Hidup dengan Alpha

Haikyuu by Furudate Haruichi

AtsuNoya

Warning!

OOC


Sudah lima hari sejak perjanjian Nishinoya dan Atsumu dilakukan. Selain itu, dirinya masih di Hyogo. Itu artinya jarak antara dirinya dan Nishinoya semakin besar. Dan kemungkinan Nishinoya akan 'gelisah' karena jauh dari Alpha-nya semakin besar.

"Tetapi bagaimana kalau Nishinoya akan tenang-tenang saja sampai dua hari ke depan? Apa itu artinya aku kalah?" Gumam Atsumu.

Ia sangat kesal. Harga dirinya sebagai Alpha serasa diinjak-injak. Walaupun malam itu memang suatu hal yang tidak bisa dibenarkan. Tetapi ketika ia menggigit tengkuk Nishinoya dan menjadikan nya mate itu ia sedang dikendalikan insting Alpha-nya. Ia secara tidak sengaja menjadikan omega itu mate nya.

"..hah, andai saja aku bisa menahan insting Alphaku," Atsumu mengusap wajahnya.

"Sebaiknya, aku segera pergi ke Tokyo."


Di sinilah Nishinoya. Sendirian di Apartemen nya karena Yaku sedang latihan bersama tim nya. Dan sekarang adalah hari libur sehingga ia tidak mempunyai kesibukan apapun.

"Aku bisa mati karena bosan," Ucapnya sembari mengobrak-abrik rak dekat TV.

Ia menghela napas kasar. Tidak ada sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bosan nya di sini. Ia juga malas ke luar rumah. Nanti malah bertemu dengan Atsumu secara tidak sengaja.

Mengingat Alpha itu malah membuatnya kesal. Seenaknya ia ingin dirinya tinggal bersama Alpha sialan itu. Ia ini adalah seorang omega yang suka kebebasan.

"Lagipula dibandingkan lelaki, aku lebih suka perempuan. Maksudku, perempuan itu mempunyai dada dan bokong yang besar!" Ucap Nishinoya sembari merentangkan tangan nya saat menyebut kata 'besar'.

"Jika aku memang harus hidup dengan Alpha, lebih baik jika Alpha itu adalah seorang wanita! Bayangkan, aku bisa memeluknya sambil menyender di dadanya yang empuk itu!" Nishinoya antusias.

Ya, Nishinoya bukanlah seorang omega polos. Sedari dulu ia selalu tertarik dengan perempuan. Walaupun ia tidak terlalu suka Alpha, tetapi pengecualian untuk Alpha wanita. Tetapi kalau boleh jujur ia lebih suka beta.

"Ah, aku jadi teringat dengan beta yang cantik saat aku SMA," Nishinoya memeluk bantal sofa nya dengan erat.

Memikirkan perempuan membuat perasaan nya membaik. Perempuan memang hebat!

"Aneh, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing."

Nishinoya memegangi kepalanya yang terasa pusing. Penglihatan nya agak mengabur. Keadaan disekitarnya terlihat berputar-putar.

"Mungkin aku kurang istirahat," Ucapnya.

Ia pun merebahkan dirinya di Sofa. Sebelah tangannya memeluk bantal dan yang sebelah ia simpan di atas kepala. Namun ia sama sekali tidak bisa tidur.

Ia mengelus tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Seluruh badannya terasa lemas. Gawat! Ia harus segera mengambil obat yang diberikan Kenma.

Dengan kaki yang lemas, Nishinoya memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya ke kamar. Ia mengambil botol obat yang ada di atas nakas. Dengan cepat ia menelan satu pil. Karena dosisnya cukup kuat, maka dianjurkan untuk hanya memakan satu pil saja.

"T-tolong.."

Kakinya sangat lemas sampai ia tidak bisa berdiri. Ia memeluk lututnya dengan erat. Takut. Itu yang ia rasakan.

"T-tolong.. Miya Atsumu.."


