menulis semakin sulit akhir-akhir ini ugh aku sakit selama hampir sebulan dan itu menyebalkan. stay healthy ya. Aku edit ini sampai jam 3 pagi dan mataku mulai kering lol. aku yakin banyak kekurangan disini dan disana, nanti akan ku edit entah kapan hehe.


"Ah… ini sudah sekitar sebulan terakhir kali kami berkunjung ke kastil mu, Kapten." kata Sasha berjalan menaiki tangga kastil bersama regu spesial Levi.

"Tentu, itu tepat sebelum Kapten mengirim kami ke perbatasan selatan," kata Jean sinis. Levi tidak menggubris sindiran Jean itu.

"Ah… rapat di Kapital Sina ternyata jauh lebih memuakan dari pada harus berlatih berjam-jam." keluh Connie sambil menguap.

Levi membuka pintu kastil. Ia menengok ke dalam dan tidak mendapati siapapun disana. Ia memang pernah bilang rekan nya akan datang tapi tidak mengatakan kapan tepatnya. Hari ini Levi dan skuadnya baru kembali dari Kapital Sina, dan Levi memutuskan untuk kembali ke kastil dan mengajak regunya yang sudah terlalu ribut dan membuatnya sakit kepala.

Nampaknya perbincangan regu Levi yang terlampau berisik terdengar sampai ke lantai atas. Mikasa Ackerman melongok dari atas dan segera turun dengan anggun.

Semua mata tertuju pada Mikasa. Jean Kirstein sudah menganga lebar dan mata Connie Springer membulat kaget dan Sasha Braus tersenyum kegirangan, wajah wanita itu memerah.

Mikasa sampai di hadapan mereka dengan gaun biru muda sederhananya dan membungkuk sopan menyambut kedatangan mereka, "Kalian pasti rekan kerja Levi, aku sudah dengar banyak." sambutnya sambil melirik dengan tak sengaja bertemu mata hitam itu yang juga mencuri pandang padanya, tanpa senyum yang menghias wajah bosannya.

"Mikasa… mereka adalah Tim ku. Ini adalah Connie - " ucapan Levi terputus karena Connie langsung menyambar tangan Mikasa dan memberinya kecupan ringan di punggung tangannya.

"Springer. Kau pasti kenal ibuku, dia bekerja di peternakan Kapten Levi. Kau benar-benar secantik yang ibuku katakan." kata Connie.

"Dan ini adalah… Kirstein." kata Levi. Wajah Jean memerah, dia maju selangkah dan melakukan hal yang sama dengan Connie namun tidak mengatakan apa-apa. "Jean, orang-orang memanggilku Jean," dia tersenyum gugup bak remaja yang baru mengalami pubertas.

"Dan terakhir… Sasha Bra-"

"Aku sudah dapat memastikan kalau kau akan menjadi sahabatku!" kata Sasha kegirangan, matanya berbinar sama dengan saat Sasha melihat makanan dan menjabat kuat tangan Mikasa serta memeluknya hangat.

Mikasa agaknya kaget mendapat perlakuan kelewat hangat dari rekan-rekan Levi. Tetapi wanita itu bisa menutupinya dengan baik dan memasang senyum tipis.

"Kami disini untuk membersihkan sumur belakang," kata Levi yang langsung merubah suasana itu dengan keluhan keras Connie dan Jean.

"Nah, nah - Mikasa kau punya nama yang unik, sekarang kita harus melakukan apa yang para gadis lakukan dan membiarkan mereka menguras sumur, mari aku tunjukan dapurnya. Rasanya menyenangkan punya rekan wanita untuk memasak. Dulu aku yang menggunakan dapur ini untuk memberi makan para lelaki-lelaki kelaparan itu." kata Sasha langsung menculik Mikasa, dengan akrabnya menggandeng lengan Mikasa dan membawanya ke dapur sebelum Mikasa mengatakan apa-apa. Ia sempat menoleh ke arah Levi sebelum ia benar-benar menghilang ke arah dapur bersama Sasha.

Dia akan baik-baik saja bukan? Levi hanya berharap Sasha tidak menunjukan sifat extremenya pada Mikasa.

