Bagaimana kabar kalian semua?
Itu benar-benar timing yang buruk, orang terakhir yang Levi ingin temui di kastilnya sendiri tak lain tak bukan adalah istrinya, Mikasa. Levi baru saja membuka pintu kamarnya, hendak pergi pagi buta ke Trost dan mencari alasan dan izin Erwin untuk membiarkannya pergi ke Sina, demi menghindari wanita itu. Tetapi sepertinya semesta mengutuknya untuk terus berurusan dengan Mikasa tepat saat Levi melangkah melewati kamar Mikasa, wanita itu keluar telah berpakaian rapi.
Keduanya belum atau saling menghindar untuk tidak bertegur sapa pasca kejadian di sungai, dan kini mereka hanya saling memandang untuk sekian detik sebelum Levi melanjutkan langkahnya melewati Mikasa tanpa mengatakan apapun atau menyapanya.
"Kau pergi," kata Mikasa, lebih terdengar seperti gumaman pada dirinya sendiri.
Levi menghentikan langkahnya yang hendak menuruni tangga.
"Ya. Aku pergi." Kata Levi memutar tubuhnya dan menghadap Mikasa yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Tentu saja kau selalu pergi," kata Mikasa sinis.
Levi mengerutkan keningnya, mendengar sindiran sinis itu. Matahari belum terbit sepenuhnya dan wanita itu bersikap menyebalkan.
"Apa maksudmu?" tanya Levi.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Mikasa.
"Aku tidak bisa bilang tepatnya, aku ada pekerjaan di Sina - "
"Benar. Kau yang selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan tidak tahu kapan kembali. Silahkan pergi."
Levi terdiam untuk sesaat memproses dan memperhatikan gelagat Mikasa yang terlihat gusar dan sepertinya wanita itu kesal. "Apa yang kau coba utarakan?"
"Kau selalu pergi tanpa mengatakan apapun,"
"…kau mengharapkan aku untuk mengatakan sesuatu?" tanya Levi mengangkat satu alisnya.
Mikasa mendengus, ia tersenyum sinis, "Bukankah kau punya sesuatu hal yang harus kau katakan padaku?"
Levi memandang Mikasa penuh dengan pandangan skeptical.
"Ku ingatkan kau pernah mendeklarasikan kau nyaman untuk hidup sendirian di kastil ini bahkan menyuruh Mrs. Springer untuk kembali bekerja di ladang."
"Lalu aku sungguh harus bersyukur akan hal itu?"
"Aku tidak mengerti dirimu. Aku memberimu segala kenyamanan yang wanita lain mungkin inginkan. Aku memberimu rumah tanpa pengawasan, aku menyediakan makanan, aku mengeluarkanmu dari Distrik Shiganshina, membiarkan melakukan hal yang kau inginkan, aku tidak memaksamu untuk hidup sebagai istriku kalau kau memang berpikiran aku seorang yang memanfaatkanmu, maka sebut saja aku memang memanfaatkanmu. Tapi aku telah menebusnya, dan hal terakhir yang ku minta darimu adalah berhenti bersikap kau adalah korban atas apa yang kau lalui."
"Beraninya kau - " Mikasa Ackerman maju selangkah, wajah cantiknya yang biasanya selalu monoton kini terlihat marah.
"Itu adalah hak ku untuk berbicara seperti itu. Aku telah memfasilitasi mu banyak hal, tetapi aku tidak akan membenarkan sikapmu seperti sekarang."
"Pergi. Aku tidak bisa berhadapan denganmu lagi, dan jangan kembali." Kata Mikasa terengah berusaha menahan emosinya.
"Katakan itu pada seseorang yang menahanku dari tadi." Kata Levi tak kalah dingin.
-o-
"Kau pasti bercanda!" teriak Hanji dengan gemas. Levi hanya memutar bola matanya sementara Erwin tersenyum geli.
