Aventure Esta Naruto

Disclaimer: Naruto bukan punya saya

Rate: M

Genre: Adventure

Warning: OOC,OC,TYPO,AU,Rated M for a reason!


Naruto, dia berjalan. Menyusuri hutan bambu hijau kekuningan, dengan angin yang menari-nari di udara. Mereka berhembus, mengikuti arah dia berjalan. Jalan setapak yang panjang, berlikuk, dan bercabang. Sesekali dia duduk untuk beristirahat, bersiul, dan bermain air pada sungai yang ada disebelah jalan. Sungai kecil dengan batu-batu kali yang bermacam-macam; lonjong sempurna, lonjong, segitiga tumpul, abstrak. Jalannya sepi akan orang dan itu wajar—Karena di gunung ini hanya ada Naruto.

Tapi bukan berarti dia sendirian. Dia ditemani katak-katak besar dan kecil yang dapat berbicara dan gunung ini adalah rumah mereka, wajar saja tidak ada orang lain selain Naruto dan Kurama. Kurama, rubah yang bisa berubah menjadi pedang yang hanya Naruto saja yang bisa gunakan. Lucunya, adalah, bila yang diceritakan oleh kakek Fukasaku benar adalah; Kurama adalah simbol malapetaka, monster dengan kekuatan yang dapat meluluh lantakkan semuanya, dan dia terikat oleh Naruto. Itu yang sedih, karena alasan itulah Naruto dibuang oleh ibunya. Dihanyutkan di sungai biar si bayi tidak perlu terbebani dengan kekuatan atau hasut orang-orang. Setidaknya, itu yang Naruto percayai.

"apa masih jauh? Aku sudah lelah"

Tentunya suara Kurama tidak dapat di dengarkan oleh orang lain selain Naruto, Karena Kurama berbicara dari pikiran, dan pikiran tidak bisa didengar oleh orang lain selain yang punya pikiran, dan dia adalah Naruto. Pemuda berambut kuning yang berantakan, dengan tiga garis pada setiap pipi, pemuda periang—terlalu periang malah. Awalnya Kurama berharap Naruto akan berubah menjadi jahat, setidaknya sedikit ternodai setelah diceritakan masa lalunya oleh Fukasaku, tapi tidak. Dia malah makin ceria dan dari keceriaannya dia berhasil menjadi teman untuk Kurama yang selalu berbicara perihal; " Balas dendam, darah, lebih banyak kekuatan, dan pengkhianatan," keceriaan Naruto dan sifatnya yang terang benderang seperti rambutnya membuat dia dan Kurama berteman. "Kurama temanku," adalah panggilan Naruto setiap harinya kepada rubah berekor sembilan yang bisa berubah menjadi pedang.

" Aku tidak tahu," jawab Naruto.

Dilihatnya jalan setapak yang masih tidak terlihat ujungnya, dipenuhi oleh rumput-rumputan, dan daun-daun tajam yang berwarna hijau yang menjalar dari bambu kuning. Sudah beberapa lama dia berjalan turun, pergi dari Myōboku tempat dia tinggal. Naruto ingin membantu ibunya, ingin mengejutkannya, dia ingin bertemu ibunya. Dia tidak pernah tahu siapa ibunya tapi kini dia tahu—Shima jelas bukan ibunya, dia kodok, tapi dia yang merawat Naruto sedari kecil. Naruto menyayangi kedua tetua kodok yang sudah membesarkannya, Shima dan Fukasaku, tapi dia ingin bertemu dengan ibunya.

Naruto dibesarkan oleh kedua kodok itu, dilatih, dan dia senang. Dia menyukai latihan, dia suka berusaha, dia suka kesulitan, dia suka untuk berpeluh-peluh, keringat, dia suka bertarung, dia suka memanjat, berteriak, melakukan hal-hal iseng, dia periang. Fukusaku tidak pernah dalam hidupnya, melatih orang dengan kekuatan yang begitu jahat, begitu gelap, pada orang yang begitu ceria. Tapi begitulah Naruto, dia besar menjadi pemuda hebat, Fukasaku yakin Naruto dapat mengalahkan siapapun, apapun, tidak peduli seberapa banyak, seberapa besar. Ditambah Kurama yang seperti energi tanpa batas, Fukasaku tidak yakin ada orang yang dapat mengalahkan Naruto.

Tapi dunia ini besar dan Naruto haus akan rasa ingin tahu, tidak ada yang bisa menghentikannya saat dia memilih untuk turun dari gunung. Fukusaku hanya berpesan kepada Naruto untuk memanggilnya dengan kuchiyose bila dia dalam keadaan darurat.

