Disclaimer: Nanbaka adalah milik Futamata Shou

Warning: OOC, Typo, Smut, Yaoi, dll…

.

.

.

"So… trouble in paradise, huh?"

Honey yang sedang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, setengah melamun, berjengit begitu seseorang dengan santainya mengalungkan lengan ke bahunya. Pria itu menoleh dengan wajah kesal, mengenali suara tersebut.

"Apa maksud mu?" tanyanya, pura-pura tidak mengerti pada kilat mata dan seringai lebar Uno.

Saat ini mereka sedang ada di ruang santai yang merupakan hadiah turnamen tahun baru yang didapatkan Uno bersama beberapa tahanan lain. Pria yang mendekam di sel 13 itu memang sering mengundang beberapa tahanan gedung lain yang merupakan kenalannya minimal satu bulan sekali untuk berkumpul bersama di ruangan tersebut.

Uno mengerling ke arah meja biliar yang terletak beberapa meter di depan mereka. Honey terpaksa mengikuti arah pandangannya. Disana Trois sedang bermain biliar bersama Tsukumo dan Qi.

"Kau sedang bertengkar dengan Trois?" tanya Uno.

"Tidak," jawab Honey pendek. Balasannya yang singkat, tanpa sahutan kemarahan yang biasa, membuat senyum Uno semakin lebar.

"Lalu, kenapa kalian sama sekali belum bicara sejak masuk kemari? Apalagi kau tidak main dart seperti normalnya, malah berdiri diam saja di sini sambil melihat Trois bermain," ujar Uno, bergantian menunjuk pada papan dart yang masih belum tertancap beberapa panah dan meja biliar.

Honey merutuk. "Diam. Bukan urusanmu, dasar pecinta gosip."

Uno tertawa. "Apa yang kau lakukan sampai Trois mengabaikanmu? Kau melupakan hari anniversary kalian atau semacamnya?"

Honey menoleh dengan terkejut. "Hari anniversary apa? Omong-kosong apa yang sedang kau ocehkan?!" serunya setengah berteriak. Melepaskan rangkulan lengan Uno secara kasar dengan wajah gusar tapi juga bingung.

Pria berambut pirang panjang itu melambaikan tangan dengan santai, seperti biasa tak pernah terpengaruh dengan tempramen pendek Honey.

"Tidak perlu malu, tentu saja aku tahu soal hubungan kalian. Berapun gembar-gembornya tingkah flamboyan kalian saat merayu gadis-gadis dan seberapa terbukanya kalian tentang kemesuman kalian terhadap pakaian dalam wanita, aku bisa tahu kalau kalian tidak sepenuhnya straight," jelas Uno tersenyum bangga. "Kau pikir seremeh apa kemampuan ku dalam mengamati orang?"

Wajah Honey kesal tetapi juga tidak bisa berkutik. Dia sendiri tahu seberapa hebatnya kemampuan observasi Uno. Tidak ada kebiasaan kecil yang terlewat olehnya, baik itu gerakan jari maupun pandangan mata. Jadi walaupun Honey dan Trois tidak pernah pamer kemesraan di tempat umum sekalipun, pria bermata biru itu pasti dapat melihat satu-dua kebiasaan yang bahkan mereka sendiri tidak sadari. Belum lagi insting menebak Uno itu selalu tepat.

"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Uno dengan raut penasaran, menyenggol lengan Honey dengan sikunya.

"Berisik, sudah kubilang ini bukan urusan mu," gerutu Honey sebal.

"Ayolah, ceritakan saja masalahmu pada temanmu ini, mungkin saja malah aku bisa membantu memberi saran lho," cengir Uno.

Honey mencibir. "Kau? Memberi relationship advice? Yang benar saja, pacar saja kau tidak punya."

Uno mengerucutkan bibir sebal. "Hei! Aku tidak punya pacar hanya karena saat ini aku sedang terjebak dipenjara ya!"

Honey memutar bola mata. "Ya, ya."

Uno mendecakkan lidah, ia masih jengkel sebenarnya tetapi rasa ingin tahunya menang, jadi dia kembali mendekat pada Honey. Mendelik pada pria itu dengan mata tajam menunggu rasa penasarannya dijawab. "Well, kenapa kalian bertengkar?"

Honey melotot marah padanya, hanya beberapa detik sebelum kemudian menghela napas menyerah. "Aku tidak sengaja merusak salah satu mesin yang telah selesai ia buat saat jadwal kegiatan pekerjaan," jelas Honey.

"Serusak apa sampai ia jadi semarah itu?"

Itu bukan suara Uno yang selalu dipenuhi nada main-main. Suara kali ini datar tanpa gairah.

Honey menoleh dan mendapati Jyugo yang berjongkok di hadapan keduanya dengan mata bosan seperti biasa.

"Uwaah! Sejak kapan kau ada di sana?!" pekik Honey, kaget sampai melompat menabrak Uno di sampingnya.

"Baru saja," jawab Jyugo acuh.

"Lagipula, kenapa Trois sampai semarah itu? Maksudku, Jyugo bahkan lebih sering mengacau saat kami melakukan tugas di jadwal pekerjaan," tiba-tiba Rock ikut menyahut dari samping Uno, di sisinya Nico mengangguk menyetujui dengan wajah ceria, mengabaikan raut tersinggung Jyugo. Keduanya memasang tatapan sama ingin tahu.