"Aku tidak, dan stop membuat reaksi berlebihan," kata Levi jengkel.
"Tapi kau tidak bisa pergi begitu saja, meninggalkan dia setelah mengatakan hal itu, Erwin?" Tanya Hanji.
"Aku tidak mengatakan suatu hal yang salah." Kata Levi.
"Tapi kau tidak bisa meninggalkan dia dan kau perlu melatih dirimu untuk mengatakan hal-hal menyakitkan, terlebih dia itu istrimu, demi tuhan!" Hanji nyaris menjambak rambutnya sendiri.
"Aku tidak meninggalkan dia, aku akan kembali sore ini, mengingat Erwin tidak mengizinkan ku ke Sina." Sindir Levi, ia melirik pada pria yang terkekeh duduk disebrangnya, "Aku tidak punya alasan mengapa kau harus pergi ke Sina. Rapat ekspedisi ke 57 sudah final kemarin," kata Erwin.
"Kurasa kau harus mengerti, dia seorang wanita… Dan wanita terkadang lebih emosional dari pada pria. Kau harus berpikir rasional Levi, kalau kau mau membuat pernikahan mu berhasil." Kata Erwin bijak.
" - bukan berarti aku menginginkan pernikahan ini berhasil."
"Well, kau harus atau kau akan membiarkannya gagal? Atau kau berharap sang raja membuatmu berharap padamu lagi? Dia masih mengharapkan kedatanganmu untuk pesta tehnya, Levi. Kau tahu Raja Uri sangat menyukaimu."
"Aku tidak pernah memintanya untuk menyukaiku."
"Dengar, Levi. Kau harus membuat ini berhasil sebelum kita melaksanakan ekspedisi ke Marley. Kau tahu apapun bisa terjadi diluar sana, dan aku tidak mau kau memiliki penyesalan nantinya."
"Bukan salahku dia bertingkah…. Kekanak-kanakan, murung, dingin dan hamper tidak dapat ditoleransi, dia tidak bisa diajak untuk berpikir rasional saat itu menyangkut kami berdua."
"Kau tidak bisa mengendalikan bagaimana orang bereaksi pada mu, Levi. Tapi kau bisa mengendalikan bagaimana kau memperlakukan dia."
"Tidak heran dia mungkin membencimu… kalian tidak memiliki bonding satu sama lain, kalian tidak berusaha," Cibir Hanji.
"Oh, demi titan, hal seperti ini tidak perlu bonding." Cibir Levi.
"Tentu saja perlu! Ini sama saja seperti kau membangun kepercayaan dan bonding dengan rekan satu team atau dengan bawahanmu, dan demi titan dia bukan bawahanmu tetapi istrimu," kata Hanji kesal. Erwin terkekeh.
"Saranku adalah… perbaiki hubunganmu dengannya. Ubah cara berpikirmu saat menghadapi dia, pada akhirnya seperti yang kau bilang kalian terjebak satu sama lain." Kata Erwin.
"Kau bahkan tidak mencoba untuknya," umpat Hanji.
"Aku bekerja mengerjakan tumpukan laporan itu dan kau menuntutku untuk membagi waktu ku untuknya?"
Hanji mengangguk, "Yeah! Jangan bilang kau menggunakan alasan laporan payah itu padahal kau menghindari dia dengan bekerja sampai larut. Kita bertiga tahu kau tidak pernah menyentuh laporan itu sebelumnya dan Jean atau… Armin bisa melakukan itu untukmu,"
"Jika dia memang tidak memenuhi kriteriamu, kenapa memilih untuk menikahinya?" Tanya Erwin.
"Kau lupa kau memberiku pilihan untuk segera menikahi wanita lain selain Frieda Reiss?"
"Ada banyak wanita yang aku tahu pasti dalam standarmu, wanita yang lebih tua darinya – seumur denganmu, yang tidak kekanak-kanakan, wanita yang ceria dan ramah… berambut pirang secara spesifik - "
"Yeah tapi dia sudah mati, dan kau berharap aku menggali kuburannya untuk menikahi ku?"
