"Gukkie?"

Taehyung terbangun. Melirik ke kanan dan kiri, sang pemilik nama tak muncul di manapun.

Ditelitinya sekeliling. Taehyung sedikit banyak mengenali ruangan ini. Lemari hitam dua pintu, tiga perempat adalah hak miliknya. Seperempatnya lagi adalah milik seseorang yang bernama Jeonghyun? atau Junghyung?

Gukkie. Panggilan siapa yang baru saja keluar dari mulutnya? Lelaki itu bingung. Hatinya gelisah gelagapan. Pikirannya terus berteriak.

Apa yang telah dia lewatkan?

Siapa yang pergi?

Apa yang hilang?

Sesaat kemudian pintu terbuka.

Menampakkan seorang pemuda dengan rambut cokelat gelapnya. Kaus putih membalut tubuh serta lengan ototnya.

Ah, senyuman itu.

Ia menenggak lamat-lamat. Sedikit merasa lega akan kehadiran senyuman itu.

"Sayang sudah bangun?" katanya lembut mengalun. Taehyung tak dapat mengalihkan pandangannya sesaat.

Pemuda itu melangkah mendekat.

Mengusap butiran air yang telah membasahi kedua pipinya entah sejak kapan. Keningnya dikecup mesra. Kelopak mata otomatis menutup. Hanya kalimat ini yang terdengar oleh telinganya.

"Aku janji nggak akan tinggalin kamu Taehyung."

"Aku cinta kamu."

Taehyung melipat senyum. Kemudian kembali membuka kedua mata.

Pandangannya kembali buram. Setelah menyesuaikan cahaya, ia kembali termenung. Mengangkat kepala, tak sengaja menyenggol gelas kaca yang telah kosong.

Prang!

Ia berdegup semakin kuat. Pening masih menguasai seluruh sudut kepala. Taehyung mulai mempraktekkan ajaran dokternya.

Tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan. Pikirkan apapun yang membuat ia senang. Lagi, wajah sang mantan kembali muncul tak dikehendaki. Selalu jadi pahlawan baginya. Lama kelamaan nafasnya kembali stabil. Tentu tak perlu diragukan lagi. Metode ini selalu berhasil.

Taehyung sudah kembali sadar. Terdiam sebentar, cobaan baru kembali datang.

Perutnya berusaha memuntahkan sesuatu dari dalamnya. Lelaki itu sontak berdiri dan berlari menuju kamar mandi.

Awalan yang bagus untuk memulai hari bukan?


Jeongguk memulai hari seperti biasa. Bangun pukul lima, cuci muka,gosok gigi berangkat joging keliling kompleks selama tiga puluh menit. Pulang ketika pukul enam lebih, bilas diri dan sarapan. Pukul delapan kemudian berangkat pergi bekerja.

Lelaki itu kini menuruni tangga. Rautnya datar seperti biasa, para asisten rumah membungkuk, dibukanya pintu besar itu. Jeongguk melangkah dengan setelan jas rapi rambut klimis berangkat pergi ke kantor.

Perjalanan menuju kantor selama tiga puluh menit dinyalakan, radio juga mulai mengalun.

This love is tainted, I need you and I hate it

You're caught between a dream and a movie scene

In a way, you know what I mean

Jeongguk mendengus. Tatapan masih lurus ke arah jalan.

When the dark turns to mist, I just can't resist it

Mobil hitamnya berhenti tepat di persimpangan jalan. Matanya melamun ke arah jendela. Lagu itu terus berdengung mengisi ruang sempit diantaranya.

Cause I'm a fool for you and the things you do

I'm a fool for you and the things, the things you do

Jeongguk lagi-lagi memikirkan seseorang. Betul, lelaki itu lagi-lagi terbesit dalam benaknya. Kim Taehyung sang mantan terindah yang selalu menghantui pikiran dan hati. Bohong kalau bilang Jeongguk sudah lupa. Bohong sekali bila ia sudah pergi. Kenyataan selalu berkata lain. Anak itu masih terus menyebut nama Taehyung dalam hati.

Taehyung hari ini sudah makan belum?

Hari ini sudah mandi belum?