Untuk pertama kalinya Mikasa mengenal seseorang dengan antusiasme yang begitu tinggi terhadap makanan. Sepanjang memasak, Sasha tak henti-hentinya memimpin pembicaraan mengenai makanan yang ia suka, daging dan kentang rebus, dengan logat bicaranya yang kental, cukup membuat Mikasa terhibur sekaligus tidak nyaman. Ia tidak pernah bertemu seorang gadis yang berperilaku seakrab ini pada dirinya dan terlebih sesama seorang wanita. Mikasa tidak pernah memiliki teman wanita seumur dengannya yang bisa ia ajak bicara, karena Grisha dulu melarangnya bergaul dengan siapapun.

Dan Mikasa mendengarkan dengan seksama tiap-tiap kata yang Sasha ucapkan, secara tak langsung ia terkesima dengan Sasha yang bicara dengan cepat.

"Ah… apakah aku berbicara terlalu cepat?" tanya Sasha seolah membaca pikiran Mikasa.

"Maafkan aku. Aku juga masih beradaptasi dengan sisi baru dari diriku ini. Percaya atau tidak, aku dulu adalah gadis yang aneh dan tidak memiliki teman. Ayahku sampai mengirimku ke militer supaya aku bisa berteman dengan orang lain, dulu aku tidak bisa berbicara dengan siapapun selain keluargaku. Aku tumbuh di desa Dauper, di tengah hutan. Hutan adalah temanku dan aku dibesarkan sebagai pemburu. Kalau kau bagaimana, Mikasa? Kudengar dari Kapten Levi kau berasal dari Shiganshina? Pasti sangat sulit hidup disana sangat dekat dengan Koloni Marley."

"Aku tumbuh di area pegunungan selatan Maria, dekat Distrik Shiganshina…" kata Mikasa ragu, apakah ia harus memberitahu hal ini pada seseorang yang baru saja ia kenal.

"Aku rasa cukup sulit untuk hidup di kawasan Maria. Aku berasal dari Rose, tepatnya di desa Dauper, desa kami dulu sangat miskin sampai Kapten Levi tinggal di Kastil ini dan memajukan desa ku dan desa Connie. Aku rasa, aku cukup beruntung bisa dipilih Kapten Levi sebagai squad barunya. Kapten Levi petinggi militer yang sangat di hormati di Kapital, aku sangat senang Kapten Levi punya peternakan yang artinya dia selalu memiliki daging!"

"Apakah desamu juga kesulitan?" tanya Mikasa.

"Yah, sejujurnya seluruh kawasan selain Kapital Sina adalah daerah yang sulit untuk di tinggali, bukan? Maria adalah daerah dimana mayoritas penduduknya harus menyuplai daging dan bahan baku makanan ke Kapital Sina dan Rose juga Marley. Sementara Rose, adalah kawasan militer yang penduduknya mayoritas di pekerjakan untuk kawasan Sina. Tidak ada orang yang benar-benar memperdulikan Maria dan Rose. Itu adalah rahasia umum, pihak kerajaan belum bisa mensejahterakaan dua kawasan terluarnya. Terlebih lagi untuk Maria."

"Bagaimana… Kapten Levi ada hubungannya dengan desamu?"

"Ah ya! Gosip yang beredar di kalangan kadet, Kapten Levi dulunya berasal dari kota bawah tanah, dia adalah preman yang ditakuti di bawah sana sampai Komandan Erwin merekrutnya di Pasukan Pengintai. Kemudian Kapten Levi tinggal di kastil ini setelah ia bergabung dengan pasukan pengintai dan dia ikut memajukan perekonomian desa ku dan Ragako. Desaku dan Connie dulunya nyaris mati, sampai Kapten Levi mengajarkan kami semua bagaimana cara untuk bertahan hidup."

"Ku dengar distrik Shiganshina masih sering di masuki koloni Marley sewaktu dia kecil. Armin jarang bercerita tentang dirinya, tapi ia pernah menceritakan hal itu."

Mikasa menghentikan kegiatannya memotong kentang saat mendengar nama itu, "Armin?"

Sasha mengangguk, "Ya. Armin." Sasha kemudian membulatkan matanya terkejut, "Oh.. apakah kau mungkin mengenalnya? Dia bilang dia kenal semua orang di distrik Shiganshina."

"Armin Arlert?"

