.

.

Bab 3

.

.

"Aku pulang!"

Suara dari arah pintu itu segera menarik perhatian. Muncullah dari balik tembok Biggs, tergopoh-gopoh meletakkan peralatan hockey-nya yang banyak di samping pintu.

"Selamat datang," sambut Marlene, Tifa dan Sephiroth. Kedua gadis sedang memasak, sementara Seph mengerjakan 'laporan perjalanan bisnis terakhirnya'. Bocoran: dia sedang menyuruh-nyuruh bawahannya untuk 'bertidak sedikit lebih rasional'.

Biggs mengelap keringat yang jatuh-jatuh dari dahinya, dan bergabung dengan si Perak di meja makan.

"Bagaimana latihanmu hari ini?" tanya Seph, berusaha mengalihkan matanya dari pesan terakhir bawahannya itu. Lagi-lagi koordinasi rumah sakit milik ayahnya, MRIH, kacau balau. Tuan Hojo, ayahnya, lagi-lagi absen tanpa kabar.

Jika Biggs tahu bahwa yang sedang dibicarakan Seph ternyata menyangkut kebijakan pemerintah Midgar, mungkin ia takkan bersikap sekasual itu:

"Yah, nggak jelek-jelek amat. Masih kapten, kok. Tapi, kayaknya aku kurang olah raga akhir-akhir ini. Seph, kalau kamu membungkuk di depan komputer melulu, bisa-bisa postur tubuhmu jadi nggak bagus. Besok pagi mau, nggak kamu lari pagi denganku?"

Ah, sudah berani menasihati pula bocah kemarin sore ini.

"Jam berapa?" Seph sudah kembali mengurusi kerjaan dan memecah perhatiannya.

"Jam setengah lima, eh, jam lima deh."

Dari arah dapur seseorang mendengus.

Ternyata Marlene kaget cowok bisa bangun sepagi itu. "Kukira semua cowok itu malas."

Pemuda itu seperti terbakar api cinta. Dengan bersemangat ia menjawab: "Tidak semua cowok malas, Marlene. Sama seperti tidak semua cewek itu lemah. Menurutku kemarin kamu—"

"Siapa yang suka sama cewek yang kuat?"

Yuffie tak sengaja menghancurkan taktik gombalan Biggs. Tubuhnya yang kecil kontras dengan papan snowboard besar yang dipanggulnya. Ternyata dia kuat juga.

Tanya Tifa padanya, "Itu merchandise yang kamu bicarakan kemarin?"

Cewek itu mengangguk bangga. "Akhirnya Vincent mau menuruti keinginanku: berpose erotis dengan fotografer andalanku di garasi."

Erotis? Yuffie memang... Ambigu.

"Hah?! Aku mau lihat!" pekik Marlene, yang diperkuat antusiasme Tifa.

"Aku ingin belajar teknik berpose dari dia juga!" ujar Si Manis.

Kedua gadis sontak meluncur ke luar, meninggalkan Yuffie dan senyum penuh kemenangannya.

"Sudah kubilang, ide bertelanjang dada itu sangat-sangat brilian. Jenius, jenius! Nyuk nyuk nyuk!"

Seph dan Biggs, bengong mendengarkan dialognya, telah dilupakan.

Si Pemain Hockey melirik Seph (sudah tak bisa konsen lagi ke pekerjaannya), pun menelengkan kepala ke arah garasi, di mana Vincent, Tifa, dan Marlene mungkin sedang heboh membincangkan 'ide brilian' Yuffie.

.

.

.

Untungnya tak ada adegan tak senonoh apapun di episode kali itu. Vincent sudah berpakaian.

Dari sorot mata Marlene, Seph tahu ia agak kecewa. Yah, mungkin sang model sebenarnya sudah selesai dari tadi, dan sekarang, hanya perlu membereskan sisa-sisanya. Ia juga sepertinya masih membahas hasil photoshoot dengan fotografernya.

Marlene, dengan agak murung segera kembali ke dapur. Biasanya, yang bertingkah seperti itu adalah kaum pria. Kadang-kadang perempuan bisa menakutkan juga.

Sementara itu, Tifa menunggu untuk berbincang dengan model itu. Seph sempat mencuri dengar, kira-kira intinya, Vincent tidak yakin dengan pekerjaannya. Padahal, ia sudah menekuninya dua tahun terakhir. Sebenarnya Seph ingin berkomentar agar dia tidak melanjutkan profesinya itu. Untuk apa mengerjakan hal yang tidak kamu hargai. Tapi dia rasa, tidak semua orang punya hak untuk memilih sesuka hati. Dirinya pun mungkin tak sebebas yang ia kira.

"Kalau begitu," ujar Tifa, "aku akan berusaha membantumu. Siapa tahu nanti kamu bisa jadi lebih tertarik dengan modeling. Sebenarnya, modeling itu adalah seni. Seni mewujudkan impian seseorang menjadi kenyataan."

Mata gelapnya yang berbinar-binar. Tidak diragukan lagi, Tifa Lockhart menyukai pekerjaannya. Melihat kilauan itu, keterpurukan 'permanen' Vincent berkurang sesaat. Rasanya lega ketika ada orang lain yang mengerjakan hal yang tak kita sukai, tetapi bisa puas karenanya. Setidaknya ia tahu, pekerjaan itu bukanlah pekerjaan terkutuk.

"Kamu harus baca sejarahnya. Modeling dimulai tahun 1600 di dekat Gongaga. Yang memulainya adalah tukang sepatu miskin yang sedang kelaparan. Kisahnya sangat mengharukan. Aku punya bukunya. Kamu boleh pinjam kapan-kapan."

Sekarang ada senyuman tulus di wajah Tifa. Dan si Merah pun ikut menarik lengkungan masam. Ia menggumamkan terima kasih dengan setengah hati. Namun itu tidak membuat Tifa berkecil hati.

"Aku tahu perjalanannya tidak akan mudah. Tapi kalau aku bisa, kamu juga. Apalagi kamu keren, kok!"

