6: Chloe
Hello, namaku Chlorence Hibiki Zala. Kalian boleh memanggilku Chloe, tetapi jika kalian memanggilku dengan selain namaku, aku tidak akan segan-segan menandai kalian sebagai orang yang patut untuk aku curigai.
Aku memiliki hobi membaca dan mengamati. Dengan membaca akan menambah wawasanku, dengan mengamati berbagai keadaan akan membuatku lebih pandai dalam menilai sesuatu.
Jadi aku membaca dan mengamati berbagai hal, termasuk tingkah laku manusia.
Athrun ayahku memiliki tampang yang rupawan, setiap kali dia menjemputku di sekolah, banyak para siswi dan guru yang berusaha mencuri perhatiannya. Tetapi ayahku tak pernah menoleh sedikitpun ke arah mereka dan lebih terfokus padaku. Jadi aku menyimpulkan; ayahku tidak layak untuk kutandai. Dia lolos dari daftar orang yang patut untuk kucurigai.
Cagalli ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Dengan segala fasilitas mewah di rumah dan uang bulanan yang jumlahnya fantastis yang diberikan ayahku, ibu tidak pernah boros ataupun sembarangan dalam membelanjakan sesuatu. Ibu bahkan lebih mengutamakan kebutuhan aku dan Colin. Jadi aku menyimpulkan; ibuku tidak layak untuk kutandai. Dia lolos dari daftar orang yang patut untuk aku curigai.
Lunamaria adalah pengasuh, atau lebih tepatnya... dia orang yang membantu ayah dan ibu dalam merawatku dan Colin sejak kami berdua baru dilahirkan. Aku tidak akan melupakan jasa Lunamaria yang telah membantu proses persalinan ibu sehingga akhirnya aku dan Colin dapat terlahir. Tapi suatu saat nanti aku berkeinginan menjadi seorang ahli hukum profesional, jadi aku harus mengedepankan logika dan tidak boleh mementingkan perasaan. Lunamaria tetap akan masuk ke dalam arsipku-sebagai orang kesekian yang akan aku tinjau ulang gerak-geriknya. Aku memiliki catatan yang berisi bukti bahwa dia pernah menatap ayahku secara berlebihan.
Colin saudara kembarku adalah orang yang sulit untuk kuungkap. Dia baik, pengertian, juga sangat peduli terhadap aku, ayah dan ibu. Sikap baiknya itu bagiku benar-benar mencurigakan. Jika ada satu kesalahan saja yang diperbuatnya dan terpergok olehku, aku tidak akan segan-segan memprioritaskan Colin sebagai orang yang patut untuk kucurigai.
Orang yang patut untuk kucurigai artinya adalah orang yang harus aku waspadai. Aku akan mencari tahu seluk-beluk orang itu sampai sedetail-detailnya. Tidak akan ada satu hal pun yang luput dariku, bahkan riwayat sejak kelahirannya akan aku korek habis, sampai aku cukup puas telah mendapatkan bukti kejahatan yang dapat memberatkannya.
Apakah aku seorang idealis? Aku tidak akan munafik. Aku benci ketidakteraturan. Keinginan terbesarku adalah agar semua orang bisa hidup dalam kejujuran dan taat pada aturan. Tapi, seperti yang kalian tahu, selalu saja ada sebagian orang yang melanggar aturan dan mengacaukan hidup orang lain. Huh! Aku tidak bisa mengabaikan orang-orang seperti itu! Akan kubuat mereka menerima sanksi hukum yang berat!
Tapi kendala terbesarku saat ini adalah usia dan tubuhku yang masih dianggap anak-anak. Kebanyakan orang dewasa lebih sering menyepelekanku, bahkan ketika aku sedang menjelaskan tentang pasal-pasal hukum di PLANT yang tentunya bukan omong kosong. Percayalah, padahal mereka tidak lebih cerdas dariku! Haaah... aku benar-benar benci pada orang-orang dewasa yang meremehkanku, aku ingin cepat-cepat tumbuh dewasa dan membuktikan pada mereka kalau aku bisa menjadi seorang ahli hukum nomor satu.
Memang sih, seharusnya diusiaku yang hampir sebelas tahun ini aku hanya perlu hidup santai dan bersenang-senang. Prestasiku di sekolah masih menjadi yang nomor satu dan tak tertandingi, segala kebutuhanku terpenuhi, ayah dan ibuku pun membebaskanku pergi kemana saja. Aku juga pandai berbicara, tak ada teman di sekolahku yang mampu menang berdebat denganku.