"Wait, kalian juga ada di sini?!" seru Honey terkejut kembali, walau kali ini bercampur dengan perasaan jengkel.

Rock dan Nico nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Honey berdecak sebal, memandang berkeliling dan melihat Liang, Upa, dan bahkan Musashi yang ternyata sudah mengelilinginya. Tanpa malu-malu menguping.

Honey melempar mereka semua pandangan jengkel. Para pria ini sama sukanya bergosip seperti okama-okama penjaga penjara gedung 3.

"Kembali ke topik pembicaraan," sela Uno memotong Honey yang sedang mengambil ancang-ancang mengamuk. "Kenapa hanya karena kau merusak sebuah mesin dia jadi mengabaikanmu sampai sebegitunya?"

Honey kembali menghela napas pasrah. Sepertinya masalah pribadinya yang berakhir menjadi bahan gosip umum tidak bisa dihindari.

"Itu bukan mesin yang kami kerjakan sekedar tugas bekerja. Tapi itu mesin yang semua bahan dan alatnya Trois khusus pesan setelah berminggu-minggu mengerjakan tugas yang Kiji-san beri dan memberi banyak pujian kepada Kiji-san. Itu adalah bentuk pertukaran yang dilakukan kalau kami menginginkan sesuatu," jelas Honey. "Mesin itu merupakan rancangan Trois sendiri, dan dia telah mengerjakannya selama dua minggu terakhir ini. Kemudian aku tidak sengaja membuat mesin itu jatuh dan rusak total…"

Para penghuni sel 13—minus Jyugo—memasang ekspresi mengerti, mata lebar dan mulut membentuk huruf O.

"Pantas dia semarah itu padamu," simpul Uno yang membuat Honey melotot padanya. Seolah dia tidak mengerti saja.

"Kalau begitu kau seharusnya minta maaf sekarang juga, jangan menunda mengakui kesalahanmu," sahut Upa dengan nada dingin.

"Dan kau pikir aku tidak melakukannya?!" Honey meledak marah. "Aku sudah minta maaf detik aku merusak mesinnya! Aku mengekorinya dari kemarin dan meminta maaf, tapi dia sama sekali tidak mendengarkanku! Hell, dia bahkan tidak mau menatapku!" sambung Honey frustasi.

Uno mengelus punggung Honey dengan air muka penuh simpati. Tentu saja Honey menepis tangannya, Uno nyengir kembali, ekspresi simpatinya memang cuma dibuat-buat.

"Kau harus melakukan sesuatu untuk membuat Trois luluh," sahut Liang. Pria itu dengan khidmat melipat tangannya ke dalam lengan bajunya yang lebar.

"Apa yang bisa kulakukan kalau berbicara saja dengannya aku tidak bisa," balas Honey, setengah pahit setengah mencemooh.

"Kalau begitu, tidak perlu kata-kata. Kau lakukan dengan tubuhmu," sahut Uno mengedipkan sebelah mata.

"Maksudmu memberinya hadiah?" tanya Musashi yang sedari tadi hanya menyimak. Pemuda itu tentu tidak sadar dengan ekspresi jahil Uno.

"Tentu saja bukan," sahut Uno ceria sembari menggoyangkan jari telunjuknya. Ia kembali melirik pada Honey, senyum jahilnya semakin lebar dan ia rangkul lagi pria berambut ungu yang mudah kesal tersebut.

"Yang harus kau lakukan adalah membuatnya kembali bergairah dan bernafsu. Make-up sex itu sangat hot bukan?" ujarnya dengan nada menggoda.

Honey mendecak sebal. Rock sudah menutup telinga Nico, Musashi juga menutup telinga Jyugo, dan Liang menutup telinga Upa. Mencegah pikiran polos mereka dari kata-kata kotor Uno.

Honey mendengus. "Sudah kubilang dia tidak mau bicara padaku, apa yang membuatmu berpikir dia mau aku sentuh?"

"Siapa bilang kau harus membuatnya mau bicara padamu dulu?" sela Uno. "Kau harus membuatnya menerima tindakanmu, kau harus menunjukkan sisi yang amat dominan diawal untuk membuatnya bisa luluh," pria berambut panjang itu memasang ekspresi mendesak pada Honey.

Honey menyipitkan mata pada Uno. "Kau hanya ingin tahu soal kehidupan seks kami ya?"

Uno hanya tersenyum. Tidak membenarkan tetapi tidak juga mengelak.

"Ha'i, ha'i, waktu kalian disini sudah habis dan kalian semua sudah harus kembali ke sel masing-masing," Kiji masuk dan berseru nyaring dan menepuk tangannya. Menarik perhatian semua tahanan di sana, sekaligus menyela Honey yang akan mengomeli Uno.

Para tahanan merengek kecewa, melayangkan protes yang tentu saja tidak pernah digubris oleh para penjaga.

Liang, Qi, dan Upa langsung menghampiri Samon dan kembali ke gedung 5. Hitoshi datang menjemput Musashi setelah menyapa kakaknya. Tsukumo pergi diantar Yamato sembari mengobrol mengenai olahraga. Para tahanan sel 13 sedang bertengkar dengan penjaga mereka, Hajime. Hanya perlu waktu beberapa detik lagi sampai mereka kena pukulan oleh penjaga galak tersebut karena membuatnya kesal.