Tifa meminta konfirmasi Sephiroth. Ia pura-pura tak dengar.

"Tifa! Karenya hampir gosong!"

Jadi kembalilah perempuan itu. Setelah Tifa pergi, Vincent cepat-cepat membereskan pekerjaan yang tersisa. Ia tidak berbincang dengan Seph, dan langsung masuk ke dalam rumah. Mungkin dia malu karena disemangati seorang perempuan.

Walaupun sedikit merasa sebal, pria jangkung bermata hijau itu mengikuti Vincent ke arah kamar. Melewati dapur lagi, ia menawarkan bantuan, meskip dirinya tetap tak bisa memasak.

Biggs menolaknya halus.

"Tidak apa-apa," kata Biggs, yang lagi-lagi sedang berusaha mendekati Marlene. "Kami berempat sudah lebih dari cukup."

Diliriknya Yuffie yang sedang berusaha mengupas kentang. Ternyata kare buatan Tifa dan Marlene tadi sudah gosong gara-gara si cerewet tidak tahu bagaimana mematikan api. Tadi, Yuffie malah memperbesar api, sehingga kare itu gosong dan mereka harus membuat sesuatu yang lain.

Ah. Padahal Tuan Crescent yang Agung ini sudah lapar.

Seph mencatat dalam benaknya, lain kali mereka pergi ke supermarket, ia harus membeli energy bar atau sejenisnya, untuk mengganjal perutnya yang sering keroncongan akibat kecelakaan-kecelakaan misterius ini. Huff...

.

.

Di dalam kamar, Vincent sedang mengaduk-aduk isi kopernya.

Tentu saja dalam situasi seperti ini, Sephiroth diharapkan membuka percakapan.

"…"

Harus dimulai dari mana? Apakah ia harus membahas obrolan Tifa dengan Vincent tadi? Tidak, tidak. Itu namanya suka ikut campur. Sang Model pasti juga lebih memilih menyimpannya sebagai 'rahasia kecil mereka berdua', bukan? Ditambah lagi, memangnya Seph peduli apa dengan masalah orang ini? Oh. Ia tak bisa lebih tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah, bagaimana menyingkirkan orang ini dengan romantic interest-nya. Huh. Padahal ia sudah lumayan puas melihat Yuffie dan Vincent akrab tadi pagi.

Seph masih tetap diam. Ia jadi ragu, apakah ia benar-benar harus membuka pembicaraan dengan orang itu.

Mata merah orang itu tidak sengaja menyapu matanya. Namun, orangnya tidak ambil pusing dan segera menyibukkan diri dengan sesuatu yang berhasil ditemukannya: sebuah buku.

Apa dia barusan dikacangin? Atau sebenarnya Vincent mengharap dia memulai percakapan?

Apakah ini saat yang tepat untuk bertanya, "Buku apa yang kau baca?" Mungkin ternyata buku yang sama juga pernah dia baca. Dari situ dimulailah jalinan silaturahmi antara Sephiroth Crescent dan Vincent Valentine. Kemudian jadilah mereka teman.

Ah, kenapa klise sekali seperti di drama-drama?

"…"

Keheningan yang memabukkan itu tidak sengaja memaksa Seph untuk berdehem. Dan karenanya Vincent jadi meliriknya.

"Oh, halo Seph," sapanya kaget, seakan-akan Seph adalah hantu. Hah?

"Maaf, aku tidak sadar kamu berdiri di situ. Sudah berapa lama di sana?" lanjut Vincent.

Sephiroth menaikkan alisnya sebelah.

'Jadi dia cuma nggak sadar?' erangnya dalam hati.

Seakan membaca pikiran Seph, Vincent melanjutkan,

"Pengelihatanku lumayan buruk."

Seph memaafkan perang dingin yang tidak disengaja tersebut, kemudian akhirnya membuka percakapan.

"Sedang baca buku apa?" tanyanya.

"Oh. Bukan apa-apa."

Dilemparnya sebuah tatapan dingin ke seberang. Kalau Vincent adalah bawahannya, mungkin langsung dia pecat. Tidak sopan!

Namun, yang dimaksud tidak bergeming sedikitpun. Wajahnya tampak tenang menyusur huruf demi huruf buku misterius itu, tanpa memedulikan tatapan membunuh Seph.

Tak puas, si Perak berusaha memanjangkan lehernya, mencuri pandang judul buku. Tapi percuma saja, buku itu dibalut semacam 'pakaian' buku, sebuah sampul dari kulit. Tapi, jelas buku itu dibaca dari kiri ke kanan: jadi pasti bukan komik ataupun novel*. Dari ukurannya, buku itu mungkin adalah buku ilmiah, atau buku tentang hal-hal spesifik seperti biografi atau bahkan diari.

Percuma. Seph tidak bisa menebaknya.

Setelah itu, panggilan dari bawah terdengar, dan mereka pun turun untuk menikmati makan malam ke dua mereka di Terrace House.

.

.

Vincent, Sephiroth, Yuffie, Marlene, dan Biggs duduk mengelilingi sebuah panci yang dari dalamnya uap putih mengepul. Di depan masing-masing orang, mangkuk porselen berjejer. Kemudian, Tifa datang dengan alat makan untuk setiap orang.

"Aku pakai sendok dan garpu, ya!" pesan Biggs.

"Aku pakai sumpit dan sendok**"

Setelah semua orang mendapatkan peralatannya masing-masing, serentak semuanya berucap,

"Selamat makan!"

Kemudian keenamnya ricuh membicarakan aktivitas masing-masing hari itu. Cerita yang paling tidak membosankan datang dari Yuffie. Hari itu, dia menunggu paketnya datang sambil duduk di atas pagar (dia itu ninja atau apa, sih?). Kemudian ia melihat sesosok makhluk putih dari balik kabut. Matanya biru dan besar, seperti hantu. Yuffie pun tunggang langgang berlari masuk ke rumah (dia memperagakannya lagi). Yah, Sephiroth ingat. Ia sedang memulai 'meeting' dengan chat pagi itu. Jeritan Yuffie mengacaukan saraf pendengaran Sephiroth dan dia jadi tidak mood sepanjang meeting berjalan.