"Ya, betul. Ah, kau belum bertemu dengannya. Bagaimana kalau aku menghampiri kapten Levi dan yang lainnya untuk memanggil mereka makan siang? Aku yakin Armin juga sudah datang dari tadi."

Mikasa mengangguk dan memastikan makanan yang ia buat dengan Sasha telah terhidang dengan baik di meja makan.

Levi hanya bisa memperhatikan Jean dan Connie yang terus-terusan mengeluh dari dalam sumur. Sesungguhnya squad barunya ini kelewat berisik dan terlampau jauh umurnya dengan Levi dan Levi terkadang masih menganggap sifat mereka kekanak-kanakan. Untungnya mereka masih bersikap serius disaat yang dibutuhkan.

Levi memutuskan ia harus memberatkan latihan fisik Armin Arlert, pria berkepala kuning jagung dengan perawakan paling kecil diantara yang lain itu paling terlambat datang tetapi paling cepat kelelahan, berkali kali Armin terduduk dengan nafas terengah seolah bisa mati ditempat.

"Oi! Teman-teman makanan sudah jadi, masuklah untuk beristirahat!" teriak Sasha dari pintu belakang kastilnya melambaikan tangan. Jean dan Connie berteriak kegirangan dan berlari ke arah kastil dengan Armin yang sempoyongan berjalan di belakang keduanya.

"Tch… Armin kau harus melatih fisikmu." kata Levi sambil berjalan disamping Armin menuju kastil.

"Aku tahu. Maafkan aku Kapten aku akan bekerja lebih keras lagi." kata Armin.

"Armin?" suara tenang Mikasa memasuki telinganya sesampainya mereka di ruang makan, ia mendapati Mikasa Ackerman berdiri dengan ekspresi khawatir sekaligus kaget, dengan Armin yang tak kalah kagetnya.

"M-Mikasa?" kata Armin tak kalah terkejutnya.

Tanpa memperdulikan tatapan heran dari yang lain, Mikasa berjalan ke arah Armin dan memeluknya erat seolah mereka sudah lama tidak bertemu, Mikasa tidak memperdulikan gaun biru mudanya yang ikut kotor akan tanah di pakaian Armin. Mereka berpelukan erat.

"Mikasa apa yang kau lakukan disini?" tanya Armin setelah keduanya selesai berpelukan, detik berikutnya Armin melirik Kapten Levi yang masih berdiri disampingnya.

"Jangan bilang - lelaki yang kau bilang dalam suratmu adalah Kapten Levi?! Oh, demi titan, aku tidak percaya dengan situasi ini."

"Apakah kau mengenal Mikasa?" tanya Levi.

Armin mengangguk, "Tentu saja, dia teman kecil ku. Terakhir kali aku bertemu dengannya sekitar 8 tahun lalu sebelum aku bergabung dengan militer. Sungguh, ini kebetulan yang sangat mengherankan."

"Armin apakah kau baik-baik saja? Kau terluka?" tanya Mikasa yang biasanya tidak menunjukan ekspresi apa-apa kini dia super khawatir sampai memegang kedua tangan Armin. Levi memperhatikan gerak gerik kedua nya yang nyaman akan kehadiran masing-masing membuat Levi berkesimpulan keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat.

"Oke, aku sangat terharu dengan pertemuan kalian, tetapi apakah aku boleh makan duluan?" tanya Sasha disusul dengan perutnya yang berbunyi keras.

Makan siang itu berlangsung menyenangkan dan berisik seperti biasa. Levi sedikit lega Mikasa menunjukan gelagat yang tidak negatif akan regu barunya ini. Terlebih ia terlihat tidak terganggu dengan Sasha yang sok akrab dengannya. Ia juga tidak terganggu dengan lelucon payah Connie dan Jean yang terus menerus mencuri pandang, menatapnya sepanjang hari. Agaknya Mikasa merupakan sosok yang tenang dan kooperatif.

"Armin… apakah kau mendengar kabar darinya?"

"Tidak, Mikasa. Aku tidak menerima surat atau kabar apapun darinya."

"Dia tidak datang di pernikahan ku."

"Apa?"

