Jeongguk menghela sembari meletakkan kembali sendok pada semangkuk bubur itu. Seorang perempuan paruh baya berbaring di atas ranjang. Rautnya tak secerah kulitnya. Ia merajuk, lantaran anak kesayangannya ini sudah ingin pergi lagi. Padahal berkunjung saja jarang.
"Jeongguk harus kerja, bu." Jeongguk diam menatap ibunya yang masih saja berpura-pura sibuk membaca majalah.
Yugyeom di seberang hanya tertawa sembarimenyesap kopi. Siapa suruh jarang mampir, begitu serunya. Jeongguk hanya mendengus kembali menyuapi ibunya sesendok bubur.
"Ibu kan cuma pengen disuapi oleh kamu, Jeongguk. Judes banget anak Ibu?"
"Bukan begitu bu, Jeongguk ada rapat pagi ini."
"Sudah kamu tunda 'kan?"
"Ya sudah sih.."
"Kalau begitu jangan banyak protes."
Yugyeom hanya kembali tertawa. Jeongguk sedikit cemberut. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba ponselnya berdering. Pas sekali saat ia menyuapi suapan terakhir untuk ibunya.
Katanya Jeongguk harus segera kembali ke kantor dalam beberapa menit. Lelaki itu bergegas menaruh mangkuk kosong itu di atas meja. Mengecup pipi Ibu dan kembali memakai jas hitamnya.
Kakinya mengetuk-ketuk tak sabaran menunggu pintu lift terbuka. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat itu juga matanya terkunci pada satu sosok.
Di ujung lorong dekat jendela, terlihat seorang lelaki bersandar pada dinding. Kelopak matanya tertutup sembari membalut bagian perut dengan tangannya. Kedua alis tebal menukik ke bawah.
Bibirnya meringis kesakitan. Jeongguk terus menatap lekat dan teliti, barangkali salah orang.
"Pak?" Jeongguk terlihat linglung. Yang menegur tak kalah bingung. Ia perlahan melangkah menjauhi pintu lift tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Jelas sekali kalau itu Taehyung. Tetapi apa yang dilakukannya di rumah sakit? Kenapa Taehyungnya itu tampak kesakitan?
Ia khawatir. Tidak, ia sangat cemassekarang. Taehyung sakit apa? Kenapa terlihat tersiksa begitu. Tangannyaterkepal kuat. Menahan diri untuk tak segera mendatangi mantannya itu. Takingin membuat empat bulannya berakhir dengan sia-sia.
Jeongguk tak bergerak dari tempat sebelumTaehyung dipanggil masuk oleh perawat. Lelaki itu akhirnya turun. Lagi-lagiJeongguk bertindak di luar akal. Ia melangkah ke kasir seraya berkata.
"Tagihan atas nama Kim Taehyung tolongmasukkan ke tagihan saya." Kasir itu menuruti perintah.
Lagipula ini soal Taehyung, ia lakukan apapun untuknya.
Budak Cinta S:2
Jeon Jeongguk x Kim Taehyung
[KOOKV]
Chapter 2 :
Tainted
Don't you know I'm no good for you? I've learned to lose you, can't afford to.
–when the party's over, Billie Eilish
Taehyung duduk di sebelah kanan sembari menggelendoti lengan kliennya. Kepalanya ia sandarkan pada bahu, tatapannya terus menatap ujung sepatu. Tak sedikitpun memiliki keberanian untuk menatap Jeongguk karena masih punya urat malu. Dalam hati berharap ini semua hanya mimpi.
Sedang Jeongguk menatap lekat mantan kekasihnya itu.
Lelaki itu tak sedikitpun melepaskan pandangannya. Taehyung kekasihnya yang cantik, sedang duduk manis di sebelah rival bisnisnya. Park Seojoon. Seorang pebisnis di bidang transportasi, umurnya masih terbilang muda untuk menjalankan bisnis yang sukses dan sebesar ini. Yang ia ketahui Bapak ini sudah beristri dan beranak satu. Tetapi di belakang panggung memang sering jajan begini. Tak sekali dua kali Jeongguk melihat Seojoon menggandeng seseorang selain istrinya.
Seojoon yang sadar akan tatapan Jeongguk ke arah escort-nya, menggoda seperti begini.
"Jeon Jeongguk, gimana kabar perusahaanmu? Aku dengar kemarin sahamnya turun lagi ya?" Katanya congkak sambil tersenyum miring.
"Baik, semuanya baik." Jeongguk menyesap teh hangat. Kakinya mengetuk-ketuk gusar, entah apa yang ditunggu.
