Lady Sakura, Punch!

Stardee

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 2 : Hinata

Waktu berjalan sangat cepat, Sakura sudah mulai terbiasa dengan dunia barunya. Sekarang ia berumur sepuluh tahun.

Awalnya orang-orang di mansion Halno terkejut melihat perubahan Sakura. Sakura yang awalnya cengeng, nakal, dan sombong itu berubah menjadi gadis manis yang disukai semua orang.

Bukan hanya karena ia menjadi ramah, tetapi sikapnya jauh lebih dewasa dibandingkan anak seusianya.

Mendengar itu Sakura hanya bergumam dalam hati.

[Ya iyalah dewasa. Seorang wanita dewasa berumur 28 tahun bersikap seperti anak kecil itu menyiksa batin. Kenyataannya waktu aku kecil aku lebih gila dari Sakura kalian.]

Dan perihal pangeran..

Sakura hanya bertemu pangeran sekali. Itupun hanya sekedar menyapa karena pangeran sangat sibuk. Oleh karena itu ia jarang bertemu dengan pangeran dan ia tidak ada masalah dengan itu. Dan saat ini pangeran katanya sedang dalam perjalanan panjang untuk mencari pengalaman.

Ketika Kizashi menyampaikan informasi tersebut, ia sudah menyiapkan mental apabila putrinya akan menangis dan mengamuk. Tapi kenyataannya Sakura hanya membalas "Hm, begitu."

Kizashi sangat terharu melihat anaknya bersikap dewasa. Ia pun menyadari mungkin di dalam benak putrinya, ia terluka mendengar kabar tunangannya akan pergi jauh dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu Kizashi memutuskan untuk menghibur Sakura.

"Tapi tenang saja, Sakura. Sasuke-sama tidak akan lupa untuk mengirimu surat. Mana mungkin ia lupa untuk mengirim surat kepada tunangannya yang cantik ini," Ucap Kizashi sambil mengelap ujung matanya dengan sapu tangan. Pura-pura terharu.

Lebay.

Alay.

Sakura menatap wajah ayahnya dengan ekspresi aneh.

Surat?

Sejak kapan mereka sedekat itu?

Lagipula, memang apa yang bisa seorang bocah tulis dalam surat untuk tunangan kecilnya? Dih, membayangkannya saja sudah jijik.

Seketika ia jadi ingat anak-anak SD yang sudah pacaran dan gaya pacaran mereka lebih alay dari remaja puber.

"Err.. sebaiknya ayah bilang padanya tidak usah. Aku tidak mau merepotkan," balas Sakura.

"Ya ampun putriku dewasa sekali. Tenang saja, ayah akan bilang agar ia selalu menyampaikan keadaannya di sana," ucap Kizashi tanpa mengerti maksud dari sikap Sakura.

Sakura hanya mengangguk.

Sakura kemudian kembali ke kamarnya karena ia terpikirkan oleh sesuatu.

Ia menghampiri ruangan rahasia yang ada di kamarnya. Ruangan itu berisi penelitian Sakura tentang dunia ini. Walaupun terasa seperti dunia nyata tetapi alur dalam novel itu benar-benar terjadi. Untuk menghindari hal buruk, Sakura tidak pernah mengatakan apapun tentang kejadian yang akan datang.

Karena tentu saja tokoh utama dalam novel itu bukan Sakura. Masa lalu Sakura tidak pernah diceritakan dalam novel tersebut secara jelas. Sehingga tidak banyak hal aneh yang terjadi pada keluarganya.

Mendengar kabar dari ayahnya, Sakura ingat. Perjalanan pangeran ini bersangkutan dengan tokoh utama. Saat pangeran diserang bandit di hutan utara, ia dan ajudannya melarikan diri hingga berhasil sampai di sebuah desa kecil. Di sanalah ia pertama kali bertemu sang tokoh utama.

Akibat serangan dari bandit itu, mereka terluka. Sampai akhirnya ada penduduk desa yang merawat dan memberikan mereka tempat tinggal.

Pertemuan inilah yang akan membuat pangeran tertarik pada tokoh utama. Tatapan teduh gadis kecil itu sangat berkesan di hati pangeran.

Nama gadis itu adalah Hinata.

Ia punya pesona yang tak terbantahkan, menjerat banyak lelaki hingga pangeran selalu merasa lelah hati menghadapi Hinata yang tidak bisa tegas dan terus-terusan memberi para pemujanya harapan.

"Dasar gatel," ledek Sakura.

