Hidup dengan Alpha
Haikyuu by furudate haruichi
Atsunoya fanfiction
Omegaverse
Warning! Contains rape, nonconsent, mpreg
Catatan Aram : Fanfiksi ini tidak ada hubungannya dengan cerita di Haikyuu.
WARNING! Chapter ini mengandung rape. Bagi yang tidak suka silahkan diskip.
Nishinoya membuka matanya. Ia merasakan ada sesuatu di lehernya. Alangkah terkejutnya ketika ia menemukan Miya Atsumu sedang mengecup, menggigit dan menyesap lehernya sampai meninggalkan bekas. Ia segera mendorong kepala lelaki itu dengan keras.
"KAU SUDAH GILA YA?" Teriakan Nishinoya memenuhi ruangan tersebut.
Lelaki kecil itu baru sadar bahwa ia berada di ruangan yang tidak ia kenali. Ia panik dan ingin segera ke luar dari tempat ini, namun ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk menggerakan tubuhnya.
"Kau sedang heat kan? Biarkan aku membantumu," Atsumu kembali mendekat ke arah Nishinoya.
Tangan Atsumu menahan kedua tangan Nishinoya agar tidak memberontak. Ia segera mencium bibir lelaki di bawahnya dan juga meninggalkan tanda-tanda di lehernya.
"Hei, baumu manis sekali," Atsumu menenggelamkan kepalanya di leher Nishinoya.
Ia menghirup aroma Nishinoya dalam-dalam. Kenapa? Kenapa ia bisa heat di saat yang tidak tepat? Lelaki kecil itu menutup matanya dengan kuat berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk.
"Buka matamu. Lihat aku!"
Nishinoya membuka matanya. Ia melihat mata Atsumu berbeda dengan yang ia lihat di pertandingan. Hari ini ia seperti dirasuki sesuatu. Benar, sekarang ini ia sedang dirasuki nafsu. Jika ia menyadarkannya, Atsumu pasti akan berhenti kan?
Pikirannya memang ingin menyadarkan Sang Alpha. Tetapi tubuhnya malah menikmati apa yang Atsumu lakukan ke padanya. Bahkan kini ia mulai melingkarkan tangannya pada leher Alpha itu dan membalas ciumannya. Dirinya benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu.
Atsumu memegang pinggang Nishinoya dan mengangkat tubuhnya. Kini omega itu duduk di pangkuan Sang Alpha, kakinya melilit pinggangnya.
"Mulai malam ini, kau adalah omegaku."
Kepala Atsumu bergerak ke belakang leher Sang Omega. Nishinoya merasakan gigi Atsumu berada di tengkuknya. Gila, jika lelaki itu menggigit tengkuknya ketika dia dalam masa heat mereka akan jadi mate.
"Jangan," Nishinoya menjambak rambut Atsumu agar menyingkir dari daerah tengkuknya.
Namun kekuatan dirinya tidak sebanding dengan seorang Alpha yang sedang tidak sadar. Tangan kanan Atsumu memegang belakang kepala Nishinoya dan tangan kirinya memegang punggungnya. Gigi Atsumu mulai menancap di kulit Nishinoya.
"AAAARHH!"
Nishinoya berteriak dengan keras. Tangannya semakin menjambak rambut Atsumu agar menghentikan gigitannya. Ia merasakan ada darah mengalir.
"Sniff.. sniff.."
Isakan tangis Nishinoya membuat Atsumu melepaskan gigitannya. Ia melepaskan tangannya dari omega itu sehingga ia terjatuh ke kasur yang empuk.
Kedua tangan Nishinoya menutupi matanya. Atsumu menatap omeganya yang sedang menangis. Memikirkan bahwa lelaki di bawahnya kini menjadi omega miliknya membuat sesuatu dalam dirinya bersemangat. Malam ini ia benar-benar sudah dikuasai oleh insting Alphanya.
Sinar matahari membangunkan Nishinoya. Ia merasakan ada tangan melingkar di pinggangnya. Tanpa melihatnya pun ia sudah tahu itu siapa. Matanya menerawang ke langit-langit di kamar itu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya?
Nishinoya melepaskan pelukan Atsumu dari dirinya pelan-pelan. Ia mencoba merubah posisinya menjadi duduk. Seluruh badannya terasa sakit sekali. Ia memegang tengkuknya. Ada bekas gigitan di sana. Ia juga menyadari bahwa seluruh tubuhnya dipenuhi hickey.
