I changed the plot here and there. So it takes time to upload this. plus, i'm a college student lol.


Jajaran petinggi militer dari pasukan pengintai, pasukan militer dan pasukan penjaga menghadiri pernikahan Levi. Levi sudah cukup bosan namun menghargai seluruh yang hadir disini. Levi melirik Mikasa dengan gaun putih tanpa tudung kepalanya itu tengah duduk bosan tanpa ekspresi berarti kecuali saat petinggi militer datang memberinya selamat Mikasa baru tersenyum sedikit dan berucap singkat "Terimakasih."

Dibawah sinar bulan dan lampu-lampu taman, Mikasa Ackerman memang wanita tercantik, banyak tamu undangan mengucapkan hal serupa, bahkan dengan wajahnya yang bosan itu. Levi mendapati Mikasa sepanjang malam selalu memandang ke arah pintu masuk halaman gereja itu, begitu seseorang masuk, Mikasa langsung duduk tegak dengan perhatian penuh ke satu arah yang sama, di susul dengan helaan kecewa yang sama, seolah orang yang muncul itu bukan seseorang yang ia harapkan.

"Apakah kau menunggu seseorang?" tanya Levi.

Mikasa menaruh gelas minumnya ke meja, tanpa menoleh ke arah Levi, "…Ya." jawabnya singkat.

"Apakah ia belum datang?" tanya Levi lagi, berusaha terlihat tidak peduli.

"Kurasa itu bukan urusanmu." katanya ketus. Levi mengangkat kedua alisnya mendengar jawaban tidak ramah itu.

"Itu urusanku, suka atau tidak - aku harus tahu apakah kau masih menunggu seseorang karena kita akan segera pergi dari sini." jawab Levi. Gadis itu mendengus, memalingkan wajahnya dari Levi.

"Kita bisa pergi. Dia tidak akan datang."

"Baiklah. Kita akan pergi ke dinding Rose, disana - "

"Aku tidak peduli. Bawa aku kemanapun aku tidak peduli. Kalian semua… sama saja."

Levi merenyit menyaksikan ketidaksopanan gadis itu, tapi ia tidak mau memikirkan lebih lanjut lagi mengingat temper seorang gadis seusianya yang mungkin meledak-meledak.

"Kita pergi sekarang," kata Levi.

Mikasa Ackerman mengikuti Levi, sebelumnya keduanya kembali ke kediaman Yaeger untuk mengemasi barang-barang Mikasa dan berganti baju. Sepanjang perjalanan menggunakan kereta kuda, kesunyian menemani mereka.

Keduanya sampai di kediaman Levi di daerah dinding Rose, dekat desa Ragako dan desa Dauper tepat saat bulan di atas kepala mereka, Levi melirik istri muda barunya itu yang sesaat terdiam memandangi kediaman barunya selama sisa hidupnya, Levi tidak bisa mengatakan apa yang ada dipikiran Mikasa. Tatapan gadis itu seperti biasanya, muram. Levi memutuskan untuk turun terlebih dahulu, dengan Mikasa mengikutinya.

Levi melemparkan pandangan matanya kearah Mikasa yang terlihat melihat-lihat kediaman Levi yang lebih besar dibanding kediaman Yaeger, Levi menggerakan kepalanya ke arah kastil tuanya, seolah mengisyaratkan Mikasa untuk segera menyusulnya masuk.

"Ini tempat dimana kau akan tinggal." kata Levi singkat. "Barang-barangmu sudah dibawa masuk oleh Mr. Buchwald."

Mikasa mengangguk.

"Ini adalah kastil tua peninggalan leluhurku, kastil Utgard. Mr. Buchwald merawat hewan-hewan ternak milik ku, dia tinggal tak jauh dari sini dan datang setiap pagi dan sore. Ini adalah Mrs. Springer, dia adalah orang yang kupercaya untuk mengurus kastil ini saat aku tidak ada." kata Levi.

"Suatu kehormatan bagiku bisa melayani keluarga kapten Levi," sapa perempuan gemuk paruh baya itu tersenyum ramah.

"Aku harap kau memperlakukannya keduanya dengan baik." kata Levi lagi.

"Baik.."