"Armin… dia meninggalkanku,"

Levi tidak bermaksud menguping, tapi ia benar-benar tidak sengaja dengar saat ia bermaksud kembali ke halaman belakang dan mendengar percakapan Mikasa dan Armin Arlert di dapur. Levi menyimpulkan sosok yang mereka bicarakan adalah sosok yang sama dengan sosok yang Mikasa tunggu di hari pernikahan mereka. Levi memutuskan itu bukan haknya untuk menguping jadi Levi melanjutkan langkahnya ke halaman belakang untuk mengawasi bawahannya itu.

0o0

"Mikasa… Eren tidak meninggalkanmu." kata Armin berusaha menenangkan Mikasa.

"Aku takut Eren pergi ke Marley."

"Tidak mungkin. Untuk apa dia pergi ke Marley?"

Mikasa menggeleng, "Aku tidak tahu. Eren selalu bilang ia tidak ingin menjadi dokter dan ingin melihat dunia luar."

"Kau tahu keamanan di pasukan penjaga sangat ketat di perbatasan dan Marley juga tidak akan membiarkan orang Paradis masuk ke negara mereka. Mikasa kau tidak perlu mengkhawatirkan Eren. Kau harus mengkhawatirkan dirimu. Apakah kau baik-baik saja? Maafkan aku belum bisa mengunjungi mu, masa bakti militerku masih 2 tahun lagi sampai aku bisa memiliki hak untuk berpergian mengunjungi Shiganshina. Tapi ini sangat mengejutkan kau menikahi Kapten Levi. Bagaimana bisa?"

"Mendiang ayahku menjodohkan aku dengan Kapten Levi. Kau tahu Kenny Ackerman? Dulu sewaktu kecil Kenny Ackerman sering mengunjungi ayahku. Kapten Levi adalah keponakannya."

Armin terkejut, "Benarkah? Kalian berdua adalah Ackerman dan berhubungan dengan seorang legenda pembunuh berantai?"

"Pendahulu Kenny Ackerman adalah pemimpin Klan, mereka bermukim di Sina, sementara aku dan keluargaku adalah cabang keluarga di Maria. Nenek moyang kami sangat berjauhan."

"Dan kau menerima pinangannya? Dokter Yaeger tidak mengatakan apapun?"

Mikasa menghela nafas panjang. "Ini hanya tinggal waktu Dokter Yaeger mencarikanku suami. Aku sudah menunda ini selama 4 tahun dan Dokter Yaeger sepertinya mengenal Kenny Ackerman. Aku tidak bisa melakukan apapun."

Armin menghela nafas tidak percaya, "Lalu Eren?"

Mikasa merenung untuk beberapa saat teringat percakapannya dengan Eren terakhir kali.

0o0

"Eren, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mikasa melihat Eren mengemasi barang-barangnya dalam satu tas.

"Aku akan pergi."

"Bawa aku bersama mu. Kita melarikan diri bersama, aku - " ucapan Mikasa langsung dipotong oleh Eren. "Kau tahu aku tidak bisa." kata Eren, ia memalingkan pandangannya, tatapannya sulit dibaca. Detik berikutnya realita menusuk Mikasa begitu hebatnya, ia menahan nafas.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan." kata Eren menekankan nada bicaranya.

Mikasa menatapnya tak percaya, "Kau… meninggalkanku."

"Ada hal-hal yang harus kita lakukan. Aku harus melarikan diri, dan kau… kau perlu melakukan apa yang perlu kau lakukan."

"Aku dipaksa menikahi pria asing, dan kau bilang ini adalah hal yang harus kulakukan?" tanya Mikasa. Eren tidak menjawabnya, tidak juga menatapnya. Mikasa mencoba mengabaikan sakit di dadanya, tapi sakit itu tidak hilangnya juga.

"Oh, tuhan, dia bukan pria asing. Bukankah dia sepupu jauhmu?"

0o0

"Eren…pergi meninggalkan ku." kata Mikasa pelan.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku yang akan mencari Eren. Yang terpenting adalah, bagaimana dengan mu?"

"Aku rasa, aku baik-baik saja."

"Apakah kau yakin dengan ini?" tanya Armin, "Apa Kapten Levi..." Armin meragukan dirinya untuk melanjutkan kalimatnya, "Oh... lupakan saja aku bahkan tidak tahu bagaimana cara bertanya dengan pantas." katanya canggung.

