Epiphany

Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing Kiba/Ino

.

.

Don't like don't read!

.

.

If we hold one another closely

Sharing our tenderness on this creaking bed

Then, from there, we'll close our eyes again

So our love doesn't dampen into a sad love song

~

D-Lite ~ I Love You

.

.

Nanjing, 1944.

Semburat sinar matahari sore masuk melalui celah jendela kamar rawat inap yang masih terbuka. Diantara beberapa pasien yang terbaring tak sadarkan diri, atensinya lekat pada seorang bocah 7 tahun yang mengalami luka tembak di bagian dadanya. Memang, tidak hanya bocah itu saja yang mengalami nasib tragis. Tapi anak itu masih terlalu kecil untuk dilibatkan sebagai korban perang.

Hatinya pedih, tapi profesi ini menuntutnya untuk tetap terlihat tangguh meski rasa kasihan mengoyaknya tanpa ampun.

"Berhenti melamun, Konohamaru pasti akan sembuh. Tenang saja." Entah sejak kapan Sakura muncul di sebelahnya, memberikan tepukan bersahabat. "Sebaiknya cepat bersiap pulang. Tenten sudah datang untuk menggantikan shiftmu. Lagipula Sersan sudah menunggumu di luar."

"Eh?" Ino mengerjap, entah kenapa cara Sakura mengatakan kalimat terkahir itu membuatnya tidak nyaman.

"Hei, apa ada hubungan khusus antara kalian?" Gadis Haruno itu berbisik pelan di telinganya, sembari menyelingi senyum tipis.

"Tidak. Tidak ada hubungan khusus antara kami." Ia tidak paham kenapa jantungnya mendadak berpacu dua kali lebih cepat begini.

"Tapi si Sersan keren itu pasti menganggapmu istimewa, kan tidak mungkin dia mau repot-repot menjemputmu." Masih dengan senyum menggodanya, Sakura berlalu. Ia perlu mengganti infus salah satu pasien. "Sudah sana cepat, jangan membuatnya menunggu terlalu lama."

Meski tidak siap untuk ini, tapi Ino tetap berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Ah, pasti lelaki itu hanya ingin membalas budi, jangan berpikir berlebihan jika dia tertarik padamu, Ino. Ia berusaha meyakinkan diri, namun tetap saja rasanya segalanya agak aneh.

.

.

Ino mengenalnya beberapa bulan lalu. Di markas perang ketika lelaki itu sekarat dan nyaris meregang nyawa. Peluru bersarang di pundak, sayatan dan lebam-lebam nyaris memenuhi seluruh tubuh. Merah darah melapisi kulit kuning langsatnya, dan seluruh kengerian menggelegak membuat pandangan Ino kabur.

Dia mungkin bukan lelaki pertama yang ditolongnya, bukan lelaki pertama yang mendapat luka parah seperti itu. Tapi entah kenapa, lelaki itu membuatnya ingat jika perang merupakan hal kejam yang harusnya dihentikan. Namun, ia tak memiliki daya untuk melawan aturan pemerintah dan lebih memilih menjalani alur sesuai peran.

.

.

Ketika pertama kali melintasi lorong ruang tunggu, Ino mendapati si sersan tengah berbicara dengan Dokter Nara. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya percakapan itu cukup serius sembari sesekali diselingi tawa.

"Itu Nona Yamanaka. Sebaiknya anda cepat antar dia pulang sebelum larut malam." Si dokter berambut hitam itu berucap dengan senyuman yang seolah bakal menyatu dengan telinga.

Jantung Ino nyaris melewatkan satu degupan ketika tatapan tajam si sersan mengarah padanya. Tatapan itu terlalu dalam, namun gurat tulus dan kelembutan masih tersisa disana.

"Sudah siap?" Mendapati anggukan patah-patah dari si perawat cantik, ia melanjutkan. "Kalau begitu mari. Dan sampai jumpa lagi Dokter Nara."

Kalau boleh jujur, Ino canggung parah ketika langkah kaki mereka mendepak di sepanjang jalanan sepi di luar rumah sakit. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan atau hanya sekedar diucapkan. Rasa kikuk membuat lidahnya kelu, dan otaknya membeku. "Tuan Sersan, anda tidak seharusnya repot-repot melakukan ini pada saya."