Gimana, kalau hari ini sudah kangen belum?

I know, I know given the chance, I'd do it again

'Cause

I can't help myself, 'cause I can't stop myself

Jeongguk menghela nafas kasar. Apasih yang baru saja ada di kepalanya? Ia melirik ke arah sumber suara.

I just love being a fool for you.

Cukup sampai disitu. Lelaki itu mengganti saluran radio. Melanjutkan perjalanannya menuju kantor dengan kosong.

Kembali pada sisi lain.

Taehyung sekarang sedang berusaha sekuat tenaga mengangkat diri. Dipakainya sweter hitam asal dan sepatu sandal. Ia keluar apartemen mewahnya, turun sambil memegangi perut seolah akan jatuh seketika.

"Rumah Sakit Internasional Seoul, pak." begitu katanya singkat kepada supir taksi. Kembali ia sandarkan kepala pada kaca jendela taksi. Perutnya betul-betul sakit dan mual. Ia berusaha untuk menutup mulut dan tak mengeluarkan isi perutnya secara cuma-cuma. Apa dia akhirnya hamil? Sebagai kutukan yang diberikan Tuhan akibat sering menjajakan diri? Ia tertawa mengejek, sudah pasti tidak mungkin.

Kerusakan pada hati, itu baru mungkin.

Sejenak ia berpikir, apa kali ini Tuhan akhirnya berpihak kepadanya? Mengabulkan permintaan yang selalu ia pinta setiap menenggak sebutir dua butir anti depresan?

Tak terasa kini ia sudah berada di depan meja resepsionis. Di samping kanan, terlihat sekuriti melingkarkan tangannya pada lengan Taehyung. Membantu Taehyung untuk berdiri setelah beberapa kali hampir terjatuh. Lelaki itu terlalu lelah dan akhirnya membiarkan sekuriti membantu dirinya.

Setelah mendaftarkan diri, Taehyung kembali menepis tangan sekuriti. Masih tetap berpegang pada egonya. Merasa bisa melakukan segalanya sendiri dan tak memerlukan orang lain.

Perutnya melilit. Ia dudukkan bokongnya pada bangku paling ujung. Sejenak Taehyung menutup kedua mata istirahat dan berharap dapat sedikit meringankan rasa perih pada perutnya.

Nama Kim Taehyung akhirnya dipanggil. Ia masuk dengan langkah gontai, tak menyadari kalau sedari tadi lelaki di ujung lorong terus memerhatikannya.

Budak Cinta

Season 2

Chapter 1:

Fools

Jeon Jeongguk x Kim Taehyung

[KOOKV]

Rating: Mature

Romance-Hurt/Comfort-Drama

OOC

Jadenumb, 2020
Your name, forever the name on my lips – Last Kiss, Taylor Swift.


Taehyung berjalan keluar setelah selesai diinfus selama satu jam. Keadaan perutnya cukup membaik. Kata dokter, Taehyung mengidap mag kronis. Akibat lebih banyak mengonsumsi alkohol dan kopi ketimbang air. Kebiasaannya melewatkan makan juga jadi faktor.

Katanya lagi, jika keadaan kembali memburuk Taehyung harus menjalani operasi.

Ia hanya menghela membenturkan kepalanya pada meja di ruang tunggu. Merutuki segala kebodohannya yang katanya tak ingin hidup tetapi juga takut mati. Kalau tidak terpaksa juga Taehyung ogah datang ke rumah sakit.

"Atas nama Kim Taehyung." Lelaki itu mendekati kasir. Sudah bersiap mengeluarkan dompet, petugasnya berkata.

"Tagihan Bapak sudah lunas. Silakan ambil obat ke farmasi." Kata kasir sembari menyerahkan kuitansi pembayaran. Taehyung sedikit bengong tetapi memilih tak ambil pusing. Siapa tahu pemilik rumah sakit ini pernah gunakan jasanya.

Taehyung pergi lagi ke ruang tunggu. Ponselnya berdering. Ia buka ponsel mewah keluaran terkini itu. Pesan masuk dari "Mami"

From: Mami

Message:

V, nanti malam ada jadwal di Hotel Mandarin.