"Kalau maksudmu... tidak, dia membiarkan ku tidur di salah satu kamar tidur. Kami menggunakan kamar yang terpisah."

"Apakah dia pernah meminta sesuatu."

Mikasa menggeleng, "Dia sering tidak dirumah, dan dia tidak pernah menggangguku,"

"Itu aneh," komen Armin, "Dia mungkin terlihat dingin tapi dia sosok yang sangat di andalkan di militer,"

"Sepertinya tujuan Kapten Levi menikahi ku adalah… dia ingin melindungiku,"

"Melindungimu? Dari?"

"Aku tidak tahu."

Armin sempat berpikir, kemudian ia seolah teringat akan sesuatu.

"Ada rumor yang beredar di pasukan pengintai, Frieda Reiss akan dijodohkan dengan Captain Levi dan itu adalah permintaan raja. Itu karena sang Raja sangat menyukai Captain Levi yang berhasil memenangkan pelabuhan selatan dari koloni Marley. Tetapi banyak yang mengatakan Kapten Levi menikahi orang lain, yang ternyata adalah kau, Mikasa!"

"Apakah dia menghindari untuk menikahi pihak kerajaan?"

"Aku tidak yakin, itu sangat sulit untuk membaca pikiran Kapten Levi. Tapi satu hal pasti yang kutahu, kurasa kau akan baik-baik saja. Belum lama aku menjadi anggota squad Kapten Levi jadi aku belum mengenalnya dengan baik. Meskipun dia tidak banyak bicara dan bersikap dingin, ia tidak mungkin menganiaya wanita. Aku yakin itu karena ia menghormati seluruh rekan dan bawahannya." kata Armin.

Mikasa melemparkan pandangannya keluar jendela, ke arah Kapten Levi yang memberikan Jean segelas air.

Levi melirik Armin dan Mikasa yang mulai bergabung ke arah mereka. Hari sudah sore, pekerjaan mereka menguras sumur sudah selesai. Sasha yang begitu melihat Mikasa langsung menghampirinya dan menggandeng lengannya dengan hangat.

"Oi…oi.. Armin bagaimana bisa kau enak-enaknya berbincang dengan Mikasa dan kami diluar sini menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Jean seolah cemburu dengan kedekatan instan Armin dengan Mikasa.

"Maafkan aku, teman-teman."

"Kapten Levi ayo kita ke sungai untuk membersihkan diri!" kata Connie bersemangat dan berlari ke arah perbukitan dan ladang sana menjauhi kastil, disusul Jean, Sasha dan Armin yang mereka memang kotor.

"Tch." Levi nyaris mengeluh tentang sifat kekanakan bawahannya itu yang berniat bermain air di sungai pastinya, namun Levi merasa mereka pantas mendapatkan itu semua. Levi menangkap dari sudut matanya Mikasa terlihat hendak bergabung dengan Sasha yang berlari mendahuluinya, tetapi ia seperti tengah menimbang sesuatu dan mengurungkan niatnya kemudian memutuskan berjalan sedikit di belakang Levi. Sementara yang lainnya sudah menghilang berlarian ke arah bukit.

"Kau bisa melakukannya," kata Levi sedatar mungkin dan berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan Mikasa.

".…apa?"

"Menyusul mereka kalau kau menginginkannya aku tidak akan melarangmu."

"Aku harap aku bisa… tapi aku menggunakan gaun dan sepatu wanita." kata Mikasa. Levi terdiam memandang Mikasa yang menggunakan sepatu pantofel wanita dengan heels pendek.

"Kau bisa tinggal sementara aku - "

"Tidak, aku ingin ikut, bila itu tak apa." katanya datar, tapi Levi hampir menangkap sedikit ketertarikannya. "...baiklah,"

Mereka berjalan beriringan dengan angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka membelah ladang rerumputan sangat luas, dengan langit yang menguning diatas mereka.

"Dimana sungainya?" tanya Mikasa.

"Di balik 2 bukit kau akan menemukannya setelah perkebunan apel tak jauh dari sini."

Tak lama setelah berjalan, dikejauhan dari arah utara terdapat peternakan besar dengan sapi-sapi yang memakan rumput hal itu menarik perhatian Mikasa.