"Kiba."

"Eh?"

"Panggil aku Kiba. Dan, jangan terlalu formal padaku." Dia memasukkan tangan ke dalam saku, mengamati lamat-lamat iris biru mengagumkan yang tengah menengadah menatapnya. Tatapan itu ragu-ragu, menggelitik tawa dalam tenggorokannya. "Lagipula usia kita juga tidak beda jauh. Jangan menyebutku 'anda' dan menyebut dirimu 'saya'. Itu membuatku tidak nyaman."

"Tapi--" Belum sempat kalimatnya berlanjut, ia dikejutkan dengan seorang wanita telanjang yang tiba-tiba terlempar dari dalam sebuah penginapan. Ino tercengang parah, ia nyaris melangkah untuk menolong wanita malang itu namun Kiba memegang pergelangan tangannya.

"Jangan." Bisiknya, diiringi gelengan pelan.

Keterkejutannya makin menjadi ketika suara teriakan marah seorang pria

muncul dari dalam penginapan. Suaranya keras, mengerikan, seolah jutaan paku ikut melayang mengiringinya.

Bersama beberapa orang yang terdiam melihat kejadian itu, Ino tak mampu menahan air matanya ketika si wanita malang menangis sementara pria biadab itu menendanginya sembari mengucapkan umpatan serta sumpah serapah.

Hingga tanpa sadar Yamanaka setengah memeluk lengan Kiba. Gemetaran dan bersembunyi di balik punggung tegap si lelaki. Hatinya seolah patah berkeping-keping saat suara tembakan menggelegar di udara, dan teriakan serta rintihan wanita yang disiksa tadi benar-benar hilang.

Bagi Kiba itu hal biasa. Perang kadang jauh lebih mengerikan. Kubangan darah, organ tubuh yang tersayat, potongan tubuh yang tak lagi berbentuk, dibakar hidup-hidup, dipukul sampai mati, atau bahkan dicekik hingga lemas. Ia pernah menyaksikan semua itu, kekejaman sudah menjadi makanan sehari-harinya.

Kejadian itu berlangsung singkat. Karena setelah si wanita meregang nyawa dan si lelaki kembali masuk penginapan tanpa rasa bersalah, aktivitas warga kembali seperti biasa. Tak ada yang mempedulikan nasib wanita malang itu.

Kiba menggenggam erat tangan Ino, karena ia tahu betapa takutnya gadis itu. Ditambah simpati besarnya untuk sekedar meletakkan syal guna menutupi tubuh telanjang si wanita. "Sebaiknya jangan lakukan apapun. Akan ada yang membersihkan mayat wanita itu nanti." Pelan ia menarik tangan si gadis, mengajaknya kembali berjalan.

Sesak di dadanya masih terasa, dan kesadarannya yang kembali membuatnya menarik tangan dari genggaman sang pria. "Kenapa anda, maksudku kenapa kau tak berusaha menolongnya?" Dia baru memiliki keberanian bertanya ketika posisi mereka cukup jauh dari tempat kejadian. "Padahal pria yang menyiksanya tadi kupikir adalah anggota militer sepertimu."

Lelaki Inuzuka itu menghela napas panjang, merasakan angin musim semi merebak memenuhi paru-parunya. "Jangan melibatkan diri terlalu banyak. Tidak semua kebaikan akan berakhir baik, Ino. Boleh ku panggil begitu?"

Ino mengangguk canggung, selip senyum pemuda itu membuatnya mendadak tersipu.

"Lagipula kenapa dia disiksa, dia hanya wanita lemah."

"Kurasa, dia seorang pelacur," Ditiliknya sebentar si lawan bicara yang mengerutkan kening, "mungkin ini kedengaran kejam, tapi beberapa dari mereka akan disika jika tidak bisa melayani dengan baik. Kau tahu semacam, mengeranglah sepanjang hari, aku tidak peduli sudah berapa pria yang kau layani."

"Kejam sekali. Itu pasti menyakitkan." Ino tidak mengerti bagaimana mungkin Kiba mengatakan hal semacam itu dengan begitu santai.

