Bab 2

.

.

Seorang pemuda berjalan sendirian di stasiun kereta. Sebuah koper murahan berukuran seratus liter digeledeknya. Bawaan sebanyak itu sebenarnya tak berlebihan untuk perantauan enam bulan ke depan.

Tanpa orang-orang yang biasa mengawalnya, langkahnya sedikit gontai. Padahal, ia sendiri memaksa mereka pergi segera setelah dia turun dari mobil.

"Peron 4..."

Tubuhnya yang semampai membantunya membaca petunjuk arah. Beberapa menit berikutnya dia sudah duduk di dalam kereta bersama orang-orang lain, yang jelas langsung tertarik pada surai panjangnya.

Ah, rambutnya itu juga menjadi sumber perdebatan tiada akhir. Hidup di dunia yang berbeda dari orang-orang kebanyakan, selama ini Sephiroth dibebaskan memutuskan benda itu mau diapakan. Apalagi, di kalangan orang-orang kaya Eastern Continent, ketidaklumrahan dalam hal berpenampilan sering kali dinilai sebagai sebuah pernyataan, bahwa pendapat orang tak mampu mengatur mereka.

Jujur saja, terlepas dari segala jenis pendapat orang lain, Sephiroth lebih suka rambutnya panjang daripada pendek. Ada banyak alasannya. Tapi yang jelas, selama ini bukan dia yang harus repot-repot mengeramasi, membubuhi conditioner, mengoleskan serum, minyak pewangi, dan segudang produk perawatan lainnya ke mahkota 'kebangsawanannya' itu.

Genesis pernah usul supaya rambutnya itu dipotong pendek. Bagaimanapun, itulah penampilan yang wajar bagi para pria di luar sana. Mendengarnya, wajah Sephiroth mendadak masam. Butuh bertahun-tahun untuk mencapai kepanjangan yang disukainya. Jika hanya ada satu hal yang bisa dipertahankannya selama mengikuti acara tersebut, itu adalah rambutnya.

Satu-satunya alasan yang kemudian memaksanya membuat janji dengan hairstylist adalah komentar dari asisten pribadinya. Beliau menyebutkan secara mendetail ritual perawatan yang nantinya harus Sephiroth lakukan sendiri. Penjelasan yang memakan waktu dua puluh menit itu membuatnya insyaf di tempat.

Pada kenyataannya, Sephiroth terlalu sibuk mempersiapkan absen panjang itu sehingga dia benar-benar kelupaan pergi ke salon. Sekarang ia harus membuat alasan logis tentang penampilannya itu untuk khalayak umum penikmat Terrace House.

Gerbong tempatnya berada pun mulai penuh. Untuk mengurangi perhatian manusia-manusia yang lalu lalang di dekatnya, si Perak mengikatnya dan mengenakan tudung jaket untuk menyembunyikan helai-helai perak itu.

Dan kereta pun bergerak maju tepat di jam dua belas siang.

.

.

Gerbong-gerbong besi itu berhenti di Sektor 3. Mulai dari sana, ia harus mencari alat transportasinya sendiri.

Normalnya, pria kaya itu hanya butuh menekan beberapa tombol ponsel, dan dalam beberapa menit sebuah helikopter siap mengantaranya ke manapun. Kini, lain lagi ceritanya. Jika ia tak ingin status ekonominya cepat terbongkar, ia harus menahan diri.

Akhirnya, pemuda rupawan itu memesan taksi.

Setengah jam kemudian, Sephiroth sampai ke sebuah rumah di pinggir danau. Lalu, ia mendapati dirinya tercengang.

Amboi! Rumah itu bukan rumah biasa. Bahkan dirinya pun harus menarik napas kagum.

Keindahan tempat peristirahatan terpencil itu sungguh memukaunya. Permukaan danau yang tenang memantulkan warna langit. Pantulan itu terdistorsi ketika air berriak ditiup angin. Burung-burung tampak berterbangan di atas pepohonan yang membingkainya. Di sana juga hawanya lebih sejuk dari tempatnya tinggal.

Berdiri di tempat terbuka itu, dirinya baru menyadari betapa memuakkannya udara Midgar. Nanti, setelah pensiun, ia harus tinggal di rumah seperti ini, di tempat yang letaknya di luar tembok baja kota itu.

Entah kapan itu akan terjadi. Ayahnya sudah hampir tujuh puluh tahun dan masih belum menunjukkan indikasi ingin pensiun. Apalagi dirinya nanti! Apalagi kalau dia tidak menikah! Hm.