"Kita juga harus kembali ke gedung kita," Kiji melangkah dengan suara ketukan hak sepatunya yang begitu jelas terdengar.

"Baik," Honey dan Trois menjawab serempak. Hal itu membuat pria berkemeja putih itu melirik pada Trois. Tapi sama saja, Trois tetap tidak mengacuhkannya.

Pria yang memakai jumper hijau itu berdiri di samping Kiji dan tersenyum pada sang penjaga yang membuatnya senang dan puas atas kepatuhannya. Honey menghela napas lelah. Ia mengikuti dari belakang Kiji dan Trois saat mereka berjalan.

Ia tidak tahu sampai kapan Trois akan memberikannya silent treatment. Menilai dari betapa tegaknya bahu Trois membelakanginya, Honey tahu bahwa Trois berniat melakukannya selama lebih dari seminggu.

.

.

.

Hari ini jadwal kerja kembali. Tentu saja ini bukan hari favorit Honey. Tidak ada hari yang bisa menandingi hari kunjungan, dimana ia bisa menghibur diri dengan begitu banyaknya gadis-gadis yang berkunjung melihat-lihat gedung nomor 3 yang diisi tahanan-tahanan tampan.

Yah, setidaknya pekerjaan yang mereka lakukan tidak terlalu berat. Hari ini mereka mengerjakan produksi kerajinan keramik. Membuat keramik dari tanah liat menggunakan tangan dan kemudian menghiasnya dengan cat, penuh dengan ukiran yang teliti. Kebanyakan pekerjaan yang mereka lakukan mirip seperti itu dan bukannya pekerjaan berat. Kiji tidak sudi melihat sesuatu yang kasar dan tidak indah berada di gedungnya.

Tangan-tangan Honey mahir dalam melakukannya sehingga tidak perlu waktu lama bagi pria tersebut untuk menyelesaikan kuotanya dan juga memenuhi standar produk yang ditetapkan penjara Nanba. Untuk ukuran penjara elit, mereka tidak main-main juga menetapkan standar yang cukup tinggi.

Setelah ia melaporkan hasil kerjanya pada Ahato, penjaga itu memperbolehkannya untuk memakai kamar mandi terlebih dahulu. Sama seperti gedung lainnya, mereka diperbolehkan memakai kamar mandi lebih awal dari tahanan lainnya jika hasil kerja mereka bagus.

Honey menghembuskan napas panjang, merasakan kelegaan dari rasa letih di bahunya luruh hanya dengan memasuki kamar mandi umum luas milik gedung nomor 3. Tidak hanya luas, kamar mandi itu juga memiliki desain yang elegan, mencontoh dari banyak pemandian umum negara Hungaria. Sama sekali tidak berkesan seperti kamar mandi bersama milik penjara pada umumnya.

Sekali lagi, Kiji tidak akan pernah menerima sesuatu yang ada di bawah standar kecantikannya.

Honey melepaskan seragam kerjanya dan menyimpannya di salah satu loker yang ada. Mengambil sebuah handuk dan melilitkannya di pinggang. Langkah pria itu lebar dan cepat, sudah sangat ingin merasakan air yang menyegarkan di kolam yang luas.

Honey baru saja akan melepaskan handuknya saat ia berdiri di tepi kolam ketika ia mendengar suara gemericik pelan air.

Ia menoleh dan melihat seseorang yang telah berendam sendirian di kolam. Seluruh tubuhnya terendam air kecuali bagian pundak ke atas.

Ia berendam membelakangi Honey. Namun begitu pria berambut ungu itu bisa dengan mudah mengetahui siapa yang telah mendahuluinya tersebut dikarenakan warna hijau mint rambutnya yang sangat khas.

Sesaat Honey ragu. Tapi dipikir lagi, dia tidak mungkin juga kabur. Bagaimanapun dia butuh ini. Dan yah, Honey cukup putus asa sehingga akan selalu mencari kesempatan bisa bicara—membujuk—Trois agar mau memaafkannya.

Dengan pelan ia melangkah ke sisi yang dekat dengan Trois. Pada saat ia memasukkan kaki ke dalam air, riaknya menyebabkan Trois tersadar bahwa ada orang yang sudah bergabung dengannya di pemandian.

Menolehkan kepala dengan ekspresi kaget, karena sedari tadi sama sekali tidak mendengar apapun, raut mukanya berubah sengit. Hampir membuat hati Honey ciut karena tidak biasa dengan wajahnya tanpa ekspresi tenang yang biasa.

Wajah Trois jelas-jelas menyuruh Honey untuk menjauhinya. Kerutan di dahinya dan tatapan matanya yang tajam cukup mengepresikan kemarahnnya saat Honey malah mengabaikan keinginan hatinya. Honey tetap masuk dan kemudian duduk di sebelahnya.

Dengan dengusan jengkel, Trois bangkit. Pandangan matanya dialihkan dari sisi kanan, dimana Honey berendam, dagunya sedikit terangkat dan ia memutar tubuh. Bersiap keluar dari kolam.

