan june, akhirnya semua kembali bekerja dengan june mencabut rumput dan Mario mengawas jeli keseluruh penjuru hingga acara bersih-bersih selesai. Namun mahasiswi mayoritas sangat bahagia karena dihukum, batin mereka bersamaan bersyukur bila tidak dihukum saat ini tidak mungkin mereka bisa melihat sang asisten baru dosen yang sangat menggoda seperti Mario, yah maklumlah asisten dosen itu biasanya rentan dengan kata culun atau basa gaulnya nerd or freak style. Dasar gadis idiot desis pelan salah satu mahasiswi yang tak sependapat dengan mereka semua. June.

.

Grey

.

Seminggu sudah Mario kuliah di universitas ini dan seminggu juga ia sudah menjadi orang populer di kalangan kaum hawa_that nice sound right?. Saat ini Mario terlihat sedang menarik napas panjang lalu mulai menapaki koridor kampus penuh rasa percaya diri. melirik kesisi kanan dan kiri terlihat penuh dengan tatapan kagum dari beberapa gadis labil kearah dirinya seperti biasa, well not bad untuk membuat mood Mario melambung tinggi sangking bangganya akhir-akhir ini, tak disangka ternyata ia cukup tampan juga bila hanya untuk sekedar mengaet salah satu gadis-gadis manis di kampus batin Mario narsis tak urung menuai senyum bangga miliknya walaupun terkadang ia merasa sedikit terganggu. Sedangkan di lain pihak lihatlah keadaan june, jujur ia terlihat tidak baik sekarang_ menyedihkan mungkin adalah kata yang pantas melukiskan dirinya saat ini. Sesekali ia tampak mendesah lelah dan berjalan lunglai sempoyongan seperti hidup segan mati tolong di percepat, tentu semua itu pasti memiliki alasan dan di kasus ini hal itu diakibatkan karena setiap harinya saat menjejaki kampus seperti sekarang ia selalu disambut dengan tatapan mesra beraroma cabul nan mesum dari beberapa mahasiswa buruk rupa ataupun culun bergigi menantang gravitasi, bahkan beberapa kali makhluk buruk rupa itu dengan berani bersiul nyaring berusaha mencari perhatiannya. Ewww hell now! Mereka menjijikan gedik bahu june merasa geli_Kenapa ini terjadi padaku ya tuhan?! Kenapa nasib buruk tak pernah bosan menyayangiku? setidaknya sekali saja kumohon berilah aku nasib yang mujur dan mengirimkan pemuda tampan nan seksi untuk menghampiri ku_aku pasti akan sangat bersyukur denganmu. Itulah sekelebat raung nestapa jiwa jomblo yang tak pernah di siram dengan hujan cinta milik june. gersang dan tandus. Masih tetap dengan suasana suram, gadis itu berjalan menaburkan kutukan sarat akan penderitaan bagi orang disekitarnya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajad dengan Mario tadi. Coba saja ada yang menganggunya! Maka tak segan june akan mengutuknya menjadi batu layaknya dewi medusa. Serem? Banget.

Tabrak, serempet, dan ringsek itulah yang terjadi antara june dengan seorang gadis "besok kalau berlari usahakan memasang rem dikakimu dengan baik" amuk june tanpa tahu siapa penabrak nista hingga membuat ia ringsek di dekat dinding dengan keadaan artistik seperti ini.

Sedikit gelagapan segera gadis yang menabrak menolongnya untuk berdiri "syukurlah kau disini june!" antusias gadis entah siapa itu mengabaikan perkataan june sebelumnya "aku ingin menunjukkan sesuatu denganmu!" tegasnya lagi bergerak super gelisah seperti kebelet pipis selama sebulan.

Menekukkan alisnya seraya merapikan rambutnya yang berantakkan"apa yang ingin kau tunjukkan padaku nita?" pertanyaan june tak lantas di jawab "ayo kataka_uwaaa!" tanpa menjawab ataupun mendengarkan perkataan june sampai habis ,gadis bernama nita itu menyeretnya membabi buta tanpa berperi penyeretan. Bagus lihat seperti apa penampilanku nanti karena sahabat gilanya ini sarkas june kedirinya sendiri.

Sesampainya di TKP june hanya mendengus menatap makhluk yang sudah bisa di tebak siapa orangnya, sama sekali tak terlihat kaget. Di seberang sana terlihat seorang pemuda tampan tengah tebar-tebar pesona bak model professional dengan angkuhnya melewati beberapa gadis yang harus klepek-klepek akan pesonanya, andai saja ini sebuah komik-komik diangkat ke anime bisa di pastikan Mario saat ini menjadi tokoh pangeran pemeran utama yang sedang berlalu di itari bermacam-macam bunga entah apa saja namanya ataupun jenisnya, serta memiliki kulit putih licin berbinar bak model iklan sabun mandi sering di iklankan TV dengan moto menghilangkan daki sekali gosok dimata gadis tak waras itu batin june pedas melihat temannya, yeah teman yang terlalu tampan.

"jadi ini yang ingin kau tunjukkan padaku sepagi ini" murka june kearah nita dengan ganas, ia sudah rela di seret dalam keadaan lari kesrimpet-srimpet hanya demi melihat pemuda sok tampan itu tebar umpan kearah lautan wanita idiot. Cukup! Ini sudah cukup teriak inner june naik tensi

"bukan june!" sergah nita tak kalah ganas tanpa tahu kondisi dan situasi yang sedang terjadi "kau lihat!" ujar nita menunjuk liar kearah Mario seraya menarik ganas wajah june untuk melihat pemuda itu juga "dia tersenyum! Dia tersenyum june! Mario tersenyum!" teriak nita semangat sekali melihat kearah Mario yang sedang tersenyum charming tak jauh beda dengan wanita idiot yang di lihat june di sebrang sana "tampan bukan dia june!" tandasnya

"jadi hanya itu yang ingin kau tunjukkan" lirih june

"iyap_" balas nita mantap menatap sang sahabat

"Mario di tambah senyum itu sudah biasa teman," desah june meraup wajahnya gusar dengan sebelah tangan "dia juga seorang manusia, tentu saja dia bisa tersenyum" okay sekarang desis june seraya memegang bahu sang sahabat, sontak sukses membangkitkan alarm bahaya di kepala nita untuk siaga satu menerima segala kemungkinan "JADI TAK USAH DI PERBESAR! KAU MENYERETKU DAN MEMASANG EKSPRESI SEAKAN-AKAN MARIO BARULAH MELECEHKAN DOSEN BANCI JURUSAN SENI! BERHENTILAH HIPERBOLA TENTANG PEMUDA ITU NITA!" raung ganas june mengema di seluruh penjuru bahkan lengkingannya sampai mengemparkan beberapa ruangan di sekitar teriakkan, sedangkan di sisi lain sang pelaku menutup telinganya rapat-rapat awas-awas akan menderita tuli mendadak akibat teriakkan merdu sang sahabat.

Cengar-cengir malu "maaf_" cicitnya memasang wajah seimut mungkin agar si gadis singa di hadapannya luluh " kau taukan aku sangat-sangat menyukai mar_"

"sudahlah_" sela june datar hendak berlalu meninggalkan kalimat yang akan berujung kirim salam untuk Mario

Kaget di tinggalkan segera nita mengejar langkah sang sahabat yang mulai menjauh darinya "hey! June!" teriaknya berlari kecil menyusul ketertinggalannya.

.

Grey

.

Setress di pagi hari itulah yang dialami june dan setress itu keseret-seret hingga keseluruh mata kuliah yang masuk, bahkan rasa setress ini semakin menjadi-jadi dikala iblis yang membuat ia dalam keadaan seperti ini tepat duduk di sebelahnya. Great! You are awesome god!. Hah_Kenapa juga ia memunyai materi yang sama dengannya?! ,Gondok melihat seseorang yang entah kau bisa sebut teman?sahabat? atau apalah terlihat duduk dengan santai mengenyam apapun materi yang di jelaskan dosen di depan, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun setelah merusak hari berharganya di wajah berengsek tampannya itu! Astaga kau tak boleh baper dengan wajahnya june! Kau bisa celaka! Batin gadis itu menyadari jiwa jomblo-nya yang kelewat baperan ngeliat cowok kece dikit_yah walaupun faktanya banyak.