Cewek hiperaktif ini…. Bukannya membuatnya merasa tertarik dengan permainan, malah sebaliknya. Mungkin cewek itu biang onar sejati, tidak akan berhenti sebelum membuat jagad raya gempar.

Biggs dan Vincent juga sama saja. Mereka berdua mungkin sebenarnya punya sisi gelap yang tak diketaui para gadis. Mungkin, Biggs sebenarnya pengedar narkoba. Tak mungkin atlet yang belum terkenal bisa punya penghasilan yang memadai. Jadi dia pasti punya kerjaan sampingan. Atau mungkin saat liburan musim panas, dia bekerja di bar-bar malam. Pokoknya pekerjaan high risk - high income. Entahlah, mungkin itu hanya imajinasinya. Karena hidup dari penghasilan pas-pasan sama sekali tak bisa dibayangkan oleh Sephiroth Crescent, sang pewaris tunggal MRIH.

Sementara itu, Vincent juga tidak terlalu menarik minat Seph. Percakapan yang menyebalkan di kamar tadi membuatnya hilang respek. Sisi baiknya, orang itu mirip dengannya: tidak terlalu berenergi, dan lebih banyak diam daripada berbicara. Karenanya, Seph berpikir, mungkin orang itu juga sangat kaya, punya perusahaan modeling atau semacamnya. Jika benar, maka bukan hanya dirinya aktor bertopeng di sana. Tetapi, tentu saja kemungkinan ini sangat kecil. Mungkin, pada dasarnya Vincent hanyalah orang yang membosankan. Mungkin juga, karena mereka mirip dirinya sama membosankannya. Tapi, dia lebih tampan.

Terakhir, Tifa Lockhart. Dari luar dia sangat menarik, dan jika Seph berkencan, wanita seperti itulah yang pantas didapatkannya: wanita yang diinginkan semua pria di seluruh alam semesta. Ia yakin, ada intelejensi di balik tubuh aduhai itu; sesuatu yang sangat dibutuhkan seorang 'Nyonya Crescent'. Sifatnya yang kalem juga adalah alasan terbesar Sephiroth tidak mengeliminasinya. Tapi, entahlah… Wanita itu jelas tidak pantas untuknya. Apalagi dia berasal dari slum di Sektor 7. Kemungkinannya, dia bukan wanita baik-baik. Dan lagi, jika pria sekaya dirinya jadian dengan wanita semiskin Tifa, maka klise yang membuat semua orang mendecih sebal akan terjadi dalam hidupnya.

"Itu yang aku butuhkan! Klise. Penyederhanaan hidup." Ia tak percaya beberapa bulan lalu ia mengatakan kalimat ini!

Nafsu makan Seph pupus. Oden yang dimasak dengan susah payah itu tidak ingin dihabiskannya. Tidak, dia harus makan. Tak menghabiskan isi mangkuknya berarti menghina yang memasak, dan mungkin mereka semua jadi punya alasan untuk membencinya. Lalu ia harus menggunakan kekuasaannya untuk membungkam mereka, dan identitasnya akan terbongkar. Lalu dia akan di-bully satu Gaia! Oke. Itu terlalu jauh.

Syukurlah acara makan malam itu selesai dalam beberapa jam. Kemudian mereka berberes dan naik ke kamar.

"Itu kali pertama aku makan oden handmade," ujar Vincent.

"Benarkah? Enak, ya, tadi!"

Mereka berdua berjalan mendahului Sephiroth, yang merasa dirinya bagai berasal dari planet yang berbeda. Ia tidak mood membicarakan kesan terhadap makan malam yang sangat biasa tadi. Diner tanpa anggur mahal atau musik klasik tidak bisa disebut diner.

"Kalian mau berendam?"

"Berendam?"

Seph hampir lupa. Kamar mereka dilengkapi juga dengan bak untuk berendam ramai-ramai. Jacuzzi, tapi lebih kecil dari yang dia punya di rumah.

Yah, sebenarnya ia lebih memilih shower. Jika Biggs dan Vincent tak terlalu bersemangat untuk mempertontonkan tubuh masing-masing, dia juga tak akan merasa ditantang, dan jadi ingin melibatkan diri dalam second party itu.

Tempat berendam itu menghadap ke arah danau, sementara di apartemennya sendiri, ia terbiasa melihat kelap-kelip kota. Untungnya pemandangan baru itu cukup memukau.

"Waaah, hebat!"

Biggs dan Vincent melepas semua pakaian lalu menceburkan diri ke dalam bak.

Sephiroth langsung membatin, meskipun keduanya atletis, tubuh mereka tidak mungkin bisa dibandingkan dengan keelokan tubuhnya. Tapi, yah, sejak lahir dia memang dianugerahi fisik yang diatas rata-rata karena ibunya adalah Miss Gaia.

Sesaat Biggs melongok kembali, dan menyunggingkan senyuman super ceria yang biasa. Kemudian ia seperti ditampar sesuatu. Sephiroth pun menyadari sesuatu yang penting.

.

Bukankah dia ingin merasakan kehidupan seorang manusia normal? Maksudnya, manusia yang tak memiliki hak-hak istimewa seperti dirinya. Apa artinya semua ini, jika ia tidak sudi melepas status-statusnya itu, dan menikmati hidup sederhana di rumah itu? Seph segera menggeleng. Gelengan itu berarti dia telah kecewa pada dirinya sendiri.

Ia pun tersadar bahwa manusia pada umumnya akan tersenyum pada sebuah keistimewaan kecil itu: sebuah pemandian di pinggir danau. Sama seperti Biggs, seorang manusia akan bahagia, karena malam itu bulan begitu indah, dan bukan karena ia mampu membeli bulan. Bukan karena ia punya segala-galanya.

