Muda, tampan, sukses, dan berkepribadian menarik: Sephiroth adalah pria idaman setiap gadis zaman milenial. Tapi satu. Sephiroth bosan dengan hidupnya yang monoton. Maka suatu hari, atas kesadaran penuh, ia mendaftarkan diri ke sebuah reality show TV lokal.


Terrace House: Full Bloom

.

Disclaimer

FF VII © Square Enix

.

.


Bab 1

.

Sephiroth Crescent adalah pewaris tunggal sebuah badan riset independen di Midgar. Beberapa tahun yang lalu, ia lulus dengan predikat summa cum laude dari sekolah bisnis paling bergengsi sejagad. Dia pun telah dipercayai beberapa anak perusahaan, dan prestasi-prestasinya selama mengembangkan bisnis sungguh mengagumkan, sampai-sampai jika seseorang menulis biografinya, buku itu akan jadi buku paling laris di kalangan pengamat ekonomi.

Dari segi materi, pemuda bermata hijau itu punya segalanya: apartemen mewah dengan kolam renang sendiri di sektor terelit Midgar, mobil sport keluaran terbaru, baju-baju termahal, jet pribadi, bahkan sebuah pantai privat!

Meskipun dia bukan tipe yang suka menyombongkan diri, atau lebih tepatnya, ia tidak peduli pada pendapat orang terhadapnya, perusaahan-perusahannya sudah terkenal sering menggelar acara amal. Tentu saja, banyak motif yang melatarbelakangi kontribusinya dalam bidang sosial ini, namun dari luar, ia tampak sebagai orang yang sangat murah hati.

Dari segi kehidupan pribadi, Sephiroth bukan orang yang kesepian. Dia menghabiskan banyak waktu luang dengan ketiga sahabatnya. Biasanya mereka tetap membahas soal bisnis atau topik-topik berbobot lainnya, tapi tak jarang juga mereka pergi bersama dan bersenang-senang. Keempat pemuda sukses berusia akhir dua puluhan itu bahkan diam-diam membentuk sebuah grup band bernama SOLDIER, yang diam-diam sudah merekam single pertama mereka: "Loveless".

Memang, dari segi romansa, pemuda berambut keperakan itu belum dapat membanggakan apapun. Bukan karena tak ada gadis yang tertarik, tapi karena orangnya sendiri belum terlalu ingin memikirkannya. Perceraian ayah dan ibunya menahan perjaka tampan itu menceburkan diri dalam urusan asmara terlalu cepat. Ia bahkan mempertimbangkan untuk tidak menikah, entahlah. Tapi tetap saja, dengan atau tanpa seorang kekasih, hidupnya masih menyenangkan. Dia adalah Icon Man di seantero kota metropolitan itu. Jutawan muda, philanthropist, modern, dan masih single.

Namun, ada satu masalahnya: sudah lama pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu merasa hampa. Bukan karena kurang kegiatan ataupun tak ada ambisi. Sudah disebutkan di atas, itu sama sekali bukan masalahnya. Justru, kesibukannya yang seakan tiada akhir itu makin lama makin monoton baginya. Ia bosan dan sungguh butuh mencari angin segar.

Sore itu, dia dan gengnya akan mengadakan pesta di rumahnya. Mereka berendam di dalam jacuzzi yang diisi anggur merah, agar semakin berkelas sekaligus untuk perawatan kulit Sephiroth. Pengurus rumah pribadinya, seorang lelaki berusia senja, sengaja menaburkan kelopak mawar, melejitkan kemewahan hingga ke langit.

Teman-temannya berdatangan. Salah seorang di antaranya, Zack Fair, tampak sangat terpukau dengan inovasi baru acara berendam. Segera dikeluarkannya sebuah piranti kecil, kemudian dimulainya live streaming di sebuah media sosial yang lagi ngetrend jaman sekarang.

Dua sohibnya yang lain, Angeal Hewley dan Genesis Rhapsodos, bergabung di dalam video yang telah menjadi konsumsi publik dalam waktu kurang dari sepuluh detik itu. Puluhan komentar bombastis membombardir akun media sosial Zack, membuatnya semakin bersemangat dari detik ke detik.

Sementara itu, Sephiroth yang sudah merendam setengah badannya malah tampak bosan. Ia menghela napas panjang berulang kali.

