a/n: gegara nonton Shingeki No Kyojin, saia lupa kalau fiction ini harusnya ngga seberat chapter lalu. Huh! Sungguh menyedihkan /drama. Semoga chapter ini dapat menghibur para pembaca yang mungkin lagi bosan #StayAtHome seperti saia! Selamat menikmati!

.

.

Bab 5

.

.

Vincent berbaring dengan mata terbuka. Mimpi buruk lagi. Diliriknya jam dinding. Pukul dua pagi. Terapi mingguan yang diatur Sephiroth untuknya belum memberikan hasil yang diharapkan.

Diliriknya bulan yang bersinar terang di balik jendela. Meski sebulan telah berlalu, hubungannya dengan yang lain sama sekali tak mengalami kemajuan. Ia masih sering menyendiri. Selain membutuhkan me time lebih banyak, pemurung macam dirinya tidak boleh memperberat atmosfir rumah teras itu lebih jauh. Lagipula, bisa jadi ketidakstabilan mentalnya malah melukai yang lain, seperti yang dia lakukan terhadap Yuffie.

Jemarinya mengepal. Sepanjang ingatan, ia selalu membenci diri sendiri, dan kali ini perasaan itu semakin intens. Melukai seorang gadis adalah perbuatan yang tak bisa dimaafkan!

"Vincent bisa cerita padaku. Mulutku nggak ember kok. Percaya deh!"

Perkataan itu sebenarnya netral-netral saja. Namun dalam sekejap darah dalam nadi mendidih. Ketika tersadar sesaat kemudian ia sudah menyingkirkan Yuffie. Dengan sangat-sangat kasar.

"Jangan menyuruhku memercayai orang seenaknya! Memangnya kau siapa? Pergi sana!"

Dirinya telah berubah. Berubah menjadi iblis. Akibatnya, sejak saat itu tidak satu kata pun terucap di antara mereka. Padahal lebih dari segalanya, yang ia inginkan adalah dimaafkan.

Ada banyak lubang dalam ingatan Vincent. Yuffie terasa sangat familiar, dan berada di dekatnya, dia tenang. Ternyata perempuan itu mirip saudari yang telah dilupakannya. Dan ketika mengingat hal itu, Vincent malah menyerang Yuffie seakan mereka musuh bebuyutan.

Dosa itu tidak mungkin bisa ditebus. Besok, ia akan mengundurkan diri.

Vincent pun bangun. Dibukanya lemari tempat ia menyimpan barang-barangnya, berniat mencari kertas dan alat tulis, tetapi malah menemukan sebuah buku bersampul kulit merah.

Itu adalah buku rahasia, yang sebenarnya sama sekali tidak spesial: satu jilid text book aljabar tingkat lanjut. Dari dulu Vincent mencintai ilmu eksak, ia bahkan bermimpi menjadi guru. Jika ada yang membuatnya bersemangat, hal itu hanyalah matematika. Memikirkan pertanyaan dengan jawaban singuler memompa adrenalinnya. Mencari penjelasan logis dari misteri numerikal memberinya kepuasan tertinggi. Jika ayahnya tidak menentangnya sekeras itu, mungkin dia takkan melupakan angannya.

Vincent kagum pada Yuffie. Orang yang gigih mewujudkan mimpi sangat jarang ditemui. Sama sepertinya, keluarga cewek itu menentang pada awalnya. Bedanya, Yuffie pantang mundur. Akhirnya tujuannya menjadi snowboarder professional yang memiliki merek snow wear sendiri terwujud. Pemuda bermata merah tua itu tak habis pikir, bagaimana Yuffie mewujudkan cita-cita sampai detil terkecil. Menyerah itu sangat mudah, maka itulah yang dilakukan Vincent selama ini. Beda Yuffie dengannya, adalah Yuffie memilih jalan yang sulit. Tekad kerasnya patut dicontoh, bahkan oleh orang-orang tanpa pengharapan sepertinya.

