1: Athrun
Halo semua! Perkenalkan, namaku Athrun Zala. Aku hanyalah seorang laki-laki berusia delapan belas tahun yang penuh dengan tuntutan hidup. Oh, ya, aku yakin sekarang kalian mulai bertanya-tanya tentang masalahku.
Begini. Apakah setelah mengetahui berapa umurku sekarang kalian mulai berpikir bahwa aku masih muda? Memang. Tapi jangan salah. Di usiaku saat ini, aku telah berstatus sebagai 'suami' seseorang.
Aku menikahi gadis itu karena kondisi. Kedua orangtuanya adalah sahabat kedua orangtuaku. Jadi ketika ayah dan ibu si gadis yang kini telah menjadi istriku meninggal karena suatu kecelakaan, ayahku langsung mengambil keputusan menikahkanku dengan putri dari temannya itu. Tanpa meminta persetujuanku.
Aku tentu saja bisa menolak keputusan ayahku itu. Tapi entah kenapa aku tidak membantahnya. Tidak bisa. Sulit bagiku untuk tidak memikirkan perasaan orang lain. Gadis itu pasti akan sangat sedih bila ditolak olehku, ayahku juga pasti akan sangat kecewa padaku bila aku tidak mau menuruti keinginannya.
Yah, walau tanpa rasa cinta, tanpa saling mengenal lebih dalam, dengan ikhlas aku akhirnya menikahi gadis itu.
Lalu apa masalahku sekarang?
Masalahnya, gadis itu─maksudku istriku itu... dia benar-benar wanita payah. Sudah tiga hari sejak pernikahan kami berlangsung, tetapi tidak ada dari sikapnya yang terlihat layaknya seorang istri.
Dia selalu bangun tidur setelahku, dia tidak pernah membuatkanku sarapan, tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan masih banyak hal lainnya.
"Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri untuk menikahiku." Tiba-tiba istriku berkata.
Aku menoleh dari koran yang tengah kubaca, lalu menengadah ke arahnya sekilas. Hari ini adalah hari Minggu, makanya aku bisa bersantai-santai di rumah, tidak pergi ke kantor Ayahku seperti biasanya.
"Aku tidak apa-apa," kataku.
"Tapi aku benar-benar..." dia terdengar menghela napas. "Tidak berguna sebagai istrimu."
Aku meletakkan koran yang sedari tadi berada di genggaman kedua tanganku ke meja dekat sofa yang kududuki, lalu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri istriku yang kini tengah berdiri di dekat jendela ruang tamu. Aku memegang kedua pundaknya.
"Jangan berbicara seperti itu. Tidak ada manusia yang tidak berguna di dunia ini. Begini saja, kalau kau memang tidak bisa─maaf─memasak dan sebagainya, bagaimana kalau kita menyewa orang untuk mengajarimu? Itu solusi yang lebih baik, bukan?"
Istriku membuang muka dari pandanganku. Ia tampak tidak berani menatapku.
"Kau benar-benar orang yang sabar, Athrun. Kau orang yang baik. Seharusnya kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku."
"Cagalli," aku memegang kedua pipinya dengan tanganku, mengangkat wajahnya agar menghadapku. "Hari dimana aku memutuskan menikahimu, saat itu juga aku sudah siap mengambil resiko apa pun, siap menerima tanggung jawab sebagai suamimu. Jangan bersikap seperti ini lagi, ya? Kita sudah menjadi suami istri sekarang. Apa pun yang ada di dalam rumah ini adalah persoalan kita bersama. Ini adalah keluarga kita."
"Tapi... apakah kau benar-benar tulus menerimaku? Maksudku, kita bahkan tidak tidur di ranjang yang sama. Kamar kita berbeda. Aku takut kau membenci kehadiranku."
Aku berusaha tersenyum menenangkannya. "Maaf aku tidak mengajakmu tidur di kamarku. Aku sengaja melakukannya karena aku ingin kau menenangkan dirimu setelah kematian kedua orangtuamu. Aku merasa kau mungkin butuh waktu, makanya aku belum berani untuk menyentuhmu. Maaf telah membuatmu berpikir yang tidak-tidak."
Istriku menggeleng pelan. "Kau tidak perlu minta maaf, Athrun. Kau laki-laki yang pengertian, aku yang seharusnya meminta maaf karena sempat meragukan ketulusanmu."
Aku mengangguk, lalu melingkarkan kedua tanganku ke tubuh istriku, membawanya ke dalam dekapanku. "Sudah, ya? Jangan mempersoalkan hal seperti ini lagi? Jangan merasa bersalah lagi, oke? Aku berjanji aku mengajakmu tidur di kamarku nanti malam. Ya, mulai hari ini kita akan tidur bersama."
"Eh, mulai hari ini?!"
Aku menengok ke bawah dan melihat wajah istriku tampak memerah. "Aku tidak akan memaksamu kalau kau belum siap," kataku. "Tidak masalah kalau kau masih ingin menenangkan diri."
Istriku kembali menggeleng. "Tidak, Athrun. Aku tidak bisa terus-terusan dimaklumi olehmu. Aku ingin menuruti perkataanmu, perintahmu. Aku ingin menjadi berguna untuk suamiku. Ya, kita akan tidur bersama malam ini."
"Ya, Cagalli."
Syukurlah. Satu masalah selesai. Jujur saja, aku tidak tahan melihat dirinya murung setiap saat karena merasa bersalah tidak bisa melakukan apa pun. Karena walau bagaimanapun, dia telah menjadi istriku, tanggung jawabku.
Aku tahu hidupku setelah ini mungkin tidak mudah, tapi aku telah mengambil risiko dengan menikahinya. Aku tidak menyesal sedikitpun, tapi aku berharap kehidupanku seperti ini sudah cukup.
Tbc
