.
.
Bab 4
.
.
Sephiroth Crescent tidak tidur sebelum wajahnya bersih dan giginya berkilau. Baru setelah melihat kesempurnaan di dalam cermin, Sephiroth kembali ke 'bangsal derita sempit sesak', di mana ada Biggs dan Vincent menunggunya untuk mengucapkan selamat malam.
"Ada yang menarik hari ini?" celetuk Biggs dari kasur atas bunk bed, berguling dan melongok ke bawah. Dia tidak kelihatan mengantuk. Ya, biasanya mereka berbasa-basi sejenak untuk malam-malam seperti ini.
Netra Seph mengincar Vincent di seberang, berharap mendengar sesuatu tentang Yuffie yang mengagumkan itu.
"Aku berhasil mengajak Marlene pergi berdua, loh! Hebat tidak? Wahahaha!" sang penanya menjawab dirinya sendiri. Kepala yang terjulur ke bawah itu mempertontonkan wajah sumringah.
"Cepat juga. Selamat, ya," puji Seph.
Palingan Marlene hanya kasihan. Namun bibir terkatup rapat, dikunci senyum palsu. Yang ini bukan urusannya. Lebih baik ia tak memberi Biggs kesempatan melanjutkan. Yang penting itu si model—
"Aku juga."
Semua bola mata nanar memelototi Vincent. Seingat Biggs, tidak ada yang mengajak Marlene kencan selain dirinya. Lebih tepatnya, tidak ada yang boleh! begitu erang si hockey player dalam hati.
"Aku menyadari sesuatu tadi. Waktu pergi sama Yuffie..."
Biggs bernapas lega. Lain lagi dengan Sephiroth. Ding dong ding dong! Perkataannya itu laksana musik di telinganya, mengajaknya menari bahagia.
"Menyadari apa?" pancing si rambut panjang, tidak sabar mendengar kelanjutan melodi yang indah itu.
Sayangnya, lelaki pemurung itu sepertinya tidak tahu cara penyampaian yang tepat. Ia termenung beberapa saat.
"Emangnya ini pengakuan dosa?" batin yang lain. "Cepetan, dong, sebelum kami ketiduran."
Rambut hitamnya tersibak ketika menengadah, mengangkat suaranya tiba-tiba.
Vincent Valentine berbicara dua puluh menit penuh. Seusai pengakuan itu, baik Sephiroth maupun sang junior tidak tahu harus bagaimana, lantaran isi pidato tersebut sulit dipercaya.
Dua puluh menit yang menyiksa itu memakan banyak energi dan emosi. Hasilnya, Vincent membungkam dan menyendiri selama beberapa hari setelahnya.
.
.
Fajar itu murung. Biggs pun tak lari pagi.
"Mungkin awan hitam ini pertanda buruk," bisik si termuda, sebelum berangkat latihan seperti biasa. Sephiroth bukanlah orang yang percaya takhayul, namun statement Biggs itu barangkali ada benarnya.
"Selamat pagi."
Oh. Tapi itu tidak akan mengacaukan harinya. Ini dia yang selalu ditunggu.
Di teras dua insan bertemu kembali. Sang juita mempersembahkan secangkir teh padanya. Agaknya hal ini sudah jadi kebiasaan mereka. Terkadang, satu jam lewat begitu saja dalam pembicaraan ringan. Waktu yang ia habiskan bersama Nona Lockhart selalu mengangkat mood-nya.
Hari itu, si Cantik siap berangkat. Pekerjaan memanggilnya. Kemarin, Sephiroth telah menawakan diri untuk mengantar. Dengan begini, bukan hanya Biggs yang sukses berkencan. Dirinya juga, meski yang ini "kencan" tidak resmi.
"Sudah siap, Tuan Putri?"
Senyum Tifa kepadanya lebih los sekarang. Bagus, bagus. Seph lega, karena ternyata bukannya tak bisa bergaul. Setidaknya Tifa bisa memahaminya.
"Anginnya kencang sekali pagi ini."
Mengalihkan perhatian, Sephiroth bergumam, mengundang Tifa untuk mengamati. Biggs benar, badai sudah di depan mata. Tingkah laku kucing mungil di pangkuan Seph menegaskan hal yang sama.
