Butuh waktu lama memproses chapter ini, semoga menghibur ya.


"Mikasa Ackerman?" gumam Levi.

Levi menelaah berkas-berkas laporan pembunuhan keluarga Ackerman, disebutkan bahwa ia membunuh satu orang dewasa menggunakan pisau dengan luka tusukan yang fatal dilakukan oleh seorang bocah yang notabenenya tidak akan sanggup melawan pria dewasa.

"Paman. Apa menurut mu bocah ini sudah membuka kekuatannya?" tanya Levi, Kenny Ackerman yang sedang menyesap cerutunya itu mengangkat bahunya tak acuh, "Siapa tahu, tapi di lihat dari laporan itu, kurasa tak wajar bukan?" ucap Kenny.

"Tapi dia hidup…normal. Aku tidak pernah mendengar apapun darinya."

"Itu karena aku meminta Grisha Yaeger untuk hidup menyembunyikannya. Dan keluarga Yaeger melakukan itu dengan baik."

Levi sesaat diam memandangi pamannya itu. "Kenapa paman?"

"Uri sempat memperingatiku. Rod Reiss bersikeras menikahkan anak-anaknya dengan Klan Ackerman dan harapannya keturunan Klan Fritz akan memiliki kekuatan Ackerman, dia masih mencari bocah itu untuk menikahkannya dengan Urklyn Reiss, yang mana akan menerima takhta nanti setelahnya. Tetapi, Uri sangat tertarik untuk menikahkanmu dengan Frieda Reiss, aku yakin dia tidak tahu kau seorang Ackerman, kurasa dia memang hanya ingin prajurit terkuat manusia menikah dengan keponakan kesayangannya."

"Cih.. paman, itu alasannya kau memintaku untuk menikah dengan bocah ini?" tanya Levi.

"Prinsip hidupku… beraliansi dengan Klan mu sendiri jauh lebih baik daripada dengan orang asing. Yang bisa melindungi bocah itu… adalah kau Levi. Kau tau aku tidak muda lagi."

Levi memandangnya sinis, "Kau berkata seolah kau akan mati besok."

"Levi, kita sudah pernah di bantai oleh keluarga kerajaan. Aku lebih memilih untuk di bantai, daripada harus diperbudak oleh pihak kerajaan."

"Paman…"

"Semua warga… kita tahu hanya hitungan waktu lagi Uri menjadi Raja negeri ini. Umurnya tidak akan lama dengan penyakit yang di deritanya itu, Rod akan segera menjadi raja. Keberadaan kita, akan benar-benar diusik, Levi. Kau dan aku… kita tidak akan disentuh oleh Rod, dia takut dengan kita. Tapi bocah itu, kita tidak tahu apa dia bisa membela dirinya sebagaimana yang kita lakukan selama ini. Rod mengincar anak-anak Klan Ackerman untuk menjadikannya prajurit tangan kanannya langsung karena dia tidak bisa menyentuh kita, Levi."

Levi mendengus, "Rod Reiss.. pria brengsek."

Kenny terkekeh, "Faktanya bahwa ia adalah adik Uri dan calon penerus kerajaan membuatku bertanya-tanya apa Rod benar-benar adik Uri."

Kenny Ackerman menghembuskan cerutunya, asap keluar dari mulutnya kemudian dari jendela kereta kuda yang mereka tumpangi. Beberapa kali kereta kuda terguncang menyusuri jalanan distrik Shiganshina.

"Aku pernah berjanji pada bocah itu. 10 tahun lalu, untuk memberinya kebebasan hidup." kata Kenny Ackerman. "Tapi kurasa, aku tidak bisa memberikannya hak untuk menjalani hidupnya seperti apa yang mungkin bocah itu harapkan."

Malam itu, sepuluh tahun yang lalu, Kenny Ackerman dan Levi menatap tubuh tak bernyawa Charlie dan Mizuki Ackerman yang meninggal secara tragis mulai di gotong dengan tandu oleh Polisi Militer, Levi melirik Kenny yang tatapannya kosong.