"Maka dari itu, jangan melibatkan diri terlalu banyak. Pasti kau berpikir aku terlalu pengecut, tapi hal-hal semacam itu sudah biasa terjadi. Paling tidak, lebih baik dia mati, karena jika tetap hidup dia akan terus-terusan disiksa."

"Tapi kita bisa menolongnya."

"Lalu aku dibunuh dan kau dipaksa melayani 30 pria sekaligus karena dianggap pengkhianat. Apa bedanya?"

Kalimat Kiba yang terlalu apa adanya membuatnya canggung, dan panas di pipinya menjalar ke seluruh permukaan kulit. Selain mengerikan, kalimat itu membuatnya membayangkan hal mesum yang tak seharusnya ia pikirkan. "Uhm, Kiba kenapa kau mau repot-repot mengantarkanku pulang?" Ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Tak ingin hening terus menerus mengisi celah diantara mereka.

"Hanya ingin membalas kebaikanmu. Lagipula Dokter Nara cerita padaku soal kau yang pernah kecopetan dan bahkan hampir diperkosa ketika pulang sendirian." Dia menahan godaan untuk mengelus helaian pirang yang tampak lembut itu. Dan memilih menatap ke depan, dimana hamparan kebun bunga matahari tampak begitu mengagumkan.

Kenyataan itu membuat perutnya mual. Ya Tuhan, kenapa Dokter Nara harus menceritakan insiden tak menyenangkan itu juga. Si sersan memang selalu berusaha dekat dengannya sejak Ino merawatnya tempo hari, dan karena kesembuhannya, sersan itu menyebut Ino sosok malaikat. Ah, berlebihan, meski yeah pujian itu agak membuatnya tersanjung.

"Belum punya kekasih kan?" Mendapati si pirang menatapnya dengan iris mata yang agak melebar, ia jadi ingin tertawa. "Cuma tanya, takutnya nanti ada yang marah."

Ah, pemuda ini pintar sekali membuatnya tersipu. Memilih untuk mengabaikan kalimat itu, Ino menghentikan langkahnya. "Terima kasih banyak, Sersan Inuzuka." Ino membungkuk ketika sampai di depan rumah sewaannya.

"Kiba." Dia setengah gemas ketika mengatakannya.

"Ya, maksudku Kiba." Gadis pirang itu tersenyum malu-malu. "Tidak mau mampir dulu?"

"Aku langsung kembali ke barak. Menghilang terlalu lama akan menimbulkan masalah nanti." Bibir tipisnya mengukir senyuman, "sampai jumpa lagi."

Dan sementara pemuda gagah itu berjalan menjauh, Ino masih tepaku mengamatinya.

.

.

Kepribadian Ino yang ramah, lembut, dan suka membantu diam-diam membuatnya jatuh hati. Sejujurnya, sejak melihat Ino pertama kali Kiba merasa dia harus melindungi gadis itu. Seperti ada sesuatu berharga di sana yang tak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain. Namun interaksi mereka yang begitu dekat membuatnya menaruh rasa dengan berlebihan.

Tak jarang di waktu senggang ketika Kiba tak sedang berada di medan perang, dia akan mengajak Ino ke bukit. Mereka akan bercerita panjang lebar mengenai berbagai hal. Kehidupan, keluarga, pekerjaan dan bahkan para pasien Ino yang rata-rata adalah anak-anak.

Dan sore itu, di atas bukit yang dikelilingi kebun bunga matahari, Ino memberikannya dua fakta. Pertama gadis itu adalah seorang yatim. Kedua, dia baru setahun lalu menyelesaikan pendidikan keperawatannya dan langsung dijadikan tenaga medis perang.

"Jadi ayahmu juga seorang prajurit perang?" Kiba menatap dalam-dalam wajah Ino yang membiaskan sinar jingga matahari.

"Begitulah," dia menghela napas panjang, mengalihkan atensi pada hamparan bunga kuning yang menyebar sejauh pandangan, "pada satu titik, aku pikir kita tidak benar-benar diberi pilihan. Mati atau memperjuangkan negara." Kali ini tatapannya beralih pada Kiba. "Ini agak menggangguku."

"Ayolah, jangan putus asa begitu." Setengah ragu dia memegang tangan si pirang, menyebabkan kejut singkat dari gadis itu. "Paling tidak, meskipun singkat tapi hidup kita berarti."