'Alpha brengsek!'
Nishinoya menahan umpatannya agar tidak keluar dari mulutnya. Keadaan akan semakin kacau jika Alpha itu bangun. Ia harus segera melarikan dari tempat ini.
Kakinya menapak ke lantai dan tangannya sibuk mencari semua pakaiannya yang terlempar ke segala arah. Ia berjalan dengan tertatih-tatih.
Setelah memakai semua pakaiannya, Nishinoya pergi dari tempat itu dengan senyap.
"Yuu, kau sudah mau pergi ke Tokyo lagi?"
Nishinoya menghentikan langkahnya ketika Sang Kakek bertanya. Untung saja tidak ada keluarganya yang mengetahui bahwa di sudah menjadi mate seorang Alpha. Bisa-bisa keluarganya murka.
Saat ini pun ia memakai syal agar menutupi bekas gigitan dan hickey yang ditinggalkan Atsumu.
"I-iya, tiba-tiba ada project besar yang harus aku kerjakan."
Rasa bersalah memenuhi hatinya. Tetapi ia juga tidak mau menceritakan kejadian semalam. Bisa-bisa kakeknya ini terkena serangan jantung.
"Baiklah. Tapi kenapa kau memakai syal? Sekarang kan bukan musim dingin," kakek Nishinoya memicingkan matanya curiga.
"Sekarang ini sedang tren fashion seperti ini," bual Nishinoya. "Aku pergi dulu ya, takut ketinggalan kereta."
Nishinoya langsung pamit. Ia tidak ingin diberi pertanyaan lagi oleh kakeknya yang mempunyai kepekaan super itu.
"Ah, aku harus mengabari Morisuke."
Nishinoya mengambil ponsel di sakunya. Ia segera menekan nomor temannya itu. Tidak perlu waktu lama agar temannya itu mengangkat telepon nya.
"Yuu?" Terdengar suara Yaku yang baru bangun tidur.
"Morisuke, aku ada project di luar kota untuk waktu yang lama. Jadi kau tidak perlu mencariku ya," Nishinoya berbohong lagi.
"Tiba-tiba? Hm, baiklah. Hati-hati di sana ya? Jangan lupa minum suppresant dan pakai scent blockermu!"
Nishinoya mengiyakan Yaku dan segera menutup panggilannya. Sebenarnya ia tidak ingin berbohong ke pada teman dekatnya itu. Tetapi jika ia menceritakan segalanya, temannya itu tidak akan tinggal diam. Ia akan pergi dan memarahi Atsumu. Dan Alpha itu akan mengetahui keberadaanya.
Bukannya ia takut pada Atsumu, namun ia tidak ingin dirinya ini mempunyai label 'omega milik Atsumu'. Memikirkan bahwa dirinya menjadi milik seseorang membuat dirinya kesal. Ia adalah milik dirinya sendiri.
Dan ia sangat yakin bahwa Miya Atsumu itu tidak akan membiarkannya bebas. Hidupnya akan seperti burung dalam sangkar. Jadi lebih baik ia melarikan darinya. Toh, ia tidak akan mati walaupun hidup berjauhan dengan matenya.
Atsumu mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa dia melakukan hal yang tidak bermoral semalam? Ia tidak bisa menyalahkan insting Alphanya. Dirinya membiarkan insting Alphanya keluar dengan bebas. Omega itu pasti sangat ketakutan.
"Bahkan aku tidak mengetahui namanya," Ucapnya.
Rrr.. rrr..
Atsumu mengambil ponselnya yang bergetar dan melihat nama yang tertera di layarnya.
'Mai'
Ada apa managernya ini menelpon sepagi ini? Ia tidak merasa membuat masalah. Ah- kecuali yang semalam. Tetapi kan tidak ada orang yang tahu.
"Atsumu, cepat kemasi barangmu! Malam ini kita pulang ke Hyogo."
Belum sempat Atsumu membalas perkataan managernya, panggilan sudah diakhiri. Wah, managernya ini tidak suka basa-basi sekali.
Bagaimana ini? Ia sama sekali tidak mempunyai waktu untuk mencari omeganya. Dia bukan Alpha brengsek yang akan bersikap tidak peduli terhadap matenya.
Atsumu segera bangkit dari kasurnya dan bersiap untuk pergi ke luar. Sebaiknya ia mencari Yaku terlebih dahulu. Lelaki kecil itu pasti tahu di mana omeganya.
Bersambung