"Paman, siapa pelakunya?" tanya Levi.

Kenny terkekeh, tetapi Levi memandangnya heran mengapa Kenny tertawa. Detik berikutnya ia menyadari, ia melihat kedua mata pamannya itu mengkilat, Levi tahu betul itu tatapan yang sama saat pamannya bertekad untuk menghabisi nyawa seseorang.

"Nah, Levi. Malam ini akan ku tunjukan cara membunuh seseorang dengan benar." kekeh pamannya itu.

"Paman… kau tahu kau tidak bisa membunuh penerus takhta kerajaan." tegur Levi.

"Tunggu… dimana jasad bocah itu?" tanya Kenny setelah memastikan bahwa jasad yang diangkut tandu itu hanya dua. "Bocah?" gumam Levi.

"Oi. Caven… apakah ada bocah yang selamat dari insiden ini?" tanya Kenny pada Trauten yang saat itu telah menjadi tangan kanan Kenny.

"Orang yang melaporkan pertama kali ialah… Dokter Yaeger. Dia melaporkan Mikasa Ackerman … gadis berusia 9 tahun diselamatkan oleh Eren Yaeger, anaknya dan bekerja sama membunuh 3 orang perampok."

"Dimana keberadaan bocah itu sekarang?" tanya Kenny, membakar cerutunya.

"Oi, Sergei, kau yang menerima laporan dari Dokter Yaeger, apakah kau melihat gadis perempuan?" tanya Caven pada seorang prajurit yang tengah menggotong tandu.

"Ya… gadis malang itu selamat sekaligus membunuh 3 perampok itu. Dia dibawa oleh Dokter Yaeger ke Distrik Shiganshina."

"Caven. Buat laporan tidak ada yang selamat dari kejadian ini." pinta Kenny.

"Apa? Kau tahu aku tidak dapat memalsukan laporan yang akan diserahkan ke Mitra."

"Aku tidak peduli. Aku tahu kau wanita cerdas dan akan mengakalinya dengan mudah." kata Kenny santai.

Kenny menghembuskan cerutunya, "Kita akan pergi ke kediaman Yaeger, Levi."

Levi mengangkat alisnya heran. "Untuk apa?"

Kenny berdeham, "Aku tidak akan mengabaikan bocah itu sebagaimana aku mengacuhkanmu."

"Aku akan kembali ke Sina besok." Grisha Yaeger berkata sambil memakan sup kentangnya itu, pria paruh baya ayah angkat Mikasa itu terlihat muram. Keluarga Yaeger tengah menikmati makan malam mereka.

"Kapan ayah akan kembali?" tanya Eren tanpa menatap ayahnya yang nyatanya duduk di hadapannya itu, lelaki itu bertanya dengan nada datar, seolah tahu pertanyaan nya itu akan mendapat jawaban yang sama tetapi ia tetap menanyakannya.

"Aku tidak tahu." jawab Grisha.

"Tidak bisakah kau tinggal? Banyak orang-orang di Shiganshina membutuhkan bantuanmu."

"Lord Lenz membutuhkan bantuan ku di Distrik Stohess."

"Tapi ayah - "

"Eren, ikutlah denganku. Keluarga Lenz memiliki anak yang sakit, kau akan banyak belajar tentang medis."

Eren mengepalkan tangannya. "Aku akan tetap disini. Sampai kapan ayah akan terus melarikan diri dari rumah sepeninggalan ibu?"

Grisha Yaeger nyaris tersentak mendengar pertanyaan yang menyakitkan itu.

"Aku tidak melarikan diri. Lord Lenz membutuhkan bantuan kita."

Eren tertawa miris, "Kau terus mengatakan bahwa orang-orang membutuhkan mu. Tapi kau tak ada saat Ibu membutuhkan mu."