Mendekati rumah, pemuda itu membuka pintu oranye di samping garasi, lalu mulai melucuti tali sepatunya. Untunglah dia ingat, di sana tidak ada siapapun yang akan merapikan sepatunya. Ia menyusun sebisanya sepatu kulit berukuran besar itu, lalu membuka pintu.

Yang pertama dilihatnya adalah kitchen counter dan sebuah wash basin. Ia nyaris tak percaya dapur sekecil itu akan digunakan enam orang. Ukuran dapur rumah favoritnya mungkin tiga, empat kalinya. Bahkan rumah asisten pribadinya memiliki dapur yang lebin besar. Tapi, setidaknya dapur tersebut juga ditata dengan estetika yang menyenangkan indera pengelihatannya.

"Yah, aku juga nggak bisa masak," batinnya mengingatkan diri sendiri.

Hal kedua yang dilihatnya, adalah seorang gadis, duduk manis di kursi meja makan. Gadis itu berdiri untuk menyambutnya.

"Selamat siang."

Sadar akan keberadaan kamera tersembunyi yang mungkin saja mendistori karakternya di depan publik secara semena-mena, disunggingkannya sebuah senyum simpul dan diucapkannya salam.

Perlahan, pemuda itu meletakkan kopernya dan duduk di seberang sang gadis. Dara itu masih menyunggingkan senyumannya saat Seph membuka kerudungnya, membebaskan kembali surai indahnya.

"Sudah lama menunggu?" tanyanya seramah yang dia bisa.

"Belum lama," jawab si gadis.

Seph memandangi wajah anak itu. Dia muda. Jauh lebih muda dari dirinya yang jelas. Gadis itu menyembunyikan keterpukauannya, entah akan penampilan, atau akan suara indah Sephiroth, dengan sebuah cengiran lugu.

Sephiroth tahu, salah satu hal yang dicobanya di sini adalah berpura-pura tertarik pada seorang lawan jenis. Walaupun niatnya itu hanya didasari rasa bosan, tidak ada alasan baginya untuk asal pilih.

"Bukan yang ini," batin pria itu, melakukan eliminasi instan.

Dia kira, dia hanya sedang menjalankan rencananya: menetapkan siapa yang akan dia kejar selama enam bulan ke depan. Namun, yang tak Sephiroth sadari adalah, dalam hati kecilnya, ia juga sedang menimbang-nimbang kelayakan perempuan itu bersanding dengannya. Dengan kata lain, yang ia tolak adalah kemungkinan gadis ini menjadi pendamping hidupnya, atau setidaknya, kekasihnya.

"Perkenalkan, namaku Marlene!"

"Sephiroth," balasnya tanpa berpikir sambil tersenyum lagi. Ia tidak mau menggunakan nama samaran, tapi ia juga tak mau orang tahu siapa dirinya. Jadi yang bisa dia lakukan hanya berharap dirinya tidak terlalu mudah dilacak.

"Salam kenal, Nona Marlene," ia berhasil mempertahankan senyum ramahnya. Batinnya mulai gusar. Bagaimana kalau kedoknya cepat terbongkar?

"Berapa usiamu?" ujarnya lagi, sambil menepis kekhawatirannya sendiri.

Sepanjang percakapan, gadis itu nyaris kehabisan kata-kata. Mungkin karena pria setampan dirinya menunjukkan keingintahuan padanya. Untung mereka belum sampai kepada pembicaraan yang terlalu serius ketika peserta wanita ke dua masuk. Wanita muda lainnya yang bernama Yuffie.

Dalam hati, lagi-lagi Sephiroth membatin, bukan dia. Kali ini alasannya terlalu pendek. Dan bawel.

Tak lama kemudian, seorang pemuda ceria menyusulnya. Biggs namanya.

Mereka berempat berbincang-bincang sejenak, dan ruang makan itu perlahan jadi lebih hidup. Ketiga manusia itu memiliki keceriaan yang tak pernah dimiliki Seph seumur hidupnya. Mereka... berisik. Ia tak tahu apakah ia akan tahan mendekam bersama makhluk-makhluk menyilaukan itu selama setengah tahun.

Dalam hati ia berharap, peserta selanjutnya, wanita terakhir dalam season itu, akan menyelamatkannya.

Dan pintu pun diketuk. Sephiroth tak ragu memberikan seluruh perhatiannya ke sana. Yang ini pasti seorang wanita!

Benar saja! Sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Rambut panjang gelap menjuntai dari sana. Wanita bertubuh rampung tu masuk, memberi salam, dan langsung membereskan sepatu-sepatu yang berserakan di depan pintu.

"Rajinnya!" puji Biggs.