Jika ia benar-benar ingin merasakan 'kehidupan', ia tak bisa terus merasa superior. Memangnya dia itu apa? Tuhan? Mungkin Seph adalah tuhan dalam hidupnya sendiri. Tapi, jika ia terus begitu, potongan yang hilang dari hidupnya tidak akan pernah ketemu.

.

"Ada apa, Seph?" potong Vincent. Mereka berdua melihatnya masih berpaikan.

"Bukan apa-apa."

Dilucutinya satu per satu busana yang membalut tubuhnya: celana jins dan kaus lengan panjang putih yang agak gombrang; ini adalah style kampungan menurut Genesis. Pantas saja, begitu ia melepasnya, situasi dalam pemandian terasa semakin panas, sampai Biggs dan Vincent harus berpaling cepat-cepat.

"Malam yang indah! Sangat indah!"

"Bi-bintang-bintang bertaburan. Sungguh menenangkan!"

Mereka… grogi?

.

.

Pagi datang lebih lambat dari perkiraannya, karena tadi ia tidur jam dua.

Alarm Seph berbunyi pukul enam tepat. Ia tak menundanya. Langsung bangun adalah kunci keberhasilan orang-orang sukses.

Namun dia bukanlah yang terpagi. Biggs sudah meninggalkan pos peristirahatannya. Masa muda benar-benar berharga.

Dilihatnya sekitar. Situasi kamar masih gelap. Jendela tertutup gorden.

Diintipnya suasana luar dari balik kain putih itu. Betapa indahnya danau di luar! Permukaan air bersinar lembut, seolah menyerap cahaya rembulan tadi malam dan memancarkannya kembali. Danau itu benar-benar mengundangnya untuk berenang di sana!

Ia pun mengenakan setelan olahraganya, dibeli di sebuah toko biasa; sama sekali bukan designer clothing. Entah kenapa ia ragu sekaligus bangga dengan pakaian itu. Ia sampai menyuruh asistennya menggunakan dua takaran pelembut agar ia tidak gatal-gatal. Tapi ia benar-benar ingin memakainya, dan membuktikan pada kawan-kawannya bahwa ia tak takut bayar harga.

Dipakainya sepatu lari yang juga baru. Kemudian ia pun keluar, ke arah geladak.

Geladak kayu itu ada di bagian rumah yang bersisihan dengan danau. Dirinya duduk di sebuah kursi manja yang juga terbuat dari kayu.

"Segelas teh akan membuat pagi ini sempurna," ujarnya pada diri sendiri. Sayang, ia juga tak tahu cara menyeduh teh.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar di belakangnya.

"Oh. Nona Lockhart."

Wanita itu membiarkan rambutnya tergerai pagi itu. Masih dengan pakaian tidurnya ia menghampirinya.

"Bangun terlalu pagi?" sapanya.

"Kebiasaan. Anda sendiri?"

"Sephiroth,"

Mendengar namanya dipanggil tanpa titel, membuat jantung Sephiroth terkejut. Hanya ibunya yang boleh memanggilnya seperti itu.

"Panggil saja aku Tifa, tidak perlu terlalu formal. Kita akan bersama selama enam bulan, jadi, bukan ide buruk untuk menganggap satu sama lain teman."

"Baiklah, Tuan Putri," balas Seph setengah bercanda. "Kalau begitu, panggil aku Seph saja."

"Seph saja," goda Tifa, membuat senyum Seph tersungging.

Mereka berbincang tentang pekerjaan. Jam berapa biasanya Seph mulai bekerja, apa saja yang dikerjakan Tifa, dan sebagainya. Percakapan itu cukup luwes. Sepertinya mereka berbicara di frekuensi yang sama, bebas dari kesalahpahaman.

"Bagaimana rasanya bekerja sebagai model?"

Sebenarnya Seph sedikit pesimis. Bekerja di dunia hiburan membutuhkan banyak kompromi. Bukan mustahil jika selama ini, itulah yang dilakukan Tifa.

"Sulit. Sulit sekali. Kamu harus bangun pagi-pagi benar dan kadang pulang tengah malam. Bayarannya juga tak terlalu besar. Apalagi, banyak model wanita yang begitu gila harta, membuat persaingannya jadi tidak fair."

Sephiroth sudah sangat familiar dengan kata-kata itu. Agar kaya instan, sebagai wanita ada dua jalan: yang pertama, menikah secara legal dengan pria kaya, yang kedua, menikah secara ilegal dengan pria kaya.

"Menurutku tidak ada salahnya mengejar kekayaan. Bukannya wajar saja orang menghalalkan segala cara untuk sukses?" pancingnya secara tak langsung. Seph memang selalu menyimpan sinisme dan sarkasme terhadap siapa pun, bukan hanya terhadap orang-orang yang bekerja di slum. Mungkin itulah mekanisme perlindungan diri pertamanya. Entah dari apa.

Tetapi gadis itu hanya tertawa. "Itu bukan diriku."

Pemuda bermata hijau itu sedikit tertegun. Kemudian,

"Lalu, kenapa model?"

Sesungguhnya, Sephiroth khawatir ia bertanya terlalu jauh. Nanti dia disamakan dengan ibu-ibu rumpi yang senang mencari bahan gosip. Tapi ia ingin tahu.

Sang dara mengendikkan bahu.

"Aku ingin membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih jika kita benar-benar menyukai apa yang kita lakukan, dengan bekerja keras, dan bukannya bermain kotor."

Bermain kotor? Apa maksudnya, menggoda para pemilik televisi, melewatkan malam berdua dengan pemilik majalah mode, termasuk bermain kotor? Menurut Seph, itu adalah hal yang sangat wajar. Meski ia juga tahu, pemikirannya salah. Selama ini ia hanya menepisnya ke samping, karena, sebagai seseorang yang mampu, dia tidak perlu melakukan hal-hal di atas untuk mencapai tujuannya.

Ha. Begitu, ya. Lawan bicaranya kali ini juga salah satu idealis. Menarik.

"Berapa usiamu, No—Tifa?"