Hangat menjalar dari tangan pemuda itu, sengatan listrik seolah membanjiri pembuluh darahnya dan menyebabkan degup jantungnya kian memburu. "Tapi tetap saja, negara kita penjajah."

Kiba menarik napas panjang, merasakan semilir angin membelai kulitnya. Dan dengan senyum yang terselip di bibir tipisnya, ia berujar. "Dijajah atau terjajah, itu sepenuhnya pilihan kita." Lawan bicaranya hanya diam, entah tak memiliki bahan pembicaraan atau memang sedang tidak ingin bicara. Namun dari raut wajahnya ia bisa melihat gurat sedih yang berusaha ditutupi.

"Tapi aku tidak ingin jadi penjajah, tapi juga tidak ingin dijajah."

Sembari mengulurkan tangan untuk mengelus kepala si pirang, Kiba tertawa pelan. "Sayangnya tidak ada ditengah-tengahnya, Ino."

Yamanaka tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Meskipun berada dalam ketidak nyamanan yang pekat, tawa Kiba membuat hatinya seolah terbelah. Korban dengan luka menganga, darah yang bercucuran, dan ekspresi kesakitan yang nyata. Sebagai seorang perawat ia memang terbiasa menyaksikan semua itu, tapi Kiba jelas melihat bagaimana luka-luka itu terbentuk dari peluru-peluru jahat para lawan. Dilema, ia mencintai negaranya, tapi juga tidak bisa membiarkan China diinjak-injak begini.

"Sudah mau malam. Mari ku antar pulang."

.

.

"Ku dengar pelayanan di rumah bordil Nyonya Tsunade benar-benar memuaskan. Kau tidak ingin pergi kesana?" Hidan menepuk bahu Kiba, membuat pemuda Inuzuka itu tersentak sebentar, namun kembali fokus pada koran yang dibacanya.

"Kau salah kalau mengajak Kiba, ajak saja Pein atau Sasori." Naruto yang tengah membaringkan diri di tempat tidur menyahut. "Ayolah kawan, kau suka menggauli wanita yang sudah ditiduri banyak pria? Yang benar saja."

"Jangan sok suci Naruto!"

"Aku memang masih suci, kalau kau ingin tahu."

Kiba tertawa mendengar percakapan mereka, dan meskipun pergi ke rumah bordil merupakan tawaran paling menggiurkan bagi tentara kurang belaian seperti mereka, ia tak akan pernah benar-benar melakukannya. "Sudahlah, pergi sendiri saja. Lagipula erangan mereka tidak benar-benar membuat lega."

"Woah... kau tidak puas dilayani satu orang saja?" Hidan bertepuk tangan dengan ekspresi konyol yang terukir di wajahnya. "Yeah, kau bisa minta dua atau tiga wanita sekaligus. Itu bakal lebih menyenangkan, kurasa."

"Astaga, otakmu itu tidak waras ya?" Inuzuka meletakkan korannya di atas meja. Lalu berdiri menatap keluar jendela, dimana langit malam tengah menunjukkan benda langitnya yang gemerlapan. "Aku hanya ingin mengikat janji dengan seseorang."

.

.

"Ku dengar, tentara Jepang bakal melakukan serangan ke barat Beijing. Sersan Inuzuka pasti diikutkan juga." Tenten menyeruput ramennya, dan mengamati ekspresi Ino yang juga sedang makan siang.

"Tapi sersan tidak mengatakan apa-apa padaku." Kalimat Tenten membuat nafsu makannya hilang, dan perutnya mual mendadak. "Kau tahu dari mana?"

"Neji yang memberi tahuku, dia sudah menyebutkan beberapa tenaga medis yang kemungkinan diikutkan kesana."

"Aku juga?"

"Tidak tahu. Aku kan belum bilang keputusan itu sudah resmi." Gadis berambut hitam itu kembali menyeruput ramennya. "Biarkan saja mereka yang memilih, aku agak takut diikutkan dalam hal semacam itu."

Percakapan ini menyebalkan, dan meskipun ia tahu bagi Kiba perang adalah hal biasa. Tapi beberapa minggu belakangan, ia tak ingin lelaki itu terlibat dalam aktivitas bernoda darah semacam itu.

.

.