Sephiroth masih menadah dagunya dengan tangan ketika ia melihat wujud utuh wanita itu.

Seorang gadis bermata lebar, dibalut onepiece biru dan cardigan berwarna putih. Harus dicatat: Seph tidak membenci gaya berpakaiannya. Dan yang terpenting, tidak ada senyuman lebar konyol seperti yang dilihatnya seperempat jam terakhir.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas menit itu, ia merasa bersemangat kembali.

"Halo," ia tersenyum simpul. "Perkenalkan, namaku Tifa Lockhart."

Biggs tersenyum sambil mempersilakanya duduk. Sudah tidak perlu ditanya laki-laki ini juga tertarik padanya. Tapi, lelaki macam dia tak mungkin mengalahkan pesona seorang Sephiroth.

Pemuda bermata hijau itu mulai mengendus sedikit aroma persaingan dalam ruangan itu. Tinggal satu peserta pria lagi, dan ia akan dapat melihat siapa saja pesaingnya. Ah, sebenarnya itu tidak terlalu penting. Ia tak mungkin kalah.

Wanita itu berkenalan dengan mereka. Ia menjabat tangan mereka satu per satu.

Ternyata, Tifa tidak menatap Seph selama yang diperkirakannya. Pengendalian diri yang fantastis. Walaupun tidak diragukan, gadis itu sedikit memiringkan kepalanya waktu menyodorkan senyum padanya. Pertanda bagus!

Kemudian, peserta terakhir masuk, dan setelah berkenalan, mereka berencana berbelanja bahan makan malam di supermarket terdekat.

.

Ini hari pertama dari musim ketiga, dan inilah keenam pesertanya. Potongan pertama puzzle Terrace House: Full Bloom terungkap sudah.

Peserta pertama, Marlene Wallace, hampir 19 tahun. Mahasiswi tingkat pertama sebuah universitas swasta di Midgar. Pembawaannya cenderung ceria. Selain belajar, kegiatan sehari-harinya adalah membantu kakaknya mengurus restoran keluarga. Motif mengikuti Terrace House adalah 'ingin hidup di dalam drama'. Hobinya menanam bunga dan memasak.

Kemudian peserta berikutnya adalah Sephiroth. Sangat sedikit yang diketahui tentangnya selain usianya yang 27 tahun, serta fakta bahwa dia tidak pernah terlibat romansa sebelumnya (ini mengundang ketertarikan dari ketiga gadis di depannya). Dia berpura-pura bekerja freelance di luar negeri sebagai penulis blog di bidang saham. Mengikuti Terrace House karena bosan dengan rutinitasnya dan ingin menikmati suasana pinggiran kota.

Ke tiga, Yuffie Kisaragi. Gadis itu mengaku berusia 25 tahun, tapi, dinilai sikapnya yang masih kekanak-kanakan, mereka mencurigainya sebagai wanita di bawah umur. Dia bekerja sebagai snowboarder profesional dan sekarang mencoba membuat merek pakaian olahraga musim dinginnya sendiri. Tidak buruk, Yuffie, tidak buruk. Yang jelas, gadis ini paling berisik di antara yang lain, tapi juga yang paling ceria—kalau Seph harus berdiri dekat-dekat, keceriaan gadis itu pasti akan membakarnya.

Ke empat, seorang laki-laki 22 tahun bernama Biggs Domino, baru saja menamatkan kuliahnya, dan sekarang berusaha menjadi kandidat pemain di olimpiade hockey nasional tahun depan. Di antara peserta pria, dia yang paling tidak menarik secara fisik (dua peserta yang lain benar-benar di atas rata-rata!), tapi harus diakui dia punya energi positif paling besar. Belakangan Seph menyimpulkan, dari lirikan matanya ke seberang, sepertinya dia tertarik dengan Marlene.

Ke lima, Tifa Lockhart. Satu-satunya yang langsung menyebutkan nama lengkapnya. Dia berprofesi sebagai model, meski ini tak bisa diklarifikasi di moggle: mungkin dia belum seterkenal itu. Usianya tidak disebutkan, tapi yang jelas tidak semuda Marlene, dan tidak setua Yuffie. Kelihatan kalem, tetapi menyimpan keberanian di balik sorot mata sayunya itu - oh, ya, itu bukan hal yang terlalu sulit untuk ditunjukkan. Berpenampilan sangat girly, namun ada kekuatan yang bersembunyi di balik penampakannya, sampai-sampai kalau dia mengaku sebagai cowgirl, mereka semua akan langsung percaya. Dia berasal dari Sektor 7 Midgar, sektor kumuh yang sempat membuat Sephiroth tak habis pikir.

