Attention

"BERHENTI MENGGANGGU KU MALFOY!" Teriak Harry sambil menatap tajam Draco yang menyeringai menatapnya.

Draco melangkahkan kakinya mendekat ke musuh 'kesayangannya' sehingga jarak mereka cukup dekat, Draco menundukan kepalanya untuk menatap Harry, "aku tidak mengganggumu Potty_" Draco menjeda ucapannya sebentar untuk melihat ekspresi Harry yang tampak siap untuk menonjoknya saat mendengar panggilannya tadi, "aku hanya ingin perhatianmu sepenuhnya untukku," lanjutnya tepat ditelinga Harry.

Draco tersenyum puas saat melihat muka musuhnya memerah.

"A-apa maksudmu?" Dalam hati Harry merutuki nada bicaranya yang terdengar bergetar.

"Kau masih tidak mengerti maksudku Potter?" Draco menarik pinggang Harry sehingga tubuh mereka menempel, Draco menarik lembut dagu Harry sehingga dia dapat melihat manik emerald yang menjadi objek ketertarikannya sejak pertemuan mereka di tempat Madam Malkin's.

Harry berharap Malfoy junior yang sedang menatapnya ini tidak mendengar detak jantungnya yang berdetak kencang. Dia tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak kencang setiap dia berdekatan dengan pemuda yang memeluknya atau saat dia tidak sengaja bersitatap dengan manik silver agak kebiru-biru an milik pemuda Malfoy junior ini.

Terlalu larut dalam lamunannya Harry dikejutkan ketika bibir musuhnya mencium bibirnya. Dan anehnya kenapa dia mengalungkan tangannya di leher pemuda Malfoy itu dan membalas ciumannya? Bukankah harusnya dia menolak? Tapi nyatanya dia suka saat Malfoy junior menciumnya dan mengobrak-abrik mulut nya, Harry suka saat pemuda Malfoy ini mendominasi nya.

Draco tersenyum di sela ciumannya. Dia sebenarnya agak terkejut saat Harry mengalungkan tangannya dan membalas ciumannya.

Draco mengeratkan pelukannya pada pinggang Harry. Dia tidak akan melepaskan Harry setelah ini. Draco pastikan malam ini Potter junior akan menjadi miliknya.

Break

"Apa yang ingin kau katakan?" Harry menatap dingin pria didepan nya.

Draco sedikit tersentak melihat manik emerald yang biasanya menampakan binar cahaya sekarang tampak kosong dan menatapnya dingin.

"Harry kau tahu bukan hubungan kita sudah berjalan 7 tahun?" Tanya Draco.

"Ya, aku tahu. Jadi katakan kepadaku alasanmu mengajakku kesini setelah 2 bulan tanpa kabar?" Harry menatap tajam pemuda di depannya.

"Kau tahu bukan kalau setiap hubungan pasti akan berada dalam fase dimana mereka jengah dan_"

"Lelah? Kau mau mengatakan kepadaku kalau kau lelah mempertahankan hubungan kita bukan?" Potong Harry santai tanpa peduli dengan raut terkejut pemuda pirang di hadapan nya.

"Yeah, kau tahu bertahan bertahun-tahun itu melelahkan. Terkadang kita juga istirahat." Jawab Draco dengan nada pelan di akhir kalimat.

Harry menaikan sebelah alisnya. Dia tampak tidak puas dengan jawaban pemuda Malfoy didepan nya, "Jadi kau ingin kita putus begitu?" Tebak Harry yang membuat Draco tersentak kecil.

Draco gelagapan, "Tidak, aku tidak ingin kita putus. Aku sangat mencintaimu dan kau tahu itu. Tapi, kupikir ini agak melelahkan jadi aku ingin kita break untuk sementara."

"Okay, kita break mulai hari ini," jawab Harry tenang seolah tidak peduli tatapan tidak percaya yang di layangkan Draco untuknya.

"Okay?" Beo Draco, dia tidak percaya semudah itu Harry mengiyakan nya.