Dengan cepat Honey menyambar pergelangan tangan Trois. Ia mendengar Trois mendecakkan lidah dan menarik tangannya lepas. Tapi itu membuat Honey malah menarik turun Trois dengan paksa. Air kolam menciprat besar diiringi bunyi deburan.

"Honey-kun!" Trois berseru kaget. Pantatnya menghantam dasar kolam, untungnya tidak sakit karena tahanan air. Namun begitu, ia tetap saja amat terkejut. Dadanya sedikit terasa tertekan saat terhempas kembali ke air dengan kasar.

Ia segera duduk dengan tegak sebelum kepalanya terendam dan kondisinya yang tidak siap bisa menyebabkan ia tersedak air. Kemudian kepalanya menoleh dengan sentakan tajam pada si pelaku. Melempar tatapan kesal dan marah.

"Oh, akhirnya kau mau juga bicara," Honey menyahut pelan. Ada sedikit nada sinis dari kata-katanya, jengkel diakibatkan perlakuan dingin Trois beberapa hari belakangan.

Trois mendengus mendengarnya. Ia tidak membalas dengan kata-kata tajam tetapi kembali diam.

Melihat ia kembali diberi silent treatment, Honey menghela napas kasar. Tangannya yang basah mengusap kepalanya, membuat rambut ungu itu menjadi berantakan. "Trois, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak sengaja, oke. Dan kalau kau masih kesal, aku dengan senang hati akan mengganti peralatan dan mesinmu itu. Semuanya."

Kalau ada yang mendengar betapa putus asanya dia, pasti ledekan tidak akan pernah berhenti dilemparkan padanya, terutama oleh Uno. Tetapi karena hanya ada Trois disini, pria yang tahu bagaimana mempermainkannya sampai ia menjadi frustasi, Honey tidak akan ambil pusing dengan harga diri yang tercoreng.

Trois kembali membuang pandangan darinya. Honey mengeram kesal.

"Oh, kau masih tetap akan begini ya…" pria itu memicingkan mata, mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Trois dan menarik pria berambut hijau mint tersebut dengan kasar sehingga Trois menabrak dirinya.

Honey melingkarkan tangannya yang satu lagi pada pada bahu Trois. Menahan pria itu memberontak dalam kukungannya.

Honey melepaskan genggaman pada pergelangan Trois. Mempertahankan ketegapan tubuhnya dari Trois yang mendorong dadanya menjauh. Tangannya yang kini tak lagi menggenggam pergelangan Trois merayap pada tengkuk Trois. Memaksa pria yang menghindar untuk menatapnya itu agar membalas tatapannya.

Trois mendecih kesal. Melotot tajam pada Honey. Kini ia tidak bisa untuk tetap bersikap keras kepala mengacuhkan Honey, maka ia putuskan untuk memberikan Honey tatapan marah.

"Trois, aku sudah minta maaf padamu berulang kali. Apa kau tidak merasa kalau tingkahmu yang mendiamkan ku ini sudah sangat kekanakan?!"

"Aku? Kekanakan?" Trois mengangkat sebelah alis, memasang ekspresi tak mengerti pura-pura. "Kau pasti salah mengira aku dengan dirimu Honey-kun," ucapnya mencemooh.

"Kau!" Honey mengeram.

"Kerja kerasku berminggu-minggu terbuang olehmu, aku sama sekali tidak melihat balasanku atas perbuatanmu ini kekanakan," ujar Trois, menyilangkan tangan di dada.

Honey menghela napas gusar. "Kekanakan disaat kau sama sekali tidak mau mendengarkan permohonan maafku dan tawaranku untuk mengkompensasi kerusakan yang aku perbuat."

Trois kembali membuang muka. Honey tahu kalau pria itu tidak akan mengakui kebenaran ucapan Honey.

Honey menyipitkan mata. "Baiklah, kalau itu maumu…" desisnya. Mendekatkan diri pada wajah Trois, manik merah Trois mendelik padanya dari sudut mata.

"Akan kubuat kau berhenti menghiraukanku," ketus Honey. Jika sudah seperti ini, saran konyol Uno kemarin rasanya bagus untuk diikuti.

Tangan Honey yang memeluk pundak Trois turun ke pinggang pria itu sedangkan tangan yang menangkup tengkuk Trois mendorongnya mendekat.

Honey menabrakkan bibirnya dengan bibir Trois. Pria itu terkejut lalu berusaha mendorongnya menjauh. Trois mengatup rapat bibirnya, sama sekali tidak mau goyah oleh lidah Honey yang menjilati belahan bibirnya. Memintanya untuk membuka mulut.

Namun Trois tetap bersikeras walaupun tekhnik ciuman Honey yang lihai mudah membuat para gadis terbuai. Tapi Trois juga berpengalaman dalam soal ini, ia tidak akan menyerah semudah itu.

Honey menghentikan usahanya. Ia mendecak kesal. Walaupun tahu kalau Trois keras kepala, ini tetap saja menyebalkan.

Honey mendelik pada Trois yang juga balas memelototinya. Menyipitkan mata, Honey memutuskan untuk benar-benar serius membuat Trois menyerah.

