Budak Cinta S:2
Jeon Jeongguk x Kim Taehyung
[KOOKV]
Chapter 4:
Let Me Go
In times that I'm by myself and lonely, I won't be angry.
It would be better if you hurry up and forget about me.
Yes, promise me… - Supercell – promise me
WARNING: Depression, Suicidal.
READ WITH YOUR OWN RISK.
Secara singkat chapter ini berisi tentang latar belakang Jeongguk, pertemuan Taehyung dengan Bogum. Di chapter ini Taehyung akan bertemu Jeongguk untuk yang kedua kali dan masih ditolak.
Lahir dari keluarga kaya tujuh turunan tak pernah membuat pemuda itu menyukai kemewahan. Tinggal dan besar di lingkungan elit, selalu disekolahkan di sekolah prestis, dan seluruh keinginannya pasti selalu disanggupi tanpa pertanyaan. Lantas hal itu tak membuatnya menjadi angkuh. Mulai dari pakaian, ia tak pernah melihat merk, asalkan fungsinya tepat maka akan dibeli. Sama hal dengan kendaraan, ia lebih memilih menggunakan kendaraan umum ketimbang pribadi. Supaya tidak pusing cari parkir, begitu katanya. Jajan pun juga seperlunya.
Maka perkenalkan, pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Jeon Jeongguk, seorang putra pewaris perusahaan tambang terkenal di kota Seoul. Yang juga memiliki sebutan orang kaya yang hemat bahkan nyaris pelit, begitu testimoni dari teman terdekat.
Selain kemewahan, Jeongguk juga tak pernah terbiasa menjadi pusat perhatian, apalagi segala perhatian yang diberikan menyangkut urusan keluarga. Karena itu saat ingin menduduki bangku sekolah menengah atas, Jeongguk lebih memilih bersekolah di sekolah umum yang biasa-biasa saja ketimbang sekolah elit. Teman-temannya pun kebanyakan berasal dari kalangan menengah sampai bawah. Sang ibu awalnya menentang, namun akhirnya mengangguk manut. Karena satu-satunya anggota keluarga yang selalu mendukung keputusan Jeongguk ialah sang ayah.
Tumbuh di keluarga pengusaha tentu menuntutnya untuk menjadi ambisius serta selalu menjadi unggul dan nomor satu dalam segala bidang. Jeongguk kecil mana tahu tentang hal itu. Sejak TK hingga menginjak bangku sekolah menengah saja menjadi korban perundungan akibat memiliki tubuh yang gempal. Orangtuanya bahkan tak tahu apapun soal itu akibat terlalu sibuk berambisi. Beruntung, Jeongguk selalu bertemu dengan teman-teman baik yang tak sungkan membantunya.
Baginya, hidup baru dimulai ketika duduk di sekolah menengah atas. Seluruh kehidupannya berubah bak Cinderella yang berubah nasib dengan cepat walau hanya sementara. Jeongguk dapatkan perhatian dari seluruh pasang mata hanya karena telah sukses merubah penampilan. Bedanya penampilan Jeongguk kala itu tak didapatkan dengan cuma-cuma.
Kehidupan masa SMA berjalan kelewat mulus. Pemuda itu selalu masuk ke dalam kelompok siswa terkenal di sekolah. Bukan, bukan karena kekayaannya. Semua orang kenal Jeon Jeongguk sebagai murid ganteng pekerja keras nan ambisius dengan segudang prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Kehidupan Jeongguk sungguh cemerlang, sampai ketika lulus kuliah. Keluarganya lagi-lagi mendesak pemuda itu agar segera mengambil alih posisi Tuan Jeon sebagai direktur perusahaan.
Sudah berulang kali ia katakan di forum keluarga baik inti maupun besar, bahwa ia sama sekali tak tertarik untuk menjadi pewaris perusahaan atau apapun itu. Lebih baik berikan saja posisi tersebut kepada pamannya yang sudah jauh lebih berpengalaman berkecimpung di bidang seperti ini. Lantas ia tinggalkan rumah besar itu beserta fasilitas yang ada, memilih untuk berjalan pada pilihannya sendiri. Dan berujung jatuh ke dalam pesona seorang pelacur yang tak sengaja ditemuinya di dunia malam.