"Akan ku tunjukan kamarmu," kata Levi berjalan mendahului Mikasa yang mengikutinya di belakangnya dan menaiki tangga. Mereka sampai disebuah kamar besar dengan tempat tidur yang cukup besar untuk dua orang dengan jendela besar menghadap perbukitan lapang dengan balkon di luarnya.

"Kau boleh istirahat," kata Levi berbalik badan.

"Apa kau… tinggal disini juga?" tanya Mikasa pelan.

"Ya. Aku ada di kamar lain. Kamar ku di sebelah ujung bila kau membutuhkan sesuatu." kata Levi lagi.

"Terimakasih."

Mikasa menutup pintu kamarnya dan bersandar dibalik pintu itu, ia menghela nafas panjang. Kehidupan baru nya benar-benar dimulai, dengan lelaki asing itu.

Sementara Levi berjalan menuju kamarnya, melonggarkan dasinya yang seolah mencekiknya semalaman. Membuka kamarnya yang terasa kosong seperti bisa, tempat tidur besar yang tidak pernah ia huni itu seolah selalu menghantuinya. Sebuah malam yang indah, bukan?

-o-

"Kapten katakan kalau kau bercanda." keluh Connie menjatuhkan sendok makannya saking syoknya yang diam-diam diambil Sasha. Kapten Levi dan spesial operation squad baru Levi tengah makan siang di Camp Pasukan Pengintai di Distrik Trost.

"Kau bilang kau baru saja menikah kemarin." ulang Armin tak percaya.

"Wanita mana yang menikah denganmu, Kapten?" tanya Jean.

"Tch. Kalian berisik sekali." gumam Levi menyesap tehnya, ia berpikir bahwa memberi tahu timnya merupakan hal tidak perlu karena ia tahu reaksi mereka akan seberisik ini. Tapi yang lebih buruk ialah jika memberitahu mereka lebih lama lagi, mereka akan mengamuk dengan sifat kekanak-kanakan mereka.

Tim spesial ini dibentuk dan dipilih langsung oleh Levi, rekan-rekan nya di tim yang lama gugur dalam ekspedisi Marley terakhir menyisakan hanya dirinya. Dan kini Erwin menawarkan rekrutmen baru sebagai anggota tim barunya.

Anggota baru squadnya adalah lulusan kadet angkatan 104 yang baru lulus pelatihan beberapa tahun lalu. Kadet-kadet senior sudah banyak berguguran dalam perang dan tersisa kadet-kadet lulusan baru. Mereka dipilih langsung oleh Levi.

Mereka adalah Sasha Braus si tukang makan tetapi dengan intuisi setajam pemburu, Jean Kirstein yang berotak dan bermulut tajam dalam situasi manapun dengan kemampuan fisik yang baik, Connie Springer sedikit bodoh tapi memiliki kemampuan bertarung yang diperhitungkan merupakan putra dari Mrs. Springer yang bekerja di peternakannya, Armin Arlert bocah paling lemah namun jenius dengan pemikiran yang tak terduga. Keempat nya kini sedang terkejutnya dan kesal, karena Levi mengumumkan bahwa kemarin ia telah menikah tanpa mengundang mereka.

"Bagaimana bisa kau menikah tanpa mengundang kami?" tanya Connie tak percaya.

"Aku tahu! Ini memang sudah direncanakan Kapten Levi dengan mengirim kami untuk menjaga di perbatasan." kata Jean

"Wanita-wanita di desaku yang sangat memuja Kapten Levi pasti kecewa mendengar kabar ini!" sahut Sasha.

"Aku tidak tahu kalau Kapten Levi memutuskan untuk menikah secepat ini. Aku pikir kau bukan tipe orang yang akan menikah," komen Armin.

"Memang," sahut Levi singkat.

"Ini merupakan perjodohan, pastinya." sahut Jean lagi.

"Ah… pasti dengan kalangan kelas atas Kota Sina." kata Sasha, "Kau tahu gadis-gadis kota Sina berlagak seperti mereka adalah seorang selebriti,"

"Benarkah, Kapten?" tanya Connie.

"Dia berasal dari… Distrik Shiganshina."

"Benarkah? Kau menikahi kalangan kelas bawah?" cemoh Jean.

"Hey, Jean jangan berkata seperti itu, Armin berasal dari Dinding Maria." tegur Sasha.