"kau kenapa june?" Tanya Mario sedikit melirik gadis di sebelahnya "aku tau kau itu suram tapi hari ini kenapa kau semakin menuju kearah kelam huh?" pertanyaan yang tidak membantu terlempar apik membakar telinga wanita di sebelahnya

"berisik kau berengsek" caci june mangkel melirik sengit kearah Mario "kau takkan tahu siapa yang membuat hariku seperti ini" sambungnya dengan nada meruncing menusuk

Sedikit tersenyum tipis mendengar perkataan june "tentu saja aku tahu" balas Mario "aku bukan?, wahai nona malang" tandas Mario mengerlingkan sebelah matanya

"hahahaha" ejek tawa june pelan "lucu sekali" sinisnya

"lucu untukku _tidak untukmu"

"seharusnya kau itu tak perlu tebar pesona dari wajah buruk rupa mu itu, kau membuat mataku iritasi di pagi hari"

Melirik sekilas seraya menyungingkan senyum tertampan yang ia miliki "kau yakin aku membuat matamu iritasi" sukses membuat june memutar bola matanya jengah akibat perilaku pemuda di dekatnya yang memang sedikit ia akui memiliki daya pikat layaknya magnet. untuk para wanita termasuk dirinya, ingat hanya sedikit ia akui "atau kau mulai tertarik denganku" tuduh Mario menaikkan sebelah alisnya "tenang saja, kalau kau menyatakan perasaanmu denganku sekarang mungkin aku akan mempertimbangkanmu jadi kekasihku." tawar Mario menjadikan june dilema sendiri sekarang akibat korban rayuan pulau kelapa Mario "mumpung aku masih single"

"apa ada masalah penting sekali yang ingin kalian berdua bahas di depan sini Mario, june" panggil sang dosen

Tersenyum tipis "tidak buk, june hanya sedang menggodaku agar aku mau jadi kekasihnya" enteng Mario membuat june hampir mati tak bisa bernafas karena ucapan laknatnya

"tit..tidak buk_didia bohong" gagap june kuadrat dengan wajah merah sempurna kerena malu

"kau tak perlu berbohong june" sinis Mario menuai senyum tipis dosen wanita di depan

Tersenyum lembut "tenang saja june, dulu juga saya yang duluan menyatakan perasaan dengan suami saya" ramah sang dosen wanita yang sudah terlihat dewasa "tapi pilihlah waktu yang tepat untuk berbicara hati ke hati dengan Mario ok? Jangan campur adukkan dengan pelajaran" nasehatnya

"iya buk" skakmatt, june hanya bisa mengangguk dungu menerima seringai kemenangan Mario di sebelahnya.

.

Grey

.

Mata kuliah kedua telah selesai tepat pada pukul dua belas lebih dengan para mahasiswa dan mahasiswi tepar lelah setelah dosen bergenre matematika itu keluar penuh wibawa meninggalkan korbannya tergeletak menjijikkan di ruangan itu. cukup hiperbolanya, lihatlah kearah sosok seorang pemuda tampan sedang membujuk gadis yang tadi di mata kuliah pertama ia jahili hingga semurka ini, oh ayolah ia hanya ingin membuatnya tidak terlihat suram setiap saat namun tindakkannya malah semakin memperkeruh keadaan.

Memutar otaknya hingga lampu bohlam empat ratus watt menyala di kepala Mario " ayolah june berhenti marah dan kita makan di kantin ok?" bujuk Mario sebaik mungkin "aku yang traktir! Kau boleh pesan apa saja yang kau mau" timpalnya lagi sama sekali tak mengugah gairah gadis cantik itu, malahan saat ini ia di tatap skeptic dari gadis bernama june itu

"kau yakin ingin mentraktirku di_" jeda june membuat Mario menegukkan liurnya ketara sekali "kantin kampus?" Tanya june

"tentu saja" yakin Mario paham ucapan june "kau bebas makan apa saja di sana" jumawa Mario menunjukkan ATM dari dompetnya

"kau pernah kekantin kampus sebelumnya?"

Mengelengkan kepalanya, karena memang benar Mario belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di kampus selama ia disini, dia selalu makan di restoran me to the wah so jujur saja dia belum pernah makan di kantin kampus ini sama sekali tidak "tidak_"

"Hn- kalau begitu siapkan mental dan fisikmu." kata june penuh dengan nada ambigu

Mario yang tidak mengerti hanya mengaruk surai hitamnya malas.

Kenapa juga membutuhkan fisik dan mental? Mereka kan hanya kekantin. Mengantri , pesan, dapat makanan, di bawa duduk, kemudian telan, and voila beres semuanya.

But bloody hell man! Jiwa Mario terguncang begitu menjejakkan kakinya di kantin. Tempat itu bukan wilayah yang sering di tonton bersama teman-temannya di bioskop dimana seperti di film-film remaja ababil. Tidak ada mahasiswi cekikikan mesra seraya bergossip riang, maupun mahasiswa yang sibuk menggoda bibi-bibi kantin untuk mendapat diskonan tipikal anak kost. Kondisi kantinnya saat ini lebih menggenaskan di bandingkan perang dunia kedua. Bahkan Hitler-pun kalah sadis di bandingkan para mahasiswa yang sedang kelaparan.

Piring terhempas di lantai_

Gelas beradu dengan dinding terdekat_

Kain lap layaknya ketapel terlempar indah menutupi wajah entah siapa orangnya_

Mayat-mayat bergelimpangan menjijikan di lantai_

Para cewek menerjang_

Para cowok berjuang_

Hanya Mario-lah yang berinisiatif cerdas mengungsikan dirinya sendiri di pojokan kantin meringkuk dengan tatapan horror layaknya korban psikopat yang berhasil selamat. Sedangkan june?!

Oh bitch! -Don't asking where my underwear?!- gadis gila itu sudah masuk menyerobot antrian dengan indahnya, bak seorang atlet terlatih ia menghindari lembaran gelas Maupun piring dengan hebatnya, dan lihatlah ia bersalto cantik menghindari tangan-tangan para mahasiswa yang mencoba menjamah-jamah dirinya dengan nafsu. Mungkin bila Mario ada di sirkus saat ini bisa di pastikan ia akan melempari june dengan bergepok-gepok uang karena aksi memukaunya dan menawarinya untuk mengikuti sea games.

Tak mau kalah Mario pun mulai mengambil ancang-ancang untuk menerobos antrian and than_

Masuk_

Terlempar_

Masuk lagi_

Dan terlempar lagi_

Menirukan tindakkan june tadi, dan lihatlah apa yang terjadi? tangan mahasiswi yang ganas itu dengan bringasnya mengoyak-ngoyak kemeja nya seperti beruang betina di masa kawin, penuh dengan nafsu dan gairah. Bahkan dengan kalap mereka meraba habis-habisan tubuh Mario. Dan itu adalah sepenggal kisah tragis yang dialami Mario di dalam kantin sebelum mendapat sepiring makanan.

TERKUTUKLAH KANTIN INI!

Jerit batin Mario histeris tak menyangka akan semenyiksa ini hanya untuk mendapat sepiring makanan yang tak seberapa seperti ini. Terakhir kisah hari ini di tutup dengan raungan nestapa bermandikan derita dari Mario yang memperjuangkan makan siangnya.

.

Grey

.

Sore ini terlihat empat orang gadis sedang duduk-duduk santai berleha-leha di salah satu pohon rindang di bagian café berlokasikan sedikit jauh dari perkotaan, menikmati minuman mereka masing-masing. Di lihat-lihat mereka berempat tampak sedang mengerjakan tugas bersama dengan buku serta notebook terletak berantakkan diatas meja, sesekali salah satu dari mereka melihat buku sebentar lalu meletakkannya kembali dengan malas.

Mendesah lelah "menyebalkan sekali" keluh gadis yang tadi pagi menyeret june dengan tidak beperasaan "tugas ini menyakiti perasaanku"

"hentikan ocehan bodohmu nita" tukas gadis di sebelahnya "kau berkata seolah-olah tugas ini seperti mantan kekasihmu saja" timpalnya dingin

"hah_terlepas dari ini aku ingin sekali mencari jodoh" ujar santai gadis lain dengan wajah cantik "kau tahukan aku selalu sial dengan mendapatkan fans yang selalu buruk rupa" keluhnya dengan air wajah menderita

"ayolah june, mungkin itu sudah menjadi takdirmu untuk membantu memperbaiki keturunan mereka" rangkul gadis berkucir sumringah "benarkan Diana?" lanjutnya meminta pendapat

"exactly, perkataanmu benar sekali" balas Diana tersenyum tipis menuai rengutan masam milik june

"bagaimana dengan Mario?" Tanya sarah santai menatap tanya kearah june "dia calon kekasih yang menjanjikan, selain tampan… dia juga terlihat seksi" membuat teman di sampingnya mendesah uhhh_

"secara dia asisten dosen"

"dan kau gadis dungu,"

"dengan berpacaran dengannya kau bisa menyelamatkan nilaimu sekaligus mendapatkan cinta pertamamu"

"yup- itu bukan ide buruk, aku rela kok melepaskan Mario demimu" timpal nita se olah-olah dia sudah berpacaran dengan pemuda yang sedang di bahas saat ini

Berkedut kesal "kau kira aku ini apa?!" balas june mendengar kicauan kurang ajar dari para sahabat barunya ini "itu bukan cinta melainkan hanya memanfaatkan kepopularitas dan kepintarannya, tak lebih" jelas june "tak ada cinta di dalamnya girls"

Melirik sinis "aku tahu kau tertarik dengannya" tuding Diana tajam "kau saja yang selalu membohongi dirimu sendiri" dibalas anggukkan setuju dengan dua gadis yang lain

"hanya gadis dungu bermata buta yang tak mau dengan Mario, bahkan bibi-bibi kantin ataupun dosen wanita tua di fakultas bila di tawari Mario_ aku yakin mereka pasti takkan menolak" cibir nita "atau mungkin kau tak normal"

"ah sudahlah! Sebaiknya kita segera selesaikan tugas ini" seru june muak dengan pembahasan yang menyudutkannya "aku_aku ingin segera pulang dan tidur" tegasnya

"ohooo_kau satu kost denganku sobat"

"jadi sarah?"

"awas saja kalau kau tidak tidur nanti" deliknya mengancam kearah june "aku akan menamparmu hingga tertidur"

"ayolah, aku tak yakin dia akan tertarik denganku" desah june akhirnya pasrah dengan tekanan teman-temannya "kau tahukan dia itu ibarat bulan sedangkan aku hanya manusia biasa"

"maka kami akan menjadi roketmu untuk menuju bulan" semangat nita di setujui yang lainnya "tenang saja, yang kau butuhkan hanya sedikit perubahan di beberapa bidang ok?"