Seluruh kejadian dan peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya tak ada yang pernah ia sesali. Tak terkecuali pertemuannya pertama kali dengan kupu malam itu. Pertemuannya dengan si cantik nan jelita, V alias Kim Taehyung, pemilik hatinya bahkan sampai saat ini.
Begitulah rangkaian hidup Jeongguk secara singkat.
Kembali pada hari dimana pertemuannya dengan Kim Taehyung di rumah sakit. Malam itu Jeongguk merasa sangat berat. Hati, raga, dan pikirannya terus-terusan merapal satu nama.
Mobil hitam itu melaju secara konstan. Pak Supir mengendarai dengan sangat hati-hati lantaran salju turun lagi malam itu. Kemudian Jeongguk masih terus menenggelamkan diri ke dalam pikirannya. Terus menyalahkan diri sendiri, terus mengutuk semua keputusannya.
Seharusnya malam ini ia menghadiri undangan makan malam di salah satu hotel ternama, tetapi pikirannya sudah terlalu kusut. Maka diperintahkannya asisten pribadi untuk mengizinkan ia atau jika diperbolehkan, menggantikan pemuda itu dalam pertemuan untuk malam ini. Sesampainya di rumah, Jeongguk hanya ingin mandi, tidur, dan mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Pintu besar itu ia buka. Jeongguk sama sekali tak menyukai tinggal di rumah besar seperti ini. Baginya, semakin besar justru akan semakin terasa menyedihkan. Semakin luas, maka semakin ketara pula penghuninya yang kesepian.
"Selamat ulang tahun!" Sorak lelaki berkepala pirang itu diikuti lengkingan terompet.
Jeongguk terdiam di tengah celah besar yang menghubungkan ruang keluarga dengan lobi. Kedua matanya mengenali keempat kepala yang ada di sini. Di atas sofa, ada Seokjin yang mengapit sebuah gelas yang diyakini berisi anggur. Kemudian di sebelahnya, ada Yoongi yang juga melakukan aktivitas serupa dengannya.
Jimin dihadapannya dengan tabung confetti, dia juga yang barusan berteriak. Kemudian Hoseok meniupkan terompet tepat di sebelah telinganya. Jeongguk sama sekali tidak ada hasrat untuk bersenang-senang malam ini. Lagipula orang macam apa yang masih menggunakan lelucon selamat ulang tahun yang menurutnya sudah kelewat kuno itu? Bukan, sekarang bahkan sudah bulan desember.
Kalaupun memang ada yang berulang tahun, adalah Kim Taehyung, itupun juga bukan hari ini.
Semenit dua menit berlalu dengan hening. Jimin turunkan tangannya yang sedari tadi melayang di udara. Ekspresi kedua orang itu beralih ikut muram.
"Hei Gukk? Kamu baik-baik aja?" Jeongguk hanya menunduk. Tak lama bahunya bergetar cukup kuat. Kedua Hyung yang tadinya duduk santai di atas sofa langsung ikut menghampiri Jeongguk.
"Aku gagal."
Jeongguk dibawa Jimin kedekapan sembari mengisyaratkan Seokjin untuk menyediakan tempat untuknya.
Pemandangan yang terjadi setelahnya ialah Jeongguk yang menangis sembari menyembunyikan wajahnya di atas kedua lutut. Keempat hyung-nya menatap dengan iba. Baru saja kemarin Jeongguk bercerita bahwa akhirnya ia akan kembali bertemu dengan Taehyung. Alih-alih raut bahagia, justru sekarang lelaki itu sudah sepuluh menit lebih tak berhenti menangis.
Sesaat setelahnya Seokjin berikan ia segelas air yang dengan cepat dihabiskan dalam satu teguk.