Armin hanya tersenyum dan mengangguk, "Aku juga berasal dari distrik Shiganshina. Aku kenal semua orang di Shiganshina, siapa nama istrimu, Kapten?"

Levi menghela nafas, "Dia…"

"Kau tahu? Ini tidak adil jika hanya Armin yang tahu siapa istri Kapten Levi. Setidaknya kami perlu berkenalan dengannya!"

"Ya! Aku perlu mengenalnya!" kata Sasha.

"Aku juga!"

Armin tertawa kecil. Sementara Levi menghela nafas mendengar keberisikan ini, "Baiklah. Tapi tidak untuk minggu ini, banyak yang harus kita lakukan. Kau tahu sumur dirumahku perlu dibersihkan juga, kedatangan kalian hanya untuk itu."

Mendengar kalimat terakhir Connie dan Jean mengeluh paling keras.

-o-

Sebelum Levi berangkat, ia berpesan pada Mrs. Springer agar Mikasa tidak perlu menunggunya pulang, karena sebagai Kapten di Distrik Trost, Levi memiliki banyak pekerjaan yang tidak terjadwal. Ia sedikit tenang setidaknya Mrs. Springer menemani Mikasa di kastil itu.

Sekarang hampir tengah malam ia sampai di kastil, setelah memastikan kudanya beristirahat Levi membuka pintu utama kastil dan mendapati ruang baca yang biasanya menyambutnya gelap, kini terdapat bayangan api yang berasal dari perapian. Ia tidak berpikir kalau Mrs. Springer akan sampai menginap, bagaimanapun juga wanita paruh baya itu memiliki keluarga di desanya. Tanpa pikir panjang Levi menghampiri ruang baca itu, di tengah ruangan, sosok istri barunya berdiri seolah menyambut kedatangannya.

Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, hingga Mikasa memecah keheningan, "Kau sudah pulang," katanya datar. Ekspresinya masih monoton, tetapi Levi bisa melihat bagaimana mata Mikasa itu sedikit lebih muram dari biasanya. Dia sudah lama menunggu kedatangannya.

"Aku yakin aku sudah menyampaikan kepada Mrs. Springer bahwa kau tidak perlu menungguku pulang."

"Aku sudah mendapat pesanmu. Tapi kau tidak perlu khawatir." kata Mikasa.

".…"

"Tentang Mrs. Springer. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau kau berpikir aku memerlukan seseorang untuk mengurus diriku, aku tidak membutuhkannya. Aku mampu melakukannya dengan baik."

".…baiklah jika itu keinginan mu."

Mikasa mengangguk, "Kau bisa mengirim kembali Mrs. Springer ke peternakan."

Sebelumnya Mrs. Springer bekerja di peternakannya dengan Mr. Buchwald dan mengurus kastil saat Levi harus keluar kota. Tetapi kedatangan Mikasa di kastil ini membuat Levi berpikir bahwa Mikasa - seperti gadis terhormat lainnya harus memiliki seseorang yang membantu menjalani hari-harinya. Ia tidak terpikir sampai Mikasa bisa mengurus dirinya sendirian di kastilnya, bagaimanapun juga keluarga Yaeger meskipun berasal dari Shiganshina merupakan keluarga terhormat dan dipandang di masyarakat.

"Aku mengerti. Ayo ke atas. Kita harus beristirahat. Aku akan mengantarmu ke kamar."

"Aku - "

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Tugas ku disini adalah melindungimu."

Mikasa mengangguk dan ikut berjalan sedikit di belakang Levi menaiki tangga.

"Rekan di militerku berencana untuk berkunjung. Mereka…. ingin bertemu denganmu, jika kau tidak keberatan." kata Levi.

"Tentu, aku harus menyambut tamu dengan pantas, bukan?" suaranya terdengar sinis, tetapi Levi memilih untuk tidak menggubris itu.

Keduanya kembali diselimuti kesunyian hingga mereka sampai di depan pintu kamar Mikasa.

"Aku tidak bisa mengatakan kapan pastinya, sekitar minggu depan."

"Aku mengerti,"

"Silahkan beristirahat." kata Levi singkat.

"Terimakasih." balas Mikasa tak kalah singkat. Ia membungkuk sopan.