"uhm_ terserah kalian"

.

Grey

.

Di ruang sempit penuh sesak di dalam kost murah meriah milik june bersama sarah saat ini sedang di tamui dengan dua orang gadis berada bernama Diana dan nita dengan niatan membantu june, beberapa buku tips dan trick memikat pria dengan gelar top brands atau best seller mereka kumpulkan semuanya. Keempat gadis itu sepakat memilih salah satu buku sebagai kitab penerang dalam gelapnya labirin cinta, mereka sudah punya target? Ofcourse yes she had_rencana telah disusun dengan mengutamakan june sebagai prioritas agar bisa bersama dengan sang asisten dosen tertampan di fakultas. Planning akhirnya di finishing dengan ketikan akhir di selesaikan oleh Diana sebagai leader dalam geng baru ber slogan 'pantang pulang sebelum jadian' mungkin aneh, tapi slogan ini cukup mejanjikan untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus mendorong integritas para anggota agar berjiwa unstoptable menggapai sang pangeran impian.

.

Grey

.

'buatlah dirimu terlihat semenarik mungkin agar pandangannya tertuju kearahmu'

Menarik itulah adalah hal sedang di lakukan june saat ini, lihat dirinya sekarang_ ia sangat terlihat cantik dengan dress milik Diana, kalian bertanya apa june tak memiliki dress? Tentu saja tidak, daripada menghabiskan uang untuk membeli baju mewah_ lebih baik ia gunakan uangnya untuk mendanai biaya kuliah, hitung-hitung meringankan beban sang kakak.

"apa aku tidak terlihat aneh Diana?" Tanya june mencoba mengambarkan dirinya dalam balutan kain nista kekurangan bahan ini "aku rasa ini sedikit terlihat aneh" riskannya melirik kesetiap pria yang menatapnya dengan intensitas pandangan semakin cabul dari hari kemarin.

Sedikit berdecak "abaikan gadis bodoh, itu hanya perasaanmu" santai diana menyemangati june "percayalah bahwa dirimu sempurna" tukas diana penuh penekanan tak ingin di bantah "kau seperti gadis kampung baru pindahan saja" timpalnya meyindir.

"hehehehe" tawa hambar june mendengar penuturan diana cukup menyakiti hati polosnya

Yah_ mungkin dari sekarang june harus mulai terbiasa dengan penampilan barunya seperti saat ini, feminism dan yang pastinya bernuansa girly abis. Semoga saja ia bisa mengaet beberapa pria tampan diluar sana kalau Mario tak melirik kearahnya, bukannya berharap_ tapi kalau bisa june ingin Mario-lah yang meliriknya. Cengar-cengir sendiri selama berjalan melewati koridor fakultas tak urung menuai cubitan sayang dari diana mengigatkan bahwa dia sedang dalam lingkungan umum dan jangan bertindak seperti gadis gila untuk saat ini, and akhirnya june kembali lagi menata ekspresi wajahnya agar terlihat anggun penuh wibawa seperti gadis cantik di sebelahnya.

.

Jujur saja selama seharian ini banyak sekali pria yang meliriknya, seakan-akan dirinya adalah anak baru disini sehingga banyak mahasiswa yang memperhatikannya. Bahkan saat ini tidak saja yang jelek, beberapa senior tampan-pun mulai meliriknya sontak membuat gadis cantik berbalut dress pinjaman ini semakin melambung senang keawang-awang. Sedikit malu-malu ia melewati senior-senior tampan yang sedang duduk bersiul semangat ketika ia lewat, mulai detik ini june bersumpah akan mulai membiasakan diri di perlakukan seperti ini oleh pria-pria tampan. Thanks god! Kau telah mengabulkan harapanku. Ia harus segera menemui teman-temannya, sedangkan di lain pihak terlihat di sudut sisi bangunan tampak seorang pemuda tampan sejak tadi memperhatikannya tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya mulai berlari meninggalkannya.

.

"hey kalian semua!" teriak june memanggil teman-temannya yang sedang duduk bermalas-malasan di bangku taman penuh semangat "aku sangat senang hari ini" antusiasnya menatap seluruh wajah penduduk di bangku taman yang hanya di isi sahabatnya.

"kau bisa ceritakan apa yang membuatmu sebahagia ini?" salah satu alis gadis bernama sarah naik keatas sedikit tertarik "mungkin saja kami semua juga akan ikut bahagia mendengarnya"

Menatap wajah june lalu kelainnya "uhm_ apa ini artinya rencananya sudah berhasil un?" Tanya kembali terlempar sekarang dari nita

"ah bukan_" jawab june membuat yang lain mendesah "tapi berita bagusnya, sekarang banyak mahasiswa tampan-tampan mulai melirikku" jelas june sumringah bersinar layaknya mentari seakan mempertegas kalau pepatah setelah hujan pasti ada pelanggi itu memang benar ada "bahkan tadi ada senior yang meminta email-ku"

"lalu kau memberinya?" Tanya diana yang sejak tadi diam mendengar

"tentu aku memberinya"

"bodoh" reflek diana cepat menuai plototan marah june "bagaimana tidak! Kita disini bukan mengincar ikan kecil, melainkan besar girls" tegas diana menatap june serius "sasaran kita adalah Mario, bukan senior-senior ataupun apa. Ingatlah kau harus memeluk bulan! Bukan bantal"

"tapi_"

"yang di katakan diana benar" sela nita paham ucapan sang sahabat "sasaran kita besar bukan para senior playboy itu yah_walaupun Mario juga playboy kurasa"

"maka dari itu jual mahal-lah sedikit" tukas sarah melirik june "jangan memberi kontakmu dengan mudah, apapun bentuknya"

"baiklah_baiklah" angguk june patuh "aku akan lebih teliti lagi"

.

Grey

.

"Menurut buku yang kubaca, ada cara jitu lain yang akan membuatnya tertarik denganmu"

"apa itu? Rumitkah?"

"gampang kok_ bahkan ini sering di lakukan"

"apa?"

'beri dia kado istimewa sebagai kejutan'

Hah! Kenapa jadi seperti ini sih?! Bantin june mencak-mencak tensi masih tetap senantiasa mengendap-endap layaknya maling di Gedung hukum_ sedikit banyak ia bangga dengan teman-temannya yang bisa mendapatkan jadwal kuliah Mario. Melihat kesisi kanan dan kiri merasa aman iapun mulai melangkah mengendap-endap lagi menuju ruangan belajar pertama. Ah sialnya, coba saat ini jaman sma maka dengan mudah ia telah meletakkan kadonya tanpa harus bersusah-susah seperti sekarang.

Letakkan?

Tidak?

Letakkan?

Atau tidak?

Bagaimana kalau yang duduk disini bukan dirinya, melainkan pria lain? Bisa berabe ini nantinya kalau salah penerima hadiah. Kasusnya buruk! Sangat-sangat buruk sekarang, apa sebaiknya ia menaruhnya nanti saja ya? Di kendaraannya mungkin? Itu bukan ide yang buruk juga_ setelah berkutat lama dengan jentik-jentik di otak minimnya iapun segera berniat pergi, tanpa menyadari seseorang yang sejak tadi memperhatikan gadis yang baginya beberapa hari ini terlihat semakin aneh bersama sesuatu yang ia tak ketahui karena saat ini dia sedang memungunggi dirinya mulai mendekat.

"june? Apa yang sedang kau lakukan disini huh?" panggil Mario membuyarkan acara gadis cantik untuk menaruh atau tidak kado diatas meja "ada masalah?" Tanya-nya lagi

Celakalah aku!

Sedikit bergetar june mulai berbalik "ah_ itu, tidak ada" kilah june seraya nyengir lebar berusaha menyembunyikan kado di tangannya " hay Mario_ kau datang pagi sekali?" Tanya june mencoba mengalihkan topic pembicaraan

Lirik tangan june, Mario sadar ada sesuatu yang mencurigakan dari gadis depannya ini "kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu?" tegas Mario menatap selidik kearah june sontak saja membuat sang korban gelagapan takut

Sedikit menarik napas mencoba menghilangkan groginya "tentu saja tidak, jangan bodoh Mario! Apa yang harus aku sembunyikan dari mu" balas june berusaha senormal mungkin yang jujur saja terlihat kaku, bahkan tangannya terlihat patah-patah saat mengibaskan tangannya.

"kau yakin?"

"tentu_oh come on dude's! Everything okay, I didn't hide something" ujar june amburadur kosakatanya akibat ketakutan yang kelebay-an "aku pergi dulu_" timpalnya segera pergi berlalu tanpa mendengar perkataan Mario, ia segera pergi lari kocar kacir meningalkan TKP.

.

Grey

.

Kantin masih menjadi medan pertempuran utama di tempat perkuliahan ini. Yang bisa bertahan hingga titik darah terakhir ialah sang juara dalam situasi pro warriors dadakan ini dan tentunya bisa memesan makanan dengan cepat tanpa hambatan. Dan itulah yang dilakukan kedua gadis cantik berparas anggun nan mempesona sekarang. 'Sarah dan diana'. Bertempur habis-habisan di kantin dengan segenap tenaga usaha, sekaligus skill pastinya.

Senggol kiri – Bacok!

Senggol kanan – tendang!

Nyosor dari belakang – Damprat!