Pria berambut ungu itu kembali menempelkan bibirnya pada bibir Trois. Kali ini tidak memagut bibirnya sensual seperti sebelumnya tetapi malah menggigit tepi bibir Trois cukup keras.

Cukup untuk membuat Trois tersentak kaget dan membuka mulutnya untuk berteriak. Walaupun ia tidak bisa bersuara karena Honey langsung memaksa lidahnya masuk. Memanfaatkan kesempatannya dan tidak membiarkan waktu sedetik pun bagi Trois untuk melawan.

Lidah Honey memainkan lidah Trois. Tangannya yang berada di tengkuk Trois semakin mendorong wajah Trois mendekat, memiringkannya sehingga ia semakin leluasa melilit lidah Trois.

Tangan Trois yang tadi berusaha mendorong Honey kini mengepal di dada Honey. Akhirnya ia mulai kesulitan untuk mempertahankan fokusnya melawan Honey.

Telapak tangan Honey menyisiri punggung Trois. Naik dan turun beberapa kali, mengirimkan saraf tubuhnya ransangan ringan. Kemudian tangannya berhenti di salah satu bongkahan pantat Trois. Meremasnya seperti meremas bantal karena Honey tidak akan repot-repot berbohong kalau pantat Trois itu begitu lembut dan empuk. Membuatnya gemas untuk selalu meremasnya.

Selama sibuk dengan bongkahan pantat empuk tersebut, ia mendorong pinggul Trois untuk mendekat padanya. Pinggang mereka bersentuhan dan kejantanan mereka bergesekan. Dan Honey menggerakkan pinggulnya untuk membuat gesekan itu lebih sensual. Membuat kejantanan mereka sudah setengah menegang.

Honey melepaskan ciumannya setelah sekian lama. Memberi ruang bagi keduanya untuk menarik napas. Tapi Honey tidak berlama-lama bersantai. Ia langsung kembali menyerang Trois dengan mulutnya walau kali ini bukan bibirnya yang menjadi target.

Honey menyapukan bibirnya pada rahang Trois, turun pada lehernya. Memastikan semua bagian sensitif pada leher pria itu dikecup. Dicium dan dihisap.

Perlakuannya membuat Trois mulai gemetar menahan ransangan. Mulutnya membuka, mengeluarkan desahan tak bersuara.

Tangan Honey yang bersarang di tengkuk Trois pindah ke depan tubuhnya. Langsung menemukan puting Trois. Ia meremas dadanya sebentar sebelum mencubit putingnya.

Trois tersentak kembali. Tangannya telah berpindah pada bahu Honey, meremasnya sampai Honey dapat merasakan kukunya menggores kulitnya. Tidak terlalu dalam untuk meninggalkan luka.

"Honey-kun… berhenti!" Trois berhasil berseru setelah menahan erangannya.

Honey sama sekali tidak mengacuhkannya. Seolah membalas perlakuan dingin Trois selama ini. Alih-alih berhenti, ia malah memberikan serangan langsung. Tangannya yang menangkup pantat Trois kini menggenggam kejantanan Trois. Mengurut batangnya dengan lembut dan stabil sampai ia membuat Trois tegang sepenuhnya.

"Honey-kun! Berhenti atau kau akan membuat kolam kotor," pekik Trois panik. Jika Honey terus menstimulus dirinya seperti ini, Trois akan mulai mengeluarkan pre-cum. Cairan putih itu akan tersapu oleh air, tidak hanya mengotori air pemandian tetapi juga meninggalkan jejak bukti kegiatan mereka.

Honey sepertinya mengerti dengan pemikiran Trois, tetapi ia tidak melepaskan Trois. Kedua tangannya memegang erat pinggang Trois dan kemudian mengangkat pria muda tersebut dan mendudukkannya di tepi kolam.

Kedua kaki Trois juga dinaikkan, dibuka sehingga ia mengangkang. Trois terpaksa menyangga tubuh dengan tangan di belakang punggung.

Honey menatap tajam Trois yang mengerutkan kening. Tentu pria berkebangsaan Prancis itu tidak senang dengan kondisi yang membuatnya tak berkutik begini. Dan walaupun napasnya terengah-engah dan kulitnya bersemu merah karena panas tubuhnya yang semakin meningkat, Trois tampak masih keras kepala menunjukkan kekesalannya pada Honey.

Dan itu membuat Honey ikut kesal karena pria itu belum juga luluh sepenuhnya.

"Keras kepala," desis Honey dengan urat kening berkedut. Ia memasukkan dua jari ke mulutnya sendiri. Membasahinya dengan air ludah.

Alis Trois bertaut dalam. "Jangan bilang kau akan melakukannya dengan air ludah!" Trois berujar dengan nada memperingatkan. Tentu saja ia tidak senang karena itu air liur, duh. Sama sekali tidak membantu mengurangi rasa sakit dan memikirkan kalau itu adalah air ludah yang masuk ke area intimnya membuat perasaan tidak mengenakkan.

"Sorry darling, but you don't have any choice right now," ucap Honey dengan seringai membayang di bibirnya. Panggilan sayang diucapkan dengan nada manis palsu.

Trois melotot jengkel, ia akan membalas perkataan Honey saat pria itu menyentuh lubang analnya dengan jari yang dilumuri ludah, memasukkan satu jari dengan mudah.