-o-

Rencana kunjungan squad Levi harus di undur beberapa kali. Pasukan Pengintai tengah merencanakan ekspedisi rahasia Special Squad Operation Levi dengan anggota barunya itu untuk menyusup ke Marley. Beberapa malam selanjutnya Levi pulang larut malam berturut-turut dan Mikasa tidak menunggunya lagi. Hari ini sebelum Levi pergi dinas di Kapital Sina, Levi memutuskan untuk pulang setelah matahari tenggelam untuk menginfokan kepergiannya pada Mikasa, biasanya bulan tepat di atas kepala nya saat ia memasuki kawasan kastil.

Saat melewati desa, masih banyak masyarakat yang masih melakukan aktivitas malam mereka. Bila dipikir-pikir ini sudah 4 hari Levi benar-benar tidak berbicara dan bertemu Mikasa. Levi yakin Mikasa pasti baik-baik saja dan mampu mengurus dirinya sendiri di kastil itu, ia juga berpesan pada Mrs. Springer untuk menyetok persediaan bahan makanan untuk Mikasa dan mengeceknya setiap hari. Jadi Levi tidak pernah khawatir.

Levi menemukan bunyi piring dan sendok bergesekan dari ruang makannya. Ia teringat ini merupakan jam makan malam. Levi melangkah menuju sumber suara, mendapati ruang makan dengan keadaan terang dengan cahaya lilin dan Mikasa Ackerman yang sedang menata meja makan membelakanginya.

"Ehem.." Levi tidak bermaksud mengagetkannya, namun nyatanya Mikasa tetap tersentak kaget saat mendapati sosok Levi - pulang lebih awal dari biasanya.

"Kau… mengagetkanku." katanya detik kemudian berhasil menenangkan dirinya kembali tanpa ekspresi.

"Aku tidak bermaksud seperti itu,"

"Kau pulang lebih awal dari biasanya."

"Ya. Aku harus menginfokan bahwa aku akan ke Kapital Sina selama seminggu untuk urusan penting."

Mikasa mengangguk, "Baiklah." katanya singkat, lalu duduk dan mulai makan dan Levi masih berdiri disana melihatnya makan.

"Kalau kau berharap untuk makan malam bersamaku, kau tidak bisa. Aku tidak menyiapkan apapun untukmu." kata Mikasa, kembali dengan nada ketusnya dan wajahnya yang dingin itu.

Levi mendengus, mengenyahkan perutnya yang kosong itu. Itu bisa dia bereskan besok pagi untuk diisi. "Aku akan ke atas." kata Levi memutar badannya tanpa berpikir untuk menoleh lagi dan berjalan menaiki tangga, menjauhi ruang makan itu. Ia merutuki keputusannnya untuk pulang lebih awal demi memberitahu gadis ketus itu mengenai kepergiannya selama seminggu dihadiahi dengan sikap tidak ramahnya. Sikapnya yang dingin membuat segalanya jelas; Levi tidak perlu repot-repot kembali kesini, toh kastil ini tidak pernah menjadi rumah baginya.

"Aku bahkan tidak tahu apa makanan kesukaanmu," gumam Mikasa pelan yang sepertinya ditujukan pada gadis itu sendiri.

Levi memutar badannya kala mendengar itu, tidak mengerti. Sesuatu diantara mereka terasa jauh dan itu menjadi memuakan baginya. Faktanya bahwa ia tinggal begitu dekatnya tapi sikapnya selalu membuatnya berpikir ulang untuk berhati-hati dalam menghadapi gadis itu. Mikasa tak lebih, hanya orang asing yang kebetulan tinggal dirumahnya.

-o-

"Paman, kapan tepatnya kau akan berhenti merokok?" Levi menegur pamannya yang menyesap rokok dengan nikmatnya.

Kenny terkekeh, "Sampai aku mati. Yang mana masih lama."

Levi mendengus. Kebiasaan pamannya itu membuatnya sakit kepala tiap mengunjunginya di Sina.

"Ngomong-ngomong tentang kematian. Uri mengatakan padaku bahwa dokter bilang umurnya tidak akan lama lagi, hanya sekitar 3 bulan ia mampu bertahan. Pihak kerajaan sedang menyiapkan wasiat dan segala sesuatu bila Uri mendadak pergi."