Semua gerakan silat maupun karate di keluarkan dua gadis cantik itu demi mendapatkan makanan untuk membahagiakan cacing-cacing di perut mereka, bahkan sarah hampir mengeluarkan bom bunuh diri untuk menghalau para pesaingnya

"NYINGKIR GAK LO SEMUA! GUA BUNUH DIRI NI!- BUNUH DIRI NI GUA!" jerit-jeritnya entah dapet dari mana ntu bom banyak amat di saku blouse-nya.

Dan untungnya , hal itu segera di hentikan oleh diana yang masih berpikir rasional, ia bahkan sempat menasehati sarah 'kita tusuk saja mereka satu persatu. Lebih mudah dan cepat' tetapi tidak kalah gilanya.

Lima belas menit serasa lima belas abad, namun setiap usaha pasti menuai hasilnya_ akhirnya sarah dan diana bisa mendapatkan makanan mereka dalam kondisi hidup dan utuh. Sup hangat, roti, dan beberapa cemilan nikmat yang mengiurkan terletak apik di nampan mereka berdua dan setelah itu keduanya berjalan kembali anggun menuju meja kantin terdekat meninggalkan korban-korban perang bersimbah ceceran cairan absurd tanpa seorangpun berniat menolong, mereka semua tergeletak menjijikan di lantai terinjak-injak layaknya sampah di medan perang.

Menghembuskan napas berat "aku pikir tadi aku akan tewas" ujar sarah lelah membayangkan bila ia tak segera di hentikan tadi ,mungkin saja semua pengunjung disini semuanya menjadi menu daging panggang, seraya memakan sepotong kue kering yang ia dapat membuka obrolan

Terkekeh, diana mengangguk setuju "ya, aku bahkan kegencet di antrian sana. Untung saja aku tidak tewas karena itu"

Sarah membalas tukas diana dengan tawa renyah "yeah- untung aku bisa karate" jumawanya

"maksudmu menendang membabi buta?"

"Yup- exactly, jawabanmu tepat sekali" jawaban cepat sarah hanya dibalas putaran bola mata diana malas

Ketika sarah hendak menceritakan sepak terjangnya dalam dunia persilatan abal-abalnya, tiba-tiba saja seseorang yang seharusnya tak membuatnya terkejut sukses membuat dirinya dan sang sahabat. Diana. Hampir mati kaget karena serangan mendadak dari sapaan kematian oleh wanita kau tau siapa dia.

"kau kenapa teman!" khawatir sarah menatap wajah seperti keracunan milik june "kau baik-baik saja kan?" Tanya sarah menguncang-guncang tubuh june layaknya ia baru saja kehilangan koinnya di dalam mesin air kaleng sedangkan air yang ia pencet tombolnya tidak kunjung keluar, penuh tenaga dan hysteria tentunya.

"hentikan sarah!" bentak diana menghentikan tindakan sarah "kau akan membuatnya pingsan kalau begitu" bijaknya seraya membantu duduk June di sebelahnya dan sebuah tamparan nyaring sukses membuat sarah hampir menyemburkan air dari mulut, yang baru saja ia minum untuk menenangkan diri.

"KALAU SAMPAI MAKANAN KU TUMPAH BAGAIMANA JUNE !"bentak diana ganas membuat korban penamparannya menunduk menyesal " kalau masalahmu tidak penting lihat saja,_kau dalam masalah besar teman" tandas diana sukses membuat gadis di sebelahnya menatap horror

"jadi…" buka suara June seraya mengelus pipi, mengasihani pipinya yang telah menjadi korban kekerasan sahabatnya "tadi aku hendak meletakkan kado di meja Mario sesuai yang kalian sarankan sebelumnya" terang june lagi

"lalu?_"

"saat aku berencana meletakkan di mejanya," jeda sejenak menatap masing-masing wajah teman yang dengan seksama mendengar ceritanya "… dia datang"

"dan kau lari" desah sarah paham dengan kondisi dan situasi selanjutnya, di balas anggukan halus June

"hah kau ini_" desah diana "june_dirimu mengagetkan ku dengan raut wajah layaknya kau mengalami kejahatan seksual" tukas diana mulai memakan makanannya dan memberikan airnye ke June, di sela kunyahannya "sorry untuk tamparan tadi" tutur gadis cantik itu yang sedikitpun terlihat tak merasa menyesal dengan perbuatannya dan mulai melanjutkan acara makannya lagi.

.

.

Grey

.

.

"hey bagaimana harimu hn?" tanya pemuda dengan tubuh jenjang, mengulurkan segelas kopi keteman bicaranya "berjalan lancar bukan?"

"hmm… tidak buruk juga" respon pemuda bersurai hitam itu sekaligus menerima uluran gelas mug kopi "bukankah harusnya aku yang bertanya bagaimana kabarmu dengan kla?" mulai menyesap sedikit cairan pahit kopi dari mug di tangannya

Pemuda di sebelahnya tersenyum tipis dan mulai berjalan menuju balkon hendak menatap kerlap kerlip lampu . sesekali pemuda itu meminum kopinya dan menghembuskan napas cukup berat, dan mulai berbalik menatap lawan bicaranya memunggungi pemandangan indah di belakangnya. Saat hendak berbicara

"tentu saja kau harus bersenang-senang setelah aku mengalami penderitaan yang Panjang" dengus kasar pemuda yang baru saja bergabung di obrolan mereka "hah_sial pungung ku kaku" gerutunya sembari menggerak Gerakan lengannya

Sedikit menekukkan alisnya " salahmu sendiri tidur di sofa kla" jawab pemuda lainnya lagi, sontak membuat sang tuan rumah mulai mempertanyakan keamanan rumahnya. Mengapa banyak sekali tamu tidak diundang yang datang malam ini

"hallo guys, maaf menyela kesenangan kalian" nick mulai buka suara setelah terdiam sejenak "aku merasa tak mengundang kalian untuk datang kerumahku bukan?" tuturnya meminta kejelasan

Pemuda bersurai hitam mencari tempat nyaman untuk duduk dan menatap seluruh wajah sahabatnya mengabaikan pertanyaan nick "apa hanya Mario sajakah yang diundang?" sinis song setelah mengedarkan arah pandangan menyapu seluruh penghuni ruangan tamu dan bersibobrok irisnya dengan mario "ingat nick, kau yang membuatku datang kesini karena rengekan mu" tandas song mengerling tajam dengan menekankan kata merengeknya sukses membuat nick berkeringat dingin di buatnya

"okk_ anggap aku mengundang mu kesini song" jawab nick mencoba menjawab setenang mungkin "lantas kenapa kau disini juga kla?"

"ohh…see siapa yang berbicara" ucap kla sarkas menatap ganas kearah nick "kau tak tahu bukan betapa menderitanya aku harus berurusan dengan kolega wanita tua itu" kesalnya sedikit mencak-mencak marah "bahkan aku harus menemani mereka minum dan mengalami pelecehan di sana" geram nya di akhir kalimat

"seperti aku tidak" dingin nick bergerak kearah dapur " ada yang mau kopi?_" tawarnya tanpa mendengarkan jawaban temannya ia mulai berlalu pergi menuju kearah dapur

"aku minta tambahan susu" jerit kla nyaring mencoba menyusul nick awas awas temannya itu tidak mendengarkan ucapannya, setelah melihat balasan anggukan tanpa memandangnya membuat kla tertawa puas dan mulai kembali kearah ruang tamu

"kapan kau kemari song?" tanya Mario menatap song penasaran, mengingat sahabatnya yang satu ini sedang di luar negeri

Sedikit mengendikan bahunya "well… sehari kau masuk kuliah kurasa " jawab song seraya menyandarkan punggungnya mencari posisi nyaman "kla menghubungi ku untuk segera kembali,_" sambungnya setelah mendapat posisi nyaman dari duduknya " tidak lupa si nick juga menghubungiku… kau tahu bukan? seberapa pun aku menolak dia tetap merengek untuk pulang. Dan seperti yang kau lihat aku kembali_ yeey cerita berakhir" tutup cerita song dengan nada malas malasan

"thanks sudah kembali song" terimakasih Mario di balasi anggukan alus sang sahabat yang mulai terlelap di sofa tak jauh dari dia berdiri "dan tidak terkecuali dirimu juga kla" setelah melihat raut wajah tidak terima sahabatnya yang kekanakan satu itu membuat Mario tersenyum tipis

"baguslah kalau masih menganggap ku ada" tukas kla layaknya sebuah gerutuan, lama ketenangan menjalar hingga nick muncul Bersama nampan berisikan kopi dan cemilan "apakah kau sudah selesai memanen kopi nya nick? Aku pikir kau takkan kembali" sindir kla menghampirinya membantu menghidangkan kopi hangat itu di meja dan mengambil kopi susu bagiannya

"kurasa aku hanya sebentar" tutur nick mulai mengambil duduk di sebelah song " hey_bangun song, tidurlah dikamarku kalau mengantuk" yang hanya di balas gumaman dan song mulai berdiri layaknya anak kecil dan berjalan berlalu menuju kamar nick meninggalkan mereka semua

"ambil waktumu Mario, kau bisa percayakan perusahaan pada kami" ujar nick dengan lembut setelah song berlalu beberapa saat, di balas anggukan Mario "ayolah kau tak perlu sungkan dengan kita bukan" sambung nick melirik ke kla yang di balas anggukan pasti pemuda berambut spike itu

"kita sudah seperti saudara bukan" ucap kla seraya tersenyum dan mulai memakan cemilan di hadapanya memecah suasana canggung di sekitarnya.