"Apakah itu peternakan milikmu?"

"Ya, kalau kau berjalan terus ke arah utara setelah peternakan kau akan menemukan desa Dauper. Setelah satu bukit kau lewati ke arah selatan terdapat Desa Ragako. Jarak keduanya cukup jauh dan harus menggunakan kuda. Dan ke arah tenggara setelah 2 bukit dan sungai, 4 bukit lagi kau akan menemukan perbatasan Distrik Trost."

Sampai di satu bukit, Mikasa kesulitan untuk menapaki jalan yang sedikit terjal dan rumput yang licin. Levi mengulurkan tangannya untuk membantunya dan disambut tanpa ragu oleh Mikasa. Namun langkah Levi terhenti dengan Mikasa yang berhenti disampingnya.

"Ah…" kata Mikasa terdengar kesal. Levi menghampiri Mikasa yang melepas selopnya.

"Apa ada masalah?"

"Ya. Sepatuku rusak." kata Mikasa kini bertelanjang kaki dan menjinjing sepatunya.

"...sebaiknya kita kembali. " kata Levi melihat keadaan Mikasa. Mikasa menggeleng. "Itu tidak perlu, jika kau berpikir aku tidak nyaman dengan ini, kau salah. Aku masih ingin tahu dengan daerah sini."

"Kau yakin bertelanjang kaki?" tanya Levi, Mikasa mengangguk, "Aku selalu ingin melakukannyam" Levi memperhatikan Mikasa yang tak ragu berjalan diatas rumput tanpa selopnya, yang anehnya dia terlihat baik-baik saja.

"Apa itu?" tanya Mikasa menunjuk suatu bangunan besar dikejauhan.

"Itu adalah markas inap Pasukan Pengintai yang berpergian dari Distrik Hermina dan Trost,"

Mikasa mengeratkan pegangannya pada Levi saat mereka menuruni bukit pertama.

"Apakah kau nyaman di kastil?" tanya Levi melirik istrinya itu.

"Sepertinya."

"Apakah Mrs. Springer membuatmu tidak nyaman?"

Mikasa menggeleng, "Dia baik-baik saja. Dia koki yang hebat, tapi aku lebih suka memasak untuk diriku sendiri."

"Bolehkah aku tahu mengapa?"

"Aku…. menghabiskan hidupku sendirian di kediaman Yaeger. Dokter Yaeger dan…." Mikasa menarik nafasnya.

" - anaknya selalu berpergian ke Sina untuk mengobati para bangsawan. Mereka sering meninggalkanku sendirian. Meskipun keluarga Yaeger memperlakukan ku dengan baik dan memiliki pelayan dan koki yang mana sangat jarang di kawasan Shiganshina, mereka selalu memperlakukanku seperti… boneka, kurasa."

Levi menangkap gelagat helaan nafas Mikasa itu, "Mereka mengawasi ku dengan ketat, tidak mengizinkanku keluar tanpa seizin kepala pelayan, menyuruhku memakai topi dan menutup wajahku dengan kipas. Pindah kesini membuatku sadar aku hanya berpindah ke penjara yang lebih besar namun bedanya tanpa kepala pelayan yang mengawasiku. Setidaknya aku berharap sedikit kebebasan dalam penjara yang ini. Dan aku ingin memulai hal baru yang belum pernah kulakukan, seperti memasak."

Levi merenyit mendengar kata penjara, "Kenapa… penjara?"

Mikasa tersenyum kecut, "Aku tidak tahu. Mungkin aku diberi kesempatan kedua untuk hidup, di selamatkan oleh… Eren, tapi hidupku terasa jauh dari yang ku harapan. Mereka membiarkanku hidup untuk bersembunyi, bukan? Termasuk kau."

Levi menghentikan langkahnya, "….apa?"

"Bukankah begitu? Lelaki seperti kalian… mengharapkan kami untuk tetap tinggal dirumah tanpa melakukan apa-apa. Menyimpan kami untuk diri kalian sendiri. Dengar, aku tidak tahu tujuanmu apa untuk menikahi ku, tapi yang ku tahu aku harus hidup dalam persembunyian bukan? Dalam penjara ini sebagai tahananmu selama sisa hidupku, dan kau berpikir aku harus bersyukur untuk itu? Tentu tidak." kata Mikasa kecut. Dia memandang kosong perbukitan yang terhampar jauh disana. Suaranya terdengar jauh seolah pikirannya juga tak disana. Levi mengerutkan keningnya, berpikir bahwa alasan sikap tak menyenangkan Mikasa tempo hari adalah karena dia berpikir seperti ini.