Tapi, tetap saja, aku tidak bisa mengabaikan perilaku-perilaku buruk yang terlihat di sekitarku. Oleh sebab itu terkadang aku menawarkan jasaku pada teman-temanku di sekolah. Aku menggunakan kemampuanku sebagai penasihat untuk membela para korban dan mengungkap kejahatan si pelaku. Yah, walau terkadang kasusnya hanya sebatas pencurian alat-alat tulis, perundungan, serta perkelahian. Untuk bayarannya, aku tidak akan memaksa teman-temanku, tetapi aku cukup senang dengan imbalan coklat atau permen.
Kelemahan terbesarku adalah kasus-kasus yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan logikaku. Yang utama adalah masalah hubungan antar laki-laki dan perempuan. Seperti putus hubungan, perselingkuhan, dan... Hah! Aku menyerah! Aku tak mengerti tentang konsep perasaan dan cinta. Itu benar-benar PR terberatku.
Hmm, mungkin aku bisa mempelajarinya dengan mendengarkan pendapat ibu. Ibu pasti bisa menjelaskan pengertian cinta kepadaku. Aku yakin ada alasan kenapa aku dan Collin bisa terlahir ke dunia ini, mungkin berkat cinta yang menyatukan ayah dan ibu? Yah, lebih baik sekarang aku menemui ibu saja!
Hari ini kebetulan hari Sabtu. Ayah dan Colin sedang pergi memancing di danau pinggir kota. Ibu tidak. Satu jam yang lalu aku melihatnya sedang duduk sambil menikmati teh di balkon kamarnya. Aku yakin dia masih berada di sana.
Aku keluar dari kamarku, lalu berjalan menuju kamar Ibu. Sekilas aku berpapasan dengan Lunamaria di lorong lantai dua, lalu kini aku telah sampai di depan kamar ayah dan ibuku. Aku mengetuk pintunya sejenak.
"Ibu, bolehkah aku masuk?"
Tidak ada jawaban. Tapi kini pintu kamar di depanku terbuka. Memunculkan sosok ibuku, Cagalli Hibiki Zala.
"Oh, Chloe. Tentu saja ayo masuk."
Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar. Aku mengikuti ibu berjalan menuju sofa di balkon kamar.
Kami pun mengambil posisi duduk bersebelahan.
"Ada apa, Chloe? Tumben sekali kau berkunjung ke kamar ibu."
Apakah ibu mencoba menyindirku karena aku jarang mengunjunginya? Oh tentu saja tidak. Aku selalu mengunjungi ibu walaupun dia tidak sedang berada di kamarnya. Aku hanya jarang mengunjungi kamarnya, karena sebelumnya kupikir, buat apa aku mengunjungi ibu ketika di kamar ini juga sedang ada ayahku? Aku tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan mereka.
"Sebenarnya, Bu, ada hal yang ingin kutanyakan." Langsung ke intinya saja, deh.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Chloe?"
"Ibu, aku ingin meminta pendapatmu mengenai konsep perasaan dan cinta. Terkadang aku menemui kasus-kasus yang berkaitan dengan hal itu. Aku kesulitan menanganinya ketika teman-temanku menangis karena kedua orangtuanya akan bercerai, atau salah satunya ada yang berselingkuh."
"Kau bilang apa? konsep? kasus?"
Ow, ow, aku keceplosan! Apakah sekarang ibu mulai menyadari profesi sampinganku? Tidak, sepertinya ini kesalahanku karena menunjukkan cara berbicara yang tidak biasa untuk ukuran anak seusiaku. Huh, mau tidak mau aku harus mengubah cara berbicaraku di depan ibu. Aku harus berpura-pura menjadi anak sepuluh tahun sewajarnya, yang menurutku kelihatan tidak berintelektual.
Aku menggeleng pura-pura polos. "Maksudku, Bu, terkadang aku melihat salah satu temanku di sekolah menangis karena kedua orangtuanya akan bercerai, dan aku tidak mengerti bagaimana cara menghadapi temanku. Temanku itu kelihatan sangat sedih sekali. Dia hanya memberitahuku kalau 'bercerai' itu artinya berpisah." Lebih tepatnya; aku tidak mengerti menangani hal yang membuat mereka menangis. Soal perceraian dan perselingkuhan itu, hah!