Dan peserta terakhir adalah Vincent Valentine, juga seorang model, tapi sekali lihat juga kelihatan bahwa orangnya pendiam, pemurung, dan penyendiri. Dari luar, mungkin ia sama menariknya dengan Sephiroth. Yang paling menawan dari dirinya; yang menyedot perhatian yang berlebihan, adalah matanya yang semerah darah. Rambutnya yang gelap dipangkas pendek, dengan ini benar-benar membuat rambut perak Seph tampak mencolok. Mungkin usianya tak jauh dari Sephiroth. Dia tidak berbicara banyak tentang dirinya, namun firasat Seph mengatakan bahwa orang inilah sainganya.

.

"Kalau gitu, kita beberes sebentar, terus kumpul lagi di sini jam lima sore, ya!"

Kerumunan di meja makan itu pun bubar.

Yang pertama mereka lakukan adalah masuk ke kamar masing-masing. Di rumah itu ada dua kamar besar. Kamar pria ada di lantai satu, sementara kamar wanita di lantai dua.

Awalnya, Sephiroth ingin protes keras. Ia tak paham kenapa tiap orang tak bisa punya kamarnya sendiri. Kemudian, setelah melihat kondisi kamar para pria, dia ingin protes lagi, kenapa tiap orang tak memiliki ranjang berukuran king size, dan malah diberi bunk bed. Dua kasur ada di atas lantai dan menghadap ke utara, sedangkan yang satunya lagi memalang di atas keduanya, menghadap ke barat.

"Jadi, kita putuskan dulu ranjang masing-masing," usul Biggs. "Kalau begitu dalam hitungan tiga, kita tunjuk saja ranjang yang kita mau."

Kedua peserta lainnya menurut.

"Tiga!"

Ketiganya menunjuk kasur di bawah, yang berdekatan dengan jendela.

"Wah…"

"Yah, yang itu memang yang paling simpel, sih."

Sejurus kemudian, Biggs menawarkan untuk tidur di atas. Karena tubuhnya paling kecil, juga dialah yang paling muda, dia merasa harus jadi yang paling bawah dan membiarkan yang lain mendapat tempat yang lebih nyaman.

"Lagipula, aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau pria sebesar Tuan Sephiroth jatuh ke bawah."

"Tuan Muda Sephiroth!" koreksi Seph dalam hati. Tapi kali ini ia memaafkan Biggs, karena yang dikatakannya masuk akal. Ia juga tidak merasa aman tidur di atas, di kasur sekecil itu, mengingat setiap malam ulahnya adalah berguling ke sana ke mari hingga pagi.

"Sikapmu sungguh dewasa, Biggs," pujinya. "Dan panggil saja aku Sephiroth, atau Seph, untuk singkatnya."

Dia tak sudi dipanggil setengah-setengah seperti tadi. Lagipula ia yakin, membuat dirinya setara dengan member yang lain bukanlah ide buruk dalam drama ini.

"Baiklah, sekarang tinggal kita berdua," lanjut Seph kepada Vincent.

Vincent segera menunjuk ranjang satunya, yang tadi tidak dipilih oleh Sephiroth. "Aku ambil yang itu."

"Benarkah?" tanya Sephiroth dengan kegaguman yang dibuat-buat. "Terima kasih."

Vincent pun mengangguk dan segera menduduki ranjang di atas lantai tersebut.

"Sepertinya mereka orang-orang baik," bantin Sephiroth. "Atau bisa jadi, ini kebaikan semu yang hanya muncul di depan kamera."

Bukan salahnya jika otak bisnisnya selalu memperkirakan yang terburuk.

.

Oke, jadi begini rencananya. Selama di rumah itu, Sephiroth harus mengenal teman-teman serumahnya lebih jauh, sambil menyembunyikan siapa dirinya, namun tanpa mengotak-atik terlalu jauh karakter aslinya sendiri. Ini terdengar rumit, namun perlu dilakukan. Biar bagaimana pun, tujuan utamanya adalah mencari "kehidupan" yang selama ini tertutup baginya, dan menemukan semangat hidup lagi. Maka dari itu, ia akan tetap bermain tanpa terbongkar. Namun, Sephiroth dalam Terrace House tak boleh terlalu berbeda dengan Sephiroth Crescent yang sebenarnya. Terlebih lagi, jika, karena sebuah keberuntungan besar, Seph benar-benar berhasil menemukan pendamping hidup melalui acara itu, ia tak mau wanita itu mencintai sebuah kepalsuan.

