Budak Cinta S:2

Jeon Jeongguk x Kim Taehyung

[KOOKV]

Chapter 3:

Wrecked

Tell me, love is endless, don't be so pretentious

Leave me,

like you do

listen before I go – Billie Eilish

Warning: depression – suicidal


Seorang laki-laki dengan pakaian minim sedang duduk di depan bar. Tangan kanan digunakan untuk menumpu beban tubuhnya, sedangkan yang lain dipakai untuk memegang gelas kecil beirisikan cairan berwarna coklat jernih. Raut wajahnya sarat akan kebosanan. Maka ia tenggak lagi seloki itu. Memandang lurus ke arah panggung dengan mata setengah terbuka.

Diskotek malam hari itu tak jauh berbeda dengan hari lainnya. Selalu ramai karena tak pernah gagal memikat pengunjung agar datang kembali. Tiupan saksofon terus mengalun penuhi indera pendengaran. Nadanya mengeluk mainkan nada rendah sampai beroktaf tinggi dengan iringan piano menyertai di belakang. Lelaki itu tak pernah menyukai pekakkan musik disko yang selalu buatnya setengah tuli. Satu-satunya yang buat bokongnya betah menongkrong pada hari ini ialah alunan musik jazz yang selalu berikan ia perasaan seperti melayang di atas awan.

Bagi lelaki berusia dua puluh empat tahun itu tidak ada yang lebih nikmat ketimbang minum wiski ditemani dengan lantunan musik jazz di sekitanya.

Malam itu jatuh bertepatan pada tanggal 30. Hari dimana sebuah perayaan spesial yang dirayakan sekali setiap bulan dan selalu di tanggal 30. Namanya Jazz Night, perayaan yang dicetuskan oleh seorang primadona dari Diskotek Your Stigma. Sudah berjalan setahun semenjak Jazz Night terlaksana dan selalu sukses mengundang tamu-tamu lama maupun pendatang. Karena hanya pada hari ini, Kim Taehyung, seorang kembang dari distrik merah akan menghabiskan waktunya secara cuma-cuma di ground level, sebutan untuk lantai dasar yang aksesnya terbuka untuk umum.

Kapan lagi kan melihat bidadara duduk cantik dengan seloki di tangan kanannya, barangkali beruntung bertatapan dengan kedua netra kakaonya yang konon dapat menyerap siapapun yang melihat.

Seluruh pengunjung diwajibkan memakai setelan rapi ala-ala masquerade party. Pengunjung laki-laki harus memakai jas dan kelengkapannya. Sedangkan wanita memakai gaun malam. Tak sedikit pula yang memakai topeng penuh menutupi wajah ataupun hanya setengah bagian. Taehyung tak mau ambil ribet. Gaun satin itu berkilau di bawah cahaya meremang. Masuk menyelimuti tubuh rampingnya terkecuali pada potongan garis 'v' yang sukses pamerkan dada mulusnya. Helai pirang nyentrik kontras dengan sekeliling. Warna zamrud menyalang sama sekali tak berkesan urakan di atas kulit. Seolah warna itu tercipta hanya untuk Kim Taehyung seorang. Pun tiada seorang yang mampu menolak pesona lelaki itu.

Taehyung selalu menikmati atensi yang diberikan oleh sekitar. Merasa dirinya adalah seorang yang paling menarik buatnya pesan lagi segelas wiski.

Sampai ketika seorang pemuda dengan pakaian serba hitam menghampiri dia, meminta izin untuk duduk di sebelahnya. Taehyung menarik sebelah alis. Ia tatap lekat pemuda itu. Badannya tinggi semampai. Pinggang ramping bertolak belakang dengan bahunya yang lebar dan terlihat kokoh. Dan yang paling penting, wajahnya ganteng, bahkan rupawan. Tentu Taehyung mengangguk tak menolak.

Pemuda yang tampak berusia di awal dua puluh tahunan itu memesan sebuah minuman. Taehyung masih teliti wajahnya dari samping. Suara merdu, rahang tajam, dan tolong, tahi lalat di leher itu tampak sangat menggoda di matanya. Andai saja yang datang untuk setubuhi ia bentukannya selalu seperti ini, maka dia sudah pasti akan mengangkang dengan ikhlas tanpa dibayar.

Detik selanjutnya ia menoleh, menatap Taehyung dengan teduh dan penuh kagum.

"Malam ini kamu menawan sekali." Taehyung masih diam tertegun. Suaranya ya Tuhan. Taehyung sanggup dengarkan anak ini berceloteh seharian. Eh tunggu. Apa dia baru saja memujinya?

"Ah, bukan. Kamu selalu tampil memikat. Bahkan setiap kali aku melihatmu, tak pernah sekalipun aku bisa palingkan pandanganku," ucap lelaki itu, "apalagi setiap kamu tampil di atas panggung."

Taehyung tertawa renyah. "Panggung yang mana maksudmu?" katanya semakin memusatkan seluruh perhatiannya pada pemuda di hadapan.

"Tentu panggung yang selalu jadi tempatmu, entah itu untuk bernyanyi ataupun bermain piano." Taehyung lagi-lagi menarik kedua alis. Dia mengira panggung yang dimaksud adalah tempat yang biasa ia gunakan untuk lakukan tari-tarian seksi atau menari dengan tiang.

Lantas ia berdeham, kembali menyeruput gelas seloki tanpa putuskan tatapannya. Tak menyadari jantungnya berdegup dengan kuat semenjak kehadrian lelaki ini.

"Aku suka sekali mendengar suaramu, V." Lelaki berwajah ayu itu semakin tertarik. Lantas ia sunggingkan senyum dan berkata.

"Terima kasih. Ini pertama kalinya aku dengar seseorang memujiku tanpa embel-embel ingin mengajakku untuk ke kasur." Pemuda itu lagi tertawa.

"Aku Jeon Jeongguk, sangat senang bertemu denganmu, V."

Jeon Jeongguk, nama yang tampan untuk lelaki tampan, kata Taehyung dalam hati. Lagi-lagi jantungnya bergerak menganggu dengan kecepatan yang tidak normal. Really, Kim Taehyung? kamu jatuh cinta secepat itu? Bahkan setelah bertahun-tahun tak pernah jatuh cinta kepada siapapun, hatinya dengan mudah takluk dengan seorang laki-laki yang baru saja ditemuinya sepuluh menit yang lalu.

"Senang bertemu denganmu juga, Jeon Jeongguk."

Taehyung merayu dengan mata dan gestur tubuhnya. Tetapi, memang sedari awal pemuda di hadapannya itu memang berbeda. Tak sedikitpun dia menatap Taehyung dengan tak senonoh apalagi nafsu. Dia berikan tatapan penuh puja dan penghargaan. Seolah Taehyung ini adalah seorang yang sangat bernilai dan berharga.

Hari itu adalah hari dimana Taehyung jatuh cinta dengan cepat, hanya dalam hitungan menit.

Lelaki itu menenggak lagi tak sadar menutup kedua mata.

Sepersekian detik ia melihat segalanya runtuh. Tubuhnya lunglai seperti dijatuhkan dari atas gedung. Seluruh pandangan seketika menjadi gelap. Taehyung menoleh ke kanan dan kiri. Kini semuanya tampak familiar. Satu ranjang abu-abu ukuran single, dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Satu-satunya yang berbeda ruangan hanyalah kamar mandi. Tentu tempat ini akan selalu melekat di kepalanya.

Tak ada lagi gemerlap yang selama ini berpendar mengelilingi. Tidak ada lagi sorot cahaya yang selalu menyalang hanya karena eksistensinya. Kini satu-satunya yang melekat pada tubuh Taehyung hanyalah sebuah kaos besar dan celana pendek. Ia lihat ke kiri, itu kekasihnya, sedang membuka lemari berniat untuk memasukkan seluruh pakaian dan barang-barang miliknya.

Dalam matanya tak satupun ia kenali orang itu. Tidak, ia tak mau semua ini berakhir dengan ending yang sama.

"Gukkie, pleas-e… jangan tinggalin aku." Taehyung peluk sosok itu dari belakang. Tumpahkan seluruh air mata yang sedari tadi sudah menggenang di pelupuk. Sosok itu hanya terdiam terus lanjutkan kegiatannya.

"Aku butuh kamu Gukkie, jangan... kumohon." Tubuhnya terdorong ke belakang. Dia lihat lagi untuk yang kedua kali Jeongguk berlalu memunggunginya. Pergi dan membuang dirinya begitu saja. Taehyung meringkuk terus menjambak rambut semakin histeris. Dadanya semakin menyempit, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk bangun dari mimpi buruk ini.

Sedetik kemudian gelap kembali menutupi mata. Hal yang terjadi selanjutnya ialah ia terbangun dengan gelagapan. Dada masih kembang kempis rakus menghirup oksigen di udara. Ia sentuh hidungnya, ternyata disumpali saluran yang entah apa fungsinya. Taehyung kembali menjatuhkan diri ke atas kasur.

Tuhan masih memberi kesempatan hidup rupanya.