Little Lusy, panggilan sayang Sephiroth untuk si mata biru. Beberapa hari setelah kedatangan si meong, manajer Terrace House menghubunginya. Katanya, mereka akan mencari majikan baru untuk si mungil, agar tidak mencuri perhatian pemirsa. Tetapi, Seph punya ide lain: ia akan membawanya pulang ke rumahnya di Sektor 1 akhir pekan ini. Dan tentu saja, percuma berargumen dengan dirinya. Butuh keajaiban untuk menang, apalagi mengubah pendirian pemuda itu.
Makhluk itu mendengkur gelisah, namun bertahan di pangkuannya. Sephiroth mengelus bulunya yang halus dengan kasihan.
"Sebaiknya kita masuk, nanti masuk angin," saran sang gadis. "Kasihan Little Lusy."
Makhluk berbulu itu pindah tangan. Tuan Putri menjauhi danau, dan Si Perak mengikutinya. Jendela yang berusaha ditutupnya tidak bisa diatur. Angin kencang meniup gorden ke luar ruangan, menyusahkannya berlipat kali.
"Tifa, cuaca seburuk ini mungkin bakalan merepotkan. Ada baiknya kita tinggal di rumah hari ini," anjur Sephiroth. "Tentu saja, kalau kamu harus berangkat, aku tetap siap mengantarmu," tambahnya. Karena pria yang tidak menepati janji adalah pecundang.
Perempuan itu memutuskan untuk menelepon manajernya. Akan tetapi, sambungan itu tidak diangkat, dan untuk beberapa waktu dia bimbang, bahkan sedikit kewalahan.
Setelah berunding, akhirnya mereka memutuskan tetap pergi, tapi tidak berdua. Little Lusy yang gagah berani diajak.
.
.
.
Perjalanan itu ternyata sangat-sangat menguji kebolehannya menyetir. Sudah lama tak berkendara dalam situasi ekstrim, Sephiroth lupa betapa berbahayannya angin kencang, terlebih bagi mobil kurang aerodinamis ini.
"Berapa sisa waktu kita?" selidiknya, sembari berusaha mengejar ketinggalan.
Telepon masih menempel di telinga, Tifa memberitahunya dengan nada gelisah. Wah. Ternyata mereka wajib buru-buru.
Walau bisa tetap tenang, perjalanan itu sangat sulit bagi Sephiroth. Ditambah lagi, jalanan di pinggiran kota itu tak beraspal seperti di Midgar. Seakan-akan semua ini belum cukup, setengah jalan hujan mulai turun, dan kian deras dari waktu ke waktu.
"Sudah terhubung? Kita akan terlambat."
Wajah cemas Tifa tidak berubah sejak empat puluh lima menit yang lalu. Terang saja, terlambat bisa sangat mencoreng konduitenya. Kenapa juga manajernya tidak mengangkat telepon, padahal sinyal masih oke?
"Tenang, Tifa. Nanti aku jelaskan ke manajermu. Kamu nggak perlu khawatir."
"Ya…" Ekspresi wanita itu bertahan.
"Ada apa?" tanya Seph, tertular dan mulai khawatir. Lagi nggak enak badan?
"Jujur, sebenarnya hal-hal seperti ini sering banget kejadian. Aku mulai jengkel. Kami para model sering tidak diperlakukan sebagai manusia. Dipanggil seenaknya, tidak dikabari lebih lanjut kalau lokasinya pindah, atau bahkan dibatalkan begitu saja. Aku tidak suka sisi pekerjaan yang ini," aku Tifa tidak enak hati. "Padahal kamu ingat, kan, minggu lalu aku baru saja berkhotbah pada Vincent tentang passion dan sebagainya. Sungguh munafik."
"Tenang, Teef. Hal-hal seperti ini wajar dalam bekerja. Pegawaiku—"
Gawat! Keceplosan!
"Vincent juga pasti pernah mengalaminya," alih Sephiroth, berharap Tifa tak menyadari salah ucapnya tadi.
Tifa menggeleng lemah.
"Membenci pekerjaan karena konsekuensi dan hal-hal minor seperti ini tidaklah valid. Aku ingin menunjukkan kepada Vincent bahwa kepuasan yang diberikan oleh profesi ini bisa melebihi kejengkelan-kejengkelan kecil seperti ini. Dia hanya perlu melihat sisi yang lain. Tapi…"
Sebenarnya, pendapat Tifa itu boleh saja. Jika seseorang cukup optimis, dia pasti bisa melihat sisi baik dari segala hal. Yang Seph kurang setuju, bagaimana Vincent memandang sesuatu, kan, bukan urusan Tifa. Kenapa ia harus peduli? Masalahnya sendiri sudah cukup menguras emosi.
