Disclaimer Naruto hanya milik Masushi Kisimoto

.

.

Aku seharusnya ingat bahwa malam pertama itu kami tidak melakukan apa-apa. Sewaktu bangun pagi-pagi buta, aku begitu ceria, tetapi langsung kaget saat sadar bahwa aku telah menikah dan laki-laki itu sedang tidur di sampingku.

Keadaan kamar itu tidak gelap-gelap amat. Ada seberkas cahaya samar yang masuk melalui jendela yang bertirai. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Segalanya agak kabur.

Di sebelahku, suamiku mendengkur halus~namanya Uzumaki Naruto kalau-kalau kau belum tahu. Dengkurannya kedengaran membaur dengan suara-suara lainnya. Aku meliriknya sejenak. Sekonyong-konyong aku merasa was-was kalau-kalau dia telah mencampuri sesuatu ke dalam air minumku, lalu menodaiku seperti kelakuan pria-pria tidak beres di luar sana.

Aku langsung menyibak selimut, memandangi gaun pengantinku yang tidak jelas. Lalu setelah menyadari bahwa semua baik-baik saja, aku jadi malu sendiri karna beranggapan demikian.

Dia pun terbangun. Aku lantas pura-pura tidur. Dia lalu menyalakan lampu tidur. Aku punya firasat bahwa dia sedang memandangiku dan aku benar. Jantungku pun berdebar-debar dibuatnya. Lalu, aku merasakan sebuah sentuhan. Sentuhan itu berupa elusan singkat di rambutku, lalu diikuti sentuhan ujung jarinya di ujung bibirku. Ujung jarinya bergerak pelan di wajahku.

Jantungku berdenyut gila-gilaan. Apakah sudah saatnya? Aku bertanya-tanya. Padahal aku belum siap melakukan 'Itu'. Tapi kemudian aku mendengar dia mendesah, dan berhenti melakukan aktivitas menyebalkan itu. Aku memberanikan diri mengintip. Dia lantas turun dari ranjang, lalu masuk ke kamar mandi.

Aku pun membuka mata saat keadaanku sudah menenang. Aku merenungkan tentang pernikahan ini selama kira-kira puluhan menit. Lantas terkejut saat pintu kamar mandi terbuka dan suamiku keluar dengan tubuh setengah bugil. Meski tidak terang-terang amat, tapi aku cukup jelas melihat tubuhnya yang atletis itu. Kulitnya serupa kuningan. Sepasang mata biru dengan rambut pirang keemasan. Ada tiga goresan aneh di kedua pipinya. Rahangnya tergambar jelas. Bibir yang tipis, tulang pipi agak menonjol, dan bentuk hidung yang bagus.

Bentuk leher dan bahunya, itulah yang menarik perhatianku saat ini. Bagus sekali lekuk-lekuk itu! Aku kembali terpaku pada matanya. Mata biru itu menusuk jauh ke dalam perasaanku, seakan-akan pandangannya menembus dan melihat semua isi hatiku. Aku mulai merasakan gejolak samar saat aku terdiam melihatnya.

Dia pun tersenyum, lalu menghampiriku. Aku segera menunduk. Dia lantas duduk di pinggiran kasur. Aku meliriknya sebentar. Dia tak mau berpaling dariku. Dan keadaan jadi agak canggung.

Aku tidak terkejut dengan keadaan itu, soalnya kami ini 'kan tidak saling mengenal~tidak ada waktu untuk melakukan itu dalam tempo waktu seminggu saja. Mungkin dengan berpacaran dulu keadaan akan jauh lebih hangat.

''Bagaimana perasaanmu, Hana?'' tanyanya dengan nada riang.

Aku menoleh untuk menatapnya lagi. "Biasa saja.''

Dia tersenyum. Matanya kelihatan lucu. Berbinar-binar seperti mata anak-anak. ''Baguslah. Kukira kau akan menangis karna takut.''

''Kenapa aku harus takut? T-toh sudah seharusnya begini 'kan?'' sahutku dengan gugup.

''Mungkin saja karna kita akan melakukan 'Itu' sebentar lagi...''

Untuk pertama kalinya aku merasakan wajahku menjadi panas. Dan aku membuang muka karna malu. Dia tertawa dengan suara yang kedengaran mencurigakan. Aku mulai merasa berdebar membayangkan dia akan menggauliku. Aku tahu tidak akan menang jika melawan. Karna tubuhnya nyaris dua kali lipat besarnya dari badanku yang kecil ini.

Tiba-tiba saja dia bangkit. Aku kembali memandanginya dengan was-was, memperhatikan gerak-geriknya detik demi detik. Dia berjalan ke arah meja rias, diam di sana menghadap cermin, lalu mengatur rambutnya. Aku menghabiskan kira-kira setengah menit hanya untuk memperhatikan dia mengatur rambutnya.

Lantas dia lalu berjalan ke arah lemari pakaian dan membukanya. Tanpa minta izin padaku, dia serta merta melepaskan handuk yang melilit pinggangnya. Sontak aku pun berpaling karna malu bercampur marah, nyaris saja berteriak, "Pakai bajumu, tolol!" Tapi kuurungkan karna aku tak mau tampak aneh.

Setelah dia selesai berpakaian, dia pun keluar. Aku tak mau tahu apa yang dipakainya. Aku tak mau melihat padanya. Baru setelah keadaan telah tenang, aku masuk ke kamar mandi.

Aku sedang memandangi bayangan diriku dalam cermin. Sepasang mata lavender dalam bingkai wajah yang kecil menatap balik dari pantulan diriku. Tiba-tiba saja pintu diketuk. Terdengar suara kakak perempuanku dari luar dan aku menyahut, "Sebentar!"