Wanita itu hanya menyunggingkan senyum. "Apa kamu sedang mencari jodoh?" tanyanya jahil.

"Jika itu memang terlalu pribadi, aku minta maaf sudah bertanya."

Dirinya bangkit berdiri.

"Bukan begitu," sanggah Tifa mengekorinya. "Jadi orang jangan terlalu serius, dong. Umurku dua puluh empat tahun ini."

Gertakannya berhasil. Tentu saja ia tidak benar-benar marah, dibuktikan dari sebuah senyuman bercanda yang dilemparnya. Tifa memegangi dada. Sport jantung, akunya. Sang model pun memaksa Seph berjanji untuk tak mengulangnya lagi.

Mereka pun memandangi mentari yang meninggi. Kemudian Tifa menawarinya teh. Sephiroth membatin betapa pengertiannya Nona Lockhart ini. Mungkin di masa depan, setidaknya ia bisa jadi asisten pribadinya. Itu lebih baik, kan, daripada bekerja serabutan tanpa jenjang karir yang jelas?

"Terima kasih."

Sepeninggal gadis itu, air danau menarik perhatiannya. Hijau kebiruan, air itu berkilat memantulkan sinar pagi menjadi sebuah pendar yang aneh. Ia terdorong untunk menceburkan dirinya di sana, meskipun suhu airnya pasti langsung membuatnya beku.

"Aku rindu kolam renangku."

Memang, ya, dasar orang kaya!

.

.

Angin bertiup kencang. Si Jangkung menyingkir ke pingir jalan. Tidak mungkin ia bisa melanjutkan lari paginya jika angin dingin sudah menentangnya.

"Sebaiknya aku pulang," ujar Seph, menyelipkan rambut keperakannya ke balik kerudung.

Di tengah jalan, ia mendengar suara eongan anak kucing.

"Eh? Little Lucy?" dia memanggil nama kucing di rumahnya. Sephiroth menamai kucingnya dengan nama singkat ibunya; Lucy untuk Lucrecia Crescent. Ia punya sisi lembut untuk kucing dalam hatinya.

Didorong rasa kasihan, dicarinya si kucing malang, karena ia sungguh khawatir makhluk itu kedinginan dalam hujan badai yang mungkin saja akan datang di akhir minggu.

Dan ia menemukannya, bersembunyi di sesemakan. Seekor anak kucing putih bermata biru. Bulunya kotor oleh debu.

Seketika ia terpikat.

.

.

Di Terrace House, sekarang hanya ada tiga orang. Marlene dan Biggs sudah berangkat.

Saat itu, ada kesibukan di depan rumah. Sebuah truk kecil diparkir, dan supirnya mondar mandir menurunkan box-box cokelat, menumpuknya setinggi gunung di garasi.

Yuffie mengarahkan sang kurir itu, dibantu oleh Vincent yang ikut mengangkut apparel yang kemarin diiklankannya.

"Ini keren sekali, Yuffie," puji Vincent. "Semua ini akan dikirim ke Midgar?"

"Ya, ke seluruh penjuru Midgar, lalu ke Northern Crater, dan yang lainnya."

"Ternyata usahamu semaju ini!"

"Ehh… Tidak juga," elak Yuffie. "Tidak banyak toko yang mau menerima brand baru. Makanya, walaupun kelihatan banyak, tapi semua ini akan dikirim ke seluruh penjuru negeri. Jadi sebenarnya, ini nggak banyak."

"Tapi aku rasa usahamu ini akan semakin maju ke depannya."

Mereka berdua sangat akrab pagi itu; lebih akrab dari kemarin. Entah mengapa, mood Vincent lebih cerah ketika bersama Yuffie.

Lalu datanglah Sephiroth, memeluk sesuatu.

"Ara, Seph! Dari mana?"

"Jogging."

Seph berlari ke arah rumah. Keduanya terheran-heran memandangi pemuda yang biasanya tenang itu.

Beberapa saat setelahnya, barulah jelas alasannya. Pria bertampang serius itu buru-buru menghangatkan makhluk kecil yang kedinginan: seekor anak kucing cantik bermata biru.

"Woh! Kucing!"

"Ternyata drama-drama di televisi tentang cowok keren yang suka kucing itu ada benarnya."

Yuffie membenarkan Tifa.

Tapi, mereka bertiga bukannya tak tahu kenapa Seph terpikat oleh si makhluk mungil. Setelah dimandikan, anak kucing itu berubah menjadi primadona. Sepertinya matanya memancarkan sebagian kebiruan danau di samping villa. Kamera handphone pun berbunyi-bunyi menangkap kegemasan absolut itu.

"Boleh nggak kita merawatnya?" tanya Seph dengan sedikit nada memohon. Ia menamainya Little Lusy—dengan 's' dan bukan c untuk membedakan dengan kucingnya di rumah. Ya, ya, ya, dia bukan orang terkreatif sedunia. Tapi, siapa peduli? Nama itu mengingatkannya akan rumah masa kecilnya.

"Kurasa itu dilarang," timpal Vincent. "Tapi mari kita lihat. Semoga saja dia tidak diambil."

"Tenang, Little Lusy. Daddy tak akan membiarkannya!" bisiknya melirik curiga ke Vincent. Tawa geli meresap keluar dari ketiga orang yang mengelilinginya. Mereka bertanya, apakah di rumah ia menyebut ayahnya Daddy juga. Atau jangan-jangan dia sendiri yang disebut Daddy oleh rekan-rekan sekerjanya.

Kemudian hari bergulir seperti yang direncanakan sebelumnya.

.

Yuffie, dibantu Vincent, menginventarisir semua produk, memastikan isi kardus sesuai dengan pesanan masing-masing toko. Setelahnya, di sore hari keduanya pergi ke perusahaan ekspedisi untuk mengirim paket-paket tadi ke seluruh Midgar. Sementara itu, Seph menyibukkan diri dengan laptopnya—dalihnya mengerjakan blok saham. Dia selalu menutup laptopnya setiap Tifa lewat.