"Ada apa, Seph? Bete abis kayaknya," celetuk Genesis, menjauh dari kamera. Pria berambut merah itu adalah pecinta puisi, sekaligus inisiator grup band mereka. Dialah yang menciptakan lirik-lirik lagu orisinil SOLDIER, sekaligus jadi lead vocal dan pianisnya. Ia masih berusaha meraih buku puisinya untuk dibaca di pinggiran jacuzzi.

"Biasalah," jawab Seph malas-malasan. Apapun yang sedang dihadapinya sekarang tidak tertutup dari pengetahuan mereka: rasa bosan akut ini. Hanya, tak ada yang menganggapnya serius.

"Itu hal wajar," kata Angeal suatu hari. "Semua orang menginginkan hal yang ideal, tapi setelah terpapar realita yang tak ideal, mereka terpaksa menyesuaikan ekspektasi-ekspektasinya dengan keadaan. Dan lama-lama, karena semua jadi gampang ditebak, menjadi bosan adalah akibatnya."

Sosok paling dewasa itu sedang menyetel musik klasik dengan piringan hitam, koleksi antik Sepiroth yang menjadi benda kesukaan Angeal di apartemen tersebut.

"Ada vodka? Aku sedang ingin melepas penat," usulnya.

"Langsung tancap gas?" timpal Genesis yang segera keluar dari kolam dan menyusul.

Asisten rumah tangga Sephiroth langsung memenuhi permintaan saat itu juga.

Dua gelas kecil berpantat tebal diisi dengan cairan bening yang samar berbau alkohol. Angeal segera menenggak cairan itu tanpa tedeng aling-aling.

Mereka mulai rileks. Percakapan-percakapan ringan pun diangkat, dan tak lama, tawa mulai terdengar. Sephiroth pun menyalakan televisi yang ada di seberang ruangan. Acara yang ditampilkan pada saat itu adalah sebuah reality show paling hits. Judul acara itu Terrrace House.

"Terrace House ya?" Sephiroth bergumam tanpa sadar.

Terrace House adalah sebuah acara tanpa naskah yang pemainnya adalah orang-orang biasa. Tiga pria dan sisanya wanita, dikumpulkan untuk hidup bersama selama minimal enam bulan di sebuah rumah cantik di suatu tempat di pinggiran Midgar. Singkatnya, itu adalah drama spontan yang jalan ceritanya dibiarkan berkembang natural tanpa diarahkan. Acara TV itu ditayangkan setiap hari, segera setelah masa shooting-nya berakhir. Tentu saja demi meraup untung yang sebesar-besarnya, hanya bagian yang cukup menarik yang disimpan, dan yang tidak terlalu penting dibuang. Sekarang, season dua sudah hampir berakhir. Judul season itu adalah Terrace House: City Living.

Di layar, seorang gadis dan seorang pemuda sedang berduaan di restoran di atas gedung pencakar langit, membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka. Singkatnya sang pria ingin menyusul gadis yang bekerja sebagai guru di daerah terpencil itu.

"Suatu saat, aku pasti akan menemukanmu lagi. Pasti. Aku yakin."

Genesis, yang perhatiannya ikut tersedot drama tersebut menggumam tak jelas tentang betapa telenovelanya ucapan pria tadi.

"Tak mungkin tayangan itu tak ada naskahnya," cibirnya.

Tapi Sephiroth tidak berpaling sedikitpun. Ia sedang mempertimbangkan ide gila yang mungkin saja akan dicobanya segera.

"Jodoh pasti bertemu. Jika kamu jodohku, maka kita akan bersama."

"Klise sekali," ujar Angeal menenggak cairan bening yang membakar kerongkongannya. "Andai hidup sesederhana itu."

"Itu dia yang kubutuhkan!" mendadak Sephiroth yang biasanya datar setengah berseru. Sontak perhatian kawan-kawannya terfokus padanya.

Sephiroth berdiri tiba-tiba. Ulangnya, "Itu yang kubutuhkan. Klise. Penyederhanaan hidup."

Pria bersurai perak itu menatap orang-orang di sekelilingnya dengan serius.

"Sudah kuputuskan. Aku akan mendaftarkan diri ke acara itu. Terrrace House."