Taehyung tengokkan kepala. Cahaya matahari menyapa wajahnya dari sela-sela gorden kamar. Tenggorokkannya terasa sangat kering. Kemudian ia bergerak meraih segelas air yang letaknya di atas nakas paling ujung. Dalam hati menyumpahi siapapun yang menaruh gelas di sana, karena sekarang, gelasnya jatuh akibat terlalu jauh dari jangkauannya.

Tubuh masih terasa sangat lemas, apalagi bagian kiri perutnya. Selang beberapa menit dokter serta perawat datang. Taehyung melengos tak peduli ketika mereka mengecek kondisinya. Setelah selesai, kedua orang yang berjasa telah menyelamatkan lambungnya itu berdiri di depan ranjang.

"Lambung bapak luka dan pendarahan. Kemarin kami sudah lakukan operasi dan berhasil. Bapak butuh sekitar satu hingga dua minggu lagi paling lama untuk pemulihan." Taehyung masih bersikap tak acuh, padahal jantungnya berdegup keras.

"Ada yang mau bapak tanyakan?" Dokter setengah tua itu tersenyum ramah.

"Sekarang tanggal berapa dok?"

"Sekarang tanggal sepuluh hari minggu. Bapak sudah tidur selama dua hari." Taehyung melongo lagi.

Terlambat ia sadari bahwa kasur yang saat ini ia tiduri terlampau nyaman untuk ukuran sebuah ranjang rumah sakit. Kini saatnya ia meneliti ruangan dan furnitur yang ada di dalam kamarnya. Dinding yang ia yakini berbahan kayu berwarna putih, tirai abu-abu tinggi dan besar yang menutupi jendela kamar yang ukurannya tak kalah besar, sofa, bahkan televisi tersedia di sini. Kamar ini justru lebih layak disebut sebagai kamar hotel ketimbang ruangan untuk orang sakit begini.

Kenapa mereka berikan ia kamar dengan fasilitas lengkap begini? Sudah pasti kamar ini berada di tingkat paling atas dan tentu biayanya mahal.

"Uh- dokter? Boleh saya dipindahkan ke kamar yang biasa saja? Semua fasilitas di sini bakal mubazir, karena tidak ada yang akan datang mengunjungi saya." Dokter itu menoleh ke arah perawat. Berbisik membicarakan sesuatu, lantas mengangguk dan tersenyum.

"Akan saya beritahu bagian administrasi. Kalau begitu, selamat siang pak, jika bapak butuh bantuan silakan pencet tombol merah yang ada di kiri bapak. Semoga lekas sembuh, pak."

Dengan itu Taehyung ditinggal lagi di kamar kelewat mewah ini.

Sejak saat itu hari-hari Taehyung berjalan dengan monoton. Sebagian besar harinya dilewati dengan melamun ke arah luar jendela. Izin cuti bekerja sudah disetujui oleh Mami. Oh, tentang kamar. Dokter bilang bahwa kamar yang lain sudah penuh, sehingga ia tak punya pilihan untuk menempati kamar ini hingga pulih.

Taehyung menaruh curiga kepada orangtuanya yang sengaja menempatkan ia di dalam kamar mahal dan mewah ini. Tidak mungkin kan pihak rumah sakit langsung menempatkan ia di ruangan VVIP seperti ini. Lagipula siapa lagi yang bersedia mendanai seluruh pengobatan dan kamar mewah kalau bukan orangtuanya yang penuh dengan gengsi itu?

Laki-laki itu tak pernah menyukai topik pembicaraan tentang orangtua, apalagi soal ayah. Membayangkan wajah mereka saja sudah cukup buatnya bergidik ngeri. Sama sekali tak mau kembali ke rumah itu.

Kalau dipikir-pikir lagi, jika memang benar seluruh fasilitas yang dinikmati dia sekarang berasal dari orangtuanya, kenapa sampai saat ini mereka tak kunjung mengunjungi Taehyung?

Dia lagi menghela napas, terus tenggelam dalam pikirannya sembari menghitung butiran salju yang turun dari langit.


Jeongguk menyesap kopi panas dari belakang meja. Laki-laki itu tak henti-hentinya mengusap wajah frustasi. Rapat hari ini untungnya berjalan dengan lancar, tetapi hatinya terus gusar. Semua ini karena Taehyung yang masuk rumah sakit dan operasi.

"Kamu OK Gukk?" Yugyeom berdiri di sampingnya sekarang. Dia menoleh tunjukkan senyum seadanya.

"Sejujurnya," ucap Jeongguk sedikit gugup, "tidak."

"Kenapa? Taehyung lagi?" Jeongguk beralih tatap minuman hitam itu, lantas mengangguk sedikit.

