Haruno Sakura, gadis pendiam dan dingin yang selalu berharap bisa menjalani masa kuliahnya dengan baik tanpa ada masalah. Tapi semuanya berubah ketika tragedi berdarah 10 tahun yang lalu, kembali menghantui kota bahkan negaranya. Tragedi yang membuat semua orang menatap takut dan memburu dirinya untuk dibunuh.

Semua ini karena "dia" memiliki nama yang sama bahkan wajah yang serupa. Dia bersumpah akan membunuh "dia" penyebab tragedi ini. Mengembalikan nama baiknya. Kehidupannya.

.

.

Tragedy:Eternity ~Two Sides of Vermillion~

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Rated : M

Genre : Thriller, Bloody, Crime

Warning : OOC, Typo

.

.

Chapter 1

Tang...Tang...

Suara palu dipukul bergema pada ruangan yang minim cahaya itu. Panas dan pengap serta amis bercampur menjadi satu.

"T-tlong lepaskan ak-kku" pinta seorang gadis yang tengah diikat pada sebuah kursi dengan penuh rasa takut. Takut pada kondisinya saat ini dan takut ia akan menjadi korban selanjutnya. Bagaimana tidak takut, jika di depannya tergeletak mayat tanpa kepala dan tangan.

Palu itu berhenti dipukul oleh sesorang yang tidak terlihat wajahnya karna terhalang kegelapan. Ia mengambil pedang yang tergeletak diatas seng. Menyembunyikan dibalik jubah hitamnya.

"Jika aku melepaskanmu, lalu apa untungnya untukku, Manis?" Tanyanya sambil memainkan rambut cokelat sang perempuan. Ia tersenyum, tapi bukan senyuman yang menenangkan.

"Kau tahu, ayahku adalah seorang Perdana Menteri dan Pengusaha. Ia akan memberikanmu hadiah apapun yang kau inginkan! Apapun!" Jelas gadis itu dengan percaya diri.

Ya dia percaya bahwa orang itu akan tertarik dengan tawaran yang ia berikan. Tidak ada satupun orang yang berani menolak tawaran menggiurkan seperti itu.

"..." orang itu berhenti memainkan rambut cokelat milik sang gadis kemudian terdiam. Seolah mempertimbangkan tawaran tersebut.

" Kena kau!" tawanya dalam hati. Gadis itu masih tetap berpikir tawarannya berhasil. Orang itu berhenti memainkan rambut sang korban. Senyumannya semakin menyeramkan.

"Aku sudah memiliki hadiah yang kuinginkan."

"A-apa maksudmu?"

" Karena yang kuinginkan adalah..."seolah menjeda ucapannya, orang itu sambil mengeluarkan pedang tajam dari balik jubahnya.

"Tiidak kumohon jangan. Tolong! aku akan lakukan apapun yang kau mau." tidak ada harapan lagi. Sebentar lagi ia akan mati. Permohonannya tidak akan dikabulkan. Yang berdiri di hadapannya bukan lagi manusia. Tapi Iblis.

"Benarkah? Hm kalau begitu, sampaikan salamku pada seseorang di neraka. Mengerti?"pesannya pada gadis itu sambil tersenyum untuk menambah ketakutan pada diri calon korbannya.

"Tiiidakkkkk..." teriakan terakhir yang dikeluarkan oleh gadis itu ketika pedang sang pencabut menebas kepalanya.

Crash... Bruk

Tubuh itu terjatuh dan mengeluarkan banyak darah. Cipratan akibat tebasan mewarnai ruangan gelap itu. Ia tersenyum melihat hasil karyanya. "Indah" itulah yang ia pikirkan.

"Perempuan sepertimu memang pantas mati. Aku tidak sabar melihat reaksi pria tua sialan itu saat melihat hadiah ini." ucapnya sambil mengangkat kepala yang telah lepas dari tubuh sang perempuan dan menatapnya dengan pandangan kosong.

Ia kemudian menjilat darah yang menetes pada garis tebasan.