Trois mengerang. Honey menggerakkan jarinya keluar masuk sebentar. Dengan segera memasukkan yang kedua. Kini Trois mendesis saat lubang analnya dilonggarkan, area dalam badannya yang sensitif bergesekan dengan kulit jari yang lebih kasar. Menghasilkan rasa perih yang tidak terlalu menyakitkan tetapi tetap tidak nyaman.

Jari di dalam rektumnya masuk sedalam yang dibisa. Menekuk dan menekan bagian sensitif yang membuat Trois melempar kepalanya dan mendesah. Kemudian ia melakukan gerakan menggunting agar semakin melonggarkan anal Trois.

Kaki Trois bergetar, pria itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia menatap Honey dengan mata berair. Pria itu membalas tatapannya dengan seringai lebar.

"Tch," Trois mendecih. Walaupun ia sangat jengkel sampai rasanya ingin menendang Honey, tapi kakinya lemas tak bertenaga dan seluruh tubuhnya gemetaran.

Honey memasukkan jari manisnya, jari ketiga yang masuk itu sama sekali tidak diberi pelumas ludah. Hanya basah oleh air. Lebih membuat Trois merasakan permukaan kulit bergesekan dengan kasar pada dinding rektumnya. Membuatnya mendesis setiap kali Honey menggerakkan jarinya.

Begitu Honey merasa lubang anal Trois cukup longgar, ia naik keluar dari kolam. Karena ia naik tepat di depan Trois, pria itu langsung terkurung olehnya. Kedua tangan Honey berada di sisi tubuh Trois, sedangkan kaki Trois yang membuka berada di sisi pinggang Honey. Wajahnya berdekatan sekali dengan Trois. Pria bermanik merah itu bisa melihat kerut halus di antara alis Honey serta tatapan matanya yang begitu fokus membalas pandangan Trois.

Begitu kedua kakinya keluar dari air, Honey duduk dengan tegak. Tangannya menahan pinggang Trois. Pria itu merasakan telapak tangan Honey mendorongnya sehingga Trois menjadi duduk di pangkuan Honey.

Honey menenggadahkan kepala dan mencium belakang telinga Trois. Tangannya masih memeluk pinggang Trois. Ia menyelipkan satu tangannya ke belakang Trois. Mengangkat sedikit pinggul Trois dan ia meraih kejantanannya sendiri dengan tangan lain. Memegang batangnya agar tegak. Kemudian ia menurunkan pinggul Trois perlahan.

Mulut Trois otomatis membuka. Mengeluarkan lenguhan panjang saat kejantanan milik Honey mendorong masuk lubang analnya.

"Ah! Honey-kun…" desahnya. Lengannya memeluk leher Honey dan tangannya mengepal di tengkuk Honey, meremas helaian rambut ungu tersebut.

Honey mengerang, menjeda kegiatannya mencium telinga Trois untuk merasakan rasa nikmat miliknya memasuki tubuh pria itu serta rasa sakit yang tumpul saat Trois menarik rambutnya. Memejamkan mata sampai akhirnya seluruh miliknya tenggelam di dalam Trois.

Saat ia membuka mata, ia dihadapkan pada Trois yang menarik napas terengah-engah melalui mulutnya yang terbuka. Dadanya naik turun seiring udara yang masuk. Matanya berkilat, tertutup air mata saat menahan rasa perih. Tetesan air menggantung pada ujung bulu matanya yang lebat dan lentik. Rona merah mekar di pipinya, menyapu sampai ke pundak dan dadanya. Menciptakkan perpaduan yang cantik dengan warna kulitnya yang putih bersih.

Honey selalu berpendapat bahwa Trois sangat indah pada saat seperti ini. Membuat sensasi panas pada dadanya dan menciptakan dorongan untuk mencium bibirnya yang tipis. Dan itulah yang dilakukan Honey. Menempelkan bibir mereka dan memagutnya dengan sensual.

Bentuk apresiasinya pada keindahan jasmaniah tersebut.

Dari dulu Honey selalu berpikir dia adalah pemuja wanita. Dan itu memang benar. Walaupun pada akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak sepenuhnya straight, Honey tidak pernah merasa bisa mengapresiasi keindahan tubuh laki-laki dibandingkan tubuh wanita. Semua dengan lekuk yang penuh sensualitas, begitu berbeda dengan tubuh laki-laki. Lebih mudah baginya mengagumi wajah tampan seorang pria daripada tubuh mereka.

Tapi Trois merupakan pengecualian.

Trois mempunyai wajah yang tampan, berbentuk hati dengan rahang yang sempit dan juga berkesan halus. Tulang pipinya tinggi, bulu matanya lebat, bibirnya tipis selalu menyunggingkan senyum. Wajahnya penuh keanggunan yang selaras dengan gerak-gerik tubuhnya.

Dan tubuh Trois juga indah. Perawakannya langsing, massa ototnya sama sekali tidak berlebihan. Bahunya lebih sempit daripada Honey dengan pinggang yang begitu ramping. Pinggang dan punggungnya memiliki lekuk yang anggun sekaligus sensual. Paha dan betisnya proposional. Ditambah bonus jarinya yang lentik serta warna kulitnya yang cerah.

Trois adalah pria yang paling indah yang pernah Honey lihat.

Membuat Honey haus untuk menyapukan bibirnya pada keindahan fisik Trois. Ia memuaskan gairahnya dengan mencium leher Trois. Pria itu menelengkan kepala, desah pendek terus keluar di bibirnya.

Tapi pada saat seperti ini, sekedar ciuman tidak akan cukup bagi Honey. Tidak dengan rasa panas yang mengumpul di bawah perutnya yang memintanya untuk mencapai rasa nikmat yang lebih.

Honey mendorong pinggulnya, menyentak penisnya di dalam lubang Trois.

"Ahh!" Trois merintih saat Honey terus mengulangi gerakannya. Tangannya kembali meremas pantat Trois. Menaik turunkan pinggulnya seirama hentakan Honey.

Honey semakin menegang di dalam rektumnya, dan ia semakin menusuk lebih jauh. Mengetahui kemana ia harus mengarahkan dorongannya.

"HAH! Honey-kun!" saat Trois melempar kepalanya dengan kuat sembari berseru, Honey tahu ia mencapai prostat Trois dengan tepat. Maka ia fokuskan setiap hentakannya untuk meraih titik itu. Menusuk dengan kuat dan semakin lama semakin cepat terdorong oleh nafsunya sendiri.

Desahan napas Honey semakin berat. Ia menggigit bibirnya kuat saat dirasakan panas pada bagian bawah perutnya semakin membara, membuat ia tidak bisa menahan dorongan untuk terus mempercepat gerakannya.

"Honey-kun… ahh… pelan… ku mohon… ah…" Trois merintih. Setiap saraf pada tubuhnya gemetar di setiap hentakan Honey. Perutnya serasa melilit dan ia tahu ia akan mencapai klimaksnya segera.

"Honey… pelan… ahnn.. atau aku akan segera, ugh… klimaks," Trois meremas rambut Honey, menyalurkan sensasi yang ia terima.

Honey mendongak padanya dan menangkap mulut Trois. Menyapukan lidahnya dengan lidah Trois dan langit-langit mulutnya. Kali ini ciuman mereka sama sekali tidak sensual, hanya decapan lidah yang terburu-buru sehingga ludah menetes dari ciuman panas tersebut.

Mereka menghentikan ciumannya untuk sama-sama mengerang. Honey kembali menusuk dengan keras prostat Trois dan dinding anal pria itu semakin menjepit penis Honey.

"Kalau kau ingin klimaks, hah… klimaks saja… memang itu tujuannya bukan?" balas Honey menahan geraman karena nikmat yang ia rasakan. "Ku bantu," lanjutnya, meraih kejantanan Trois dan mengocoknya cepat.

Dada Trois membusung dan ia melenguh panjang. Akhirnya mencapai klimaksnya. Tubuhnya membeku selama orgasme yang singkat itu, nikmat membuncah saat mengeluarkan sperma sekaligus masih bisa merasakan penis Honey yang terus bergerak di dalam analnya, menggapai klimaksnya sendiri.

Honey mengeram, fokus pada ekspresi sayu Trois saat dia mendapatkan orgasmenya. Ah, pria itu tampak seksi sekali. Honey tidak tahu kalau dia masih bisa lebih birahi disaat seperti ini, tapi kenikmatan tubuh Trois ditambah pemandangan erotis yang memanjakan matanya membuat Honey semakin panas.

Pinggulnya menyentak dan bergetar, klimaks di dalam. Trois tidak akan senang harus membersihkan diri lagi, tetapi Honey terlalu tenggelam dalam nafsunya sehingga tidak bisa mengendalikan orgasmenya.

Selagi ia mengeluarkan air maninya, ia memaju mundurkan kejantannya dengan pelan. Menikmati sisa-sisa klimaksnya sekaligus memberikan tubuh Trois yang hipersensitif sesudah orgasme itu tambahan stimulus. Honey menyeringai melihat Trois gemetar, merintih pelan.

Begitu ia selesai, dengan hati-hati pria berambut ungu tersebut mengeluarkan penisnya dari dalam anal kekasihnya. Pelan-pelan ia mendudukkan Trois di pangkuannya. Ia kecup pelipis Trois lalu memberi pagutan singkat pada bibirnya yang dibalas dengan malas oleh Trois yang lelah.

Ia menatap Trois yang ada didalam dekapannya. Melihat apakah pria itu masih menampakkan tanda-tanda marah.

Namun Trois tampak begitu rileks. Senyum malas tersungging di bibirnya. Pandangan matanya sayu dan tangannya mengalung di leher Honey. Satu ibu jarinya mengelus tato hati yang ada di sisi leher Honey.

'Sepertinya dia sudah tidak akan marah lagi,' pikir Honey. Mungkin saran iseng Uno benar-benar membantu. Trois akan berhenti mendiamkannya dan ia juga mendapat satu sesi seks.

Dan walaupun ia ingin melanjutkannya, Honey harus menunda hal tersebut. Sebentar lagi tahanan-tahanan lain akan selesai dengan pekerjaan mereka dan segera mandi.

Maka Honey memakai waktu yang tersisa dengan beristirahat sembari mengecup seluruh wajah Trois dan bersiap untuk membersihkan jejak-jejak kegiatan intim mereka.