Menenteng buku itu, Vincent menjelajahi tiap sudut rumah. Pemurung macamnya memang lebih cocok hidup di malam hari, sehingga tidak mengganggu aktivitas orang lain. Perjalanannya berakhir di sebuah teras yang disinari rembulan.

Untuk sesaat, Vincent merasa tenang, melupakan mimpi buruk barusan. Akhirnya, ia menemukan sebuah momen milikinya. Sepenuhnya. Ia bisa tersenyum, tertawa. Tidak ada yang dirugikan oleh saat bahagianya itu.

Vincent menarik sudut bibirnya. Senyuman yang disembunyikannya, takut disalahartikan sebagai sindiran. Biar bagaimanapun, manusia sepertinya tidak pantas bersenang-senang. Dia hanya akan menakuti orang lain.

Ya, kalau dia tak terbawa suasana saat bersama Yuffie, tragedi itu tidak akan terjadi.

Lengkungan itu terhapus.

Benar. Orang-orang macam dirinya tidak pantas bergembira. Ia lebih cocok dengan kesedihan, penderitaan, rasa bersalah. Tidak ada pengampunan untuk makhluk terkutuk macamnya. Lebih baik dia menghilang, lebih baik Vincent Valentine tidak pernah ada di muka Gaia.

Sebuah tepukan di pundak menghapus bisikan-bisikan beracun itu.

Perempuan berambut pendek itu mengenakan setelan piyama merah muda. Lehernya terlilit syal berwarna merah, pompom berbulu halus bergantung di kedua ujungnya. Penampilan itu mengurangi ketomboyan yang melekat pada imej cewek itu. Dia tampak seperti orang lain.

"Yuffie?" sergah Vincent.

"Maaf! Kaget, ya?"

Vincent segera berpaling, tak berani menatapnya. Untuk apa berlama-lama menatap kemarahan dan kebencian? Padahal, lebih baik jika Vincent berpisah tanpa mengatakan apa-apa, jadi tidak harus melihat penghakiman orang-orang itu.

"Nggak bisa tidur juga, Vince?"

Tidak ada jawaban.

"Di kampung halamanku, ada pagoda tingkat lima."

Pembuka percakapan itu sangat khas Yuffie. Acak, tidak tertebak, tanpa tujuan. Manusia macam ini tidak pernah dia mengerti, karena tidak semua hal bisa diceritakan tanpa berpikir.

Yuffie pun terus bercerita.

"Katanya, ketika bulan purnama bersinar di puncak pagoda itu, dari atas sana, orang bisa melihat pelangi. Terus, kalau orang itu merunut pelangi itu, di ujungnya dia akan ketemu orang yang dia sayangi," cerocos si ninja tanpa sungkan. "Waktu itu, aku yang masih bocah termakan takhayul bodoh itu dengan mudahnya. Tapi, tiap bulan mencapai puncak pagoda, hari itu berbadai, berkabut, atau langitnya ketutupan awan. Bertahun-tahun berlalu tanpa hasil, lalu saat yang tepat datang. Malam itu langitnya cerah, tidak ada bintang, cuma bulan saja, gede banget pula. Meskipun berbahaya, aku nekat memanjat tiang penangkal petir di atap pagoda. Tapi, aku nggak melihat pelangi. Hanya desa yang sedang tertidur. Waktu itu musim panas, banyak cicada bernyanyi, terus bising banget."

"Apa maksud cerita ini?"

Tersentak, si gadis ninja mengunci mulutnya. Vicent mengendus ketakutan, lantaran perempuan mungil itu meringkuk.

"Vincent, maaf, ya, kalau aku ada salah."

Ledakan amarah itu pun surut, secara ajaib. Padahal semua ini salahnya. Sampai membuat orang lain tidak enak hati, perbuatannya itu benar-benar keterlaluan!