"Eren…" tegur Mikasa lembut, ia menggenggam satu tangan Eren yang mengepal keras karena amarahnya yang menggebu-gebu.

"Itu benar, bukan? Kenapa kau memaksaku menjadi dokter, sementara kau sendiri tidak bisa menyelamatkan ibu? Berhenti menjadi pengecut dan lari dari keluargamu."

"Eren… menjadi dokter adalah pekerjaan mulia, bukannya aku tidak menolong ibumu. Kau harus mengerti… kematian terkadang tak terhindari. Kau harus mengikhlaskan ibumu…" kata Grisha Yaeger, matanya mengkilat menyiratkan segala duka yang pria itu pendam.

"Dan kau harus berhenti melarikan diri ayah."

"Aku - " ucapan Grisha Yaeger terpotong dengan ketukan pintu rumahnya, yang kemudian disusul dengan pintu yang terbuka. Mereka terdiam karena mendengar suara langkah kaki ringan yang tak lain tak bukan adalah suara langkah kaki kepala pembantu kediaman Yaeger yang membungkuk memberikan salam pada mereka di ruang makan kemudian menginfokan, "Tuan Yaeger, kau kedatangan tamu."

"Semalam ini? Apakah ia seorang pasien?"

"Dia tidak mengatakan apa-apa, Tuan."

"Baiklah." Grisha Yaeger pun bangkit dan menghilang dibalik pintu.

"Eren… Dokter Yaeger sudah berusaha semampunya untuk menyembuhkan penyakit ibumu." tegur Mikasa saat mereka benar-benar berdua.

Eren mencemoh. "Pria tua itu tidak berusaha lebih keras. Dia bahkan meninggalkan rumah ini, meninggalkan kita."

Mikasa Ackerman hanya menghela nafas panjang. Sepeninggalan Carla Yaeger tiga tahun lalu, ayah anak Yaeger itu seolah kehilangan arah. Eren yang tidak bisa menerima kematian ibunya yang meninggal karena sakit, terus menerus menyalahkan ayahnya, tak heran membuat Grisha Yaeger terus berpergian untuk menghindari rentetan perasaan bersalah.

"Ayahku. Dia seorang dokter terbaik di negeri ini, Mikasa. Dia menolong banyak orang tapi tidak dengan ibuku. Kau dan dia memintaku untuk mengikhlaskan ibu? Cih, aku tidak sudi untuk menjadi dokter."

"Apa yang akan kau lakukan, Eren?"

"Aku akan melarikan diri. Aku akan hidup semauku,"

Tanpa pikir panjang, "Aku akan ikut denganmu." kata Mikasa.

"Kau tidak bisa," jawab Eren.

"Kau akan bertindak gegabah, Eren. Aku akan menjagamu,"

"Kau bukan ibuku, berhenti bersikap sepertinya. Itu membuatku muak."

Mikasa tersentak, kata-kata terakhir Eren membuatnya tertegun. Itu benar.

Sepeninggal Carla, Mikasa mencoba untuk bersikap sepertinya, untuk mengembalikan kehangatan keluarga ini. Mendadak, ia kembali teringat memori-memori saat ia pertama kali datang kerumah ini. Eren terus menggandeng lengan gaun tidur nya sepanjang perjalanan setelah dia mengajaknya untuk pulang kerumah ini, kemudian ia disambut sebegitu hangatnya oleh Carla begitu ia memasuki rumah kediaman Yaeger. Ia ingat malam itu begitu dingin sampai ia tidak merasakan kakinya lagi.

Tapi pelukan Carla seolah menembus jiwanya yang sempat kosong, Mikasa merasa ia sempat mati untuk sekian detik pada hari itu, ia tidak bisa merasakan detak jantungnya saat menyaksikan bandit besar memenggal kepala ibunya di depan matanya sendiriuntuk hari itu.

Mikasa masih ingat, Grisha Yaeger yang mengelus kepalanya lembut, pria itu berkata, "Ini Mikasa. Anak keluarga Ackerman. Dia tidak memiliki siapa-siapa, dia akan tinggal disini bersama kita mulai hari ini."