"Yup." Harry tersenyum manis ke arah Draco, "kau lelah bukan mempertahankan hubungan kita? Tapi kau juga tidak mau melepaskanku, itu menyakitkan bagiku karna kau tidak ingin melepasku sedangkan kau saja sudah lelah untuk mempertahankan hubungan kita. Jadi, dengan kita break mungkin kau akan tahu keputusan apa yang harus kau ambil." Intonasi nya tenang seolah menunjukan kalau dia tidak apa-apa.

Draco terdiam kaku di tempatnya. Hatinya terasa perih saat manik emerald Harry menatapnya kosong.

"3 bulan. Kita break 3 bulan, dan selama itu pikirkan apa pilihanmu. Aku atau Astoria, gadis yang dijodohkan denganmu." Harry melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah pemuda yang lebih tinggi dan memcium pipinya.

Harry tersenyum melihat ekspresi terkejut Draco, "aku pergi. sampai jumpa 3 bulan lagi, Malfoy."

Malfoy?

Draco terdiam menatap punggung Harry yang semakin menghilang.

"Ya, sampai jumpa 3 bulan lagi_" langkah kakinya ia bawa pergi dari tempatnya tadi,

"Love" lanjut Draco dengan nada pelan.

Cooming out

"Harry, aku iri padamu." Ungkap Hermione ke arah Harry yang sibuk memakan coklat di salah satu sofa di ruang rekreasi Gryffindor.

Harry mengalihkan pandangannya ke arah Hermione, "iri kenapa?" Tanyanya dengan kepala yang dimiringkan sedikit, yang mana hampir membuat Hermione khilaf menyerang sahabatnya.

"Kau beruntung mempunyai kekasih yang romantis." Ujarnya dengan sungguh-sungguh.

Harry mengerutkan dahinya, "maksudmu?"

"Dari cincin dan kalung yang kau pakai aku menyakini bahwa kekasihmu adalah seorang pria yang manis terhadap pasangannya. Andai Ron seperti itu" Jawab Hermione, dia tahu kalau sahabatnya ini memiliki kekasih laki-laki. Tapi dia tidak masalah akan hal itu, asal Harry bahagia dia juga bahagia. Lagipula selama ini Hermione selalu berpikir kalau Harry itu lebih cocok dilindungi daripada melindungi, mengingat bahwa masalah sangat menyukai sahabatnya.

Harry terkekeh mendengarnya, "aku malah iri kepadamu. Kau dan Ron bisa bebas bermesraan di depan umum," ujarnya dengan jujur.

"Memangnya apa alasan kalian tidak mengumbar kemesraan kalian di publik? Lagipula disini sudah sudah tidak asing dengan pasangan sesama jenis."

"Kau tidak mengerti Mione," Harry kembali fokus pada coklat yang ada di pangkuannya.

"Kalau begitu buat aku mengerti." Desak Hermione.

Harry menatap Hermione sekilas dan langsung kembali fokus pada kumpulan coklat nya, "jika aku cooming out ke publik bisa-bisa mereka jantungan karna saking terkejutnya."

Oke, Hermione mendadak bodoh karna tidak mengerti apa yang dimaksud sahabatnya ini, "memangnya siapa kekasihmu?"

Harry menatap Hermione, dapat dia lihat kalau sahabatnya ini sangat penasaran, "Malfoy, Draco Malfoy," jawabnya singkat.

"BLOODY HELL!" Bukan, ini bukan Hermione. Melainkan Ron yang baru saja masuk ke ruang rekreasi dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

"Mate, katakan padaku bahwa itu tidak benar. Aku memang tidak masalah pada orientasi seksual mu. Tapi aku masih tidak terima bahwa kau dan si Malfoy junior punya hubungan." Ron menatap Harry horor. Dia rasanya mau pingsan saja, bagaimana mungkin sahabat manisnya ini menjadi kekasih dari seorang Malfoy. Dia khawatir bagaimana jika si Malfoy itu ternyata sudah mempolosi sahabatnya ini.

"Aku tidak berbohong Ron, aku dan Draco memang punya hubungan." Jawab Harry dengan nada tenang.