Astaga. Belum apa-apa sudah berpikir terlalu jauh.

Tanpa dia sadari, kedua orang di sekitarnya membisu. Mereka berdua menatapnya, berharap ia menciptakan sebuah topik pembicaraan yang menarik.

"..."

Jujur saja, sebagai milyarder, dirinya tak tahu apa yang biasanya dibicarakan manusia normal. Jenis percakapan yang mampu membuatnya bersemangat adalah soal aset, investasi, saham, dan sejauh-jauhnya dari bisnis, hanya golf dan opera saja yang familiar baginya. Lalu, Vincent dan Biggs juga masih orang asing baginya. Menanyai mereka suka gadis yang mana sepertinya sangat tidak sopan.

"Menurut kalian, bagaimana para gadis?"

Apa! Ternyata itu bukan pertanyaan tabu?

Keduanya melirik Biggs yang tanpa tedeng aling-aling segera meratakan tanah sebelum bekerja. Vincent melirik ke arah lain, malu. Begitupun dengan Seph, yang sekadar memberikan senyum miring.

Tapi, di luar dugaan, Vincent cukup vokal.

"Menurutku ketiganya menarik. Tapi gadis berambut panjang, Tifa Lockhart, dia memiliki aura yang berbeda. Dia akan jadi ibu yang baik."

Ibu?!

"Be-begitu, ya?" Biggs kaget namun terkekeh geli. "Memang, pembawaannya sangat dewasa. Tapi, menuruku Marlene sangat imut. Dia juga kerja di restoran dan hobi masak. Aku suka makan, jadi mungkin kami bisa akrab."

"Menurutmu dia yang akan jadi ibu yang baik?" tanya Vincent.

"Yah, kalau dia jago masak, itu sudah pasti," balas pemuda itu sembari menunjukkan cengiran optimis.

Mereka berdua menoleh ke arahnya, yang tentunya, diharapkan tertarik dengan Yuffie. Enak saja. Tidak semudah itu, Bung!

"Masih terlalu cepat untuk menilai," pungkas Sephiroth, menahan dirinya untuk tidak men-death glare Vincent. Karena menurutnya, jelas Tifa satu-satunya gadis yang menarik, dan jika ada yang pantas mendapatkannya, itu adalah dirinya. "Tapi aku yakin setiap gadis punya kelebihannya masing-masing."

"Ah, Sephiroth benar-benar dewasa. Hehehe! Berbeda dengan aku. Kalian berdua mungkin akan menjadi sosok kakak buatku selama di sini," tutup Biggs. "Mohon bantuannya."

Keduanya juga mengucapkan hal yang sama. Kemudian turun ke bawah.

.

.

.

Ada dua mobil diparkir di bawah. Satu berkapasitas empat orang, satunya lagi lima, tapi jika dipaksakan, dapat memuat enam orang.

"Kurasa kita harus pakai dua-duanya," usul Biggs. "Biar tidak terlalu sempit."

"Jadi, siapa yang mau menyetir?" Marlene melontarkan pertanyaan, yang setelah beberapa saat disambut acungan tangan Vincent dan Tifa.

"Oh! Ternyata ada satu perempuan yang bisa nyetir! Seru juga," komentar Biggs.

"Aku juga bisa nyetir!" sergah Yuffie, yang disambut tatapan ragu dari segala arah. "Nggak percaya? Sini aku buktikan!"

"Percaya, kok," ujar Biggs menengahi. Kalau cewek ini yang nyetir, bisa-bisa mereka tak akan kembali ke rumah itu.

Tifa bergerak mendekati mobil. Namun Sephiroth, yang dari kecil diajarkan untuk memperlakukan wanita dengan baik, segera menawarkan diri untuk menggantikannya.

"Jika Nona tak keberatan, biarkan saya yang menyetir. Saya yakin Anda masih lelah oleh perjalanan ke mari tadi pagi." Ia menyunggingkan senyuman kecil. Bukan untuk tebar pesona, hanya kebiasaan. Tapi kalau ini berhasil membuat Vincent jengkel, lebih bagus. Ini dia! Ini dia aroma persaingan!

Dia rasa, malah Yuffie yang nyaris terkulai lemas melihat sikap gentleman-nya itu.

Singkatnya, rencananya berhasil! Akhirnya, di mobil yang kecil, Vincent, Biggs, dan Marlene berangkat duluan.

Sephiroth sempat membukakan pintu untuk Tifa. Dia memang seorang ladies' man dari dalam lubuk hatinya. Sayang lagi, malah Yuffie yang menyerobot masuk sambil dengan centil mengucapinya terima kasih.