"Yang ku maksud adalah, kau bisa menikahi salah satu bawahanmu atau kenalanmu, aku yakin kau punya beberapa nama, tapi kau memutuskan untuk menikahi dia… kenapa?"
"Oh. Hentikan omong kosong ini, kenapa semua orang sangat heran aku menikahinya?"
"Kau sendiri yang bilang bahwa dia menyebalkan dan kau tidak tahan dengannya," komen Hanji.
"Kau menikahi wanita asing dan kau berharap semua berjalan mulus." Kata Erwin.
"Dia bukan wanita asing," kata Levi.
"Siapa nama belakangnya lagi?" tanya Erwin serius, dia mengangkat alisnya.
"Yaeger." Kata Levi langsung.
"Dia tidak terlihat mirip dengan Grisha Yaeger." Komen Erwin.
"Well… kau pernah menemui istrinya?" tanya Levi tak kalah tajam, dia tidak ingin Erwin juga tahu bahwa Mikasa merupakan seorang Ackerman, Kenny bilang padanya untuk merahasiakan identitas asli Mikasa bahkan dari Erwin.
"Kau harus melakukannya." Kata Hanji mendadak serius. Levi dan Erwin menoleh ke arahnya.
"Melakukan apa?"
"Memohon."
Levi merenyitkan keningnya, "Memohon?"
"Yeah. Memohon padanya dan katakan kau menyesal."
Levi menghela nafasnya, "Kau pasti bercanda."
"Kau harap. Aku punya ide." Kata Hanji tersenyum cerah.
-0-
Levi secara mental sudah siap akan hal ini. Ia sudah pasti kalah debat dengan Hanji si mata empat dan Hanji berhasil membuatnya berjanji untuk melakukannya.
Memohon pada Mikasa.
Meskipun itu terdengar sangat konyol, Levi akhirnya menyerah. Ia mengingat apa yang Erwin bilang, dialah yang harus bertingkah rasional dalam menghadapi seorang wanita muda seperti Mikasa. Dia teringat akan perkataan Hanji, bahwa dirinya juga tidak mencoba sedikitpun dan selalu menghindarinya, dia tidak menyadari bahwa ia tidak lain adalah pengecut dan kemarin, Levi dengan bodohnya membiarkan Mikasa berpikir dia memang lelaki brengsek.
Tetapi, ini sudah ketukan ketiga pada pintu kamar wanita itu dan Levi tidak menerima sahutan apapun. Apa dia benar-benar semarah itu? Levi mengerang, pertemuan mereka terakhir kalinya begitu buruk.
"Oh… Kapten Levi! Kau kembali lebih awal!" sapa Mrs. Springer dengan linen dan sprei yang baru habis di cuci di tangannya.
Levi mengangguk singkat, "Apakah dia… tertidur?" tanya Levi.
"Ah… Nona Mikasa? Dia tidak pernah ada di kamarnya kecuali saat waktunya tidur, aku baru saja akan meletakan linen ini dikamarnya, dia selalu membersihkan kamarnya sendiri." kata Mrs. Springer membuka pintu kamar Mikasa yang ternyata kosong dan meletakan linen itu di kursi kemudian kembali keluar.
"Dimana dia?" tanya Levi melangkah memasuki kamar itu, Levi merenyit melihat banyak buku-buku berserakan di Kasur dan di lantai-lantai tak beraturan di seluruh kamar itu.
"Mm… dia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan lantai 1, tapi kurasa dia sudah bosan, akhir-akhir ini dia suka menghabiskan waktunya di bukit atau sungai, aku yakin dia pernah mengatakan itu padaku, tapi dia selalu kembali sebelum matahari terbenam."
"Matahari sudah hampir terbenam," gumam Levi melihat matahari sore mulai terbenam dari jendela.