.

Grey

.

"bagaimana kalau besok pagi kita meletakkan kado ini di kendaraannya"

Usul gadis itu sembari memegang sebuah kotak kado kecil di tangannya, di balasi anggukan setuju penuh semangat masa muda dari seluruh penghuni di ruangan. Sesekali gadis itu melirik kearah temannya dan kembali menatap kado di tangannya dengan senyum yang mencurigakan seperti karakter antagonis yang mempunyai rencana licik di drama televisi – televisi local.

Sedikit tidak enak dengan seluruh temannya di dalam ruangan nita akhirnya membuka suara "kau tahu kendaraan apa yang di gunakan Mario ke kampus?" pertanyaan nita ini sukses membeku kan seluruh wanita di ruangan itu, layaknya obor yang membara sebelumnya hanya lah sebuah api lilin di tengah pusaran angin. Lemah dan tak berdaya. "hey kalian, aku bertanya? Apa kalian tahu kendaraan apa yang di gunakannya?" ulangnya lagi menatap seluruh wajah temannya yang bisa di pastikan satupun dari mereka sama sekali tidak tahu kendaraan apa yang di gunakan Mario

"hmm kurasa sepeda mungkin" jawab June lemah bermodalkan ingatan saat masuk dulu dan iapun juga tidak begitu yakin kalau pemuda itu menggunakan sepeda setiap harinya, lirik kekanan lirik kekiri meminta bantuan dari temannya yang lain, selain nita pastinya dan_nihil_ temannya satupun tidak bersuara seakan mereka mendadak bisu dan hanya jangkrik malam yang menyahuti jawaban gadis malang saat itu

"ekhemmmm" deheman keras memecah suasana sunyi beberapa saat itu "kurasa Mario pria sehat yang cinta olahraga" ucap gadis yang sedang bergelung di lantai itu mencoba duduk di sebelah June "dibalik wajah yang tampan terdapat tubuh sehat hahahaha" kelekarnya sembari tertawa garing hingga ia terdiam sendiri sadar lawakan nya sangatlah hambar "ok,_setidaknya kalian berpura-puralah tertawa" gerutunya pelan merasa bodoh sendiri

"kita pikirkan besok" putus sarah dan mulai berancang ancang untuk pulang mengabaikan ucapan temannya

"hey tidak bisa begitu" jerit nita

"ohh ayolah mom, Mario pria populer" desah sarah "pastinya kita dengan mudah menemukan kendaraannya besok bukan? Mau itu sepeda atau apapun itu"

"ahh iya, dia benar"

"aku merasa baru keluar dari goa" hiperbola nita paham dengan ucapan sarah

Dan begitulah sepenggal kisah dari ke empat gadis di malam itu demi memperjuangkan kisah cinta temannya untuk pemuda bernama Mario, penuh drama dan kebodohan pastinya. Rapat malam itu di tutup tanpa hasil ataupun kesimpulan sedikitpun, yang menyisakan pertanyaan dan pertanyaan saja. Sungguh rapat yang bermanfaat.

.

Grey

.

"Hah_pagi yang buruk,"desah Mariojengkel, desahan dan gerutuan halus milik Mario tentu saja menarik perhatian sang sopir yang sesekali meliriknya melalui kaca spion tengah

Beberapa saat sebelumnya ,

"ayolah Mario kau harus sarapan dulu" rengek nick dengan pan berisikan telur di tangan kanannya , di tangan satunya tentu saja spatula bertenger manis dengan tidak lupa apron lucu bergambar beruang tertempel di tubuhnya ohhh great potret calon istri yang manis kalau saja dia wanita miris Mario menatap sahabatnya sedih

Sedikit gelengan halus "aku harus berangkat sekarang nick, supir ku sudah menunggu di bawah" jawabnya menolak halus permintaan dari nick untuk sarapan tanpa menyadari sekarang pemuda itu telah meletakkan atribut masaknya "jadi aku per_" dan Mario berakhir di seret membabi buta oleh idol bernama nick yang tak di sangka bertenaga kuda itu, sukses membuatnya kuwalahan dan berakhir di meja makan

Dengan nada ceria "habiskan sarapan mu dan kau baru boleh pergi" setelah puas dengan hasil usahanya nick melangkah riang meninggalkan Mario Bersama kedua sahabatnya yang tak lain tak bukan song dan kla pastinya

"BAGAIMANA BISA AKU MAKAN KALAU KAU MENGIKAT KU SEPERTI INI BERENGSEEKKK!" jerit histeris yang hendak keluar dari bibir Mario tersampaikan oleh song seraya meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari jeratan tali yang di buat nick. Bagaimana dengan kla? biasanya kan dia yang paling heboh bukan? jaangan tanya tentang dia, bahkan Mario merasa miris untuk mendeskripsikan bagaimana keadaannya dengan wajah yang tertelungkup di piring berusaha memakan sarapan dengan nistanya

Sedikit bergidik Mario merasa radar bahayanya bereaksi , tak butuh waktu lama bahaya yang ia khawatirkan pun muncul dengan nick membawa sepiring sarapan di tangannya. Hell yeah lihat senyum ceria psikopat itu "ini sarapan mu Mario, habiskan dan kau akan ku izinkan pergi"

CUKUP

Begitulah sepenggal kisah nista Mario di pagi hari sebelum berangkat pergi dan sekarang kita kembali ke saat ini

.

Grey

.

Pagi di fakultas hukum sangatlah cerah dengan burung berkicau ceria, matahari bersinar dengan terang mengawali hari dengan benderang memberi semangat untuk mahasiswa dan mahasiswi untuk beraktivitas hingga kalangan pelajar putri itu merusak suasana pagi yang indah ini dengan jeritan cetarnya menyerukan nama pria yang bagi mereka pangeran kampus . hancur sudah vibes nyaman itu, dengan brutalnya wanita itu memaksa pria idaman mereka itu untuk menerima pemberiannya membuat pemandangan yang memilukan bagi yang memperhatikan pria di tengah kerumunan itu dengan seksama, terlihat sekali ia berusaha tersenyum ramah walaupun dari air wajahnya tampak sekali terganggu.

"lihat bahkan aku belum melakukan apapun tapi kawanan semut itu sangat cepat mencium aroma gula" sarkas June melihat kumpulan masa bergender wanita "kalau begini bagaimana caraku mendekatinya" sambung June putus asa sembari melirik teman teman disampingnya

"hmm_ perlukah aku melempar tikus atau kecoak disana untuk membubarkan wanita idiot itu?" tanya diana menawarkan ide gila kearah temannya sontak saja sukses menarik antensi tatapan jijik kearahnya "why not?" tanya diana sadar teman-temannya menatap jijik kearahnya

"diana?_" tegur june memegang bahu wanita dengan surai gelombang itu "apa kau tidak jijik dengan idemu sendiri" lanjutnya mencoba menyadarkan sang sahabat akan ide nya yang mainstream maybe_

"tentu saja tidak"

Jawaban pasti dari sang sahabat sukses membuat melongo kedua gadis yang lain, minus sarah mengingat teman gilanya ini sebelumnya pernah mengancam meledakkan diri. Apabila hanya melempar sekedar kecoak atau tikus bukanlah hal mustahil baginya bukan.

"heyyy June kau disini rupanya…" teriak pemuda di seberang sana mencoba keluar dari kerumunan berlari kearah wanita yang di panggilnya

Puas dengan acara melongo nya June tersadar setelah tangannya di Tarik oleh pria yang sedang di kejar ganas oleh fans nya "apa yang kau lakukan Mario!"

"kau tidak lihat aku sedang berlari" jawab Mario singkat membuat gadis di sampingnya ingin sekali menampar pria disampingnya itu

"aku tahu itu!"

"lalu kenapa kau bertanya"

"maksudku kenapa kau membawa ku ikut berlari Bersama mu"

"entahlah_ aku hanya mencoba menghindar dari mereka hah_ dengan beralasan mengampirimu" sedikit terangah engah karena berlari sambil berbicara "hah_ tapi mereka tetap mengikuti ku" Lelah berlari mereka pun berhenti dan melihat kebelakang tidak di sangka gerombolan wanita penuh semangat itu masih mengejar hingga sekarang giliran June menyeret pria di sampingnya untuk berlari kearah Gedung fakultas kedokteran tempatnya mengenyam Pendidikan. Mario hendak menyuarakan isi pikirannya namun terhenti saat June menyeret ganas dirinya memasuki ke Gedung itu

"bagaimana bisa kita masuk?" tanya Mario bingung seraya mengambil napas Lelah dengan acara lari marathonnya menatap sekelilingnya .kosong. mereka berhasil lolos

Dengan malas June menunjukan kartu mahasiswa yang menjelaskan semuanya untuk Mario "sekarang paham?" tanya June dibalasi anggukan bodoh Mario mengerti

"jadi kau mahasiswa kedokteran?" ujar Mario masih belum yakin dengan apa yang ia lihat sebelumnya "bagaimana bisa?"