Setengah bayaranmu sudah ditransfer. Sisanya lagi akan kukirim kalau sudah beres.

Detail klien juga sudah kukirim di emailmu.

Iya tentu dikirim lewat email. Pelacur sekarang tentu harus ikuti perkembangan zaman 'kan.

Taehyung cek notifikasi, sepuluh juta sudah masuk ke dalam rekening. Ia beralih mengecek email berisi detail tentang kliennya. Pejabat paruh baya, tes HIV/AIDS dengan hasil negatif, ingin dilayani dengan jasa seks selama satu jam dan blowjob di hadapan para rekan kerja.

Taehyung tersenyum menghina, tak tahu malu katanya di dalam hati. Entahlah Taehyung tak mau peduli. Selama dibayar full ia tak masalah. Ia melihat kotak masuknya. Hanya berisi SMS dari Mami dan chat room dengan mantan yang tak pernah menjawab semua pesan darinya. Taehyung tahu sebanyak apapun pesan yang dikirim, Jeongguk tak akan pernah membalasnya. Pikirnya lagi, Jeongguk sudah ganti nomor ponsel atau memblokir dia.

Jarinya bergerak lagi mengetik pesan untuk Jeongguk. Ia sudah melakukan ini semenjak ditinggal olehnya. Lantaran sampai sekarang ia masih menutup diri. Tak memiliki teman seorang pun. Satu-satunya benda yang menjadi kawannya hanyalah boneka beruang besar di kamarnya.

To: Gukkie

Message:

Gukkie, hari ini Tae ke rumah sakit.

Kata dokter kalau besok kambuh lagi, Tae harus dioperasi.

Aku takut Gukkie… aku takut mati.

Tetapi aku lebih takut kalau harus hidup seperti ini terus.

Send

"Atas nama Kim Taehyung?" namanya kembali dipanggil, obatnya sudah siap.


"Jeongguk?"

"Hey Jeongguk-ah!"

Jeongguk tersentak. Melihat siapa yang telah membangunkannya dari lamunan. Ternyata ada Im Nayeon dengan dress biru muda selututnya sedang cemberut merasa diabaikan. Jeongguk tersenyum canggung.

"Kamu lagi mikirin apa, di kantor sedang ada masalah ya?" Katanya cemas. Im Naeyon seorang tuan puteri dari perusahaan Im, dengan kelakuan tak kalah apik dibanding wajahnya. Umurnya tiga tahun lebih tua dari Jeongguk tetapi sudah menyelesaikan studi sampai strata dua.

Jeongguk hanya menggeleng pelan lanjut makan siang.

"Hari ini kamu ada acara?" Jeongguk mengangkat pandangannya. Lagi-lagi tersenyum dan mengangguk.

"Sayang sekali, padahal hari ini aku ingin tunjukkan kemampuanku.."

"Kemampuan apa?" Tanya Jeongguk menyesap jusnya.

"Hehe.. memasak lah! Apalagi?" Jeongguk tertawa renyah.

"Kok kamu ketawa?! Aku nggak sedang melucu!" Nayeon semakin cemberut. Jeongguk mengusap lembut kepalanya.

"Maaf-maaf.. Kalau hari sabtu saja bagaimana?" Gadis itu kembali cerah. Wajahnya cantik sekali. Ia tersenyum dan mengangguk.

Jeon Jeongguk dan Im Nayeon itu belakangan jadi pasangan favorit di antara para pegawai kedua perusahaan. Yang satu ganteng, yang satunya lagi jelita. Sama-sama kaya, pun asalnya dari dunia yang sama. Berperilaku santun, pintar, ah astaga. Mereka tak sabar bagaimana bentukan keturunan pasangan ini nanti.

"Sampai jumpa hari Sabtu, Jeongguk."

Nayeon berpamitan hendak memasuki mobil. Jeongguk melipat senyum melambaikan tangan. Sesaat mobil Mersi putih itu melesat, lelaki itu membuang nafasnya.

Kring!

Tanda SMS masuk.

Matanya kembali membulat ketika membaca siapa pengirim pesan tersebut.