"Persoalan Vincent, menurutku tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Jika memiliki profesi lain pun, orang itu akan mengalami masalah yang sama," pungkas Seph sambil lalu, meski setelah 'pengakuan' malam itu, dia kurang lebih dapat menerka apa yang tidak beres. Yah, mau bagaimana lagi? Gamblangnya, ia pun tidak terlalu acuh pada kesulitan rivalnya itu.
"Jadi benar."
Benar apanya, tanya Seph dengan sebelah alis.
"Vincent memiliki masalah yang lain, bukan cuma bosan."
Seketika seluruh atensi perempuan itu tersalur pada Sephiroth.
"Kamu tahu apa saja tentang Vincent?"
.
.
.
Pendek kata, mereka mencapai Midgar. Mobil pun menyelam ke bawah piringan baja, menuju slum Sektor 7.
Apartemen Tifa berada di lantai atas sebuah bar. Terus terang, bar itu lebih mirip sarang penyamun daripada tempat bersenang-senang. Tak terbayang apa saja yang sudah dilakukan orang di bar tersebut. Menyelundupkan narkoba? Berdangang senjata terlarang? Human trafficking? Sang pria kaya tergoda menelepon pengawal pribadinya. Tidak, tidak. Sekarang bukan waktu yang tepat.
Begitu urusan Tifa selesai, mereka meluncur ke Sektor 5, ke sebuah bangunan tua yang kelihatannya adalah gereja. Di situlah photoshoot itu berlangsung. Mereka sudah terlambat, tetapi begitu manajer Tifa melihat aura orang yang mengantarnya, lelaki tambun itu pun segera mempersilakan Tifa untuk berpose tanpa mengomel sedikit pun.
Sephiroth ingin melihat Tifa bekerja, tetapi pihak majalah—pekerjaan kali ini adalah mengiklankan sebuah fashion trend baru—melarangnya. Konfidensial, kata mereka, karena mode yang satu ini dinubuatkan bakal bombastis. Seph gatal untuk membalasnya. Penelitian terbaru MRIH yang disebut Project S, itulah definisi bombastis. Tapi, kali ini biarlah mereka menyombongkan diri. Kalau Tifa Lockhart modelnya, dirinya yakin itu bisa-bisa saja.
"Seph, seseorang harus bertindak," cakap Tifa, sedetik sebelum Sephiroth mengangkat kaki.
.
.
.
"Karena aku sempat lumpuh beberapa saat, Yuffie berusaha memanggulku, tetapi aku mendorongnya… dengan kasar. Rasanya ada sumbu yang tersulut begitu saja, dan yang kuinginkan cuma menyingkirkan Yuffie."
Vincent Valentine mengalihkan pandangannya. Ya, tentu saja pendengarnya shock berat. Tidak ada manusia normal yang tidak akan heran, bahkan mempertanyakan pengakuannya barusan. Orang itu berkata, pada situasi tersebut, ia sama sekali tak bisa berempati. Malah, dia mengaku tak merasakan emosi apapun.
Jika kilas-kilas balik yang dia ceritakan itu benar, ada sesuatu yang kelam di masa lalunya. Ibanya, memori-memori itu baru disadarinya beberapa jam yang lalu, ketika sedang bersama Yuffie, pribadi yang katanya mirip dengan seseorang dalam kenangan Vincent.
Jadi, apa yang dilakukan orang itu terhadapnya? Ayahnya itu…? Seakan-akan kekejiannya pada saudari dan ibunya tidaklah cukup.
Di akhir cerita, Biggs memutuskan untuk tidak tidur dalam waktu dekat. Mungkin itu bentuk solidaritasnya terhadap si Murung. Sephiroth benar-benar tak habis pikir, untuk apa si Sumringah melakukannya. Toh, ketiganya belum akrab. Tetapi, yang lebih mengherankan adalah, bagaimana sang korban sanggup menyelesaikan pengakuan panjang itu, padahal beberapa hal begitu samar.