"Jadi, rencana penyerangan ke barat Beijing itu bukan bualan belaka?" Ino meletakkan secangkir teh hijau yang masih menguarkan uap hangat pada pemuda yang duduk di ruang tamunya. Menatap wajah kakunya sejenak, sebelum ikut duduk dibsebelahnya.

"Yeah. Darimana kau tahu?"

Gadis pirang itu mengalihkan tatapan pada bulir-bulir hangat yang melayang di udara, tak terlalu berani beradu pandang dengan tatapan tajam pria itu. "Beberapa tenaga medis sudah dipilih untuk diikutkan ke sana."

"Kau juga?" Kiba melebarkan matanya, seolah tak sabar mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Dan kelegaan luar biasa memenuhi dadanya ketika si pirang menggeleng pelan. "Sebaiknya kau memang tidak diikutkan."

"Kenapa begitu?"

"Hal-hal buruk bisa saja terjadi." Ino pasti paham maksudnya. Namun yang tidak ia pahami adalah sorot mata gadis itu yang seolah ingin menatapnya lebih lama. Biru jernih netranya bergulir dalam diam, seperti menyedot Kiba untuk menyelami manik itu. Ia bahkan tidak sadar ketika kepalanya perlahan mendekat, hingga bibir mereka saling menyatu.

Ino melebarkan mata, merasakan kejut listrik membanjiri sel tubuhnya. Dan ketika lumatan pada bibir bawah dan atasnya gencar dilakukan oleh si lawan bicara, ia tak bisa lagi menahan godaan untuk mengerang. Lidah pria itu bahkan menyusup masuk, seolah mengabsen satu-persatu giginya. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Inuzuka padanya, ini terlalu mendadak. Namun ia tak memiliki tenaga untuk melawan.

"Menikahlah denganku."

Yamanaka muda itu tersedak, ia terbatuk dan wajahnya memerah parah. Kejutan demi kejutan yang dilontarkan Kiba membuatnya seperti diserang dilema berkepanjangan. Dia mengajaknya menikah?

"Kau tidak apa-apa, Ino?"

Masih berusaha menormalkan pernapasannya yang kacau, ia menggeleng. Rasa sakit di tenggorokannya belum sepenuhnya mereda ketika ia memaksa bicara. "Menikah?"

"Ya," ribuan kata berputar acak di otak, dan beberapa kalimat lagi seperti tertahan di ujung lidah. "Ini pasti terlalu mengejutkan ya?" Kekehan pelannya menimbulkan pendar pelan di manik si gadis. "Aku mencintaimu, dan berharap kau mau mengikat janji suci denganku. Sebab, aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa hidup."

Udara disekitar seolah membeku, dan kalimat barusan terasa seperti jarum yang ditancapkan secara paksa ke dadanya. Ino tidak ingin mendengar ini, tidak pernah ingin. Tapi entah bagaimana lidahnya kelu, tak bisa bergerak untuk mengatakan sesuatu. Jika kehidupan ini senormal yang ada dalam ekspektasinya, mungkin ia akan mengiyakan ajakan Kiba. Tapi situasinya berbeda.

"Tentara sepertiku harus siap mati kapan saja kan? Entah peluru, entah bom, entah tajamnya belati, atau tendangan lawan. Semua itu berpotensi untuk membunuh kami." Tatapannya terpaku ketika melihat bulir air jatuh dari kubangan biru jernihnya. Lelehan air itu seperti sungai yang terbentuk di atas pipi putihnya.

"Setelah aku menikah denganmu, kau akan meninggalkanku, begitu? Lalu aku menjadi seorang janda muda dan setiap hari meratap menunggu kepulangan suaminya, tapi suaminya ternyata sudah mati di medan perang. Itu benar-benar tidak lucu, Kiba." Isakannya muncul, dan gelombang kesedihan merebut paksa jalan napasnya. Membuatnya tersengal dan tak bisa mengendalikan tangis yang makin menjadi. "Seperti itulah yang terjadi pada ibuku. Ayahku mati dalam perang, dan ibuku terpaksa membesarkanku sendirian." Ino tak bisa mendeskripsikan apa yang tengah dipikirkan pria itu, namun ekspresinya mendadak melembut. "Dan kau ingin aku begitu? Membesarkan anak sendirian sambil menahan sedih tiap kali anakku bertanya apa makanan yang disukai sang ayah, apa hobi ayahnya, apakah sang ayah suka membaca buku, dan bagaimana kisah masa mudanya."