.

.

.

Honey sungguh tidak mengerti.

Ia melotot ke arah meja biliar di seberang ruangan bersantai gedung tiga belas. Seminggu sesudah undangan sebelumnya dari Uno. Dan sehari sesudah kegiatan intim mereka di pemandian.

Honey yakin dengan amat sangat pada saat itu Trois sudah melupakan kekesalan yang ia pendam. Tetapi saat mereka kembali ke sel mereka, Trois mengabaikannya lagi.

Pria kelahiran Perancis itu kembali tidak menyahuti perkataannya.

"Kalian masih bertengkar?" suara menyebalkan itu masuk ke gendang telinga Honey.

"Menurutmu?" ketus Honey pada Uno yang menyandarkan siku di bahu Honey dengan seenaknya.

"Sudah ku bilang ikuti saranku!" seru pria berambut pirang itu.

"Diamlah! Saran konyol seperti itu sama sekali tidak membantu!" balas Honey jengkel.

"Saranku tidak konyol!" Uno membela diri, kemudian tertegun. "Tunggu, kau bilang 'sama sekali tidak membantu' dan bukannya 'tidak akan membantu', kau mengikuti perkataanku waktu itu ya?!" sahut Uno menebak dengan seringai lebar.

"Diam!" Honey membentak sekaligus memberikan jari tengahnya pada Uno. Hanya saja dia tidak bisa menyangkal dan wajahnya merona merah malu membenarkan.

"Oh wow, jadi bagaimana? Make-up sex itu benar-benar hot bukan?" tanya Uno dengan sinar mata ingin tahu. Tak sabar untuk mengorek seluruh detail dari temannya tersebut.

"Tapi tunggu dulu, apa itu tetap bisa disebut make-up sex kalau kalian sama sekali tidak berbaikan pada akhirnya?" sambung Uno dengan senyum mengejek.

"Kau!" geram Honey marah dan mulai melayangkan serangan pada Uno yang tentunya dengan lihai dihindari pria pirang itu sembari masih tersenyum jahil.

Jyugo geleng-geleng kepala menonton pertengkaran biasa mereka dari seberang ruangan. Ia menolehkan wajahnya pada arah yang berlawanan dan berjalan mendekat pada meja biliar. Trois baru saja berhasil memasukkan sebuah bola lagi setelah memukulnya dengan tongkat. Tersenyum bangga dengan keahliannya. Ia menoleh saat Jyugo berjalan ke arahnya.

"Kau ingin ku ajari lagi, Jyugo-kun?" tanya pria itu dengan senyum simpul yang biasa terpampang di wajahnya.

Jyugo menggeleng. "Ne, Trois, kenapa kau masih mendiamkan Honey?" tanyanya tanpa berbasa-basi.

Trois mengulum senyum. Ia kembali menatap meja biliar. Membungkuk dan mengambil ancang-ancang memukul. Mendorong tongkat dan sebuah bola masuk lagi dengan mulus. Pria itu berdiri, menolehkan wajah pada Jyugo dan senyumnya semakin lebar. Mata merah di balik lensa berkilat tajam.

"Tentu saja dia harus belajar untuk berhati-hati," sahutnya. Mengetukkan jari dengan kuku panjang terawat rapi pada tepi meja biliar.

"Lagipula, aku ingin melihat lebih lama ia putus asa mengejarku," tambah pria berambut mint tersebut diiringi sebuah kedipan.

Pada saat itu Jyugo merasa kasihan pada Honey. Terikat pada pria menakutkan seperti Trois.

.

.

Fin.

.

.

A/N:

Ide ini aku dapat dari promt generator: Person A is mad at Person B and is being very stubborn about it, ignoring them completely no matter what. Person B has tried everything to make it up to them, and as last resort, wraps their arms around Person A and start whispering dirty things to them in hopes of make up sex. Bonus points if they do end up having sex but Person A just goes back to ignoring Person B right afterward.

Kebetulan banget dapet Trois sebagai Person A dan Honey sebagai Person B. Dan ini benar-benar cocok buat mereka lmao.

Untuk fic ini aku kesulitan yang pertama itu nyari dimana enaknya mereka buat sex, soalnya sel Honey dan Trois itu di komik diliatin dindingnya dari kaca, beda dari sel 13 yang lebih tertutup dan cuman punya dua jendela kecil. Nggak mungkin dong mereka sex di depan banyak orang. Jadi aku make pemandian umum sebagai tempatnya dan asumsiin semua gedung punya aturan yang sama kayak gedung 13 dimana siapa yang selesai kerja duluan boleh make kamar mandi duluan juga. aku nggak terlalu pengen bikin AU soalnya.

Oh, dan pas nulis ini aku dengan begonya bikin Trois dan Honey dari gedung 2. Baru sadar kalau mereka itu seharusnya dari gedung 3 pas ngecek bio Trois di wiki. Yang dari gedung 2 itu jelas-jelas Musashi (" ._.)

Untuk selanjutnya aku pengen bikin fic yang bisa nonjolin sifat Trois. aku suka banget sama dia dan ngerasa kalau dia itu ultimate power bottom. Lol.

Seperti biasa, A/N ku udah panjang banget. Jumpa di fic lain.

XOXO

Ai19