"Ibuku tidak selamat. Adikku…"
Ya. Vincent ingat sekarang. Ibu dan adiknya 'pergi', bukan karena mereka menemukan keluarga baru. Ayahnya berbohong selama bertahun-tahun. Mereka dianiaya oleh ayahnya sendiri, yang waktu itu kecanduan berbagai macam hal. Ketika menjelaskan apa yang dia ingat, api membara di mata salah satu audiensnya, sementara yang satunya tak begitu terpengaruh. Menyadarinya, Vincent pun tidak menyalahkan Sephiroth. Jika ia jadi Seph, mustahil baginya menunjukkan sikap yang sesuai.
Sebagai ganti, Vincent hanya menatap lurus ke kegelapan di luar. Alis hitamnya bertaut.
Sephiroth melakukan usaha terbaiknya. Dia berusaha tampak lebih manusiawi, meski dalam hatinya ia bertanya-tanya, kenapa ia harus mendengarkan semua itu. Apa hubungan ini dengannya? Apakah ia patut berempati? Sentimen-sentimen macam itu adalah bentuk kelemahan, bukan?
.
.
.
.
Sekarang, tanpa Vincent Valentine sejauh mata memandang, pengusaha itu mulai berpikir jernih.
Cerita Vincent sulit diabaikan, mengingat ayah dan ibunya sendiri bercerai. Mungkin saja, di luar pengetahuannya, hal serupa telah terjadi dalam keluarganya. Tapi, faktanya ia tak begitu tertarik mengusut kemungkinan itu. Pasalnya, Sephiroth tidak pernah diberi tahu apa yang menyebabkan Tuan Hojo dan Nyonya Lucrecia bercerai. Dari kecil ia dilarang bertanya. Kunjungan dari ibunya sejak saat itu juga dapat dihitung jari. Entahlah, mungkin aman-aman saja menyimpulkan dia sebenarnya tak punya keluarga. Hubungan darah atau apapun, seluruhnya adalah kebohongan.
Di sisi lain, bukan tidak mungkin jika masalah yang agak sulit dipercaya ini hanyalah akal-akalan orang televisi. Lumrah bagi media untuk menghalalkan segala cara demi menuai perhatian pemirsa.
Namun, betapa jeblok penilaian orang terhadapnya, jika ternyata Vincent berkata jujur. Sungguhlah tidak bermartabat untuk langsung mengecap seseorang pembohong, hanya karena menurutnya kisahnya itu terlalu menyedihkan untuk jadi kenyataan.
Tapi, terlepas dari semua ini, Seph harus memutuskan untuk memercayai Vincent, atau tidak, karena mereka bertatap muka tiap hari. Meski harus ditegaskan, itu tak ada hubungannya dengan peduli atau tidak.
Ia masih saja merenung tentang reaksi Tifa. Gadis itu mengendus problema ini sebelum mendengar sepatah pun kata. Dan, dia peduli, meski sama sekali tak bersangkut paut dengannya.
.
.
.
Ternyata badai yang dinantikan akan mendarat ke daerah pinggiran sebelum job Tifa kelar. Oke. Malam ini harus menginap di Midgar.
Ada hasrat untuk pulang—untuk memperkenalkan Little Lusy pada rumah barunya. Tetapi ia mengurungkan niatnya. Bisa-bisa ia diikuti pihak televisi. Mungkin juga ayahnya nanti jadi mengetahui keikutsertaan anehnya ke acara televisi yang 'bikin bodoh' itu.
Akhirnya, sebuah toko buku menjadi tempat persinggahan. Si mungil aman di kantong mantelnya—sedikit melanggar, memang. Tapi, orang-orang tak dapat berhenti menatap wajahnya (atau rambutnya). Jadi, penyelundupan ini bukan perkara sulit.
Di samping jajaran buku-buku bisnis, ada rak tempat buku diari, tempat dipajangnya sebuah sampul kulit yang tidak asing. Hm, Vincent. Ternyata dia beli sampul itu di sini.
"Jadi rumah Vincent tidak jauh."
Nama itu kini berdering ngeri.
Sephiroth menyusuri rak-rak buku sejarah, ilmu sosial, dan psikologi. Banyak juga ternyata orang yang tertarik mempelajari bidang-bidang ini. Ayahnya pernah mengolok 'ilmu semu' macam sosiologi dan antropologi. Bagi beliau, penelitian di bidang-bidang tersebut tidak berguna.
Seph mungkin bisa memahami Vincent lebih dari yang dia kira. Mereka sama-sama punya ayah yang… tidak biasa. Tapi, ayah Vincent jauh lebih… luar biasa. Keras.
