5: Colin


Hai, guys! Aku adalah Colin, anak tertua di keluarga Hibiki Zala. Kalian pasti ingin mengetahui tentangku, 'kan? Jika ya, aku sarankan pertama-tama kalian mesti menjaga barang-barang berharga yang kalian miliki, karena kalau kalian lengah, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bagiku berharga.

"Coliiin! Apa kau melihat sarung tanganku? Sarung tangan yang diberikan paman Kira kepadaku saat perayaan ulang tahun kita?"

Barusan yang memanggilku itu adalah Chloe adikku. Tentu saja aku melihatnya, karena aku yang mencuri sarung tangan itu dari lemari di kamarnya.

"Cagalli, apa kau menyimpan beberapa pena? Semua pena di atas meja kerjaku hilang, dan aku mesti menandatangani kertas-kertas laporan untuk bahan rapatku pagi ini di kantor."

Aku yang mengambil semua pena itu, ayah.

"Aku tidak punya, Ath. Oh, ya, apa kau melihat ponselku?"

Hn, ya, aku juga yang mengambil ponsel milik ibu.

Oke, kita kesampingkan dulu orang-orang yang kini sedang sibuk melakukan 'pencarian' di lantai dua rumahku.

Jadi sekarang kalian sudah bisa menyimpulkan seperti apa diriku, bukan? Tepat sekali. Aku adalah seorang pencuri.

Hmm, apakah sekarang kalian mulai berpikir kalau aku ini anak nakal? Atau anak laki-laki badung yang suka iseng? Yah, sayang sekali, tebakan kalian salah. Aku tidak pernah main-main dalam melakukan pencurian.

Akan kuingatkan lagi; namaku Colin. Hobiku adalah mencuri. Dan alasan kenapa aku memiliki hobi seperti itu adalah ibuku. Lebih tepatnya; sifatku ini terbentuk karena kekesalanku yang tidak mampu mencuri ibuku.

Pasti kalian mulai bingung. Baik deh, aku jelaskan saja, ya?

Hmm... mulai dari mana, ya? Oke-oke, aku tidak ingin membuat kalian kesal dan membuang-buang waktu kalian karena menungguku berpikir. Mulai dari sini aku akan serius.

Namaku adalah Colin Hibiki Zala. Usiaku nyaris sebelas tahun. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku, adik, beserta seorang pengasuh di sebuah rumah besar di October City. Sejak kecil, aku tidak memiliki masalah dalam hal kebutuhan. Ayah dan ibuku selalu memenuhi setiap hal materi yang kuinginkan. Mereka menyediakan fasilitas mewah untuk aku dan Chloe adikku. Tapi, percayalah, bagiku semua itu benar-benar tidak penting.

Hobi mencuriku dimulai sejak usiaku menginjak angka enam tahun, yang merupakan awal aku masuk ke sekolah dasar. Itu adalah awal aku bertemu dengan orang-orang baru yang seusia denganku.

Mulanya aku sangat senang bisa berkenalan dengan orang-orang baru itu, senang bisa memulai pertemanan dengan mereka. Tapi tidak memerlukan waktu yang lama sehingga akhirnya aku tersadar kalau aku memiliki perbedaan dengan teman-temanku itu. Kupikir, perbedaan itu sangat kontras dari segi keberuntungan di keluarga. Padahal, kalau kuperhatikan, kehidupan teman-temanku dari segi ekonomi tidak lebih beruntung daripada aku.

Oh, ya, kalau kalian ingin tahu, sejak masuk sekolah aku ini siswa yang cukup populer, lho. Karena para siswi itu berpikir kalau wajahku yang mirip ayahku ini cukup tampan untuk menjadi idola mereka. Dan para siswa laki-laki berpikir kalau aku sangat jago dalam hal olahraga.

Tapi, walaupun selalu dipuji dan dikagumi oleh seisi sekolah, bagiku itu semua tidak cukup. Aku tetap merasa tidak bahagia.

'Seharusnya kau bersyukur, Colin'. Mungkin itu yang kalian pikirkan saat ini─mencoba menceramahiku? Oh, well, tidak semudah itu, kawan.