Itu mungkin yang juga ditanyakan Ino pada ibunya, jadi luka yang tercipta dalam hatinya benar-benar terasa nyata. Tanpa bisa mengatakan apapun, ia bergerak memeluk gadis itu. Merasakan gemetar pelan yang tercipta dari tubuh kecilnya. "Maafkan aku kalau itu menyakitimu. Mungkin aku terlalu egois."

Pelukan hangat itu menenggelamkannya dalam kenyamanan fana yang ingin ia nikmati selamanya. Dan meskipun udara makin menipis, serta sesak di dadanya begitu tak tertahankan, ia masih tak ingin melepaskan pelukan itu.

.

.

Selama beberapa hari Kiba tak muncul lagi. Tentu saja, dia mungkin tengah sibuk mempelajari strategi perang atau memiliki urusan lain yang jauh lebih penting. Kerinduan itu menggelegak dalam dada Ino, dan ia tak bisa berhenti berharap bahwa pemuda Inuzuka itu akan muncul menjemputnya. Yang nyatanya hanya imajinasinya belaka.

"Kenapa kakak sedih?"

Ino geragapan menghapus air mata, Konohamaru pasti memperhatikannya sejak tadi. "Kakak sedih karena Konohamaru tidak mau makan, jadi makan dulu ya."

Bocah itu mengernyit, berpikir sebentar sembari mengamati ekspresi Ino. "Tapi kakak tidak boleh sedih lagi ya."

"Tentu saja, kakak akan selalu tersenyum kalau Konohamaru mau makan." Dia berusaha keras melukiskan senyum yang tampak nyata, berharap si bocah tak mengetahui hal yang menimpanya.

Sembari mengangguk, Konohamaru membuka mulutnya. Dan merasa senang melihat senyum si perawat pirang kembali tersembul. Lalu suapan demi suapan mulai tertuju pada mulutnya.

Usai merawat si bocah yang mulai membaik itu, Ino membawa nampan berisi piring kotor ke dapur rumah sakit. Kemudian menuju toilet ketika merasa sesak di dadanya mulai merambat ke arah mata, dia tidak bisa tahan lagi. Maka ketika pintu toilet tertutup, tangisnya langsung terlepas. Mengejutkan Sakura yang saat itu tengah mencuci tangan di wastafel.

"Ino? Kenapa?"

Yamanaka tak peduli lagi, dia memeluk Sakura erat dan merasakan luapan emosinya benar-benar tak dapat dikontrol. "Dia akan pergi Sakura, dia akan pergi."

Rahang si gadis Haruno mengayun terbuka. Dan sembari mengelus punggung sang teman, ia berujar pelan. "Katakan padanya jika kau juga punya rasa yang sama. Meskipun tidak akan banyak membantu, paling tidak dia merasa dicintai."

"Bagaimana jika dia... mati?"

"Ino, kita tidak memiliki kendali untuk itu."

Tapi ia ingin memiliki kendali untuk hidupnya dan hidup lelaki itu.

.

.

Kiba muncul suatu malam, sehari sebelum keberangkatannya ke barat Beijing. Buket bunga myosotis tergenggam di tangannya. Dan sembari menahan keinginan untuk memeluk atau mencium, Ino malah melontarkan pertanyaan mengenai bunga itu.

"Untuk apa bunga ini?"

Kiba hanya diam, tidak memiliki jawaban yang bagus untuk diucap.

Lazimnya, seorang pria akan memberikan mawar merah yang cantik untuk gadis yang dicintainya. Bukan kumpulan bunga dengan bentuk mungil yang rumit itu. Namun Ino tetap menerimanya--tak terlalu peduli dengan jawaban yang tak kunjung ia dapatkan-- dan masuk ke dalam rumah untuk mencari vas, lalu mengisinya dengan air. Warna biru tua dari bunga itu seolah berpendar indah saat ia meletakkannya di meja dekat jendela.