"Keras? 'Setengah gila' lebih pas," bisiknya setengah sadar.
Pemuda itu sendiri tidak pernah punya hubungan yang harmonis dengan sang ayah. Ayahnya memperoleh hak asuh setelah perceraian, namun sesungguhnya tidak membesarkan dirinya. Sephiroth dilempar ke sana ke mari, ke sekolah kepribadian dan kursus-kursus A, B, C. Dia besar di tangan orang-orang asing. Dia itu hanya semacam pewaris aset, atau penerus dinasti bagi Tuan Besar Hojo Crescent.
Ia ingin melupakan ayahnya untuk sekarang. Tangannya secara otomatis meraih buku di rak paling atas. Buku bersampul ungu tua berjudul Pengobatan Pasien PTSD.
"PTSD. Post-traumatic stress disorder, adalah sebuah kelainan psikologis akibat peristiwa traumatis. Ditandai dengan kilas-kilas balik, mimpi buruk yang tidak wajar, dan antisipasi berlebihan akan pengulangan peristiwa tersebut. Pasien biasanya selalu berpikir tentang insiden yang dialami atau disaksikannya, tanpa bisa mengendalikannya. Hal ini mempengaruhi keadaan emosional dan jasmani."
Aneh juga buku yang diambilnya secara acak memiliki topik yang kurang lebih relevan.
"Sebab-sebab PTSD…"
Sephiroth membaca dan membaca, dan semakin yakinlah ia akan kebenaran cerita Vincent. Jika ceritanya itu hanya karangan, penulis naskahnya pasti seorang psikolog atau psikiatris, yang mana kecil kemungkinan bagi Terrace House bertindak sekontroversial itu.
"Mengasingkan penderita dari situasi, tempat, atau aktivitas yang dapat membangkitkan kenangan tersebut… Penanganan yang cepat dan cara perawatan diri yang benar dapat meringankan gejala… Tidak ada jaminan seseorang akan bisa sembuh total… Penanganan yang terlambat memungkinkan… Di kemudian hari, bahkan hal-hal kecil dapat membangkitkan kembali kekacauan mental ini… Berakhir dengan… Niat bunuh diri, bahkan eksekusi bunuh diri."
Bunuh diri?
Ia terperangah. Dari sekian tahun hidupnya yang tak menyenangkan, tidak sekalipun ia ingin mencabut nyawa. Tapi seseorang seperti Vincent, yang disapu rentetan teror sepanjang masa kecil dan remaja, mustahil tidak menerima dampak apapun.
Akibat terparah dari sindrom itu adalah… Kehilangan nyawa. Seph bergidik membayangkan dirinya terbangun di seberang seonggok badan tak bernyawa.
Sephiroth Crescent boleh tidak menghiraukan masalah-masalah sentimentil, namun ia jelas masih peduli akan nyawa seseorang. Apalagi jika orang itu tidur seruangan.
Semakin yakin Vincent tidak berbohong, terbersit niat untuk menolong. Tetapi intensi itu terlupakan ketika hal yang 'lebih penting' muncul.
Ponselnya bergetar. Nama di layarnya membuat alisnya terangkat.
"Seph, kamu di mana?"
Lengkungan di bibirnya lantas terbentuk oleh pertanyaan yang tidak banyak cing-cong itu. Sudah seminggu ia tak berkomunikasi dengan Angeal, ia nyaris lupa betapa efisiennya orang itu.
"Aku dengar ada badai besar yang akan mendarat di Midgar dalam beberapa jam. Media melaporkan, yang ini adalah Typhoon Minerva*. Daerah pinggiran bakalan menerima imbas paling parah. Jangan keluar rumah, mengerti?"
"Sebenarnya aku lagi di Sektor 3, tadi bareng Tifa."
Kekagetan Angeal membuatnya menyesal tidak mengklarifikasi lebih jauh. Ia lupa red light district di area itu sungguh ganas. Dari seberang, pertanyaan-pertanyaan tajam pun meluncur cepat.
"Tenang, tenang, aku hanya mengantarnya. Tifa mengambil job hari ini. Sekarang aku terperangkap di tengah-tengah. Kurasa malam ini aku harus nginap di Midgar."
Karena intonasi lawan bicaranya meninggi, ponsel dijauhkan. Rentetan ceramah tentang kehormatan, tanggung jawab, lalu martabat keluarga dari Angeal tak kunjung berakhir.