"Iya."

"Kamu kayak gak tau dia aja." Pemuda itu menoleh tatap lagi profil Yugyeom dari samping.

"Maksudnya?"

"Maksudku… dia drama banget kan?" ucap Yugyeom kemudian menyesap kopinya, "kan kamu sendiri yang cerita kalau dia memang suka cari perhatianmu?"

Jeongguk menghela napas berat. Menyesal bercerita tentang pesan singkat yang ia dapat serta keadaan Taehyung akhir-akhir ini. Dia tahu hubungannya dengan Taehyung sudah berakhir, tetapi benaknya tentu masih merasa emosi ketika seseorang berkata yang tidak-tidak tentang lelaki itu.

"Aku yakin itu semua hanya akal-akalannya saja agar kau mau kembali dengannya."

"Yugyeom, cukup." Jeongguk meremas gelas kertas itu yang isinya sudah habis ia tenggak, untungnya.

"Kalau kau memang tidak mau membantu, lebih baik diam saja." Lanjut Jeongguk kemudian berbalik berniat tinggalkan sepupunya itu di lounge room sendiri.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Jeongguk-ah. Jangan mengada-ada dan membuat alasan agar kau bisa kembali bersama pelacur itu." Yugyeom terus menenggak kopinya tanpa perasaan bersalah sedikit pun atas apa yang keluar dari dalam mulutnya.

Jeongguk seketika diam di tempat. Tanpa membalikkan kepalanya ia berkata.

"Sekali lagi aku dengar kau sebut dia seperti itu, aku gak akan menahan diri lagi, Yugyeom." Jeongguk banting pintu itu menimbulkan bunyi yang keras.

Rahangnya mengeras sekarang. Seluruh karyawan yang melewati Jeongguk tak lagi berani menyapa atau sekadar tersenyum kepadanya. Sangat aneh sekali melihat atasannya itu terlihat sangat kesal dan marah. Dia tekan tombol angka 12, ruang dimana tempatnya bekerja.

Jeon Jeongguk adalah seorang pimpinan dari perusahaan tambang terkenal di kota Seoul. Identitasnya sebagai pewaris perusahaan ini baru terkuak beberapa bulan yang lalu. Alasan mengapa identitasnya baru dibuka belakangan ini karena, sedari awal Jeongguk sama sekali tak tertarik dan menolak untuk melanjutkan bisnis keluarga ini. Maka dari itu, ia keluar, meskipun hanya sementara, dari lingkup keluarga besarnya untuk menjalani hidup sendiri sampai ketika ibunya sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Namun sayang, pemuda itu sudah telanjur nyaman dengan hidupnya dahulu. Atau jika diperjelas, hidupnya dahulu yang serba mepet alias pas-pasan. Nyaman karena bertemu dan memiliki seseorang yang ia cintai. Seseorang yang mampu menerima seluruh curahan afeksinya dengan baik, tanpa merasa penuh. Satu-satunya orang yang dapat membuat dia rela dan bisa untuk menjadi apapun.

Satu-satunya yang ingin ia lakukan saat ini ialah mengambil seluruh pecahan di kakinya dan mulai lagi dari awal.

Sudah dua hari berlalu semenjak ia mendapat kabar bahwa Taehyung sudah sadar. Setelah memadatkan seluruh pekerjaannya pada hari-hari sebelumnya serta pagi dan siang hari ini, tibalah saatnya ia menjenguk mantan kekasihnya itu. Jeongguk tahu seluruh alur dari awal Taehyung masuk ruang operasi, sampai pemindahan kamar, itu semua perbuatan Jeongguk. Kalau mau jujur lagi, tak pernah ia lewatkan semalampun untuk absen menjenguk Taehyung, yang saat itu masih belum sadar, setiap malam sehabis pulang bekerja.

Setelah mengambil pesananan bunga, laki-laki itu kembali injak pedal gas menuju rumah sakit tempat dimana Taehyung dan secara kebetulan tempat ibunya dirawat.

Langkah besar diambil oleh Jeongguk. Jantungnya berdegup tak karuan, tidak sabar untuk cepat-cepat bertemu dengan Taehyung. Tatapan tanda tanya yang dilayangkan oleh sekretarisnya tak satupun ia gubris. Lantas pemuda itu memerintahkan dia untuk kembali ke kantor dan disanggupi.

Ia tekan tombol angka sebelas. Tak sadar melipat senyum ketika menatap rangkaian bunga itu. Jeongguk keluar dari lift bergerak menyusuri lorong lantai rumah sakit, kepalanya menoleh ke kanan mencari kamar dengan nomor 0109.