Kalian pikir uang bisa membeli segalanya? Kalian pikir ketenaran bisa membeli kebahagiaan? Aku tidak butuh rumah yang besar tetapi tidak ada seorang pun yang bisa berinteraksi denganku. Aku tidak butuh orang-orang penjilat yang tidak mampu memahami isi hatiku.

Ketenaranku di sekolah benar-benar tidak ada artinya ketika aku telah berada di rumah. Sejak aku masuk sekolah, aku merasa ayahku Athrun tidak pernah bersungguh-sungguh perhatian kepadaku. Dia selalu sibuk, sibuk dan sibuk dengan pekerjaannya. Ketika aku meminta dirinya menemaniku bermain ataupun mengajariku sesuatu, dia selalu tak sempat. Nyaris tidak pernah bisa.

Aku merasa ayahku sangat berbeda dengan ayah teman-temanku. Ketika ayah mereka selalu ada di dekat mereka, ayahku justru jarang ada di dekatku. Ayah yang sejak dulu selalu kuyakini sebagai pahlawanku, kini hanyalah seperti orang asing bagiku. Terlebih, ayahku malah lebih sering mengalah jika permintaan itu datangnya dari Chloe.

Alhasil, sejak kecil yang selalu menemaniku adalah ibu.

Ya, Cagalli ibuku-lah yang mengambil-alih tugas ayah. Yang kupikirkan saat itu; hah, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh perempuan? Aku cukup skeptis pada ibuku mulanya.

Aku segera mengetahui penilaianku terhadap ibu benar-benar salah. Ternyata ibu tidak pernah kesulitan dalam mengimbagi setiap keinginanku. Astaga, seandainya kalian juga bisa melihatnya... dia bahkan sangat pandai menggunakan katapel untuk membuat jatuh tupai liar pengganggu yang sedang berlari di atas atap rumah kami─ya, dia pernah melakukannya!

Mungkin ada sebagian orang yang menganggap ibuku tidak bisa diandalkan, seperti nenek Lenore yang selalu meremehkan ibu. Tapi, ibu selalu menemaniku bermain dan mengajariku banyak hal. Sepulangku dari sekolah, kami selalu bermain basket bersama, berlomba berenang bersama, bermain game elektronik, bermain catur dan kartu bersama, bahkan, ibu juga mengajariku beberapa teknik membela diri. Ibu bilang dulu dia sering berlatih anggar dengan paman Kira.

Sejak saat itu aku meyakinkan diri bahwa ibuku adalah orang yang sangat istimewa bagiku. Aku sangat mengaguminya. Aku ingin wanita yang mendampingi diriku di masa depan adalah orang seperti ibuku. Dan saking kagumnya pada ibu terkadang aku berpikir seandainya saja aku sudah terlahir pada saat ayah belum menikahi ibu, saat itu pasti aku sudah lebih dulu mengambil hati ibuku.

Tenang. Aku sadar kok akan kodratku sebagai anak. Aku tak mungkin melampaui batasan, 'kan? Maka dari itu aku kesal.

Ya, yang bisa kulakukan hanyalah menerima takdir bahwa Cagalli Hibiki Zala hanyalah ibuku. Menerima takdir kalau aku tidak mungkin bisa mencuri ibuku dari ayahku.

Itulah penyebabnya. Karena rasa kesal tidak bisa mencuri ibu dari ayah yang membuatku melampiaskannya dengan mencuri barang-barang milik orang lain. Awalnya aku bisa mengontrol hasrat untuk mengambil barang-barang itu, tapi semakin usiaku bertambah aku merasa keinginanku untuk mencuri semakin menggebu di dalam diriku dan menjadi tidak mudah untuk kutahan. Bahkan untuk barang-barang sepele yang sebelumnya kupikir tidak penting.

Mungkinkah aku sudah sampai ke tahap mengidap kleptomania? Hmm, kalau seperti itu aku benar-benar gawat sih.

Oh, ya, ada alasan kenapa aku mencuri barang-barang milik ayah, ibu dan adikku. Hari ini adalah hari Sabtu, dan kurasa hari ini cukup bagus bila dihabiskan dengan bersantai. Kenapa pula ayah mesti pergi ke kantor di hari Sabtu? huft, benar-benar kurang kerjaan. Maka dari itu aku menyusun rencana agar hari ini dia tidak bisa pergi ke kantor.

Aku berniat mengajak ayahku pergi ke pemancingan di danau pinggir kota. Kalian jangan salah mengira ya! Aku tidak bermaksud menghabiskan waktu dengannya. Yang ingin kulakukan adalah mengorek informasi apa pun mengenai ibu. Seperti makanan apa yang disukai ibu, barang yang disukai, atau tempat seperti apa yang ibu suka. Well, darimana lagi aku bisa mendapatkan informasinya kalau bukan dari ayahku yang merupakan suami ibuku? Pokoknya aku ingin mengetahui apa pun tentang ibu!

Alasan kenapa aku mencuri sarung tangan Chloe adalah supaya dia tidak ikut dan mengganggu rencanaku. Kalau kalian ingin tahu, adikku itu sedikit aneh, jadi aku sarankan sebaiknya kalian berhati-hati jika berada di dekat dia. Dia tidak bisa pergi kemanapun tanpa menggunakan sarung tangan. Dia pernah bilang kepadaku kalau meninggalkan sidik jari di tempat umum adalah tindakan berbahaya. Hah, pemikirannya benar-benar konyol!

Alasan kenapa aku mencuri ponsel milik ibu adalah supaya ibu tidak bisa menghubungi paman Kira. Pamanku itu suka datang ke rumahku di akhir pekan. Kalau paman sampai datang hari ini, rencanaku bisa gagal! Aku tidak bisa membujuk ayah pergi kalau ada paman Kira.

Kuakui, aku memang selalu mencuri, dan hasil dari curianku selalu aku simpan di kotak besar bekas penyimpanan mainan-mainanku dulu di kamarku. Tapi aku tahu perbuatan mencuri bukanlah sikap yang baik. Terkadang aku hanya kesulitan saja mengontrol hasrat untuk mengambil barang milik orang lain.

Aku berusaha menutupi sifat burukku dengan sebisa mungkin melakukan perbuatan baik. Aku selalu ramah dan murah senyum kepada siapa saja. Aku tidak pernah berkelahi ataupun menjahili teman-temanku, aku hormat dan patuh kepada kedua orangtuaku dan juga guru-guruku. Aku juga suka memberikan uang jajanku kepada orang-orang kurang mampu yang ada di jalan-jalan October City.

Nah, jadi sekarang kalian sudah bisa menilai dengan benar seperti apa diriku, 'kan? Kalau begitu sepertinya sudah cukup aku memberitahu kalian tentang diriku.

"Colin, apakah susunya perlu kutuangkan lagi?"

"Terimakasih, Bibi Luna. Susunya sudah cukup, kok. Tidak perlu ditambah."

Ya, saat ini aku sedang duduk di hadapan meja makan. Sarapan sendirian, karena keluargaku masih sibuk di lantai dua.

Tapi kini aku benar-benar kepikiran akan satu hal. Bisa tidak ya aku mengajak ayahku pergi memancing? Selain pena, aku juga sudah mencuri beberapa lembar kertas laporan kerjanya, kunci mobil, dan juga jas kerjanya.

Ah, sepertinya itu semua sudah cukup. Akan kupastikan kali ini ayah benar-benar pergi denganku.


Tbc


A/N: susah banget ngatur waktu buat kerja, ngegame sama bikin fic :( jadinya updatenya lama deh. Makasih buat kaka-kaka Guest, tenrisakura, yukisoto7 yang sudah review. Ikutin aja terus fic nya ya kalau kepengin tau gimana kelanjutannya :)

hanya ada 10 karakter utama kok yg bakal muncul di fic ini. setelah pov 10 karakter, aku kyknya bakal masuk ke alur cerita yg lebih berat dan juga sepertinya... berhenti menulis angka dan nama karakter sebagai pembukaan chapter :D

thanks buat yg udah baca dan review ya!