From: taetae

View | Close

Sekejap ia buka pesan itu. Hatinya kembali diremas.

From: taetae

Message:

Gukkie, hari ini Tae ke rumah sakit.

Kata dokter kalau besok kambuh lagi, Tae harus dioperasi.

Aku takut Gukkie… aku takut mati.

Tetapi aku lebih takut kalau harus hidup seperti ini terus.

Jeongguk membuang nafas kasar. Taehyungnya sakit. Hatinya bertambah sakit juga sekarang. Dilema harus bertindak apa kalau sudah begini.

Sekretarisnya menelepon. Katanya ia harus segera kembali karena rapat akan dimulai lima belas menit lagi. Jeongguk coba untuk kesampingkan urusan Taehyung dahulu. Ia tak boleh egois kan?

Tak terasa matahari larut begitu cepat. Sekarang sudah pukul tujuh malam, jadwalnya malam ini menghadiri meeting dengan para pejabat perusahaan lain. Lokasinya ada di jantung kota Seoul, hotel bintang lima yang mewah dan mahal tentunya.

Ia duduk di dalam mobil sekarang. Otaknya tak mau fokus. Selalu kembali terpikirkan keadaan Taehyung sekarang. Yugyeom bilang, mereka sudah selesai. Tak seharusnya ia mengingat-ingat tentang Taehyung, mantannya itu yang hanya memanfaatkan dirinya saja.

Hidup harus berjalan, Jeongguk tahu itu. Saat ia memutuskan untuk pergi, saat itu juga hidupnya terhenti.

Ia hanyalah sebuah tubuh yang tidak hidup.

Jeongguk memijat kedua pelipisnya.

"Maaf Pak, Bapak sudah sampai tujuan."

Jeongguk mengangkat wajah, mengusapnya dan bergegas keluar. Tak lupa ia katakana terima kasih untuk supirnya itu.

Sesaat Jeongguk menginjakkan kaki, seluruh pegawai membungkuk.

Tidak, bukan ini yang Jeongguk inginkan.

Wajahnya ia buat keras dan tegas. Bahunya tegap, melangkah seolah tak akan ada yang berani menantangnya. Ia dituntun langsung oleh manajer hotel ke ruangan rapat yang berada di lantai tujuh.

Di dalam ruangan, telah berkumpul para direktur perusahaan. Mereka bilang kali ini rapatnya santai dan sangat boleh untuk membawa seorang escort. Maka tak heran jika rata-rata di samping mereka terdapat wanita cantik yang menggelayuti lengan. Jeongguk sudah terbiasa akan hal itu. Datang sendirian dan hanya untuk menghormati undangan mereka yang lebih senior.

Semuanya berjalan lancar hingga seorang direktur perusahaan ekspor datang.

Lelaki paruh baya itu datang dengan senyum congkaknya. Rapih dengan setelan jas mahal serta jam tangan ratusan juta. Tetap Jeongguk tak peduli, ia hanya menyesap teh hangatnya. Sampai ia dengar suara baritone itu.

Suara yang sampai kapanpun tak akan pernah hilang dari ingatannya.

Dalam tetapi lembut, ia kenal betul suara itu.

Reflek menoleh, tatapannya tak sengaja beradu.

Itu Kim Taehyung berdiri dengan setelan kemeja garis ungu, syal hitam melingkar di lehernya. Rambutnya sudah tak pirang lagi. Berubah gelap jadi cokelat tua dan tampak sengaja ia panjangkan sedikit menutupi tengkuk. Bibirnya merah menggoda, tetap tidak berlebihan sama sekali.

Taehyung selalu begini. Ia selalu ayu dan menawan.

"Ayo mari kita mulai rapatnya!"

Taehyung membuang wajah, masih tetap mempertahankan ekspresi wajahnya. Jeongguk membelalak bukan kepalang lagi.

Tangannya terkepal kuat, sedang Taehyung ingin hilang saat itu juga.


Haloo,

Terima kasih selalu aku ucapkan kepada semua temen-temen yang setia membaca atau menunggu fic ini! selalu aku usahakan untuk update lebih sering, aku nggak tau harus ngomong apaa tetapi terima kasih banyak! (love)