Carla Yaeger tidak mempertanyakan apa-apa selain terus memeluknya erat. "Kau pasti kedinginan, aku telah memasak sup, mari hangatkan tubuhmu," kata wanita itu dengan keibuannya membuat Mikasa menangis saat itu juga.

"Nona Mikasa, kehadiran mu diharapkan di ruang tamu oleh Dokter Yaeger." suara kepala pembantu itu menyadarkannya dari lamunannya.

"Kau juga harus melakukan apa yang menurut mu benar, Mikasa. Kau harus membuat pilihan untuk hidupmu juga." kata Eren bangkit dari duduknya kemudian melenggang pergi ke kamarnya.

Mikasa Ackerman menghela nafas, ia bangkit dengan memperhatikan punggung Eren yang ia tatap untuk terakhir kalinya sebelum Eren menghilang ke kamarnya.

Di ruang tamu, Mikasa dibuat tertegun melihat Dokter Yaeger tengah berbincang dengan 2 orang pria. Saat melihat keduanya, Mikasa ingat betul apa yang terjadi di hari dimana kedua orang tuanya mati dibunuh di depan matanya sendiri, termasuk ia mengingat kedua orang ini datang menjemputjya tak lama setelah ia datang ke keluarga Yaeger.

Grisha Yaeger yang mendengar kedatangannya, tersenyum pada Mikasa dan mengisyaratkan Mikasa untuk bergabung bersama mereka. Mikasa membungkuk untuk memberikan hormat pada ketiganya lalu mendekat dan duduk disamping Grisha.

"Mikasa… apakah kau ingat, Kenny Ackerman? Dia adalah keluarga jauhmu," tanya Grisha, mengarahkan tangannya pada pria tua itu yang tersenyum, menyeringai ala Kenny pada Mikasa.

Mikasa melemparkan pandangannya pada Kenny. "Ah… ya, bagaimana kabarmu, paman?

Kenny terkekeh, "Mikasa kau ingat dengan ku… sudah lama juga ya?"

Mikasa samar-samar mengingat memori masa kecilnya itu, ia ingat betul karena orang yang pernah mengunjungi kediaman mereka di daerah pegunungan Shiganshina hanya Dokter Yaeger, Eren dan Kenny Ackerman. Kenny Ackerman pernah beberapa kali mengunjungi keluarganya dan ia disambut ramah oleh kedua orang tuanya.

Terakhir kali ia bertemu Kenny adalah saat ia berada di rumah ini, malam di mana kedua orang tuanya dibunuh, Kenny Ackerman dengan lelaki cebol di samping Kenny itu datang dengan maksud untuk menjemputnya.

"Kenny Ackerman?" Grisha Yaeger sesaat berdiri ketakutan di ambang pintu mendapati tamu selarut ini, ia melongok ke dalam rumah perlahan untuk memastikan Carla ada di meja makan bersama Mikasa dan Eren yang baru saja memulai makan malamnya.

"Ya, itu namaku. Atau kau mungkin sering mendengarnya di kota dengan sebutan Kenny si pencabik," kata Kenny dingin.

Grisha berdeham, masih enggan membiarkan seorang pembunuh Polisi Militer itu kalau benar legendanya, masuk kedalam rumahnya "Kau bilang, kau adalah keluarga jauh Mr. Ackerman?"

"Tidak terlihat bukan? Aku dan Charlie memang jauh berbeda. Dia bercocok tanam sementara aku membunuh orang. Tapi, kita terhubung. Ku dengar kau membawa Mikasa bersama mu. Aku datang untuk menjemputnya, aku akan mengurus Mikasa mulai dari sekarang." kata Kenny menengok ke balik punggung Grisha dimana Kenny tahu, seluruh keluarganya sedang duduk di meja makan itu, duduk diam dengan was-was mendengarkan.

