the one and only

dia hanyalah satu satunya dalam hidup, yang tak akan pernah ku sia-siakan

dia wanita pertama yang selalu memperhatikanku, selalu memujiku, selalu mencintaiku apapun keadaanku

dia wanita pertama yang membuatku tersanjung atas kelembutan dan kehebatannya

dia juga wanita yang selalu memerah merona ketika bertemu denganku, kapanpun itu

namun lambat laun, dia tak lagi begitu

padahal menurutku rona merah dipipinya itu terlihat begitu manis dan lucu

hanya ada di beberapa waktu kadang kala muncul

dan,

aku menyukai itu

"okaeri"

"hehe tadaima, hime"

"ah, apa kau ingin makan dulu atau mandi dulu?"

"aku akan makan dulu saja, perutku sangat lapar"

"baiklah, masuklah dulu aku akan menghangatkan sayurnya"

namun sebelum itu,

aku menahan tangannya dan menariknya pelan hingga tubuhnya mendekat padaku

kutatap dia lembut

kuperhatikan setiap jengkal dari wajahnya

alis, mata, hidung, pipi, bibir

semuanya terlihat sangat menyenangkan dilihat

aku sangat menyukai semua dari dia

lalu dengan masih posisi yang sama, aku mendekat padanya sedikit menunduk karena tinggi tubuh kami yang sedikit berbeda

kutarik pinggang rampingnya agar lebih mendekat padaku, lalu kupeluk dia lembut

mataku terfokus pada satu titik yang benar-benar membuat candu semenjak kunikahi dia

cup

tak ada gairah disana, hanya kecupan sekilas tanda rindu

"eh"

setelahnya sedikit kujauhkan wajahku darinya

ujung hidung kami masih saling bersentuhan

kini kulihat dengan jelas rona merah samar dikedua pipinya,

ah, itu yang kurindukan

kusunggingkan senyumku padanya

"aku merindukan mu"

ia tersenyum padaku

tangan nya yang terasa begitu lembut menyapu indah disebelah pipiku

hangat sekali

ia membelainya lama, sambil menatap dalam mataku

kami saling bertatapan, menyalurkan kasih sayang dari kegiatan intim tersebut

"aku juga rindu padamu"

aku terkekeh mendengarnya

ternyata tak cuma aku disini yang tersiksa, bahkan dia juga

ah, aku teringat sesuatu sekarang

hampir saja ku melupakannya,

padahal dari perjalan misi 5 hari 4 malam kuselalu terpikir akan bagaimana nantinya dia

apakah dia baik-baik saja

tanganku yang sedari tadi bertengger dipinggang rampingnya bergeser sedikit kearah perutnya

lalu aku menunduk hingga kini wajahku tepat berada didepan perut wanitaku yang kini mulai terlihat perkembangannya

aku tersenyum puas melihat keadaannya

dengan lembut kuusap perut yang mulai membesar itu

lalu kukecup sayang

"tou-chan pulang sayang"

lalu kudongakkan kepalaku untuk melihat wajah cantik istriku

ia melihatku dengan lembut sambil terus tersenyum padaku

hal itu benar-benar membuatku sangat terenyuh

hatiku terasa sangat hangat oleh perlakuannya

aku tersenyum padanya juga

"okaeri tou-chan~"

itu suara Hinata, dengan sedikit melengkungkan suaranya menirukan suara anak kecil

ah, bahagia sekali rasanya

jadi seperti ini rasanya rumah

rumah yang kata orang-orang terasa hangat

yang kata banyak orang adalah tempat berlindung

yang kata banyak orang adalah tempat bernaung

yang kata banyak orang adalah tempat penuh dengan kasih sayang

yang selama ini Naruto tak pernah merasakkannya

bertahun-tahun dirinya berada dirumah dingin tanpa penghuni lain selain dirinya dan para tumpukan sampah

kini ia bisa merasakannya

ia pun berjanji akan membuat rumah yang hangat dan penuh kasih sayang untuk anak-anak dan istrinya

apapun itu bahkan jika nyawa taruhannya, itu tak masalah

yang terpenting adalah keluarganya tetap merasa nyaman dan merasa memiliki sosok ayah yang bisa diandalkan

terutama pada wanita didepannya ini

wanita yang paling penting didalam hidupnya setelah sang ibunda yang telah lama meninggalkannya jauh sebelum ia bertemu dengannya

wanita paling tangguh yang pernah ia temui dalam hidupnya

wanita yang paling ia cintai

ia pasti akan melindunginya

pasti,

Naruto berjanji

hinggat akhir hayat nanti