"Bukankah Dokter Yaeger pernah menangani penyakit macam ini?"

"Mereka tidak bisa menemukan Dokter Yaeger dimanapun, tidak juga dengan anaknya,"

"Hm." gumam Levi tak acuh, ia sesungguhnya tidak terlalu peduli dengan urusan kerajaan.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kehidupan pernikahanmu?" tanya Kenny entah dari mana.

"Jangan bilang kau mencoba memberikanku obrolan pria, Kenny."

"Oh, ayolah. Gadis itu sangat cantik, kau tahu." kekeh Kenny.

"Sesungguhnya, pernikahan kalian menjadi pembicaraan di kota." Trauten bergabung dengan mereka.

Levi mencemoh, "Aku tidak peduli apa yang-"

"Kau tahu, tidak ada salah nya dengan kau menikah. Semua orang berhak atas hidup mereka, berhak atas kebahagiaannya termasuk kau, Cebol."

"Paman. Aku tidak bisa. Kau tahu itu."

"Really, Levi. Aku pernah dalam posisi seperti mu,"

Kenny kini berbicara serius. "Kau pernah mendengar bahwa waktu menyembuhkanmu? Itu terjadi padaku."

"Jalankan pernikahanmu seperti orang lain." tambah Kenny.

"Kenny, kau yang memaksanya masuk dalam pernikahan ini."

"Oi, Cebol. Aku memberimu solusi atas masalahmu, dan kau memilih solusi yang aku beri. Kau sendiri yang menjalankan pilihanmu. Setidaknya cobalah hidup dengan normal."

"Kenny aku tidak… berhak hidup normal. Aku berbeda denganmu. Kau membunuh orang tidak dikenal. Aku membunuh teman-temanku di luar sana."

"Baik-baik… jangan berikan tatapan sinis mu itu. Aku tahu kau berbeda denganku."

"Aku harus pergi." kata Levi menaruh cangkir tehnya kemudian beranjak.

"Kau lihat, Caven? Dia punya kendali amarah yang buruk."

Trauten tertawa, "Tidak heran dari siapa dia mendapatkannya."

"Setidaknya perlakukan dia dengan baik, Levi." kata Trauten. Levi menoleh, keduanya menatapnya serius.

"Kalau kau memutuskan untuk hidup seperti yang kau pikir, itu terserah padamu. Tapi perlakukan dia setidaknya dengan baik. Ini bukan sepenuhnya salah Kenny. Kau juga membuatnya ikut dalam hal ini, Levi. Kau tidak perlu membagi duka mu dengan dia." kata Trauten.

Levi menatap istri pamanya itu sejenak, ia teringat akan semalam saat Mikasa tanpa repot-repot menawarinya makan dan bagaimana Mikasa selalu ketus dan bersikap dingin pada Levi, seolah segala kemalangan ini disebabkan oleh Levi, yang mana benar.

Dan bagaimana Levi sengaja menyibukan dirinya dengan pekerjaan hingga larut malam tanpa ia sadari hanya untuk menghindari keberadaan wanita itu di rumah karena sikap gadis itu yang dingin. Mereka terlalu jauh bahkan untuk sekedar berbagi duka.

Levi menghela nafasnya. "Aku mengerti. Terimakasih untuk sarannya."

-o-

"Aku tidak tahu kalau… Komandan Erwin setinggi dan setampan ini dari dekat." bisik Sasha pada Connie, masih dengan tangan kanannya di dada memberikan hormat pada Komandan Erwin diikuti 4 Kapten pasukan elite Dinding Rose Spesial Squad Operation pasukan Pengintai yang di pimpin oleh Kapten Levi dari Distrik Trost, Kapten Mike Zacharias dari Distrik Chlorba, Kapten Nanaba dari Distrik Nedlay dan Kapten Hanji Zoe dari Distrik Karanese. Ke empatnya adalah pemimpin tiap-tiap Distrik di kawasan Rose, Pasukan Pengintai bersamaan dengan Pasukan Penjaga memang di fokuskan oleh pihak kerajaan untuk membentengi kawasan Rose.