".…kau salah." kata Levi, Mikasa menoleh ke arahnya, menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya. Sesungguhnya Levi bukan orang yang vocal mengutarakan kalimatnya dalam kalimat yang bertutur kata baik, jadi ia berpikir sejenak untuk memilih kata yang tepat.

"Aku tidak pernah menganggap kau sebagai tahananku di kastil ini. Kau bebas untuk hidup di kastil ini seperti apa yang kau harapkan dan aku tidak akan menahan kehendak yang kau inginkan."

Mikasa mendengus menoleh ke arah lain, seolah mencemoh perkataannya, yang mana Levi sadar terdengar seperti bualan belaka.

"Disaat aku menikahimu…. seluruh tempat ini, kastil, peternakan, perkebunan dan perbukitan ini, dan hartaku adalah milikmu juga. Aku tidak menikahi sembarang orang. Kau adalah seorang Ackerman, yang mana aku juga. Kita, Ackerman terhubung satu sama lain, dan yang ku tahu kita tidak memperlakukan relasi kita seperti tahanan, tapi sebagai keluarga. Pamanku Kenny, memperlakukan keluargamu seperti keluarga nya yang berharga, dan dia menitipkanmu padaku."

"..."

Mikasa menatapnya sejenak, "Apakah aku bisa mempercayai kata-kata itu?"

Levi memutar matanya, "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa membuatmu percaya padaku begitu saja, itu tergantung padamu."

"Aku tahu,"

"Dan aku tidak peduli tentang sikapmu yang dingin dan murung itu tiap kali ku ajak bicara, tapi aku mengharapkan seorang yang cukup rasional untuk ku ajak kerja sama, setidaknya saat aku dikastil ini. Aku tidak punya waktu untuk menghadapi seorang yang kekanakan atau seseroang yang memilih untuk menjadi anak nakal dan secara sadar tidak berprinsip hanya untuk membuat ku jengkel."

"...baiklah. Aku mengerti, dan aku minta maaf atas sikapku kemarin, aku akan mencoba untuk bersikap…. lebih ramah. Aku tidak pernah memiliki siapa-siapa dalam hidupku." kata Mikasa ragu.

Levi mengangguk. Dalam hatinya ia menyetujui kalimat terakhir Mikasa. Dia juga tidak pernah benar-benar memiliki siapa-siapa dalam hidupnya, mereka selalu pergi dan tidak pernah menetap.

"Kurasa…. mari berteman, Levi?" tanya Mikasa mengulurkan tangannya, Levi menatap uluran tangannya itu kemudian ke wajah tanpa ekspresi Mikasa. Levi memutuskan tak butuh waktu lama untuk menjabat tangan yang terasa dingin itu.

"Mari lanjutkan jalannya jika kau masih ingin melihat sungainya, ini mulai gelap dan aku tidak ingin berjalan pulang dalam keadaan gelap." kata Levi melanjutkan langkahnya, dengan Mikasa yang kembali mengapit lengannya melewati bukit yang kini menurun, di hadapan mereka terbentang sungai kecil di kejauhan dengan tim Levi sedang berenang bercanda tawa di sungai itu.

"Ini indah," komen Mikasa, berjalan bersamaan dengan Levi.

"Aku punya pertanyaan," kata Mikasa, Levi meliriknya sedikit. "Lanjutkan,"

"Di sudut ruangan lantai 2… ada sebuah pintu terkunci yang mana menuju menara. Apakah isi menara itu?"

"Itu adalah menara perpustakaan milik Utgard Ackerman, makanya nama kastil ini dinamai olehnya."

Levi menangkap gelagat Mikasa yang menoleh cepat, seolah tertarik atas kata tertentu yang terlontar dari mulutnya.

"Perpustakaan? Tapi kau sudah punya perpustakaan di ruang baca. Mrs. Springer tidak pernah memberitahuku tentang menara itu."