"Dia akan baik-baik saja." Kata Mrs. Springer, "Apakah kau butuh sesuatu, Kapten Levi?"
Levi menggeleng, "Tidak terimakasih, kau bisa pulang ke rumah, Mrs. Springer."
Mrs. Springer pun undur diri. Sementara Levi melihat isi ruangan itu. Sebenarnya ruangan itu rapi bila tidak ada buku-buku berserakan dimana-mana. Levi merenyitkan keningnya, apa ini yang biasa dilakukan wanita itu setiap hari? Membaca buku? Dia tidak pernah terpikir dia menyukai buku.
Levi kemudian baru saja terpikir betapa bosannya Mikasa menghabiskan waktunya sendirian di kastil sebesar ini. Tapi buku sebanyak ini?
Levi memungut satu buku tebal di lantai itu, membaca judulnya di halaman depan. Dia sedikit terkejut saat tahu judulnya, "Anatomi Tubuh Manusia," gumam Levi. Dia membuka sekilas isi buku itu dan menemukan banyak bekas lipatan-lipatan di beberapa halaman tertentu. Kemudian, ia memungut dua buku lain, "Perspektif Nutrisi untuk Kesembuhan," dan "Tanaman Herbal dan fungsinya," dan "Anatomi Monster: Edisi Titan, Bagian III: Titan Wanita."
Untuk wanita muda terhormat seumurnya, rata-rata menghabiskan waktunya dengan pesta sosial dan teh pesta dansa di salah satu rumah konglomerat, mengunjungi toko busana di tengah kota, dan disini Mikasa menghabiskan waktunya membaca buku-buku sulit dan membosankan itu. Levi semakin berpikir Mikasa bukan seperti wanita yang biasa ia temukan di kota. Dia tidak pernah berpikir seorang wanita tertarik dengan buku-buku sulit seperti ini.
Levi menghela nafasnya, ia teringat ayah angkat Mikasa merupakan seorang dokter mungkin ia ikut mempengaruhi cara berpikir Mikasa. Ah.. memori itu kembali secara mendadak, saat Mikasa dengan helaan nafasnya mengatakan bahwa ia tidak pernah diizinkan keluar tanpa pengawasan kepala pelayan dan bagaimana dia tidak pernah mengikuti pesta sosial di umurnya. '
Penjara.
Mikasa menyebut kediamannya dulu sebagai penjara, dan dia hanya pindah ke penjara yang lebih besar dari sebelumnya saat ia pindah ke kastil ini. Mungkin dari dulu Mikasa menghabiskan waktunya di kediaman Yaeger dengan membaca buku.
Dia tidak seperti gadis kebanyakan yang ia temui di kota, dia hidup secara berbeda, dan dia melihat orangtuanya dibunuh yang mana pasti akan selalu melekat dalam ingatannya sepanjang hidupnya, sama seperti Levi yang menyaksikan ibunya mati perlahan. Dia pasti kesepian. Levi seharusnya sadar akan hal itu.
Levi segera keluar dari kamar itu, namun sesaat menghentikan langkahnya, ia tertegun melihat pintu di sudut lorong menuju menara perpustakaan itu. Ia teringat bagaimana Mikasa terdengar bersemangat saat dia menyebut bahwa itu adalah menara perpustakaan, Levi bahkan belum sempat menunjukan perpustakaannya itu padanya.
Entah mengapa Levi punya firasat buruk akan hal ini. Levi mencari Mikasa di perpustakaan lantai satu, di setiap kamar, di lorong, di ruang baca, di ruang lukisan… di seluruh ruangan rumah ini dan dia tidak ada dimanapun. Levi menarik rambutnya kebelakang, ia merasakan keningnya berkeringat. Kemana wanita itu pergi? Apakah ia melarikan diri?
Itu bukan hal yang tidak mungkin.
Mikasa, dimana kau?
Levi memutuskan untuk mencarinya keluar rumah dengan membawa kudanya mengitari perbukitan, ladang, dia bahkan mengecek peternakan dan tidak menemukan siapapun disana.
"Mikasa!"
Levi terus memanggil namanya, dalam hatinya ia sedikit merasa takut. Apa mungkin ada seorang perampok dan menculiknya? Tidak… itu tidak mungkin, Levi telah memastikan keamanan daerah yuridiksinya telah di bentengi prajurit di tiap pintu masuknya.
Hingga akhirnya Levi berkuda sampai ke daerah sungai tempo hari ia bertengkar dengan Mikasa. Dia menyusuri sungai, di salah satu tepi sungai Levi menemukan setumpuk buku dan sebuah keranjang piknik di bawah pohon. Levi segera turun dan mengecek buku-buku itu, ia yakin buku itu berasal dari perpustakannya karena tiap buku memiliki tanda tangan Kierran Ackerman di halaman pertamanya. Mikasa pasti pernah kesini. Apa yang terjadi?
Levi terus memanggil namanya, dia berjalan menyusuri sungai di bawah cahaya bulan yang menyinarinya. "Mikasa!" panggilnya.
"A-apa ada orang disana?" sebuah suara kecil mendadak menyahut. Levi memutar tubuhnya, mencari asal suara tersebut. "Mikasa? Dimana kau?"
"Apakah kau Levi?"
"Ya, ini aku? Bisa kah kau mengatakan dimana kau?" tanya Levi sedikit kesal sekaligus lega.
"Aku disini," kata Mikasa, dia muncul dari tengah sungai dari balik batu besar dengan tubuhnya terendam sepenuhnya di air sungai yang gelap dan hanya memunculkan kepalanya.
"Apa… yang kau lakukan?" tanya Levi tak habis pikir.
"Ini nyaris musim dingin dan kau memilih untuk berenang di waktu sekarang?!" hardik Levi, kali ini dia benar-benar kesal, ia mencari wanita muda ini, mengkhawatirkannya dan nyaris memutuskan untuk mengunjungi kediaman Yaeger malam itu juga untuk menjemput Mikasa kalau ternyata wanita ini melarikan diri.
Tapi yang ia temukan adalah, wanita bodoh yang hanya membuat kekhawatiran tak berdasar dan memilih untuk berenang di sungai yang nyaris membeku di musim dingin seperti ini dan lebih paranya, di malam hari. Wanita itu bisa terkena pneumonia.
"Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak sebodoh itu dalam membuat keputusan dan - " Bela Mikasa menggigil.
"Itu terlihat persis seperti yang kupikirkan," potong Levi.
Mikasa bergeming, ia hanya diam tidak melakukan apa-apa.
"Apa kau berencana untuk diam mati kedinginan semalaman sebagai bentuk protesmu kepadaku, begitu?" kata Levi mendekati tepi sungai.
"T-tidak!" kata Mikasa, wajahnya memucat nyaris membiru.
"Apa yang kau tunggu? Keluar dari sungai itu sekarang atau aku akan menyeretmu keluar dengan paksa kalau itu diperlukan,"
"Aku tidak bisa!" pekik Mikasa, wajahnya terlihat panik.
"Apa maksudmu tidak bisa?!" kata Levi nyaris membentaknya, ini benar-benar membuatnya marah. "Kalau ini merupakan aksimu atas sikapku kemarin kau keterlaluan dan bodoh, dan kalau kau berharap kata maaf dariku, maka aku minta maaf atas kemarin, sekarang cepat keluar dari sana atau aku benar-benar akan menyeretmu keluar dan aku serius!"
"Tidak! Tidak seperti itu, aku – ah, lupakan… bisakah kau kembali ke kastil dan membawakanku…. mantel? Mantelku hanyut terbawa arus sungai…"
Levi mendengus tak percaya saat ini ia hanya menggunakan kemeja putihnya dan meninggalkan mantel militernya di kastil saking terburu-burunya, "Apa kau bercanda? Dan meninggalkan mu sendirian mati membeku? Ini nyaris tengah malam dan sangat dingin. Kalau kau bilang kau telanjang maka kau berbohong, aku bisa melihat kau mengenakan gaun putih."
"Bukan itu maksudku… a-aku.. tidak menggunakan …"
"Apakah itu hal yang penting?! Cepat keluar SEKARANG!"
"Okay-okay… pemarah, tidak perlu berteriak seperti itu, oke? Tapi kau harus menutup matamu itu," Mikasa bersungut-sungut dan melangkah perlahan keluar dari sungai.
"Terserah katamu,"
Kini Levi mengerti apa maksud Mikasa, wanita itu berusaha keras menutupi tubuh bagian depannya yang terlihat jelas menerawang dibalik gaun tidur putih tipis selutut yang basah mencetak lekukan tubuh nya yang mengigil hebat. Ini sudah sejak lama Levi melihat tubuh wanita dewasa, dan Levi tidak bisa memalingkan matanya pada tubuh Mikasa yang ramping, dengan dadanya yang kecil dan bulat itu, terutama menarik perhatiannya.
"Kubilang tutup matamu." Kata Mikasa kesal berusaha menyilangkan tangannya di depan dada. Levi melihat Mikasa dari atas sampai bawah, pergelangan kakinya yang membiru membuatnya merenyit, "Ada apa dengan kakimu?"
"Aku tergelincir di batu saat aku menyelamatkan kucing yang hanyut, aku bisa saja kembali ke kastil dengan berlari namun mantelku ikut hanyut, aku tidak bisa pulang ke kastil dengan keadaan seperti ini sementara aku tidak bisa berlari, makanya aku terjebak disini semalaman." Kata Mikasa.
"Kau membeku, kau bisa berjalan dengan kaki seperti itu?" tanya Levi membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.
"Yeah, tapi aku tidak bisa berlari. Mengapa kau membuka kemejamu?" tanya Mikasa panik, dan membuang pandangan nya ke samping.
"Kau terlalu malu kepadaku, bukan?" tanya Levi, melepas kemejanya dan kini bertelanjang dada, angin yang berhembus menusuk hingga ke tulangnya, tapi Levi sudah biasa, militer telah melatihnya untuk hal-hal seperti ini dan belum lagi ekspedisi tak berkesudahan telah membentuk fisiknya untuk lebih kuat, tapi tidak dengan Mikasa yang wajahnya memucat dan tubuhnya yang mengigil hebat.
"T-tapi kau tidak perlu bertelanjang dada, itu konyol."
Levi menyembunyikan seringainya, "Apa? Kau juga malu melihatku?"
"Lihat dirimu, begitu bodoh terjebak di dalam air sungai yang dingin semalaman dan kau nyaris mati membeku karena ulahmu sendiri." Kata Levi menyerahkan kemeja putihnya, lalu bersiul memanggil kudanya.
Mikasa menerima kemeja itu ragu-ragu dan menggunakannya tanpa pikir panjang, meskipun kemeja itu tidak berpengaruh apa-apa, setidaknya ia bisa menutupi tubuhnya yang nyaris terekspos seluruhnya di depan Levi.
"Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja melihat kucing itu meronta-ronta terbawa arus sungai."
"Tentu, dimana kucing itu? Langsung kabur, kurasa? Sementara kau menunggu ajal disini." Sinis Levi.
"Aku harap kau melupakan kejadian ini," gumam Mikasa.
"Hm?" kuda Levi berderap menuju arahnya tak jauh lagi.
"Aku malu," kata Mikasa singkat.
"…"
"Aku tidak pernah merasa se-terekspos ini sebelumnya, apalagi didepan lelaki."
"Secara teknis, aku suamimu."
Mikasa memelototinya tidak percaya.
Daisy, kuda Levi akhirnya sampai. Levi membongkar pelana Daisy dan mengambil satu kaus putih tipis pendek dan mengenakannya dengan cepat, untungnya Levi belum sempat membongkar isi pelananya.
"Kalau kau berpikiran aku bisa menaiki itu, maka kau salah. Aku tidak pernah berkuda."
Levi menoleh padanya, "Kau bercanda?"
"Aku harap aku bercanda. Mereka tidak pernah mengajari ku caranya."
"Kalau begitu kau naik duluan. Aku tidak bisa mengambil resiko kau jatuh karena hal konyol seperti terlalu malu untuk berpegangan padaku."
Mikasa menghela nafasnya, uap putih tebal keluar dari mulutnya.
"Baiklah," kata Mikasa, "Bagaimana cara naiknya?"
"Naikan kaki satumu kesini, lalu pegangng tali kekangnya lalu angkat kakimu dan duduk di pelana, ya, seperti itu." Kata Levi sambil membantu Mikasa duduk dengan selamat, Levi menyusul naik ke atas pelana di belakang Mikasa.
Dengan Mikasa yang duduk di depannya begitu dekat, Levi bisa merasakan dinginnya tubuh Mikasa, dan bagaimana wanita muda itu menggigil hebat. Ini buruk.
"Kau sebaiknya pegangan, kita harus bergegas."
-o-
Sesampainya di kastil, Levi menyuruh Mikasa mengganti gaun tidurnya yang basah. Sementara Levi menyiapkan sup sederhana dan menyiapkan kompres air dingin. Levi mengetuk pintu kamar Mikasa, tak lama wanita itu keluar dengan gaun tidur kering dengan rambut hitamnya yang masih basah.
"Apa kau telah menyalakan perapian?" tanya Levi.
Mikasa menghela nafasnya, lalu menggeleng, dia terlihat terlalu lemas untuk melakukan hal itu, "Akan ku lakukan," kata Levi, tanpa basa basi bersamaan dengan nampan berisi sup dan kompres serta perban masuk ke kamar Mikasa.
Sementara Levi menyalakan perapian Mikasa melangkah pelan duduk di tepi kasurnya memperhatikan Levi.
"Kau bilang kau ada pekerjaan di Sina. Terakhir kali kau tidak kembali sekitar seminggu." Kata Mikasa.
"Itu bukan suatu urgensi." Kata Levi sambil meniup-niup perapian.
"Kenapa kau kembali?"
"…karena ini rumahku."
"Benarkah?" tanya Mikasa, suaranya terdengar sedih dan Levi menangkap hal itu. Levi menarik bangku ke depan perapian dan mengisyaratkan Mikasa untuk duduk di sana menghangatkan diri yang mana langsung patuhi karena ia masih menggigil.
"Ya," jawab Levi, "…kenapa?" sambung Levi.
"Aku tidak pernah punya rumah sebelumnya," kata Mikasa menatap api yang bergoyang itu. Levi kemudian menyodorkan mangkuk sup itu ke Mikasa. "Well.. saat aku kecil, aku tumbuh di gubuk sederhana di daerah pegunungan, yang mana belakangan aku baru tahu bahwa itu gubug yang disewakan pada ayahku."
"…." Levi tidak menjawab, dan mengambil kompres air hangat dan perban.
Mikasa tersenyum pada dirinya sendiri, "Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal ini padamu,"
"Kau punya rumah sekarang." Jawab Levi singkat.
"….benarkah?"
"Tentu, aku telah mengatakannya bahwa ini juga rumah milikmu dan aku serius, sekarang makan sebelum sup itu dingin. Aku tidak tahu apa itu sesuai dengan seleramu, aku hanya bisa membuat sup itu di militer." Kata Levi kemudian dia bersimpuh di hadapan Mikasa.