"apa aku terlihat bodoh sekali dimatamu?" tandas June dengan mata memicing tajam kearah pria di sebelahnya

"bu..bukan begitu" gagap Mario di tatap tajam "maksudku tidak menyangka saja kan" terangnya melirik liar seolah olah dia baru saja tertangkap basah mencuri celana dalam banci sukses membuat June tertawa juga pada akhirnya, di sela tertawa renyahnya ia mencoba duduk di kursi tunggu fakultas dan meletakkan tasnya hingga kotak kado yang ia bawa terus terekspos menarik mata pemuda di hadapannya

"siapa temanmu yang ulang tahun?" lepas sudah pertanyaan yang kontan tanpa kredit membuat gadis cantik di hadapannya mematung bak tugu di halaman depan fakultas mereka "hello… siapa temanmu yang berulang tahun hari ini?" ulang Mario melambaikan tangannya di wajah June yang masih setia mematung " masih ada orang di sana?"

Segera tersadar dari mematungnya lalu mendamprat tangan Mario di depan wajahnya "sahabatku berulang tahun hari ini" kilah June sembari menutup dengan ganas tas itu dan memegangnya erat awas awas tas rombengnya di bawa lari oleh Mario

"boleh aku gabung ?"

Habislah aku! Jerit batin June histeris tak tahu ingin menjawab apa, ia butuh bantuan saat ini_ siapapun selamatkan aku. Masih dalam keadaan bingung hendak menjawab apa akhirnya ia memilih untuk jujur saja

"sebenarnya kado ini untuk k_"

.

.

.

"juneeeee" jerit sahabatnya menghampiri nya dengan suara melengking

"kau baik-baik saja kan?" tanya nita memutar mutar tubuh June layaknya sebuah gasing mengecek bagian tubuh temannya ada yang hilang atau tidak, dan tak kalah heboh diana Bersama sarah pun berlaku sama

"hentikaaan!" jerit June meronta melepaskan diri "apa kalian sudah gila?!" sambungnya meraung ganas manatap hardik kearah ketiga sahabatnya

"kita mengkhawatirkan mu gadis bodoh" tabokkan penuh cinta mendarat mulus di kepala June membuat pria yang sejak tadi menonton kelakuan mereka meringis ngilu dan itu hanya sedikit dari beberapa sikap khawatir teman June yang di realisasikan melalui tindakkan, bahkan Mario sanksi itu lebih kearah penyiksaan daripada khawatir

"maaf menganggu" ucap Mario pelan takut takut salah bicara dan dia akan dianiaya di sini dan saat ini juga "mereka temanmu June?"

"DIAM KAU?!" jerita nita ganas belum sadar siapa yang bicara

"MARIO" jerit sarah heboh menyadarkan semuanya

"MANA?!" teriak nita tak mau kalah heboh melihat sekitarnya hingga irisnya bertabrakan dengan Mario

"hallo" canggung Mario setelah sebelumnya di bentak gadis itu

"itu…"

Belum sempat gadis itu menyampaikan sepatah dua patah kalimat untuk pria tampan di hadapannya mulutnya langsung di bungkam June dengan brutal membuat nita meronta liar minta di lepaskan,

"dia yaa diaa" ujar June menunjuk nunjuk berulang kali kearah gadis yang di bekapnya membuat Mario menaikkan alisnya tidak mengerti maksud perkataan June

"dia yang hari ini ulang tahun maksudku" sarah dan diana menatap bingung apa yang dikatakan sahabatnya ini, apakah pukulannya tadi membuat wanita ini gila beneran . Sedangkan di lain sisi terlihat nita dari ekpresinya seakan berkata 'apa maksudmu bodoh?' membuat June berbisik halus mengancam layaknya pembunuh berdarah dingin meminta korbannya agar menurut saja dan di balasi anggukkan pasrah nita, lalu menatap temannya agar mengikuti skenario wanita psikopat di belakangnya

"ahh iya selamat ulang tahun nitaa" ucap sarah mencoba memahami kondisi "wish best ya" diiringi tepuk tangan diana yang ketara sekali aktingnya ,semoga saja Mario cukup bodoh sehingga ia percaya

"ayo kita rayakan ulang tahun mu di kantin bagaimana?" tawar June di angguki pasrah sahabatnya itu

.

Grey

.

Sadar akan betapa mengerikan kantin kampus membuat jiwa Mario kembali tergoncang, ia menatap gadis gadis di sebelahnya mulai berubah ke mode seriusnya yang ia sangat tahu untuk apa itu. Dan yeah perjuangan memperebutkan makanan dimulai, namun dia tidak ikut karena mereka mengatakan ia adalah tamu istimewa jadi hanya menunggu saja membuat Mario merasa tidak enak. Rasa tidak enak hati itu mendadak sirna setelah Mario melihat betapa barbar nya gadis itu menyebrangi lautan manusia di kantin, tanpa belas kasihan mereka menendang dan menghajar saingan mereka_oh shitt apa semua perempuan disini memiliki kemampuan layaknya monster seperti itu apa? Batin Mario speechless tak mampu berkomentar lagi.

Selang waktu beberapa saat akhirnya keempat gadis itu kembali dari medan perang dengan gagah berani, dan Mario disini layaknya tuan putri yang sedang menunggu di pintu gerbang kerajaan menyambut sang kesatria nya kembali, sungguh memilukan perumpamaan ini tapi tidak bisa ia pungkiri memang benar itu adanya

"sorry membuatmu menunggu lama" ucap gadis berambut Panjang di kucir kuda itu "tak kusangka mereka lumayan Tangguh" seraya merapikan rambutnya

"kau saja yang kurang latihan June" timpal gadis cantik sedikit pirang di sebelahnya alias nita, tunggu sebentar mereka ini anak kedokteran bukan? Latihan apa yang mereka maksud saat ini? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk di kepala pemuda bersurai kelam itu

"untung aku mendapatkan semua yang aku mau tadi" sumringah sarah "tidak lupa untuk Mario tentunya" liriknya genit sukses mendapat penganiayaan dari temannya "sakit_aku hanya sedikit menggoda bukan melecehkan girls" keluh gadis itu setelah mendapat sesuatu yang tidak menyenangkan dari para sahabatnya

Setelah mendapat kan tempat duduk yang nyaman, Sedikit deheman halus Mario mencoba menyela obrolan macho gadis di sekitarnya "kau ingin kado seperti apa untuk ulang tahunmu?" tanya pemuda itu sukses membuat nita terkejut yang kemudian kegirangan seperti cacing kepanasan, bergeliat tak tentu arah "ingin kado apa? Katakan saja, apa saja boleh" timpal Mario tanpa ragu

"apa saja?" di balasi anggukkan yakin pemuda di hadapannya "kalo gituu…"

Gantung nita membuat pemuda itu penasaran. tidak hanya dia saja, June dan yang lain pun tak kalah penasaran apa yang dimau sahabat gila nya itu, setelah beberapa saat menunggu

"aku mau kau jadi pacarku"

Sontak mereka semua terkejut bahkan June menyemburkan air minum dari mulutnya dengan tidak etis, sarah dan diana hampir mati ditempat karena shock mendadak bahkan Mario harus tersedak dengan ludahnya sendiri karena permintaan gila gadis di hadapannya.

"kalau itu sepertinya_" canggung Mario mengaruk tengkuknya

"hahaha aku bercanda" potong nita mengakhiri suasana yang akan menjadi tidak nyaman itu "kau mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku sudah seperti memenangkan lotre besar bagiku" sambung Panjang di kali lebar gadis itu membuat atmosfir di sekitar mereka mencair kembali

Selang beberapa saat mereka hendak mulai menyantap makanan

"ahh iya_bukankah kau tadi membawa kado untuk ulang tahun temanmu June?" tanya Mario membuat June gelagapan

"oh iya aku sampai lupa hahaha" ketawa garing June tak dapat di tutupi lagi " ini hadiah untukmu sahabatku" serah June kado berwarna biru malam itu ke sang sahabat "semoga kau suka" timpalnya lagi

"thanks…" serasa bodoh nita menerima hadiah pemberian June dan hendak menyimpannya, sebelum di hentikan

"bukankah lebih bagus di buka sekarang?" tanya Mario tersenyum antusias "hadiah akan berkesan jika di buka Bersama sama kan?"

"ehh_itu_"

"ayo buka saja, aku juga penasaran seperti apa hadiah June" dukung diana dengan mata berkilat jahil hinggal mau tak mau nita membuka kado itu

"jam tangan pria?"

"jam tangan pria ,yah_jam tangan pria" ujar nita memastikan jawabannya

"temanmu seorang wanita dan kau belikan jam tangan pria June?" tanya Mario dengan tatapan bingung

"soal itu_" bingung June membuat diana tak bisa menahan tawa nya sukses dihadiahi injakan di kakinya dengan mesrah

"aku memang suka sekali jam tangan pria" jerit nita memotong pembicaraan memberikan backup untuk sang sahabatnya itu " lihat bukan kah pas aku memakainya" pamer gadis itu dengan jam tangan kebesarannya

"wahh kau terlihat muda satu detik teman, saat memakai jam itu" timpal sarah memuji menuai tatapan speechless dari diana di sampingnya sedangkan Mario hanya mengelengkan kepalanya

"kalau begitu aku pergi dulu"

"jadi makananmu bagaimana?" tanya June memegang tangan pemuda mencoba menahan untuk pergi membuat Mario menatap kearah tanganya yang di pegang, sadar akan tindakkannya yang terlalu berani membuat dirinya malu sendiri

"sudah waktunya kelasku" jelas Mario mulai hendak berdiri "ah_iya aku yang traktir anggap hadiah ulang tahunmu ok" lanjut pemuda itu seraya tersenyum dan mulai pergi ke kasir membayar kemudian berlalu hingga sosoknya menghilang di tikungan Gedung

"ahhh ya tuhan_ Mario terlihat seksi sekali saat tersenyum" ujar sarah mengigit sapu tangannya

"yahh dia terlihat tampan dan seksi di waktu yang bersamaan" desah Lelah June mulai memakan makanannya "hingga aku berpikir betapa beruntungnya gadis yang bisa milikinya" tukasnya lagi

.

