3: Kira
Perkenalkan, namaku Kira Hibiki. Jika kalian ingin tahu peranku di sini... aku adalah kakak laki-laki Cagalli Hibiki, saudara kembarnya.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan Cagalli, kurang-lebih sudah delapan bulan sejak kematian ayah dan ibuku. Cagalli pasti sudah bahagia dengan suaminya sekarang. Baguslah!
Tapi, menurut kalian, apakah aku telah menjadi kakak yang keterlaluan karena tidak pernah menemuinya lagi selama delapan bulan ini? Sebenarnya aku memiliki alasanku sendiri. Dan tenang saja, walaupun aku tidak menemui Cagalli secara langsung, tetapi aku selalu mengawasi dia dari kejauhan.
Hmm, tapi, kalau kupikir-pikir sepertinya aku memang kangen dengan adikku itu. Bagaimana kalau aku berkunjung ke rumahnya saja? Kebetulan saat ini aku sudah berada tepat di depan rumahnya.
Kalian jangan berpikir kedatanganku ke rumah Cagalli disengaja ya! Alasanku berada di October City adalah karena aku ingin menemui teman lamaku, dan kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Kini aku membuka gerbang besi setinggi dua meter, lalu masuk dengan mudah ke dalam area halaman rumah. Eh, tunggu, kenapa Cagalli dan suaminya membiarkan pagarnya tidak terkunci? Astaga, pengamanan di rumahnya benar-benar payah! Lihat saja, nanti aku akan memarahi mereka.
Aku berhenti ketika telah berada di depan pintu ganda utama berwarna putih, lalu aku mengarahkan jari tangan kananku untuk menekan bel yang menempel di samping pintu.
Tidak sampai dua menit hingga akhirnya aku mendengar suara kunci diputar dari dalam, lalu setelah pintu terbuka aku melihat sosok wanita berambut pirang sepundak telah berdiri di baliknya.
Seketika aku menahan tawa.
"Kira?"
Ya, sosok wanita yang menyebut namaku itu adalah Cagalli adikku, dan hal yang membuatku ingin tertawa adalah karena aku melihat penampilannya saat ini.
Kalau kalian ingin tahu, adikku itu dulunya adalah gadis tomboi yang tidak bisa diandalkan. Ketimbang berlatih memasak, dia lebih senang mengajakku berduel di tempat latihan anggar yang tersedia di rumah kami. Ketimbang memakai dress atau gaun, dia lebih senang memakai kemeja dan celana panjang. Jadi ketika sekarang aku melihat dirinya yang dibaluti baju terusan sampai selutut, serta melihat perutnya yang membuncit, hal itu benar-benar membuatku ingin tertawa─penampilannya tampak lucu bagiku!
Astaga, tapi aku baru tersadar, dia sedang hamil! Sekarang Cagalli benar-benar telah menjadi seorang wanita seutuhnya!
"Kira? Sedang apa kau di sini?"
Sedang apa aku di sini? Apa dia tidak rindu denganku? Seharusnya dia langsung terharu dan memelukku setelah melihat kedatanganku. Bagaimanapun, aku ini 'kan kakaknya!
"Cagalli, aku ingin bertamu. Bolehkah─"
"Tentu saja! Ayo masuk!"
Tapi aku bersyukur. Syukurlah dia tidak menolakku setelah kepergianku dari hidupnya selama delapan bulan ini. Dia kelihatan tidak membenciku setelah sekian lama kutinggalkan.
Aku mengikuti Cagalli berjalan menuju sofa berwarna kuning gading di ruang tamu, lalu kami duduk berhadap-hadapan. Aku tahu ini pertama kalinya bagi Cagalli, tentang kehamilannya, dia kelihatan agak kesusahan menghadapinya. Itu terlihat dari caranya tadi berjalan yang selalu dibarengi dengan memegang tembok, lalu dari caranya bernapas yang selalu menghela. Kira-kira usia kandungannya sudah berapa bulan, ya? Perutnya benar-benar tampak besar.
"Kira, kau ingin minum apa? Biar aku buatkan." Cagalli berkata.
Tidak mungkin aku membiarkan adikku mondar-mandir dengan keadaan tubuhnya yang seperti itu. Lebih baik aku menggodanya saja, seperti yang sering kulakukan dulu padanya. Itu juga pilihan bagus karena akan mencairkan suasana kaku di antara kami.
"Hmm, memang si tuan putri Hibiki bisa membuatkanku minuman?" tanyaku.
Dia terpancing. Wajah Cagalli kelihatan cemberut sekarang. "Ah, aku menyesal telah menawarimu. Rasanya sangat bodoh."
Aku tertawa sekilas. "Maaf, Cag. Aku hanya bercanda."
"Jangan samakan aku dengan yang dulu," kata Cagalli. "Aku jauh lebih mengerti sekarang."
"Kau sudah bisa memasak?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Masih belum. Tapi aku sedang berusaha belajar."
Yah, benar-benar tidak ada kemajuan.
"Cagalli, siapa tamu yang datang?"