Seojoon kembali tersenyum sembari melirik Taehyung.
"Tenang, aku nggak akan pakai dia lama. Habis aku, kamu boleh lanjut pakai." Jeongguk membatu seketika. Pegangannya pada cangkir itu mengeras. Rahangnya apalagi. Mati-matian ia tahan agar tak lepas kendali memukul wajah si berengsek itu (Jeongguk menyebutnya begitu).
Perkataan Seojoon mengundang tawa dari rekan sekitarnya, tentu kecuali Jeongguk. Pemuda itu hanya diam membuang wajah. Beralih menatap jendela di sebelahnya. Taehyung mendongak masih tertawa kembali melipat manis bibirnya.
Pembicaraan bisnis kembali mengudara. Kali ini topiknya tentang ekspansi bisnis. Jeongguk tak banyak ambil bagian. Hanya sekadar mengangguk dan berkata ya atau sebaliknya. Jeongguk lihat dari sudut mata, Seojoon mulai membisikkan sesuatu pada telinga Taehyung. Taehyung tersenyum menggoda sembari tertawa. Tangan kurusnya meraih sesuatu dari balik meja.
Suasana mulai panas, tak hanya Seojoon, rekan kerja lainnya sudah sibuk bercumbu.
Seojoon melebarkan kaki, Taehyung mulai menjalankan pekerjaan pertamanya.
Cukup sampai di situ. Jeongguk keluar tanpa permisi. Ia tak peduli, daripada ruangan ini beserta isinya hancur di tangannya.
Sedangkan Taehyung sedang berusaha keras agar tak gemetar dan menangis saat itu juga.
Jeongguk keluar ruangan melangkah tak tahu arah. Kemana saja asal tak lihat Taehyung. Hatinya sakit, ah tidak, bahkan hancur sudah sekarang.
Terkadang Jeongguk sering termenung sendiri. Selalu mempertanyakan segala keputusan yang dibuatnya sampai saat ini. Semua orang berlomba memuji. Terkagum sebagaimana ia pandai dalam mengambil keputusan. Mengagumi sosoknya yang dewasa dan bijak. Mereka tak tahu di balik itu semua, Jeongguk juga pernah salah.
Pergi meninggalkan Taehyung saat itu adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.
Bagi orang lain, hal itu mungkin tak berarti apa. Bahkan menganggap Jeongguk telah membuat keputusan terbaik. Lagi-lagi mereka tak tahu apa-apa. Mereka hanya peduli tentang diri sendiri. Tak satupun bisa mengerti, atau mencoba sekali untuk paham.
Jeongguk korbankan dirinya untuk mereka. Merelakan Taehyung yang sudah seperti dunia buatnya.
'Ibu selalu sebut nama kamu, Jeongguk. Kembalilah dan jangan gegabah. Taehyung itu hanyalah pelarianmu. Kamu nggak benar-benar mencintai dia.'
Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu kini berdiri di balkon hotel. Seketika perasaan marah kembali menyelimuti hati tatkala suara Yugyeom kembali terputar di kepala. Angin malam meniup lembut untaian rambutnya. Ia semakin menyesali keputusannya kala itu.
Ia angkat pergelangan tangannya. Jam tangan seharga ratusan juta itu menunjukkan pukul sembilan lebih lima. Tak sadar hampir satu jam ia habiskan hanya untuk melamun. Jeongguk merogoh saku celana. Mendelik horor ketika menyadari bahwa, dengan bodohnya, ia telah meninggalkan ponsel di dalam ruangan.
Sial. Kalau begini caranya mau tak mau ia harus kembali ke sana, yang bagi Jeongguk sudah seperti simulasi di neraka. Langkahnya berat menuruni tangga.
Pintu lift terbuka. Jeongguk melangkah masih dengan raut tak berekspresi. Langkahnya tetiba berhenti. Ditatapnya sebuah pintu kamar yang tak terkunci rapat. Ada-ada saja kelakuan orang kaya, ungkapnya dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
Tak sampai dua langkah melaju, Jeongguk berhenti lagi. Kali ini matanya kembali mendelik.
"Ah! umh! S-sakit tuan…"
Pemuda itu kembali eratkan jari-jari tangan.
Tak lama pintu itu terbuka. Memperlihatkan si berengsek yang sedang menaikkan resliting celananya. Jeongguk masih di sana tak bergerak sekalipun. Bahkan ketika Seojoon menepuk pundaknya sembari berkata.