"Mulai besok kalian tidak akan melihatku lagi," pungkasnya dingin. Ia berdiri dan menjauh.

"Jadi, ini memang salahku, ya?"

Yuffie mengamit lengan Vincent, mencegahnya pergi. Sisa kendali yang ada dalam dirinya digunakan untuk tidak menepis permohonan putus asa itu. Jika Vincent menolak Yuffie kali ini, maka dia betul-betul telah berubah jadi monster. Bukankah selama di Terrace House, Yuffie yang paling dekat dengannya? Saat Sephiroth dan Biggs bernafsu mencapai tujuan masing-masing, bukannya Yuffie yang selalu menemaninya dengan berbagai cara: mengajaknya makan, menata produk pesanan, dan mengirim barang ke kantor pos? Yuffie berhasil menerima dia apa adanya, walaupun cara bicaranya dingin dan membosankan, kan?

Benar-benar mirip adiknya.

"Kamu tau nggak, ini pertama kali aku minta maaf. Bukannya sombong, tapi ini bukan gayaku. Hari itu kukira aku sudah melakukan dosa besar dengan mengatakan sesuatu yang sangat jahat, meskipun jujur, nggak ingat. Terus ada percobaan bunuh diri itu dan mulai saat itu jiwaku nggak tenang. Jika aku mati sekarang, pastilah arwahku gentayangan."

Vincent mengamati kulit yang menggelap di bawah mata Yuffie. Meski masih bisa bercanda, Yuffie pucat. Gara-gara dirinya orang-orang di sekitarnya tidak bahagia.

"Vince, bisa nggak, ya, kembali ke waktu sebelum yang itu? Waktu Vincent masih tersenyum dan tertawa."

Tersenyum dan tertawa? Dia pernah tersenyum dan tertawa? Vincent tidak ingat. Ah, tapi mungkin juga. Mungkin waktu itu Yuffie mengatakan sesuatu yang lucu, mengundang tawa yang tak disadari. Tapi, memangnya apa peduli Yuffie? Tawa dan senyuman tidak cocok untuk manusia menyedihkan sepertinya. Ia lebih cocok dengan frustrasi, atau malahan diam sama sekali.

"Vince," panggil Yuffie, melihat kegelapan yang dipancarkan tatapan Vincent. "Kamu nggak harus percaya padaku. Tapi seenggaknya, beritahu salahku apa."

Orang ini masih saja menyalahkan diri sediri, padahal Yuffie tidak berhubungan dengan masalahnya. Vincent tidak tega membiarkan Yuffie menanggung penyesalan yang bukan salahnya. Dia tidak mau Yuffie jadi sepertinya.

Jadi ia duduk lagi, dan mulai bercerita.

Ceritanya memakan waktu lima belas menit, karena dia sempat berlatih sekali. Mata Yuffie membulat sempurna.

"Jadi ini bukan salahku?!"

Gadis itu menghela napas lega. "Dengan begini, aku bisa mati kapanpun dan kembali ke surga."

Merasa tak enak karena tidak menanggapi, Yuffie pun mengucapkan ini:

"Aku nggak mungkin ngerti penderitaan Vince selurunya, tapi kalau soal kehilangan, aku juga pernah merasakannya."

Lalu giliran Yuffie yang bercerita tentang mendiang ibunya. Vincent tidak bersimpati sedikitpun. Dia malah makin sebal. Emosi yang tidak dapat diatur ini adalah dosa lain yang harus ditanggungnya. Tak apa, selama ini dirinya sudah menebus sebagian dosanya dengan kesepian. Yang ini juga pasti…

"Aku nggak tahu seperti apa Vince menganggapku. Tapi sebenarnya Yuffie Kisaragi ini banyak busuknya," aku sang ninja dengan kegetiran yang nyata. "Dari luar mungkin aku terlihat ceria, lucu, serta mengagumkan. Tapi sebenarnya aku suka memanfaatkan orang lain, angkuh, terus… Kleptomaniak."