" Seharusnya, tidak jauh lagi," rumput yang kekuningan berganti hijau, angin semilir yang dingin tidak lagi begitu dingin, tapi masih berhembus. Sungai yang kecil melebar menjadi besar, dan jalan setapak menyatu dengan jalan yang sudah di buat dengan batu-batu berwarna hitam dan berbentuk kotak.

Naruto, dia memutuskan untuk bertemu ibunya, tapi dalam hatinya ada perasaan takut yang menggantung. Fukasaku mengatakan ibu Naruto adalah pemimpin dari sebuah akademi militer. Salah satu yang paling besar dan terkenal. Dia ingin bertemu ibunya, tapi bagaimana bila ibunya tidak mengenali dia?

Bagaimana bila ibunya tidak menyukainya?

Pikiran itu datang dan pergi, menggantung pada hati dan terkadang ketika ketakutan itu datang, Kurama akan berkata,"Hati-hati atau aku akan melahap jiwa mu membawamu pada kegelapan," dan seringnya Naruto akan berpikir hal-hal lain untuk mengalihkan pikiran.

Langkah Naruto makin cepat ketika melihat desa dari bambu-bambu yang saling dempet. Dia tersenyum lebar, berlari kearah desa seolah letih tidak ada lagi. Baginya pemandangan tadi adalah sesuatu yang begitu menggembirakan. Orang-orang berlalu lalang pada jalan, menggunakan pakaian berwarna-warni. Kebanyakan orang menggunakan warna yang lebih sedikit gelap; biru, hijau, dan terkadang ada yang menggunakan pakaian terang berwarna merah. Dan Pakaian yang dikenakan Naruto tidak jauh berbeda karena Fukasaku memiliki caranya sendiri untuk membawa pakaian-pakaian manusia terbaik untuk Naruto. Naruto yang notabene suka dengan kegembiraan, keceriaan, dan semangat memakai baju berwarna oranye. Warna yang membuat Fukasaku menggeleng-geleng kepala setiap melihat pakaian yang digunakan Naruto.

Orang berlalu-lalang tidak memperdulikan Naruto, tapi tidak untuk Naruto. Saat ini adalah sesuatu yang istimewa untuknya. Melihat orang sepertinya, yang bukan kodok atau katak. Mata berbinar menelusuri segala sisi jalan. Gerobak ditarik, gadis-gadis ketawa malu dibalik bayang kipas berwarna, kuda yang diatasnya ada orang seperti menara, kerbau yang menarik barang dagangan. Kemudian tanah terbelah oleh sungai yang airnya membawa kelopak Sakura yang gugur, jembatan berwarna merah, rumah-rumah dua lantai dengan tali yang saling mengikat dari rumah satu ke yang lain lalu digantungi lentera-lentera.

Naruto menghabisi waktunya dengan menelusuri jalan, lalu memutuskan diri untuk beristirahat pada penginapan besar yang berada di sebelah sungai. Makanan yang disajikan adalah ayam yang ditiris oleh madu dan disajikan bersama kopi pekat. Dari apa yang Naruto dengar,; sungai itu begitu panjang dan banyak kota yang berdiri disampingnya bila bukan ditengah seperti desa ini. Dan tempat yang Naruto cari tidak jauh dari desa ini, dia hanya butuh menyusuri sungai hingga mendapati kota. Disana tempat yang dia cari berada.

Pemuda berambut kuning berterima kasih setelah penjelasan si pelayan dan berlalu menuju lantai dua tempat kamar-kamar disewakan. Waktu telah sore dan rasanya tidak mungkin dia bisa mendapati kota itu sebelum malam tiba dan juga dia tidak ingin tidur pada hutan.

Kamarnya tidak begitu mewah. Hanya ada ranjang, lemari, dan sepasang meja tidur. Jendela memaparkan aliran sungai yang dihimpit bangunan-bangunan. Sesaat Naruto memandang kearah luar sebelum dia kembali pada kamar. Memegang medali bulat dengan ukiran nama tempat yang dia tuju. Dia terkekeh mengingat Fukasaku dan Shima walaupun mereka ingin tampak tidak peduli tetap saja mereka mempersiapkan semuanya untuk Naruto. Mulai dari beberapa helai pakaian, uang—yang entah di dapat darimana karena seingat Naruto, para kodok tidak mempunyai ekonomi apapun—dan medali yang diberikan oleh Fukasaku. Katanya medali itu akan memudahkan Naruto masuk pada tempat yang dia tuju.

" Mereka kodok yang unik" Kurama muncul dari ketiadaan, seperti biasa, mengambil wujud rubah. Dia melenggangkan kakinya pada kasur tanpa memperdulikan Naruto. Membenamkan moncongnya pada selimut dan ekornya yang mulai mengibas-ngibas ketika melihat serangga terbang.

" Ya, mereka orang tua yang baik."

" Tapi, bagaimana dengan orang tua yang asli?"

" Mereka telah membuangmu sekali. Apa yang membuatmu berpikir mereka akan menganggapmu ketika datang?"

Naruto menghela napas. Dia tahu Kurama mencoba untuk membuat dia takut, itu kebiasaan Kurama, sudah ditoreh pada tulangnya untuk menebar ketakutan.

" Dia tidak akan tahu,"

" Aku tidak akan langsung berkata aku anaknya. Aku bukan orang bodoh Kurama, aku akan melihat dari jauh, apalagi kata-katanya?"

" Mengawasi?"

" Bukan—Mempelajari, ya mempelajari ibuku. Aku ingin kenal dia, dari jauh dan secara perlahan."

Kurama diam, bermain di Naruto yang kini berbaring untuk tidur. Besok hari panjang, dia harus mempersiapkan beberapa hal dan bila Naruto tidak salah ingat perkataan pelayan tadi maka cara pergi paling cepat adalah menggunakan kereta udara. Apa itu kereta udara? Dia tidak tahu.


Mata Naruto terbelakak. 'Kereta awan' atau balon udara raksasa yang mengangkut gerbong-gerbong yang mengikat dengan tali menjulang tinggi ke angkasa sepanjang balon raksasa itu menjulur. Dia tidak tahu bagaimana kereta ini bergerak. Dia bahkan tidak tahu harus terkesima dengan besarnya kereta ini atau seberapa luasnya daratan dibawah sana yang terbelah oleh sungai panjang dan bercabang.

Orang-orang berdiri dan bersandar pada pagar besi, membiarkan angin bermain dengan mereka. Udara begitu kencang diatas sini dan awan begitu banyak dan tebal. Seolah-olah mereka berada pada lautan awan. Naruto melihat-lihat sekeliling, berusaha mencerna dan memproses semuanya sebisa mungkin, tapi tampaknya begitu mustahil, bahkan Kurama yang kini berubah wujud menjadi cincin di jari Naruto juga diam dan terkesima. Bagaimanapun juga keduanya sama-sama mahkluk yang tidak pernah turun dari gunung yang mistis jadi tidak heran bila mereka tidak pernah melihat benda sebesar ini lewat dilangit karena ilusi yang diperbuat oleh para kodok demi keamanan mereka.

Diantara awan tebal ada balon udara lain, tapi lebih kecil dan hanya mengangkut satu gerbong saja. Mereka jauh di depan, diantara awan hitam dan petir. Tidak dapat terlihat dengan jelas orang-orangnya karena begitu jauh.

" Mereka pemburu naga" Seorang pria berbaju abu aneh berdiri diseberang Naruto. Di mulutnya ada rokok yang tersulut dan baranya yang terbang diterpa angin. " sengaja berlabuh diantara kepulan awan gelap untuk memancing naga yang ada disekitar," katanya lagi.

Naruto tidak mengerti apa yang dikatakan oleh orang tadi, dia tahu naga. Besar dan menyeramkan, tapi untuk diburu? Dia tidak pernah berpikir itu bisa. Dia ingin berkata sesuatu, tapi ucapannya dihentikan oleh gerak tangan itu yang menunjuk kesana, kearah balon udara.

Diantara kepulan awan hitam, Naruto dapat melihat kepulan yang lebih hitam lagi, dan kian lama kian hitam. Udara menjadi ganas, dan awak kereta mengajurkan orang-orang untuk masuk kebawah gerbong. Dikejauhan tidak berbeda jauh, malahan awan disana terlihat lebih ganas dibanding di kereta Naruto. Dia berusaha tetap berdiri kokoh dengan memegang pagar atap kereta. Awak kereta yang tadi memberitahukan untuk turun telah menghilang, tidak ingin tersapu oleh udara yang kian kencang. Diatas hanya menyisakan Naruto dan satu orang asing dengan gaya yang asing.

" Naganya telah datang. Lihat! itu dia," Mata Naruto mengikuti jari orang tersebut. Diseberang sana, balon udara tampak mengejar bayang gelap yang besar. Mereka menunggu, jantung berdegup, angin menerpa, dan dingin menyengat.

Perhatian Naruto tidak lepas dari sana, dia juga menunggu dan menunggu, dan menunggu. Hingga akhirnya, makhluk besar menjulang menembus awan. Naga yang tidak jauh besar daripada kapal itu muncul dan hilang diantara awan. Kapal terbang yang satunya tampak menembak sesuatu dan benar saja—suara ledakan bersamaan dengan petir menyambar.

" Apa itu barusan?!"

" Barusan? Apa? Ah! Meriam. Itu suara meriam nak, apa kau tidak pernah mendengarnya?"

" Tidak"

" hmm. Cukup aneh karena meriam bukan hal yang asing. Ah! Kau pasti dari pedalaman. Anak desa yang sangat-sangat jauh dan terpencil."

"Ya?"

" Sudah kuduga! Siapa namamu nak?"

" Naruto"

"siapa?! Bicara lebih keras lagi, angin ini menutup kuping kita"

" NARUTO!"

"AH! Tuan Naruto! perkenalkan, aku adalah Ebisu. Seorang wartawan. Dan bila boleh tolong pegang ini sebentar dan…Yap. Cukup, sebaiknya kita kebawah karena angin akan berubah menjadi badai tampaknya."

Naruto hanya diam dan mengangguk. Mengikuti orang itu turun setelah dia melakukan beberapa hal aneh yang mengeluarkan cahaya Dia berkata tentang mengabadikan momen ini, menulis tentang pemburuan naga, aktifis naga, dan yadda…yadda…yadda.

Dia tidak habis berbicara, terus menerus merocos tentang berbagai hal. Seringkali memaklumi mata Naruto yang berbinar dengan tatapan 'dasar orang udik'. Kurama mendengkur selama perjalanan, tidak tahan kecerewetan orang yang baru saja Naruto kenal.

Sesaat entah telah berapa lama Naruto terduduk mendengarkan dengan antusias tentang apa saja yang telah Ebisu lakukan, suara awak kereta mengingatkan bahwa mereka akan segera tiba pada tujuan. Benar saja, dari kaca dapat terlihat tidak lagi daratan dan gunung yang Naruto kenali lagi, tapi bangunan-bangunan menjulang tinggi yang terbelah oleh sungai dan dikelilingi oleh tembok raksasa.

" Itu Konoha" Kata Ebisu menunjuk, jarinya hingga tertekuk oleh kaca. Wajah Naruto sendiri melengket, tidak jauh beda.

" itu?"

" Iya itu"

" hanya itu?"

" tentu saja tidak bodoh! Semuanya! Semua yang terlihat dijendela adalah Konoha. Salah satu kota terbesar di daratan ini. Orang tua mu pasti sangat kaya untuk bisa menaiki kelas ini."

Naruto diam, dia masih tidak mengerti dengan ekonomi dunia ini. di desa sebelumnya dia menukar beberapa bongkahan batu yang langsung dinilai dan diberi lima ribu keping emas. Benar, bagasi Naruto yang awalnya hanya selempang dan baju kini berubah menjadi berpeti-peti emas. Bahkan, bila dia tidak salah dengar, awak kereta tadi berkata tentang dia adalah 'VVIP' atau semacamnya, dia tidak tahu apakah itu penting atau tidak. Yang jelas orang awak kereta begitu ramah dengan Naruto, mereka bahkan memberi Naruto berbagai macam perlakuan aneh bagi Naruto seperti ketika dia disuruh menelanjangi bagian atas dan telentang lalu ada jari orang yang merayapi tubuhnya dengan aneh, tapi setelah itu enak. Naruto hanya bisa bingung, dan Ebisu yang mengikuti Naruto dengan mulut terbuka lebar kemana-mana.


Kereta telah berhenti sedari tadi dan Naruto bingung dia harus kemana. Dia diikuti kurir kereta yang membawa barang-barang miliknya, dan Ebisu yang tidak lepas dari pemuda berambut kuning itu. Orang berlalu lalang begitu ramanya sehingga-hingga membawa kesan bahwa keramaian desa yang tadi hanya seperti seberkas cat yang meleset dari targetnya saja.

" kau mau kemana?"

" Aku tidak tahu"

" Ada rumah?"

" Kurasa tidak"

" kau mau disini lama?"

" Iya"

" Mau beli rumah?"

" Bisa saja"

" Aku bantu carikan karena kau anak kampung. Dan aku boleh menginap dirumah mu?"

Naruto diam sejenak diantara hiruk pikuk orang yang lewat diantara bangunan-bangunan menjulang ke angkasa. Dia melihat kearah orang berkacamata dan berpakaian aneh—tidak, ralat, kini Naruto yang berpakaian aneh karena semua orang mengenakan pakaian yang hampir sama dengan Ebisu. " Y-Ya, kenapa tidak?"

" Baiklah. Kalau begitu kita pergi ke 'Immobilie Et U Konoha', jangan tersesat. Ikuti aku"

" I-imobile?"

" Ya"

Ebisu menarik Naruto yang diikuti oleh rombongan orang membawa peti berisi barang-barang Naruto. Kota begitu luas, tapi juga sempit, begitu banyak kata yang bertabrakan untuk bedeskripsikan Konoha. Kereta yang melaju, orang yang menunggagangi kuda, pria yang berteriak-teriak ,"Koran!" orang-orang bertopi tinggi, gadis-gadis berpayung, hanya sedikit orang berpakaian seperti Naruto.

Mereka berjalan melewati jalan yang kata Ebisu adalah jalan utama hingga cukup jauh, bahkan melewati taman besar dengan pohon-pohon menjulang tinggi, yang lagi—kata ebisu, bukan taman terbesar mereka, " Tunggu sampai lihat hutan terlarang,". Naruto dibuat bingung apa hubungan antara taman dan hutan, atau mungkin saja itu hanya cara Ebisu untuk pamer kepada Naruto.

Ebisu berhenti pada bangunan putih dengan banyak kaca dan diatasnya bertuliskan 'Immobilie Et U Konoha'. Di dalam mereka disambut oleh orang-orang berpakaian rapih, mengarahkan mereka kepada kotak-kotak kaca bening berisi bukit hijau dan beraneka ragam bangunan.

Naruto diam, lama, dan kemdian bertanya sembari menunjukkan medali pemberian Fukusaku. " Dekat ini"

" Ah, kenapa tidak bilang daritadi. Apakah aku sudah menawarkan mansion ini? Sudah lama tidak ditinggali. Salah satu mansion yang tersisa di area pebukitan dekat akademi."

Ebisu mendekati Naruto. gemetar, kacamatanya bahkan bergetar saat dia lepas dan berkata " Mansion. Kau mau beli mansion Naruto?"

" Apakah dekat dengan ini?"

" Ya"

" Kalau begitu kenapa tidak?"


Ebisu hanya diam dan mengangguk selama perjalanan menuju tempat yang baru dibeli Naruto dengan beberapa petinya. Wajahnya sedikit pucat dan pandangannya selalu bergoyang ketika dia ingin melihat sesuatu. Sedangkan Naruto hanya memerhatikan arah luar, dari kota yang awalnya begitu ramai hingga kemudian berubah menjadi sedikit padat hingga berubah lagi menjadi tidak padat hingga akhirnya benar-benar tidak ada apa-apa lagi selain rumput hijau.

Kendaraan sesaat berhenti di depan gerbang besar bertuliskan 'Namikaze' sebelum kemudian kembali melaju saat orang berpakaian abu dengan rompi hijau mempersilahkan mereka lewat. Jalannya tidak selama tadi dan kendaraan akhirnya berhenti pada taman yang memiliki air mancur. Naruto keluar terlebih dahulu, melihat-lihat seisi rumah yang telah diisi dengan pelayan atau yang kata penjaga toko tadi berkata " Hadiah kami untuk pelanggan 'VIP' terbaru," dan sejauh ini Naruto masih belum mengerti arti kata itu.

Ebisu turun dengan lutut terlebih dahulu. Celananya diseret hingga menemui Naruto yang tengah melihat bangunan tiga lantai dengan warna yang di dominasi oleh warna biru dan putih.

" Cukup besar kurasa"

" Cukup besar? Ini? cukup besar? NARUTO. SEBERAPA BESAR RUMAH MU YANG DI DESA?"

" Besar?"

Dan dengan itu Ebisu pingsan.


AN: Ahay. Saya kembali membawa cerita baru. Padahal cerita lama belum juga update, maafkan sayaaa! tapi ini begitu menarik ditulis! alasan yang sama ehe~

Bagaimana menurut kalian? apakah menarik atau tidak? bagaimana dengan gaya penulisanku, apakah berubah? apakah makin berantakan? entahlah. Saya biarkan reader yang menentukan.

Sungguh ditunggu komentar-komentar kalian atau yang sering dibilang author lain sebagai review.


Makasih yang sudah menunggu,

Makasih untuk yang sudah menyempatkan waktu buat mereview fic ini.

Tertanda saya.