"Jangan khawatir, aku yakin kamu bakal menghabisiku jika berbuat yang tidak-tidak. Ya, aku janji. Aku janji, kami hanya akan makan malam. Oke, aku pasti menginap di hotel yang berbeda. Lagipula rumahnya di Sektor 7, dan aku nggak mau nginap di atas bar mencurigakan itu. Ya, ya, janji."
Angeal si negosiator piawai mampu memanen kata "janji" sebanyak tiga kali dari sang Tuan Muda.
Untuk memastikan keadaan, sahabatnya itu memaksanya bertemu. Jika ada yang lebih keras kepala dari Seph, orang itu adalah Angeal.
Beberapa menit kemudian, mereka bertemu di sebuah kafe. Bertukar salam, mereka melongok sana sini karena paranoid akan paparazzi. Tenang, Seph, Terrace House season 3 belum akan tayang dalam waktu dekat, kok. Wajah tampanmu masih aman dari peredaran.
Tanda tanya terpampang gamblang di wajah Tuan Hewley. Pria kekar tersebut memungut sebuah buku dari meja.
"PTSD?"
Raut khawatir Angeal menimbulkan kehangatan yang ganjil. Itu berarti, sosok tertua di gengnya itu peduli padanya.
"Buku-buku ini bukan untukku," ujarnya, menerima kembali bacaan yang baru saja dibelinya itu. Angeal mengangguk, kemudian mereka pun membicarakan hal yang lain, dan persoalan Vincent benar-benar tersingkir dari perhatian Seph.
"Aku senang kamu sehat," tutur Angeal. Dirinya sudah mau beranjak, namun buku ungu itu membuatnya penasaran lagi.
Karena tatapan orang itu memaksanya bercerita, akhirnya Sephiroth Crescent tidak menunda lebih lama.
Mulainya, "Salah satu peserta Terrace House memiliki kasus yang lumayan serius di masa lalu."
Temannya tidak langsung menanggapi. Lagipula biasanya Seph hanya ingin membahas contoh-contoh kegagalan berbisnis. Selain itu, kalau tidak bersangkut paut dengan Seph, biasanya obrolan itu hanya untuk basa basi atau bercanda.
Tetapi kali itu berbeda. Semuanya, semuanya berbeda. Dari topik pembicaraan, sampai sikap pemuda bersurai panjang tersebut dalam bercerita. Semuanya baru. Dan hati Angeal berdebar dibuatnya.
"Jadi," pangkas Angeal di tengah pembicaraan, "apa hubungannya Jack denganmu?"
Jack adalah nama samaran yang dipilih Seph untuk Vincent.
Pemuda bermata hijau tersebut mencoba memformulasi kalimatnya.
"Buku ini," ia mengangkatnya, "membahas tanda-tanda yang sekilas sangat cocok dengan cerita orang itu. Dan, kata buku, jika tidak ditolong, orang itu bisa punya pikiran untuk... Kau tahu, lah."
Kawannya membuat gestur menggorok leher, lalu mengangguk-anggukkan kepala. Raut wajah prihatinnya bertahan.
Sudut bibir Angeal terangkat. "Jadi ternyata hatimu tidak sekeras itu."
Netra Sephiroth melebar. Hati yang keras?
"Tahu nggak, Seph, di awal pertemanan kita, aku dan Genesis kesulitan untuk akrab denganmu. Kamu selalu menjauh, selalu menyendiri, selalu berusha menyelesaikan semua kesulitan tanpa bantuan. Tapi suatu hari, perlahan-lahan kamu membuka diri. Waktu Genesis kecelakaan, kamu bahkan menawarkan transfusi darah yang cukup banyak, sampai terkapar nggak berdaya beberapa hari," kenang sang pria bersuara bass tersebut. "Tapi, selama pertemanan kita, seingatku kamu tidak pernah bersikap sama ke orang lain. Kami bertiga adalah pengecualian bagi Sephiroth yang Agung," ia tertawa. "Kita berempat pun jadi sangat eksklusif."
"Karena itu, katamu hatiku keras?" Sephirot tertawa. Ini seperti naskah drama.
Angeal Hewley mengiakan. "Pertemanan kita membutuhkan belasan tahun untuk jadi seperti sekarang. Setelah seseorang dewasa, semakin sulit menginvestasikan waktu untuk pertemanan baru. Aku khawatir kamu tidak memperbolehkan orang lain masuk dan 'mencampuri' hidupmu."