Sembari mengagumi paras cantik di hadapannya, Kiba diam-diam tersenyum. Merasa perlu merekam wajah menakjubkan itu dalam memorinya. Karena siapa tahu ini adalah yang terakhir.

"Kenapa menatapku begitu?" Ino mengusap wajahnya, karena mengira ada sesuatu yang mengganggu disana.

"Yeah, siapa yang tidak terpikat dengan wajah cantikmu itu," senyumnya terulas tipis dan setengah tak ikhlas. "Aku takut tak bisa melihatmu lagi."

"Jangan katakan itu, Kiba. Jangan katakan itu. Kumohon." Air matanya menggenang, dan tak bisa lagi menolak godaan untuk memeluk tubuh tegap di hadapannya. Sepenuhnya mengeratkan pelukan, seolah Kiba bakal hilang jika ia melepaskannya. "Berjanjilah untuk tidak mati. Dan jika kau benar-benar selamat, aku akan bersedia menikah denganmu."

Tatapan netra coklat itu melembut, tangannya mulai mengelus helaian pirang yang tergerai di punggung si gadis. "Aku kan hanya bercanda soal tidak bisa melihatmu lagi." Ia tertawa pelan, berusaha mencairkan suasana. "Ino, aku pernah dua kali tertembak di dada. Sekali tertembak di bahu, dan tersayat pedang di punggung. Tapi aku masih hidup sampai hari ini. Percayalah, aku punya sembilan nyawa. Dan aku tidak akan terbunuh hanya karena perang." Meski ia tidak yakin akan ucapannya sendiri.

Ino berharap itu benar. Tapi ia tidak bisa percaya, karena ucapan Kiba tempo hari lebih terdengar masuk akal. Lagipula, mana ada orang yang punya sembilan nyawa. Pria itu hanya ingin menenangkannya, pasti begitu. Membiarkan seluruh emosi beradu acak dalam dirinya, Ino menengadah. Berjinjit dan menekan bibir pada bibir tipis pria itu. Tak peduli lagi jika ini adalah tindakan tak tahu malu. Kalau pun ini jadi yang terakhir, ia berharap tak akan menyesalinya.

Kiba benar-benar berhenti tertawa. Lumatan lembut pada bibirnya menghantarkan sensasi yang candu sekaligus menggelitik. Detik dimana nafsu tumbuh makin pekat dalam tiap sel tubuhnya, ia mengambil alih kendali. Tak ingin tunduk dalam dominasi gadis itu.

.

.

Temaram lilin di atas meja membiaskan cahaya jingga ke permukaan kulit putih Ino. Kiba berkali-kali meneguk ludah kala aroma bunga merebak kedalam penciumannya. Nafsu menderu, berkobar dalam dada ketika kepala pirang itu bersandar pada dadanya. Sebagian kain yang menutupi tubuh sudah ditanggalkan, dan kebutuhan untuk saling menghangatkan menyapu pikiran mereka.

"Kau yakin ingin melakukan ini denganku?" Ia berusaha sehati-hati mungkin tak menyentuh beberapa bagian intim. Tapi anggukan dari Ino melepaskan segala ekspresi buas yang jauh terpendam.

Ketika dada bertemu dada, dan gelenyar menyebar sepanjang urat nadi, Ino tak mampu lagi menahan desahan. Kehangatan mengisi tiap celah kerinduan yang besarnya tak bisa didefinisikan. Degup jantungnya berpacu tak terkendali saat tangan besar Kiba meraih pundaknya, membaringkannya di atas tempat tidur. Ia yakin tatapan tajam pria itu mampu melubangi kepalanya, dan rasa penasaran tentang apa yang dipikirkan Kiba terasa menghimpit dadanya.

Pikiran Ino kabur, tak mampu lagi membedakan benar dan salah saat lelaki itu menunduk. Menciumnya sedalam mungkin, sementara belaian di pinggang telanjangnya makin terasa nyata tiap detiknya.

Kekaguman luar biasa tak berhenti terucap dalam hati. Semu merah di pipi gadis itu, kerjap anggun matanya, dan sentuhan lembutnya dipundak Kiba membuat gairah lelakinya membuncah parah. Desahan dari bibir mungil itu mengiringi tiap gerakan yang tercipta, membuatnya makin berani mendaratkan ciuman di permukaan kulit mana pun yang ia inginkan.