Mikasa membulatkan matanya terkejut melihat Levi yang mendadak bersimpuh dan memegang pergelangan kaki kanannya. Itu adalah kali pertama seseorang menyentuhnya tanpa seizinnya dan tanpa mengatakan apa-apa.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Mikasa terkejut, dia hendak bangkit namun kesulitan dengan mangkuk sup panas dipangkuannya dan satu kakinya di pegang Levi, mengelus kakinya itu dengan hati-hati seolah dia mencari sesuatu.
"Menurutmu apa yang kulakukan?" tanya Levi memandangnya tajam di bawah sana, tangan Levi mengelus luka dan bengkak pada pergelangan kakinya pasca dia tergelincir di sungai, Mikasa menahan nafasnya saat tangan kasar itu ikut mengelus betisnya terus ke atas hingga ke lututnya hamper ke pahanya di bawah gaun tidurnya.
Mikasa memegang erat mangkuk sup itu, sebentar lagi ia hampir yakin bisa memecahkannya kalau saja Levi tidak menghentikan tangannya naik lebih ke atas hingga ke pahanya. Itu adalah sensasi baru yang ia rasakan, seorang lelaki menyentuh bagian tubuhnya, bahkan Eren tidak pernah melakukan hal seperti ini, dan itu membuat Mikasa kebingungan akan sensasi baru yang ia rasakan untuk pertamakalinya ini. Terlebih, dengan Levi yang tidak melepaskan pandangannya, seolah sengaja melakukan itu untuk melihat reaksinya
Levi menangkap bagaimana Mikasa menahan nafasnya, bagaimana dia hampir meneriakinya kemudian bangkit, tetapi dia tetap tidak melakukan apapun, meskipun wanita itu berusaha sebisanya terlihat tenang, tetapi Levi yakin betul dia terkejut sekaligus penasaran. Dia dengan sengaja, mengelus paha dalam Mikasa dengan ibu jarinya, Mikasa nyaris tersentak. Dan akhirnya dia berhenti.
"Beruntung lukamu hanya bengkak kecil dan kurasa tidak ada yang patah. Besok akan kempis kalau kau kompres,"
Mikasa berdeham, "Tentu, aku tahu itu bukan luka serius." Katanya tenang.
"Mereka tidak punya dokter di desa ini. Besok kita akan ke Distrik Trost pagi-pagi."
"Aku tidak perlu dokter - "
"Berhenti berargumen denganku dan ikuti apa kataku kali ini saja, aku tidak ingin mengambil resiko, lagi pula aku harus berjaga-jaga kalau kau terkena demam atau pneumonia esok hari." Kata Levi bangkit.
"Aku tidak bisa pergi ke kota."
"Kenapa?"
"Aku tidak punya sepatu, kau lupa sepatuku rusak saat mendaki bukit?"
"Tentu kau punya." Kata Levi. Mikasa menoleh padanya keheranan.
"Apa?"
Levi mengisyaratkan pandangannya pada satu box diatas meja, box yang sebelumnya tidak pernah ada di kamar Mikasa.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi tidak sekarang, kau harus menghabiskan supmu dan istirahat." Kata Levi, dia memungut beberapa buku yang menghalangi jalannya dan menaruhnya di meja, "Saranku adalah kau harus segera merapikan kamar ini." Komen Levi.
"Aku akan melakukannya nanti," desah Mikasa.
"Good night, Mikasa." Kata Levi tanpa berbalik dan menuju pintu.
Mikasa tertegun mendengarnya, "Good night, Levi."
Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup.
Mikasa melirik kearah box itu, berjalan perlahan dan membuka boxnya.
Sepasang sepatu wanita cantik berwarna merah.
Ia mencoba pada kaki nya yang tidak terluka, tak lama ia mendengus geli.
Itu kebesaran.
Please review, aku ingin tahu apa yang kalian pikirkan tentang chapter ini hihi.