.

Grey

.

.

Setelah hari itu seluruh cara telah di coba untuk mendekati Mario namun selalu gagal, sepanjang jalan June mendumel tak tentu arah di temani ketiga sahabat. Suasana sore yang harusnya menyenangkan menjadi hambar karna gerutuan June tentang kegagalanya, hingga semua itu harus berhenti saat mata sarah yang sedang melihat lihat sekeliling karena bosan menemukan sosok yang ia kenal di dalam café Bersama gadis cantik yang terlihat dewasa

"tutup mulutmu June dan ayo ikut aku" potong sarah mengitruspsi keluhan June dan menyeret untuk ikut dengannya di ikuti kedua temannya di belakang

"ada apa sarahhh" jerit pelan June mencoba melepaskan lengannya setelah memasuki café "sakit tahu" sambungnya menatap galak sahabatnya

"itu Mario bukan?" tanya nita menunjuk pemuda yang ada di pojok café menghadap ke jalanan, menarik perhatian teman-teman lainnya

"apa yang mereka bicarakan?"

"entahlah, kurasa sesuatu yang penting"

"apa mungkin itu kekasihnya?"

"dari tampangnya mungkin iya" sambut setuju sarah sembari mulai melangkah mengendap-endap mencoba mendekati di ikuti lainnya

.

.

"bagaimana kabarmu Mario?" tanya wanita misterius itu dengan senyum tipis nan anggun dari bibir tipisnya

"baik, seperti yang kau lihat" balas Mario membalas pertanyaan wanita di sebelahnya "kau terlihat kurusan sekarang bukan?, apa kau tidak memperhatikan makananmu hm?" sambungnya dengan nada khawatir seraya mengelus rambut wanita itu, sukses membuat gadis bernama June yang sedang bersembunyi cemburu sampai ke ubun-ubun

"tentu saja aku memperhatikan makananku Mario," jawab gadis itu mencoba menghentikan tindakkan pria itu "kau yang harus memperhatikan makananmu itu" menatap Mario dengan serius "lihatlah tubuhmu terlihat kurus" sambungnya dengan nada khawatir

"artinya kau harus mengurusku mulai sekarang bukan?" jawaban Mario terkesan manja kearah wanita itu yang sontak membuatnya merona "apakah tidak boleh?" tanya nya dengan mendekatkan wajahnya

"Mario"

"iya Erika…"

"hentikan candaanmu itu" cubit gemas wanita bernama Erika "atau aku akan memukulmu nanti" tandasnya membuat ancang ancang memukul yang terlihat imut dimata siapa pun yang melihatnya

"ahh tidak, Erika tidak mencintaiku lagi" keluh Mario merengek manja yang ketara sekali di buat buatnya sukses membuat tawa wanita itu pecah melihat prilaku pemuda di sebelahnya

Canda tawa dan keakraban Mario dengan wanita bernama erika itu membuat perasaan June bercampur aduk lalu memutuskan berlalu pergi meninggalkan teman temannya yang masih setia menguping percakapan. Sungguh calon-calon cctv yang bagus kedepannya.

.

.

.

"rasanya sangat sakit ternyata" ujar June menatap lalu Lalang lalu lintas di bawahnya

Sedikit mendengus "tentu saja_" jawab gadis yang sedang melangkah menuju kearah june "tiada rasa sakit di kisah percintaan yang melebihi, _"gantungnya _ " saat melihat orang yang kau sukai Bersama orang lain"

Segera June memeluk sahabatnya "sakit sekali diana_" keluh gadis itu mengutarakan perasaannya "apa memang harus sesakit ini?" lirihnya dan mulai terisak tangis di pelukan sang sahabat

"sshhhhh_kau harus kuat teman" ucap diana seraya mengulus punggung sang sahabat menenangkan "seberapa pahit yang kaurasakan, seberapa pedih yang kau dapatkan hari ini, itu semua akan berlalu ok" bijak diana sembari mengeratkan pelukkannya seperti langit senja saat ini dengan tabir meganya memeluk erat sang raja surya kembali ke peraduan meninggalkan kedua gadis itu berpelukan saling berbagi kepedihan dengan jembatan penyeberangan itu sebagai saksi bisunya.

.

.

Grey

.

.

"aku menyukaimu…"

Sebuah pernyataan frontal tepat di hadapan gadis itu membuatnya terdiam seribu Bahasa tak mampu harus memberi respon seperti apa, lama terdiam gadis itu mencoba menatap pria di hadapannya mencoba mencari kesungguhan di mata nya.

"aku serius menyukaimu, sejak pertama kali melihatmu aku langsung menyukaimu" tegasnya

Pernyataan ulangpun itupun di lontarkan kembali mempertegas perasaan pria itu membuat sang gadis itu merasa sedikit yakin dengan niat dan perasaan pria di hadapannya, mungkin juga ini sudah waktunya berhenti bermimpi dan mulai melangkah maju. Toh pria yang ia sukai sudah mempunyai kekasih, mau tak mau membuat gadis bernama June tersenyum miris mengejek dirinya sendiri.

"maukah kau berpacaran denganku? " lanjut pemuda itu sembari mengelus tengkuknya sedikit kaku karena sejak ia menyatakan perasaannya tadi, gadis di hadapannya tidak memberikan respon apapun selain memandangnya datar

"uhm…" respon gadis itu mengangguk "aku mau" lanjutnya sukses membuat senyum senang tercetak jelas di wajah pria yang lumayan tampan itu

"kau serius bukan?" tanya pemuda itu tak dapat menutupi keantusiasannya

"tentu saja aku serius kak Christ" Setidaknya akan kucoba menyukai orang lain selain dia, bukankah semua akan lebih mudah saat kau di cintai ketimbang kau mencintai.

Sejak saat itu June akhir nya berpacaran dengan Christian seorang kapten basket dari jurusan arsitektur, semua berjalan lancar tentang hubungan antara June dan pemuda itu. Ia pun mengabaikan saat nita mengatakan Mario tak memiliki hubungan apapun dengan Erika, wanita itu hanyalah mantan tunangan Mario dan saat ini akan menikah dengan pria lain, mereka Cuma bersahabat saja jelas nita namun semua itu tidak perdulikan lagi. Saat ini June berusaha menutup mata dan telinganya akan tentang pria bernama Mario itu, ia harus puas dengan apa yang ia miliki saat ini dimana ia memiliki seorang kekasih yang cukup tampan dan terpenting dari itu semua pria itu mencintainya juga. Mungkin saat ini ia tidak mencintai layaknya pria itu mencintainya sepenuh hati, June yakin dengan berlalunya waktu ia pasti bisa membalas perasaan pria itu.

.

.

.

Ini sudah lima bulan berjalan dari hubungannya, saat ini June sedang berada di taman hiburan kota Bersama sang kekasih di sebelahnya. Sesekali mereka bersenda gurau layaknya pasangan pada umumnya_ ya pada umumnya, walaupun terasa sedikit berbeda_, terlihat sekali hanya pria itu yang tampak antusias berbanding terbalik dengan gadis itu yang terlihat biasa-biasa saja dan sesekali tersenyum saat pria di sampingnya melucu.

"sudah sejak lama aku menantikan saat seperti ini" ungkap pria itu

"kau tahu? menghabiskan waktu bersamamu seperti saat ini layaknya mimpi bagiku june" lanjut pemuda itu lagi sedikit malu dengan perkataanya, namun tidak menutupi binar kebahagian yang tergambar jelas di mata cerahnya sedangkan gadis bernama June hanya membalasi dengan senyuman dan jawaban sekanannya saja.

"berjalan Bersama, menonton Bersama dan makan Bersama semua benar-benar menyenangkan_ ah bagaimana kalau nanti kita café kesukaanmu"

"apa ada sesuatu yang kau inginkan?"

"kita juga bisa pergi berbelanja_"

"atau kau ingin_" suara pemuda itu sayup-sayup menghilang dari pendengaran June karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Entahlah_pria di sampingnya merupakan pria yang di saat bersamaan luar biasa baik dan pengertian, namun kenapa ia merasakan ketidaknyamanan di dirinya? Kenapa dirinya tidak bisa menganggap lebih pria di sampingnya? Apa yang kurang darinya? Batin June semakin berkecamuk gelisah tak mengerti dengan perasaanya sendiri hingga tanpa ia sadari telah memelankan langkah dan mulai menatap punggung lebar pasangannya, menatap tawa lepas serta senyum tulus diarahkan kearahnya membuat June sadar bahwasanya ia adalah penjahat disini. Ia merasa sangatlah jahat mempermainkan perasaan tulus Christ kepadanya, ia hanya seorang pengecut yang melarikan diri dari kenyataan dan mengorbankan perasaan orang lain_ membuat setetes air mata June jatuh dari pelupuk matanya tak terbendung, sontak hal itu membuat pria di depannya langsung menghentikan langkah dan menghampiri setelah melihat June menangis.