Sesudah dengan pasti bahwa aku telah beres, aku pun bergegas membuka pintu. Senyum jenaka Hinata menyambut pandanganku. Dia pun masuk dan menutup pintu. "Gimana? Gimana?" tanyanya penuh selidik.

"Gimana apanya?" Aku bertanya balik.

"Soal yang tadi malam," jelasnya. "dia galak gak?"

Aku cemberut. "Kakak ini, kami tidak melakukan apa-apa. Kami cuma tidur seranjang. Tidak terjadi apa-apa seperti yang kakak bayangkan."

Alis kak Hinata mengerut padaku. Mukanya berubah dari ceria menjadi aneh seolah-olah sedang menilai kalau aku sedang mengerjainya. "Masa sih kalian tidak melakukan apa-apa? Padahal aku sudah mengira bakal mendapat kehebohan."

"Mau bagaimana lagi, kak," jawabku. "aku tak mengenalnya. Dia pun belum mengenalku. Kami bahkan tidak bertegur sapa saat menikah. Baru tadi malam kami bercakap-cakap. Itu pun cuma beberapa patah kata saja."

Alis kak Hinata berkerut makin dalam. "Ampun deh. Mengapa kamu tidak mengajaknya bicara?"

Aku memandangi kakakku dengan pandangan, 'Mulai deh.' sambil menukas, "Yang benar saja. Kakak lupa kalau aku bahkan belum mengenalnya?"

"Ya, tapi seenggaknya kamu 'kan bisa menyambutnya sebagai tamu," bantah kak Hinata agak sengit. Aku jadi sebal mendengar komentar itu. Bagi beberapa orang yang periang kayak kak Hinata mungkin bagian akrab dengan orang itu bisa terjadi dalam hitungan detik. Tapi bagi orang yang senang sendirian sepertiku susah buat akrab dengan orang asing. Entah aku harusnya menyesal ataukah bersyukur pada hidupku. Aku tidak tahu. Tapi sejak kecil aku memang sudah seperti ini. Ditambah tingkah ayah yang selalu campur tangan dalam hidupku. Tidak membiarkanku terlalu lama berada di luar seakan bila aku terlalu banyak bertemu orang-orang, dia akan merasa malu, kayak aku adalah aib yang tidak harus dilihat publik.

Aku tidak bilang ayah mengurungku bagai tahanan dalam penjara bawah tanah. Dia cuma membatasi gerak-gerikku, seperti 'Sudah kamu. Jangan temenan sama orang burik kayak mereka. Mereka itu suka main epep.' atau 'Kamu jangan ke sana ya, sayang. Ada kang geprek di sana. Ih emang kamu mau digeprek Balmond?'

Kami terdiam dengan agak canggung hingga kakakku membuang napas di depan wajahku. "Gimana menurutmu dia?"

"Biasa saja, kak," jawabku datar. "tak ada bagus-bagusnya."

Kak Hinata langsung menyahut, "Ganteng gitu kok dibilang biasa. Aneh kamu."

"Buat kakak saja kalau kakak suka," kataku berkelakar.

"Hush!" tegur kak Hinata. "jangan sembarangan ngomong. Kamu pikir menikah itu buat main-main doang apa?"

"Habis menurut kakak 'kan dia itu ganteng," jawabku. "ya sudah, cocok. Menurutku kak Hinata adalah bidadari dunia. Jadi Naruto dan Hinata pasti cocok." Aku mengakhiri kalimatku dengan tersenyum. Kak Hinata tidak melanjutkan topik itu, tapi mengalihkan topik ke lain-lain hal. Aku bisa merasakan kalau kak Hinata pasti punya rasa pada suamiku. Aku tidak tahu itu benar atau salah... tapi percakapan itu seolah memberi kesan padaku bahwa kak Hinata jadi lebih bergairah...

Tiga hari telah berlalu. Aku pun meninggalkan tempat tinggalku, diboyong suamiku menuju kediamannya di Uzushio. Suamiku pun membuka pintu mobil untukku. Pandangan kami lantas bertemu. Perasaan samar itu kembali menyergapku dengan tiba-tiba. Aku sontak berpaling kepada keluargaku yang berjejer rapi di beranda rumah. Tak terkecuali ayahku.

Semua tersenyum bahagia, melambaikan tangan. Aku merasakan kesedihan ketika kupandangi mereka beserta rumah besar yang kutinggali puluhan tahun itu. Mereka-mereka yang telah menemani hari-hariku; kak Hinata, kak Neji, ayahku, bibiku, pamanku, sepupu-sepupuku. Aku membuang napas dengan letih.

Suamiku berkata menyadarkanku, "Jangan sedih begitu, Hana sayang," katanya. "kita akan menjenguk mereka sebulan sekali. Janji."

Aku pun merasa lega. Tapi tetap saja kesedihan itu tak jua mau pergi dari hatiku. Aku tersenyum dan mengangguk. Lantas masuk mobil agak terburu-buru setelah akal sehatku menguasaiku. Tersenyum dan bertingkah begitu seolah-olah aku lupa bahwa orang itu adalah orang asing dalam hidupku.

Melalui kaca jendela mobil, pandanganku terpaku pada gerak semu pemandangan di luar. Suara-suara sibuk jalanan kota Kota Konoha terdengar jelas dari dalam mobil. Mesin mobil menderu halus. Suamiku dengan tangkas mengendarai mobil itu, tanpa berkata apa-apa. Aku membayangkan keluarga Uzumaki Naruto. Mertua yang jahat, ipar-ipar kurang ajar, serta muka asli suamiku yang sebetulnya sebenarnya sebelas dua belas bagaikan setan. Bisa saja aku akan dijadikan babu gratisan di rumah itu...

Bersambung...