Kecurigaan Tifa ditepisnya dengan enteng. Dia bilang blognya masih harus banyak dirombak. Ini baru jenius!

Yang dilakukan Sephiroth sore itu hanyalah melapor kepada gengnya. Dua hari pertamanya di sana begini dan begitu. Tak lupa Seph mengecek jikalau ada email urgen dari kantor-kantor cabang. Sepertinya untuk sekarang, semuanya aman terkendali.

Selama bekerja, Little Lusy duduk di pangkuannya, memain-mainkan rambutnya. Si mungil kelihatan nyaman di tangan Seph, atau lebih tepatnya, Seph kelihatan rileks di dekat si mungil. Terkadang, kontras yang aneh itu – seorang pria besar berwajah serius, dan seekor anak kucing yang suka bermain, membuat Tifa terkikik. Pemandangan itu adalah hiburan gratis baginya.

Kemudian, email dari Angeal masuk. Katanya, ia ingin video call malam ini. Di email itu ditulis kiat menghindari kamera dan kuping-kuping tak diundang: dengan ber-video call di kamar mandi.

Sebenarnya, itu ide bagus. Ia tinggal bilang ingin keramas atau semacamnya. Mereka pasti mengerti. Vincent bisa jadi saksi matanya. Kemarin, dia sempat mengintip produk perawatan rambut Seph yang sudah memakan tempat hampir setengah kopernya.

"Seph."

Panggilan Tifa nyaris membuat jantungnya meledak. Dara manis itu sudah duduk di depannya, entah kapan.

"Belum selesai juga kerjaannya?" tanyanya dengan sebuah senyum.

Laptop itu segera ditutup. Seph menyatukan kedua tangannya.

"Sudah. Ada apa?" jawabnya cepat, sedikit menggoda.

"Mau bantu aku memasak?"

"Boleh," katanya lagi. "Katakan saja, Tuan Putri, maka akan saya kerjakan."

Gadis itu mendengus geli. "Mencuci dan memotong sayur? Menumis bawang?"

Sebenarnya, dari semua hal yang diminta Tifa, tak satu pun dia bisa. Tapi, dianggap tidak berguna jauh lebih menyusahkan baginya.

Mereka pun menyiapkan bahan makanan. Malam itu, yang lainnya sudah setuju untuk makan sup sayur.

"Kamu bisa menanak nasi?"

Yang diminta tampak kebingungan, tapi kemudian punya akal.

Dia pamit ke kamar kecil, menonton video tutorial di KimiTube. Setelah menghafal semua langkahnya, dengan percaya diri ia menyelesaikan tugas berat yang dimaksud.

Tifa memintanya memotong wortel dan kentang. Masing-masing bentuk tipis miring dan bentuk dadu, pesannya. Seketika, trilyuner muda itu mulai berkeringat dingin.

Syukurlah gadis itu peka.

"Kamu tidak pernah memasak, ya?"

"Iya. Semua makananku selalu kubeli di restoran dekat rumah. Pemiliknya sudah mengenalku dengan baik dan memberi harga spesial tiap kali."

Gadis itu tertawa geli mendengar penjelasan panjang yang agak lucu itu.

"Begitu, ya. Baiklah. Malam ini biar Tifa-Mommy yang mengerjakannya!"

Mommy? Tifa menyebut dirinya mommy setelah Seph menyebut dirinya daddy, bukan? Seph merasa, urusan jodohnya akan makin lancar.

Dengan ikhlas gadis itu mulai mengupas wortel dan kentang, sambil terus mengajaknya berbicara. Mereka berbincang tentang tempat asal mereka.

Ternyata, tempat asal Tifa yang sebenarnya adalah sebuah desa kecil bernama Nibelheim, yang belum pernah didengar Seph. Menurut deskripsi Tifa, satu-satunya hal yang bisa dibanggakan dari tempat terpencil itu adalah langit malamnya. Begitu bening, begitu bersih. Ia sering menghabiskan waktu sambil menghitung bintang.

"Dua ribu dua ratus empat."

Dua ribu dua ratus empat. Itu jumlahnya, menurut perhitungan terakhir Tifa.

Pemuda itu tersenyum padanya.

"Mungkin saja, tapi itu hanya yang tampak. Ada jutaan bintang yang tak akan pernah ditangkap mata manusia."

'Tentu saja,' jawab Tifa. 'Tidak nampak bukan berarti tidak ada,' katanya kemudian, sedikit mengenang.

Sebuah momen stagnan memaksa Seph menanyakannya. Hal yang mengganggunya waktu itu:

"Aku jadi penasaran. Tifa, apa kamu punya teman masa kecil yang dekat denganmu?" Tebakan Sephiroth itu berdasar cerita opera yang pernah ditontonnya sewaktu kecil.

"Ya… Ada seseorang yang selalu kucari ke manapun aku pergi."

Bingo! Dan. Ouch!

"Tapi dia pindah ke Midgar, sudah lama sekali. Aku juga tidak punya kontaknya sejak dia pergi."

"Seperti apa orangnya?"

"Dia pirang… bermata biru. Selalu baik kepadaku."

Ah. Sungguh klasik. Cinta dengan teman masa kecil. Sebelumnya, Seph tidak percaya itu nyata, mengingat teman-teman masa kecilnya adalah monster-monster super manja yang hobi melapor.

Seph akhirnya membuka mulut. Kata-katanya mencerminkan keyakinannya.

"Orang berubah, Tifa. Apalagi di Midgar. Orang yang dulunya baik, selalu mencari kebahagiaan orang lain, tidak akan bisa bertahan lama di Midgar."

"Aku tahu. Aku tinggal di Midgar juga. Lagipula apa gunanya kita membahas ini?"

"Untuk memperjelas."

"Memperjelas?"

Seph mengambil waktunya. Berbicara lambat-lambat, matanya memaku gadis itu lekat.

"Memperjelas, apakah aku punya kesempatan untuk mengenalmu... dengan baik."

Tifa kehilangan kata-kata. Ia tahu maksudnya. Ia tahu intensi Sephiroth.