Dari sini Jeongguk dapat melihat dua perawat yang baru saja keluar dari kamar tersebut. Tidak sengaja mendengar percakapan di antara keduanya. Sontak ia berhenti lagi membulatkan mata.

"Entahlah, kalau besok pasien 0109 masih belum bernafsu makan, kurasa kita masih harus terus pasangkan NGT."

Lelaki itu menghela napas. Dalam benak bertekat untuk segera membereskan segala kekacauan yang telah dibuatnya. Jeongguk saat ini sudah sampai di depan pintu. Tak mau banyak berpikir ia membuka pintu itu dengan sekali napas.

Hal yang pertama kali muncul dalam pengelihatannya ialah punggung lelaki itu. Tubuhnya bergerak naik turun secara konstan, tengkuk leher itu kini ditutupi oleh surai cokelatnya. Taehyungnya terlihat begitu rapuh. Pemandangan yang sama sekali tak pernah Jeongguk harapkan.

Ia melangkah masuk. Bahkan anak itu sama sekali tak bergeming ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya. Perlahan ia taruh karangan itu pada nakas kosong di sebelah ranjang. Taehyung masih diam. Nampak sama sekali tak tertarik dengan siapapun itu yang baru saja menginjakkan kaki di sini.

"Taehyung."

Sesuatu dalam diri Taehyung tersentak begitu suara itu masuk ke dalam telinga. Lelaki itu selalu panggil namanya dengan lembut. Tak pernah sekalipun ia berteriak apalagi membentaknya. Lagi, kedua mata Taehyung selalu berembun ketika memikirkan tentang Jeongguk.

Ini sudah kali ketiga ia mendengar suara ataupun melihat bayangan dari sang mantan kekasih dalam ruangan ini. Taehyung sudah menyerah. Dia sudah lelah harus terus hidup dengan segala penyakit yang dideritanya, baik mental maupun fisik.

"Tae?" ucap Jeongguk, masih tak menerima jawaban apapun, "…sayang." Barulah ia mendapatkan sebuah reaksi. Tangan Taehyung bergerak menutup kedua telinga. Rengekkan dan tangisan mulai mengudara.

Semuanya berubah semakin kalut tatkala Jeongguk menyentuh pundak itu. Sungguh, Jeongguk tak pernah menyangka semuanya berakhir seperti ini. Taehyung semakin histeris. Berteriak memerintahkannya untuk pergi dari sini. Dirasa kehadiran sosok 'Jeongguk' itu belum menghilang, maka buru-buru ia tekan tombol merah itu dengan cepat.

Sesaat kemudian dokter beserta perawat masuk. Keadaan sudah tak terkendali. Taehyung dengan rambut acak-acakan, menatap dokter dengan menyalangkan mata. Rangkaian bunga sudah tak lagi bertengger di atas nakas. Semua hancur, apalagi Taehyung. Semua orang yang ada di dalam kamar pasti tahu bahwa anak ini sudah hancur.

Dan kini Dokter Park telah bertemu secara langsung dengan biang kerok di balik semua ini.

"Dokter! Kenapa dia terus ada di sini?!"

"Aku gak mau ketemu dia! Dokter tolong aku!" Taehyung meracau histeris. Perawat kemudian membawa Jeongguk keluar dari kamar. Laki-laki itu masih terdiam digeluti rasa bersalah yang amat berat.

Kejadian barusan adalah sebuah kenyataan yang tak dapat ia hindari. Tak pernah sekalipun terbesit dalam keinginannya untuk menyakiti Taehyung. Membentaknya pun ia tak tega. Namun pil pahit harus ia telan kuat-kuat, mengetahui fakta bahwa, segala sakit yang dialami Taehyung bersumber darinya.

Fakta tak terhindarkan bahwa ia telah melukai bahkan membuat laki-laki yang sangat ia cintai itu hampir mati.

Bahkan sekarangpun, ia sudah sangat-sangat membenci dirinya sendiri.


Vantaejung: hehee jeongguk sudah pasti tahu dong Choi Miun: tentuu! tae pasti akan kembali ke jalan yang benar huhu, terima kasih jugaa sudah sempetin baca cerita ini 3 Kookie987: pasti doong pasti kookv berlayar! uhwana: Terima kasih banyak uwu

Buat temen-temen yang belum follow aku saranin jangan lupa klik tombol follow cerita ini ya! soalnya aku update gak nentu huhuhu tapi makasih banyaak semangat kalian selalu bikin aku termotivasi untuk terus lanjutin ceritanya!

terima kasih lagi, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya~