Too Good to be True

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC banget, typo, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Ketjue (26/09/2021).


Dazai Osamu tentu pernah bermimpi, walaupun sejauh ini tidurnya itu sendiri belum pernah memekarkan bunga yang spesial. Justru ia cenderung terjebak di dalam kesunyian yang gelap. Hanyalah hitam seperti jas, celana, sepatu, serta pistol yang selalu menyertainya pada misi sebagai eksekutif Port Mafia.

Namun, pada Selasa itu Dazai mengalami mimpi yang berbeda. Bunga tidurnya bukan lagi hitam, melainkan ia melihat warna-warna dengan jelas, terlalu jernih membuat hatinya berpesta ria. Biru langit adalah yang paling mendominasi, disusul keindahan gedung-gedung pencakar langit khas Yokohama (dari atas, ke bawah). Hebatnya lagi di sana Dazai tersenyum. Lengkung garisnya bahkan berbeda dengan yang biasa ia tampakkan, di mana mungkin hal tersebutlah yang dinamakan ketulusan.

Ia begitu tulus, pasti karena orang itu selamat. Dazai yang baru terbangun kini ikut-ikutan tersenyum, sampai tiba-tiba gawainya berdering nyaring. Ternyata Nakahara Chuuya yang menghubungi.

"Halo, Chibi? Ada perlu apa, deh, kamu meneleponku pagi-pagi? Kan kemarin sudah kita bahas kamulah yang mengurus semuanya."

"HAH?! Enak saja kau! Pokoknya akan kujemput. Kau ini keenakan tahu dari minggu lalu. Semuanya diserahkan kepadaku sementara kau hanya–", "Ya ampun Chuuya. Dikira mencari petunjuk itu mudah apa? Otakku pusing tahu setiap kali kamu menyuruhku menyelidiki kasus," potong Dazai masam. Bisa ia bayangkan bahwa di markas Port Mafia sana, Chuuya tengah mencak-mencak menyebabkan yang lain bergidik.

"Otakmu, kan, genius. Mana mungkin sulit."

"Parah, deh, Chuuya. Usahaku malah kamu anggap remeh. Omong-omong karena kamu hanya mau memerasku, aku meliburkan diri. Siapa juga yang mau datang, kan, setelah tahu dia hanya akan menjadi babu."

Sambungan dimatikan oleh Dazai tanpa memedulikan amarah Chuuya yang terpotong. Sambil bersenandung dirinya pun bersiap-siap berangkat menuju Kedai Freedom. Meski kepagian seharusnya tak masalah, sebab Dazai yakin mereka pasti bertemu. Ia pun turut menonaktifkan gawai agar Chuuya jera. Pokoknya hari ini harus sempurna tanpa gangguan apa pun, dan memang tiada seorang pun boleh mengusik walau ia memiliki interupsi yang penting.

Khusus hari ini saja, setidaknya Dazai ingin hanya orang itulah yang spesial. Mereka pun harus bersenang-senang karena sebentar lagi, mungkin Dazai mengganti tempatnya di dunia dengan berada di dalam hati Oda Sakunosuke.


Kedai Freedom di pukul sembilan pagi tentu masih sepi pengunjung. Namun, tatkala Dazai datang dan membuka pintunya, lalu ia mendapati dua orang tengah meneguk kopi di meja yang berbeda, Dazai lagi-lagi tersenyum. Kedatangan mereka pasti menunjukkan bahwa tak lama lagi masakan paman laris manis.

Pikiran Dazai benar-benar positif sejak tadi. Tubuhnya pun lebih segar berkat isi kepala yang optimis, dan karena Dazai belum pernah merasakannya ia mendadak kurang sabaran. Iris kakao itu tampak celingak-celinguk mencari seseorang. Sebuah sosok jangkung berambut merah bata, dengan mata biru laut yang tajam yang ternyata, ia baru saja keluar dari gudang. Tangannya penuh oleh peralatan kebersihan.

"Odasaku!" panggil Dazai riang. Kakinya berlari menghampiri Oda Sakunosuke yang terkejut, mungkin karena Dazai muncul tanpa janji, kemudian ia mati-matian berusaha tidak menghantam lantai meski terpeleset.

"Dazai?"

"Yo, Odasaku~ Pagi-pagi begini sudah rajin. Apa Bos tidak memberikanmu pekerjaan makanya Odasaku sempat bersih-bersih?"

"Begitulah. Untuk hari ini aku lowong, dan seharusnya kau tidak, kan?" Sepengetahuan Oda, sahabatnya itu seharusnya bekerja sama dengan Nakahara Chuuya, untuk menuntaskan sebuah misi yang detailnya kurang Oda ketahui. Apakah Dazai bolos? Walaupun ia sudah biasa menyaksikannya, tetap saja Oda kasihan terhadap Chuuya.

"Tenang saja, tenang~ Chuuya mau mengerjakan semuanya sendirian. Bagaimana kalau aku membantumu bersih-bersih kedai? Dua orang lebih baik, kan, daripada sendiri?"

"Tidak apa-apa, Dazai. Tunggulah di meja mana pun yang kau suka. Pekerjaanku tinggal sedikit lagi."

Karena Oda berkata begitu, maka Dazai percaya dan langsung duduk menghadap meja bar. Lisannya kembali bersenandung, sembari ia membaca-baca menu yang kian bervariasi. Benar saja Oda selesai kurang dari dua puluh menit. Akhirnya ia ikut duduk di samping Dazai yang rasa-rasanya, Dazai betul-betul berbeda hari ini. Keriangan sang eksekutif begitu ditumbuhi bunga-bunga ketika biasanya, Dazai ceria akibat meromantisasi kematian.

"Sejak kapan kau mengganti lagumu?" Biasanya Dazai menyanyikan tentang bunuh diri ganda. Sementara sekarang ini Oda rasa, Dazai menguraikan nada-nada yang menyerupai pengantar tidur anak-anak.

"Hebat banget, Odasaku! Bahkan kau menyadari hal sekecil ini."

"Kentara, kok. Lagu apa yang kau senandungkan sekarang ini?"

"Kalau tidak salah ingat judulnya Akatambo. Terkadang Ane-san menyanyikan itu saat sedang merajut." Ane-san adalah panggilan hormat untuk Ozaki Kouyou. Mendengar itu Oda sekadar mengangguk-angguk, sebelum samar-samar ia tersenyum. Kali ini giliran Dazai yang dimakan bingung.

"Kenapa, Odasaku?"

"Kutraktir, Dazai," ucap Oda tiba-tiba. Netra Dazai mengerjap-ngerjap karena walaupun Oda sangat manis, ia sulit menerimanya jika tidak bisa membayangkan alasan apa pun.

"Ulang tahunku sudah lewat, lho."

"Pesanlah sesuatu lebih dulu. Nanti aku jelaskan."

Seperti biasanya Oda memesan nasi kari super pedas. Sementara Dazai memilih sup kepiting dengan air putih sebagai pelengkap. Paman yang baru saja cuci tangan langsung mengerjakan pesanan mereka. Awalnya pula Oda sempat menawarkan sandwich, seolah-olah ia tahu Dazai belum sarapan, tetapi Dazai tolak karena katanya, dia ingin memakan banyak kepiting mumpung sempat. Sekalian juga minum whiskey di Bar Lupin.

"Bantu aku undang Ango juga, ya. Aku akan mematikan ponselku seharian soalnya. Nah, sekarang Odasaku jelaskan kenapa kau mentraktirku?"

"Sederhana saja. Hari ini aku merasa kau tidak ingin mencoba bunuh diri. Dazai sendiri kenapa tiba-tiba ingin memakan kepiting sebanyak-banyaknya, lalu minum di Bar Lupin?" Pesanan sudah tiba. Merah dari kari Oda seperti biasanya menimbulkan perasaan ngeri. Belum lagi ia memakannya ketika sedang panas-panasnya.

"Mau tahu saja atau mau tahu banget."

"Meski aku ingin tahu, tentu aku tidak akan memaksamu bercerita. Begini saja sudah bagus. Semoga kau terus mempertahankannya, Dazai."

Tidak salah lagi Oda memang baik. Mendadak Dazai tersenyum simpul yang secara bersamaan, kegiatan makan mereka terhenti total. Oda membeliak mendapati garis lengkung pada bibir Dazai yang singkatnya, kebahagiaan yang terpampang itu bukan diciptakan oleh topeng. Dazai benar-benar senang, karena ia menerima sebuah keberadaan kecil yang sebagai hadiahnya, memberikan arti yang besar, dan tentu saja hati Oda tergelitik ingin tahu.

Apa yang sekiranya membuat Dazai begini, selain mengangankan kematian? Memenangkan lotre pun Oda rasa belum tentu Dazai begini, saat dunia adalah sesuatu yang berhenti Dazai sentuh.

"Sayangnya juga aku tidak bisa bercerita, tetapi bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?"

Karena jika Dazai menceritakannya, Oda akan menghentikan Dazai dengan mengorbankan apa pun. Meskipun mimpi tersebut belum tentu benar, Dazai akan mewujudkannya asalkan ia tahu, ini demi kepentingan Oda Sakunosuke–tanpa memerlukan alasan-alasan yang logis ataupun masuk akal. Jadi, Oda pasti selamat selama Dazai-lah yang merencanakan. Lebih-lebih kali ini orientasi Dazai adalah Oda, sehingga seharusnya Dazai berhasil (untuk mati).

Berjanji hanyalah hal yang kecil, dan Dazai pikir itu manis. Mestinya tidak menimbulkan masalah apa pun, bukan?

"Apa itu?"

"Apakah aku adalah sahabatmu yang berharga?" Sebelah alis Oda naik mengindikasikan bingung. Pertanyaan tersebut yang munculnya tiba-tiba agak mengagetkan ia, tetapi Oda tetap mengangguk selugas mungkin.

"Ya. Kau dan Ango adalah sahabat yang berharga."

"Lalu, maukah Odasaku berjanji satu hal kepadaku?"

"Soal?"

"Berjanjilah kepadaku, apa pun yang terjadi kau akan tetap hidup. Odasaku adalah orang yang sangat baik. Makanya aku berharap kehidupan memperlakukanmu dengan lebih baik juga, dan aku percaya saatnya akan tiba walau sekarang ini, Odasaku harus kehilangan lebih dahulu."

Semua itu sebenarnya sulit dicerna. Namun, setelah Oda pikir-pikir mungkin Dazai khawatir mengenai pertarungan dengan Mimic, terlebih Mori Ougai mengutus Oda secara langsung untuk membereskan teror tersebut. Wajar saja Dazai takut jika milik Oda direnggut sembarangan, karena Dazai pasti menganggap apa yang tinggal pada Oda adalah semua dunia yang berharga. Tidak bilang pun Oda yakin ia memahami kecemasan Dazai, sehingga tangannya menepuk-nepuk kepala Dazai. Dielus-elusnya jua membuat Dazai sedikit tersipu.

"Aku pasti melindungimu, paman, termasuk anak-anak. Tentunya aku akan berusaha bertahan hidup. Kita semua pasti hidup, Dazai."

"Senang sekali bisa mendengarnya darimu~ Bolehkah aku memelukmu juga?"

"Memelukku? Boleh, sih, tetapi kenapa mendadak–"

Tanpa mengucapkan apa pun lagi Dazai memeluk Oda. Kepalanya bersandar ringan pada tegap bahu Oda, matanya perlahan-lahan terpejam menikmati waktu, lantas ia bernapas sebanyak-banyaknya di sana; meninggalkan kehangatan yang bisa Dazai pikirkan, ciptakan, serta rasakan. Tangan Oda sempat kaku untuk membalasnya, tetapi akhirnya Oda berhasil. Menggunakan jari-jarinya ia pun mengelus-elus punggung Dazai, agar penyesalan kian melihat dari jauh saja.

"Habis ini kita jalan-jalan, yuk. Malamnya baru mengajak Ango ke Bar Lupin buat minum-minum."

"Baiklah. Akan kuhubungi Ango lebih dulu."

Hanya melihat Oda mengambil gawai, dan berusaha menghubungi kesibukan Ango pun, Dazai bisa membuncah lagi. Seharusnya memang Oda bersenang-senang saja seperti perasaan Dazai sekarang ini. Namun, di tengah nada sambung yang mengalun, dan para pelanggan yang berdatangan yang terus meminum secangkir obrolan, Oda tak dapat menepisnya. Ia tidak sanggup mengenyahkan bayangan buruk yang bersembunyi di balik kebahagiaan Dazai.

"Halo, Odasaku-san? Ada apa kau menghubungiku?"

Selain kematian, Oda adalah sesosok kebahagiaan yang Dazai sukai, dan Dazai rela paling mencintai Oda. Bagaimana jika kedua hal itu digabungkan menjadi pertanda buruk yang Oda tangkap, dari janji yang Dazai rangkaikan. Mungkin hal tersebut benar, atau bisa jadi Oda terlalu mengada-ada. Semoga pula Oda keliru. Namun, mendapati Dazai sedemikian riang, dan kebahagiaannya yang seolah-olah hanya bisa bernapas di hari ini, Oda harus belajar menerima kenyataan paling pertama. Realitas di mana Dazai akan mengorbankan diri sendiri, demi menyelamatkan Oda.

"Setelah ini, tolong jaga Dazai untukku." Suara Oda begitu pelan. Saking kecilnya pula Dazai mengernyit, sedangkan nun jauh di sana Ango mengusap-usap tengkuk. Kepalanya kurang mengerti, tetapi rasanya seolah-olah Oda hendak merelakan.

"Maaf, Odasaku-san. Boleh tolong ulangi lagi? Suaramu terlalu kecil."

"Maksudku adalah, nanti malam kau kosong? Dazai ingin mengajak kita minum-minum di Bar Lupin."

"Eh? Kosong, sih. Sampai jumpa di tempat dan waktu yang sama jika begitu, dan kuharap Odasaku-san tidak sakit."

Kari dan sup kepiting yang tersisa mereka habiskan. Setelahnya Oda mengikuti Dazai ke mana pun Dazai membawanya pergi, asalkan ia puas.

"Laut Yokohama benar-benar cantik, ya. Biru banget, dan seolah-olah tidak ada yang bisa membatasinya."

Dazai menyukai laut di depan matanya itu, dan Oda akan membuat Dazai melihatnya sekali lagi, sebelum lagi dan lagi. Ia terlalu muda untuk mati dalam artian, Dazai saja belum dapat mengartikan dirinya sendiri, dan menemukan makna kehidupannya. Sementara Oda sudah, di mana semuanya adalah demi melindungi orang-orang yang berharga baginya sebagai sosok yang baik.

Untuk membuat seseorang seperti Dazai pergi sejauh mungkin, agar Dazai tahu ia disayangi. Memang harus jauh, supaya Dazai sekaligus sadar ia selalu dinantikan.

Keberadaan Dazai itu, menurut Oda bukan untuk mati pada pertarungan melawan Mimic. Rupanya bukanlah rupa yang sekadar menjelaskan, dia ini sahabat dari Oda Sakunosuke dan Sakaguchi Ango. Terlebih hidupnya tentu saja bukanlah yang melahirkan kehidupan tanpa arti, ataupun jiwa.

Bagaimana jika Dazai dinaungi cahaya? Berpihak kepada yatim piatu, dan menyelamatkan yang lemah? Oda dapat merasakan makna yang unik dari bayangan itu. Mungkin jika dia Dazai, dan karena dia adalah Dazai, dirinya sanggup menjaga lebih banyak orang dibandingkan Oda, setelah Oda memang hanya bisa mengorbankan hayatnya sendiri kala ia harus melindungi sesuatu.

Oleh karena itu, Oda tidak akan membiarkan Dazai dan kematian bertemu. Oda-lah yang akan diam-diam mengunjunginya untuk Dazai, karena Dazai masih bisa lebih berharga lagi dibandingkan ini.


Pada akhirnya Dazai begitu tolol. Memercayai mimpi bahkan lebih bodoh, dibandingkan membiarkan sebuah kenaifan hidup dan meyakini, pertarungan dengan Mimic pasti terselesaikan tanpa satu pun korban jiwa.

Memang seharusnya Dazai melupakannya. Tiada sekali pun mengindahkannya, seperti mimpi kosong yang ia lalui sekaligus eja sampai-sampai, Dazai amat tahu ada setitik kegelapan lagi yang menanamkan akarnya di sini, padahal segala-galanya saja sudah hitam pekat. Jadilah dengan penuh kekecewaan, Dazai berlari menghampiri Oda yang sekarat. Darah terus mengalir membanjiri tubuhnya yang terbaring lesu. Suara tersebut pun bergetar memanggil nama Dazai.

"Odasaku! Bertahanlah, Odasaku! Kau masih bisa di–" Sebelah tangan Oda meraih wajah samping Dazai. Biru laut pada matanya itu yang biasanya tenang, kini terus terombang-ambing. Seolah-olah sebentar lagi warnanya keluar dari netranya, dan Oda menjadi mimpi Dazai yang biasanya–kosong tanpa apa pun, "Dengarkan aku, Dazai ... pada akhirnya kita hidup untuk saling menyelamatkan sesama. Kau pasti memahami maksudku, kan?"

Manusia hidup untuk saling menyelamatkan sesamanya, dan Oda memberikan harapan itu kepada Dazai; bukan Ango atau siapa pun, sebab Ango saja berkhianat menyisakan Dazai sebagai satu-satunya sahabat Oda. Namun, meskipun kebaikan Oda rasa-rasanya tetap membuat Dazai terharu, apakah Oda tidak sadar diam-diam Dazai kecewa? Membuat ia sangat marah kepada mimpi, di mana Dazai berhasil mempertahankan Oda?

Orang yang selamat itu memanglah Oda seorang. Walaupun Dazai sekadar tahu ia menjadi bos Port Mafia, dan alasan di balik posisi tersebut kurang jelas, intinya Oda hidup. Oda bertahan karena Dazai melompat dari gedung, di mana Dazai hampir melakukannya di garis waktu yang ini, apabila Mori tak menghentikan Dazai.

Meskipun lagi-lagi tidaklah jelas, mengapa melompat dari gedung dapat menyelamatkan Oda, memangnya kenapa? Dazai sudah tahu Mori berminat mengorbankan Oda. Makanya Mori menahan-nahan Dazai di markas Port Mafia, setelah Dazai gagal bunuh diri dan setidaknya meminta, agar skuad penyelamat menolong Oda menilik Oda berbakat.

"Kenapa kau tidak membiarkanku menyelamatkanmu, Odasaku ...?" Suara Dazai ikut gemetar. Satu air mata menetes membasahi wajah Oda, tetapi sayang sekali Oda tiada kuasa untuk menyekanya.

"Karena nilaimu lebih dari ini, Dazai ... tidak seharusnya kau mati di sini. Kalau itu kau ... aku percaya kau bisa melakukan hal lainnya. Sesuatu yang lebih luar biasa, dibandingkan menjadi eksekutif Port Mafia. Seperti kau berpihak pada cahaya, lalu menyelamatkan mereka yang lemah."

"Buatku hal paling luar biasa adalah ketika aku bertemu denganmu, Odasaku! Aku tidak membutuhkan hal lainnya selain dirimu. Makanya aku ingin kau hidup, lalu–", "Lalu tak apa jika kau mati?" Pertanyaan Oda yang memotong kalimat Dazai itu menyebabkan sang eksekutif muda menggigit bibir. Melalui suara yang lirih akhirnya Dazai menjawab "iya", hendak melontarkan argumentasi, tetapi Oda malah menggeleng pelan.

Oda justru menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk tersenyum; menguatkan Dazai yang belum menyadari air matanya sendiri.

"Perasaan kita sama, Dazai. Aku tidak ingin kau mati, begitu pun sebaliknya. Hal tersebut tidak mungkin selesai apabila kita terus membahasnya. Makanya itu ..."

"Anggaplah bahwa kehidupan dan kematian itu sama baiknya, Dazai. Tanpa kehidupan, mustahil aku bertemu denganmu. Tanpa kematian, kedamaian tidak akan pernah ada. Bagaimana dengan penderitaan yang tak mungkin selesai apabila kita terus hidup, Dazai? Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab?"

"Pertanyaan seperti, mengapa aku tidak bisa bersamamu lebih lama?"

"Ya ... aku juga mempertanyakannya sekarang, dan kita belum tahu. Tetapi sebentar lagi aku pasti tahu."

Walaupun di dalam mata Oda seorang Dazai adalah sosok yang berharga, Dazai tidak akan selalu menjadi jawaban atas permasalahan yang Oda hadapi. Berbagai pertanyaan yang timbul, dan tak dapat Oda temukan jawabannya, mungkin hanya bisa dijawab oleh kematian. Tentu Oda mengharapkannya, di mana salah satunya mengapa ia dipilih untuk bertemu paman, Dazai, serta anak-anak yatim piatu yang ia rawat akibat insiden Dragon.

Sementara mengenai beberapa penderitaan yang mustahil selesai, bagi Oda itu merupakan kekhawatiran, kefrustrasian, kekecewaan, atau keputusasaan yang pastinya akan selalu hadir, apabila manusia masih tergerak. Sekukuh apa pun seseorang, tentu ia ingin emosi-emosi negatif tersebut–tantangan yang ditanamkan kepadanya sejak lahir–memperoleh ujung. Semua rasa lelah akibat memiliki ekskstensi, memang paling pantas apabila dibayar dengan menjemput yang selama-lamanya akhir, selama manusia hanyalah makhluk yang serba terbatas.

Dazai tentu lebih memahaminya dibandingkan Oda, jadilah mata Oda mulai tertutup. Setidaknya di akhir ia telah mengatakannya kepada Dazai, bahwa apabila Dazai akan selalu merindukan Oda, dan ingin mengingat Oda, jadilah pihak yang menyelamatkan orang-orang. Pilihlah sisi yang melindungi karena sekiranya, itu dapat membuat Dazai lebih baik di akhir.

"Memang kau adalah sahabatku, Odasaku. Mungkin karena itu kita tidak bisa bersama."

Dengan begini semuanya berakhir. Oda tinggal mayat, dan Dazai menjadi pihak yang kehilangan yang suatu hari nanti, ia akan menyusul Oda. Perlahan-lahan Dazai pun bangkit berdiri. Bias sinar senja yang menghias lantai sekilas dipandanginya, di mana inilah kenyataan. Realitasnya adalah Oda itu mati, sedangkan Dazai hidup. Tak seharusnya ia percaya kepada ingatan dalam sebentuk mimpi, sebab yang paling benar hanyalah kejadian yang jatuh di depan mata.

"Odasaku itu adalah sesuatu yang terlalu baik apabila menjadi kenyataan. Too good to be true. Makanya kita tidak bisa bersama selama mungkin, apalagi aku ini buruk sebenarnya."

Kepada dirinya di garis dunia lain, setidaknya Dazai ingin berterima kasih kepadanya sebab ia berhasil mempertahankan Oda. Memang Dazai kurang tahu detailnya, tetapi ia harap Oda yang lain tak mengenali Dazai yang merupakan pemimpin Port Mafia. Oda pun berhak untuk tetap hidup, soalnya, kemudian menjadi luar biasa dengan berpihak pada cahaya menggunakan kekuatannya sendiri.


Tamat.


A/N: HBD ketjueee~ Maafkan diriku yang mager baru gift sekarang, padahal udah selesai dari kapan tau. Buat fic ini aku dibantu sama reauvafs. Ide yang dikasih banyak sebenernya, tapi tentunya aku hanya mengekseusi satu yang bisa slse dalam sehari. Semoga ketjue suka, dan maaf aku ngasih angst (lagi). Buat odazai emang bagusnya angst. Susah banget mikirin fluff buat mereka.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di cerita lainnya~