Ruangan itu mendadak hening. Lalu, serentak kawan-kawannya berkomentar betapa gilanya ide itu.

"Kurasa dia masuk angin," Angeal bertutur.

"Dia sepertinya kesambar petir sehingga sarafnya kacau semua," timpal Genesis.

"Kesurupan mungkin," tambah Zack.

"Tuan Muda, mau saya buatkan susu hangat?" bahkan asistennya yang tak biasa bergabung dalam pembicaraan ikut menimbrung dengan nada khawatir.

Seph berkacak pinggang. "Terserah kalian mau bilang apa. Tapi keputusan ini sudah bulat."

Dia pun keluar dari kolam merah itu. Asistennya segera mengenakan robe di tubuhnya yang indah, yang tetap berhasil membuat teman-temannya yang sesama jenis itu terpukau.

"Kalau kamunya saja setampan itu, tidak mungkin pria-pria yang lain punya kesempatan. Acaranya bakalan jadi tidak menarik," kata Genesis, berusaha membuat niatan aneh temannya itu urung. Kemudian ia menempelkan jari di janggut. "Tapi selalu ada kemungkinan para pria itu tertarik padamu juga. Itu pasti bakalan seru."

"Kalau ada hal yang bisa membuat penampilanku biasa-biasa saja, akan kulakukan."

Genesis yang mendapatkan tatapan penuh determinasi itu tak dapat mengelak lagi. "Yah, sebenarnya asal kamu tak terlalu sering bertelanjang dada, itu bisa diatur, sih. Dengan style baju yang agak kampungan. Tapi aku nggak yakin pride-mu mengizinkan."

"Akan kulakukan," sumpah Seph dengan tenang, kembali ke dirinya yang biasa. Ditariknya keluar komputer jinjing yang tersimpan di dalam laci meja kopi di dekat mereka.

"Kalau ayahmu sampai tahu, dia bakalan marah besar."

"Dia baru akan tahu setelah masa pengambilan gambar selesai. Dan, sebagai catatan, dia tidak pernah nonton TV. Katanya acara-acara TV bikin bodoh," ujarnya. Tak lama kemudian jari-jarinya sudah bergerak cepat di atas keyboard.

"Tapi kan pegawainya pada nonton. Pasti berita itu akan sampai padanya…" Zack tampak ragu, "yah, setelah periode shooting selesai. Dan yang jelas itu sudah terlambat. Kamu benar."

Zack tadi mendapat lirikan maut Sephiroth dan buru-buru mengoreksi pendapat. Aduh. Jika Sephiroth sudah memutuskan maka tiada seorang pun di muka Gaia yang dapat menentangnya.

Kemudian Genesis menjentikkan jari, seakan sudah menemukan alasan paling mutakhir.

"Bagaimana dengan perusahaanmu yang banyak itu? Mereka akan semrawut tanpa sosok pemimpin. Coba pikirkan pabrik obat di sektor enam? Lalu rumah sakit yang baru dibangun dua bulan lalu itu."

"Semua perusahaanku diatur oleh artificial intelligent dan augmented analytics, ingat? Selama tidak ada masalah yang terlalu rumit, perusahaan-perusahaan itu akan aman. Tapi, untuk jaminan, bagaimana kalau posisimu di perusahaan tempatmu bekerja di sana kunaikkan jadi CEO? Bisa jadi kamu akan sangat berguna."

Mata Genesis berbinar. Dalam sekejap semua keberatannya hilang.

"Aku akan membantu kalian juga dalam satu hal—sebutkan saja. Asalkan kalian mendukungku dalam hal ini," sambung Sephiroth. Pada dasarnya, dia sedang menggunakan status dan kekuatan finansial untuk menyogok.

Setelah berpikir, Zack setuju.

Dan kini, tersisalah Sephiroth dan lawan terberatnya.

"Aku nggak yakin, Seph. Menurutku ini tidakan yang tak bertanggung jawab. Aku khawatir padamu," ujar Angeal.

Jari-jari Seph berhenti menari. Ia menghela napas.

"Nggak bolehkah Aku mencicipi hidup normal, Angeal?" Sephiroth mengangkat laptopnya. "Laptop ini? Vodka di tanganmu? Bahkan pasta gigiku sendiri, aku tak tahu harganya."