Pasukan Pengintai dan Penjaga masing-masing mengirim satu Kapten mereka untuk memimpin dan menjaga tiap-tiap Distrik di Rose dan Sina. Sementara Pasukan Kepolisian Militer tidak di ikut sertakan dalam rapat ekspedisi ke 57 ini karena Kepolisian Militer sepenuhnya bekerja di Sina untuk melayani raja.

Mereka yang merupakan lulusan peringkat 10 besar yang hanya di izinkan bergabung dengan Pasukan Kepolisian Militer. Meskipun sering mengalami banyaknya kadet yang gugur dalam perang melawan koloni Marley, Pasukan Pengintai tetap dikenal sebagai lambang kebebasan umat manusia dari jajahan Marley dan memiliki kadet-kadet elit dalam pasukannya.

"Aku tahu, sewaktu kelulusan kita, kita melihat Komandan Erwin berdiri di podium dan aku tidak menyangka dia akan setinggi ini." bisik Connie.

"Aku masih tidak percaya kalau kita terpilih sebagai pasukan elit skuad Levi." ujar Armin.

"Hei, bukankah itu Bertholt dan Reiner?" tanya Connie, merujuk pada Reiner Braun dan Bertholt Hoover bersama dengan Marco Bott dan Marlo Freudenberg yang berdiri memberikan salut mereka pada Kapten Nanaba yang kemudian bergabung berdiri sejajar dengan mereka.

"Ah.. kurasa mereka dipilih sebagai Pasukan Elit Kapten Nanaba." jawab Armin.

"Apakah mereka ditugaskan di Distrik Nedlay di Utara? Ah sungguh beruntung, itu merupakan Distrik teraman dari kawasan dinding Rose." ujar Sasha.

"Distrik tidak memastikan apakah kau akan aman. Kau ingat ekspedisi terakhir yang di tugaskan adalah Skuad Kapten Levi dan Kapten Nanaba. Dan kau lihat anggota kedua skuad yang merupakan skuad paling Elit kala itu gugur. Ini hanya masalah waktu kita bernasib sama." ujar Jean.

"Ya. Tapi itu semua terbayarkan dengan Kapten Levi akhirnya berhasil mengambil pelabuhan selatan dari Koloni Marley, bukan?" tanya Sasha lagi.

"Tapi jika di ingat-ingat bukankah Reiner dan Bertholt sangat berambisi bergabung dengan Pasukan Elit Kapten Levi?" tanya Connie.

"Ya. Bukankah itu aneh? Kapten Levi malah memilih kita yang memiliki peringkat lebih rendah dari pada mereka merupakan peringkat 1 dan 2."

"Kapten Levi pasti melihat sesuatu dari diri kita sehingga dia memilih kita." kata Armin.

"Tetap saja itu aneh." cemoh Sasha.

"Kau tahu yang lebih aneh? Kita semua. Kita semua secara ajaib merupakan kadet lulusan 10 besar. Bukannya memilih untuk bergabung dengan Kepolisian Militer, kita malah bergabung dengan Pasukan Pengintai. Yang waras hanyalah Annie Leonhart."

"Benar juga. Annie pasti melayani raja langsung mengingat dia peringkat 3. Beruntungnya." kata Sasha.

"Armin.. menurut mu ekspedisi seperti apa yang mereka akan lakukan?" tannya Jean. "…kudengar ini adalah ekspedisi rahasia untuk menyelinap ke kawasan Marley."

"Mereka pasti sudah gila. Tentu kita tidak tahu caranya menyebrangi lautan itu."

Ke empatnya memberikan hormat saat Levi datang menghampiri mereka dan duduk disamping timnya. Kemudian, Komandan Erwin memulai rapatnya.

"Aku ingin mengucapkan terimakasih atas ke hadiran kalian disini. Seperti yang kita tahu ini adalah misi besar yang selama ini sudah aku dan Komandan Pixis pikirkan matang-matang." mulai Erwin.

"Seperti yang kita tahu, ekspedisi ke 56 kemarin telah berhasil membawa kemenangan Paradis mengambil alih pelabuhan selatan dari Koloni Marley sekaligus kita kehilangan rekan kita: Dirk, Dieter, Marlene, Klaus dan Harold dari Skuad Nanaba yang gugur demi melindungi pasukan Levi. Oulo Bazard, Eld Gin, Gunther Schultz dan Petra Ral gagal dalam tugasnya menyusup ke kawasan Marley." kata Erwin. Levi hanya terdiam mendengar mendiang rekan-rekannya di sebut.

