4: Lunamaria
Aku tahu akhir-akhir ini Athrun lebih sering mengunjungi rumah sakit tempatku bekerja. Aku selalu melihatnya bersama dengan seorang wanita yang tengah mengandung. Aku sempat bertanya-tanya apakah wanita itu saudaranya? Ternyata aku salah. Aku segera mengetahuinya setelah membantu proses persalinan wanita itu. Dia adalah istri Athrun.
Athrun tidak mengenaliku, tentu saja, karena aku tidak sepopuler seperti dirinya saat di sekolah dulu. Siapa sih yang tidak mengenal Athrun Zala? Dia sangat terkenal di asrama laki-laki pada waktu itu, sehingga semua siswi di asrama perempuan sangat mengaguminya.
Termasuk aku. Sampai saat ini.
Hal yang membuatku kesal sekarang adalah mengetahui kenyataan bahwa Athrun telah menikahi wanita bernama Cagalli ini. Huh, wanita ini bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Lacus Clyne gadis yang dulunya juga sangat populer di sekolah dan sempat menjadi pacar Athrun. Apa sih istimewanya wanita ini sehingga Athrun mau menikahinya? Aku benar-benar sebal pada dirinya.
Oh, ya, namaku adalah Lunamaria. Aku bekerja di rumah sakit pusat October City sebagai dokter yang menangani persalinan pada ibu hamil. Dan aku baru saja menangani proses persalinan Cagalli. By the way, kalau saja sebelumnya aku lebih dulu tahu bahwa wanita ini adalah istri Athrun, sudah pasti tadi aku tidak akan setulus hati membantunya melahirkan. Wanita ini tidak pantas menyandang sebagai nyonya Zala. Bahkan kupikir lebih baik kalau dia tidak ada saja.
"Dokter, bagaimana keadaan kedua bayiku? Aku ingin melihat mereka."
Tadi aku ditemani dengan seorang suster saat dalam proses persalinan, tetapi aku telah menyuruh suster tersebut pergi, sehingga kini hanya ada aku dan Cagalli di dalam kamar pasien. Hmm, dia ingin melihat kedua anaknya yang sekarang tengah berada di gendongan kedua tanganku? Tidak akan aku biarkan untuk saat ini. Aku memiliki sebuah rencana.
"Nyonya Zala, keadaanmu masih lemah, bagaimana kalau sebaiknya kau istirahat dulu─"
"Dokter, suster bilang istriku sudah selesai melahirkan. Aku sudah boleh melihat istri dan anakku, 'kan?"
Pintu terbuka, tiba-tiba saja Athrun muncul dari balik pintu lalu masuk ke dalam ruangan, seketika menghampiri kami.
Ah, sial! Kenapa Athrun harus masuk sekarang? Padahal aku berniat membawa kedua bayi kembar ini ke ruang perawatan khusus bayi dan menukarnya dengan bayi orang lain. Sekarang sudah terlambat, mereka akan melihat langsung si kembar.
"Ya, Tuan Zala. Kau sudah boleh melihatnya." Dengan berat hati aku menyerahkan si kembar kepada Athrun, setelah itu aku menyingkir agak jauh dari ranjang tempat Cagalli berbaring.
"Cagalli, bayinya tampan dan cantik." Athrun berkata sembari menaruh kedua bayi itu ke ranjang, ke sisi Cagalli. "Mereka tampak sehat. Nah, lihat bayi kita."
Tentu saja. Aku salah satu profesional di rumah sakit ini. Aku adalah seorang jenius kedokteran bahkan sejak sebelum aku tamat sekolah. Kebetulan kakekku juga pemilik rumah sakit ini, sehingga dengan mudah aku bisa menduduki jabatan dokter di sini. Wanita itu harusnya berterimakasih kepadaku karena persalinannya berjalan dengan lancar dan bayinya terlahir baik-baik saja.
"Kau benar, Ath." Cagalli mengalihkan pandangan ke arahku setelah dia melihat kedua anaknya. Dia tersenyum ke arahku sekarang. "Dokter, terimakasih atas bantuanmu."
Aku membalas dengan senyum palsu. "Ya, Nyonya. Memang sudah menjadi tugasku."
"Omong-omong, dokter Luna?"
"Ya, Tuan Zala?"
"Dari kedua bayiku ini, yang mana yang lebih dulu lahir? Yang laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
Astaga. Bodoh! Bodoh sekali diriku! Kenapa juga aku harus menjawabnya dengan jujur?! Seharusnya aku menukar riwayat kelahiran si kembar, seharusnya aku mengacaukan silsilah di keluarga mereka dengan mengatakan yang perempuan adalah yang pertama lahir! Ada apa sih dengan diriku? Kenapa aku jadi tidak fokus begini hanya karena Athrun yang bertanya padaku?!
Kuakui, pesona Athrun benar-benar tidak pernah hilang. Dia masih sangat tampan sampai saat ini.
"Baiklah, dok. Terimakasih."
'Baiklah'. Apakah kata itu bermaksud mengusirku pergi dari sini? Bahwa aku sudah tidak diperlukan lagi di dalam ruangan ini? Oh tidak. Aku tidak akan pergi sebelum aku menemukan celah di keluarga mereka.