" Tch, darahmu pahit sama seperti sikap menyebalkanmu. Hm, lalu target selanjutnya adalah..." dia menjulurkan lidah untuk membuang darah yang ia jilat lalu berjalan menuju sebuah foto yang memperlihatkan gadis bermata biru tua sedang tersenyum.

Menyentuhnya kemudian mengeluarkan sebuah spidol merah.

Sret!

"Kau." gadis itu telah ditandai sebagai targetnya. Target yang akan ia buat menderita.

.

. Sementara itu di Bukit yang sunyi..

"Oh Tuhan, mata kirimu mengeluarkan darah lagi! Kita harus ke rumah sakit, Sakura!" ujar wanita bermantel coklat sambil membopong tubuh gadis berambut soft pink yang terus menutup mata kirinya. Berharap darah itu berhenti.

"Tenanglah, Ino! Aku baik-baik saja.." dia tahu gadis disampingnya panik. Dia hargai itu. Tapi, untuk saat ini biarkan dia konsentrasi untuk menyegel kembali mata kirinya. Ino mulai menjauh. Menjaga jarak di batas aman.

Cahaya kemerahan mulai muncul dari tangan Sakura. Matanya memejam perih. Sesekali dia menggigit bibirnya untuk menahan sakit. Ino hanya bisa menatapnya dalam diam. "Kenapa takdirmu harus seperti ini, Sakura."

20 menit kemudian, darah mulai berhenti tapi tidak dengan warna iris matanya. " Sial!" hanya itu yang bisa dia rutuki saat ini.

"Kenapa segelmu bisa terbuka lagi?" tanyanya sambil mendekat disaat Sakura melilitkan perban di mata kirinya kemudian menatap Ino.

"Tidak tahu..." jawabnya menggantung sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana. Matanya menatap tajam ke langit malam. Tangan yang kemudian mengepal. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu tragedi 10 tahun yang lalu bersiap terulang.

" Cepat atau lambat dia akan menemukanku."

.

.

Universitas Kazehaya, Tokyo

Musim semi di pagi hari disambut dengan para mahasiswa dan dosen yang memadati halaman bagian utara universitas. Memang tidak ada yang salah dengan keramaian seperti itu. Tapi pagi itu, papan pengumuman menjadi hal yang menarik untuk mereka.

"Kita belum selesai berduka atas kematian Konan- san, sekarang harus melihat berita kematian Tayuya! Katanya kepala Tayuya ditemukan menancap di ujung tombak patung kuda. Dan sekarang polisi masih mencari bagian tubuhnya. Ini benar-benar sadis! Bisa kau bayangkan itu!" gumam salah satu mahasiswa tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bukan hanya dia, tapi seluruh Jepang gempar pada kejadian ini.

Wajar jika kejadian ini mengejutkan Jepang. Belum selesai mereka berduka atas kematian, Konan Morimoto, putri kedua Politisi Demokrat, Ryo Morimoto. Kini mereka harus kembali berduka atas, Tayuya Sawamura, putri tunggal dari Menteri Keuangan, Hito Sawamura. Perempuan yang selalu dikenal ceria dan salah satu pujaan laki-laki, menjadi korban kedua pembunuhan sadis yang kini menghantui Jepang.

Tidak ada yang pernah tahu alasan dibalik pembunuhan sadis pada sang primadona. Yang mereka tahu hanyalah kalimat bertuliskan dengan tinta yang terbuat dari darah pada kertas yang terselip pada pita kuning pada setiap korban.

"Tubuhku telah terbakar oleh Neraka. Jiwa kotorku disucikan pada Sang Api. Kepalaku akan menjadi saksi kembalinya, Sang Tragedi dari Neraka"

Dan ketakutan seolah menyelimuti segalanya. Memunculkan dugaan "Bisa saja esok adalah aku, target selanjutnya. Darahku akan mengalir ke tanah, teriakanku akan menggema parau di udara. Mataku menggelap. Tidak ada harapan"

.

.

To Be Continued