Dalam hati Seph memuji keelokannya menyetir percakapan. Bingo! Dan kali ini. Hooray!

"Aku pulang!"

Kepala besar Biggs menyembul dari balik pintu. Dan pembicaraan mereka pun harus berakhir.

.

.

Seph bangkit dari meja makan.

"Lho, mau ke mana, Sephy?"

Ini baru hari ke tiga dan bocah ingusan pendek itu sudah berani sok akrab padanya. Hah. Biarlah. Dia punya urusan yang jauh lebih penting sekarang.

Diliriknya jarum jam tangan. Jam delapan tepat. Ia agak terlambat.

"Mau keramas," jawab Seph.

Audiens terhibur. Sephiroth tak mengerti, apa lucunya statement yang sangat-sangat serius itu.

Yuffie pun mengacungkan jari, tak dapat mengendalikan luapan perasaan… Senang? Bahagia? Apapun itu, itu dirasakannya hampir setiap saat.

"Dari hari pertama, aku ingin sekali tahu, kenapa rambutmu panjang begitu."

"Sama! Tapi aku takut itu tidak sopan," timpal Biggs.

Oh, mereka berdua harusnya menikah saja. Biggs dan Yuffie sangat serasi. Sama-sama tidak berkelas. Mau rambutnya panjang atau pendek, itu adalah hak asasi yang tak dapat diganggu gugat oleh semua makluk di Gaia dan akhirat.

"Aku juga ingin tahu," Vincent dan Marlene ikut-ikut. Satu-satunya yang tidak menyuarakan dukungannya adalah Tifa, tapi dari sorot matanya, ia sama saja.

Ia menghela napas. "Ini hanya selera personalku."

Jawaban yang kurang memuaskan. Tapi itulah kebenarannya. Jika mereka berharap, dia sebenarnya adalah pangeran bulan, atau petarung barbar yang tak memotong rambutnya sebelum dikalahkan petarung lain, sebaiknya mereka nonton kartun saja. Tapi, demi menjaga agar permainan tetap menarik, ia menambahi bumbu misteri.

"Ini untuk mengenang ibuku."

Kemudian ia meninggalkan kelimanya, mulut menganga, mulai ribut mendiskusikan apa maksud Seph barusan.

Oh, Sephy, apa jadinya pertunjukan tanpa aktor utama kita ini?

.

.

"Angeal? Bisa dengar?"

Koneksi sedikit terputus-putus dikarenakan lokasinya yang jauh dari peradaban. Tapi, dengan merendahkan sedikit kualitas video, akhirnya mereka menemukan titik bersambungan yang cukup nyaman.

"Hey Sephy! Kamu masih hidup?"

"Genesis?"

"Di sini juga ada Zack."

Di belakang, si Jabrik melambaikan tangannya. Mereka sedang berada di bar dekat rumah Seph. Rasanya cukup senang melihat ketiganya masih menyempatkan berkumpul demi menghubunginya.

Seph melanjutkan dengan, yah, biasalah, masalah pekerjaan. Bertanya hari itu: hari ke dua pekerjaan baru Genesis, yang sayangnya tidak mulus. Sang Pujangga tampak sedikit kewalahan, kata Angeal.

"Dan pergi ke bar adalah idenya. Lihat apa yang langsung dipesannya," jelas Angeal sembari mengangkat satu botol tequila.

Tak butuh waktu lama sebelum keempatnya membahas keadaan Seph.

"Tenang, Seph. Wajahmu masih glowing, kok. 'Aura kemakmuran'-mu masih belum hilang."

Entah apa maksud banyolan Genesis barusan. Dia sudah mulai melantur.

"Ada yang penting?"

"Ada," akunya. "Hanya butuh tiga hari untuk membuat mereka berlima akrab."

"Oh ya?" kata Genesis tertarik. "Mungkin itu karena… well, nothing to lose. Tidak ada terlalu banyak pertimbangan di otak mereka waktu memilih teman."

Ucapan pianis dan lead vocal SOLDIER, Genesis Rhapsodos, memancing sebuah perenungan. Apakah ketika mereka memilihnya sebagai teman, ada pertimbangan-pertimbangan lainnya? Apa itu berhubungan dengan siapa dirinya? Tapi, sekarang tak ada waktu untuk membahasnya.

"Tapi kamu sempat bersenang-senang, kan?" celetuk Zack. Malam itu Zack membawa pacarnya, seperti yang selalu dilakukannya jika dia menikmati dunia malam. Zack tidak pernah membiarkan dirinya tergoda oleh wanita lain.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Zack."

"Ada gadis yang menarik perhatianmu?" mulai si termuda. Ia mendapat perhatian penuh kedua sahabatnya yang lain.

"Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan," pungkasnya.

"Tapi, firasatku bilang, kamu sudah membuat langkah pertama?"

Firasat Angeal memang tajam.

"Yah, begitulah. Dia berasal dari slum Sektor 7. Kita semua tahu, itu termasuk sektor terlarang."

Di seberang Zack tertawa. "Kenapa? Buktinya aku bisa menemukan berlian di sana," ujarnya, memuji sang gadis, yang berasal dari Sektor 5, area slum lain. Pacar Zack adalah anak petani bunga miskin, dulunya. Sekarang, sepertinya gadis itu merayakan hidup terbaiknya setiap hari bersama Zack. Untunglah Zack Fair orang baik-baik, tidak seperti rekan bisnis Sephiroth lainnya, yang tiap hari kerjaannya main perempuan.

Untuk informasi, sebenarnya Seph tak terlalu suka dengan hubungan mereka awalnya. Zack, yang keluarganya begitu sukses dengan bisnis perkapalan, berhak mendapatkan gadis yang lebih terdidik. Tapi, setelah beberapa kali bertemu secara personal dengan sang gadis, tak disangkal, pendapat Sephiroth berubah sedikit. Prediksinya, sebentar lagi, Zack, sang businessman kaya, akan meminang Aerith, seorang gadis miskin baik hati, dan membawanya pindah dari hidupnya yang menyedihkan ke dalam istana penuh kebahagiaan bersama dirinya.