"Oh, astaga" Ron terduduk lemas mendengarnya. Oh si Malfoy junior itu pasti sudah menodai bayinya.

"Tenanglah Ron. Ku rasa Malfoy tidak seburuk itu." Ujar Hermione tenang. Dia sebenarnya sudah curiga jika Malfoy adalah kekasih Harry karna beberapa kali dia tidak sengaja melihat cincin yang dipakai oleh Malfoy junior itu sangat mirip dengan milik sahabatnya. Tapi mengingat jika sahabatnya dan Malfoy junior setiap bertemu pasti bertengkar membuat dia ragu jika mereka punya hubungan.

"TENANG?" Tanya Ron dengan berteriak yang dibalas anggukan oleh kekasihnya, "BAGAIMANA AKU BISA TENANG MIONE. SI MAFOY SIALAN ITU SUDAH MEREBUT BAYI KITA." Ujar Ron dengan penuh dramatis.

Harry dan Hermione memutar bola matanya malas melihat tingkah Ron yang dramatis.

"Aku bukan bayi, Ron. Berhentilah menganggap aku bayi. Kita bahkan seumuran." Bantah Harry dengan bibir yang mencebik kesal. Dia benci dianggap bayi oleh orang-orang karna tubuh dia yang mungil dan wajah nya yang imut seperti kucing yang minta dipungut.

"Lihat!" Ron menunjuk muka Harry, "kau memintaku supaya tidak menganggap mu bayi tapi tingkah mu itu membuat orang ingin membayikan mu." Harry menatap tajam ke arah Ron mendengarnya.

Hermione mengangguk setuju dengan ucapan kekasihnya, "kali ini aku setuju dengan Ron. Kau tidak bisa membuat kami berhenti menganggap mu bayi Harry. Kau terlalu imut." Ujar Hermione yang semakin membuat Harry mencak-mencak di tempatnya.

"Sudahlah aku mau pergi saja, kalian menyebalkan." Harry melangkah pergi meninggalkan ruang rekreasi tanpa mempedulikan pasangan RonMione yang menertawakan nya.

Harry terlalu kesal pada dua sahabatnya sehinggga dia tidak menyadari kemana kakinya melangkah.

Harry menghentikan langkahnya ketika sampai di Danau Hitam. Dan dapat ia lihat kekasihnya sedang duduk bersandar di pohon yang berada di tepi danau.

Senyum Harry merekah, dengan cepat dia lari dan langsung melompat ke pangkuan Draco dan membenamkan wajah nya di leher kekasihnya, "Dray~ i miss you" pekik Harry sambil memeluk erat kekasihnya.

Draco yang tadinya sibuk membaca buku langsung terkejut saat kekasih mungilnya ini entah datang dari mana tiba-tiba duduk di pangkuannya, dan dengan refleks dia memeluk pinggang Harry, mencegah supaya kekasihnya tidak terjungkal kebelakang.

"Ada apa? Kenapa kau keluar asrama sendirian? Dimana ke dua orang tua asuhmu itu, Love? Bukankah mereka selalu mengikutimu, jadi dimana mereka sekarang?" Tanya Draco yang terkesan seperti sindiran bagi Harry. Tapi, toh yang diucapkan oleh Draco memang benar. Ron dan Hermione sudah seperti orang tua Harry, mereka selalu memastikan Harry selalu berada di dekat mereka seolah Harry adalah bayi yang harus dijaga dan tidak boleh jauh dari orang tuanya. Dan hal itu pula membuat Draco sedikit kesal pada pasangan itu, dia jadi kesusahan untuk berduaan dengan kekasihnya karna pasangan itu akan berada di dekat Harry.

"Aku kesal pada mereka." Adu Harry, oh lihatlah ini pahlawan sihir kita terlihat seperti anak kucing ketika mengadu kekasihnya dengan bibir yang mencebik kesal.

Draco mencium gemas kedua pipi pemuda yang ada di pangkuannya, "memangnya apa yang membuatmu kesal terhadap mereka?"