Jika beban emosional Vincent sedikit lebih ringan, pemuda itu sudah tergelak.

"Klepto dalam artian psikologis juga. Aku suka mencuri penghormatan orang. Sebenarnya, ide-ide produkku itu juga banyak kupinjam dari orang."

Yuffie menyatukan kedua telunjuknya. Wajahnya semerah kepiting rebus.

"Jangan bilang-bilang, ya."

Bilang ke siapa? batin Vincent. Dia juga bukan penggosip kurang kerjaan.

"Err… Intinya… Errr…"

"Intinya?" dorong Vincent sebelum kesabarannya habis.

"Jadilah dirimu sendiri!"

Ngek. Kok nggak nyambung?

"Karena, tempat ini nggak akan sama tanpa Vincent. Biarpun Vincent penyendiri misterius yang sepertinya punya hobi aneh, kita semua senang mengenal orang seperti Vincent. Terutama aku! Kalau Vincent nggak ada, aku sudah dimakan hidup-hidup oleh Oom Uban itu."

Dalam dada Vincent, sebuah pusaran membingungkan tercipta, karena ia merasa marah, geli, sebal, dan malu di saat bersamaan. Tetapi, dengusan bercampur tawa terluput dari bibirnya.

Orang-orang model inilah yang paling tidak dimengertinya, karena omongan mereka sangat absurd, tapi secara menakjubkan tetap dapat meringankan hatinya. Sedikit.

"Vincent katamu? Bukan Vince? Masa menyuruh orang jadi diri sendiri, tapi sendirinya berpura-pura jadi orang lain?"

Yuffie tampak gembira.

"Vinny!" celetuknya.

.

.

.

Keesokan harinya, secara kebetulan keenam member Terrace House duduk menikmati sarapan bersama-sama.

"Vincent!" seru Marlene, Tifa, dan Biggs berbarengan, seakan sedang melihat hantu.

"Keajaiban telah turun ke dalam dunia. Kami kira Vincent menjelma jadi kelelawar yang menghindari cahaya matahari," komentar pemain hockey dengan tak bertanggung jawab.

"Hus. Jangan menyebut nama hewan menyeramkan di meja makan!" tegur Marlene, menjauhkan mangkuk nasinya dengan tak berselera.

Sang model menduduki kursi di seberang Yuffie, yang tersenyum secerah mentari pagi. Yang lain saling lempar pertanyaan tanpa suara, hilang di tengah perubahan suasana mendadak itu.

"Selamat pagi, Vinny!"

Vinny katanya? batin Tifa.

Yuffie nggak sayang nyawa rupanya, pikir Biggs.

"Selamat pagi, Yuffie. Selamat pagi, semua."

"HAH!?" erang Biggs, memuncratkan beberapa butir nasi ke atas meja.

"Ini bukan TK! Makan yang rapi!" hardik Seph, sangat terganggu dengan keberantakan tersebut.

"Ya-yang harus dimarahi itu Vincent! Kan dia yang bilang 'selamat pagi semua' dengan sangat OOC! Macam anak SMP kelas dua saja!"

Spesifik sekali.

Sementara itu Vincent Valentine tak kuasa mengabaikan humor yang diciptakan Yuffie tentang Sephiroth dan rambutnya. Lengkungan di bibirnya menghentikan napas semua orang, kecuali Yuffie.

"Cepat duduk, Vinny. Kalau nggak, sarapanmu dimakan sama Oo—maksudku Sephy!"

Entah mengapa, rasa cemburu mencobai keempat manusia lainnya, yang terpaku memerhatikan kemesraan instan Yuffie dan Vincent.

"Eh, apa itu di luar?" potong Marlene.

"Saljuuuuuuu!"

Jeritan Biggs menggemparkan seisi rumah. Maklum, dia orang Mideel, jadi nggak pernah melihat salju.