"Mungkin kamu benar."
Bahkan, sangat benar. Sephiroth sadar dirinya tak gampang menaruh rasa percaya. Slogannya dalam bersaing selama ini adalah "langkahi dulu mayatku", dan perlahan slogan yang sama diadopsinya dalam berrelasi. Ia yakin, memercayai sembarang orang adalah celah. Jika lengah, ia akan dimakan hidup-hidup. Terdengar ekstrim, memang. Semua ini tumbuh dari ketidakpercayaannya terhadap sang ayah.
"Ya. Aku hanya percaya diriku sendiri, makanya nggak bisa berempati pada orang lagi."
"Bukan tidak bisa. Mungkin hanya susah." Temannya itu menepuk pundaknya. "Aku tahu, ini bukan sepenuhnya salahmu. Banyak orang menyembunyikan banyak hal terhadapmu." Terutama ayah dan ibunya.
"Seph, aku boleh jujur?"
Ia menilik air muka kawannya. Khusyuk. Angeal selalu seperti itu.
"Boleh."
"Aku khawatir, jika salah satu dari kami melakukan sesuatu yang mengecewakan, itu akan memengaruhi keyakinanmu terhadap orang lain, bahkan terhadap semua orang."
Dua bola mata biru tersebut menyorotinya lekat, sarat akan kegundahan. Angeal beberapa tahun lebih tua darinya. Selama ini Seph tidak terlalu menghiraukan perbedaan itu. Ternyata sobatnya itu mengkhawatirkan hal-hal yang tertutup dari matanya, dan orang itu sungguh-sungguh memerhatikannya.
"Terima kasih, Angeal," ujar Sephiroth lirih. Ia menyunggingkan seringai yang jarang sekali diperlihatkannya. Seringai berterima kasih.
Kalau saja Angeal Hewley adalah Zack Fair, ia sudah memeluknya.
"Aku tahu masih ada kebaikan dalam hatimu, Seph."
.
.
.
Karena kawannya muncul di saat yang tepat, sebelum mereka berpisah, Sephiroth menitipkan Little Lusy. Pria bertubuh kekar itu tergelak, mengomentari lagi karakter Sephiroth, yang sebenarnya dipenuhi sisi lembut.
Setelah mengantarkan Tifa, Sephiroth memesan kamar untuk dirinya. Agak bodoh memang memesan hotel lima menit dari rumahmu sendiri.
Sepanjang malam, pemuda itu tidak berhenti memikirkan rencana-rencana untuk 'menyelamatkan' Vincent Valentine. Semoga saja ia tak tampak konyol.
.
.
.
Sephiroth dan Tifa disambut oleh siulan-siulan jahil anggota Terrace House. Minus Vincent, tentunya.
"Tidak ada yang terjadi," tegas Tifa. "Sephiroth benar-benar gentleman sejati, tahu bagaimana menghormati wanita."
Seph menunjukkan bukti pembayaran hotel, yang mana, tidak terlalu dianggap penting oleh yang lain. Mereka hanya butuh memperjelas siapa akan dekat dengan siapa.
"Vincent di mana?" celetuk Seph, tiba-tiba mengingat rencananya kemarin malam. Ia akan berusaha mengajak Vincent menemui psikolog.
"Kayaknya di garasi lagi, seperti biasa."
Selama ini orang itu mengungsi ke garasi? Ia tidak tahu. Sudah semingguan ia tak bertemu.
Awalnya ia hanya mengangguk. Namun tiba-tiba panik menyerangnya. Firasatnya jelek.
Pikiran-pikiran buruk mulai berpacu. Tanpa ia sadari, kakinya yang jenjang berderap secepat mungkin ke luar, melewati danau, ke tempat yang dimaksud.
"Vincent!"
Bagai mimpi ia menyaksikan orang itu terkapar. Bau anyir menguar dari genangan merah pekat di bawah tangannya yang terkulai. Sayatan menganga di sana.
.
.
.
Kalau Vincent tidak selamat, dia akan menyesal. Kenapa kemarin dia tidak menerjang badai, pulang lebih cepat? Ia akan menyesali percakapannya dengan Tifa, serta pertemuan dengan Angeal, yang berakhir sia-sia.