Akhirnya pemuda itu mulai bercerita. Tentang bagaimana segalanya bermula dan berakhir sampai jadi seperti ini. Jeongguk tak palingkan wajahnya dari gelas. Tatap lekat pantulan paras rupawan itu. Dadanya bernafas agak lega setelah membagikan sebagian curahan hati kepada para sahabat.
"Aku sangat mencintai Taehyung lebih dari apapun yang aku punya," ucap Jeongguk masih tak putuskan tatapannya, "tetapi aku juga menyayangi ibuku."
Sulit, Taehyung dan Ibunya adalah dua pilihan yang sulit.
"Jeongguk-ah." Jimin masuk ke dalam obrolan. Jeongguk menoleh masih dengan kedua mata sembab.
"Aku gak yakin bisa bantu kamu, tetapi saat ini satu-satunya hal yang bisa kuberikan hanyalah saran."
Pria itu mengangguk mengerti dan ketiga pria lain di dalam ruangan itu pun setuju.
"Menurutku, kamu harus pilih salah satu diantara mereka." Jeongguk menggeleng kuat.
"Aku gak mau pilih di antara keduanya. Mereka sama berharganya buatku."
"Jeongguk, kondisi Taehyung gak bisa kamu tangani setengah-setengah." Timpal Seokjin.
"Seharusnya kamu paham, kalau Taehyung itu butuh lebih daripada sekadar keberadaanmu. Dia butuh perhatian dan afeksimu, atau bahkan ia hanya ingin merasa dibutuhkan." Pemuda yang paling tua di antara semuanya itu menoleh menatap Jeongguk.
"Hidup dengan kondisi mental seperti itu saja sudah berat Jeongguk-ah, apalagi dilalui sendiri."
"Apa yang dialami Taehyung mungkin saja lebih berat dariku, karena itu aku sedikit banyak mengerti apa yang dirasakan olehnya."
Seokjin kembali membuka mulut.
"Kalau kau betul-betul menyayangi Taehyung seperti yang kau bilang maka jangan ragu-ragu tunjukkan kepadanya."
"Dia bahkan gak mau menatapku, hyung. Pantas saja sih, soalnya aku jahat banget," ucap Jeongguk dengan merengut dan mata kembali berkaca.
"Aku- aku bahkan gak pernah tahu kalau dia sakit. Aku gak tahu hyung, sungguh aku memang benar-benar jahat-" katanya meledak-ledak.
"Aku gak tahu kalau aku punya dampak yang begitu besar buatnya."
"Jeongguk-ah…" Seokjin mengusap kepalanya lembut, nada bicaranya pun tak kalah halus.
"Aku tahu saat ini Taehyung terlihat sangat membencimu, tetapi percayalah, tidak ada yang lebih dibutuhkan oleh Taehyung selain kau, Jeongguk-ah." Seokjin tersenyum teduh.
Jeongguk terus terdiam. Hatinya masih merasa ragu. Kalau ia memilih bersama dengan Taehyung, maka ia harus meninggalkan ibu dan melepaskan segalanya. Benar perkataan Seokjin kalau kondisi Taehyung tidak main-main. Benar perkataan Seokjin bahwa Taehyung sangat membutuhkannya. Tetapi bagaimana nasib keluarganya nanti?
Seandainya ia tak jadi pewaris. Seandainya saja ia bukanlah satu-satunya harapan dalam keluarga ini.
Seandainya saja ia bukanlah seorang Jeon, pasti segalanya akan jadi lebih mudah.
"Aku gak tahu hyung," lirih Jeongguk, dengan bahu semakin turun, "…aku perlu waktu."
Pria yang berada di sebelahnya pun mengangguk dan menyuruhnya untuk berpikir dengan baik. Sesaat setelah itu, Hoseok bersuara.
"Uh- kalau begitu bagaimana kalau malam ini kita minum?!" Saran Hoseok ingin mencairkan suasana. Ajakannya disambut dengan baik oleh yang lain. Laki-laki itu akhirnya tersenyum tipis.