"kau tidak apa-apa June?" khawatir pria itu seraya mengusap air mata pasangannya

'kumohon jangan terlalu baik denganku'

"kalau kau tidak enak badan kita pulang saja ya?" tawar pria itu mengajak gadis itu kembali sembari mengenggam tangannya dan mulai melangkah berlalu untuk pulang

'a_ahh pada akhirnya aku mengerti… dengan memasang penutupnya saja tidaklah membuat apa yang ada di dalam diriku menghilang'

"kita ke apotik dulu nanti ya" ajak pria itu "mungkin kau Lelah, kita beli beberapa vitamin untukmu" lanjutnya

"ketidaknyamanan yang kurasakan di diriku sekarang telah mengeluarkan bau busuk"

"maaf…"

"ini harus di hentikan sebelum bau busuk ini menjadi menyengat"

"kau tak salah apapun June" tukas pemuda itu "tidak ada yang bisa mengatur kapan dia akan sakit kan?" kelekarnya sembari terkekeh halus mengelus rambut pacarnya kemudian berjalan kembali

"maaf…"

"maafkan aku christ, kau berhak membenciku…"

"sudah kukatakan padamu, kau tak salah June" ulangnya "kita bisa pergi kapan-kapan lagi, kita masih punya banyak waktu" hibur pemuda itu tetap berjalan tanpa memandang pasangannya, hingga June mengeratkan genggamannya dan berhenti melangkah

"nah.. Christ" ujar June membuat pria bernama Christ itu bingung kenapa tiba-tiba berhenti

"sebaiknya kita akhiri saja bukan?..." ucap gadis itu melepas genggaman pemuda itu, perkataannya membuat pemuda itu membeku terdiam.

"aku tak ingin menyakitimu lebih dari ini" lirihnya dengan satu tangannya memegang lengan tangan lainnya mencoba memberi keberanian ke dirinya sendiri "melihatmu tersenyum Bahagia setiap harinya membuat ku merasa sangat buruk Christ, aku… aku merasa sangat jahat dengan menipumu dan mempermainkan perasaanmu seperti ini" tandasnya dengan air mata mulai mengalir kembali membasahi pipi, hati nya terasa pedih telah menyakiti pria baik di hadapannya.

Mengeleng halus "kau tidak salah June" jawab pemuda itu semakin menambah rasa bersalah di hati June "sejak awal aku sudah tahu" tukas christ menatap hangat wanita di cintainya

"aku tahu kau tak memiliki perasaan sedikitpun denganku" akunya sembari berusaha tersenyum yang terasa getir dan berjalan lemah menuju sisi bangku taman hiburan mencoba duduk untuk menyandarkan tubuhnya, sedikit menarik napas berat "tapi aku yakin, dengan usaha dan waktu cintaku pasti akan mulai melihat keberadaanku" nada suara pemuda itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya

"tapi aahh_" desahnya

"ternyata aku tidaklah cukup untuknya" tukas Lelah pemuda itu kemudian melirik wanita yang ia pacari lima bulan belakangan ini "kedepannya bisakah kita tetap berteman?"

Mencoba menyeka air mata nya June berusaha tersenyum yang terkesan kaku "aku akan berusaha menjadi teman terbaik untukmu" angguk June setuju

Sebuah uluran tangan dari pria di depannya membuat June menatap uluran itu dan segera menerimanya, dengan sedikit sentakkan June sudah dalam pelukan pemuda itu. Tentu saja June meronta mencoba melepaskan dirinya

"setidaknya berikan aku pelukan perpisahan" lirih pemuda itu membuat June berhenti meronta.

Pelukan hangat itu membuat June menutupkan matanya dan mulai merangkul tubuh pria yang beberapa saat lalu masih menjadi kekasih, aroma wangi yang menenangkan ini, tawa ceria pria ini, dan candaannya takkan pernah June lupakan_tidak akan pernah . cairan hangat yang sedang membasahi bahu June ia sangat paham sekali, namun ini adalah jalan yang terbaik bagi mereka berdua.

"kedepannya mohon kerjasamanya june" bisik lirih pemuda itu,

.

.

Grey

.

.

Di meja taman itu terlihat ke empat gadis tengah berkumpul bermalas-malasan di jam istirahat siang, terlihat sekali mereka menikmati momen momen menjadi kaum rebahan. Sesekali mereka mengobrolkan tentang toko kue, pakaian, dan film apa yang sedang trending saat ini di bioskop. Hingga salah satu dari mereka mulai membuka suara untuk berbicara serius

"jadi bagaimana kedepannya June?" buka suara diawali dengan leader grup itu yaitu diana

"aku akan menyatakan perasaanku"

Jawaban penuh yakin itu menarik perhatian seluruh temanya bahkan sarah langsung segera menelan kripik dimulutnya tanpa di kunyah sangking kaget, mereka semua mulai mendekat kearah June mencoba meminta penjelasan lebih detail

"aku akan menyatakan perasaanku saat festival seni nanti" jelas June dengan nada pasti "di terima atau tidak aku tetap akan menyatakan perasaanku" sambungnya menuai tepuk tangan riuh teman temanya penuh semangat seakan June baru saja bertekad akan menjadi sarjana cumlaude

Menarik napas berat "apapun yang terjadi diakhir we always with you" ujar nita tersenyum teduh kearah sang sahabat "lakukan apapun yang kau mau tanpa ada penyesalan ok" tandasnya

"benar yang dikatakan nita" ujar sarah "apabila kau gagal, tenang saja stock tissue dirumahku banyak untuk berbagi" kelekarnya membuat mereka tertawa renyah

.

.

Grey

.

.

Suasana festival sangatlah penuh semarak dan semangat masa muda yang mengebu gebu pastinya dari konser grub band papan pinjaman maupun papan kredit semua ada disini berkumpul menampilkan pesona mereka membawakan beberapa jenis tembang lagu dari rock, pop hingga indie menjadi satu. Tidak hanya itu bazar stand makan dan kesenian tidak mau kalah dalam hal unjuk gigi kebolehan, sehingga penulis tidak akan kaget apabila satu atau dua stand menjual baju rombeng sebagai daya tariknya dengan harga murah meriah. Seluruh penjuru kampus heboh akan festival ini karena seluruh fakultas berpartisipasi di dalamnya, dari satu menjadi kesatuan membangun kemeriahan di festival. Abaikan sejenak hiruk pikuk kemerlap festival, terlihat seorang gadis berhadapan dengan pemuda fakultas hukum pujaan para gadis yang sangat kita kenal. Dengan air wajah bingung pemuda itu menatap gadis di depannya yang sebelumnya menyeret ke sini.

"ano_ itu" gugup gadis itu seraya curi curi pandang melihat lawan bicaranya yang menatap bingung "itu_" sambung gadis itu masih belum bisa bicara, ia hanya berkeringat dingin di hadapan pria itu. Mengenggam ujung roknya mencari keberanian

"sebenarnya aku menyukaimu sejak lama" ungkapnya

"maukah kau menjadi pacarku" sambungnya lagi dengan wajah merona merah

Akhirnya gadis itu mengungkapkan perasaannya kepada pria yang ia sukai itu, dengan malu malu sang gadis memandang pria di hadapannya harap harap mendapat respon positif yang di harapkan, namun_

.

"maaf_"

.

"aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai" jawab pria itu tegas namun berusaha tersenyum lembut mencoba menenangkan hati lawan bicaranya "tapi kita masih bisa Bersama sebagai teman bukan" tambahnya lagi tak mengubah kenyataan bahwa ia menolak gadis di hadapannya

"ka…kalau boleh tau siapa nama gadis beruntung itu Mario ?" tanya gadis itu menahan air matanya mencoba tersenyum

"bisa di bilang ia sahabatku sejak lama" jelas pemuda bernama Mario itu "aku sadar menyukainya saat ia meninggalkanku" sambungnya dengan senyum mulai memudar, sedikit kaku ia berusaha tersenyum lagi menyembunyikan pedih yang mendadak menyeruak mencul kepermukaan "sampai sekarang aku masih mencintainya, kurasa ia sudah Bahagia saat ini dan hanya aku yang masih tertinggal disini"

"Mario_aku bisa menunggu_" belum sempat melanjutkan ucapannya Mario menggeleng lirih,

"kau hanya membuang waktumu saja untuk pria seperti ku" Kemudian pria itu berlalu meninggalkan gadis itu .

Setetes air mata meluncur mulus dari mata seorang gadis yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok, gadis itu duduk tersandar ke dinding yang dingin dan mulai memeluk kedua kakinya, Isak tangisnya tertelan hingar bingar music festival

"haah_ menyebalkan sekali" desah June dengan air mati masih mengalir dari matanya, iapun mulai menatap kearah langit malam yang cerah tertutup rindang nya pohon "aku bahkan belum menyatakan perasaanku" sebuah air mata terakhir menetes dari pelupuk mata gadis cantik itu sebelum berdiri dan berlalu pergi.

.

.

Grey

.

.

Sebulan telah berlalu semenjak kejadian itu, tak ada satupun dari mereka yang mempertanyakan kejadian dimalam itu. Bahkan sejak saat itu juga gadis cantik kebanggaan fakultas hukum menghilang.

"hey kalian tau junior kita ternyata lumayan juga"

"ohh sudahlah_"

"ayolah" bujuk gadis itu "kita membutuhkan udara segara"

"whatever"

"oh iya _apa kalian pernah dengar tentang pelanggi abu-abu?"

"kenapa?"

"tidak saja, hanya saja ada novel cukup laris berjudul itu"

"buku grey rainbow itu?"

"kau punya bukunya?"

"besok ku bawakan…"

"okk…"

.

.

End

.

.