"Karena aku tidak pernah mengizinkannya masuk."

"Kenapa?"

Levi mengangkat bahunya, "Aku tidak yakin mengapa. Aku juga jarang mengunjungi perpustakaan itu,"

"Bolehkah aku memasukinya?" tanya Mikasa, suaranya terdengar tertarik meskipun wajah cantik itu tetap monoton dan terlihat bosan.

Levi mengangguk, "Tentu, kastil itu adalah milikmu juga."

Mikasa tertawa kecil, terdengar seperti mengejek namun tetap di kategorikan tertawa, dan itu pertama kali Levi melihat Mikasa Ackerman tertawa.

"Sejujurnya aku tidak memiliki apapun, kau mengatakan hal itu untuk meyakinkan aku bahwa kau tidak seperti yang aku pikirkan, bukan?"

"Mengapa kau mengatakan hal seperti itu?"

"Katakan padaku, Levi." katanya serius. Mikasa menghentikan langkahnya.

"Kenapa kau menikahiku? Kenapa aku?"

Levi mengerenyitkan dahinya, pertanyaan itu terdengar retorik yang mana baik Mikasa dan Levi tahu alasannya. "Kurasa kita berdua tahu kenapa. Ayahmu dan Kenny - "

"Aku dengar kau akan dijodohkan dengan Frieda Reiss." kata Mikasa tajam.

"Kenapa kau menikahiku, bukan dia?"

Levi mencemoh, "Aku tidak berurusan dengan pihak kerajaan."

"Kau memanfaatkanku, bukan? Saat waktunya tiba, aku harus melakukan apa yang wanita harus lakukan? Aku bukan berarti apa-apa selain sebagai subjek pengganti untuk menghindarimu dari pernikahan dengan pihak kerajaan, dan sebagai pengganti dari Frieda Reiss. Kau mungkin tidak akan datang ke kediaman Yaeger untuk menikahiku kalau saja kau tidak di jodohkan dengannya, itu alasanmu menikahi ku."

Levi memutar matanya, ia merasakan amarahnya datang bergumul dalam dadanya. Apa yang dikatakan Mikasa benar adanya dan itu membuat Levi marah sekaligus bersalah dengan dirinya sendiri. Levi memang benar menikahinya karena ia terpaksa harus menikahi orang lain selain Frieda Reiss, dan Mikasa kebetulan pilihan terbaik selain Kenny yang menyarankannya dan dia juga seorang Ackerman,

"Detik yang lalu kau setuju untuk menawarkan pertemanan untukku. Sekarang kau bersikap seperti anak nakal… memperlakukan ku seperti orang brengsek."

"Aku tidak bilang kalau - "

"Dengar, aku tidak bisa mengubah apa yang kau pikirkan tentangku. dan aku tidak peduli tentang itu sama sekali."

"Tapi kalau kau berpikir aku menikahimu karena itu, aku akan tetap membiarkanmu berpikir seperti itu. Tapi apa yang bisa kau lakukan? Itu tidak akan mengubah apapun, faktanya bahwa kau telah menikah denganku. Kita terjebak satu sama lain."

Mikasa menatapnya tak percaya, "Itu cukup menjelaskan segalanya, kau memang pria brengsek," dia mendengus, menepis lengannya kasar dan berjalan mendahului Levi sendirian dengan kesal meninggalkan Levi yang masih berdiri diam memproses apa yang baru saja terjadi. Levi merasakan gelombang kemarahannya juga ikut muncul melihat Mikasa pergi begitu saja setelah memprovokasinya untuk hal yang sama sekali tidak penting.

Mikasa menghentikan langkahnya, ia berbalik badan, "Pria seperti kalian… adalah sama saja." katanya pelan, namun Levi mendengar itu semua.

Levi menghentikan langkahnya memperhatikan dari kejauhan Mikasa yang sampai di tepi sungai dan Jean yang mendekatinya dan keduanya berbincang, anehnya, ia merasa lebih kesal melihat wajah Kirstein yang tersenyum seperti orang bodoh pada Mikasa.


aku sangat mengapresiasi review supaya tahu apakah fict ini bisa dilanjut atau tidak wkwkw. pls kindly give review pada fict tanpa harapan ini lol