Berbeda dengan Yoongi yang masih sibuk dengan ponselnya.
Taehyung perhatikan saluran yang melekat pada punggung tangannya. Kemudian mengambil ponsel dari nakas dan membuka aplikasi kamera. Kini fokusnya beralih ke pada wajah. Semuanya memudar, bibir maupun rona pipi. Lemak di pipi pun hilang sedikit tersisa. Pada lubang hidung sebelah kirinya tersemat saluran (lagi).
Pemuda itu benci dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Wajahnya masih tak tunjukkan satu pun ekspresi. Tangannya sudah terangkat, berniat ingin menarik tabung yang membantu menyalurkan makanan ke dalam tubuhnya itu. Tetapi kini justru malah bergerak menghempaskan ponselnya ke kaca jendela di sebelah kanan. Dengan cepat, ia cabut saluran yang ada di punggung tangan itu. Sama sekali tak mengindahkan rasa perih yang juga cepat merayap.
Seketika ruangan itu bergema. Keluarkan suara yang sama sekali tak mengenakkan di kedua telinga. Pekak, sesak, dan muak, hanya itu yang Taehyung rasakan. Berada di dalam rumah sakit sama sekali tak membuat keadaanya semakin baik justru malah semakin sakit.
Pintu kamar itu dibuka dengan cepat. Menampilkan Dokter Park disusul dua perawat di belakang. Lelaki itu sama sekali tak terkejut dan alihkan tatapan dari jendela karena, ini bukan kali pertamanya ia berbuat seperti ini. Kemudian mereka dengan cepat memeriksa keadaan Taehyung dan kembali memasangkan saluran itu.
"Taehyung-ah, supaya cepat sembuh, jangan ditarik-tarik lagi ya, selangnya?" Dokter Park dengan lembut katakan itu tepat di depan wajahnya.
"Sudah kubilang berapa kali," ucap Taehyung masih dengan tatapan kosong, "aku gak mau sembuh." Air mata mengalir dari pelupuk mata tanpa ia kehendaki.
"Kalian gak perlu cepat-cepat datang begitu, kalian cuma buang-buang waktu dan tenaga."
Dokter Park hanya tersenyum sembari dudukkan diri di tepi ranjang.
"Aku mau kamu sembuh, Taehyung. Aku ingin lihat Taehyung yang manis, yang selalu bersinar…" Tangannya mengusap air yang membasahi wajah pucat itu. Taehyung semakin deras meski rautnya tak berubah.
"Aku gak kuat, hyung." Lelaki itu kemudian menarik Taehyung ke dalam peluk, berdeham mengiyakan.
"Pasti lelah sekali kan? Nggak apa-apa, Taehyung. Kita pelan-pelan ya?" Telapaknya terus belai surai itu.
Kini sudah satu minggu reuni pertemuan Taehyung dan Jeongguk berlalu. Kondisi Taehyung tak bisa dibilang membaik, justru sebaliknya. Pemuda itu sama sekali tak menginginkan Jeongguk kembali. Tidak, rasanya sangat tidak tahu diri jika meminta hal itu terjadi. Selalu setiap hari ia mengubur dalam-dalam perasaan itu. Perasaan ingin dicintai, direngkuh, dibelai lembut.
Tidak pantas, kamu tidak pantas, Kim Taehyung memiliki perasaan itu. Salahmu sendiri memilih jalan sebagai penjaja cinta. Salahmu sendiri bertingkah angkuh dihadapan lelaki yang mencintaimu dengan tulus bonus dengan penampilan menarik.
Sekarang kau sudah dibuang betulan, kenapa menangis-nangis?
Ini semua salahmu, Kim Taehyung. Kini kau terbaring tak berdaya pun juga akibatmu. Tanggung semua dosamu sendiri.
Kalimat-kalimat itu selalu terputar di kepalanya seolah ada orang lain yang hidup di sana.