Yaku bersenandung dengan senang ketika di perjalanan pulang. Hari ini ia membeli daging untuk makan malam. Yuu-nya pasti senang. Ia pun segera menekan pin Apartemen nya.

"Yuu, aku beli daging!" Ucapnya sembari membuka sepatunya dan menyimpan nya di rak.

Aneh. Biasanya Nishinoya akan berlari dengan semangat ketika mendengar ia menekan pin. Namun, sekarang ia tidak melihat anak itu di sudut manapun.

"Yuu?"

Yaku membuka pintu kamar Nishinoya dengan pelan. Ia melihat Nishinoya bergumul di dalam selimutnya. Ia tersenyum melihat pemandangan menggemaskan ini.

"Kau sedang apa Yuu?" Yaku mencoba menyibak selimut itu.

"Mana Alphaku?"

Mata Yaku melebar melihat pemandangan di depan nya. Nishinoya terlihat kacau. Terlihat bekas air mata yang sudah kering di sekitar pipinya. Lalu badan nya gemetaran dengan kencang.

"Yuu! Kau kenapa?" Yaku mengguncang badan Nishinoya.

"Mana Alphaku? Kenapa dia tidak ada di sini? Kau siapa?" Nishinoya terus saja meracau.

Yaku mulai menangis. Inilah yang ia khawatirkan selama ini. Ia berusaha memeluk Nishinoya, namun lelaki itu langsung berlari ke bawah meja. Ia memegang lututnya dengan badan nya masih gemetaran.

Yaku menghampiri Nishinoya lagi. Ia berjongkok dan mencoba menyentuh bahu Nishinoya. Namun, tangan nya langsung ditepis olehnya.

"Mana Alphaku?" Nishinoya mulai meracau lagi.

Yaku segera menelpon Atsumu dengan panik. Tangan nya gemetaran. Baru kali ini ia melihat Nishinoya seperti ini.

"Yaku? Ada ap-"

"Miya, Yuu bersikap aneh. Bisakah kau datang ke sini?" Tanya Yaku dengan suara yang gemetar.

"Iya, aku akan segera ke sana."

Atsumu menutup panggilan nya. Sepertinya ia langsung bersiap datang ke apartemen mereka.

Yaku menatap Nishinoya yang bersembunyi di bawah meja dengan sedih. Di saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia juga tidak mengerti kenapa teman nya itu bersikap seperti itu.

Sepuluh menit kemudian terdengar suara bel dibunyikan. Yaku langsung berlari dan membuka kan pintu untuk Atsumu.

"Di mana dia?" Tanya Atsumu dengan napas yang terengah-engah.

"Di kamar nya."

Yaku segera mengantarkan Atsumu ke kamar Nishinoya. Ia menunjukan keberadaan teman nya itu yang sedang bersembunyi di bawah meja.

Atsumu menghampiri Nishinoya. Ia berjongkok dan mengulurkan tangan nya.

"Hei, aku sudah ada di sini," Ucapnya dengan halus.

Nishinoya memperlihatkan wajahnya yang sedari tadi ditenggelamkan ke lututnya. Ia menatap Atsumu dengan senang. Tangan nya membalas uluran tangan Atsumu.

"Dia lebih tenang dari tadi," Ucap Yaku melihat Nishinoya yang tertidur di pangkuan Atsumu.

Kepalanya menyender di dada bidang Atsumu dan kaki nya pun melingkar di pinggang Atsumu. Selain itu, Atsumu juga memeluk badan kecilnya agar ia merasa aman.

"Kejadian seperti ini tidak akan terjadi hanya sekali," Ucap Atsumu.

"Kau benar. Sebaiknya Yuu memang tinggal denganmu," Yaku menimpali ucapan Atsumu.

Keheningan menyelimuti mereka. Hanya terdengar dengkuran halus yang berasal dari Nishinoya. Matanya tertutup dengan damai.

"Kira-kira kapan ia bisa kembali seperti biasa?" Tanya Yaku sembari mengusap kepala Nishinoya.

"Setelah merasa aman, ia hanya butuh waktu setengah jam untuk kembali seperti semula."