Angeal mendesah. Memang, bertahun-tahun dia tahu pria super kaya ini tak hidup layaknya manusia biasa. Angeal benar-benar tahu keseharian sang pewaris MRIH. Dari pagi sampai malam isi harinya hanya masalah kerjaan. Sephiroth bahkan terkadang bolak-balik dua belahan Gaia yang berbeda dalam 48 jam. Ia ke sana kemari dengan pesawat paling mewah, namun tidak pernah pergi berbelanja, apalagi memasak makanannya sendiri. Melihat menu asupan yang sangat diatur oleh ahli gizi keluarganya, terkadang membuat juga Angeal kehilangan nafsu makan.

"Aku merasa seperti zombie yang hanya bergerak tapi nggak benar-benar hidup."

Suara bass Sephiroth masih kalem, hanya saja Angeal menangkap maksud ucapannya. Ia sendiri sedikit melunak. Sephiroth benar-benar menginginkan sebuah escape dari rutinitasnya yang gila. Terlebih lagi, sepertinya ia tak hanya menginginkannya. Ia membutuhkannya.

"Baik," putus Angeal. "Mari kita lihat dulu, apa kamu lolos tahap seleksi. Yang jelas, pasti banyak sekali peminat acara yang menawarkan jodoh instan macam itu. Kalau kamu lolos, baru kita bicarakan lagi nanti."

Sebuah lengkungan terbentuk di atas dagu bagaikan lebah bergantung itu. Ditekkannya tombol 'kirim'. Formulir pendaftaran itupun melesat ke server penyelenggara, menjaga dadanya tetap berdebar selama beberapa minggu ke depan.

.

.

Kesibukan sebagai pewaris Midgar Research Institute Headquarter berlanjut. Di luar perkiraan, itu adalah bulan yang melelahkan. Ayahnya ternyata juga mengambil lebih banyak libur dari yang seharusnya, sehingga dialah yang diminta mengurusi usaha utama keluarga: badan riset tersebut. Ketiga sahabatnya tak heran melihatnya kalang kabut ke sana kemari untuk meeting dan negosiasi, karena bulan itu ternyata banyak tenan super penting yang tiba-tiba ingin bertemu. Hebatnya, Sephiroth masih menyempatkan memasang notifikasi khusus, sehingga jika suatu waktu email yang dinanti-nantinya tiba, dia bisa langsung mengetahuinya.

Pada suatu sore, setelah puluhan meeting dan ratusan telepon, pria jangkung tersebut akhirnya bisa bersantai di kolam renangnya. Kebetulan, Genesis dan Angeal juga sedang bisa diajak bertemu.

"Jadi? Sudah dapat balasan?" celetuk Angeal dari atas kursi santai, sambil lalu membalik-balik halaman koran. Di sampingnya, Genesis, sambil berkutat buku puisi, menikmati segelas Mors dengan lemon.

"Belum," jawab Seph santai. Jangan-jangan surat lamarannya tak semeyakinkan itu. Maksudnya, orang sebesar dia, yang namanya dengan mudah ditemukan di moggle, mungkin bukan yang mereka cari. Lagi pula, target audiens dari tayangan tersebut kan, jelas bukan milyarder sepertinya. Orang-orang akan terpukul oleh kenyataan bahwa kesenjangan sosial itu nyata, begitu mengetahui siapa Sephiroth.

Pria itu kemudian timbul tenggelam di dalam kolam, seakan tidak ada masalah, padahal ia sedikit kecewa.

"Sephiroth Crescent tanpa pakaian merupakan pemandangan yang sulit diabaikan. Bagaimana kalau kamera menangkap gerakan freestyle sempurna ini?" Genesis berdecak-decak khawatir.

Pernyataan yang mengundang pertanyaan itu juga akhirnya dimaklumi oleh Angeal, mengingat ucapan Genesis tak sepenuhnya salah.

"Yah, tapi syukurlah dia tak pernah menerima balasan dari produsernya."

Tiba-tiba ponsel Sephiroth berbunyi. Angeal dan Genesis saling melotot membaca headline notifikasi tersebut.

Tak sampai sedetik, Angeal sudah mematikan alarm yang secara mengagetkan, diatur cukup keras itu.

"Dia lolos!" bisik Genesis, senang dan cemas di waktu bersamaan. Mereka memerhatikan rambut keperakan panjang yang mengambang dengan anggun bergerak menjauh di atas air.

"Sebaiknya kita hapus email itu."

"Setuju."

Beberapa saat kemudian, asisten pribadi Sephiroth berlari keluar sambil membawa ponsel yang lain.

"Tuan Muda, ada alarm berbunyi."

Terlambat! Angeal dan Genesis tak berkutik sewaktu teman mereka itu berenang balik secepat kilat. Lagi-lagi asistennya itu mengenakan handuk panjang pada tubuh tuannya yang basah kuyup.

Tak butuh waktu lama bagi Sephiroth untuk memergoki rencana Angeal dan Genesis. Ya, dia tahu, seharusnya ponsel yang diletakkannya di meja kaca berdering juga. Ketika dicek, email itu ada di folder "sampah".

Dilemparnya sebuah sorotan dingin kepada dua orang itu sampai mati kutu.

Setelah cukup mengumpulkan keberanian, kedua pria itu memutuskan untuk mengikuti Sephiroth masuk ke rumah.

Dengan tak terburu-buru sedikitpun, Seph mengakses email menggunakan laptop yang sama, yang masih berada di laci meja kopi. Tak ada penjelasan lain, selain bahwa Sephiroth punya banyak laptop, begitu pula dengan telepon genggam, mungkin satu di setiap laci. Percuma saja menyabotase salah satu gadget-nya yang melimpah.

"Padahal kamu bisa langsung buka emailnya pakai telepon genggam," usul Angeal.

Ia ingin melihat email itu secara pantas, katanya dengan tenang. Akal-akalan tidak menyenangkan kedua sohibnya tadi sudah tidak mengganggunya lagi. Mereka duduk rukun di sofa kulit itu, membaca judul email.

"Terrace House: Konfirmasi Member Terrace House Season 3. Kepada yang terhormat, Tuan Crescent di tempat."

Lirih Seph menggumamkan, dengan penuh penghayatan, isi surat elektronik tersebut.

"Konfirmasi Anda kami nantikan sebelum—"

Satu minggu setelahnya.

Et voila!

"Seph, kamu yakin mau melakukan—" Angeal terpotong suara keyboard yang sudah diketuk-ketuk. Dengan kecepatan mengetik Sephiroth, serta kerangka email formal yang sudah dimilikinya di dalam otaknya sejak lama, tak ada setengah menit surat elektronik itu sudah dapat dibalas kembali.

"Tunggu, Sephy! Kamu nggak boleh langsug kirim! Pertama, kamu masih punya kesempatan untuk mematangkan keputusan ini untuk yang terakhir kalinya. Kedua, karena nanti kamu akan dikira desperate!"

Untunglah Genesis dapat mengendalikan situasi. Telunjuk pria itu berhasil ditahan tepat waktu; sebelum tombol 'kirim' tertekan. Namun ekspresinya beku. Ia tidak mau mengubah keputusan.

Akhirnya Genesis dan Angeal pun tersadar. Tak ada satupun yang bisa dilakukan selain mendukung si Kepala Batu satu ini.

Di luar dugaan, Sephiroth menurunkan temboknya sedikit. Ia bertanya kepada kedua kawannya, "Kalau aku tetap ikut acara ini, apa kalian akan membenciku?"

"Tentu tidak, Seph," kata Angeal dan Genesis kompak.

"Kami cuma khawatir, kamu yang sudah lama sekali tidak keluar dari sangkar, lupa, betapa bengisnya dunia di luar sana."

"Kalian bermaksud akan lepas tangan, ya? Apa kalian tidak mau membantuku?" balas pria itu, mengeluarkan unek-unek sebenarnya. "Aku rasa, selama program itu berlangsung, kita masih bisa bertemu. Kuharap kalian mau mendukungku. Sekali ini saja."

Mereka berdua meringis, tapi dalam hati teriris. Padahal, selama ini mereka selalu berusaha menjadi sahabat yang baik. Kadang, memang, apa yang mereka anggap baik, tidak sejalan dengan pemikiran Sephiroth.

Bertatap-tatapan, akhirnya mereka menyerah.

"Oke," jawab keduanya berbarengan lagi.

"Tapi," lanjut Angeal, "berjanjilah kamu takkan melakukan hal apapun yang dapat mencoreng nama baik keluargamu."

Seph mengangguk cepat. Sebuah senyum puas terkembang di bibirnya. Satu masalah sudah selesai. Seph merasa lega.

"Eh, ngomong-ngomong, boleh tidak aku melihat formulir pendaftaranmu?"

Usul Genesis mendapat dukungan Angeal.

Sephiroth menunjukkan layar laptopnya, dan, dengan menyunggingkan sebuah senyum misterius tanpa berkata apa-apa, kembali masuk ke kolam renang.

"'Nama: Sephiroth Crescent.' Wah, tak tanggung-tanggung. Dia memasang foto close up terbaiknya. Tidak mungkin ada yang bisa melewatkan tatapan mata penuh tekad itu," komentar Genesis.

"Mari kita baca motif registrasinya. Ah, ini dia! 'Motif mendaftar: Dunia ini bagaikan panggung sandirwara..."

Mereka berkonsentrasi memahami karya sastra yang ditorehkan oleh imajinasi jenius kawannya. Selama kuliah, salah satu pelajaran yang digemari Sephiroth adalah psikologi. Karenanya, sekarang ia pintar membaca mau orang, dan bagiamana membuat orang itu seakan-akan bisa mendapatkan keinginannya.

Genesis terkakak. "Jelas sekali apapun yang tertulis jauh banget dari motivasinya yang sebenarnya. Tapi, kalau aku jadi produsernya, melihat cowok muda, tampan, sukses, berkepribadian menarik yang menawarkan diri untuk jadi misterius demi menemukan gadis yang melihat dirinya dan bukan statusnya, aku seratus persen bakal memberinya kesempatan. Sama seperti Sephy, Terrace House membutuhkan sebuah terobosan! Seorang malaikat bersayap satu yang jatuh dari langit! Yakin, deh, dengan adanya pria setampan dirinya, rating-nya akan melejit. Apalagi mengingat romansa adalah bagian yang paling dicari-cari dalam progam ini." Genesis mengacungkan jempol ke larah kolam renang. "Seph, kamu jenius!"

Beberapa minggu berikutnya, Sephiroth dan Genesis sering dipergoki belanja pakaian di department store berharga miring di luar Sektor 1. Untunglah dia bukan artis—belum—sehingga media massa tidak gempar meliputnya.

.

.

.

to be continued


a/n: Hello world! This is RA speaking. I'm back!

Akhirnya bisa post fiction lagi setelah terluntang-lantung di atas ketidakjelasan hidup.

Saia sudah memulai sebuah babak baru dalam panggung sandiwara ini. Akhirnya setelah 6 tahun yang panjang, saia mendapatkan S.T.. Dan sekarang, muncul bos baru: M.T. yang juga harus dikalahkan. Doakan aku ya!

Beberapa dari pembaca setia saia sepertinya sudah tau kalau saia melanglang buana ke negara matahari terbit buat menimba ilmu (bukan nimba air sumur, ya, tapi ngos-ngosannya sama aja sih). Daaan sekarang saia lagi di negara matahari telat terbit hahaha. Bersyukur banget ada di sini, menghirup udara segar baru dan melihat pemandangan baru.

Tapi, sama seperti hidup Akang Sephy, ketika kita merasa sudah sukses, kita akan selalu menemukan masalah baru yang semoga aja mendorong kita ke arah yang lebih baik.

Saia nulis fiction ini karena lagi gabut aja, dan pas itu seperti biasa secara acak tersengat imajinasi tegangan tinggi. Setelah merenung panjang, saia memutuskan bahwa karakter yang sangat tidak manusiawi ini masih punya kesempatan buat punya romansa. Maka dari itu, di sini saia ingin fokus pada sisi romansa yang mungkin saja dimiliki seorang Sephiroth. Tapi, karena nulis cerita normal tentang Sephiroth setelah dia jadi sinting itu setengah mustahil, di sini saia pakai Sephiroth in Crisis Core, ketika dia masih bisa bersosialisasi biasa tanpa harus membasmi umat manusia.

Tebak dong siapa heroine di cerita ini! Hehe!

Anyways, segitu dulu! Udah lama nggak aktif bikin saia kaku nulis a/n.

Selamat menikmati akhir pekan! Bon week end!