Harry langsung menceritakan semua hal yang dia dan ke dua sahabatnya bicarakan mulai dari awal perbincangan nya dengan Hermione.

Draco yang tahu pokok masalahnya terkekeh geli. Kekasihnya ini sama sekali tidak suka diperlakukan seperti bayi meskipun visual dan tingkahnya selalu sukses membuat orang disekitarnya gemas ingin membayikan nya.

"Well, sebenarnya aku setuju dengan perkataan Weasley dan Granger. Kau sangat manis, love. Sehingga membuat orang tak tahan melihat kemanisanmu." Draco meringis saat Harry memukul bagian belakang kepalanya.

"Kau sama saja dengan mereka," Harry mendengus kesal saat kekasihnya terkekeh kecil.

"Love"

"Apa?"

"Menurutmu apa lebih baik kita cooming out saja? Dengan begitu kita tidak harus bersusah payah untuk sekedar bertemu." Ungkap Draco, jujur Draco sangat ingin mempublikasikan hubungannya dengan Harry karna dengan itu dia bisa dengan bebas bermesraan dengan Heir Potter ini.

Harry menatap iris abu-abu kebiruan milik Draco, "kalau menurutmu itu adalah yang terbaik aku ikut saja." Jawabnya dan melanjutkan kegiatannya tadi -menggigiti kancing atas kemeja Draco-.

Draco tersenyum senang, setelah mendengar jawaban Harry dia semakin yakin akan membokar hubungannya dengan Harry di hadapan seluruh murid Hogwarts.

Date

Seluruh penghuni Hogwarts tahu jika Draco Malfoy dan Harry Potter adalah hal yang tidak bisa disatukan, mengingat kedua Heir itu sudah saling bermusuhan sejak tahun pertama.

Tapi...

Pemandangan macam apa ini yang di lihat oleh mereka semua?

Seorang Heir Malfoy mencoba mendekati Heir Potter yang notabene nya adalah musuh nya sejak tahun pertama, --atau bukan?

"Hei, Potter. Mau berkencan denganku besok?" Tanya Draco terang-terangan yang membuat seluruh siswa dan Profesor yang masih berada di Great Hall terkejut mendengarnya.

Harry memutar bola matanya malas, "Malfoy, berhentilah mengajakku kencan! Aku seorang pria dan kau juga seorang pria, jadi berhentilah mengajakku kencan seolah kau mengajak seorang gadis untuk berkencan denganmu."

Draco menatap Harry dengan tatapan sok polos -menurut Harry- , "tapi Potter, aku tak pernah mengajak seorang gadis berkencan. Kau satu-satunya orang yang ku ajak kencan. Jadi bagaimana jawaban mu Potter? Kau pasti mau kan menerima ajakan kencan ku?" Tanya Draco dengan percaya diri.

Sementara itu di meja Slytherin Blaise dan Theo sedang berusaha menutupi wajah mereka melihat tingkah sahabat mereka yang sangat percaya diri. Tapi, bukankah itu memang sifat alami seorang pureblood terlebih lagi Malfoy?

Sedangkan di tengah-tengah Blaise dan Theo terlihat Pansy yang menatap berbinar pada Draco yang mendekati Potter.

"Percaya diri sekali kau, Malfoy." Ujar Ron yang menatap tajam pemuda yang mendekati sahabatnya, "kau tak akan bisa mendekati Harry selama aku dan Hermione disamping nya. Dan lagipula Sirius tidak akan membiarkan little Prongslet nya digoda oleh ponakan nya yang sombong."

"Bukankah Malfoy memang begitu, Weasley. Lagipula Malfoy selalu mendapatkan apa yang diinginkan termasuk mendapatkan Harry Potter." Ujar Draco yang langsung melangkahkan kaki keluar Great Hall setelah mencuri kecupan di pipi Harry.

Tbc


Ini pertama kalinya aku publish cerita di ffn :'

sebelumnya cerita ini ku publish di wp dengan judul Spungen's mine:)

Dan sekarang ku pengen nyoba nulis di apk ffn: