2: Cagalli
Hai, namaku Cagalli Hibiki. Usiaku saat ini delapan belas tahun, dan kini aku telah berstatus sebagai 'istri' dari Athrun Zala.
Tapi... percayalah, aku tidak pernah membayangkan kehidupanku akan menjadi seperti ini─menikah dengan seseorang di usia semuda ini.
Kalau kalian ingin tahu, sebenarnya kehidupanku sebelum ini sangat berbeda; aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan juga saudara kembarku di sebuah rumah mewah di September City. Apa pun yang kuinginkan di sana selalu terpenuhi, segala yang kubutuhkan selalu tersedia. Di rumahku aku tidak perlu mengerjakan sesuatu karena ada banyak pelayan yang siap melayani diriku. Kedua orangtuaku memperlakukan diriku bagaikan putri raja. Itu semua karena mereka adalah orang yang cukup terpandang di PLANT.
Tapi...
Kini mereka telah mati.
Hari itu aku tengah pergi hendak mengikuti tes masuk di salah satu universitas di September City. Tapi saat dalam perjalanan, aku mendapat kabar bahwa ayah dan ibuku mengalami kecelakaan lalu-lintas. Dan mereka tidak tertolong.
Sesampainya di rumah, aku mendapati ayah dan ibu telah berada di dalam peti, dengan orang-orang yang kutahu dari kalangan penting mengelilingi jenazah mereka.
Saat itu yang bisa kulakukan hanya menangis, tanpa ada saudaraku di sisiku. Hingga seseorang menepuk pundakku dari belakang dan membisikkan sesuatu kepadaku. Membisikkan wasiat dari kedua orangtuaku.
Seseorang itu adalah paman Patrick Zala. Dia mengaku sebagai sahabat dekat ayahku semasa hidup. Paman mengatakan bahwa wasiat terakhir ayahku adalah ingin menjodohkan diriku dengan anak laki-laki paman Patrick, yaitu Athrun.
Dengan tidak adanya saudaraku di sisiku, yang kurasakan saat itu adalah kesepian, hingga akhirnya tanpa berpikir panjang aku menyetujui perjodohan itu. Karena aku yakin paman Patrick beserta anak laki-lakinya bukanlah orang jahat. Aku percaya dengan berada di sisi mereka aku akan aman.
Pernikahanku dengan Athrun pun digelar dua minggu setelah kematian ayah dan ibu. Di salah satu rumah milik keluarga Zala di October City. Acaranya tidak terlalu megah, karena hanya dihadiri kalangan keluarga saja. Tapi itu tidak masalah buatku, karena pernikahanku dengan Athrun terjadi karena sebatas perjodohan.
Nah, sekarang, sembari memandangi cincin kawin di jari manisku, aku mulai berpikir bahwa menjadi seorang istri itu tidak sama dengan menjadi seperti putri raja. Aku mulai sadar bahwa tugas seorang istri adalah melayani suami. Tapi... aku cukup kesulitan karena di rumah ini hanya ada aku dan Athrun, tidak ada satu pun pelayan yang bisa mengajariku.
Setiap kali aku mencoba bangun tidur lebih awal, yang kudapati adalah aku bangun kesiangan. Setiap kali aku mencoba membuat sarapan untuk kami berdua, masalah pertama yang kuhadapi adalah aku kesulitan untuk menghidupkan kompor masak. Dan juga ada masalah pekerjaan rumah tangga lainnya yang sulit untuk kukerjakan.
Aku yakin Athrun pasti menganggap diriku wanita payah. Tapi mau bagaimana lagi? yang bisa kulakukan hanya diam termenung meratapi ketidakmampuanku.
"Cagalli, kau masih duduk di sini? Ayo masuk. Di balkon udaranya cukup dingin."
Yah, untung saja Athrun adalah seorang laki-laki penyabar. Dia tidak pernah mengeluh di depanku, dia tidak pernah menunjukkan sikap tidak suka terhadap sikap tak mampuku. Apakah aku mesti bersyukur? Apakah aku mesti menjadi orang yang lebih tahu diri? Entahlah. Yang pasti, yang ingin kulakukan saat ini adalah membalas semua kebaikannya.
"Ayo, Cagalli."
Kini aku mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan lantai dua, mengikuti Athrun meninggalkan balkon.
Aku tahu isyarat perkataan Athrun barusan. Tadi siang saat di ruang tamu dia mengatakan akan mengajakku tidur bersama di kamarnya─lebih tepatnya mulai hari ini kami akan tidur bersama. Dan sepertinya dia ingin kami melakukannya sekarang.
"Sekarang sudah jam sepuluh malam. Lebih baik kita pergi tidur saja, ya?" Athrun kembali berkata.
Lagi-lagi aku mengangguk, kali ini aku mengikutinya berjalan menuju pintu ganda di ujung koridor lantai dua. Setelah sampai di ujung koridor, Athrun segera membuka pintu ganda itu. Aku melihat di dalamnya adalah ruangan kamar yang luas, dengan tempat tidur yang ukurannya lebih besar daripada tempat tidur yang telah kutiduri selama tiga hari terakhir ini di kamar yang berbeda.
Mungkin... inilah kesempatanku untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menjadi istri yang berguna.
Aku meraih salah satu tangan Athrun setelah kami masuk ke dalam kamar. Membuatnya berdiri menghadapku.
"Athrun, maafkan aku. Karena selama menjadi istrimu... aku belum bisa menjadi seperti wanita sempurna di luar sana. Tapi..." dengan memberanikan diri aku mengangkat kedua tanganku, lalu kuarahkan ke kancing baju tidurku. Aku mulai membuka kancing-kancing itu satu-persatu dari atas. "Hanya ini yang bisa kuberikan padamu," lanjutku.
"Cagalli."
Pergerakan tanganku saat ini terhenti karena Athrun segera meraih kedua tanganku.
Tetapi aku tidak akan menyerah. Aku menatap mata Athrun dengan penuh tekad. "Athrun, kumohon, hanya ini yang bisa kuberikan padamu."
Tiba-tiba saja Athrun mengarahkan kedua tangannya ke belakang lutut dan punggungku. Dia mengangkat tubuhku lalu membawaku menuju tempat tidur.
Di dalam dekapannya aku dapat melihat wajahnya yang tersenyum lembut. "Ya, Cagalli. Tapi, kalau kau merasa sakit, kau harus beritahu aku ya? Aku akan berhenti saat itu juga."
Jujur saja, jauh sebelum hari ini aku pernah bertekad akan membangun rumah tangga dengan laki-laki yang kusayangi, bertekad memberikan jiwa dan ragaku pada laki-laki yang kucintai. Tapi semua itu sudah tidak berarti lagi bagiku saat ini. Rey juga sudah mati, jadi tidak ada alasan untukku mempertahankan tekadku itu.
Walaupun aku tak memiliki rasa cinta sedikitpun terhadap Athrun, tapi itu tak masalah. Aku akan tetap memberikan apa pun yang kupunya untuk membalas kebaikannya. Aku ingin membuktikan padanya kalau aku bisa menjadi wanita yang berguna. Jika dia ingin aku melayaninya, akan kulakukan sekuatku. Jika dia menuntut ingin memiliki anak, akan aku berikan sebisaku. Jika dia menginginkan aku selalu menuruti perkataannya, akan kuturuti semampuku.
"Ya, Athrun."
Karena hanya itu yang mampu kulakukan saat ini. Hanya itu yang bisa kuberikan sebagai seorang 'istri'.
Tbc
A/N: Terimakasih buat yg sudah baca, review, fav n follow fic ini. harapanku semoga aku bisa update terus sehari sekali, yah semoga aja hehe.
kalau ada typo, kata, kalimat yg aneh jgn sungkan beritahu ya. thanks.