Ah. Rasanya, Setan Cebol ini akan jadi pengganggunya enam bulan ke depan.

.

.

Ia baru tahu bahwa di program itu, biaya hidup, mulai dari biaya bahan makanan, bensin, listrik, air, dan sebagainya, ditanggung oleh pihak penyelenggara. Kecuali jika mereka makan di luar, atau berbelanja kebutuhan sekuder, tersier, dan seterusnya. Bagi Sephy si perjaka kaya, tentu saja, hal ini sama sekali tidak berefek. Lain lagi dengan peserta lain. Mereka selalu sumringah tiap kali membayar dengan uang titipan. Seph memang tak paham kenapa, namun, mungkin dia harus memperlihatkan wajah yang sedikit berbinar juga.

Ternyata bersikap "normal" sangatlah mustahil baginya!

Sebagai tambahan, ada satu hal yang menamparnya keras ketika berbelanja. Itu adalah harga pasta gigi. Sepuluh kali lebih murah dari prediksinya!

.

Jam tujuh sore, mereka memasak makan malam sambil membicarakan acara masing-masing keesokan harinya.

"Aku seperti biasa harus latihan dari pagi sampai jam enam sore," mulai Biggs.

"Besok aku menunggu produkku dikirim ke sini," ujar Yuffie."Kalau ada yang lagi kosong, boleh banget membantu, hehe."

"Aku kosong," tawar Vincent.

"Job modeling-mu tidak setiap hari?" sambung Nona Lockhart penasaran.

"Tidak."

Wanita itu mengangguk-angguk.

"Kebetulan besok aku juga libur," kata Tifa. "Apa yang kamu iklankan?" tanyanya lebih jauh.

Di situ pria itu sedikit menundukkan kepalanya. "Semuanya… parfum, baju… pakaian dalam…"

"OOOH!" seru Yuffie dan Biggs nyaris menggebrak meja.

"Berarti badanmu bagus?! Jadi model brand-ku mau nggak?" lanjut si gadis pirang.

Mereka tertawa.

"Bukannya sports wear untuk olahraga musim dingin, biasanya tertutup?" timpal sang model.

"Rencanaku modelnya telanjang dada di tengah salju. Pernah lihat, nggak, yang seperti itu? Di costagram banyak," jawab si snowboarder dengan polosnya. Dia ini sebenarnya betul-betul polos, atau vulgar? Mendapat sorotan terkejut yang lain, "Yah, biar menarik mata saja, sih," tambahnya tak enak hati.

Ternyata dia benar-benar 25 tahun. Gadis 25 tahun yang masih bocah.

Melanjukan obrolan, akhirnya Sephiroth ditanyai juga. Dengan cepat otaknya berputar. Mungkin ia harus mengecek bisnisnya di Midgar. Apalagi perihal Genesis dan pangkat barunya. Ia yakin temannya itu belum terlalu biasa dengan jabatan barunya, yang mengharuskannya perpisahan dari novel-novel favoritnya untuk waktu yang lama. Ia sekalian mau berkonsultasi dengan Angeal, dan mungkin Zack yang sudah punya kekasih, tentang cara-cara jitu memikat hati wanita seperti Tifa.

Entah apa yang salah dengan dirinya, sehingga langsung ingin menguber Tifa Lockhart yang hampir sama sekali belum dikenalnya itu. Insting bisnis, mungkin? Selalu ingin untung?

"Besok mungkin aku harus bekerja sedikit," jawabnya sambil melirik Tifa. Dia bisa melakukan semuanya melalui laptop, dengan surel atau media komunikasi online. Tanpa mengundang perhatian, besok dia bisa menyetok banyak sekali tips yang akan membuat dirinya menjadi MVP dalam season ini.

"Aku ingin tahu, apakah pekerjaan freelance seperti itu bisa mencukupi kebutuhanmu selama sebulan," komentar Marlene.

Komentar itu menghujam hatinya. Ia tidak suka diremehkan.

"Pendapatanku sebulan mungkin lebih dari pendapatan restoranmu sepuluh tahun," batinnya angkuh. Ingin rasanya ia beberkan siapa dirinya: Sephiroth Crescent, pewaris tunggal MRIH, pengusaha sukses, jutawan dermawan, dan sebagainya.

Tapi, akal sehat menahannya. Ia harus maklum karena Marlene masih sangat muda. Mungkin gadis belia ini hanya ingin tahu dunia orang dewasa, tanpa ada maksud merendahkan. Mungkin juga Seph harus belajar menurunkan pride-nya sedikit.

Sebagai gantinya, dikulumnya sebuah senyuman penuh pengertian. "Jiwa muda memang harus banyak dibimbing," begitu kata sorot matanya.

"Yah, begitulah. Aku berusaha tidak terlalu boros, sehingga bisa menabung. Untungnya, aku sering ke luar negeri untuk dinas. Biasanya, uang bekal pemberian klienku lebih dari cukup."

Jika kelima member tak terlalu terkesan dengan jawabannya, mungkin mereka terkesan dengan cara penyampaiannya yang rendah hati dan enak didengar itu. Sephiroth dan jurusnya yang ampuh menarik hati para investor tidak mungkin terkalahkan dalam permainan ini!

Selama makan, dirinya mengamat-amati prospek ke depan selama ia berada di dalam acara itu. Sepertinya, hubungannya dengan Yuffie benar-benar tak punya masa depan. Dia uring-uringan tiap kali si gadis menerabas teritorinya. Ini kurang lebih disebabkan oleh perbedaan hakiki karakter keduanya. Sephiroth rasanya 'terpukul mundur' oleh sifat kelewat ceria Yuffie. Mereka bagaikan air dan minyak, hanya bisa bercampur dalam skala mikro.

Tapi, salah satu leluconnya benar-benar lucu! Seph masih bisa tertawa jika mengingatnya sekarang.

"Siapa di sini yang punya hutang? Seph, bagaimana denganmu?"

"Tentu aku punya."

Sephiroth mengatakannya dengan tenang. Sedetik kemudian ia diserbu tatapan tak percaya sekaligus prihatin.

"Oh, Seph, kamu pasti… antara miskin banget… atau kaya banget. Atau jangan-jangan... kamu kleptomaniac?"

Serentak orang-orang itu terhenyak oleh pernyataan yang sedikit melecehkan itu. Was-was jika sebuah perang telah meletus.

Namun, perut Seph tergelitik. Ya Tuhan! Selama ini apa yang dipikirkannya?! Ia baru sadar!

Tawanya yang renyah itu pun pecah berderai, disusul Yuffie, yang kemudian terbahak-bahak. Sementara itu, sisanya jadi memaksakan tawa, tidak sepenuhnya paham dengan apa yang terjadi. Mereka tidak mengerti! Padahal, lelucon ini jenius!*

"Eh, aku juga pinjam uang buat membayar biaya kuliahku."

Seluruh perhatian tertuju pada Marlene. Dan tawa mereka berhenti.

"Nanti setelah aku lulus, aku akan bekerja di restoran ayah buat membayar pinjaman itu. Setelah itu, aku akan daftar audisi dan jadi aktris ternama."

Marlene Wallace. Ada terlalu banyak hal di dunia ini yang tidak dimengerti sang bocah. Ia tak tahu, bahwa kehidupan mengikuti hukum rimba. Gadis itu masih saja membicarakan mimpi-mimpi besarnya, menjadi pekerja sosial yang akan mengubah dunia, atau menjadi artis terkenal yang tidak berlaku asusila di belakang kamera. Tentu saja yang diungkapkannya bertentangan dengan apa yang dipercayai Tuan Muda Sephiroth Crescent yang Agung. Menurutnya, semua mimpi ada konsekuensinya. Tidak ada orang yang tenar mendadak tanpa jalan pintas. Memuaskan keinginan orang-orang yang bisa membuatmu tenar adalah jalan pintas itu. Ingin mengubah dunia? Kamu harus berkuasa. Dan sekarang, untuk punya kuasa kamu harus punya uang.

"Suatu saat nanti, kalian akan melihatku di televisi, menginspirasi orang-orang!"

"Yeah! Semangat, Marlene! Kamu pasti bisa meraih harapanmu!" dukung Biggs.

Yang lain pun tidak mau kalah mendukung gadis kecil itu. Oh. Betapa hijau mereka semua.

Mereka ini sebenarnya sekelompok orang yang baik hati. Namun Seph tahu, kebaikan sejati adalah dengan mengajar orang itu tentang kenyataan: kenyataan yang pahit dalam dunia ini, sehingga ia bisa belajar melindungi dirinya sendiri.

"Dunia itu kejam, Marlene. Yang kuat memakan yang lemah."

Ia membuka mulutnya sedikit, tapi tak jadi ia lanjutkan, karena orang-orang itu sepertinya tidak siap mendengar kuliah agungnya. Mereka langsung tegang. Apa boleh buat. Selanjutnya ini yang ia katakan:

"Tapi, pengalaman membuktikan, orang-orang paling lemah terkadang dapat menuntaskan misi-misi paling besar. Pengorbanan terbesar, sering kali dilakukan oleh orang-orang yang paling miskin, karena mereka tidak mungkin kehilangan terlalu banyak."

Setelahnya, mata Marlene berkaca-kaca.

Ah, sudahlah. Setidaknya nanti, kalau dia mencalonkan diri sebagai presiden, mereka mungkin akan memilihnya.

Acara makan malam perdana itu berlangsung sampai tengah malam. Setelah puas berbincang, satu per satu dari mereka tidur.

Sephiroth terjaga sampai larut. Lama setelah yang lainnya tertidur pulas, ia masih mengecek beberapa laporan yang dikirim Genesis. Terlepas dari segala persiapan yang dia lakukan sebelum kepergiannya, terbukti Sephiroth masih belum dapat lepas tangan. Tapi, setidaknya ia tak harus berada di Midgar secara fisik. Itu sudah sangat melegakan buatnya.

Sehari berakhir sudah di rumah teras itu. Saat suhu udara mencapai titik terendah, Sephiroth jatuh ke dalam tidur. Itu pertama kalinya dalam beberapa bulan ia dapat tidur tanpa beban pikiran.

Esok, mentari pun akan menyambutnya dalam sebuah dinamika baru.

.

.

To be continued.


a/n terima kasih kepada love30katrina untuk reviewnya yang menyemangati hati ini.

* penjelasan joke Yuffie:

Oke, kayaknya joke ini nggak akan lucu bagi sebagian besar pembaca. Tapi, pas saia denger joke ini, saia sama kayak Yuffie, ngakak gitu deh.

Jadi, saia punya temen yang literally crazy rich asian gitu (punya jet pribadi bahkan. See? Fiction ini berdasar pada fakta yang ada. Cuman kesamaan nama aja yang hanya kebetulan belaka). Dan ternyata dia juga punya utang sama bank asing. Tapi utangnya itu bukan karena dia gak punya duit, tapi, justru dalam rangka memperbesar omset.

Penjelasannya bisa ditemukan di buku-buku bisnis di toko buku terdekat, tapi singkatnya, saia akan jelaskan dengan sebuah contoh.

Misal si A berhasil punya usaha dengan omset 1 juta/bulan. Pada perkembangannya, dia mau usahanya dalam waktu singkat jadi beromset 5 juta/bulan. Gimana caranya? Nabung trus ngembangin usaha? Kelamaan, kan? Maka, dia pun utang ke bank 50 juta buat bikin usaha baru yang bisa ngehasilin 5 juta. Gak sembarangan orang bisa utang 50 juta ke bank. Orang itu harus punya jaminan bahwa dia bisa bayar utang. Karena dia udah ada usaha yang ngasilin 1 juta/bulan, dia dianggap bisa bayar dalam waktu yang finite. Maka akhirnya, dengan modal dari bank itu dia bisa naikin omset dari 1 jadi 5 juta.

Trus diputer terus aja deh. Setelah punya omset 5 juta, dia bisa naikin ke 10, dan terus menerus.

Di contoh di atas, premisnya adalah, orang itu udah harus punya usaha yang menghasilkan dulu buat bisa utang. Gamblangnya, orang itu harus udah "kaya" dulu baru bisa utang. Maka, orang kaya yang insting bisnisnya bagus akan selalu bunya utang, karena mereka akan selalu berusaha naikin omset dengan cara yang kurang lebih sama.

Selama ini, kita selalu menganggap orang yang kaya tuh yang nggak punya hutang, kan? Buahaha! Ternyata tidak seperti itu. Dunia orang kaya itu berbeda dengan dunia rakyat jelata seperti saia.

Anyways, lanjut ke a/n. Musim dingin akan datang ("Winter is coming!" *uhuk). Setiap hari saia diterpa kedahsyatan angin kering yang bikin merinding dan bibir pecah-pecah. Tapi tidak hanya itu /jejejeng. Di sini, sulit banget nyari waktu buat publish karena mulai pertengahan bulan November kemarin sampai akhir Januari depan, badai ujian juga menghadang. Gak ngerti lagi gimana menghadapi 2 bulan ujian. Masih ditambah-tambahin laporan praktikum dan tugas-tugas lainnya. Kenapa ya sekolah saia gak kelar2. Tapi untunglah saia masih punya keberanian buat curi-curi waktu buat ngedit fiction hehe.

Jadi, bagaimana chapter ini? Makin bikin penasaran nggak? Hehe.

Semoga chapter ini menghibur.

Untuk para pembaca saia sekalian: happy weekend!