"Si kembar sangat menggemaskan. Kalau boleh, aku ingin sekali mengetahui nama mereka. Kurasa aku sangat menyukai mereka." Yah, lebih baik aku pura-pura antusias saja.
"Tentu saja kau boleh mengetahuinya, dokter. Sejak beberapa minggu yang lalu aku dan Cagalli sudah memikirkan nama untuk bayi kami. Bayi laki-laki akan kami beri nama Colin, dan yang perempuan adalah Chlorence."
"Nama yang sungguh luar biasa sekali, Tuan Zala. Benar-benar bagus."
"Terimakasih."
Nama yang terlalu berlebihan, kupikir. Apa masih jaman menggunakan huruf depan yang sama untuk anak kembar?
"Athrun, setelah ini kita harus mencari orang untuk membantu kita merawat bayinya, ya? Aku takut melakukan kesalahan pada bayi kita."
"Ya, Cagalli. Aku akan segera mencari pengasuh yang berkompeten untuk membantu kita merawat mereka."
Tunggu.
Jadi setelah ini mereka berencana mencari seorang pengasuh? Hmm, sepertinya memang tidak ada salahnya. Mereka pasti kurang pengalaman dalam mengurus bayi. Kalau dipikir-pikir, umur mereka berdua juga belum sampai dua puluh tahun. Yah, itulah risiko menikah muda.
Dan ini kesempatan yang bagus buatku.
"Maaf sebelumnya, Tuan dan Nyoya Zala, apakah kalian bermaksud mencari orang untuk membantu kalian merawat bayinya?"
"Ya, dokter. Kami benar-benar kurang pengalaman dalam mengurus bayi."
"Oh, begitu. Kalau boleh, bagaimana aku saja yang menjadi pengasuh mereka? Maksudku, bolehkah aku membantu kalian merawat si kembar? Dengan bekerja di rumah kalian?"
"Tapi, dokter, bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?"
Benar juga. Tapi itu tak masalah buatku. Aku rela melepas pekerjaanku di sini demi aku bisa masuk ke tengah-tengah keluarga mereka. Lebih tepatnya, demi aku bisa dekat terus dengan Athrun.
"Tidak masalah, Tuan Zala. Aku akan resign dari rumah sakit ini. Lagipula, sudah lama juga aku ingin mencoba pekerjaan yang baru. Dan tenang saja, aku juga telah melewati pelatihan mengurus bayi. Aku jamin aku tidak akan mengecewakan kalian."
Mereka tidak langsung membalas usulanku, dan malah terdiam dan saling menatap. Apakah itu artinya mereka meragukanku?
"Baiklah kalau kau tidak ada masalah melepas pekerjaanmu di sini." Tiba-tiba saja Athrun berkata. "Dokter Luna, mulai hari ini aku mengijinkanmu mengasuh anak-anakku. Bahkan jika Cagalli sudah bisa pulang hari ini, kau bisa ikut kami ke rumah."
Bagus.
"Terimakasih, Tuan Zala. Aku merasa senang sekali bisa berada di dekat si kembar. Bisa merawat mereka. Menemani mereka tumbuh."
"Lagipula, dokter Luna," kali ini Cagalli yang berbicara. "Kau telah membantuku melahirkan. Kau juga sangat baik dalam memperlakukan pasienmu. Kami percaya padamu, dok."
Aku mengangguk, lalu berjalan mendekati ranjang Cagalli. Aku menatap si kembar dengan ekspresi pura-pura perhatian terbaikku.
Dasar dua anak sial, pengganggu kecil. Seharusnya kalian tidak usah lahir saja tadi! Jangan harap kalian bisa tumbuh dengan tenang di dalam asuhanku.
Aku yakin sekarang kalian mulai membenciku dan berpikir kalau aku ini seorang antagonis?
Aku tidak peduli. Aku tidak peduli terhadap penilaian siapapun. Logika dan nurani tidak penting dalam prinsipku. Yang kupedulikan saat ini adalah apa yang aku suka dan tidak. Dan aku tidak menyukai keharmonisan di keluarga Athrun dan Cagalli. Kalau aku tidak suka maka aku harus menghancurkannya.
Tbc
A/N: saya gk akan buat bnyak OC kok, hanya 2 yaitu anaknya asucaga. Karena tema fic ini adalah family, jd saya butuh tambahan karakter.
Makasih buat kaka2 tenrisakura, Shinku, yukisoto.7, longliveasucaga yg sudah review, dan blsan buat kaka Guest: hmm, ada alasan kenapa ulen pake banyak notaris, nanti bakal saya coba jelaskan lewat percakapan antara kira dgn anak perempuannya asucaga di ch2 mendatang. oh ya kak, sya gk nulis 8 tahun tp 8 bulan hehe. Kira punya alasan sndiri kok, ntar pelan2 mengsabar ya kak. tunggu aja jawabannya di ch2 mendatang. saya gk mau spoiler.
Maap kalo pendeskripsian ch ini kurang enak, aku lg sakit soalnya tp kupaksain ngetik fic. makasih buat yg udah baca!