Taehyung merengek sembari menarik untaian di kepalanya. Suara itu tidak mau berhenti dan ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Jari-jari kakinya meringkuk nafasnya kembali tak beraturan.
Tolong, kumohon seseorang tolong aku-
Klek!
Pintu kamarnya dibuka. Ia sekejap menoleh dan suara itu pun ikut menghilang. Nafasnya masih tak beraturan tetapi wajahnya sudah kembali tak berekspresi, tangannya terkepal marah.
Yang tak diharapkan datang, tentu saja tidak lain dan tidak bukan ialah Park Bogum. Mantan "kekasih"-nya sebelum Jeon Jeongguk. Datang dengan buket bunga di tangan kanannya dan seringaian menjijikan yang membuat Taehyung ingin memukul wajah itu.
"Selamat sore, sayang…"
Lelaki itu menutup pintu dengan senyap. Taehyung membatu dan berusaha tampakkan ekspresi wajah yang tidak peduli.
"Aku sudah bilang kan kemarin? Kalau kutelepon atau SMS itu dijawab. Salahmu sendiri tak pernah angkat teleponku." Lelaki itu melangkah mendekati nakas. Selanjutnya bergerak untuk duduk di tepi ranjang.
Sebelah tangannya terangkat untuk menyeka helai rambut yang menutupi mata anak itu.
"Bahkan dalam keadaan seperti ini, kamu masih terlalu cantik buatku." Taehyung tatap wajah Bogum. Mengumpat lantaran bisa-bisanya ia sempat tertarik dengan laki-laki yang hampir membuatnya menjadi seorang pecandu itu!
Ya, lebih tepatnya laki-laki ini mencoba untuk mencekoki Taehyung agar menjadi seorang pecandu narkoba. Alasan Taehyung saat itu meraung-raung ingin kembali bersama Jeongguk karena Park Bogum, seorang pemuda tampan yang ditemuinya di klub malam itu ternyata adalah seorang boss yang mengedarkan barang itu dan menginginkan agar Taehyung menjadi pecandu sehingga terikat dengannya.
Taehyung memalingkan wajahnya masih tak mau bicara apapun, seperti beberapa minggu yang lalu ketika lelaki ini datang berkunjung.
"Masih tak ingin bicara denganku, hm?" Bogum meraih dagunya dan seketika ditepis oleh Taehyung.
Bogum tertawa mengejek sembari berkata, "Dulu kau bahkan tak ingin sama sekali jauh dariku. Selalu ingin kusentuh-"
"Tutup mulutmu." Taehyung berkata dengan singkat dan tegas.
"Tutup mulutku?" lagi, Bogum tertawa dan berucap, "Kenapa? Masih berharap anak itu datang dan menjemputmu hah?"
"Kim Taehyung, Kim Taehyung. Aku tak percaya kau masih saja senaif ini setelah apa yang selama ini terjadi."
"Biar kuingatkan kembali," ucap Bogum menarik paksa dagu Taehyung, "kau itu seorang pelacur Kim Taehyung, jangan lupa dengan posisimu. Kau itu sudah telanjur kotor dan bertingkah kelewat batas dengan berharap bahwa anak itu akan mengubah hidupmu seketika."
"Orang tidak akan pernah melihatmu sebagai seorang Kim Taehyung melainkan sebagai Vante, seorang perek kebanggaan distrik merah ibukota."
Taehyung menangis. Netranya beralih menatap ruas-ruas jari yang sedari tadi teruntai lantaran sama sekali tidak nyaman dengan perkataan Bogum yang menusuk namun benar adanya.
"How sweet kau menangis. Rupanya kau benar-benar menyukai anak itu." Bogum mengusap pipinya yang telah dibasahi oleh tangisan.
"Dan ingat satu hal lagi. Tidak ada yang peduli denganmu melebihiku. Anak itu sudah membuangmu, hanya aku. Hanya aku yang akan ada disampingmu." Setelahnya pemuda itu mengecup pipi Taehyung dan meninggalkannya seorang diri.