"Apa? Bagaimana bisa seorang pembunuh mengurus Mikasa?!" ucap Carla Yaeger panik menentang ide mengerikan itu dan datang menginterupsi percakapan suaminya, tapi kakinya yang bergetar menjelaskan semuanya.

"Aku sudah berjanji pada Charlie untuk membawa kedamaian padanya. Dimana Mikasa?" kata Kenny lagi masih berusaha sabar.

"Tidak. Aku akan membesarkan Mikasa sebagaimana aku membesarkan anakku, Eren. Aku tidak akan membiarkan Mikasa besar dibawah pengawasan seorang pembunuh."

"Ouch. Mrs. Yaeger kau menyakitiku. Tapi Mikasa, adalah keluargaku." kata Kenny lagi, matanya memicing sengit pada Carla kemudian menatap tajam Grisha Yaeger. Levi yang berdiri disamping Kenny memperhatikan adegan menegangkan itu dalam diam, ia tahu kapan saatnya ia harus bertindak, kapan harus diam dan mengobservasi saja. Levi melihat Kenny sudah mengeluarkan pisau miliknya dari jasnya dan sengaja memastikan bahwa Grisha Yaeger melihatnya.

Grisha Yaeger menelan ludahnya ketakutan, melihat Kenny yang memainkan pisau di tangannya membuat peluh di pelipisnya turun.

"Mikasa kemarilah." Grisha akhirnya menyerah, ia tahu ia tidak akan menang melawan pria ini.

"Grisha… kau tidak bisa menyerahkan Mikasa pada pria ini." Carla Yaeger memohon pada suaminya. Mikasa turun dari kursinya dengan patuh dan menghampiri ambang pintu, ia melihat Kenny tersenyum menyambut kedatangannya dan seorang pria berwajah dingin berdiri disampingnya.

"Kau sudah melalui banyak hal," ucap Kenny yang Levi sendiri tidak sangka-sangka terdengar lembut. Kenny menggenggam tangan kecil Mikasa. "Ayo," ajak Kenny.

Mikasa hanya bisa menurut, tatapannya masih kosong dari syok sepeninggal orang tuanya beberapa saat lalu jadi ia hanya mengangguk.

"Mikasa… apa kau kenal dengan pria ini?" tanya Grisha.

Mikasa mendongak melihat lebih jelas wajah Kenny yang sedikit tertutup oleh topi koboinya, "Dia adalah paman."

"See? Sudah kubilang, bukan?" kekeh Kenny, "Terimakasih, Dokter Yaeger, telah menyelamatkannya. Tapi aku yang akan mengurusnya."

Kenny Ackerman menggandeng tangannya dan berbalik arah serta mulai melangkah, langkahnya hanya beberapa saja karena Mikasa menghentikan langkahnya. Eren menghentikan langkah Mikasa. Mikasa kecil menoleh, Eren kembali memegang lengan bajunya.

"Apa kau… tidak akan bermain bersama ku lagi?" tanya Eren, mata bulat hijau emeraldnya terlihat tenang menatap Mikasa.

Mikasa menatap syal merah yang melingkari lehernya, syal merah yang memberikannya kehangatan, lalu ia menatap Eren. Lalu ia menoleh ke arah Kenny, dengan polosnya ia bertanya. "Bolehkah aku tinggal?"

Kenny melihat tatapan penuh harap Mikasa. Bagaimana manik obsidiannya itu terlihat kosong sedari tadi, namun kini penuh harapan. Kenny tertawa kecil.

Sepertinya itu tidak akan apa-apa, Kenny akan mengampuni hidup gadis kecil ini untuk beberapa tahun kedepan.

"Kenny, kau jangan khawatir. Aku dan istriku akan merawat Mikasa seperti anak kandungku sendiri."

Kenny terdiam untuk sejenak sebelum ia tak seperti biasanya, akhirnya menyerah, "Baiklah."