Ekspresi wajah ibu sekarang tidak seterkejut tadi. Tiba-tiba saja ia mengarahkan salah satu tangannya ke kepalaku lalu mengusap-usap rambut biru panjangku. "Chloe sayang, terkadang memang ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti dan pahami. Jika kedua orangtua salah satu temanmu ada yang ingin berpisah, pasti itu memang sudah menjadi keputusan mereka. Kau tidak perlu ikut campur dengan mendalami masalah di keluarga temanmu itu, cukup hibur dan berikan support padanya."
"Tapi kenapa orang dewasa bisa bercerai, Bu?"
"Selalu saja ada orang yang tidak bisa lepas dari masalah, Chloe. Mungkin 'masalah' itu yang menyebabkan orang-orang dewasa bisa bercerai."
"Jika mereka berpisah, apakah itu artinya kedua orangtua temanku itu sudah tidak saling mencintai lagi?"
Aku memperhatikan wajah ibu. Dia tampak diam sejenak.
"Hmm, kemungkinan iya."
Kemungkinan... iya? Apa maksud ibu? Apakah maksudnya walaupun orang-orang dewasa sudah bercerai, ada kemungkinan mereka sudah tidak saling mencintai tetapi juga ada kemungkinan mereka masih saling mencintai? Jawaban ibu benar-benar mengambang! Kalau mereka tidak saling cinta, kenapa dari awal mereka harus menikah? Kalau misalnya mereka masih saling mencintai, kenapa juga harus berpisah? Atau jangan-jangan...
Oh tidak, aku benar-benar benci dengan apa yang kupikirkan sekarang.
Apakah cinta tidak menjadi syarat wajib untuk orang dewasa menikah? Sehingga orang dewasa yang menikah itu bisa sesukanya memilih untuk mencintai atau tidak mencintai suami atau istri mereka dan bisa bebas mencintai orang lain yang tidak terikat dengan pernikahannya-yang membuat orang dewasa itu menjadi disebut dengan berselingkuh. Hmm... ini menarik! Aku harus mencari tahu lebih jauh.
"Ibu, apakah ada pria yang kau cintai?"
Ya, ya, aku yakin kalian mulai berpikir kalau diriku konyol karena menanyakan hal yang tidak penting pada ibu. Walaupun aku tahu ibu sudah pasti mencintai ayah, tapi setidaknya aku hanya perlu mengetes ibu dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan konsep cinta. Tentu saja untuk investigasiku lebih jauh.
Ibu mengangguk. "Hmm, pernah ada."
Sudah kuduga. Sudah pasti ada pria yang ibu cintai. Itu pasti itu ayahku!-
Tunggu. Pernah? Pernah ada?
EH?!
"Chloe, kau kenapa? Kenapa wajahmu tiba-tiba kelihatan terkejut?"
Aku buru-buru berdiri bangkit dari posisi duduk dan menggeleng. "Ibu, aku baru ingat kalau aku masih ada PR yang belum kukerjakan. Aku harus pergi ke kamarku!"
Aku langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar sebelum sempat mendengar suara balasan dari ibu untukku.
Ibu, maafkan aku mesti berbohong! Aku hanya benar-benar terkejut mendengar jawaban ibu.
Pernah ada...
Ternyata saat ini tidak ada pria yang dicintai ibu.
Aku mengubah langkahku dari berjalan cepat menjadi berlari ketika aku melihat pintu kamarku sudah dekat. Aku membuka pintu itu dan bergegas masuk ke dalam kamar, menutupnya, lalu bersandar pada daun pintunya.
Kini aku dapat menyimpulkan dua kemungkinan. Pertama, ibu pernah mencintai ayahku. Kedua, ibu pernah mencintai seseorang selain ayahku. Aku lebih yakin pada kemungkinan kedua. Karena kalau seandainya ibu pernah mencintai ayah dan sekarang sudah tidak mencintai ayah, kenapa saat ini ibu bisa hidup dengan santai dan tenang menjadi istri ayah? tidak ada tanda-tanda kalau ibu sedang memendam rasa sakit hati pada ayah. Ibu bahkan selalu terlihat seakan sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk ayah. Aku juga mulai menyimpulkan kalau ibu memang tidak pernah mencintai ayah.
Tapi, kenapa ibu menikah dengan ayah? Kenapa ibu mau menikahi seseorang yang tidak dicintainya?