Pemuda itu mencoba untuk kembali menstabilkan nafasnya. Pengelihatannya masih buram tertutup dengan air mata, ia mengusap pipinya dengan kasar.
"Nnn..Gukkie.." Rengeknya disela-sela tangisan. Ia lelah harus terus hidup dan merasa seperti ini. Merasa kotor, merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Taehyung hanya ingin hidup tenang, hanya itu yang ia mau.
Bogum benar, ia tak seharusnya berharap memiliki hidup yang baru dengan Jeongguk.
Bogum benar, di akhir hari ia hanyalah seorang pelacur yang mendambakan cinta.
Beberapa jam berlalu setelah kedatangan Bogum ke kamarnya. Taehyung tak bisa tidur meskipun sudah menangis berkali-kali. Bahunya masih bergetar sesenggukkan.
Kemudian lelaki itu bangun dan melirik ke dinding. Saat ini sudah hampir pukul sembilan malam. Ah, sekarang ia juga sudah berada di pertengahan bulan Desember. Helaan nafas keluar dari dalam mulutnya. Taehyung merasa jauh lebih baik setelah menghabiskan waktu untuk menangis selama berjam-jam tadi. Aneh sekali jika saat ini ia tidak merasa mengantuk karena, selain menangis, untuk mengubur kesedihannya ia juga memilih untuk tidur.
Ia menengok ke arah jendela. Kota ini tak pernah redup. Gemerlapnya selalu terang benderang. Kendaraan sibuk meramaikan jalananan meski hampir larut. Malam ini entah mengapa terasa menenangkan. Maka setelah berhari-hari mengurung diri di dalam kamar, Taehyung memutuskan untuk pergi keluar dengan pakaian seadanya, tak mengindahkan dinginnya malam ini.
Sebetulnya Taehyung diimbau agar tidak diperbolehkan untuk keluar kamar sendiri oleh Dokter Park. Harus selalu didampingi oleh perawat. Tetapi malam ini ia hanya ingin keluar sendiri untuk cari suasana baru. Laki-laki itu sebetulnya benci harus dikurung di kamar sendirian seperti itu.
Kemudian Taehyung mengambil bucket hat yang ada di atas nakas kemudian dipakai di kepalanya agar wajahnya tak terlalu mencolok jika bertemu dengan perawat atau dokter nanti. Kali ini ia tak mencabut selang itu karena seperti yang terjadi sebelumnya, jika dicabut otomatis akan berbunyi.
Dokter sengaja memasang alarm yang entah bagaimana caranya dipasang itu karena kejadian "Taehyung mencabut selang infus" sudah berulang kali terjadi.
Taehyung menutup pintu kamarnya dengan senyap. Lorong lantai kamar inap VIP selalu sepi karena hanya orang tertentu yang bisa naik ke sini. Tidak terlalu sepi 'sih, karena ada juga bodyguard yang berjaga di depan beberapa kamar.
Laki-laki bertubuh kurus itu menundukkan wajah ketika melewati orang-orang bertubuh besar itu. Kemudian masuk ke dalam lift setelah membukanya dengan kartu akses khusus. Telunjuknya menekan tombol angka satu yaitu lantai dasar.
Pintu lift terbuka dan seketika riuh kesibukan rumah sakit hari ini terdengar jelas di telinga. Taehyung masih tak palingkan wajahnya dan berjalan terus sembari mendorong tiang besi itu. Khawatir bertemu dengan Dokter Park atau perawat yang mengurusnya.
Hatinya tergelitik. Ia merasa lebih hidup jika bertemu dengan suasana seperti ini.
Taehyung sudah sampai di taman belakang rumah sakit. Tak banyak orang di sana, semuanya berpakaian lengkap dengan syal dan mantel. Hawa dingin mulai terasa memeluk tubuh. Namun itu tak jadi masalah besar buatnya. Laki-laki itu kemudian mendudukkan diri di bangku taman depan kolam air pancuran yang sudah membeku.