Kelima anggota Terrace House berjaga di depan ruangan ICU. Keringat membasahi dahi Biggs dan Marlene. Sementara itu, di pojokan, si ninja yang tidak pernah tampak sedih itu seakan-akan bisa hancur berkeping-keping kapan saja. Wajah-wajah pucat pasi menunjukkan jam makan siang yang terlupakan.
Sejurus kemudian dokter keluar. Wajahnya yang serius tak tertebak. Sephiroth akan marah besar jika orang-orang yang bekerja di rumah sakit ayahnya tidak becus mengobati luka kecil di urat nadi itu, meski ia sadar penuh luka kecil bisa fatal.
"Keadaannya membaik. Untunglah orang itu lekas ditolong," kata sang pria berjas putih datar.
Ketegangan pun pecah. Wajah-wajah lega memunculkan senyuman penuh semangat. Syukurlah.
Seph masih ingat hari di mana Genesis terbaring di ruang rawat inap rumah sakit yang sama. Dirinya tidak pernah sewas-was itu. Ia takut pergi ke pemakaman Genesis, apalagi kecelakaan itu juga separuhnya salahnya. Dia dan Genesis terlalu berkompetisi**.
Tentunya beda, ketika yang terbaring adalah orang asing. Rasa leganya juga beda, waktu dokter bilang Genesis membaik, dan orang ini ini tertolong. Tetapi, harga kedua nyawa itu sama. Keduanya sama-sama tidak ternilai, dan patut diperjuangkan. Itulah yang Seph sadari. Vincent mungkin adalah kawan baik orang lain juga. Dan mungkin, mereka bisa berteman kalau saja Seph menurunkan aura persaingannya.
Mereka menunggu beberapa jam lagi sampai pemuda bermata merah siuman. Kali ini air mata jatuh berderai. Biggs, Tifa, dan Marlene tak tanggung segera memeluknya. Orang itu bingung. Bingung dalam dekapan kehangatan itu.
Di dekat pintu, tubuh kecil Yuffie mematung. Bahkan Sephiroth, yang kaku terhadap pelukan-pelukan itu, tidak menjaga jarak sejauh Nona Kisaragi.
Baiklah. Ini yang harus diusut selanjutnya, batinnya.
Tanpa ia sadari, keseharian di Terrace House pun bertransformasi menjadi episode-episode mendebarkan bagi Sephiroth.
.
.
.
To be continued
*Di Jepang, taifun ada namanya gitu sesuai karakteristik mereka. Ga tau juga kok mereka pada niat namain satu-satu. Dan yang paling gede akhir2 ini namanya taifun Hagibis, taun 2019 akhir kemarin. Tapi masih aman, sih, ngga kaya di film2 Amerika, yang sapi2 pada beterbangan gitu. Dan di fiction ini, untuk menegaskan ke-badai-an si taifun (literally), saia pilih nama typhoon Minerva, karena, well, dia secret boss terbhaday. Lawak banget ga sih hmph!
**Ini pada dasarnya nggambarin pertarungan Sephiroth vs. Angeal and Genesis. Epic!
Kapan lalu itu saia namatin walktrhru Crisis Core di Utub. Meskipun Zack keren banget dan saia jadi pengen naruh spotlight ke the puppy, di CC Sephiroth itu kan awal2 bertemennya ama Angeal and Genesis. Mereka kayak the famous three musketeer gitu deh (di sini jadi trio mas kenthir sih). Dan Seph ama Angeal tu…. Eeenggh banget dah! Ya nggak ya nggak? /eeengghtuhapaan. DAN! Sedikit spoiler tentang CC, jadi Sephy-oniisan pernah nolak satu misi level hero, karena dia ga pengen ngelawan Genesis/Angeal yang adalah temen2nya sendiri. Awwww Oom Sephy romantis ngga sih? Bromance to the end! /kyakya~
Anyways. Saia dengan segenap hati berterima kasih kepada readers yang sudah menyempatkan membaca karya ini. Terima kasih untuk dukungan Tokyo tower di chapter sebelumnya. Author juga selalu ngga sabar ngupdate, kok. Haha. Hanya saja, kesibukan sebagai mahasiswa yang memikul masa depan bangsa dan negara /halah memalangi diri ini untuk unleashing my imagination. Semoga aja chapter ini ngga mengecewakan, masih tetap menghibur pembaca sekalian /ceilah.
Untuk para pembaca, terutama "Tokyo tower", terima kasih banyak untuk waktu dan feedback-nya.
Akhir kata, mari kita majukan perfanfictionan Endonesia /medhok