"Aku sudah selesai. Kira-kira masih ada, yaa- sekitar lima belas menit?" Seojoon tertawa.
"Sengaja aku sisakan untukmu, adik kecil. Ah satu lagi, pelacur itu sangat ajib dan terkenal, jadi jangan sia-siakan kesempatanmu. Atau kau akan menyesal." Seojoon melambaikan tangan, melangkah menuju lift.
Jeongguk tak pernah sekalipun berhasrat kuat untuk membunuh orang sampai detik ini.
Ia kembali berdebat. Haruskah ia masuk ke kamar itu? Atau kembali jadi pengecut seperti sebelumnya?
Samar-samar Jeongguk bisa mendengar isakan tangis dari dalam.
Jeongguk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ya, tentu saja ia melangkah menjauhi kamar itu.
Pergi tinggalkan Taehyung lagi.
Hari ini temperatur di kota Seoul hanya sekitar 5 derajat. Taehyung bangun kedipkan mata. Pakaiannya masih tertanggal di atas lantai. Tangannya meraba-raba sekitar mencari ponsel. Angka di layar menunjukkan pukul sembilan. Taehyung melempar ponselnya asal.
Tak terasa kini ia berada di penghujung tahun. Segalanya terjadi begitu cepat. Dengan sekejap Jeonggukk telah kembali ke kodrat, bertunangan hingga ibunya yang berangsur membaik. Hidupnya tampak terlihat mulus, bahkan semakin sejahtera. Sedangkan keadaan Taehyung sebaliknya justru semakin merosot, apalagi mentalnya.
"Jeonggukk pasti jijik lihat aku semalam…" Air mata lagi-lagi membasahi pipi. Dadanya tercekik, sulit baginya untuk bernafas lagi.
Tiba-tiba perutnya melilit. Baru sadar bahwa ia telah menengguk segelas alkohol semalam. Mau gimana lagi? Maklum pekerjaannya selalu menuntutnya untuk minum alkohol.
Nafasnya tersengal, mengingat perkataan dokter kemarin.
'Kalau besok perutmu sakit lagi, saat itu juga saya harus ambil tindakan untuk operasi'
Ia harus bagaimana? Perutnya sakit sekali. Keringat mulai bermunculan di dahinya. Taehyung takut, takut sekali.
Ah, benar juga.
Semuanya sudah terkuak sekarang. Kelakuan Taehyung yang masih setia menjajakan tubuh untuk bertahan hidup, sudah disaksikan oleh Jeongguk. Dia masih ingat betul bagaimana kedua netra itu menatap dengan penuh sayang dan rasa kagum. Tetapi semuanya berubah, Jeongguk kini membencinya. Lagipula siapa yang tak jijik melihat dirinya kemarin? Bahkan Taehyung pun merasakan hal yang sama.
'Jangan ragu untuk benci aku, kamu berhak untuk lakukan itu semua. Kalau aku jadi kamu, pun aku akan lakukan hal yang sama' Taehyung seolah Jeongguk bisa dengar perkataanya.
Sialan. Taehyung tak kuat lagi menahan nyeri di perut, belum lagi bokongnya yang berdenyut. Kepala kini pening luar biasa. Dengan energi seadanya, ia pakai kembali pakaiannya. Untung bawa sweter yang diyakini bekas peninggalan Jeongguk.
Lelaki itu keluar hotel dan cepat menyegat taksi. Berkata singkat minta diantar menuju Rumah Sakit Internasional Seoul. Ia hanya menatap nanar refleksinya dari kaca.
Anak itu sudah tak kuasa lagi menahan segala rasa di tubuhnya. Terakhir kali yang ia ingat adalah menuruni taksi dan bam! Semuanya gelap. Satu lagi. Satu-satunya yang ia pikirkan saat itu ialah Jeongguk. Jeongguk yang kini mungkin saja tak sudi bertemu lagi dengannya.
Hari ini cerah meskipun menggigil. Semuanya berjalan, tetapi kenapa hanya ia yang terhenti. Semuanya terasa sakit, nyeri sekali apalagi di bagian hati. Air mata jatuh lagi dari pelupuk. Taehyung sudah tak punya alasan lagi untuk terus berada di sini.
Sekarang bulan desember, bulan kelahirannya dan akan menjadi bulan dimana ia pergi.
Taehyung tak takuti apapun lagi, kematian sekalipun.
JSBTS: yaampun aku terhura masih ada yang nungguin T-T maaf ya lama bangeett untuk ngepublish dan update cerita. Makasih banyakk yaa karena selalu support akuu!