"Jangan menggigit terlalu keras." Tangannya reflek menggaruk punggung Inuzuka, menyebabkan geraman pelan terlontar.

Sejenak Kiba menghentikan gerakan, menatap ekspresi Yamanaka yang sedikit berantakan. Dan matanya yang terpejam erat membuatnya diam-diam ingin tertawa. Kecantikannya meruntuhkan iman, dan menggodanya tanpa ampun.

.

.

Pukul 2 dini hari. Dimana udara menghembuskan hawa dingin, dan poisisi paling nyaman adalah meringkuk dalam selimut. Namun, Ino tak lagi bisa merasakan kenyamanan tempat tidur saat pria yang semula berbaring bersamanya mulai bangkit. Mengabaikan rasa kantuk dan pusing di kepalanya, ia buru-buru duduk dan memeluk pria itu dari belakang.

"Jangan pergi."

Kiba mematung, merasakan hangat yang disalurkan Ino membuatnya enggan untuk pergi. Jemarinya yang besar menyentuh tangan lembut Ino yang menyatu di bagian perutnya. Mengelusnya perlahan sebelum melepaskan penyatuan itu. "Aku harus pergi, Ino."

Tanpa aba-aba, gadis itu menangkup wajahnya. Kembali menciumnya dengan gerakan tak berirama. Kiba bahkan bisa merasakan asin air mata yang bercampur dalam ciuman itu, maka ia membalas ciuman itu sebentar. Lalu melepaskan Ino. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi bukan pilihan bagus untuk kabur dari tanggung jawab ini." Biru jernih mata Ino menyiratkan kekecewaan yang tak lagi ditutupi. "Jika aku tak kembali, menikahlah dengan pria lain. Pria yang lebih bisa melindungimu, menemanimu, dan menjadi ayah yang baik untuk anakmu. Aku hanya ingin sedikit tempat di hatimu, agar suatu saat nanti ketika waktu perlahan berputar dan dunia mulai melupakanku, masih ada sisa ingatan tentangku di memorimu."

"Tidak, kau tidak boleh mati." Isakannya membelah sepinya malam. "Jangan mati."

Dilema membuatnya kalut, dan bisikan 'jangan mati' yang dilontarkan Ino berkali-kali membuatnya tak memiliki jawaban lagi selain..."Pasti." Ia mengecup kening si gadis, sebelum benar-benar bangkit dari tempat tidur.

.

.

Kabar itu datang pada suatu siang menjelang sore. Kesadarannya setengah terambil paksa saat pria berambut pirang menjelaskan semua yang terjadi. Bahwa Kiba tak kembali bersama mereka. Yang tersisa hanya seragamnya dengan nama dada Kiba Inuzuka, jasadnya tak ditemukan. Barangkali bertumpuk dengan jasad lainnya yang terbunuh. Atau mungkin koyak, tertimbun tanah, atau mungkin lagi granat menghancurkan wajahnya. Semua kemungkinan itu tak terlalu pasti.

Dunia Ino rasanya runtuh dalam satu kejapan. Lututnya lemas, tak mampu menopang bobot tubuhnya. Detik dimana otaknya yang penuh mendadak jadi kosong, lubang hitam seolah menyedotnya tanpa ampun. Lalu menyebabkannya tak sadarkan diri.

Bunga myosotis pemberiannya masih terpajang di meja dekat jendela. Kelopak biru tuanya mulai berjatuhan. Semburat sinar matahari seolah tak lagi membuatnya tampak indah, dan kenyataan itu membuat Ino kesal.

.

.

Hari-harinya tak lagi normal, semua terasa kosong. Di malam-malam yang sepi, ia akan menelungkupkan wajah diantara bantal dan menangis tersedu tanpa tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Wajah Kiba membaur dalam segala ingatan yang berputar acak dalam benak. Tawanya, senyumnya, tatapan tajam dan teduhnya, ciumannya, sentuhannya, bisikannya, dan caranya memanggil namanya dengan sayang. Semua masih teringat dengan jelas. Melumat pikiran dan menghimpit dadanya tanpa ampun.

Tuhan, kenapa ini harus terjadi?

end

~Lin

ditulis : Mei 2020

Up : 1 Oktober 2021