"Ekspedisi ke 57, tujuan utama kita adalah untuk menyusup ke kawasan Marley."

Seusai rapat, Levi menyempatkan diri berkunjung secara rutin tiap kali ia memiliki waktu luang, tempat yang terpikir baginya pertama kali bukanlah kastilnya, bukanlah kediaman Kenny. Tetapi pemakaman umum tempat dimakamkannya prajurit yang gugur membela negara mereka di Kapital Sina.

Kerja keras mereka mengikuti pelatihan militer, keberanian mereka memerangi langsung koloni Marley, mereka sebagai kebanggaan dan kesayangan keluarga mereka, harapan sebagai pahlawan negara….. kini mereka semua sama, hanya terbaring membusuk disana tanpa nyawa, tanpa kehidupan, yang mana suatu saat yang tersisa hanyalah tulang.

Levi selalu mengikuti pola kunjungannya, dari satu nisan ke nisan lain… rekan-rekannya yang bekerja dibawahnya langsung tak absen ia kunjungi. Dan batu nisan terakhir yang ia kunjungi selalu sama. Dengan nama yang terpatri di batu nisan itu, dulu pernah membuatnya tahu bagaimana rasanya di cintai untuk kedua kali. Kini, nama itu hanya menghantuinya setiap malam.

Lucu rasanya bagaimana satu orang yang sama dalam dimensi waktu yang berbeda di masa lalu dan sekarang, bisa memberikan sejuta kenangan campur aduk. Bahagia dan menyedihkan - keduanya lekat tak terpisahkan bagai dua sisi koin yang berbeda namun terus bersamaan.

Levi tahu ini dosa yang ia tanggung untuk mimpinya. Kesedihannya dalam liang terdalam manapun tidak dapat di sandingkan sejajar. Levi terlalu hancur untuk itu, semua yang berada di dekatnya selalu meninggalkannya.

Levi berkali-kali menyesali keputusannya mempercayakan ekspedisi kemarin ke timnya. Seharusnya ia bisa menolak mandat yang dipercayakan Erwin padanya itu, dan mungkin kini ia masih bisa menjaga Distrik Trost bersama mereka yang terkubur di bawah sana.

Nama di batu nisan itu pernah memberikan senyuman ceria yang seolah akan terus ada setiap hari selama sisa hidupnya, pernah juga berjanji untuk setia mendampingi Levi baik sebagai bawahan, rekan kerja, atau rekan hidup - ia ingat bagaimana wajah itu memerah kala si manis itu menawarkannya untuk menjadi rekan hidup, kini hanya nama itu hanya memberinya mimpi buruk tiap kali ia memejamkan mata saat tidur, sungguh sebuah ironi.

Levi terlalu sering bermimpi buruk sampai ia sadar sendiri bahwa kenyataannya memang ia yang hidup dalam mimpi buruk yang tak berkesudahan sepanjang hidupnya. Levi berharap ia tidak pernah mengenalnya dari awal - tidak pernah bertemu dengan Erwin lalu di rekrut olehnya, bergabung dengan pasukan pengintai lalu tidak usah bertemu gadis itu sama sekali.

Petra Ral.

Tiap kali membaca nama itu di batu nisan, Levi masih berharap jauh dalam lubuk hatinya kalau ia hanya bermimpi buruk yang suatu saat ia akan bangun, disambut dengan si gadis surai oranye saat membuka mata, dengan senyumnya yang manis, bertanya padanya:

"Kapten apakah kau bermimpi buruk?"

Tapi Levi tahu, hidupnya hanyalah sebuah siklus panjang dengan penderitaan tiada akhir tanpa harapan. Ia seolah dikutuk dengan yang mereka bilang keberuntungan - bahwa hidupnya lebih panjang dari mereka yang terkubur di bawah kakinya. Faktanya bahwa mereka gugur karena keputusannya, membuat Levi makin membenci dirinya setiap hari,

Levi terlalu hancur untuk sekedar berharap menemukan suatu kebahagiaan lagi, ia sudah terperangkap, berputar-putar tanpa kesudahan dalam lingkaran penderitaannya.


That was tough.

anyway, i open to any review! :)