"Athrun, tamunya adalah kakakku."
"Kira?"
Nah, aku tidak berbohong, 'kan? Aku memang berniat menemui teman lamaku.
Aku melihat Athrun berjalan menuruni tangga dari arah lantai dua. Setelah ia sampai di dekat sofa aku segera berdiri dan menghampiri dirinya. Kami lalu saling berjabat tangan.
"Lama tidak bertemu, Ath," kataku. "Kau tampak bahagia sekarang."
Athrun tersenyum. "Ya, lama tidak berjumpa."
"Kalian sudah saling kenal?"
Aku menoleh ke arah Cagalli. "Kami dulu bersekolah di asrama laki-laki yang sama. Athrun adalah teman terdekatku di Heliopolis."
"Oh, begitu."
Aku memutuskan kembali duduk di tempatku tadi, dan Athrun pun mengikutiku duduk dengan mengambil posisi di samping Cagalli.
"Jadi Cagalli adalah saudara kembarmu yang pernah kauceritakan kepadaku?" tanya Athrun padaku.
"Ya," jawabku.
"Benar-benar suatu kebetulan."
"Oh, ya, maaf saat itu aku tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian," kataku. "Aku sibuk mengurusi berbagai hal waktu itu."
"Tidak apa-apa," balas Athrun. "Aku memakluminya, Kira. Saat itu kedua orangtuamu baru saja meninggal. Pasti banyak urusan yang mesti diselesaikan olehmu."
Aku mengangguk. Athrun benar. Saat itu ada banyak notaris yang mendatangiku. Semuanya berniat menyampaikan wasiat dari orangtuaku kepadaku. Mulai dari penyampaian perihal rumah, perusahaan, berbagai properti keluarga, hingga wasiat ayah yang ingin menjodohkan Cagalli dengan Athrun. Huh, rasanya saat itu aku ingin kabur saja, kenapa bukan Cagalli saja yang menjadi anak pertama dan mewarisi segalanya?
"Omong-omong, kau sedang hamil, Cag?" Aku tidak tahan ingin membicarakan topik ini. Biarlah aku dianggap bodoh karena menanyakan hal yang sudah pasti tak perlu kutanyakan.
"Memangnya kau pikir kenapa perutku bisa membesar kalau bukan karena hamil?" Cagalli menatapku sebal.
"Ya, Kira. Cagalli sedang hamil," Athrun berkata sembari mengelus pelan perut Cagalli dengan salah satu tangannya. "Usia kandungannya tujuh bulan."
"Bayinya perempuan?"
"Dokter yang menganalisa kandungan Cagalli mengatakan bayinya kembar. Lebih jelasnya, kembar laki-laki dan perempuan."
Oh, pantas saja perutnya kelihatan lebih besar.
"Aku turut senang mendengarnya," kataku dengan tersenyum. "Semoga persalinan Cagalli berjalan lancar, dan kedua bayinya terlahir dengan sehat."
"Terimakasih."
Baiklah. Aku sudah memahaminya sekarang. Setelah melihat kedekatan mereka, sepertinya keputusan ayahku menjodohkan mereka adalah pilihan yang tepat. Hubungan mereka kelihatan baik-baik saja, interaksi di antara mereka terlihat mesra, dan sepertinya tugasku untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja juga sudah selesai.
Kurasa aku sudah bisa pergi sekarang.
Aku bangkit berdiri, lalu pura-pura melihat jam di pergelangan tanganku. "Sepertinya aku harus pamit."
Athrun dan Cagalli pun mengikuti aku berdiri.
"Kau sudah mau pergi?" tanya Athrun. "Kenapa tidak menginap saja, Kira?"
"Aku ada pertemuan dengan klien bisnis setengah jam lagi di restoran tengah kota." Biarlah aku berbohong.
"Tapi kau akan sering-sering berkunjung kemari, 'kan?" tanya Cagalli.
"Tentu saja. Aku tidak sabar ingin melihat si kembar." Aku berjalan mendekati Cagalli, lalu mengelus pelan puncak kepalanya. "Jaga dirimu baik-baik, Cag."
Cagalli mengangguk, lalu tiba-tiba saja dia memelukku. "Terimakasih telah mengunjungiku."
"Aku tidak mungkin melupakan adikku," kataku dengan membalas pelukannya.
Setelah melepas pelukan Cagalli aku memutuskan untuk kembali menjabat tangan Athrun. "Aku percaya padamu, Athrun," lanjutku. "Kau akan menjaga Cagalli dengan baik."
"Ya, aku berjanji."
Mereka berdua pun akhirnya mengantar kepergianku sampai di depan pintu ganda. Aku keluar dari area halaman rumah sembari melambaikan sebelah tangan kepada mereka.
Setelah berada di luar gerbang aku mulai teringat sesuatu.
Aku lupa memarahi mereka!
Tbc
A/N : Makasih buat yang sudah baca dan review. Kalo ada typo, kata dan kalimat yang aneh jangan sungkan beritahu ya!