Tiba-tiba saja aku merasa sesuatu bergetar dari dalam saku rok-ku. Aku merogoh saku lalu mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Di layar ponselku kini tertera pesan dari nomor telepon orang yang tidak kukenal. Isi pesannya adalah; 'Chloe, aku mau berterimakasih kepadamu karena kemarin kau telah membelaku di depan para siswa yang telah menindasku. Oh, ya, aku dengar dari teman-teman lain kalau kau sangat menyukai permen dan coklat, tapi maaf aku tidak bisa memberimu kedua jenis makanan itu sebagai balasan terimakasihku, karena aku tidak punya uang untuk membelinya. Aku hanya mampu memberimu kue mochi yang akan dibuatkan ayah dan ibuku. Walaupun sederhana, tetapi ayah dan ibuku bilang rasa kue mochi-nya akan seenak permen dan coklat karena dibuat dengan cinta. Aku harap kau akan menyukainya di sekolah hari Senin nanti. Sekali lagi, terimakasih Chloe!'
Seketika aku menjatuhkan ponselku ke lantai, kini aku mengepalkan kedua tanganku. Aku tidak peduli walaupun air mata kini mulai membasahi pipiku.
Ternyata hidupku benar-benar menyedihkan. Hidupku bahkan tidak lebih baik dari hidup anak seorang penjual kue. Ya, anak itu dilahirkan dengan cinta. Sedangkan aku?
Apakah aku dilahirkan karena formalitas pernikahan? Karena tuntutan pernikahan? Aku tidak tahu. Tapi bagiku semuanya tampak jelas sekarang; ayah dan ibu tidak pernah punya anak lagi, itu artinya mereka memang tidak ingin terlibat dalam hubungan dengan banyak anak. Bahkan kurasa kelahiranku ke dunia ini semata karena keberuntungan. Seandainya ibu tidak mengandung kembar, anak yang ada di rumah ini sudah pasti hanya Colin. Apakah mereka menyesal karena aku juga harus terlahir ke kehidupan mereka?
Aku tidak boleh pesimis.
Ya, apa pun kenyataan yang telah kuketahui sekarang, aku akan tetap menyayangi mereka. Aku ingin ayah dan ibu bisa benar-benar saling mencintai. Aku tidak boleh putus asa.
Aku mulai menggerakkan kakiku menuju meja belajarku di salah satu sudut kamar, aku meraih tas sekolahku lalu mengeluarkan pena dari dalamnya. Pena yang sekarang tengah berada di genggaman tangan kananku ini bukanlah pena biasa. Pena ini pemberian paman Kira sebagai hadiah ulang tahunku yang ke delapan. Paman Kira mungkin berpikir kalau dia bisa mengelabuhiku karena usiaku yang masih terbilang anak-anak, tetapi tidak sulit bagiku untuk memahami mekanisme yang ada di pena itu dan menyadari kalau itu bukanlah pena biasa.
Aku tahu pena itu adalah alat mata-mata. Ada tiga tombol yang berjajar vertikal di sisi samping pena dan ada lubang untuk memasukkan nano memory card di bagian ujung atas pena. Mungkin hanya sebagian orang yang dapat menyadari kalau di sisi di antara tombol atas dan tengah pena itu terdapat kamera kecil. Oh ya masing-masing tombol di pena memiliki fungsi yang berbeda. Tombol teratas berfungsi untuk mengaktifkan perekam suara, tombol di bagian tengah untuk merekam video dan tombol terbawah untuk memfoto.
Aku tidak mengerti kenapa paman Kira menghadiahkan diriku benda seistimewa itu. Tapi aku akan selalu berpura-pura bodoh dengan menjadi anak yang polos yang tidak mengerti apa-apa tentang pena itu di depannya.
Karena aku sudah tahu tentang keistimewaan pena pemberian paman Kira, jadi aku selalu menggunakan kecanggihan teknologi di pena itu untuk membantu pekerjaanku. Aku terbiasa mengarsipkan hal-hal penting berupa bukti-bukti kejahatan dan segala tindakan orang-orang yang mencurigakan ke dalam pena itu.
Dan seperti sekarang.
Aku harus merekam segala yang kuketahui tentang ibu.
Aku menekan tombol bagian atas pada pena, lalu mengarahkan pena ke dekat wajahku.
"Ibu kandungku Cagalli Hibiki Zala merupakan orang yang harus kuselidiki. Dia menikah dengan Ayahku Athrun Zala dengan tanpa ada rasa cinta, apa motifnya?"
Aku menekan kembali tombol teratas di pena lalu menjauhkan pena dari wajahku. Itu saja cukup. Untuk saat ini fokusku akan lebih kutujukan pada ibu. Ya, ibu kini telah aku tandai sebagai orang yang patut untuk aku curigai.
Tbc
A/N: menghadeh gak sadar kalo ada ff ini. ntar coba kucicil deh, 4 lg. thnks udh baca!