Yaku mengangguk kan kepalanya tanda bahwa ia mengerti. Ia menjauhkan tangan nya dari Nishinoya.

"Tolong kemasi barang-barang nya," Ucap Atsumu tiba-tiba.

Yaku hanya mengeluarkan suara 'hah?' Dengan ekpresi kebingungan.

"Kau bilang seharusnya dia tinggal denganku. Lebih cepat lebih baik, bukan?"

"Ah, iya. Aku akan mengemasi barang-barangnya," Ucap Yaku dengan berat hati.

Ia segera pergi ke kamar Nishinoya dan mulai mengemasi barang-barangnya.

Sepeninggalan Yaku, Atsumu mulai memperhatikan orang yang ada di pangkuan nya. Wajahnya yang sedang tertidur terlihat damai tanpa beban.

"Sial! Dia imut sekali jika sedang tidur," gumam nya.

"Nggh~"

Nishinoya mengerang. Dahinya berkerut tidak nyaman. Atsumu pun memeluknya lebih erat agar omega itu bisa merasa aman dengan mencium feromon nya. Kerutan di dahi Nishinoya sudah menghilang. Ekspresinya pun sudah lebih nyaman.

Diam-diam Atsumu tersenyum melihat hal itu.


Setelah adegan perpisahan yang dramatis bersama Yaku, kini Nishinoya sedang dalam perjalanan menuju apartemen Atsumu.

Ia sudah kembali seperti semula. Ia juga mengingat apa yang menimpanya beberapa jam yang lalu. Tetapi ini aneh! Padahal dirinya sudah meminum obat penenang itu. Kenapa tidak berpengaruh? Saat di tempat Kenma obat itu berguna kok.

"Hei," Panggil Atsumu.

"Hm?"

"Yaku bilang kau pernah berjanji pada seorang Alpha untuk menjadi mate. Lalu bagaimana jika dia tiba-tiba menagih janji itu?" Tanya Atsumu yang sedang menyetir.

Nishinoya menaikan sebelah alisnya. Alpha? Memangnya dia pernah berjanji seperti itu ya?

"Memangnya aku pernah berjanji seperti itu ya?"

Atsumu menatap Nishinoya tidak percaya. Dasar orang tidak punya hati! Eh, dia juga tidak punya sih. Tetapi janji seperti itu kan sangat penting untuk diingat. Bisa-bisanya dia melupakan nya.

"Wah, ternyata kau orang yang tidak berperikeAlphaan."

"Memang, aku kan omega," Jawab Nishinoya dengan santai.

"Kau tidak ingat? Katanya Alpha itu adik kelasmu saat SMA," Atsumu mencoba mengingatkan nya.

Nishinoya mencoba mengingat-ingat. Hei, empat tahun sudah berlalu sejak masa SMA nya. Bagaimana dia bisa mengingat itu?

"Oh! Aku ingat. Ya, memang ada. Untuk seorang Alpha dia baik," Nishinoya akhirnya ingat.

"Lalu bagaimana?"

"Kalau dia tiba-tiba datang? Ya bagaimana? Aku kan sudah jadi matemu. Memangnya tanda mate bisa dihapus," Ucap Nishinoya kesal.

Tangan nya terlipat di dada. Jangan lupakan bibirnya yang mengerucut dan alisnya yang saling bertautan. Nishinoya seratus persen sedang dalam mode kesal. Entah kenapa di mata Atsumu itu terlihat menggemaskan.

"Bibirmu kenapa maju seperti itu? Ingin dicium?" Canda Atsumu.

"Cium saja sana pantat bayi!" Ucap Nishinoya dengan kesal.

Atsumu tertawa melihat Nishinoya yang tidak berhenti menggerutu. Padahal mereka ini orang asing bagi satu sama lain. Dan pertemuan mereka juga tidak terlalu bagus. Malah bisa dibilang sangat buruk. Tetapi entah kenapa sama sekali tidak ada kecanggungan di antara mereka.

Tbc