Mengingat itu Sakura mulai menuliskan ringkasan kejadian yang akan datang. Berdasarkan keberangkatan pangeran maka sepertinya sepuluh hari yang akan datang pangeran akan diserang bandit.

"Bagaimana kalau aku menghindari pertemuan mereka saja? Kalau pangeran tidak melewati hutan utara sepertinya mereka tidak akan bertemu. Aahahahahahhaha seru juga merusak momen," ucap Sakura licik.

Sakura langsung menuliskan surat pada pangeran. Surat itu berisi rasa peduli dan perhatiannya. Tak lupa memberi sedikit kabar di kerajaan. Hingga akhirnya, Sakura menceritakan bahwa akhir-akhir ini pelayannya baru saja kembali dari hutan utara dan diserang bandit. Oleh karena itu Sakura memperingatkan pangeran agar tidak melewati hutan utara, sebaiknya melewati Kota Azrel yang jauh lebih aman walaupun memakan lebih banyak waktu.

Sakura tertawa jahat dalam hatinya.

Ia tidak sebaik gadis lain yang lebih memilih orang lain bahagia ketimbang dirinya. Toh ini menyangkut hidup dan mati. Lagipula pangeran belum menyukai tokoh utama itu kan? Dan ia hanya menolong pangeran dari bahaya.

Sementara itu di Desa Amber, desa dekat hutan utara, ada seorang gadis kecil berumur 9 tahun yang menatap gerbang desanya lekat-lekat seperti menunggu kehadiran seseorang.

Gadis kecil itu berambut biru gelap disertai mata berwarna lavender. Wajahnya membawa kesan lembut dan tatapannya teduh. Membuat orang-orang selalu menyukainya.

'Di kehidupanku sebelumnya, tak lama lagi Sasuke-sama akan sampai di desa ini. Aku harus menyiapkan obat-obatan dan merapikan rumahku,' batin gadis itu.

Yang hanya ia pikirkan adalah bagaimana mendapatkan hati pangeran. Walaupun pangeran di kehidupan sebelumnya selalu menaruh hati padanya, tetapi kehadiran 'pengganggu' itu yang membuat kisah cintanya tidak mulus.

Dan saat pengganggu itu mati, ia kira semuanya akan berakhir bahagia dan ia akan bahagia selamanya dengan pangeran.

Tetapi dirinya terlalu naif.

Sakura Halno walaupun impulsif tetapi ia tidak bodoh. Tidak mungkin dia akan mati tanpa membuat Hinata menderita. Karena itulah Sakura terlihat cukup tenang sebelum kematiannya dan tidak ada tanda penyesalan di wajah pucatnya setelah ia mati.

Benar saja, Sakura tidak hanya mati. Tapi meninggalkan seorang anak dengan pangeran. Hal itu ia ketahui setelah delapan tahun pernikahannya dan ia sudah menjadi ratu. Yang membuatnya depresi adalah sudah bertahun-tahun lamanya tetapi tidak ada tanda-tanda ia akan mengandung sehingga terpaksa harus menerima anak itu.

Pangeran juga sangat tidak membantu. Karena tekanan dari ayah pangeran untuk segera memiliki keturunan, pangeran membawa anak sialan itu ke istana. Menjadikannya pangeran mahkota.

Dan anak itulah yang membuatnya mati dalam kesepian. Ia berkali-kali menjebaknya hingga orang-orang membencinya termasuk pangeran.

Ini semua karena Sakura. Ia tidak akan membiarkan Sakura hidup lebih lama. Kalau semuanya terulang kembali lalu apa gunanya ia dilahirkan kembali?

Ia tidak akan menyia-nyiakan kehidupan kedua ini!

Lima hari kemudian, Sasuke menerima surat dari Sakura. Ia terheran-heran karena Sakura tidak pernah mengirimnya surat sebelumnya.

[Author's note : Kalo males baca isi surat Sakura, skip saja. Toh intinya udah dikasi tau hehe.]

Kepada yang mulia pangeran Sasuke

Aku mendengar kabar bahwa pangeran akan mengadakan perjalanan panjang untuk memperoleh pengalaman. Aku terkejut mendengar kabar itu karena sangat tiba-tiba. Aku tahu suratku ini membuat pangeran kaget karena sebelumnya aku tidak pernah menulis surat pada pangeran.

Tapi biarkanlah surat ini menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Aku percaya pangeran itu sosok yang kuat, dunia luar pun pasti tidak masalah bagi pangeran. Tetapi tetap saja lingkungannya akan berbeda dengan kerajaan kita. Aku hanya ingin memberikan tips untuk jaga-jaga saat berada di perjalanan jauh di catatan kecil yang menempel dengan surat ini.

Oh iya, di sini keadaannya baik-baik saja. Aku juga mulai belajar dan memiliki guru baru. Aku tidak tahu apa akan cocok dengan guru baru itu, tetapi setelah mendengar bahwa guru itu direkomendasikan oleh pangeran, aku akan berusaha.

Semuanya baik-baik saja kecuali salah satu pelayanku yang baru saja kembali dari hutan utara. Aku menceritakan ini karena tidak mau pangeran menjumpai bahaya. Tiga hari yang lalu salah satu pelayanku hendak kembali ke mansion Halno dari kampung halamannya. Karena tidak mau memakan waktu yang lama ia memutuskan untuk melewati hutan utara sebagai jalan pintas. Siapa sangka di sana banyak bandit, geng bandit ini sangat kuat dan banyak anggotanya. Aku sarankan pangeran lewat Kota Azrel saja, Kota itu lebih aman dan tentara kerajaan cukup banyak yang ditugaskan di sana. Memang memakan lebih banyak waktu tetapi lebih baik berjaga-jaga.

Aku harap pangeran selalu sehat dan mampu beradaptasi. Serta mendapat pengalaman yang berlimpah. Jangan lupa untuk mengirim balasan jika tidak sibuk!

Ttd,

Sakura Halno.

Membaca surat tersebut Sasuke cukup terkejut. Ia baru saja merencanakan perjalanan melewati hutan utara. Tapi setelah membaca surat ini Sasuke merasa ia harus mengikuti saran Sakura.

"Suigetsu, ubah rute perjalanan ke Kota Azrel. Dan jika ada guildhouse, cari informasi tentang bandit di hutan utara," perintah Sasuke.

"Baik, Sasuke-sama," balas Suigetsu.

Tak lama kemudian Suigetsu kembali untuk menyampaikan informasi kepada Sasuke.

"Sasuke-sama. Memang benar di hutan utara ada sekelompok bandit yang kuat. Para perantau menyebut mereka 'Red Hood' dan ketuanya adalah mantan kesatria kerajaan yang diasingkan karena kasus penculikan," jelas Suigetsu.

"Hn."

"Merubah rute adalah pilihan terbaik. Sudah kuduga Sasuke-sama mengambil keputusan yang bijak," puji Juugo.

"Hn."

Sasuke memandang intens surat yang ada di tangannya. Ia harus berterima kasih kepada Sakura atas saran dan peringatannya.

Sasuke meneruskan perjalanannya ke Kota Azrel.

Lima hari kemudian, tepat di hari Sasuke harusnya datang ke desa kecil ini dengan penuh luka berdasarkan kehidupan sebelumnya, Hinata menanti di dekat gerbang.

Orang-orang yang melihatnya selalu menyapa dan bertanya apa yang sedang ditunggu olehnya. Hinata hanya tersenyum dan menggeleng.

Ia menunggu, menunggu, dan menunggu. Tetapi tidak ada siapapun yang datang.

Sampai akhirnya ibu Hinata menjemput Hinata untuk pulang. Dengan berat hati Hinata menurut.

Sampai ia bangun di pagi harinya, tidak ada Sasuke.

Ia menghentakkan kakinya kesal.

"Kenapa Sasuke-sama tidak datang?!"

Sakura di kediamannya sedang santai membaca surat balasan dari Sasuke. Isinya tentu saja ucapan terima kasih atas tips dan sarannya yang sangat membantu perjalanannya. Sasuke juga menjanjikan akan membawa hadiah yang tidak akan mengecewakan Sakura.

Dan setelah itu Sakura dan Sasuke cukup sering berbalas surat.

Tapi bagaimana pun Sakura menghindari plot, plot novel itu sangat kuat. Sasuke tetap mengunjungi desa itu empat bulan kemudian. Dan saat itu Sasuke sedang dalam hubungan yang sangat baik dengan Sakura sehingga ia mengabaikan sosok gadis kecil yang selalu menatapnya memuja. Entah apa tujuan gadis itu selalu ingin berada di tempat yang sama dengan Sasuke.

"Sasuke-sama, apa saya harus menyingkirkan anak yang selalu mengganggu Anda?" tanya Juugo.

"Tidak usah. Hanya buang-buang tenaga saja," balas Sasuke dingin. Toh ketika ia pergi dari desa itu ia tidak akan bertemu lagi dengan anak itu.

TBC