"OOOOOI! Perang salju, yuk!"

Pasukan Energi Nuklir, yang tak lain adalah Yuffie dan Biggs, langsung terbang ke area pertempuran.

"Vinny! Kamu jadi bawahanku!" perintah Yuffie seenaknya.

"Kalau begitu, Marlene, kamu ikut timku, ya!"

Dan tersisalah Tifa dan Oom—maksudnya Sephiroth. Sebagai salah satu yang paling sepuh, Seph bersumpah tidak akan berurusan dengan permainan anak-anak. Ia memilih duduk di depan perapian dan mengerjakan proposal pengembangan proyeknya.

Tapi Tifa yang menarik tangannya, menceburkan diri dalam perseteruan sengit itu.

"Bersiaplah melawan Sephiroth yang tidak terkalahkan!" seru gadis itu.

"Tunggu—"

Enam orang dewasa pun berlarian, menghujani dan dihujani salju. Pekikan gembira mereka hingar bingar mengisi alam yang memutih.

Bola mata merah Vincent mengikuti bekas tapakan kakinya di atas partikel air yang membeku. Kristal-kristal putih turun dengan deras, berusaha menghapus jejak kesenangan mereka. Ia tidak pantas—

"Vinny!"

Plok!

Kegemparan mereka pupus sesaat, lantaran bola salju mendarat di pundaknya.

"Gawat!" raung sang pelaku: Biggs Domino. "Tolong aku Dewa!"

"Kamu bicara apa, Biggs?" Seph muncul dari balik kubu saljunya. "Justru di situ terletak kesenangannya—"

Plok!

Rambut perak itu ditumpuk warna yang lebih terang. Kali ini pelakunya adalah Vincent. Pemuda itu tak dapat menyembunyikan seringai terhiburnya.

"Kalau sudah mengerti," gumam Seph, mengepalkan peluru bulat sempurna, "jangan diam saja!"

Lemparan bersemangat Sephiroth menginisiasi babak dua. Permainan itu berlanjut sampai perut mereka memanggil keenamnya kepada sarapan yang terabaikan. Mereka lupa ide bodoh siapa perang salju itu, tetapi tidak ada yang menyesalinya sedikitpun.

Sepertinya, dari antara mereka, Vincent-lah yang paling menikmati. Pemuda itu melupakan rencana pengunduran dirinya itu untuk selamanya.

.

.

.

Musim dingin membuat hari mereka lebih pendek. Jam lima sore itu, keenam peserta reality show Terrace House menggenggam mug berisi coklat panas masing-masing, menonton berita.

'Sebuah kebakaran terjadi di Sektor Tujuh Midgar, memakan bangunan Bank Suminaka. Kerugian diperkirakan mencapai...'

"What?! Gila, itu uangnya orang satu dunia, kan?!" serbu Biggs, beralih ke cup es krim vanilla favoritnya. Orang nyentrik itu bersikeras bahwa musim terbaik makan es kirm adalah musim salju. Mungkin kebanyakan meluncur di atas es, jadi kepalanya beku juga.

"Hah?!" kali ini Tifa yang tersentak.

"Uang segitu termasuk kecil dibandingkan kerusakan bangunannya. Uang dalam brankas tentu masih utuh. Untungnya teknologi brankas masa kini tahan api."

Tak ada yang memerhatikan penjelasan Yuffie. Semuanya memerhatikan sosok dalam gambar yang ditunjuk oleh Tifa.

Sosok itu membelakangi kamera dan agak kabur. Hanya rambut pirang yang mencuat di balik helm pemadam kebakarannya yang mencolok, dan mungkin itu yang dikenali Tifa.

"Cloud..." bisiknya, dipenuhi rasa rindu menyesakkan.

.

.

.

To be continued


Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk tokyo tower and love30katrina atas saran dan komentar yang membangun!

#StayAtHome #StayCuciTangan