"Aku perlu berbicara singkat dengan mu, Dokter Yaeger." kata Kenny. Grisha mengangguk, "Carla, kau bisa membawa Mikasa dan Eren tidur," kata Grisha, Carla langsung mengangguk dan membawa keduanya kedalam, Kenny melambaikan tangannya kecil pada Mikasa dan meyakinkan bahwa Mikasa melihatnya untuk terakhir kali.

"Kau mungkin berpikir karena telah menyelamatkannya hari ini." kata Kenny, memasukan pisaunya kembali ke dalam saku jasnya. "Mikasa Ackerman. Dia istimewa, aku yakin kau tahu siapa orang tuanya, Dokter Yaeger, dan alasan keluarganya dibunuh. Kau bekerja untuk bangsawan di kota Sina. Kau tahu mengapa dan siapa."

Grisha Yaeger mengangguk, "Aku tidak menyangka hal ini terjadi lagi."

"Begitupun aku. Aku sudah merahasiakan Mikasa Ackerman selamat dari insiden malam ini." kata Kenny menatapnya tajam, "Tugasmu selanjutnya adalah menyembunyikan keberadaannya yang faktanya dia selamat. Aku ingin kau mengurusnya sebagaimana kau mengurus anakmu, dan… kau perlu merahasiakan keberadaannya. Dia tidak perlu mengikuti pesta-pesta sosial sampah kelas atas yang akan mengundang orang-orang tahu bahwa dia selamat. Aku serahkan dia padamu."

"Baik. Aku akan mengikuti perkataanmu, Kenny."

Kenny terkekeh, "Yah ngomong-ngomong, aku memang tidak cocok menjadi figure ayah apalagi untuk anak perempuan."

Kemudian dia kembali serius, "Kalau suatu saat nanti aku, atau pria ini…." Kenny merujuk kepada Levi, "…kembali kesini, itu berarti sesuatu hal genting mengancam keselamatannya dan aku telah menilai kau tidak mampu melindunginya lebih jauh lagi. Yang bisa melindunginya hanya aku atau Levi. Aku harap kau tidak menghalangiku seperti kau menghalangiku malam ini nantinya. Apa aku telah membuat pernyataanku jelas?"

"Aku mengerti, terimakasih, Kenny."

Kenny tertawa, "Tidak…tidak, aku yang seharusnya berterimakasih kau setidaknya berhasil menyelamatkan Mikasa."

"Maaf aku tidak dapat menyelamatkan…Charlie dan Mizuki. Maaf aku terlambat datang,"

Kenny mendecih, "Itu seharusnya tugasku sebagai pimpinan Klan,"

"Ah… ya, bagaimana kabarmu, paman?" tanya Mikasa, setelah ia mengingat-ingat seluruh memori tentang Kenny Ackerman dalam hidupnya.

Kenny tertawa renyah, Kenny terkekeh, "Mikasa kau ingat dengan ku… sudah lama juga ya?"

"Aku baik-baik saja, aku lihat kau telah membesarkan Mikasa dengan baik sesuai permintaanku, Dokter Yaeger." sambung Kenny.

Grisha Yaeger mengangguk, "Mikasa… telah tumbuh menjadi wanita yang anggun. Carla yang membesarkannya," kenang Grisha, ia tersenyum melihat Mikasa yang masih berwajah datar, tetapi dalam benak wanita itu muncul pertanyaan-pertanyaan tentang alasan pamannya ini datang kemari setelah sekian lama.

"Aku perlu berterimakasih pada istrimu, Dokter Yaeger. Mikasa tidak akan seperti sekarang tanpa istrimu yang mengajarinya, bukan?" tanya Kenny.

"Istriku sudah meninggal beberapa tahun lalu." kata Grisha tersenyum tabah, Kenny mengangguk canggung.

Kenny yang agaknya menangkap gerak-gerik Mikasa yang memperhatikan dirinya dan Levi bergantian dapat menangkap ke ingin tahuan Mikasa.

"Kau… pasti bertanya-tanya mengapa aku kemari." kata Kenny merujuk pada Mikasa.

"Dokter Yaeger, kedatanganku kemari… adalah untuk menepati pernyataanku 10 tahun silam." kata Kenny serius pada Grisha. Grisha menyimak penuh perhatian, pria itu yakin betul Kenny bukan orang yang main-main dalam bertindak. Grisha sudah banyak mendengar tentang legenda yang nyatanya benar tersebut tentang Kenny si Pencabik.

"Aku ingat." kata Grisha.

"Sebelumnya aku ingin memperkenalkan kenalanku, dia adalah orang kepercayaanku. Captain Levi dari pasukan pengintai, apa kau pernah dengar?"

Grisha mengangguk, "Prajurit terkuat umat manusia. Captain Levi sedang dalam perbincangan di kota beberapa tahun belakangan."

Kenny tertawa, "Ya, kurasa si cebol ini cukup terkenal. Levi dan aku adalah sama." kata Kenny serius matanya mengkilat saat mengucapkan perkataanya, Grisha langsung paham maksud Kenny.

"Mikasa… aku dan ayahmu pernah dalam perbincangan untuk menikahkanmu dengan seseorang yang tepat. Captain Levi adalah orang yang tepat." ucap Kenny pada Mikasa. Levi memperhatikan sikap Mikasa yang masih tenang bahkan setelah mendengar pernyataan Kenny.

"Aku rasa, Mikasa sudah dalam usia yang cukup untuk menikah." sambung Kenny, sementara Levi dan Mikasa sama-sama tidak menunjukan reaksi apa-apa.

Grisha tersenyum, "Aku beruntung kau datang dan membawa seseorang yang dapat diandalkan untuk menjaganya,"

"Aku… tidak perlu untuk dijaga." kata Mikasa pelan, pandangannya tertunduk, tanpa sadar ia meremas jari jemarinya sendiri dengan gugup. Mikasa tidak mengerti kedatangan Kenny yang mendadak dan tiba-tiba datang dengan maksud menikahkannya dengan orang asing, Captain Levi, siapapun lelaki itu Mikasa tidak berniat untuk menikah dalam waktu dekat. Dan Eren…

"Mikasa… kau tahu aku tidak akan ada di rumah lagi… dan aku tidak dapat menjagamu kedepannya."

"Dokter Yaeger… Eren akan melarikan diri - "

"Yang akan mengurus Eren adalah aku, Eren adalah tanggung jawabku. Maafkan aku, tapi kurasa aku tidak dapat mengurusmu lagi." kata Grisha tegas, Mikasa menatap ayah angkatnya itu tidak percaya, tetapi Mikasa tidak bisa membantah apa-apa.

Grisha menghela nafas. "Dunia ini… jauh lebih besar dari yang kau kira, ada batasan yang manusia tidak bisa lampaui, termasuk aku yang tidak mampu lagi mengurusimu. Kau akan tetap menjadi putriku, tetapi kau akan tetap menjadi seorang Ackerman."

"Apakah…aku membuatmu kesulitan selama ini?" tanya Mikasa.

"Mikasa… aku bukan ingin menyingkirkanmu, jika itu yang kau pikirkan. Ini untuk kebaikanmu, sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya, dan Kenny Ackerman tahu apa yang harus kau lakukan." kata Grisha begitu tenangnya sampai Mikasa berpikir ayah angkatnya yang biasa begitu mengasihinya itu hanya bercanda. Tetapi Grisha tersenyum perih padanya dan tatapan Grisha itu sudah cukup meyakininya bahwa apa yang dikatakan oleh Grisha adalah sungguhan.

"Mikasa… kau itu spesial, aku dan Eren tidak. Kau perlu seseorang untukmu,"

"Nah, Kenny… jadi kapan pernikahannya akan digelar?"


Aku terbuka untuk review dan kritik. Jadi feel free to write any of it ya!