Yah, hidup memang tidak selalu tertebak. Dengan probabilitas super kecil sekalipun, drama dan klise selalu ada.

"Jadi, lebih baik kita bicarakan tujuan-tujuanmu selama di sana. Kalau kamu lupa, kami belum dengar, selain dari membaca surat lamaranmu yang penuh kepalsuan itu. Juga beritahu, apa yang ingin kamu capai dengan gadis itu," seperti biasa Angeal memaksanya fokus.

Jadi, Seph menata kata-katanya.

"Sebenarnya, awalnya aku hanya ingin tahu, bagi manusia biasa yang tak punya kekayaan seperti kita, apakah artinya hidup, lalu adakah kebahagiaan sejati. Tapi, makin ke sini aku juga jadi ingin menguji, jika semua hartaku dilucuti, siapakah aku di mata orang-orang ini. Apakah mereka masih akan menerimaku apa adanya. Dengan kata lain, kalau mereka tak punya agenda, apakah mereka akan tetap dengan tulus mau jadi temanku," pungkasnya kalem, namun tajam menusuk ke arah Genesis yang sayangnya sudah sibuk dengan gelas alkoholnya.

"Lalu, masalah gadis itu, mungkin aku akan mencoba memperdalam hubungan dengannya."

"Eh? Kami kira tadinya kamu hanya bosan?" timpal Genesis, yang tidak diduga ternyata mendengarkan. Angeal mengangguk.

"Sebaiknya kita mencari makna dari segala sesuatu. Bagiku, lebih baik tak pernah pergi, jika ketika kembali, aku sama saja seperti sebelumnya." Sephiroth mengatakannya tanpa berpikir. Nampaknya dia mulai disambar inspirasi-inspirasi misterius yang didapatnya dari pertapaannya di depan danau.

"Yah… Harus kuakui, kata-katamu ada benarnya… Jika semuanya berjalan dengan ideal. Tapi ingatlah, tak ada yang ideal di dunia ini. Bisa jadi mereka semua penipu. Hati-hati, Seph."

"Oh, ayolah, Angeal. Biarkan Seph bersenang-senang sedikit. Siapa tahu, sebuah keajaiban akan terjadi dalam hidupnya yang hampa," timpal Zack.

Seph menahan tawanya. Ia sungguh pesimis itu akan terjadi. Tapi, dia suka ide 'bersenang-senang' tadi.

Di seberang, Angeal menghela napas panjang.

"Baiklah. Aku hanya minta kamu megang janjimu, bahwa kamu takkan mencoreng nama baik keluargamu, aku mau membantu."

Mereka berbicara selama satu setengah jam. Jika Seph masih secara aktif memegang tampuk pemerintahan dinasti keluarganya di Midgar, tak mungkin ia membahas persoalan-persoalan itu. Terisolasi dari rutinitasnya berhasil memancing cerita-cerita baru. Dalam video call itu, mereka berempat kembali jadi remaja, berandai-andai kalau Sephiroth pulang ke Midgar dengan menggandeng seorang kekasih. Seorang calon Nyonya Crescent. Kemudian mereka juga menyusun strategi paling 'kampungan' untuk memikat gadis itu.

Di akhir diskusi, Zack memberikan sebuah saran. Menurutnya, Seph harus menjadi dirinya sendiri, karena waktu yang akan mengungkap apakah dia benar-benar cocok dengan perempuan bernama Tifa itu atau tidak.

"Yang terakhir, menurutku, romansa itu tidak untuk semua orang. Aku benar-benar paham, kalau usaha keluargamu membutuhkan ahli waris dan lain sebagainya. Tapi, jika kamu memaksakan cinta, pada akhirnya kamulah yang menderita."

Seph menggumulkan perkataan temannya itu selama berdiri di bawah shower, sambil mengeramasi surai panjang yang membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk dibilas bersih.

Di luar, sebuah telenovela tentang Sephiroth telah lahir. Dalam cerita tersebut, Seph adalah penyihir voodoo yang menggunakan media rambutnya, untuk menyingkirkan orang-orang yang telah menjebak ibunya. Kemudian, karena ia tak kunjung keluar, Yuffie menyimpulkan ia berusaha bunuh diri akibat tidak tahan ditinggal pergi sang ibu. Biggs dan Vincent bahkan sempat hampir mendobrak pintu kamar mandi.

Syukurlah insiden memalukan belum terjadi hari itu. Belum. Sephiroth harus berhati-hati.

.

.

.

To be continued


*di Jepang, buku komik ataupun novel itu dibaca dari kanan ke kiri. Terus, buku-buku textbooknya juga tipis kayak novel gitu deh.

Aneh ya.

**di Jepang (lagi), kalau makan mie biasanya orang pakai sumpit dan sendok yang agak besar, buat minum kuah.

AH! AKHIRNYA KEBEBASAN HAKIKI!

Sebelumnya saia mau minta maaf yang sedalam2nya karena tidak berhasil meng-update fiction ini dalam kurun waktu satu bulan. Sebulan belakangan ini saia jalan2 dan ujian. Sungguh kontras yang menyedihkan. Kemudian, sekarang ini saia masih harus presentasi. Tapi, setelah presentasi ini, maka berakhirlah semester pertama saia di sini!

Saia ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudari love30katrina dan Guest untuk review yang tiada henti membanjiri karya-karya saia /kayak habis nerima sumbangan. Dan kemudian, ada satu akun yang mem-favorite dan follow cerita ini, yairu yorukakusaku. Terima kasih! Hari itu waktu notifikasi tentang fave ama follow nya masuk, saia semangat banget.

Ternyata review dan support itu beneran kayak bensin yang menjaga mobil perfanfictionan ini bisa tetap jalan.

Terima kasih banyak!

Semoga readers menikmati chapter ini. Agak panjang sih.

Kritik dan saran akan sangat dihargai heheh! Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Au revoir!