Dia hirup udara sejuk dan beku itu. Dalam waktu singkat Taehyung sudah merasa kakinya mulai mati rasa karena hanya dibalut oleh kaus kaki. Alih-alih menyingkir justru ia tersenyum, meniup kedua tangan dan asap keluar dari dalamnya.
Sesaat dipandanginya telapak tangan itu. Pucat dan kurus tak beda jauh dengan kondisi tubuhnya sekarang. Terkadang Taehyung berpikir apa jadinya jika saat itu dia tidak bertemu dengan Jeongguk. Apa hidupnya bisa lebih baik daripada ini atau justru semakin memburuk?
Taehyung sudah berada di ujung tanduk antara menyerah dengan hidupnya atau lanjut hidup dengan kosong. Ia sudah lelah harus bertarung setiap hari seperti ini. Lagipula kalau dia pergi pun tidak akan jadi masalah.
Laki-laki itu mendongak. Salju menyapu lembut wajahnya. Senyuman di wajah semakin sumringah. Taehyung menyukai salju dan dingin lebih dari yang lain. Kedua kelopak matanya tertutup. Ah, bahagianya kalau ia bisa pergi saat ini dan detik ini juga di tengah salju dan dingin.
Sesuatu merangkul tubuhnya memberikan kehangatan barang sedikit. Ia kembali membuka mata dan membulat.
"Kenapa sudah malam begini masih di luar?" Suaranya selalu lembut mengalun ketika berbicara kepadanya. Ada segurat rasa cemas di dalamnya.
Tanpa mendongak pun Taehyung sudah tahu ia ini siapa.
Dengan helaan nafas lantas ia berkata, "Kenapa… kamu datang terus?" Tatapannya lurus dan kosong ke arah jas mahal yang dikenakan laki-laki itu. Tak berani menatap wajahnya lagi, karena ia tahu. Begitu ia tatap kedua mata itu runtuhlah pertahanannya lagi.
"Maafkan aku, Taehyung. Aku salah-"
"Jeongguk, stop."
Taehyung mulai beranjak dari duduknya. Tarik nafas, buang. Dadanya mulai kembali sesak.
"Berhentilah mengasihaniku," ucap Taehyung tanpa terbata, "sebelum bertemu denganmu aku sudah sakit, Jeongguk."
"Aku- tolong kasih aku kesempatan untuk perbaiki ini semua, ya? Aku mohon, aku janji bisa kembalikan kita lagi." Jeongguk masih berusaha mencari dan masuk ke dalam netra Taehyung. Namun nahas, yang ditemukan hanyalah sepasang bola mata sewarna hazel yang redup.
Selanjutnya Taehyung mendongak untuk menatap wajah Jeongguk.
Taehyung rindu kehangatan itu. Merindukan bagaimana lelaki itu selalu memandangnya dengan damba dan temaram. Selalu mengenggam tangannya dengan hangat dan erat. Tubuhnya didekap dengan mesra tak lupa kecupan sayang di kening dan pipi.
Ia menggeleng lemah.
"Tidak ada yang bisa diperbaiki dari hubungan ini, tidak ada yang bisa memperbaiki diriku sendiri kecuali aku. Kamu gak ada salah sama sekali, Jeongguk. Jangan buat ini menjadi semakin sulit." Belum lagi Jeongguk membuka mulutnya, Taehyung sudah kembali menimpali.
"Kalau kau memang benar-benar ingin membantuku,"
Taehyung sengaja menjatuhkan mantel hitam itu dari pundaknya selagi berkata,
"lupakan aku dan jangan muncul lagi dihadapanku."
Salju pada malam hari ini terus turun. Gemerlap dan riuh kota ini akan terus menawan. Apapun yang terjadi, hidup harus terus berjalan. Meski laki-laki itu semakin kehilangan.
Entah itu hati atau barangkali dirinya sendiri.
